Summary :
Semua orang pasti mempunyainya, bukan? Masa lalu yang ingin dikubur dalam-dalam. Masa lalu dimana kau melakukan suatu kesalahan yang tak termaafkan. Apa yang akan kau lakukan jika suatu saat kau akan berhadapan dengan masa lalumu itu?
Disclaimer :
Semua tokoh - tokoh dalam fanfic ini kecuali tokoh buatan saya merupakan kepunyaan dari Shinohara Kenta-san
Chapter 8 : The Puzzles
"Yosh! Karena semua orang sudah berkumpul, mari kita mulai rapat kita!" seru Bossun.
"Wah! Himeko-chan, biskuit ini enak sekali!" puji Kimiko.
"Benarkah? Padahal aku baru mencoba resep baru" kata Himeko tersipu malu.
"Memangnya kau pakai bahan apa saja?" tanya Kimiko.
"Hmm... Bahannya hampir sama dengan biskuit biasa. Hanya saja kali ini aku menambahkan kayu manis dan vanili di dalamnya" jawab Himeko.
"Kayu manis dan vanili ya... Di mana aku bisa membelinya, ya?" gumam Kimiko.
"Kurasa ada toko dekat sini yang menjualnya. Namanya kalau tidak salah..." kata Switch berusaha mengingat-ingat, "Daransu Shop. Ibuku baru saja ke sana kemarin ini"
"Ah! Aku tahu toko itu! Yang dekat dengan stasiun itu, bukan?" seru Himeko.
"Hooi! Dengarkan aku semuanya!" seru Bossun kesal. Suasana pun kembali menjadi hening. Bossun berdeham.
"Seperti yang sudah kukatakan tadi, kita akan memulai rapat kita. Rapat ini bernama "Pencaritahuan Pelaku Kejahatan Penyebar Rumor" !" kata Bossun dengan bangga.
"Sense naming-mu jelek sekali" kata Himeko langsung.
"Nama apa-apaan itu" kata Kimiko.
"Seperti yang sudah bisa ditebak dari Bossun" kata Switch.
"Urusai!" seru Bossun malu. "Bagaimana pun juga, ayo kita mulai"
Suasana yang tadinya penuh dengan canda dan tawa langsung berubah menjadi diam dan serius. Terutama Kimiko. Memang, setelah kejadian yang terakhir itu, dia kembali masuk ke sekolah seperti biasa. Semua tampak seperti kembali normal. Tetapi itu bukan berarti masalahnya sudah selesai.
"Langsung ke intinya saja. Siapa pelaku yang menyebarkan rumor Dewi Kematian ini ke sekolah? Tadinya aku sempat berpikir pelakunya Tamazuki, tapi melihat dia sampai meminta maaf seperti itu rasanya hampir tidak mungkin. Lagipula, kurasa dia tidak mungkin tahu tentang Dewi Kematian. Kimiko-chan, apa kau punya kenalan yang juga bersekolah di sini?" tanya Bossun.
"Satu-satunya kenalan yang kupunyai di sini hanya Kazu-kun saja, tidak ada yang lain" jawab Kimiko pelan. Mereka semua kembali terdiam, sibuk berpikir kemungkinan-kemungkinan lain.
"Aku hanya penasaran saja... Kira-kira semua ini ada hubungannya tidak dengan kutukan KTS, ya?" gumam Himeko. Bossun menatap Himeko tidak mengerti. Himeko berdecak kesal.
"Aku kan sudah memberitahumu berkali-kali, Bossun. Setiap murid yang mendafarkan diri menjadi peserta KTS katanya akan terkena kutukan. Tidak ada yang tahu kutukan macam apa, hanya saja sekarang peserta TKS kebanyakkan absen sekolah atau sudah mengundurkan diri" jelas Himeko.
"Aku sudah tahu, kok! Kau tidak perlu memberitahuku lagi" kata Bossun. Himeko memberi tatapan apa-kau-bercanda kepada Bossun.
"Tapi Himeko-chan, bukannya kutukan itu maksudnya Dewi Kematian?" tanya Kimiko.
"Itu tidak benar. Banyak orang yang beranggapan kalau kutukan KTS sama dengan kutukan Dewi Kematian. Kenyataannya, kutukan KTS sudah menyebar lebih dulu dari Dewi Kematian. Tapi karena waktunya yang berdekatan banyak orang yang salah sangka" jawab Switch.
"Begitu..." gumam Bossun. Lalu, tiba-tiba saja dia menyadari sesuatu. Sesuatu yang merupakan kunci dari semuanya.
"Kalau begitu, berarti ada kemungkinan bahwa pelaku penyebar kutukan KTS sama dengan penyebar rumor Dewi Kematian" kata Bossun semangat. Himeko tampak sangsi.
