Shiki : yoho! Pojok review saya ganti di head halaman~
Teito: oh… selamat… /dengan tampang gbgbnya/
Shiki: ja, jahat… kok gitu aja tanggapanmu sih my otouto-chan… TTATT
Teito: masa bodoh, balesan reviewnya cepetan! Dari Aiko Wanasaki-san! Makasih udah repiu berkali2 ('A')/
Shiki: untuk threesome akan me pikirkan dulu~ dan untuk U02 ini silahkan berjubel! ==" me sekarang malah sedang ujian kenaikan kelas… |||orz sekali lagi tengkyu repiunya, repiu lagi?
Teito: umm… RadioBrain Walker, terima kasih uda di fave… si aniki nangis 2 hari 3 malem tuh… ==" review again?
Shiki: jangan ngngkit2 aib ah, atuh… dan Blacklumiere opkorse! Karena jarang banget si Ugetsu nge blek gitu… /plak karena author pingin! /dinjek+dlindes maksudnya karena me sedang pingin pair RicardoDae jadi, masukin aja teehee… :9 oke, keep read yoo… repiu lagi?
So, let's start this chappie~
Disclaim: KHR bukan pnya saia
Rate: T untuk lebih sangat super duper mega max aman-nya
Genre: Romance, Humor, Drama, Hurt/Comfort (untuk jaga-jaga u_u)
Pair: 02U mendominasi, sligh GU (GiottoxUgetsu) dan GxOC (GiottoxAzzura)
Warning… aneh, gaje, BL, Shonen-ai, Male x Male, Semi AU, ablay, lebay, semoga kalian suka, OOC jangan lupa… dan OC yg berterbangan…^^
-XXXVXXX- flash back/end flash back
Precipitazioni in Cielo Sereno
Parte 3
#STF#
Giotto memasuki ruangan dengan senyuman yang biasa ia lancarkan, "selamat siang kalian berdua… senang bisa bertemu dengan kalian. Bagaimana kabar kalian berdua?" tanya Giotto sekedar basa-basi.
Azzura asyik makan kripik sendiri, dan seperti biasa Novanta yang menjawab, "o-ho selamat siang Vongola Primo, Giotto. Kabar kami lumayan baik untuk anda dengar Vongola Primo." Novanta tersenyum sambil meminum teh yang sedari tadi sudah disuguhkan.
Giotto tersenyum mendengar kabar yang disampaikan oleh Novanta, "baguslah kalau begitu… lalu…" ujarnya menjadi serius setelah beberapa detik terasa santai.
Novanta yang mengerti dengan ucapan dan raut wajah Giotto menghela nafas. "Jadi, apa anda menyanggupinya, Vongola Primo…?" tanya pemuda berambut hijau pada pemuda berambut emas di depannya yang sekarang berwajah lesu. Tarik nafas dan hembuskan menjadi kegiatannya saat ini, entah karena gugup atau udara yang panas sehingga menyesakkan dada.
Giotto menganggukkan kepalanya, meng-iya-kan atau menjawab pertanyaan Novanta. Novanta yang mengerti hal tersebut tersenyum, senyuman kini juga ikut tersungging dibibir Azzura.
"Nah… Azzura, mulai kini kau dan Vongola Primo akan bertunangan. Apa kau mengerti?" tanya Novanta pada wanita berambut biru yang berada disampingnya.
Wanita berambut biru pendek itu tersenyum memperlihatkan senyuman manisnya, "tentu saja Novanta… aku sangat mengerti, demi Dio-sama apapun akan ku lakukan" ucap Azzura sambil menatap pria hijau yang ada disampingnya.
Novanta tersenyum, lalu menatap Giotto yang wajahnya tampak berat saat ini. "Kami cukup senang dengan berita ini, dan ada satu hal lagi yang akan disampaikan oleh Dio-sama pada anda. Ini, terimalah…" ujar Novanta menyerahkan sebuah surat yang dihiasi oleh Dying will flame orange yang diduga milik pemuda pecinta makanan manis itu.
Giotto menerimanya dengan senang hati dan membukanya lalu membaca isi surat saat itu juga. Lama kelamaan wajah Giotto menunjukkan wajah kekesalannya, seperti tak terima dengan apa yang tertulis didalam surat tersebut.
