Summary :

Semua orang pasti mempunyainya, bukan? Masa lalu yang ingin dikubur dalam-dalam. Masa lalu dimana kau melakukan suatu kesalahan yang tak termaafkan. Apa yang akan kau lakukan jika suatu saat kau akan berhadapan dengan masa lalumu itu?

Disclaimer :
Semua tokoh - tokoh dalam fanfic ini kecuali tokoh buatan saya merupakan kepunyaan dari Shinohara Kenta-san


Chapter 11 : Epilogue

"Fyuuh..." gumam Bossun mengelap dahinya yang basah karena keringat.

"Ini untukmu" kata Kimiko memberikan Bossun sebuah minuman dingin. Minuman yang segera diteguk Bossun.

"Arigatou, Kimiko-chan" balas Bossun.

"Harusnya aku yang berterimakasih. Kalian rela datang ke sini hanya untuk membantuku pindah-pindah barang saja" kata Kimiko.

"Dan itu semua karena kesalahanmu sendiri" tambah Switch.

"Urusai! Mana kutahu bakal jadi begini. Lagipula lantainya tidak serusak yang pak tua itu katakan. Dia hanya terlalu membesar-besarkan saja" gerutu Kimiko.

"Tapi tetap saja kau diusir dari sini, bukan?" tanya Switch, sukses menutup mulut Kimiko.

Jadi... Begini. Masih ingat saat Kimiko bertemu dengan Tamazuki di flat-nya? Pada saat itu, Kimiko memukul lantai kayu flat-nya sampai berlubang, bukan? Ingat? Tidak lama setelah Tamazuki pergi, giliran bapak tua pemilik flat yang datang menghampiri Kimiko.


"Kau! Dasar kurang ajar! Sudah tidak pulang selama 3 hari, begitu pulang malah merusak lantai flat! Mau jadi apa kau!" seru bapak tua itu marah.

"Tu-tunggu dulu. Ini sebenarnya-" kata Kimiko berusaha memberi penjelasan.

"Saya tidak mau tahu lagi. Mulai bulan depan, jangan lagi kamu tinggal di sini!" seru bapak tua itu.

"Tapi, aku-" elak Kimiko, mencoba membela diri.

"Tidak ada tapi-tapian lagi. Pokoknya, bulan depan jangan pernah saya lihat kamu lagi" potong bapak tua itu final.


Setelah selesai berkata seperti itu, bapak tua itu pun pergi meninggalkan Kimiko. Saat KTS sudah selesai pun, Kimiko masih belum mendapatkan tempat tinggal baru. Padahal, sebentar lagi sudah mau awal bulan. Tapi... Selalu ada jalan untuk setiap masalah, bukan?

"Jujur saja, aku sama sekali tidak menyangka kau menawarkan Kimiko untuk tinggal di rumahmu, Switch" kata Himeko.

"Orangtuaku sama sekali tidak keberatan Kimiko tinggal di rumahku. Ada kamar yang tidak terpakai juga di sana. Lagipula, aku tidak mau dihantui Misao malam-malam karena tidak membantumu" kata Switch.

"Hoi! Jangan bawa-bawa nama Misao!" protes Kimiko.

Betul sekali para pembaca. Switch yang sangat kita tahu itu menawarkan Kimiko untuk tinggal di rumahnya. Seperti ini ceritanya...


"Kenapa kau lesu begitu?" tanya Switch, menemukan Kimiko menidurkan kepalanya di atas meja.

"Aku masih belum menemukan apartemen baru. Semua apartemen yang kudatangi kalau tidak terlalu mahal, pasti terlalu jauh dari sekolah" jawab Kimiko lemas. Switch terdiam untuk sesaat.

"Bagaimana kalau kau tinggal di rumahku saja?" tawar Switch. Kimiko langsung duduk tegak di kursinya.

"Na-nani?! Kau benar-benar serius?!" tanya Kimiko terkejut. Switch mengangguk kecil.

"Aku serius. Kau bisa tinggal di rumahku saja jika kau mau. Letak rumahku dekat dengan sekolah dan kau bisa tinggal di sana gratis" kata Switch.

"Tapi... Seingatku tidak ada kamar lebih di rumahmu, kan? Dan kau jelas-jelas tidak mungkin mengijinkanku untuk tidur di kamar Masafumi" kata Kimiko.

