Summary :
Semua orang pasti mempunyainya, bukan? Masa lalu yang ingin dikubur dalam-dalam. Masa lalu dimana kau melakukan suatu kesalahan yang tak termaafkan. Apa yang akan kau lakukan jika suatu saat kau akan berhadapan dengan masa lalumu itu?
Disclaimer :
Semua tokoh - tokoh dalam fanfic ini kecuali tokoh buatan saya merupakan kepunyaan dari Shinohara Kenta-san
Chapter 9 : Settled
Hari sudah sore. Matahari sudah hampir terbenam. Sekolah sudah sangat sepi, menandakan hampir semua muridnya sudah pulang semua. Hampir. Karena masih bisa ditemukan seorang gadis sedang mengendap-endap menuju loker sepatu. Tangannya memegang sehelai amplop. Tidak, gadis ini bukan ingin memberi surat cinta. Terlalu jauh untuk berpikir seperti itu. Lagipula, loker sepatu yang dituju olehnya adalah loker sepatu perempuan. Mana mungkin seorang gadis memberi surat cinta kepada gadis lainnya?
Gadis ini adalah gadis yang sudah kita terlalu kenal dengan baik, Kimiko Kurebayashi. Kimiko membuka loker sepatu miliknya dan menemukan sebuah amplop di dalamnya. Seperti menduganya, sama sekali tidak nampak ekspresi terkejut di wajahnya. Dia mengambil amplop tersebut dan memasukkan amplop miliknya ke dalam lokernya. Lalu, dia pun cepat-cepat pergi meninggalkan arena sekolah. Begitu Kimiko menghilang dari pandangan, seseorang yang sudah mengikutinya dari tadi keluar dari tempat persembunyiannya. Penasaran, dia membuka loker Kimiko dan membaca surat dalam amplop tersebut.
"Kahahaha! Dari segala kemungkinan yang ada, aku sama sekali tidak menduga dia akan melakukan ini. Kimiko Kurebayashi... Huh? Menarik. Sungguh menarik" katanya pada dirinya sendiri. Seringai lebar muncul pada wajahnya.
Kejadian ini terjadi pada saat tidak terlalu jauh dari kejadian pertama.
Seorang laki-laki sedang berlari-larian di sebuah jalanan sepi. Terlihat dari peluh keringatnya dan napasnya yang sudah terengah-engah, dia jelas sudah berlari cukup lama. Meskipun begitu, sama sekali tidak ada niat muncul darinya untuk berhenti. Seakan-akan seorang raksasa sedang mengejarnya. Lebih tepatnya, seorang "raksasa" perempuan, berambut pirang, dan sedang memegang stik hockey.
Entah karena Himeko lebih cepat atau laki-laki itu sudah kelelahan, yang jelas Himeko berhasil mengejar laki-laki itu. Laki-laki itu terus berlari, hanya untuk mendapatkan jalan buntu tepat di hadapannya.
"Jadi bagaimana, Rikiya Gaoh? Sudah mau menyerah?" tanya Himeko. Rikiya semakin ketakutan. Wajahnya pucat pasi. Kebetulan saja dia melihat sebuah tongkat baseball usang di dekatnya. Karena sudah putus asa, diambilnya tongkat itu dan digunakannya untuk memukul Himeko. Himeko dengan mudah menangkis pukulan Rikiya, membuatnya jatuh terduduk di tanah.
"Kutanya sekali lagi. Apa. Kau. Sudah. Menyerah?" tanya Himeko dengan penekanan di setiap kata-katanya. Tangannya memainkan stik hockey kesayangannya.
"Ma-Maafkan aku, Onihime-sama! Betul-betul maaf! Ba-Bagaimana kalau kita berbicara sebentar?" tanya Rikiya ketakutan.
"Berbicara, ya? Bagaimana kalau kita membicarakan tentang Totsuka Munakata? Apa yang kau tahu tentangnya?" tanya Bossun dengan Switch di sampingnya. Mereka berdua akhirnya berhasil menyusul Himeko.
