Disclaim: KHR bukan pnya saia, fic ini belong tu saia

Rate: T

Genre: Romance, Humor, Drama, Hurt/Comfort (untuk jaga-jaga u_u)

Pair: GU (GiottoxUgetsu) sligh U02, 02U

Warninganeh, gaje, BL, Shonen-ai, Male x Male, Semi AU, ablay, lebay, semoga kalian suka, OOC jangan lupa… dan OC yg berterbangan…^^

-XXXVXXX- flash back/end flash back

Precipitazioni in Cielo Sereno

Parte 2

#STF#

Aku kaget dengan apa yang kulihat, Spade dan… Giotto? Dengan posisi yang dapat membuat hatiku sakit, sakit sekali melihat Giotto dengan Spade, dada ini sesak. Tanpa kusadari tanganku ditarik Giotto yang sudah terlepas dari Spade. Kami terus berlari, setelah dirasa sudah jauh, tiba-tiba saja tubuhku dihimpitnya ketembok. Aku tidak ingin melepasnya dia meletakkan kedua tanganku di samping kiri kananku agar aku tidak dapat lepas. Aku meras sedikit senang, karena sepertinya dia pun tak ingin lepas dariku.

"Giotto…" ujarku padanya, Giotto masih menundukkan kepalanya tapi kupaksa untuk melihatku. Bukan wajah yang biasanya ia perlihatkan padaku, tetapi wajah penyesalan kesal pada dirinya sendiri. Aku tidak kuat dengan wajah Giotto yang seperti ini… kumohon jangan perlihatkan wajah pedihmu pada orang lain, perlihatkan padaku agar aku bisa memelukmu seperti ini.

"Giotto…" ujarku kembali seraya memeluknya erat sangat erat aku tidak ingin kehilanganmu, kumohon jangan pergi dariku. Giotto membalas pelukanku, dia memelukku erat juga sama seperti yang sedang kulakukan. Punggung yang dia sentuh menjadi hangat dan nyaman, aku tidak ingin kehilangannya.

"Ugetsu, aku mencintaimu" ujarnya, kaget, tentu saja. Senang, tentu saja. Lama aku tak menjawabnya, aku tidak sadar bila air mataku mengalir membasahi bajunya, Giotto mengusap kepalaku dengan tangannya lalu memelukku. "Jangan menangis Ugetsu… lihatlah keluar, hujan yang sangat ku sukai telah turun… bagaimana kalau kita keluar?" tanya Giotto berbisik ditelingaku.

Hujan yang Giotto suka turun dengan derasnya, aku dan Giotto hanya menatapnya, menatap berbulir bulir air mengalir dengan deras. Aku duduk bersandar pada bahunya, tiba-tiba Giotto menatapku dalam sangat dalam. Sedikit demi sedikit dia meniadakan jarak di antara kami. Mulai dari kening kami yang bersentuhan, hidung kami hingga akhirnya bibir kami bertemu. Inilah jawabanku untukmu, Giotto.

#STF#

Aku mengecup lembut bibirnya, kulihat Ugetsu memejamkan matanya menikmati semua perlakuanku. Jika melihat wajahnya aku tidak bisa menahan diriku, maka kulumat bibirnya. Kujilat bibirnya untuk meminta ijin memasuki rongga mulutnya. Dengan malu-malu Ugetsu akhirnya membuka kedua bibirnya. Dengan sigap kumasukkan lidahku kuabsen seluruh giginya, kusapu langit-langit rongga mulutnya.

Kudengar ia mendesah dengan perlakuanku ini, tidak cukup dengan bibirnya, aku menggerakkan lidahku menuju lehernya, kuhisap dan kujilat titik-titik sensitive yang dimilikinya, terus hingga terlihat dengan jelas tanda kemerahan di lehernya. Setelah dari leher, lidahku terus turun hingga belum sempat kedadanya tiba-tiba G menyela adegan kami yang sangat berbahaya untuk rate T.

"Apa yang kalian lakukan! Primo! Sedang apa kau dengan si flute freak itu?" teriaknya bila tidak dari radius satu kilometer mungkin gendang telingaku sudah pecah sekarang. Aku mendecih, kenapa G malah datang disaat tidak tepat.

"G… kau 'mengganggu'" ujarku tersenyum sambil menekan kata mengganggu. Sepertinya G menatapku tajam entah kenapa, ya sudahlah toh aku tidak peduli. Sekarang yang harus kupedulikan adalah masalah Miai ku bagaimana aku merahasiakan hal ini pada anak ini? Aku bingung sekali…

Aku menatap kearah G yang bukannya mendekatiku, malah mendekati Ugetsu. Mau apa dia? Bukankah Ugetsu bilang mereka sudah tak ada hubungan apapun lagi? Kenapa G terlihat sangat mengkhawatirkannya? Apa arti pandangan G kepada Ugetsu?

