Yak, masalah siapa yang manggil Changchang adalah~ Jaejoong dan Seunghyun aka TOP (bigbang) tekdungbress~

Review~:

Hibiki Kurenai: selamat~ bener separuh~ aokaokaok~ #dor wah kalo itu silahkan baca side story TWGOK main pairnya KrisTao~ :3

VitaKyu: gak kok~ Viccie terlalu imut di jadiin antagonis~ lol~ bener separuh~ tapi tetep bener~

Blackyuline: Kris maunya hatimu~ #gagitu nggak naksir Kyu kok~ dia cuma di jadiin pengganggu sementara ajah~

Minniechangkyu56: Kris ama Tao udah ada ceritanya sendiri di side story TWGOK loh~ kasih tau gak yaaah~~ seribu ga laku neng, lakunya gope… mao?

MyKyubee: nah di sini udah ke jawab loh~

Ecca augest: ChangKris… ada samthing di hatimu~ tapi tenang aja, mereka cuma saling ganggu aja kok, ga lebih, tapi ga bisa di kurangin…

Aoi Ko Mamoru: tengtong~ dapet nilai 80~ soalnya ga cuma Jae~ tapi tetep bener deh~

SparKyu: tetot salah~ baca terus ya~ ^^

Disclaim: all chara punya tuhan di atas sana, cerita dan alurnya hanya milik saya dan beberapa bagian bukan. TWGOK punya Wakaki Tamiki sensei saya hanya mengambil judul saja.

Pair: ChangKyu slight YunJae

Warning: AU, Hugar (humor garing), BL, Genderswitch for some random people

Rate: T

.

.

"Hyung?! Kenapa Hyung ada di sini?" Changmin membelalakkan kedua matanya, melihat dua sosok namja yang sangat ia kenal. Tentu saja ia kenal! Siapa lagi jika bukan sang Amida-sama dan seorang senior yang bisa di katakan sebagai wakil dari Amida. Kim Jaejoong sang Amida dan Choi Seunghyun sang Wakil.

Kyuhyun memperhatikan kedua namja di hadapannya. Keduanya begitu rupawan, 'Kenalan Changmin?' batinnya saat melihat Jaejoong sang namja cantik. 'Cantik…' batinnya terpesona.

Jaejoong tersenyum melihat Kyuhyun yang sepertinya sedang terpesona padanya. "Kau Kyuhyun? Choi Kyuhyun, kan~? Aigoo~ manisnyaaa~" ucapnya terlihat girang, Jaejoong mencubit kedua pipi Kyuhyun dengan sadisnya.

"Ya, ya! Jae-hyung! Jangan sakiti Kyunnie… kasihan dia!" Changmin memeluk Kyuhyun dari belakang, bersikap protektif agar sang Hyung tak lagi mengganggu Kyuhyunnya.

Wajah Kyuhyun bersemu merah saat merasakan lengan Changmin melingkari tubuhnya, tak bisa ia urungkan rasa yang bergejolak di hatinya itu. Namun ego mengalahkan semuanya, "Yak! Jangan peluk sembarang!" teriak Kyuhyun melepaskan kedua tangan Changmin yang memeluknya.

Namja jangkung itu mengerucutkan bibirnya, berdiri di samping Kyuhyun yang masih marah-marah di peluk sembarang seperti itu oleh Changmin. Jaejoong tersenyum, sepertinya akan sangat menarik setelah ini. Tak salah ia mengirim Changmin ke dunia manusia ini.

"Ah, ya… perkenalkan, Kim Jaejoong imnida, kakak sepupu Changmin… maaf dia selalu menyusahkanmu selama ini, Kyunnie…" ucapnya dengan lembut, Jaejoong menundukkan badannya dan kembali tegap.

Kyuhyun terlihat gugup, jadi tidak enak hati tiba-tiba ia berkenalan dengan kakak iparnya kelak. "Ah, n—ne… salam kenal, Choi Kyuhyun imnida…" sapanya benar-benar gugup, ia juga menunduk.