"To-Totsuka Mu-Munakata? Si-siapa dia? Aku sama sekali tidak tahu apa yang kau katakan" kata Rikiya gugup. Keringat mulai menetes di dahinya.
"Yang kami maksud adalah orang ini" kata Switch menunjukkan foto Totsuka dari laptopnya, "Penjual informasi sepertimu pasti sangat mengenal dirinya"
"Pe-Penjual informasi? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan!" seru Rikiya. Jelas dari gelagatnya, dia mulai merasa panik. Switch menatap Rikiya tajam, menunggu Rikiya mengatakan sesuatu lagi. Tapi sayangnya, Rikiya tetap menutup mulutnya. Switch mendesah. Tampaknya dia harus menggunakan senjata rahasianya.
"Jangan salahkan aku tentang ini. Kau sendiri yang memintanya. Rikiya Gaoh. Umur 18 tahun. Tinggi 165 cm. Berat badan 75 kg. Kelas 3-D. Selama ini sudah menyatakan cinta kepada 10 gadis yang semuanya ditolak. Penggemar berat girlband "MikuMiku", bahkan memiliki semua pernak-perniknya. Setiap pagi selalu mencium poster Arisawa Miku-chan, anggota MikuMiku. Dan, aku juga mempunyai foto ini" kata Switch, memperlihatkan sebuah foto lain dari laptopnya. Foto Rikiya sedang melakukan cross-dressing dengan baju maid mirip baju Arisawa Miku. Beserta dengan wig rambut panjang biru kehijau-hijauannya. Terlihat dari foto itu, Rikiya sedang melakukan pose kedua tangannya diangkat dan ditekukkan seperti kucing. Salah satu matanya dikedipkan.
Foto itu dengan sangat sukses merubah suasanya yang tadinya serius dan menegangkan, menjadi lucu dan konyol. Himeko dan Bossun tertawa sangat keras, sangat keras hingga menangis dan perut mereka sakit.
"Da-darimana kau bisa mendapatkan foto itu?!" seru Rikiya, setengah panik dan setengah malu. Switch tersenyum. Rencananya berhasil.
"Mari kita buat kesepakatan. Kau menceritakan semua tentang Totsuka Munakata dan foto ini akan tetap menjadi rahasia di antara kita berempat atau..." kata Switch tidak menyelesaikan perkataannya.
"Atau apa?" tanya Rikiya. Switch tersenyum, seakan-akan menunggu Rikiya mengeluarkan pertanyaan itu.
"Atau kau bisa saja memilih untuk tidak memberitahu kami tentang Totsuka, dan foto ini akan menyebar di seluruh penjuru sekolah besok pagi" lanjut Switch santai.
"Ka-Kau...?! Ba-Bagaimana bisa...?" tanya Rikiya terbata-bata.
"Bagaimana bisa? Harusnya aku yang bertanya itu kepadamu. Bagaimana bisa kau melakukan hal yang sama kepada murid lain? Kau mencari rahasia mereka, dan mengancam akan menyebarkan rahasia mereka jika mereka tidak melakukan apa yang kau minta. Bahkan juga tidak jarang kau menjual rahasia yang kau dapat hanya untuk mendapatkan uang. Aku hanya melakukan apa yang sering kau lakukan. Hanya itu saja. Tidak ada alasan bagimu untuk marah" kata Switch dingin.
"Apa yang kau tunggu lagi? Mulailah bercerita" kata Himeko dengan senyum terlalu manis. Rikiya menelan ludahnya dan tak henti-hentinya bertanya dalam hati.
Mimpi apa dia semalam?
Dengan gelisah, Kimiko berjalan mondar-mandir di taman belakang sekolah. Sudah entah beberapa kali dia mengecek jam tangannya. Akhirnya, orang yang sudah daritadi ditunggunya datang juga.