"Giotto!" teriak seseorang lagi yang mengganggu. Kenapa hari ini aku sial sekali! Udah G datang disaat ngga tepat, sekarang malah orang aneh nan gaje ini teriak-teriak, oh Kami sama

"Knuckle? Ada apa?" tanya ku dengan wajah malas, apa mereka ngga nyadar kalau aku terganggu dengan kehadiran mereka? Menyebalkan. Suatu saat akan kuhajar mereka.

#STF#

Knuckle berlari mendekati Giotto, "oh tuhan, aku mendengar berita tentang kau akan Miai, apa itu benar?" tanya pendeta itu ke pemuda di hadapannya, Giotto hanya berekspresi kaget oleh serangan pertanyaan mendadak Knuckle. "Demi tuhan, apa benar kau dengan si Azzura dari Millefiore itu? Hei, jawab aku Giotto…" sambungnya lagi karena pertanyaan awalnya sama sekali nggak di jawab.

Giotto hanya bisa mematung karena rencananya telah terdengar oleh Ugetsu, Knuckle terus memaksa pemuda yang sudah dianggapnya adik-nya untuk menjawab tapi tetap tak ada jawaban. G yang sudah berada didekat Giotto hanya menatap dengan malas, "heh, sepertinya akan memakan waktu untuk menjelaskannya, bagaimana Primo?" tanya G.

Giotto hanya terus membatu, tiba-tiba dibelakangnya terasa hawa hitam yang sangat berbahaya. Ternyata Ame no Shugosha kita lah yang telah mengeluarkannya, merasa ada yang berbahaya G menyeret Knuckle untuk kabur. Alangkah sayangnya, ternyata Guardian of Sun dan Guardian of Storm kita satu ini terlambat untuk kabur.

Seperti yang dilihat, Ugetsu menggeret ketiga orang tersangka menuju ruangan Giotto. Disana Ugetsu duduk di sofa dengan ketiga orang lainnya yang duduk bersimpuh dilantai.

"Nah, cepat katakan padaku yang sebenarnya…" ujar Ugetsu masih mengeluarkan hawa kelam miliknya, mau tidak mau Giotto yang ketakutan harus memeluk G dan sang empu berambut gurita saos merah itu mendapat deathglare dari Ugetsu yang sangat jarang malah hampir tidak pernah terlihat.

G yang gengsi bersikap untuk tidak memperdulikan tatapan Ugetsu, sedangkan Knuckle hanya bisa menghela nafas dengan keadaannya sekarang. Giotto pindah dari duduk bersimpuh di tengah-tengah antara Knuckle dan G. Ia duduk disebelah Ugetsu yang sedang men-deathglare dua Guardian didepannya. Menyadari keberadaan Giotto, ia mengalihkan pandangannya. "Kenapa kau seenaknya duduk di sini, huh?"

"U, Ugetsu… tenanglah… aku akan menceritakan segalanya. Jadi, begini…"

-XXXVXXX-

"Hai, Giotto…" panggil atau lebih tepatnya sapa seseorang yang sudah ditunggu-tunggu oleh Giotto dari tadi di ruangan tersebut. Orang tersebut berambut ungu di mata kanannya terdapat tato berwarna biru. Sebut saja Dion, dan singkat menjadi Dio.

Giotto hanya diam melihat Dio berjalan mendekatinya, pemuda berambut keunguan itu berjalan sambil memakan marshmallow kesukaannya. Giotto berpikir 'apa giginya ngga sakit makan yang manis-manis mulu?' pikirnya saat melihat Dio. Dio yang mengerti hanya terkekeh, dia terus berjalan dan sampai di sofa didepan sang Primo.

Pertama sekali bukan memulai pembicaraan yang dilakukan oleh nya tetapi memakan marshmallow dan parfait marshmallow miliknya yang sudah dia pesan dari tadi. Giotto melihat Dio dengan pandangan sebal, 'seperti biasa dia membuang waktu' pikirnya.

Dio sekali lagi harus terkekeh melihat tampang kesal dan heran milik Giotto, "nah… mari kita mulai…" ujar Dio disela kekehannya. Tiba-tiba raut wajah Dio berubah menjadi serius. "Giotto-kun… aku punya satu persyaratan…" ujar Dio menggantung kata-katanya.

