Summary :

Semua orang pasti mempunyainya, bukan? Masa lalu yang ingin dikubur dalam-dalam. Masa lalu dimana kau melakukan suatu kesalahan yang tak termaafkan. Apa yang akan kau lakukan jika suatu saat kau akan berhadapan dengan masa lalumu itu?

Disclaimer :
Semua tokoh - tokoh dalam fanfic ini kecuali tokoh buatan saya merupakan kepunyaan dari Shinohara Kenta-san


Chapter 5 : Goodbye, Halcyon Days

Satu hari kemudian

Dua hari kemudian

Tiga hari kemudian

Kimiko tetap saja belum masuk sekolah. Switch mulai merasa khawatir. Teleponnya sama sekali tidak bisa dihubungi. Bahkan oleh Mika-chan sekalipun.

"Mungkin saja dia sedang sakit" kata Himeko, berusaha menenangkan Switch.

"Atau mungkin saja sebenarnya Kimiko-chan mempunyai ketakutan amat besar pada cerita seram" kata Bossun. Kentara sekali dia ingin menghibur Switch. Usaha putus asa yang tampaknya sia-sia.

"Jangan terlalu dipikirkan. Kimiko-chan pasti baik-baik saja" kata Himeko.

Switch hanya terdiam saja. Dalam hati, dia sangat berharap perkataan Himeko akan menjadi kenyataan.

Empat hari kemudian

Lima hari kemudian

Seminggu kemudian

Kimiko Kurebayashi tetap masih absen dari sekolah.

Dan selama seminggu ini, pesan-pesan teror tetap rutin dikirimkan. Hampir setiap malam seluruh murid Kaimei menerimanya. Isinya berbeda-beda tiap hari. Ada yang berisi "Besok kau akan mati", ada juga yang "Dewi Kematian akan mendatangimu malam" ini, bahkan ada juga yang seperti "Dewi Kematian tepat di sampingmu". Pesan-pesan yang membuat hampir semua murid Kaimei resah. Hampir.

Untuk Reiko Yuki, Dewi Kematian adalah sesuatu yang sangat menarik. Sesuatu yang membangkitkan minatnya. Bagi Ketua OSIS, Sasuke Tsubaki dan Ketua Sket-Dan, Yusuke Fujisaki atau yang lebih dikenal sebagai Bossun, pengirim pesan itu sangat menyebalkan (bagi Bossun) dan menganggu murid Kaimei (bagi Tsubaki) oleh karenanya harus segera ditangkap. Bukannya mereka tidak berusaha. Switch, orang yang diharapkan bisa menemukan pengirim ini, masih belum bisa melacaknya. Tak peduli cara apapun yang dilakukannya. Hal yang membuat Switch sangat kesal.

Fakta bahwa teman masa kecilnya menghilang selama seminggu dan tidak bisa dihubungi sama sekali tidak memperbaiki mood-nya. Malah membuatnya semakin memburuk. Switch jarang sekali menunjukkan emosinya tapi saat ini orang lain pun bisa mengatakan betapa jeleknya mood Switch akhir-akhir ini. Dan Switch yang kesal... Bukan sesuatu yang enak dilihat.

"Urusan pesan teror ini benar-benar melelahkan" kata Himeko.

"Kau benar" kata Bossun.

Mereka bertiga lelah setelah seharian mencari tahu pelaku pengirim pesan teror itu. Tentu saja mereka tidak sendirian. Seluruh anggota OSIS juga ikut membantu. Tampaknya untuk urusan yang satu ini Tsubaki dan Bossun benar-benar bersatu untuk memecahkannya. Switch mengetukkan jari-jarinya dengan gelisah. Suatu kebiasaan lamanya yang sekarang tiba-tiba muncul lagi.

"Kau masih memikirkan Kimiko-chan, huh?" tanya Bossun. Switch tidak menjawab. Tidak perlu. Karena sebenarnya Bossun sendiri sudah tahu apa jawabannya.

"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan perkembangan stalker-nya ya?" gumam Himeko.

Ekspresi Bossun dan Switch mendadak menjadi horor.

"Gawat ini... Aku benar-benar melupakannya" kata Bossun panik.

"Tunggu, tunggu. Apakah mungkin Kimiko chan... Stalker itu..." Himeko tidak kuat menyelesaikan pertanyaannya. Wajahnya pucat pasi.

Menghilangnya Kimiko dan stalker. Mengapa tidak ada satu pun di antara mereka yang terpikirkan hal itu sebelumnya? Apalagi ditambah fakta Kimiko tinggal sendirian. Artinya, tidak ada seorang pun yang menemaninya di rumah.

Switch juga sama paniknya dengan Bossun dan Himeko, malah lebih parah. Dia betul-betul melupakan masalah stalker. Masalah pesan teror ini sudah cukup menyita sebagian besar waktunya.

"Kenapa aku bisa lupa hal sepenting itu?! Bodoh sekali aku" pikir Switch, kesal pada dirinya sendiri.

Dia langsung membereskan barangnya dan beranjak pergi.

"Tunggu! Mau pergi ke mana, Switch?" tanya Himeko.

"Tentu saja ke rumah Kimiko" jawab Switch. Wajah Masafumi yang sedang tertawa lebar terbayang di benaknya.

"Kumohon... Jangan sampai aku terlambat lagi... Kalau ternyata gara-garaku sampai terjadi apa-apa dengannya..." pikir Switch dalam hati.

Switch kembali berjalan, tanpa menunggu Bossun dan Himeko. Keduanya pun langsung membereskan barang mereka dan buru-buru menyusul Switch.