"Aku tak bisa melakukan hal tersebut! Aku tak dapat mengorbankan para Guardianku hanya untuk hal seperti ini!" ujarnya menggebrak meja. Rasa marah kini menghiasi wajah Giotto yang biasanya dapat mengendalikan amarahnya.
Novanta diam dengan wajah tenangnya, "apa maksud anda dengan tak bisa? Jika anda tak bisa melakukannya maka, kami akan membatalkan segalanya," ujar Novanta mengancam agar Giotto tetap melakukannya.
"Urghh! Baiklah, aku mengerti… aku menyanggupinya" Giotto menundukkan kepalanya, mengepal tangannya sangat kuat. Kesal, ya, dia sangat kesal.
Novanta tersenyum, "jika begitu, kami meminta Asari Ugetsu untuk melakukannya. Dion-sama menghendaki seseorang yang dapat membantu menggantikan tugas Azzura," pemuda berambut hijau itu tersenyum dengan terus menatap Giotto. Tampak dari wajahnya ia benar-benar ingin mendengar jawaban Giotto secara langsung agar tak menyia-nyiakan waktunya.
Menghela nafas, dengan berat ia menghela nafas. Sebenarnya ia tak sudi menukarkan Ugetsu dengan Azzura. Ia tak mau orang yang ia sayangi dalam bahaya, apa lagi jika berada di dekatg wanita dan pria yang sedang mencari anda. sang Millefiore. Ugetsu sekarang seperti tawanan yang siap untuk mengancam Vongola, terlebih Giotto.
"Baiklah, aku akan meminta Ugetsu. Tapi ada beberapa syarat yang harus kalian lakukan dan ini penting…" Giotto tampak serius dengan perkataannya tentu saja, ini menyangkut keselamatan orang-orang yang ia sayangi.
Novanta mengisyaratkan Giotto untuk melanjutkan perkataannya, tanpa menunggu lama pemuda berambut emas itu melanjutkan apa yang ingin ia katakan. "Pertama… jangan menyentuh Ugetsu seujung jari pun. Kedua… jangan merepotkannya dengan tugas yang tak perlu. Ketiga dan terakhir… kalian akan kubunuh jika menyakiti Ugetsu. Mengerti?"
Seklias Azzura memandang Novanta, tampak dari wajahnya seringai bermain di bibirnya. "Baiklah, kami menerima syarat anda. Terserah anda mau mengirim Ugetsu kapan, lebih cepat lebih baik" Novanta menatap jam tangan yang menggantung di pergelangan tangannya. "Sudah waktunya saya untuk kembali, biar Azzura berada di sini untuk beberapa hari untuk membiasakan diri hidup di tempat anda, permisi…" Novanta berdiri dan berjalan pergi, meninggalkan Azzura dan Giotto yang sibuk dengan pemikiran mereka.
#STF#
Menangis, saat ini aku ingin menangis. Kenapa, kenapa dia sama sekali tak mengejarku? Baka Giotto! Aku benci! Baik, jika itu maumu, tidak apa-apa. Terserah!
"Ugetsu! Oi! Asari Ugetsu! Apa kau tuli? Aku memanggilmu sedari tadi!" G? Kenapa harus G yang mengejarku? Kenapa bukan Giotto? Kenapa? Giotto, kau bodoh! Hahaha! Bagus, sepertinya aku sudah dibuang lagi oleh orang yang kusayangi, aku… jadi benar-benar ingin menangis. Kakiku lemas, aku tak kuat berlari lagi.
…
"Ugetsu! Kau baik-baik saja?" G berlari kearah Ugetsu yang tengah terduduk begitu saja di lantai. Dengan sedikit tarikan G akhirnya dapat menatap Ugetsu, ia kaget… ia benar-benar kaget menatap betapa kusutnya Ugetsu saat ini. Air mata membasahi kedua matanya, matanya memerah akibat air yang selalu tumpah. Mengenaskan, ya kata-kata itu lumayan tepat untuknya saat ini.
G menggertakkan giginya, sedikit ada rasa kesal. Ia benar-benar tak suka melihat Ugetsu bersedih. Memang selama ini dia juga bersalah pernah membuatnya bersedih, tapi ini beda… bukan dirinya yang membuat Ugetsu sedih, melainkan orang lain. Orang yang ia hormati, sahabat karib yang sudah seperti keluarga, Giotto, ya… dia yang sudah menyakiti orang yang di sayanginya.