"Ish, tak usah memperkenalkan dirimu Kyunnie, mereka sudah tahu siapa kau…" ucap Changmin memberitahu, menarik Kyuhyun agar kembali berdiri tegap.

Dengan pandangan tak mengerti, Kyuhyun menatap Changmin. "Aku sudah pernah menceritakan soal dirimu kepada dua hyungku ini…" ucap Changmin. Kyuhyun mengangguk mengerti.

"Ah, benar… sudah bertemu YiFan? Kudengar dia satu kelas denganmu, kan?" Jaejoong mendekati Changmin, menyambar satu lengan namja jangkung itu dan menggandengnya.

Namja jangkung itu mengangguk, "Ne, aish… dia benar-benar menyebalkan, Hyung…" Changmin mempoutkan bibirnya. Namja jangkung itu terlihat sangat tak suka pada Kris, padahal mereka satu profesi dan satu jenis. Sama-sama Shinigami.

Jaejoong hanya tertawa, sampai-sampai perutnya terasa sakit sekali meledakkan tawanya itu. "Hei, jangan tampakkan wajah sok aegyomu itu padaku. Sangat menyeramkan!" ucapnya. Jaejoong mengusap sudut matanya, terlihat sedikit buliran air mata akibat tertawa yang berlebihan.

Kyuhyun menatap aneh Jaejoong, ia benar-benar tak mengerti hal ini dan memutuskan untuk secepatnya pulang. "Err, Minnie sepertinya aku harus cepat pulang… jadi, aku duluan, ne? Kau di sini dulu saja tidak apa-apa… annyeong…" ucap Kyuhyun, membungkuk sebentar lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Changmin dan dua orang yang asing baginya.

"Mwo? Tunggu Kyu! Aish, Hyung… ketemu di apartemen ku saja, arrasseo?" Changmin berteriak agak jauh dari Jaejoong karena ia berlari mengejar Kyuhyun. "Kyunnie! Tunggu aku!"

"Eh… ee…" Jaejoong menatap punggung Changmin dan menggelengkan kepalanya. Benar-benar dongsaenya satu itu.

Seunghyun sedikit menunjukkan senyumnya melihat interaksi dua orang yang ia lihat tadi. "Hyung, sepertinya… apa yang kau inginkan akan terjawab. Tapi, kenapa kau tak menyadari perasaanmu sendiri?" namja itu menggelengkan kepalanya.

.

.

The World God Only Knows

A ChangKyu fanfiction

Shiki Frantomhive

.

Fifth sight, Dilemma

.

Sementara itu di jalan, Kyuhyun tampak berjalan seorang diri. Menarik beberapa kali helaan nafas dan sesekali bersenandung kecil. Rumahnya memang tak jauh dari tempatnya saat ini, tapi entah kenapa ia malas sampai di rumah lebih cepat.

"Padahal Umma sudah memasak banyak, tapi sepertinya Changmin sialan itu tidak bisa datang…" ucap Kyuhyun lirih. Entah mengapa ia sedikit sedih Changmin tidak mengantarnya sampai rumah.

"Apa bagian si sialan itu kumakan saja?" ucapnya lagi, kali ini ia menatap langit, sudah mulai gelap.

Dari kejauhan, Kyuhyun bisa mendengar langkah kaki yang sangat cepat menuju tempatnya. 'Siapa…' namja manis itu menoleh dan melihat Changmin sedang berlari seraya mengangkat tangannya, agar Kyuhyun menyadari keberadaannya.

"Yaak! Choi Kyuhyun! Kenapa kau meninggalkanku, eoh?!" teriaknya dari kejauhan.

Seketika wajah Kyuhyun memucat, 'Aish… bisa-bisanya dia memanggil namaku dari jarak sejauh itu dan dengan suara sekeras itu. Pabbo!' batinnya terasa malu, tapi ada sedikit rasa senang juga ia melihat Changmin mengejarnya. Beberapa warga sekitar sempat tertawa melihat tingkah laku Changmin itu.