"Tentu saja tidak. Tapi karena ada seseorang yang dengan seenaknya merusak jendela rumahku" kata Switch melirik Himeko yang tidak jauh dari mereka, yang dengan sengaja mengalihkan pandangannya dari Switch, "Jadinya Ayah memutuskan untuk merenovasi sebagian rumah. Dan hasilnya adalah bertambahnya satu ruangan lebih di rumahku. Kau bisa tinggal di sana jika kau mau"

"Kau... Sungguhan, kan?" tanya Kimiko memastikan.

"Apa aku perlu mengulangnya seratus kali?" tanya Switch balik. Sebuah senyuman merekah di wajah Kimiko.


Karena itulah, sekarang, Kimiko, Bossun, Himeko, dan Switch, ada di flat Kimiko membantunya merapikan barang-barang. Untungnya saja, barang-barang Kimiko tidak terlalu banyak. Untuk ukuran anak perempuan setidaknya.

"Yosh!" seru Bossun merapikan kotak terakhir, "Akhirnya selesai juga!"

"Iya! Capek sekali rasanya" kata Himeko meminum es sirup.

"Betul sekali. Membereskan barang-barang itu melelahkan" kata Switch yang ikut juga.

"Justru harusnya aku yang berkata seperti itu tahu! Yang daritadi kalian lakukan hanya duduk-duduk saja tahu!" gerutu Bossun.

"Tidak. Kami tidak hanya duduk-duduk saja" balas Switch.

"Oh ya? Terus apa saja yang kalian lakukan dari tadi?" tanya Bossun balik.

"Kami duduk-duduk, minum es sirup, dan makan biskuit" kata Switch.

"Jangan lupa membaca majalah, Switch. Kita juga membaca komik. Ngomong-ngomong, komikmu lengkap juga Kimiko-chan" kata Himeko.

"Err... A-arigato..." kata Kimiko ber-sweatdropped.

"Kalian ini! Seenaknya saja!" seru Bossun.

"Sudah, sudah. Karena semuanya sudah selesai, lebih baik sekarang kita pindahkan semuanya bukan?" usul Switch.

"Betul juga. Tapi... Bagaimana caranya kita memindahkan semua barang ini?" tanya Bossun.

"Sudah pasti, kan? Kita akan menggunakan cara itu" kata Himeko.

"Cara itu?" tanya Bossun bingung.

"Tenang saja. Semuanya sudah kuurus, kok" kata Kimiko tersenyum.

"Tunggu! Kau tidak benar-benar bermaksud—" Sebelum Bossun selesai mengatakan apa yang ingin dikatakannya, tiba-tiba saja tersengar bunyi klakson mobil di luar.

"Ah! Mobilnya sudah datang rupanya" gumam Kimiko.

"Mobil?" tanya Bossun dengan dahi berkerut.

"Aku meminta ayah Kazu-kun untuk ikut membantuku pindah-pindah. Barang-barangku tidak terlalu banyak ini. Lagipula kau tidak mungkin berpikir untuk memindahkan semua barang ini satu-satu, kan?" kata Kimiko.

"Be-benar juga" jawab Bossun cepat-cepat.

"Aku mana mungkin bilang kalau aku memang benar-benar berpikir seperti itu..." pikir Bossun.


"Inilah dia. Rumah keluarga Usui yang terkenal" kata Switch begitu mereka tiba di depan rumah.

"Tidak terlalu berbeda juga dengan dulu rupanya. Padahal kupikir mungkin berbeda karena adanya renovasi" kata Kimiko.

"Hahaha! Terkadang yang lama lebih baik dari baru, bukan? Ngomong-ngomong, ini kedua kalinya kalian ke sini, kan? Bimeko dan Hossun?" tanya ayah Switch.

Himeko dan Bossun, Yah" ralat Switch.

"Ya, ya, ya. Maksudku itu. Hanya beda sedikit saja tidak perlu dipermasalahkan" kata ayah Switch.

"Apanya yang beda sedikit?!" pikir semua orang kecuali ayah Switch.

"Kedua kalinya?" tanya Kimiko bingung.

"Tidak baik membiarkan mereka terlalu sering berkunjung. Aku tidak mau ada jendela yang menjadi korban lagi" kata Switch. Himeko yang mendengar perkataan Switch tertunduk malu.

"Hah?" tanya Kimiko masih tidak mengerti.