"Maaf… saya tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengkhawatirkan keadaan saya, G-dono…" Ugetsu tampak tersenyum, memang dipaksakan, tapi itulah senyuman terbaiknya untuk saat ini.
G mendengus, sedikit kesal dengan ketidak jujuran orang yang ada di hadapannya. "Jangan bohong, flute freak… memang aku tak tahu, hum? Jangan membohongi orang yang selalu memperhatikanmu ini!" ujar G yang sepertinya… sedikit tak sadar?
Kaget? Sudah pasti! Orang yang sudah seperti cinta pertamanya itu mengatakan hal yang diluar dugaannya, dan lagi memperhatikan? Selalu? Yang ada di pikiran Ugetsu saat ini adalah, G seorang stalker! Tapi segera ia tepis, mana mungkin orang yang seperti G itu mau menjadi seorang stalker orang yang ia benci? Apa lagi mungkin G tak sadar bahwa ia kelepasan ngomong.
Ugetsu hanya bisa sweatdrop, "ap, apa maksud anda dengan 'selalu memperhatikan' itu, G-dono? Bisakah anda tidak mengatakan hal yang aneh?" ujarnya di sela ke-sweatdrop-an-nya.
"Ap, Apa? Aneh apanya? Kau ini… sepertinya tak sadar sudah membuat orang khawatir ya?" geramnya. Bagaimana tak marah, jika orang yang sudah capek-capek mencemaskannya di bilang sebagai orang aneh? Dan lagi, sepertinya dia benar-benar tak sadar sudah kelepasan bicara. Oke, sekarang siapa yang seharusnya di panggil bodoh?
"Eh?" ia melihat sekeliling, "siapa?" tanyanya yang memang tak sadar akan perkataan G. Tampaknya kepolosannya sudah melampaui kata idiot.
Seperti yang diduga dan pasti dilakukan G, yaitu sangat kesal. Ya, siapa yang tak kesal jika berhadapan dengan orang yang terlalu polos hingga seperti orang bodoh? Dan orang aneh darimana yang tahan dengan kebodohan dan kepolosan pemuda satu ini?
"Lalu, orang yang pernah bersamamu ini bukan salah satunya? Aduh, Ugetsu… kalau mau bodoh mending lihat-lihat keadaan deh…" ujarnya sedikit kesal. Oh, bukan sedikit, tapi sangat kesal!
Diam, Ugetsu tampak tak memulai pergerakan tertentu. Ia diam tak bersuara, tak berkedip dan tak bernafas (mati dong! /bantai author/) ma, maksudnya tak melakukan apapun. Dan pada menit ke 5 ia sadar dan wajahnya memerah.
Ia gelagapan, saking kagetnya ia melakukan gerakan aneh yang tak biasa. Mau tak mau G harus menunggu kembali reaksi yang super lama ini berhenti. Setelah beberapa menit akhirnya Ugetsu memutuskan untuk berhenti, ia menatap G dengan senyuman konyol-nya.
Akhirnya G mencapai titik teratas batas amarahnya. Ia menatap Ugetsu dengan pandangan yang bercampur aduk. Antara ingin membunuh, ingin memukul hingga ingin memaki orang yang kelewatan polos dan bodoh di depannya ini.
"G, G-dono… wajah anda menyeramkan, apa anda tidak apa-apa?" tanya Ugetsu sedikit merasakan ancaman bahaya. Bahaya kehilangan nyawanya jika ia membicarakan atau mengucapkan hal tak perlu.
G mengacak rambutnya, "sudahlah, baka! Dari dulu sampai sekarang kau tetap baka! Sama sekali tidak berubah, apa Giotto tak kesal dengan kebodohanmu itu? Jika tidak, hebat juga dia…" ujarnya sama sekali tak menyadari ekspresi apa yang di tunjukkan oleh Ugetsu.
Perkataan G tampaknya menusuk hati sang Ame Hito, terlihat dari wajahnya yang semakin sedih dan makin ia tundukkan. G yang akhirnya sadar menutup mulutnya dan mendekati Ugetsu. dengan kesedihan yang memuncak, pemuda Jepang itu berlari menjauhi tempat G berdiri.