Untungnya saja, mereka semua sudah tahu lokasi rumah Kimiko. Mereka semua langsung menuju ke pintu rumahnya.

Tok, tok, tok.

Bossun mengetuk pintu. Tidak ada jawaban dari dalam. Kali ini, Bossun mengetuk pintu lebih keras. Masih juga tidak respon apa-apa. Bossun memandang Himeko, yang mengangguk dan mengeluarkan Flagrance-nya. Himeko mundur sedikit dari pintu, berancang-ancang menghancurkan pintu tersebut.

Pintu yang malang.

Untungnya, sebelum Flagrance benar-benar menyentuh pintu, ada seorang bapak tua muncul. Himeko segera menghentikan tindakannya.

"Apakah kalian semua teman Kimiko-chan?" tanya Bapak itu. Mereka bertiga mengangguk kecil.

"Saya pemilik flat ini. Tiga hari terakhir ini ada orang yang mengirimi Kimiko-chan barang-barang. Tapi Kimiko-chan sudah tidak pulang selama tiga hari ini. Apakah kalian tahu di mana dia?" tanya bapak itu. Mereka bertiga saling berpandangan.

"Tidak, kami tidak tahu dia dimana. Justru kami ke sini karena ingin mengunjunginya" jawab Switch cemas.

"Err... Boleh kami tahu barang apa saja yang diterimanya?" tanya Himeko.

"Sekotak buah peach, cumi kering, dan semangka" jawab bapak itu. Mereka bertiga berpikiran sama : Itu semua pasti hadiah dari stalker-nya.

"Terima kasih" kata Bossun. Mereka bertiga pun pergi meninggalkan rumah Kimiko.

"Jadi... Kimiko-chan sudah tidak ada di rumah selama tiga hari. Meskipun begitu, stalker itu masih rutin mengirimnya barang. Setidaknya kita bisa menarik kesimpulan di sini hilangnya Kimiko tidak ada hubungan dengan stalker" kata Bossun.

Switch bernapas lega. Setidaknya ada kemungkinan stalker itu tidak berbuat apa-apa padanya. Tapi pertanyaannya sekarang, dimana dia sekarang?

"Bossun! Coba lihat itu!" seru Himeko tiba-tiba. Tangannya menunjuk ke arah seseorang yang bersembunyi tak jauh dari mereka.

"Itu dia! Stalker-nya!" seru Bossun. Sadar persembunyiannya terbongkar, orang itu langsung lari. Mereka bertiga segera mengejarnya. Bossun mengenakan kacamatanya dan mulai membidik orang itu dengan ketapelnya.

"Sedikit lagi... Sedikit lagi... Sekarang!" pikir Bossun. Bossun pun sukses mengenai orang itu, membuatnya terjatuh. Dan di saat dia terjatuh itu, Himeko langsung menyerbunya dengan Flagrance.

"Hyaaaa!" teriak Himeko.

Wajah orang itu langsung pucat pasi. Dan memang sudah sewajarnya dia seperti itu.


"Go-gomenasai! Gomenasai!" kata orang itu berkali-kali membungkukkan badannya.

"Rasanya aku pernah melihat wajahmu" kata Himeko.

"Tentu saja kau pernah. Namaku Soutaro Tamazuki" kata orang itu.

"Soutaro Tamazuki? Rasanya ibukku pernah menyebut nama itu..." gumam Bossun memutar otaknya. Switch mengetikkan sesuatu di laptopnya.

"Soutaro Tamazuki. Dia adalah pelaku perampokkan dan pembunuhan yang baru dibebaskan akhir-akhir ini" jelas Switch.

"Pembunuhan? Sedang apa kau di sini? Jangan-jangan kau mau menjadikan Kimiko sebagai targetmu yang berikutnya, haah?!" seru Himeko dengan Flagrance siap sedia di tangannya.

"Bu-Bukan seperti itu" kata Soutaro ketakutan.

Meskipun saat ini sedang serius, tapi Bossun dan Switch tak bisa mengabaikan fakta bahwa... Himeko mampu membuat pelaku pembunuhan ketakutan.

"Lalu apa?!" tanya Himeko lagi.

"Sebenarnya tujuan aku ke sini adalah..."

Soutaro pun menjelaskan tujuannya. Dan semua alasannya. Alasan mengapa dia membuntuti Kimiko. Alasan mengapa dia mengirimi semua barang itu. Mereka bertiga terhenyak setelah mendengar penjelasannya.

"Setidaknya, tadi itu menjelaskan banyak hal. Kau benar-benar serius, bukan?" tanya Bossun. Soutaro mengangguk-angguk.

"Yosh! Kalau begitu, kita tinggal menemukannya saja. Switch! Ada ide kemana Kimiko pergi? Dia itu teman kecilmu, bukan? Mungkin dia pergi ke tempat favoritnya atau apa" kata Bossun.

Switch berpikir. Tempat favorit... Kira-kira tempat apa yang akan kudatangi jika aku Kimiko... Switch tersenyum kecil. Jika dugaannya benar, maka Kimiko pasti berada di tempat itu.

"Kurasa aku tahu dimana dia" kata Switch.

"Ayo kita pergi!" seru Bossun.

End of Chapter 5


Author's Note :
This chapter's title... Well, it's from Bleach. You know, the part when Orihime kidnapped or something. And don't know why, but I like it. It turned out that halcyon mean calm days during winter. Gua benar-benar menulis gila-gilaan. Chapter ini sudah selesai padahal chapter 4 saja masih belum di-update. At least, no one will complaining about the late update.

Review!

Lady of Gray