Giotto menyipitkan matanya, "persyaratan?" ulangnya sekali lagi tampak dari suaranya ia menuntut penjelasan yang lebih lengkap dari pemuda pecinta marshmallow di hadapannya ini.

Dio tersenyum, "ya… seperti yang kau ketahui, jika kau ingin Millefiore dan Vongola tidak bertarung lagi, kau harus…" ujar Dio meninggikan nada di akhir kalimatnya. Giotto sedikit kesal karena Dio selalu menggantung perkataannya dan hanya membuang waktu berharganya itu dengan sia-sia.

"Kau harus Miai dengan Azzura, adik manisku…" ujarnya tersenyum sambil sekali lagi menyantap parfait-nya yang tadi terlupakan.

Giotto diam, "apa kau sedang melayangkan leluconmu yang tak lucu lagi, Dio?" suaranya tampak dingin dan sedikit terdengar malas. Tentu saja ia malas, sekarang ini, saat ini, dan waktu ini ia tak mau membuang waktu berharganya untuk sebuah lelucon yang tidak ada lucu-lucunya sama sekali.

Dio hanya bersiul, tidak dipikirnya ternyata Primo Vongola itu orang yang sedikit dingin dan tak bisa diajak melucu, 'seperti biasa, responnya sangat dingin, sayang sekali…' batin Dio tersenyum penuh arti. "Jahat sekali Giotto… aku sedang tak bercanda lho. Ini semua seratus persen serius," Dion menampakkan wajah sedih bercampur seriusnya dan senyumnya(?). "Jadi?" tanya Dio menopang kepalanya dengan kedua tangannya yang ia tumpukan diatas pahanya.

Giotto menatap Dio dan menghela nafas. Dia melihat pemuda yang berada di depannya dengan tampang yang tak bisa di baca, 'kalau kuterima tak ada lagi perang dan jatuh korban, jika tidak… pasti tidak akan ada habis-habisnya' batin Giotto dengan tenang.

Giotto menutup matanya memikirkan apa yang akan dikatakannya. Ia menghela nafasnya dengan berat dan lelah, "baiklah aku terima…" ujar Giotto memalingkan wajahnya, dia tidak habis pikir apa yang akan dikatakan para Guardiannya nanti.

Dio tersenyum puas, "bagus~" ujarnya senang "terima kasih sudah berdiskusi dengan kami Vongola…" ujarnya sambil menekan akhir katanya. Giotto hanya tersenyum kecut sambil terus memikirkan apa yang telah dilakukannya. Pemuda berambut pirang itu keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Dio yang terus tersenyum dan memakan parfait kedua miliknya.

"Apa yang telah kulakukan…" ujar Giotto menundukkan kepalanya tak memperhatikan seluruh orang yang memperhatikannya sedari tadi didepan pintu ruangan itu. Sedangkan itu Dio…

"So, kalian setujukan, Novanta, Azzura, Bufera?" tanya Dio yang terus memakan parfaitnya sama sekali tidak melihat ke-tiga orang yang sedari tadi menguping pembicaraannya.

"O-ho, saya sama sekali tidak keberatan bila itu keputusan anda…" ujar Novanta sambil tangan kanannya memegang dagunya membentuk sesuatu yang diikuti oleh Bufera dan Azzura.

"Boo… masa aku harus bertunangan sama si bodoh itu… ogaaahh~" ujar Azzura kesal berjalan ke arah Dio dan duduk disampingnya sambil memakan potato chipsnya.

"Idjit, aku tidak peduli. Memang apa harganya monster satu itu?" ujar Bufera menunjuk Azzura dan di jawab dengan juluran lidah oleh gadis berambut biru sebahu itu.

Dio tersenyum melihat kelakuan ketiga orang itu, dan kembali memakan parfait ketiganya dengan tatapan kesal. 'Sebentar lagi, tunggu saja, Scevola…' batin Dio.

-XXXVXXX-

"Begitu…" ujar Giotto dengan tatapan bersalah bercambur sweatdrop tanda kekhawatirannya.

Tiba-tiba wajah Ugetsu mengeras, dia menatap tajam G dan Knuckle dan mendapat deathglare dari G. "Ugetsu! Jangan salahkan G dan Knuckle!" ujar Giotto menolehkan paksa kepala Ugetsu untuk melihatnya.

Ugetsu sedikit demi sedikit melunakkan wajahnya, "kapan hal itu terjadi?" tanya Ugetsu yang merasa kalah oleh tatapan Giotto. Rautnya menunjukkan dia kesal bercampur sedih, tak mengetahui kapan pemuda dihadapannya menyetujui hal ini.