"O, Oi!" teriaknya tapi tak cukup untuk menghentikan sang Ame Hito. "Sial!" pemuda berambut merah semu pink itu menendang kaleng yang entah kapan ada di dekat kakinya. Kaleng itu terlempar jauh oleh ulah kakinya yang sudah agak beberapa lama memendam amarah.
Beberapa detik berlalu, ia memutuskan untuk mencari kembali kaleng yang tak bersalah itu terbang. Setelah lama mencari ia menemukan kaleng itu di atas kepala bocah berambut coklat, wajahnya serta rambutnya tampak basah akibat siraman air cola dalam kaleng yang entah siapa melemparkan kaleng itu kearahnya.
"Ups… Tsuna, kau tidak apa-apa?" Ichidaime no Arashi Hito mendekati Tsuna yang tak jauh darinya.
Tsuna menengok kebelakang dan menemukan keberadaan G, "ah… G-san…" ujarnya.
G menggaruk pipinya yg tak gatal, "err… kau baik-baik saja?" tanyanya sekali lagi. Yah, berdoa saja bocah di hadapannya ini tak marah padanya karena melempar kaleng kearahnya.
"Yah, sedikit basah sih… tapi tidak apa-apa" ujarnya sambil tersenyum. Pemuda berambut gurita saus itu menghela nafasnya, syukurlah bocah di hadapannya ini tak marah. Tsuna tersenyum, "tenang saja, G-san… aku tak akan marah kok, aku tahu G-san tak tahu aku ada di sini, kan?" ujarnya.
G menunjukkan wajah minta maafnya, "gomen Tsuna… aku tidak tahu jika ada kau di sini, lagipula… aku juga tidak tahu jika kaleng ini masih ada isinya…" ujarnya sambil menggaruk pipinya yang tak gatal.
"Tidak apa-apa, G-san…" ia tersenyum, melihat wajah pria di hadapannya sedikit kusut. "Ada masalah dengan Gio-nii?" tanyanya sambil memiringkan kepalanya.
G menggeleng lalu tersenyum seperti biasa dan menyalakan rokoknya, "yah… seseorang mencoba kabur lagi dariku…" ujarnya tersenyum miris.
Tsuna sedikit kasihan melihat tampang miris G, tapi ia tak tahu apa yang menjadi masalah pria di hadapannya. "Ne… G-san, jangan sedih… pasti orang itu akan kembali lagi pada G-san…" ia tersenyum walau tak mengerti.
Tambah miris hati G, Tsuna sama sekali tak tahu orang yang di maksudnya adalah kekasih kakaknya sendiri. Ugetsu. oh, andai waktu itu ia tak meninggalkan dirinya mungkin saja sang Ame Hito tak akan meninggalkannya bukan Ugetsu yang meninggalkannya namun ia yang mencampakkannya. Ingin sekali ia memutar waktu, ya… ke tempat semua kesalahannya berawal.
-XXXVXXX-
"G… kau lama…" ujarnya tersenyum. Pemuda Jepang berambut hitam dengan kimono biru dan jubah putih terlihat sedang menuruni tangga... Ichidaime Ame no sugosha. Asari Ugetsu. Ia mendekati seseorang, pemuda berambut merah semu pink dengan tato di pipinya yang berbentuk kobaran api… Ichidaime Arashi no sugosha. G.
Dengan sikap cool-nya, G hanya menatap orang tersebut. Ia menyalakan sebuah rokok lagi yang tadi sempat habis sambil menunggu orang tersebut. "Siapa yang kau sebut lama, hum?"
"Ah… Gomen, gomen… tadi ada keperluan sebentar dengan Giotto…" ujarnya santai. "Hari ini dingin…" keluhnya di tengah perjalanan.
G mendengus, "itu karena kau hanya memakai pakaian tipis dan aneh… kau tahu ini di Italia, kenapa kau pakai kimono, sih…" ia mengernyitkan dahinya.
"Huum… karena aku tak sabar untuk cepat sampai di Jepang, lagi pula sudah lama aku tak kesana…" ia tersenyum, senyumannya sangat hangat sampai-sampai G lupa akan dinginnya musim ini.
"Seperti orang bodoh…" G mendengus. Dan tawa terdengar sebagai jawaban perkataan G.