"Choi Kyuhyun! Aku tahu kau mendengar panggilanku! Hei!" teriaknya kembali melihat Kyuhyun malah berlari meninggalkannya.

"Yak! Shim Changmin! Memangnya aku tak malu kau memanggilku sekeras itu?" kali ini Kyuhyun pasrah, ia balas berteriak.

Warga sekitar yang melihat kelakuan dua anak sekolah menengah atas itu saling berkejaran hanya bisa tertawa dan melihat dengan pandangan aneh. Melihat itu Kyuhyun mengutuk Changmin dengan segala kutukan yang ia tahu.

Ia benar-benar malu, kalian tahu?

.

.

Di depan rumah keluarga Choi, Siwon sang kepala keluarga sedang santai dengan secangkir kopi hangat buatan istri tercinta dan di tangannya sebuah koran terpampang lebar untuk memudahkannya membaca.

"Yak, Choi Kyuhyun! Tunggu aku!" sebuah suara menarik perhatian Siwon, namja itu menengadahkan kepalanya.

"Jangan mengejarku, Shim Changmin!" kali ini Siwon yakin siapa-siapa saja yang berteriak di daerah rumahnya ini. Namja tampan itu melipat koran yang ia baca, menghirup wangi kopi buatan sang istri dan meminumnya perlahan.

'Hanadulse—'

GUBRAK, PRANG!

Siwon menghela nafasnya, namja itu melangkahkan kakinya keluar dari halaman rumahnya yang lumayan besar. Ia melihat dua orang namja, sebenarnya ia tahu siapa saja namja itu. Sedang berpelukan, sebenarnya bukan berpelukan seperti sepasang kekasih yang sedang memadu cinta. Lebih tepatnya seperti keduanya atau Kyuhyun terpeleset saat lari.

Mengetahui Kyuhyun akan jatuh, Changmin semakin cepat berlari dan menolong Kyuhyun. Bukannya tertolong keduanya malah jatuh bersamaan dan saling berpelukan, romantis, tetapi tidak di jalan dan di depan rumahnya juga, sih.

Ah, tapi beruntung bagi Kyuhyun, bukan namja manis itu yang bertubrukan dengan aspal jalanan. Karena di detik terakhir, Changmin berhasil menyelamatkan Kyuhyun yang akan berhadapan langsung dengan jalanan itu, sungguh sikap yang gentleman.

"Wah, wah… sedang apa kalian berpelukan di depan rumah, Kyunnie, Changmin-ah?" ucap Siwon. Namja itu melipat kedua tangannya di depan dada, melihat keadaan anak dan teman anaknya itu.

Kyuhyun mendongakkan kepalanya, ia menatap horror pada sang Appa. "Yak! Kenapa kau tidak bangun-bangun, Shim Changmin?!" teriaknya sambil mendorong Changmin agak jauh darinya.

"Aishappo…" ucap namja itu sambil mengernyitkan dahinya. Entah mengapa daerah sekitar kakinya terasa sakit sekali.

"Eh?! Changmin, gwaenchana?" tanya Kyuhyun saat ia melihat namja di hadapannya sedang mengernyitkan dahi.

Changmin menggelengkan kepalanya, "Aniya, mungkin hanya lecet sedikit…"

Siwon tersenyum, ia menarik lengan namja jangkung itu dan mengalungkannya di pundaknya. "Kyunnie, bantu Appa membopong Changmin-ah. Sepertinya kakinya terkilir saat menolongmu…"

Namja manis itu mengangguk, melingkarkan tangan Changmin yang lain di pundaknya. "Ish, sudah tahu akan terkilir kenapa kau tetap memaksa menolongku?!" ucap namja manis itu dengan nada galak.