"Bagaimana kalau sekarang kita masuk saja? Tidak bagus berdiam di depan rumah lama-lama" ajak ayah Switch. Semuanya mengangguk dan mulai memindahkan barang-barang dari mobil ke dalam rumah. Begitu di dalam rumah, ibu Switch sudah siap menyambut mereka.

"Kimiko-chan! Kau sekarang sudah besar sekali! Semakin cantik pula!" seru ibu Switch sambil memeluk Kimiko erat-erat.

"Te-terima kasih karena telah mengijinkanku untuk tinggal di sini, Obasan, Ojisan" kata Kimiko membungkukkan badannya.

"Aduh! Tidak perlu formal seperti itu, Kimiko-chan. Kami berdua sudah menganggapmu seperti anak kami sendiri" kata ibu Switch.

"Lagipula, ini semua ide dari Kazuyoshi. Dialah yang memberitahu kami semuanya" tambah ayah Switch yang sudah ikut bergabung di ruang tamu dan mulai membaca korannya.

"Nah, sekarang, bagaimana kalau kau memeriksa calon kamarmu? Kazuyoshi yang akan mengantarmu" tawar ibu Switch.

"Err... Sebenarnya, sebelum itu, ada yang ingin kulakukan terlebih dulu. Sesuatu yang penting" tolak Kimiko pelan.

"Hmm? Apa itu, Kimiko-chan?" tanya ibu Switch lembut.

"Aku... Aku ingin pergi ke meja abu Masafumi" jawab Kimiko.

Satu ruangan langsung terhenyak mendengar perkataan Kimiko. Terutama kedua orangtua Switch. Mereka jelas-jelas terlihat tegang. Di saat seperti itulah, Switch bangkit dari tempat duduknya, membuatnya menjadi pusat perhatian.

"Kupikir kau tidak akan pernah memintanya. Ayo, akan kuantar" kata Switch mulai melangkah keluar. Kimiko pun ikut pergi mengikutinya.

"Jadi... Kimiko-chan, kau sudah tahu kalau...?" tanya ibu Switch lemah. Switch menghentikan langkahnya.

"Aku sendiri yang memberitahunya. Kita pergi, Kimiko" kata Switch melanjutkan kembali langkahnya. Kimiko membungkukkan badannya lemah sebelum pergi mengikuti Switch. Meninggalkan Bossun dan Himeko yang hanya saling berpandangan satu sama lain.


Switch membawa Kimiko menyusuri lorong rumahnya. Mereka berjalan, dan terus berjalan, hingga akhirnya mereka pun tiba di satu-satunya ruangan di ujung lorong. Terpencil, dan... Seakan-akan tidak mau diingat-ingat lagi. Switch membuka perlahan-lahan pintu ruangan itu. Ternyata, ruangan itu berisi meja abu Masafumi. Kimiko pun memasuki ruangan itu sementara Switch memutuskan untuk tetap menunggu di luar. Dia hanya berdiri saja di depan pintu.

Meskipun harus diakui, dia sengaja menguping Kimiko dari celah pintu yang memang sengaja tidak ditutup rapat-rapat olehnya. Terdengar pelan suara Kimiko.

"Hey, Switch. Apa kabarmu? Sudah cukup lama sejak kita bertemu, bukan?" tanya Kimiko lirih. Dia menarik napas sebentar.

"Kau tahu? Banyak sekali hal yang sudah terjadi selama kau pergi. Katakan saja kakakmu. Tiba-tiba saja dia seperti kembaranmu dan menjadi otaku" lanjutnya.

Switch tidak tahan berkomentar dalam hatinya, "Aku bukan otaku. Dasar seenaknya saja"

"Obasan dan Ojisan juga..." Kimiko mendesah, "Misao juga sudah meninggal, tapi kurasa kau pasti sudah tahu itu. Bahkan mungkin saja saat ini kalian berdua sudah bertemu satu sama lain"

Switch menyadari, suara Kimiko semakin pelan. Penasaran, akhirnya dia memutuskan untuk mengintip ke dalam. Kimiko sedang duduk bersimpuh di hadapan meja abu. Dan melihat dari bahunya yang bergetar serta suara isak tertahan... Switch tidak perlu melihat wajah Kimiko untuk memastikan dia menangis.

"Hiks... Baka! Baka Switch! Kenapa kau harus pergi begitu cepat? Aku... Aku bahkan masih belum..." isak Kimiko kembali melanjutkan tangisnya. Switch tidak melanjutkan kembali mengintip. Dia sudah melihat lebih dari cukup. Sekarang yang bisa dia lakukan hanya terduduk di depan pintu. Matanya tampak menerawang.