Hening. Mereka berdua tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Memang aneh rasanya jika mereka hanya pergi berdua, bukan berarti pada saat mendapat misi mereka sama sekali tak pernah menjadi partner. Hanya saja… ini lain. Berpergian tanpa adanya ikatan suatu pekerjaan terasa aneh untuk dapat di rasakan oleh G.
Jika di lihat, Ugetsu tampak tenang dan tak mempermasalahkan hal ini. Apa hanya dirinya yang terlalu senang dengan perjalanan berdua ini? Tapi jika melihat pribadi Ugetsu, pemuda satu itu pasti tak akan peduli dengan hal seperti ini. Dia pasti akan menikmati perjalanannya, tidak peduli yang lain senang atau tidak. Sedikit sedih memang, yah mau bagaimana lagi.
.
Ponsel G bergetar, memperlihatkan nomor Knuckle. Belum sempat ia mengangkatnya seorang pramugari memintanya untuk mematikan ponsel tersebut. Mau tak mau G harus menunggu sampai di bandara Jepang untuk menghubungi Knuckle.
"Siapa yang meneleponmu?" tanya Ugetsu di samping G. Ia duduk di dekat jendela, dan sedari tadi sibuk memperhatikan luar.
G menghela nafasnya, "Knuckle… tapi belum sempat ku jawab" ia menyandarkan punggungnya, merasakan pesawat yang sudah takeoff. Ia memejamkan matanya, sedikit lelah.
"Oh…" Ugetsu diam, ia tak tahu harus berbicara apa. Ia melihat G yang tampak kelelahan dan membiarkannya tertidur.
Menghela nafas, ya. Berulang kali ia melakukannya, entah mengapa ada perasaan tak enak yang menjalar dalam hatinya. Ingin rasanya ia tepis perasaan tersebut, namun semakin di tepis perasaan itu semakin memburuk.
'Kami-sama… semoga tak terjadi apapun…'
#STF#
"Jepang!" teriakku kegirangan. Tentu saja, sudah lebih dari beberapa tahun aku tak kembali ke Jepang. Aku ingin bertemu dengan keluargaku, tou-sama dan Takeshi-kun.
"Hmh… kau girang sekali… seperti anak kecil," ujar G yang berniat untuk mengejekku. Oh, apa kah aku harus tersnggung? Kurasa tidak, karena aku memang benar-benar rindu dengan Jepang.
Setelah cukup lama menikmati pemandangan Jepang, aku mengambil ponsel biru milikku. Kucari nomor yang ingin kuhubungi dan menekan tombol hijau. Ya, nada sambung terdengar namun… tak ada yang menjawab? Kemana orang rumah? Apa mereka keluar? Padhal sudah kutelepon sebelumnya bahwa aku akan datang.
Khawatir. Saat ini aku benar-benar khawatir, apa yang mereka lakukan sampai-sampai tak menerima teleponku? Ataukah mereka sedang tidur? Tidak mungkin, ini masih sore. Jikalau memang mereka sedang tidur, lalu bagaimana dengan tokonya?
"Hei, kau tidak apa-apa?" tanya G saat melihat wajah khawatirku dan disaat aku ingin menjawab pertanyaan G, ponsel miliknya berbunyi. Pastilah Knuckle yang mencoba menghubunginya kembali.
"Ada apa Knuckle?" dan dengan segera G melangkahkan kakinya lumayan jauh dariku. Entah apa yang mereka katakan. Saat ini pikiranku penuh dengan keluargaku.
Kulihat G yang telah kembali, wajahnya menyiratkan rasa sebal. "Ada apa, G?" tanyaku yang melihat dirinya sedikit aneh.
G menggeleng, "huh! Si bodoh itu menyuruhku membeli oleh-oleh…" ujarnya.
Aku hanya bisa memasang tampang bodoh, ya sangat bodoh. Menghela nafas pelan, heran, benar-benar heran… bisa-bisanya saat seperti ini. Dan terdengar suara tawa dari seberangku, tentu saja suara tawa G yang ia tahan saat melihat wajah bodohku, menyebalkan.
"Hei, jangan cemberut gitu, ayo kita pergi ke rumahmu… lagipula aku sudah mengantuk…" ujarnya mengusap matanya pelan. "Aku juga ingin bertemu dengan Hayato setelah mampir ke rumahmu…" dan setelahnya ia menguap lebar.
