Summary :

Semua orang pasti mempunyainya, bukan? Masa lalu yang ingin dikubur dalam-dalam. Masa lalu dimana kau melakukan suatu kesalahan yang tak termaafkan. Apa yang akan kau lakukan jika suatu saat kau akan berhadapan dengan masa lalumu itu?

Disclaimer :
Semua tokoh - tokoh dalam fanfic ini kecuali tokoh buatan saya merupakan kepunyaan dari Shinohara Kenta-san


Chapter 4 : Weariness

"Sumimasen, Sensei" kata seorang anak perempuan.

Dengan santai dia melangkahkan kakinya untuk memasuki toilet sekolah. Tapi apa yang dilihatnya di toilet berhasil membuatnya menjerit keras.

"Huaaaaa!" teriaknya.

Jeritan yang membuat semua orang berbondong-bondong pergi ke toilet. Para guru pun tergopoh-gopoh menghampiri sumber keributan itu.

"Ada apa ribut-ribut di sini? Apa yang–" Guru itu tidak menyelesaikan pertanyaannya. Tidak perlu. Karena tepat di matanya, dia sudah melihat sumber semua keributan yang terjadi.

Tulisan di dinding toilet berwarna cat merah darah dan bertuliskan "Berhati-hatilah! Dewi Kematian sebentar lagi akan tiba"

Sudah lebih dari cukup untuk membuat gempar satu sekolah, bukan?

Sekolah cepat-cepat menutup toilet tersebut, dan menyuruh para siswa untuk kembali ke kelasnya masing-masing. Dengan berat hati, mereka pun kembali melanjutkan belajar mereka.

Tak lama kemudian, beredar gosip terbaru di Kaimei. Sekolah Kaimei dikutuk. Dewi Kematian akan benar-benar datang ke Kaimei. Tidak ada yang tahu siapa Dewi Kematian ini, tapi menurut rumor yang beredar dia adalah seorang gadis cantik. Gadis cantik yang berhasil membuat dirimu kehilangan nyawa hanya karena berdekatan dengannya.


"Gara-gara rumor Dewi Kematian itu aku jadi takut ke toilet sendirian" gerutu Himeko.

"Dewi Kematian?" tanya Bossun.

"Tunggu. Jangan bilang kau sama sekali tidak tahu?" tanya Himeko balik.

"Dewi Kematian. Ada sebuah rumor mengatakan sekolah Kaimei terkutuk dan akan didatangi oleh Dewi Kematian. Penyebab rumor itu adalah tulisan merah di dinding toilet" jelas Switch.

"Oh... Ternyata begitu" kata Bossun.

"Tapi, bagaimana pun juga, rumor hanya berdasarkan dugaan tidak bertanggung jawab dan ketakutan tidak jelas. Mana ada hal seperti shinigami perempuan di dunia nyata" kata Switch lagi.

"Dewi Kematian benar-benar ada!" seru Reiko, yang tiba-tiba saja muncul dari jendela seperti Sadako.

"Apa kau bisa membuktikan perkataanmu itu?" tanya Switch balik.

"Tulisan di toilet itu. Ada murid yang berani bersumpah bahwa dia sama sekali tidak melihat tulisan itu. Tapi saat murid sesudahnya masuk, tulisan itu tiba-tiba sudah ada" jawab Reiko.

"Bisa saja itu hanya–" Reiko langsung memotong perkataan Switch.

"Belum lagi banyaknya murid-murid yang menghilang beberapa hari terakhir ini. Saat ini mereka hanya dikatakan sekadar sakit saja, tapi ada kemungkinan Dewi Kematian yang berperan dalam itu semua. Dewi Kematian menyedot energi kehidupan mereka pelan-pelan lalu di saat energi kehidupan mereka habis mereka akan... Meninggal!" jelas Reiko, sangat menekankan di bagian "meninggal". Sukses membuat Himeko dan Bossun langsung loncat ketakutan. Apalagi ditambah dengan bunyi ketukan di pintu.

"Kyaaa!" teriak Himeko dan Bossun.

Pintu terbuka, dan terlihat wajah yang sudah tidak asing lagi.

"Gomenasai, Minna-san" sapa pendatang baru itu, Mika-chan. "Apakah aku menganggu kalian?" tanyanya ketika menyadari Switch dan Reiko sedang berdebat.

"Tidak apa-apa, Mika-chan. Pembicaraan kita akan segera berakhir" Switch berpaling ke arah Reiko, "Aku akan membuktikan bahwa Dewi Kematian itu tidak benar-benar ada"

"Hoo~ Benarkah itu, Switch? Aku akan menunggu pembuktianmu" kata Reiko. Setelah itu, Reiko pun keluar. Dari jendela.

"Itu tadi siapa...?" tanya Mika-chan.

"Ah, jangan terlalu dipikirkan. Dia hanya salah satu teman kami. Ada apa kau ke sini, Mika-chan?" tanya Himeko.

"Aku... Khawatir pada Kimiko-chan. Akhir-akhir ini dia bertingkah aneh sekali. Dia menjadi pendiam sekali, jarang makan, dan suka tidak menanggapi saat aku berbicara dengannya. Dia juga akhir-akhir ini kebanyakkan melamum terus" jawab Mika-chan. Raut khawatir terlihat jelas di wajahnya.

"Mungkin saja dia memikirkan talent show itu" kata Himeko.