"Aku tidak menyangka kau benar-benar datang kemari... Kimiko Kurebayashi" kata seseorang dari belakang Kimiko.
Kimiko dengan segera mengenali wajah orang tersebut. Sama seperti foto yang diperlihatkan Switch kepadanya waktu itu. Wajah Totsuka Munakata. Diam-diam, Kimiko tersenyum lebar dalam hati.
"Halo, Senpai" sapa Kimiko, mencoba untuk bersikap sopan.
"Kukuku... Aku tidak pernah menyangka ada adik kelasku yang cukup cantik juga" kata Totsuka mengelus wajah Kimiko. Kimiko secara reflek menjauhkan diri dari Totsuka.
"A-Anou, Senpai. Tu-tunggu dulu sebentar. Ada yang harus kutanyakan terlebih dahulu" kata Kimiko.
"Apa lagi, hah? Kau jelas-jelas mengatakan padaku di surat itu akan melakukan apapun asal rumor Dewi Kematian tidak menyebar lagi. Dan sekarang yang ingin kulakukan adalah memiliki dirimu" kata Totsuka tiba-tiba saja mendekati Kimiko. Kimiko berjalan mundur, hingga pada akhirnya punggungnya menempel tembok. Totsuka langsung memeluk pinggangnya.
Masih berusaha mendorong dirinya dari Totsuka, Kimiko bertanya, "Jadi kau orang yang menyebarkan rumor tersebut?"
"Tentu saja aku, gadis bodoh. Memangnya kau pikir mengapa aku bisa di sini selain untuk bertemu denganmu? Mungkin saja julukanmu Dewi Kematian, tapi kau tidak akan benar-benar bisa membunuhku. Sudah cukup acara tanya-jawabnya" kata Totsuka.
Segera, kedua tangan Kimiko dikunci oleh tangan Totsuka. Totsuka juga sudah memastikan Kimiko tidak akan bisa menggerakkan kakinya dengan menempelkan erat-erat kakinya sendiri ke kaki Kimiko. Dengan kata lain, Kimiko tidak bisa bergerak apa-apa lagi. Dia hanya bisa tak berdaya, menerima pasrah apa saja yang akan Totsuka lakukan. Tangan Totsuka yang satu lagi, menopang dagu Kimiko. Perlahan tapi pasti, Totsuka mendekatkan bibirnya ke bibir Kimiko. Pelan... Pelan... Mendekati... Totsuka semakin erat memegang Kimiko. Kimiko sudah bisa merasakan hembusan napas Totsuka. Dia memejamkan matanya erat-erat, seerat yang dia bisa. Semakin dekat... Tepat ketika bibir mereka hampir saling bersentuhan, tiba-tiba saja ada sesuatu yang meluncur ke arah Totsuka.
Sebuah peluru ketapel.
Kimiko bernapas lega. Reflek, Totsuka langsung menjauhkan diri dari Kimiko. Jelas-jelas marah.
"Siapa itu?!" tanya Totsuka gusar. Bossun, Switch, dan Himeko pun keluar dari tempat persembunyiannya.
"Tampaknya ketapelku tepat sasaran" kata Bossun bangga dengan tangan masih memegang ketapel.
"Sket-dan? Apa yang kalian lakukan di sini?!" seru Totsuka.
"Tentu saja untuk menangkapmu, Bodoh!" balas Himeko mengayunkan stik hockey-nya. Herannya, Totsuka berhasil menghindar dari pukulan Himeko. Dan bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali. Himeko pun semakin kesal. Pukulan yang dilakukannya pun semakin banyak dan tidak beraturan. Dan tepat pada saat itu, Totsuka berhasil memukulnya dan membuat Himeko melepaskan senjatanya.
"Himeko!" seru Bossun khawatir.
"Gawat... Orang ini cukup hebat juga..." pikir Himeko.