"Umh, G… kau, tak mau menginap di rumahku saja? Kau juga bisa ke tempat Haya-kun esoknya, kan?" usulku. Oh, apa saat ini wajahku memerah? Kuharap tidak, bisa-bisa G akan mentertawakanku, uh… malunya.
Tak kuduga, ekspresi yang di tunjukkan G adalah… adalah… menatapku dengan wajah yang bisa di kategorikan super bodoh? Tak kusangka G yang setiap harinya selalu jaim itu bisa menatapku dengan pandangan yang seperti itu.
.
"Tunggu, Ugetsu… kau bilang apa?" tanyanya seraya memijat pelan keningnya.
"Menginap di rumahku lalu kau bisa pergi ke tempat Haya-kun…" ulang Ugetsu dengan wajah polos.
Dengan cepat G menepuk jidatnya, kenapa dia tak memikirkannya, ya? Apa jangan-jangan karena terlalu lama dengan orang polos di hadapannya ini ia jadi sedikit bodoh? Oh, memang ada salah apa dengan otaknya? Terlalu banyak memikirkan orang memang menyusahkan untuk kinerja otak, sudahlah… lupakan untuk beberapa saat.
Sesampainya di kediaman Asari-Yamamoto G harus memasang wajah super bodohnya! Dia menatap, betapa besar kediaman utama Asa-Yama ini, walau sudah berkali-kali kemari tetap saja rumah ini tampak semakin besar. "Hebat…" ucapnya saat berjalan melewati hamparan pohon Sakura yang berbunga tidak pada musimnya.
"Hm? Bilang sesuatu G?" tanya Ugetsu yang berjalan lebih dulu menuju pintu masuk.
"Hah?" akhirnya G tersadar saat mendengar suara Ugetsu. "Ti-tidak apa-apa, hanya… rumahmu semakin besar saja ya…" ujarnya memperhatikan sekitar.
Ugetsu tersenyum, "oh ya? Mungkin saja…"
Keduanya berjalan menuju sebuah ruangan yang nyaman dengan nuansa biru laut, dapat di duga tempat itu sebagai kamar Ugetsu. "Ho, kamarmu seperti biasa hebat…" ujarnya terheran melihat seluruh tempat itu yang berwarna biru hingga tv, lemari bahkan pintu dan tatami sekalipun berwarna biru.
Ugetsu tampak melepas jubah putihnya dan menyisakan kimono biru polos, ia menggelung bagian tangan dan melepas topi hitam panjang miliknya. Ia berjalan keluar ruangan diikuti oleh G. "Oi… mau kemana?" tanya pemuda merah di belakangnya.
"Ah, G… sebaiknya kau istirahat saja di kamarku…" ujarnya sama sekali tak menjawab pertanyaan G.
G menghela nafasnya, "oi… jangan membuatku mengatakan dua kali napa? Kau ini mau kemana sih? Lagian aku tak mau memakai kamar orang, jika sang pemilik tak ada di tempatnya." ucapnya sambil mendengus pelan.
Ugetsu mendengus, "aku ingin pergi ke toko sushi milik Otou-sama di samping rumah… dan, gunakan saja kamar itu, lagipula aku sama sekali tak lelah" ujarnya menjelaskan sambil terus berjalan.
Setelah sampai di toko sushi, dia terheran. Ada tanda 'Closed' di depan pintu, padahal ini bukan jam untuk tutup. Ada apa gerangan? Dengan rasa penasaran yang tinggi Ugetsu menggeser shoji yang ada di hadapannya. Ruangan yang biasanya ramai oleh pengunjung terasa sepi karena sedang tutup, dan tempat yang biasanya terang ini terlihat gelap karena lampu yang tak di hidupkan.
Ugetsu melangkahkan kakinya masuk kedalam, ia mencari-cari saklar lampu, setelah ia menemukannya dan menyalakannya. Betapa kagetnya dia, ia melihat seluruh keluarganya. Semuanya, memberikannya pesta kejutan!
"Selamat datang kembali Ugetsu!" teriak sang tou-sama saat pesta yang ia selenggarakan sukses.
Ugetsu diam, ia belum merespon. Dia bisa mendengar G sedang tertawa pelan, "paman… sukses eh?" tanyanya yang sepertinya sudah tahu akan kesuksesan mereka.