"Ha?" tanya Giotto dengan wajah anehnya.

Terpaksa Ugetsu harus mengulang pertanyaannya. "Kapan anda pergi ke markas Millefiore?" tanya Ugetsu sekali lagi. Saat ini ia benar-benar membutuhkan jawaban dari kekasihnya itu.

"Musim Semi tiga bulan yang lalu," ujar seseorang dari arah pintu, dengan serentak G, Knuckle, Ugetsu dan Giotto menoleh kearah pintu dimana orang tersebut berdiri.

"Spade?" ujar mereka hampir bersamaan.

"Yoo…" sapa Spade dengan tenang sama sekali, tidak merasa bahwa Ugetsu sedang men-deathglare dirinya. Spade berjalan mendekati Giotto dan berjongkok didepannya, lalu menyambar tangan Giotto yang sedang memegang kedua pipi Ugetsu dan mengecup punggung tangannya.

"?" kaget G, Ugetsu dan Knuckle tak bersuara, Giotto hanya diam melihat tangannya dicium oleh sang mantan kekasihnya. Mungkin sekarang sedang mendinginkan kepalanya untuk mengusir amarah, dan seketika itu juga ingin rasanya ia memukul Spade yang sudah seenak jidat perutnya nyium-nyium sembarangan, apa lagi didepan Ugetsu.

Ugetsu yang sedari tadi duduk diam langsung menerjang ketempat dimana Spade berada sekarang. Mereka semua kaget dengan apa yang telah dilakukan oleh Ugetsu, hal yang tak mungkin pernah di lakukan oleh Guardian of Rain kita satu ini, yaitu… menonjok muka Spade. Giotto hanya bisa diam, tak lebih G dan Knuckle. Kejahatan yang jarang dilakukan olehnya malah hampir tidak pernah.

"Nufufu~ apa yang kau lakukan, huh? Memukulku? Mukul apanya… sama sekali tidak terasa," ujar Spade membangkitkan amarah dalam diri Ugetsu.

'Ga, gawaatt! Gimana ini… apa yang telah Spade dan Ugetsu lakukan…' batin Giotto panik.

"Apa yang kalian lakukan disini?" ujar seseorang dari pintu masuk, semua yang berada didalam langsung melihat kearah pintu. Terlihat anggota keluarga besar Vongola mereka, Tsuna, Gokudera, Mukuro, Hibari, Alaude, Lampo dan Ricardo. Walaupun Lambo ingin ikut, Reborn sudah menariknya pergi entah kemana.

"Tsuna?" teriak Giotto "Kenapa kalian…" sambungnya. 'Tunggu dulu… tumben Kyoya dan Alaude mau ikutan di tempat ramai? Dan… Ricardo? Mau apa dia kemari?' batin Giotto yang sedikit sweatdrop melihat Kyoya, Alaude serta Ricardo ikut dalam keramaian.

Tsuna dan yang lainnya masuk kedalam ruangan, "aku kemari mendengar bahwa kalian disini dan tiba-tiba terdengar keributan maka kami langsung menerjang kemari dan melihat ini semua…" ujar Tsuna menjelaskan.

Giotto, G dan Knuckle mengangguk paham agaknya mereka melupakan kasus gawat yang sedang terjadi dihadapan mereka. "Hei… lalu mereka mau diapakan?" tanya Gokudera yang berada di sebelah Tsuna yang sedari tadi hanya tersenyum aneh. Giotto memasang wajah yang menunjukkan bahwa dia lupa dengan dua orang yang sedang panas itu.

"Spade! Kau mau membuang waktu sampai kapan, huh? Sudah kubilang, setelah bertemu dengan Giotto, cepat pergi ketempatku! Kau sampah sialan!" ujar Ricardo yang wajahnya yang super bête karena melihat Spade yang sedang membuang waktunya yang tak berharga disini.

Spade hanya diam, tak menyangka Ricardo saat ini ada di hadapannya dan sepertinya, sepertinya lhoo… sedang menjemputnya? Yang benar saja! "Nufufu~ Ricardo? Yang benar saja…" ujarnya mengelak dari kenyataan.

"Jika aku memang Ricardo memang kenapa, hum? Kau ingin berapa lama di tempat seperti ini, huh?" ujar Ricardo mencoba menyadarkan Spade yang dengan bodohnya menganggap dirinya hanya sebuah ilusi.