"Daripada kau yang terluka, lebih baik aku saja, kan?" ucapnya dengan nada tanya, mungkin takut jika Kyuhyun akan marah.

Siwon tersenyum, melihat dua anak muda di hadapannya. Terlalu manis, dasar anak muda yang sedang kasmaran. "Hei, hei… jangan marah pada Changmin, Kyu… dia sudah menolongmu, kan?" tanya Siwon saat ia melihat Kyuhyun akan kembali membalas namja yang sedang ia bopong ini.

Kyuhyun menatap Siwon sejenak kemudian mengangguk, "Ne, gomawo Changmin-ah…" ucap Kyuhyun dengan setengah hati. "Tapi lain kali nggak usah sok gentle deh! Aku bisa menyelamatkan diriku sendiri, kok!" sambungnya kembali dengan nada kesal saat Changmin tersenyum padanya.

Siwon membuka pintu rumahnya, ketiganya berjalan hingga ruang keluarga dan mendudukkan Changmin di sofa lembut. Kyuhyun dengan cepat pergi ke dapur, mengambil handuk kain dan sebaskom air dingin.

"Ah, kudengar Jaejoong menemuimu, ne?" tanya Siwon sesaat setelah Kyuhyun meninggalkan ruang keluarga.

Changmin mengangguk, "Ne, baru saja saya bertemu dengan beliau di jalan. Tetapi saya belum tahu maksud dan tujuan beliau datang kemari…" ucap Changmin terdengar hormat, dengan bahasanya yang dibuat sangat formal. "Dan saya berterima kasih atas bantuan dari anda, saya tak tahu harus membalasnya dengan apa…"

Namja di hadapannya tampak berpikir dan kemudian tersenyum. "Sepertinya akan sangat menarik sekali, berjuanglah. Ah, masalah itu… tak usah kau fikirkan…" ucapnya kemudian membantu Kyuhyun membawa baskom berisi air dingin.

Namja manis bernama Kyuhyun itu berjongkok di depan Changmin. "Kaki yang mana yang sakit?" tanyanya sambil mendongakkan kepalanya.

Changmin agak membungkukkan badannya, lumayan dekat dengan Kyuhyun. "Ah, kaki kiriku yang sakit…" ucapnya dengan senyuman yang menurut Kyuhyun lumayan menyebalkan.

"Ya-ya! Jangan dekat-dekat, pabbo! Mana kaki kirimu!" ucapnya dengan wajah yang memerah, sepertinya Kyuhyun malu juga melihat Changmin yang begitu dekat dengannya.

Namja jangkung itu tersenyum, mengulurkan kaki kirinya dengan senang hati. Sementara Siwon memperhatikan keduanya di sofa yang agak jauh dari tempat Changmin duduk. Namja tampan itu kembali membuka korannya yang kebetulan tadi ia bawa saat masuk kedalam rumah.

"Hahaha~ kyeopta~" ucap Changmin mencubit kedua pipi Kyuhyun. Dan dengan sadis Kyuhyun balas dengan menekan kaki Changmin yang terkilir. Tentu saja namja jangkung itu merintih kesakitan.

Siwon di pojok melihat kelakuan dua remaja itu dengan menggelengkan kepalanya. Benar-benar lucu sekali anak muda jaman sekarang.

.

.

"Aku kenyang… Kenyang sekali! Kamsahamnida Kibum-jumma!" teriak Changmin seraya mengelus perutnya yang terisi full saat ini. Ia sudah menghabiskan tiga piring galbi, dua piring bibimbab dan tiga mangkuk samgyetang.

Kyuhyun dan Junsu menatap Changmin dengan pandangan heran, "Kau benar-benar memakan itu semua?" tanya Junsu tak percaya. Mungkin saja namja itu menyembunyikan makanan itu di sebuah kantung atau wadah lain.

"Ne, noona~ masakan ahjumma benar-benar enak sekali! Kibum-jumma is the best!" ucapnya semangat.