Tsuyoshi tampak tertawa renyah menatap anak sulungnya menatap mereka heran. "Ahahaha… ini semua berkatmu juga, nak G ahahaha…"
"Selamat datang aniki!" ujar Yamamoto di hadapan Ugetsu, tampak senyum hangat di wajahnya.
Sang Ame-hito jatuh terduduk, dia menghela nafasnya lega. "Yokatta… kukira kalian semua ada apa-apa karena tak bisa kuhubungi…" ujarnya tersenyum. Semua yang ada di sana ikut tersenyum dan memulai pesta mereka.
.
"G… kau jahat juga ya, tak memberi tahuku… jika kau bersekongkol dengan mereka…" ujar Ugetsu terdengar geram.
G hanya tertawa geli, "gomen, gomen… soalnya aku juga ingin melihat wajah terkejutmu," ujarnya sedikit nyengir.
"Tapi tidak dengan cara seperti itu, kan? Haaa… kalian semua membuatku takut." ucapnya seraya tersenyum.
Tanpa mereka sadari, beberapa kelompok orang tampak menyusup ke dalam kediaman Asa-Yama dalam keheningan malam yang tampak menyenangkan bagi mereka.
.
Mentari tampak menghangatkan pagi hari yang terasa amat dingin. Terlihat dua sosok pemuda yang masih tertidur di kasur lipat mereka. Pemuda berambut merah tampak tertidur dengan tenang di sampingnya, pemuda berambut hitam tengah tertidur seraya memeluknya.
Dengan sangat malasnya, pemuda berambut merah yang bisa di ketahui sebagai G membuka matanya dengan paksa. Sepertinya ia merasa terganggu dengan 'gaya' tidur kekasih tercintanya itu. Perlahan ia mengubah posisi semula menjadi duduk, ia mengerjapkan beberapa kali matanya sebelum akhirnya terbiasa.
G menguap lebar untuk mengusir rasa kantuk, di lihatnya kearah samping. Ia menemukan Ugetsu sedang tertidur masih dengan memeluk pinggangnya, sedikit tak tega ia membangunkan pemuda itu tapi apa daya, ini sudah pagi dan mereka harus bangun.
Ia menyibakkan selimut yang menutupi tubuh mereka, "Ugetsu… oi, ayo ba- gulp" perkataannya terhenti saat ia melihat kimono Ugetsu yang berantakan. Bagian dada terbuka lebar memperlihatkan dada dan bahu sebelahnya, serta di bagian kaki bisa G lihat bagian paha terekspos sangat jelas.
Mau tak mau ia harus menutup hidungnya, dan menendang pelan Ugetsu agar terbangun. Dan bisa dirasakannya ada pergerakan kecil dari arah Ugetsu. Pemuda berambut hitam itu duduk masih setengah terbangun, ia mengusap matanya. Rambutnya di biarkan tergerai, kimono putih polosnya terlihat berantakan memperlihatkan kulit tan asia-nya dan wajah bangun tidurnya menambah kesan manis pada dirinya. (author ikutan nosebleed pas ngebayangin)
Kembali G harus menutup, tidak dia bahkan harus menekan hidungnya agar tak terlihat cairan berwarna merah saat menatap pemuda di hadapannya itu. "A-aku mandi dulu…" ia berlari meninggalkan Ugetsu yang sebelumnya sudah menyambar handuk yang telah di siapkan pelayan keluarga Ugetsu.
.
"Ohayou aniki… tumben bangun pagi?" tanya sang otouto, Yamamoto Takeshi.
Ugetsu dan G yang sudah rapi membalas sapaan Yamamoto, "ohayou Takeshi-kun… umh, itu karena G, membangunkanku agak kasar…" ujarnya sudah duduk di kursi kosong yang berada di meja makan.
"Jangan salahkan aku, bangunmu saja yang terlalu lambat…" kilah G setelah mendudukkan diri di samping Ugetsu.
Yamamoto tampak tertawa, "jadi, penyakit susah bangun pagi aniki sembuh dengan sekali tending? Hee… aniki maso, ya?" ujarnya dengan nada jahil.
Ugetsu memperlihatkan wajah kesalnya, "hee… jadi kau juga mau merasakannya Take-kun?" ujarnya seraya tersenyum kesal.
"Tidak terima kasih… hehe…" balasnya dengan juluran lidah singkat.