"Menangkapku kau bilang? Atas dasar apa kau menangkapku? Kesaksian kalian semua? Mana mungkin ada orang yang percaya pada kalian! Kalau kalian ada rekaman suara pun pasti banyak yang percaya bahwa itu semua hanya hasil editanmu saja" ejek Totsuka.
"Bagaimana dengan Ketua OSIS?" tanya Tsubaki yang tiba-tiba saja keluar dari belakang pohon tak jauh dari sana.
"Ke-Ketua OSIS?! Mengapa dia bisa ada di sini?" tanya Totsuka tidak mengerti. Bukan apa-apa, hanya saja sudah menjadi rahasia umum Sket-dan dan OSIS saling bersaing. Bossun menyeringai lebar.
"Jadi, begini ceritanya..." kata Bossun.
"Semuanya dengarkan baik-baik" kata Bossun, "Sebelum itu Kimiko, apa kau pernah menerima sesuatu darinya? Surat ancaman, mungkin?" Kimiko mengangguk.
"Aku pernah dan sampai sekarang pun juga masih. Dia selalu memasukkan surat ke loker sepatuku" jawab Kimiko.
"Bagus sekali. Dan... Switch. Mungkin saja memang Totsuka pelaku penyebaran rumor Dewi Kematian, tapi orang sepertinya tidak mungkin bisa tahu hal seperti itu. Bisakah kau mencari sumber informasinya?" tanya Bossun.
"Jangan khawatir. Sudah kudapatkan orangnya. Rikiya Gaoh. Terkenal sebagai penjual informasi di dunia geng murid. Akhir-akhir ini mereka berdua sering bertemu" jawab Switch.
"Itu baru Switch kami! Berarti sekarang semua kepingan puzzle sudah lengkap. Kimiko-chan, aku mau kau mengirim surat pada Totsuka" kata Bossun.
"Mengirim surat?" tanya Kimiko balik.
"Yap. Mengirim surat. Katakan saja di suratmu itu kau sudah lelah dengan rumor Dewi Kematian yang ada, dan kau rela melakukan apa saja asalkan dia bersedia untuk berhenti menyebarkan rumor itu" jawab Bossun.
"Tapi, bagaimana cara mengirimnya? Masa aku harus mengirim ke rumahnya?" tanya Kimiko lagi.
"Lho? Mengapa harus ke rumahnya? Tadi katamu dia selalu mengirimmu surat setiap hari di loker sepatu, bukan? Masukkan saja suratmu ke loker sepatu. Dia pasti akan mengambil surat itu saat dia membuka lokermu" jawab Bossun.
"Betul juga. Aku sama sekali tidak kepikiran cara itu" gumam Kimiko.
"Lalu, katakan saja di surat itu kau mau bertemu dengannya. Hmm... Mungkin sekitar 3 hari sejak kau kirim surat itu. Tempatnya di taman belakang sekolah saat pulang sekolah. Dan pada saat itu kita akan menangkapnya" tambah Bossun.
"Baiklah. Bagaimana dengan Rikiya Gaoh? Apa yang akan kau lakukan padanya?" tanya Kimiko.
"Yang itu urusan kami. Aku yakin pasti Switch berhasil menemukannya dan pada saat itu terjadi, Himeko yang akan menghajarnya. Dan aku akan menjadi penyerang cadangan" kata Bossun.
"Penyerang cadangan? Mana ada posisi seperti itu?" pikir semua orang dalam hati.
"Tapi Bossun, orang dengan reputasi seperti Totsuka... Kurasa dia tidak akan mudah ditangani begitu saja" kata Himeko.
"Tentang itu... Aku pikir aku akan mengajak Tsubaki juga" kata Bossun pelan.
"Hah? Kau serius, Bossun? Tumben sekali kau mau mengajaknya" kata Himeko. Meskipun mereka berdua saudara kembar, sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka saling bersaing satu sama lain.