Sekali lagi ia diam, keringat meluncur dengan halus. "Nufufu~ kau pasti bukan Ricardo, dia tak mungkin mau melakukan hal yang menyusahkan seperti ini. Dia lebih memilih minum wine kesukaannya daripada bersamaku. Kau pasti bukan Ricardo! Ayo ngaku!" ujar Spade sambil menunjuk Ricardo dengan telunjuknya.

Betapa shock dan kagetnya yang lain, dia, Spade, si mesum, si semangka itu berani berkata seperti itu kepada Ricaro? Dia pasti minta mati! Dan ada dugaan jikalau Spade shock melihat Ricardo yang susah-susah pergi mencarinya.

Ricardo tak terlihat mengubah raut wajah tenangnya, dia segera menepis tangan Spade dan menggandengnya (baca: nyeret). "Semangka idiot, ayo kita pulang… aku benci tempat berisik yang tak ada wine-nya sedikitpun ini!" ujarnya masih dengan menyeret si rambut semangka.

"Chotto matte yo, Ricardo! Aku masih mau sama Giotto!" teriak Spade pada Ricardo yang sudah menghilang dari balik pintu. Tentu saja yang lainnya hanya bisa cengo melihat hal tersebut. Satu persatu dari mereka juga pergi dan menyisakan Ugetsu, G dan Giotto yang berada di sana.

Tok tok

"Masuk!" ujar Giotto mempersilahkan seseorang entah siapa yang mengganggunya saat ini.

"Primo-sama… saya membawa pesan," ujar orang tersebut tenang.

"Silahkan Tachi…" ujar Giotto yang langsung duduk di singgasananya, ia berusaha mendengar apa yang akan di katakan oleh bawahannya itu.

Tachi sang pengirim pesan, berdiri dengan tegak yang sebelumnya ia tundukkan dan berdeham, "Primo-sama saya membawa pesan dari depan base, bahwa ada seorang wanita dan pria yang sedang mencari anda. Sang pria berambut hijau, dan sang wanita berambut biru sebahu. Demikian pesan dari depan base," ujar Tachi mengakhiri pesannya.

Giotto tampak menimbang-nimbang, "suruh mereka masuk…" ujarnya dengan mantap. Semua orang yang berada di sana hanya diam dengan keputusan sang Primo.

Ugetsu sudah tak bisa menyembunyikan wajah sedihnya, ia berdiri sambil mengepalkan kedua tangannya. "Saya permisi dulu…" ia berjalan kearah pintu. Giotto hanya melihat, tak berbuat apapun. Entah mengapa ia tak bisa mengejar Ame no Shugosha-nya. Entah tak bisa atau memang ia sedang tak mau.

"Aku juga, permisi dulu…" ujar G langsung berdiri dan berjalan kearah pintu. 'Ck! Baka Giotto, kau memberiku banyak kesempatan untuk memilikinya kembali.' G berlari mencari Ugetsu dengan wajah senang bercampur khawatir. 'Ugetsu, aku tak akan tanggung-tanggung untuk memilikimu kembali.'

Di dalam ruangan, Giotto hanya bisa menghela nafas dan mengacak-acak rambutnya, "sial!" umpatnya. Lelah mengacak rambutnya yang sudah acak-acakan, ia menidurkan kepalanya di meja yang ada di depannya. "Ugetsu... tampaknya G masih menyukaimu, apa yang akan kau lakukan jika ia memintamu kembali? Aaghhkk! Kenapa masalah nggak ada habis-habisnya sih!" kali ini ia membenturkan kepalanya kearah meja. Oh, betapa pusingnya dia saat ini.

#Renzoku#

Balasan Review~:

Teito : oi aniki… ada review…

Shiki : what? Ada? Beneran ada, uwooo… /nangis gaje/

Teito : /tidak peduli/ baiklah… dari RadioBrain Walker oke… ini lanjutannya, keep reading okee~~

Shiki : hanya itu?

Teito : tidak… ada satu lagi dari… Aiko Wanasaki yg ga bisa log in…

Shiki : huoahahhaa… tidak apa, tidak apa… memang tak ada yg menyadari chemistry pair GU #plak houhohohoho… seperti yg bisa anda tebak~ Ugetsu jadi Uke~ /tebar2 bunga/ 02U? sabar yo… pasti ada kok… walo masih slight, lama-lama jadi pair utama~ terima kasih… ohohoho… bagus jika anda suka… ossh! Salam kenal~ tengkyu… keep read yoo…

Ga tau siapa Novanta, Bufera, Azzura, Dion, dan Scevola? Dari ciri2 mereka sepertinya gampang untuk minna-sama tahu, jadi… selamat mencari tahu~

Special Thanx

For all my friends and all, all, all… readers opkorse…