G, menghela nafas menatap kedua orang di hadapannya itu, "hei, mana paman Tsuyoshi? Sedari tadi aku tak melihatnya…" tanyanya saat tak melihat sang kepala keluarga Yamamoto di sekitar mereka.
Yamamoto hanya menatap G heran, bukannya membalas pertanyaan G dia malah meneruskan sarapannya "oh, aniki… kau sudah pergi ke tempat kaa-san?" tanyanya menatap sang kakak yang sedang menyantap sarapannya.
Tampak persimpangan jalan di dahi G dan terlihat sedikit berkedut karena pertanyaannya yang di anggap angin lalu. "Che! Jawab pertanyaanku bocah!" ujarnya sangat kesal sekali. Tangannya sudah terangkat bermaksud untuk memukul bocah di hadapannya jika tidak menjawab pertanyaannya.
"Uwoooh! Gomen, gomen… oyaji pergi ke pemakaman kaa-san…" ujarnya sambil mengatupkan kedua tangannya.
G menurunkan tangannya, "oh… pergi ke tempat Satsuki-chan," ujarnya menyalakan sebuah rokok setelah mereka menyelesaikan acara sarapan mereka.
"Hei, G… setelah pergi ke tempat Haya-kun, bagaimana jika ke tempat Satsuki-san?" tawar Ugetsu dan mendapatkan anggukan dari G sebagai jawabannya. "Baiklah, ayo kita ketempat Haya-kun~" ujarnya penuh semangat seraya menyeret G dengan sedikit paksa.
Yamamoto tersenyum menatap kedua orang yang sudah menjauh itu, "hati-hati aniki!" teriaknya yang dibalas lambaian tangan oleh keduanya.
Tanpa mereka ketahui, tidak aka nada pertemuan antar mereka setelah ini.
#STF#
Malam telah menjelang, mau tak mau G harus mengantar Ugetsu hingga rumahnya. Memang sudah sangat malam sekali, sepertinya mereka terlalu lama di pemakaman tadi.
Entah kenapa perasaan Ugetsu sedikit tak enak… entah apa yang terjadi saat ini. Dan sesaat setelah sampai di depan pintu rumah Ugetsu, ponsel G bergetar tertera dalam layar ponselnya nomor Alaude sedang memanggilnya.
Ugetsu menatap G seklias namun setelah itu ia membuka pintu rumahnya, gelap. Ia menyalakan lampu, tak ada siapapun. Ia berjalan menuju dapur, ternyata sama dengan saat ia pertama kali melihat rumahnya, gelap. Bau amis menguar, ia kira itu adalah daging atau apapun yang di tinggalkan Yamamoto begitu saja.
Namun ia salah, setelah ia menyalakan lampu. Matanya terbelalak, ia jatuh terduduk, badannya bergetar hebat. Ia tak percaya apa yang ada di hadapannya, benar-benar tak percaya. Ruangan yang awalnya rapi dengan cat putih polos berubah menjadi berantakan tak karuan dan cat putih polos tergantikan bercak berwarna merah.
Dua tubuh tak bernyawa yang sangat di kenalnya, tubuh sang adik dan ayahnya. Terbunuh dengan mengenaskan, ia sudah tak bisa menahan tangisnya. "TI- TIDAAAAAAAAAAAAKKKKKKK!"
Di depan rumah, ingin G menghampiri Ugetsu. Namun sayang, panggilan dari Alaude membuatnya tak bisa membuang-buang waktunya. Saat ini Primo lah yang utama baginya. Ia bergegas menuju bandara dan pergi ke Italia dengan tiket yang sudah di siapkan Alaude sebelumnya.
Di dalam rumah tampak Ugetsu yang masih shock, ia terus memanggil-manggil nama G, namun orang yang di panggilnya sama sekali tak datang. Dengan tangan yang bergetar ia menghubungi polisi, saat ini ia benar-benar membutuhkan G namun orang tersebut sama sekali tak datang untuknya.
'Ah… apakah, aku di buang oleh G? katakan jika itu bohong… G…'
/Owari\
Hunyaa… gimana, gimana? Alurnya kecepatan ya? Apalagi alasan G, dia jadi orang jahat deh… maapkhan daku… |||orz
beneran, beberapa jam ngetik nih fic di ruang yg dingin banget! ampe menggigil! /itukan kamar lu,baka!/
okeh, yang penting repiu… dan special thanx v all readers okeh?