"Dia itu kan Ketua OSIS. Akan lebih mudah untuk meyakinkan guru. Dan juga, dia bisa tinju. Jadi kalau terjadi apa-apa, dia cukup bisa diandalkan" kata Bossun.
"Oh... Begitu rupanya" gumam Himeko.
"Yosh! Jadi, mari kita sukseskan rencana ini! Yeah!" seru Bossun. Mereka semua mengangguk-angguk sebagai balasannya.
"Dan itulah ceritanya" kata Bossun.
"Kau juga sudah tidak bisa mengelak lagi. Kami sudah mendapatkan bukti dari Rikiya Gaoh tentang kesepakatan kalian" kata Switch menekan sesuatu di laptopnya. Lalu, terdengarlah suara rekaman.
"A-Aku dan Totsuka... Err... Ka-kami bekerja sama. Aku yang mencari rahasia peserta KTS dan dia yang bertugas mengancam mereka. Nantinya, saat dia menjadi juara KTS, uang hadiahnya akan dibagi dua" kata suara rekaman itu. Suara dari Rikiya Gaoh.
"Sungguh memalukan! Untuk melakukan sesuatu seperti ini hanya untuk mendapatkan uang! Terlalu!" seru Tsubaki.
"Cih! Jadi sudah terbongkar semuanya, ya..." gumam Totsuka. Lalu, mendadak dia berlari dari mereka. Ternyata, tempat yang ditujunya adalah tempat sampah. Dari sana dia mengambil botol kaca dan dipecahkannya botol itu ke tanah. Bagian mulut botol yang masih utuh dan tajam dijadikannya sebagai pegangan senjata barunya itu. Tsubaki dan Bossun yang tadinya sudah mau mendekatinya langsung mengurungkan niat mereka.
"Semua rencanaku... Rencana yang sudah kususun lama... Semuanya gagal. Gagal! Dan ini semua karenamu! Rasakan ini!" seru Totsuka menghampiri Bossun dan Tsubaki. Atau setidaknya begitu pikir mereka. Karena begitu di hadapan mereka, Totsuka malah berbelok dan... Menuju Kimiko. Kimiko memang daritadi tidak mengubah posisinya. Botol pecah tadi sudah diacungkannya, siap untuk dipukul. Sadar akan bahaya yang datang, Kimiko berusaha secepat mungkin untuk pergi. Tapi sialnya, dia jatuh tersandung saat sedang berusaha menjauh. Totsuka sudah menyeringai lebar, yakin pukulannya akan mengenai sasarannya. Dan memang benar. Jika tidak terjadi hal yang tidak diduga. Untungnya, memang ada hal yang tidak diduga terjadi.
Begitu menyadari Totsuka menghampiri Kimiko, Switch langsung berlari menujunya. Dan syukurnya, dia berhasil tiba tepat waktu sebelum botol itu mengenai Kimiko. Switch sengaja menghalangi Kimiko dari pukulan Totsuka. Yang membuatnya menjadi korban pukulannya. Switch segera berpikir cepat. Dia menggunakan laptopnya sebagai pelindung dari pukulan itu. Prang! Bunyi botol yang semakin pecah dan laptop yang hancur. Berkat laptop itu, pukulan itu tidak terlalu parah mengenai Switch. Meskipun begitu, tetap saja ada beberapa bagian tangan Switch yang tersayat. Tidak terlalu parah, tapi cukup untuk membuatnya mendapat beberapa jahitan.
"Kazu-kun!" seru Kimiko. Dia cepat-cepat merobek bajunya dan membalut luka itu sebagai pertolongan pertama. Switch meringis, tapi dia tetap tidak berkata apa-apa. Di tengah kekacauan itu, Totsuka berusaha kabur. Hanya untuk ditinju Tsubaki keras-keras. Tepat di wajahnya. Buak! Tinju itu pun berhasil membuat Totsuka pingsan.