Junsu memukul meja di depannya, "Yak! Jangan memanggilku Noona, Shim Changmin!" ucapnya kesal. Sedangkan namja jangkung itu tersenyum.

"Yak! Jangan berisik di meja makan, Choi Junsu!" Kibum mendelik pada Junsu, anak sulungnya itu. Mau tak mau namja bersuara dolphin itu mengerucutkan bibirnya. Kibum kemudian menatap Changmin dengan sayang, "Gomawo, Changmin-ah, kau terlalu memuji…" ucapnya senang.

"Hehehe~ cheonmaneyo Kibum-jumma~" ucap Changmin dengan cengirannya.

"Ehem!" dehem Kyuhyun dan Siwon hampir bersamaan. Tentu saja Kibum menatap Siwon dengan pandangan bertanya, tak jauh beda dengan Changmin yang juga menatap Kyuhyun dengan pandangan bertanya.

"Aigooo~~ semoga Chunnie cepat datang kemari…" umpat Junsu menatap datar empat orang di depannya.

Kyuhyun mengerucutkan bibirnya, "Kenapa Hyung ingin sekali cepat pergi? Bukannya Suie-hyung janji menemaniku main game malam ini?" tanya Kyuhyun yang berhadapan dengan Junsu.

Namja di depannya menepuk jidatnya pelan, "Aigo, Hyung lupa… mianhae Kyu, malam ini Hyung ada janji dengan Yoochun. Lain kali aja, ne?" pinta Junsu kepada Kyuhyun yang masih menatap Junsu dengan pandangan berharap.

"Yah! Hyung pembohong!" teriak namja manis itu kemudian memukul meja di depannya.

Kibum menatap Kyuhyun dan Junsu dengan pandangan tajam. "Jangan berisik, Choi Kyuhyun!" bentak sang Umma.

Kyuhyun kembali mengerucutkan bibirnya, kali ini dengan lipatan tangan di depan dadanya. "Junsu-hyung, geotjimal! Umma, aku sudah selesai… Changmin, jika sudah selesai ayo ke kamarku kita main game!" Kyuhyun berdiri dari duduknya. Namja jangkung itu hanya melihat kepergian Kyuhyun.

"Changmin-ah, bawa saja deokbokki ini untuk cemilan kalian…" ucap Kibum menyerahkan dua piring deokbokki kepada namja jangkung di hadapannya. Changmin hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan ke kamar Kyuhyun.

Sesampainya di depan kamar Kyuhyun, ia mengetuk pelan dengan sebelah tangannya yang tak membawa apapun. Ia menunggu beberapa detik sampai akhirnya Kyuhyun membuka pintu berwarna coklat tua yang menjadi batas mereka saat ini.

"Kyu, aku bawa camilan… boleh aku masuk?" tanyanya saat melihat Kyuhyun yang masih terlihat lesu.

Namja manis itu menggeserkan tubuhnya, mempersilahkan namja jangkung itu untuk masuk. Namja jangkung itu masih memperhatikan sang namja manis dengan seksama. "Kenapa kau jadi seperti ini?" tanyanya heran, tidak mungkin si evil satu ini akan merasa sedih karena tak di ajak main, kan?

Kyuhyun menjulurkan lidahnya kearah Changmin, "Sekali-sekali kesal pada Junsu-hyung tak masalah, kan?" ucapnya dengan nada biasa, seringai jahat terlihat di sudut bibirnya.

Changmin hanya menggeleng, ia menatap Kyuhyun dengan sebelah alis terangkat. "Kekanakan…" ucapnya, kali ini ia tak tanggung-tanggung menghabiskan deokbokki yang tadi ia bawa.

"Yak! Bukankah itu salah satunya milikku? Kenapa kau habiskan?!" teriak Kyuhyun saat Changmin dengan sangat semangatnya melahap dua piring deokbokki.

Dengan upaya menelan makanannya, Changmin meminum hampir setengah isi dari gelasnya. "Ini bayaran karena kau membohongiku!" ucapnya dengan mulut yang sedikit menggembung.

