Summary :

Semua orang pasti mempunyainya, bukan? Masa lalu yang ingin dikubur dalam-dalam. Masa lalu dimana kau melakukan suatu kesalahan yang tak termaafkan. Apa yang akan kau lakukan jika suatu saat kau akan berhadapan dengan masa lalumu itu?

Disclaimer :
Semua tokoh - tokoh dalam fanfic ini kecuali tokoh buatan saya merupakan kepunyaan dari Shinohara Kenta-san


Chapter 3 : Black Shadow

Mika-chan memperhatikan Kimiko dengan takjub. Jemari-jemarinya begitu lincah menari di atas tuts piano. Begitu tuts terakhir ditekan, Mika-chan dengan antusias menepukkan tangannya.

"Permainanmu bagus sekali, Kimiko-chan" puji Mika-chan.

"Terima kasih, Mika-chan" kata Kimiko.

"Rasanya kalau begini kau pasti bisa dengan mudah memenangkan talent show itu" kata Mika-chan.

"Kau terlalu melebih-lebihkan. Ada banyak orang yang lebih jago dariku. Lagipula, sudah lama sekali aku tidak menyentuh piano" kata Kimiko.

Kedua gadis itu asyik mengobrol, tidak menyadari adanya sosok orang di belakang mereka. Sesosok orang yang sudah ada dari sana sejak Kimiko memasuki ruang musik. Sesosok orang yang mengamati setiap gerak-gerik mereka. Dan sesosok orang yang diam-diam mengambil gambar Kimiko dengan telepon genggamnya.

Sesosok orang yang sekarang sedang menyeringai lebar.

"Jadi dia yang bernama Kimiko Kurebayashi, huh?" gumam orang misterius itu.


"Apel ini benar-benar manis sekali!" kata Bossun, asyik memakan apel di ruang klub. Di hadapannya sudah ada setumpuk kulit jeruk.

"Aku tahu apel ini memang enak, tapi bukan berarti dari kemarin makananmu hanya apel saja tahu?!" seru Himeko.

"Aku harus bagaimana lagi, Himeko. Kimiko-chan memberi kita sekotak besar apel. Dan satu-satunya cara menghabiskan apel itu hanya dengan memakannya!" jelas Bossun. Himeko menjitak kepala Bossun.

"Baka! Kalau itu anak kecil saja sudah tahu!" balas Himeko.

"Aduh! Kau pikir jitakanmu itu tidak sakit apa!" protes Bossun mengusap-usap kepalanya.

"Tapi rasanya belakangan ini ada yang aneh" gumam Himeko.

"Apanya yang aneh?" tanya Bossun.

"Ada rumor yang menyebar akhir-akhir ini. Katanya setiap anak yang mengikuti KTS akan terkena kutukan. Tidak jelas kutukan macam apa, tapi memang akhir-akhir ini banyak peserta KTS yang absen dari sekolah. Makanya sekarang banyak orang-orang yang langsung mengundurkan diri" jelas Himeko.

"KTS?" tanya Bossun masih tidak mengerti.

"Kaimei Talent Show, baka!" jitak Himeko lagi.

"Ada kemungkinan rumor hanya itu disebarkan oleh anak-anak iseng" kata Switch, tenang seperti biasanya. Walaupun tanpa sadar dia malah langsung terpikir Kimiko.

Terakhir kali bertemu dengannya, saat memberikan sekotak apel itu, dia sedang berlatih lagi main piano.

"Sudah cukup lama sejak aku bermain piano" jawab Kimiko begitu ditanya mengapa oleh Switch waktu itu.

"Kalau tidak salah rasanya Kimiko pernah mengikuti juga acara semacam ini..." pikir Switch.

Dia memutar otaknya, berusaha untuk menggali memori yang sudah lama sekali,

"Betul juga. Terakhir kali pada waktu itu, ya..." kenang Switch.

"Apa kau yakin, Kimiko-chan?" tanyaku. Kimiko mengangguk kepalanya dengan pasti.

"Aku yakin sekali, Kazu-kun. Seyakin bahwa Tobi adalah Obito" jawab Kimiko.

"Jangan membicarakan komik lain di sini, baka" gerutuku.

"Tapi susah sekali untuk menang talent show kali ini, Kimiko-chan. Banyak sekali orang yang ikut mendaftar" kata Sawa-chan cemas.

"Daijobu. Kalau begitu aku hanya tinggal berlatih lebih banyak lagi, bukan?" kata Kimiko.

Dan dia sungguh-sungguh melakukannya. Sejak hari itu, hampir setiap waktu luangnya dihabiskan untuk berlatih piano. Waktu yang biasanya hanya digunakan untuk memnaca komik atau sekadar bermalas-malasan. Yah, tapi semua pengorbanannya tidak terbuang sia-sia. Karena, tepat setelah talent show itu berakhir...

"Pemenang talent show kali ini, jatuh kepada... Kimiko Kurebayashi! Dipersilakan untuk Kimiko Kurebayashi maju ke depan" kata pembawa acara.

Kimiko pun maju ke panggung, dengan senyum paling lebar yang bisa dilakukannya. Melihat wajah Kimiko yang begitu gembira, matanya berbinar-binar, dan dengan penuh kebanggaan mengangkat piala itu...

Tanpa sadar senyum yang sama juga muncul di wajahku.

"Kira-kira saat ini sedang apa dia sekarang, ya?" tanya Switch dalam hati.


"Jadi, bagaimana? Kau sudah mendapat informasi tentang dia?" tanya sosok misterius.

"Sedikit sulit untuk mendapatkannya, karena dia masih murid baru. Tapi bukannya tidak mungkin" jawab sosok yang tidak kalah misteriusnya. Tangannya memegang secarik kertas yang langsung ingin diambil oleh lawan bicaranya, kalau orang itu tidak menjauhkan kertas itu darinya.

"Jangan terlalu terburu-buru. Aku hanya ingin mengingatkan kau tentang perjanjian kita" kata orang itu.

"Tentu saja aku masih ingat. Kau berhak untuk memiliki setengah dari hadiah uang talent show" kata lawan bicaranya. Kali ini, orang itu benar-benar membiarkan dia mengambil kertas itu.

"Syukurlah kalau begitu. Aku mengharapkan berita bagus darimu" kata orang itu pergi.

Lawan bicaranya membuka kertas itu, membaca cepat isinya. Kemudian dia malah tertawa terbahak-bahak.

"Sebentar lagi hal-hal akan menjadi sangat menarik" katanya pada dirinya sendiri.

"Geez. Gara-gara terlalu asyik bermain piano, aku jadi tidak sadar sekarang sudah sore" kata Kimiko.

Dia melangkahkan kakinya ke lorong sekolah, menuju loker sepatunya. Tepat pada saat dia mengeluarkan sepatunya, ada sebuah amplop surat terjatuh.

"Kira-kira surat apa ini?" gumam Kimiko. Dia pun membuka surat itu. Satu hal yang ternyata disesalinya.

"Apa ini...?" Sepatu yang tadi dipegangnya pun terjatuh. Wajahnya sangat pucat. Keringat dingin menetes di dahinya.

"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi...?" tanyanya lirih.

Dan orang misterius itu, berdiri tak jauh dari sana, mengamati semuanya. Puas karena rencananya berhasil.

End of Chapter 3


Author's Note :
This chapter is shorter, I know. Kenapa? Karena yaa begitu maunya gua. Huakakaka. Just kidding. Chapter ini lebih pendek karena hanya sekadar filler chapter saja dan gua memang sengaja dibuat endingnya rada menggantung *smirk. Oh... Don't give your scary look like that.

Review, anyone?

Lady of Gray