Semua keributan itu akhirnya mengundang perhatian beberapa murid yang masih di sekolah, termasuk para anggota OSIS. Tsubaki pun meminta mereka untuk menyerahkan Totsuka yang masih pingsan kepada guru setelah tentunya, menceritakan apa yang terjadi. Sementara itu...
"Teman-teman! Lukanya... Semakin parah!" seru Kimiko pucat pasi. Takut, cemas, khawatir, semuanya bercampur aduk di wajahnya. Luka Switch mengalami pendarahan yang cukup hebat, membuat tanah di sekitarnya menjadi genangan merah.
"Ayo! Kita harus cepat-cepat ke rumah sakit! Kita ke rumah sakit orangtuaku saja!" ajak Tsubaki. Karena klinik sekolah jelas-jelas tidak mampu melakukan operasi dan satu-satunya rumah sakit terdekat adalah rumah sakit orangtua Tsubaki, mereka semua langsung setuju dan bergegas pergi ke rumah sakit dengan dipandu oleh Tsubaki.
Bossun tidak berhenti-hentinya menggoyangkan kakinya. Kedua tangannya ditangkupkan ke depan. Bahkan Bossun yang biasanya ceria pun menjadi sangat serius.
"Operasinya cukup lama..." desah Himeko.
"Luka Usui cukup dalam. Jadinya, jahitan yang harus dilakukan oleh Ayah cukup banyak" kata Tsubaki yang ikut menemani mereka.
Sementara itu, Kimiko hanya terdiam sejak memasuki rumah sakit. Dia menggigit bibirnya. Dari semua tempat di dunia ini, rumah sakit adalah tempat yang paling dibencinya. Terlalu membangkitkan kenangan lama. Terakhir kali dia di rumah sakit adalah saat... Pembunuhan orangtuanya. Melihat Kimiko yang daritadi hanya diam saja, Bossun merasa khawatir.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Bossun duduk di samping Kimiko.
"Aku hanya..." kata Kimiko pelan.
"Jangan terlalu memikirkan Switch. Luka seperti ini tidak ada apa-apanya bagi dia. Dia pasti akan baik-baik saja" hibur Bossun. Kimiko menganggukkan kepalanya pelan. Lalu, terdengar suara pintu terbuka. Dokter Tsubaki akhirnya keluar juga.
"Operasinya sudah selesai. Total dia mendapat 5 jahitan" kata Dokter Tsubaki.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Kimiko cepat.
"Sudah tidak apa-apa. Hanya saja untuk beberapa hari dia belum boleh untuk menggunakan tangannya. Sekarang kau juga sudah bisa menemuinya, kok" kata Dokter Tsubaki. Kimiko langsung memasuki ruangan pasien tanpa mendengarkan lebih lanjut Dokter Tsubaki. Bossun dan Himeko tetap diam di tempatnya, yang membuat Tsubaki bingung.
"Mengapa kalian tidak ikut masuk?" tanya Tsubaki.
"Nanti saja kita akan menyusul mereka. Biarkan saja mereka berdua dulu. Lagipula..." kata Bossun.
"Lagipula?" tanya Tsubaki.
Belum sempat Bossun menjawab, terdengar suara keras dari ruang pasien. Cepat-cepat Tsubaki memasuki ruang pasien, takut akan hal buruk terjadi. Tapi yang terjadi malah di luar perkiraannya.
"Baka! Hontou ni baka! Bisa-bisanya kau melakukan hal bodoh seperti itu! Bagaimana kalau botol itu mengenai langsung dirimu?!" seru Kimiko marah.
Switch mengambil secarik kertas dan mulai menulis. Sedikit lama, karena dia tidak bisa menggunakan tangan kanannya. (Laptop Switch rusak, ingat?)
"Kenyataannya botol itu tidak mengenai diriku. Nyaa~" tulis Switch dengan emoticon kucing. Yang tentu saja membuat Kimiko semakin marah.