"Yah... Bisa saja itu terjadi. Tapi apa tujuannya, Bossun?" tanya Himeko.
"Tentu saja untuk mengeluarkan Kimiko dari KTS! Kimiko, kau masih belum mengundurkan diri, kan?" balas Bossun. Kimiko menganggukkan kepalanya.
"Anggap saja dugaanmu benar. Tapi, mengapa pelaku sangat berupaya untuk mengeluarkan Kimiko? Peserta lainnya saja tidak sampai begini" kata Himeko.
"Yang pertama adalah, karena Kimiko" kata Switch menolehkan kepalanya ke arah Kimiko, "cukup keras kepala untuk tidak mundur dari KTS meskipun rumor kutukan KTS sudah beredar. Kedua, karena banyak orang yang menjagokan Kimiko untuk menjadi juara"
"Apa maksudmu, Kazu-kun?" tanya Kimiko.
"Sistem penilaian KTS tahun ini adalah dengan voting. Peserta dengan voting tertinggi akan menjadi juaranya dan yang memberi voting adalah penonton, murid-murid dari Kaimei sendiri. Kau mungkin tidak tahu Kimiko, tapi murid-murid Kaimei, terutama dari angkatan kita, kebanyakkan semuanya mendukungmu" jelas Switch.
"Ta-Tapi bagaimana bisa? Mereka bahkan tidak pernah mendengarku bermain" tanya Kimiko tersipu malu.
"Kau bermain piano hampir setiap pulang sekolah, Kimiko. Bagaimana mungkin orang-orang tidak menyadarinya? Bahkan guru-guru saja tahu" jawab Switch. Kimiko semakin malu.
"Jadi pada intinya, orang ini menyebarkan berbagai rumor itu untuk mengurangi peserta KTS?" tanya Himeko. Switch mengangguk.
"Ditambah pula, hadiah bagi pemenang KTS ini cukup tinggi. Untuk pemenang KTS, sekolah akan memberikan uang sebesar 600 yen" kata Switch.
"600 yen?!" seru Bossun dan Himeko bersama-sama, sementara Kimiko langsung tersedak biskuit.
"Aku tidak pernah tahu hadiahnya sebesar itu" kata Kimiko setelah meneguk segelas air.
"Berarti kemungkinan besar pelaku dari semua ini termasuk dari peserta KTS sendiri. Switch! Coba cari tahu siapa saja peserta KTS!" perintah Bossun. Switch mengetikkan sesuatu di laptopnya.
"Ketemu. Ada 6 peserta KTS yang tersisa. Dan..." Switch terdiam membaca laptopnya.
"Dan apa?" tanya Bossun.
"Dan kurasa kau tertarik untuk membaca ini" kata Switch membalikkan laptopnya agar dapat dibaca oleh semuanya.
"Totsuka Munakata. Umur 18 tahun. Kelas 3-A. Apanya yang aneh, Switch?" tanya Bossun.
"Baca bagian bawahnya" kata Switch. Ekspresi Bossun langsung berubah.
"Terkenal sebagai preman, tukang palak, dan bullyer adik-adik kelas. Diduga kuat pelaku pencurian tiga bulan lalu" baca Bossun.
"Pencurian tiga bulan lalu? Jadi itu dia?!" seru Himeko terkejut. Kimiko yang penasaran akhirnya menghampiri mereka dan ikut melihat laptop Switch.
"A-Aku tahu orang ini! Aku sering melihatnya setiap aku pulang setelah latihan piano!" seru Kimiko menunjuk foto Munakata.
"Berarti hampir kemungkinan besar pelakunya dia, ya... Tunggu sebentar" kata Bossun, mulai memakai kacamatanya. Diam untuk sesaat. Mereka semua terpaku memandang Bossun yang sedang serius berpikir. Setelah beberapa lama, akhirnya Bossun melepaskan kacamatanya dengan sangat kelelahan.
"Kurasa aku tahu apa yang harus dilakukan. Semuanya, dengarkan baik-baik" kata Bossun, tersenyum lebar. Semuanya pun mengelilingi Bossun, siap mendengar apapun rencana yang keluar darinya.
End of Chapter 8
Author's Note :
First thing first. KTS stand for Kaimei Talent Show. For you who forget...
Chapter ini jelas-jelas menjawab pertanyaan dari Kitsuni Harumi. Nope. This story is not ended yet. The ending is so close... Yet so far *sok filosofis. Bagi yang belum sadar (or maybe I'm not make it clear enough), Totsuka Munakata (yang namanya jelas-jelas diambil dari K Anime), adalah salah satu dari dua sosok misterius dari Chapter 3 : "Black Shadow".
Again, this chapter is just like a filler chapter. Filler chapter before the next climax. What climax? Oh come on... It's not that hard to guess I think.
And again I say... Review!
Lady of Gray