"Memang mungkin... Tapi, tetap saja aku khawatir. Kimiko-chan tidak mempunyai teman dekat lagi selain aku dan kalian. Oleh karena itu... Kumohon kalian..." kata Mika-chan.

"Aku akan berbicara dengannya" kata Switch tenang.

"Sungguh? Hontou ni arigatou, Switch-kun" kata Mika-chan gembira.

"Apa kau tahu dimana dia sekarang?" tanya Switch.

Mika-chan mengangguk.

"Aku tahu pasti di mana dia sekarang" jawab Mika-chan yakin.


Switch melangkahkan kakinya menuju ruang musik. Tempat, menurut Mika-chan, sekarang Kimiko berada. Sayup-sayup, terdengar bunyi piano dimainkan. Semakin mendekati ruang musik, suara piano semakin keras. Switch mendengarkan permainan piano tersebut. Tapi ketika sedang asyik-asyiknya mendengar, tiba-tiba saja Kimiko secara mendadak menghentikan permainannya. Dengan frustasi, dia menekan semua tuts piano.

"Halo" sapa Switch. Kimiko terkejut.

"Ah! Kazu-kun! Aku pikir siapa" kata Kimiko.

Saat Switch mendekatinya, terlihat jelas kantong mata di wajahnya. Pertanda umum kurang tidur.

"Kimiko?" panggil Switch. Kimiko tidak menjawab. "Kimiko!" panggil Switch sekali lagi. Kali ini Kimiko menjawab.

"Eh... Ya?" katanya.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Switch.

"Apa yang kau katakan? Memangnya aku terlihat seperti orang sakit?" balas Kimiko. Switch menatapnya tajam.

"Mika-chan mengkhawatirkanmu" kata Switch.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan" kata Kimiko menunduk, menghindari tatapan Switch.

"Aku juga mengkhawatirkanmu" kata Switch. Kalimat yang membuat Kimiko langsung menoleh ke arah Switch.

"Kau mendadak jadi sangat pendiam, tidak nafsu makan, dan kau jelas-jelas kurang tidur" lanjut Switch.

"Aku baik-baik saja. Aku hanya... Sedikit lelah" kata Kimiko tersenyum lemah. Switch menatapnya tidak percaya. Dia sadar betul bahwa senyum itu terlalu dipaksakan.

"Aku serius, Kazu-kun. Aku baik-baik saja. Aku bukan lagi anak kecil yang harus kau khawatirkan terus" lanjut Kimiko. Switch menghela napas. Mengapa kekerasan kepalanya tidak pernah berubah? Tak bisakah dia langsung menceritakan apa masalahnya?

"Pokoknya kau harus memberitahuku jika sesuatu terjadi" kata Switch pada akhirnya.

"Hai, hai. Akan kulakukan. Aku janji" kata Kimiko.

Tapi Kimiko tidak menghubunginya sama sekali selama beberapa hari ke depan. Entah dia benar-benar tidak ada masalah, atau tidak mau menceritakannya kepada orang lain.

Sementara itu, rumor Dewi Kematian semakin menjadi-jadi. Kali ini modusnya menggunakan pesan singkat. Tiba-tiba saja secara serentak semua murid mendapat pesan baru di telepon genggamnya. Semua pesannya berisi sama.

"You're the next target of Goddess of Death. Apa itu artinya?" tanya Bossun, membaca pesan di telepon genggamnya.

"Kau adalah target berikutnya Dewi Kematian" jawab Switch. Bossun dan Himeko bergidik seram.

"Apa-apaan pesan ini?! Isinya menakuti orang saja. Coba cari siapa pengirimnya, Switch" kata Bossun kesal.

"Tidak bisa. Aku sudah mencoba melacaknya, tapi dia menggunakan nomor tersembunyi" kata Switch.

"Cih! Benar-benar menyebalkan sekali!" gerutu Himeko.

Lalu tiba-tiba saja terdengar ribut-ribut di luar. Penasaran, mereka bertiga pun menuju ke arah ribut-ribut itu. Pada saat mereka sedang berjalan, muncul seseorang yang menyeruak keluar dari kerumunan orang. Orang itu berlari dan tak sengaja mengenai Switch. Di luar dugaan mereka, orang itu adalah Kimiko-chan.

"Kimiko-chan?" panggil Switch. Kimiko tidak menjawab. Dia hanya terdiam melihat Switch. Matanya terlihat berkaca-kaca.

"Ada ap–" Sebelum Switch menyelesaikan pertanyaannya, Kimiko sudah keburu pergi meninggalkan mereka. Mereka bertiga hanya bisa saling berpandang-pandangan dan bertanya-tanya dalam hati. Akhirnya, mereka semua tiba di sumber keramaian itu.

Sebuah dinding di lorong sekolah. Dinding yang bertuliskan : Goddess of Death is here. Right now. Between of you. Tulisan itu berwarna warna merah darah. Dan jelas-jelas masih baru, terlihat dari catnya yang masih basah.

Wajah Kimiko yang hampir menangis terbayang lagi oleh Switch.

"Besok aku akan bertanya pada Kimiko" gumam Switch.

Besok pun tiba.

Tapi, meskipun sudah dicari Switch kemana-mana, Kimiko Kurebayashi tidak bisa ditemukan di sekolah.

End of Chapter 4


Author's Note :
This is it, the next update from Shattered Memories. It's pretty fast, isn't it? Be thankful, because it's pretty rare I update fast. Kekeke~ please, don't take it too seriously. I just need something to take my mind off~

As usual : Review!

Lady of Gray