"Tapi tetap saja itu bukan alasan untuk melakukan itu! Kau hanya sekedar beruntung tahu! Kalau sampai botol itu benar-benar mengenai dirimu, maka aku–" Switch memotong perkataan Kimiko. Dengan suaranya.
"Kau pikir aku bisa memaafkan diriku sendiri jika sesuatu terjadi padamu? Apalagi jika hal itu terjadi langsung di hadapanku. Aku sudah kehilangan Masafumi. Sawa... Dia sudah pergi entah kemana. Aku tidak mau kau pergi juga" kata Switch. Kimiko menghela napas.
"Aku tidak akan pergi kemana-mana. Begitu juga denganmu. Hanya saja... Kumohon, jangan lakukan hal bodoh seperti itu lagi. Janji?" tanya Kimiko mengulurkan jari kelingkingnya. Matanya memandang lurus-lurus mata Switch. Melihat ekspresi Kimiko dan jari kelingking itu, Switch merasa seperti melihat deja vu. Deja vu saat mereka masih kecil.
"Sawa-chan! Berlindung di belakangku! Aku pasti akan melindungimu!" seru Kimiko yang masih berumur 9 tahun waktu itu. Sawa-chan, dengan penuh derai air mata, langsung ke belakang Kimiko.
"Hahaha! Mau pergi kemana pun juga, kalian tidak akan bisa lari dari kami" kata seorang anak laki-laki. Dari penampilannya yang berantakan, dengan mudah dapat disimpulkan bahwa dia anak berandalan. Bukan hanya berandalan biasa, tapi pemimpin dari anak-anak berandalan. Di belakangnya, berdiri anak-anak berandalan lain yang jauh lebih besar dari mereka. Kimiko mulai takut, tapi dia tetap tidak bergerak dari tempatnya.
"Kalian yang tadi bermain di Taman Shiroinu tadi, bukan? Tempat itu wilayah kami! Kalian tidak boleh berada di sana!" seru anak laki-laki itu.
"Hei! Dimana-mana tempat bermain itu tempat umum, tahu! Semua orang bebas bermain di sana!" balas Kimik sewot.
"Kau! Berani-beraninya kau berbicara seperti itu padaku!" seru anak laki-laki itu marah. Tangannya sudah terkepal erat dan mau memukul Kimiko. Lalu tiba-tiba saja, ada sebuah batu terlempar ke kepalanya. Kimiko langsung mengenali pelempar batu itu. Kazuyoshi Usui.
"Masa anak laki-laki sebesarmu masa hanya berani memukul anak perempuan. Dasar pengecut" ejeknya.
Kejadian berikutnya mudah ditebak. Alih-alih memukul Kimiko, anak berandalan itu malah memukul Switch. Dan tidak ada satu pun dari mereka yang dapat menghentikannya. Kimiko dan Sawa hanya bisa melihat Switch dipukuli. Begitu selesai, anak berandalan itu pun pergi dan meninggalkan Switch yang sudah babak belur.
"Kazu-kun..." kata Sawa lemah. Pipinya basah karena air mata. Kimiko menatap Switch khawatir.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Kimiko.
"Jangan khawatir. Hanya luka segini saja tidak ada apa-apanya" jawab Switch. Tapi saat Sawa tidak sengaja menyentuh lukanya, Switch langsung meringis sakit.
"Go-Gomen-ne, Kazu-kun!" seru Sawa.
"Daijobu, daijobu. Tidak apa-apa, kok" kata Switch cepat-cepat. Sementara itu, Kimiko seperti sedang berpikir keras. Mendadak, dia mengulurkan jari kelingkingnya ke arah Switch.
"Huh? Kimiko-chan?" tanya Switch bingung.
"Aku mau kau berjanji padaku. Jangan pernah melakukan hal bodoh seperti ini lagi" kata Kimiko dengan mata penuh keyakinan, tidak memberi pilihan lain bagi Switch selain ikut berjanji.