Kematian Masafumi merubah semuanya. Orangtuanya, Sawa, Kimiko... Dan terutama dirinya sendiri. Meninggalkan sebuah lubang yang tidak akan pernah terisi. Wajah Masafumi yang tersenyum muncul kembali di benaknya.

"Kimiko benar. Kau betul-betul bodoh sekali... Masafumi" gumam Switch perlahan.


"Jadi... Sudah sejak kapan kau tahu tentang kematian Masafumi?" tanya ibu Switch pelan begitu Kimiko dan Switch kembali.

"Baru akhir-akhir ini saja" jawab Kimiko pelan. Suasana kembali hening.

"Aku... Kami sudah mendengar apa yang terjadi orangtuamu dan Misao" kata ibu Switch lirih, memecah keheningan yang ada. Kimiko terdiam. Lagipula, apa juga yang harus dikatakannya? Dia tahu pasti siapa yang memberi tahu mereka. Tiba-tiba ibu Switch memeluk Kimiko.

"E-Eto..." kata Kimiko.

"Pasti sulit bagimu, bukan? Menghadapi ini semua... Apalagi sendirian..." bisik ibu Switch. Kimiko melepaskan dirinya dari pelukan ibu Switch.

"Aku baik-baik saja. Karena... Karena aku tidak sendirian. Tidak lagi" balas Kimiko ceria menatap lurus-lurus mata ibu Switch. Ibu Switch tampak tertegun melihat tatapan Kimiko.

Memang benar. Saat kita kehilangan orang-orang berharga kita... Kehilangan itu akan meninggalkan sebuah lubang. Itu memang kenyataannya. Dan kenyataan itu tidak bisa diubah. Tapi, selama kita tetap tersenyum... Selama kita tetap melangkah maju...

Ibu Switch menyunggingkan senyuman kecil.

"Kau benar. Kau memang tidak sendirian, Kimiko-chan" kata ibu Switch mengusap kepala Kimiko.

Perlahan tapi pasti, kau akan bertemu dengan orang-orang. Orang-orang yang bisa mengisi lubang itu.

"Apalagi sejak kau bertemu kembali dengan Kazuyoshi, rasanya dia menjadi lebih berbeda dari sebelumnya" kata ayah Switch.

"Hmm? Benar juga. Dia menjadi lebih gembira dari sebelumnya, bukan?" tanya ibu Switch.

"Aku tidak—" protes Switch yang tampaknya tidak terlalu didengarkan.

Keluarga

"Betul sekali! Aku juga sering mendapatinya bersenandung di ruang klub" kata Himeko.

"Dia bahkan lebih sering melucu dari biasanya" tambah Bossun bersemangat.

Teman

"Aku sama sekali tidak melakukan itu semua! Dan kalau pun hal itu terjadi pasti bukan karena Kimiko!" seru Switch jengkel.

"Kalau begitu... Bagaimana dengan pacar?" tanya Kimiko jahil. Ekspresi Switch langsung berubah drastis. Wajahnya bercampur malu sekaligus juga panik.

Atau bahkan mungkin juga seorang pacar?

Ibunya sudah memandangnya dengan mata berbinar-binar.

"Pacar?! Pacar sungguhan, kan? Bukan figurin aneh atau boneka?" tanya ibu Switch antusias. Switch memberikan isyarat tidak kepada Kimiko. Yang malah membuat seringaian gadis itu semakin lebar.

"Tentu saja pacar sungguhan. Seorang anak gadis SMA" jawab Kimiko.

"Akhirnya! Akhirnya anakku mempunyai pacar juga! Padahal aku sempat khawatir juga, loh! Seharusnya anak seumuran dia sudah mempunyai pacar, tapi sampai sekarang aku masih belum juga mendengar kata pacar darinya" kata ibu Switch.

"Itu karena aku memang masih belum punya pacar!" protes Switch dengan wajah yang semakin merah seiring berjalannya waktu.

"Jangan berkata seperti itu, Switch. Kau itu kan meraih penghargaan sebagai cowok paling menarik di kelas" kata Bossun.

Wajah Switch semakin panik. Membuat Bossun dan Himeko menyesal tidak membawa kamera untuk mengabadikan ekspresi Switch. Ayah Switch, yang hanya memperhatikan saja daritadi, hanya tertawa terkekeh di pojok ruangan.