Dan pada akhirnya, kamar Kyuhyun lah yang paling bising di antara ruangan yang lain. Kibum yang berada di dapur bersama Junsu dan Yoochun hanya menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya sebentar kemudian ia melanjutkan membereskan meja makan.

.

.

Esoknya di sekolah, tentu saja di waktu seluruh murid sedang asyik memakan makan siang mereka di kantin. Changmin baru saja akan memasuki kantin sebelum ia melihat sosok Kris yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan keingintahuan yang tinggi, Changmin mendekati sang namja blonde.

Setelah Changmin perhatikan dengan seksama, ternyata sosok yang akan ia dekati ini sedang memperhatikan salah satu murid yang berada di kantin tersebut. "Memperhatikan seseorang Wu Fan?" tanyanya. Kris menoleh memperhatikan Changmin sekilas dan sekitar mereka.

Mengerti hal itu, Changmin kemudian menambahkan, "Tenang saja, Kyunnie sedang sibuk bermain dengan gamenya." Changmin menatap Kris tajam, sepertinya mengerti arah pandangan namja di depannya.

Kris menolehkan kembali wajahnya, ia kembali menatap sosok yang semula ia perhatikan. Merasakan tubuh Changmin berdiri di sebelahnya, Kris melirik sebentar kearah Changmin dan mengalihkannya kembali.

"Hei, Kris… Kenapa kau kemari? Apa, di antara manusia itu ada yang akan… Kau tahu, 'tidak ada'?" ujarnya mengatakan kata 'Mati' dengan agak sedikit halus. Sebenarnya ia tak terlalu akrab, tapi jika Kris sampai ke tempatnya, itu berarti sangat buruk.

Namja blonde itu mendengus, "Kau akan tahu pada saatnya…" ujar Kris tak ingin memberitahukan apa tugasnya yang sebenarnya di sini.

Changmin mendengus, "Aish… Kau benar-benar pelit, Wu Fan…" ucapnya, ia tak akan tahan berlama-lama dengan Kris. Yah, mereka memang kurang akrab. Apa lagi Wu Fan terus menerus mendekati Kyuhyun, itu semakin membuatnya tak suka kepada namja tampan itu.

Beruntung tadi ia tak membawa Kyuhyun serta, bisa-bisa namja di depannya ini akan menculik Kyuhyun entah kemana.

"Sebaiknya aku makan sekarang, daripada berbicara dengan namja sialan itu…" ia melangkahkan kakinya kearah counter makanan, mengambil beberapa jenis makanan dalam piringnya.

Perutnya sudah berbunyi dan meminta untuk di isi, beruntung kantin ini banyak membuat makanan yang lezat. Selama ia di dunia manusia, ia jadi hapal betul kebiasaan manusia, apalagi dengan yang namanya makan dan makanan.

Di dunia Shinigami, tak ada yang namanya makanan. Kecuali di ruangan Amida-sama atau biasa di panggil Jaejoong itu. Ruangannya penuh dengan makanan dan minuman manusia, dan itu mungkin akan menjadi surganya nanti jika ia akan kembali setelah membawa semua apa yang Amida-sama inginkan.

Kembali, jika ia kembali, bagaimana dengan Kyuhyun? Jika ia kembali, bukankah itu artinya ia tak bisa melihat namja itu lagi?

'Jika aku kembali… aku tak bisa bertemu dengan Kyuhyun. Jika aku tak kembali, Jae-hyung akan sangat marah… aku harus bagaimana?'

Sepertinya ia sadar, apa yang saat ini ia rasakan… dilemma.

.

.

Bersambung…

.

A/N: hello~ saya hadir kembali, maaf dengan keterlambatan yang sangat ini… taulah, anak kelas 3 itu sibuk semua, jadi sekarang gue lagi sibuk2nya~

Tapi, tetep read and review arra?