"Aku... Janji" kata Switch akhirnya. Kimiko tersenyum lebar.
"Kazu-kun? Apa kau mendengarku?" tanya Kimiko bingung. Siapa pun juga pasti bingung jika orang yang kau ajak bicara tiba-tiba saja hanya terdiam memandangmu. Switch akhirnya membalas tatapan Kimiko dan membalas jari kelingkingnya.
"Aku janji" kata Switch tersenyum tulus. Senyuman yang cukup membuat Kimiko terperangah untuk sesaat.
"Ehem!" deham Tsubaki menyela Kimiko dan Switch, menyadarkan mereka bahwa... Mereka tidak hanya berdua di ruangan itu. Bossun dan Himeko juga akhirnya ikut menyusul Tsubaki masuk ke ruang pasien.
"Err... Halo?" kata Himeko, bersudah untuk memecahkan kecanggungan yang ada.
"Sekarang kau sudah mengerti mengapa kami tidak langsung masuk, bukan?" kata Bossun kepada Tsubaki, yang membuat pemuda itu langsung merah pipinya.
"Ka-Kalian... Su-sudah sejak kapan kalian berada di sana?" tanya Kimiko terbata-bata. Sementara Switch mendadak terdiam.
"Eh... Eto... Kami baru saja masuk, kok! Sungguh!" jawab Himeko cepat-cepat.
"Hah? Bukannya kita sudah masuk sejak Switch berkata 'Aku tidak mau kau pergi juga' ?" tanya Bossun balik. Wajah Kimiko langsung merah padam. Hal yang sama juga terjadi pada Switch, pemuda yang biasanya sangat jarang mengeluarkan emosinya. Keduanya memalingkan wajah mereka, terlalu malu untuk saling melihat.
"Maafkan aku karena telah menganggu! Aku sama sekali tidak tahu bahwa kalian pa-pacaran" kata Tsubaki membungkukkan badannya.
"Kami tidak berpacaran!" seru Switch dan Kimiko bersamaan. Dan untuk kasus Switch, dengan suaranya langsung. Cepat-cepat Switch kembali menutup mulutnya.
"Ja-jadi seperti itu suara asli Switch rupanya" pikir Bossun, Himeko, dan Tsubaki. Tiga orang di ruangan itu yang tidak pernah mendengar suara asli Switch.
"Aku sama sekali tidak tahu kau bisa juga mengatakan hal manis seperti itu, Switch! Mungkin sudah saatnya untuk kau mencari pacar?" goda Himeko.
"Cuaca hari ini bagus sekali" tulis Switch, kembali tidak menggunakan suaranya, jelas-jelas berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" seru Himeko. Switch hanya memasang wajah polos andalannya.
Ruangan pasien itu pun penuh dengan derai tawa. Dan... Dengan ini, berakhirlah hari yang panjang dan melelahkan itu.
End of Chapter 9
Author's Note :
Remember when I said "The close is so near" ? I'm not kidding when I said that. This story, approximately, will end about... 1-2 chapter again. Just hang on for a while, okay? To be honest, even before Yuki Dorami's review, I did thought to put Sawa in this story. Really. And when that happen, I will write more about love twist between Switch, Sawa, and Momoka. I swear from my heart it did cross my mind. But the problem is, I still don't know where will I bring the story. Mau dibawa kemana ceritanya? Apa plotnya? I still don't have any idea at all. Because if I'm really, really, want to write about that story, there will (or must?) be so much plot twist. Especially I have tendency to write about someone's past things, to be exact Switch's and Kimiko's. Maybe, when I have an idea, I will put it in my sequel story. But no promise. Just wish me a lot of good luck. Repeat. A. Lot.
By the way... There's also a chance for side story or something like that. Focused on Kimiko and about her school's daily things. I'm still work on it. And one more question. Kalau side story itu benar-benar jadi dan akan di-publish, where should I publish it? Should I put it in this story together or make a new story?
Lady of Gray