"Kau serius, Fujisaki-kun?" tanya ibu Switch.

"Bukan hanya itu saja. Pada saat Valentine, Switch juga—" kata Himeko yang tidak sempat menyelesaikan kata-katanya karena ditahan Bossun. Sebelum Himeko mengeluarkan protesnya, Bossun berbisik di telinganya, "Kita kan seharusnya tidak mengetahui hal itu! Kita hanya menguping mereka, kan?!" Switch sudah menatap mereka tajam.

"Valentine apa?" tanya ibu Switch lagi.

"Tidak ada apa-ap—" kata Switch cepat-cepat. Tapi tetap saja kalah cepat dari Kimiko.

"Pada saat Valentine, Kazu-kun menerima coklat dari seorang gadis. Dan bukan coklat biasa saja, melainkan coklat honmei" kata Kimiko dengan penekanan di kata honmei.

"Kau—Bagaimana kau bisa tahu? Kalau Bossun dan Himeko aku bisa mengerti, tapi... Kau?" tanya Switch.

"Gampang. Karena gadis itu sudah menceritakan semuanya kepadaku" kata Kimiko santai. Kata-kata yang membuat ekspresi Switch semakin horror.

"Jadi itu semua benar, Kazuyoshi? Kenapa kau tidak menceritakannya padaku?" tanya ibu Switch. Belum sempat Switch menjawab, ibu Switch sudah keburu menanyai Kimiko.

"Bagaimana dengan gadis itu, Kimiko-chan? Bagaimana dengan wajahnya? Penampilannya?" tanya ibu Switch cepat-cepat.

"Tenang saja. Dia cukup cantik, kok" kata Kimiko menyengir.

"Nani?! Siapa namanya, Kazuyoshi? Lalu umurnya? Hobinya? Berat badannya?" tanya ibu Switch bertubi-tubi.

Menghadapi pertanyaan bertubi-tubi seperti itu benar-benar membuat Switch sama sekali tidak berkutik. Apalagi tidak ada tanda-tanda sedikit pun ocehan ibu Switch akan berhenti. Akhirnya, karena tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi, tiga orang yang memang sengaja memancing ibu Switch dan membuat Switch kalang kabut itu, memutuskan untuk duduk di pojok ruangan. Bersama ayah Switch.

"Kue?" tawar ayah Switch menyodorkan mereka setoples kue kering. Masing-masing dari mereka mengambil kue itu. Menonton dengan santai adu mulut ibu dan anak itu.

"Benar-benar hari yang tenang seperti biasanya" komentar Bossun tersenyum lebar. Himeko tertawa mendengarnya.

"Kau benar. Benar-benar sama seperti biasanya" kata Kimiko. Senyuman kecil terukir di wajahnya.

Yang jelas, orang-orang itu ada di sekeliling kita.

Kita hanya belum saja menyadarinya saja.

I'm laughing now
Because I am not alone
If I can put into words the eyes can not see
There should understand the feelings that are connected

I felt that somewhere in your heart
Always be loneliness did not disappear
Turn into a flood of tears
Let's start walking from here

All the way from the moment I was born
You're not alone anytime I had been led
That was the day of the beginning is good at this location
Because I want to tell thank you

It makes sense to me if you were born
This hand is also warm
By the hand of someone feel lonely cold
Maybe there to connect ...

I want to be loved and want to love everybody
I lie because I would think even with
The only really honest feelings
I wish I was told

Countless accident may overlap
I was born is protected wrapped in love
I think the happiest that day like a miracle than anything

Thank you

I was born here
Because I feel the happiness

THE END


Author's Note :
Yataaa! Finally! I really, really, did it! Padahal ini cerita yang paling terbaru... Tapi yang paling cepat tamat! Yey! Ngomong-ngomong, lirik lagu terakhir kali ini diambil dari "Birthday"-nya Sketchbook. Lirik yang sudah dijadikan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Menurut setidaknya. Anggap saja lagu itu adalah lagu ending cerita ini... Nishishishi~

Tapi dengan berakhirnya cerita ini, bukan berarti kita tidak bisa bertemu lagi, loh! Karena... *jrengjrengjreng, akan ada side story! Meskipun sampai sekarang tuh side story memang masih belum dibuat... Po-pokoknya tunggu saja!

Thank you for everything, guys! For reading this story, for all your review, critics, suggestion, and all that favorites and following author and story things. This story will cannot be finished without your support!

Till next time,

Lady of Gray