Disclaim: KHR punya Amano sensei

Rate: T

Genre: Romance, Humor, Drama, Hurt/Comfort (untuk jaga-jaga u_u)

Pair: GU (GiottoxUgetsu) sligh 02U, DioSce (primo 10051)

Warninganeh, gaje, BL, Shonen-ai, Male x Male, Semi AU, ablay, lebay, semoga kalian suka, OOC jangan lupa… dan OC yg berterbangan…^^

-XXXVXXX- flash back/end flash back

Precipitazioni in Cielo Sereno

Parte 4

.

.

.

Beberapa hari Ugetsu tak sadarkan diri, setelah polisi menemukannya secara tak sadar. Ia di bawa kerumah sakit, untung tak ada luka atau apapun yang membahayakan jiwanya. Tapi tetap, hal ini akan membekas di pikiran Ugetsu. Rasa sakit hatinya yang telah di campakkan dan shock kehilangan seluruh anggota keluarganya.

Polisi tampak berlalu lalang di depan kamar milik Ugetsu. Tampaknya tak ada satu orang pun, keluarga atau kerabatnya yang mengunjunginya. Terlebih lagi guardian-guardian dari Vongola. Sebenarnya apa yang terjadi?

Sebenarnya pihak rumah sakit telah menghubungi pihak Vongola sehari setelah Ugetsu masuk rumah sakit. Namun, tak seorangpun menjenguknya. Para suster sedikit merasa kasihan, mereka berjaga secara bergantian bahkan beberapa kali dalam satu hari mereka bisa menghabiskan waktu menunggu Ugetsu terbangun.

Kyoko, Haru dan Hana. Ketiga suster yang paling sering menghabiskan waktu mereka bersama dengan Ugetsu.

Mereka tampak sangat sedih menatap sosok Ugetsu yang terus menolak untuk sadarkan diri. Sudah berbagai cara mereka lakukan demi membangunkan pemuda itu kembali, namun sayang… usaha mereka berbuah kegagalan.

Ingin sekali Haru menghajar teman-teman Ugetsu yang sama sekali tak menampakkan batang hidung mereka. Jika mungkin ia juga akan mengkritik mereka habis-habisan.

Beberapa hari kembali mereka lewati, kali ini hanya Haru dan Kyoko saja yang menemani Ugetsu. Mereka tampak sedang mengupas sebuah apel dan memotongnya, berharap jika saat itu Ugetsu sadar mereka bisa memberikannya. Namun sayang, keinginan mereka kembali kandas.

Sehari berlalu, kembali ketiganya menjaga Ugetsu. Dapat dirasakan oleh Hana jemari lentik yang di miliki Ugetsu bergerak pelan. Segera ia memberi tahu kedua temannya akan hal ini. Mereka menunggu beberapa saat setelah mereka dapat bernafas lega.

Akhirnya Ugetsu dapat sadar, ia membuka kedua matanya. Ketiga suster manis itu tersenyum lembut menatap Ugetsu yang telah sadarkan diri. "Ugetsu-san… yokatta, akhirnya anda sadar juga~" ujar suster bernama Haru riang.

"Anda pasti lelah tiduran terus bukan, Ugetsu-san? Saya sudah mengupaskan apel untuk anda, jika anda mau…" ucap suster bernama Kyoko lembut.

Suster berambut keriting yang di duga Hana mendengus, "Ugetsu-san… lebih baik kau makan daripada tidak sama sekali."

Ugetsu tersenyum ramah menatap ketiga suster yang dengan sabar merawatnya. "Terima kasih, suster umm… Kyoko, Haru dan Hana… saya tak bisa membalas kebaikan anda semua dengan hanya berterima kasih saja… saya yakin itu." Ia tersenyum, melihat nama mereka di masing-masing seragam.

Haru dan Kyoko tersenyum ramah, "tenang saja Ugetsu-san... anda yang sudah terbangun dan kembali seperti diri anda sendiri sudah cukup untuk membayar kekhawatiran kami bertiga," ujar Haru dengan nada energik. Suster berambut cokelat muda itu mengangguk, membenarkan perkataan Haru.

"Mungkin ini pertanyaan yang aneh, tapi... kenapa anda sekalian sangat baik pada saya?" tanya sang pemuda kepada ketiga gadis yang ada di sana.

Kyoko tersenyum, "itu... karena kami berhutang budi pada Tsuyoshi-san. Tapi, beliau pergi sebelum kami bisa membalas hutangnya. Dan, kebetulan sekali anda di bawa ke rumah sakit ini, akhirnya kami memutuskan untuk membayar hutang kami dengan merawat anda."

Ugetsu dapat melihat kejujuran dari mata sang suster, ia tersenyum. Ternyata ada juga yang mengenal kebaikan sang ayah, "terima kasih... Kyoko-san, Haru-san, Hana-san... saya yakin tou-sama akan senang."

Ugetsu melihat sekeliling, ia sama sekali tak melihat anggota Vongola. Oh, benar saja… ia sedang berada di Jepang, tentu saja tidak ada yang menjanguknya. Ia rindu pada Vongola, tidak lebih tepatnya pemuda berambut merah. G.

"Umm… Haru-san, Kyoko-san, Hana-san… apa tidak ada pemuda berambut merah kemari?" tanyanya.

Ketiganya menggeleng, "kami tidak melihat ada orang yang kemari untuk menjenguk anda…" ujar Kyoko lembut namun terpancar dari wajahnya ada sedikit perasaan kasihan.

Ugetsu hanya tersenyum lirih, "begitu ya…" ujarnya lemah. Lelah sekali, ia benar-benar ingin bertemu dengan G. Namun, apa yang G lakukan saat ia butuhkan? Ia hanya memikirkan orang lain, bukan dirinya. Apa benar ia di buang? Kenapa harus G? Kenapa harus keluarganya? Siapa yang melakukan semua ini? Pertanyaan-pertanyaan terus berputar di otaknya.

'Sudahlah! Hentikan memikirkannya saat ini, berutung aku tak bertemu dengannya… entah apa yang akan ku lakukan saat bertemu dengannya nanti…' Ame Hito terdiam, lalu mendengus lelah. Entah sudah berapa kali ia melakukan hal seperti itu.

"Hahi?" terdengar seruan keras dari suster Haru. Ugetsu mengalihkan pandangannya menuju sang suster.

Dia membelalakkan matanya, seperti tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Tapi nyatanya, jelas itu asli. G dan Giotto menghampirinya, mereka terlihat kucel seperti habis berlari. Namun bisa dilihat selain kucel mereka juga di penuhi perban, mereka terluka dan Ugetsu tak tahu hal itu.

"Ugetsu!" teriak keduanya saat melihatnya terbaring dengan senyum tipis yang sedikit di paksakan.

G mendekati tempat Ugetsu berada, "Ugetsu... syukurlah kau baik-baik saja..."

Sang Rain Guardian membenarkan rambutnya yang panjang, sama sekali tak menatap kedua orang yang menghampirinya. Ia malah sibuk memakan apel yang sedang di kupas oleh suster Kyoko.

Tidak senang di acuhkan, G menyambar apel yang akan di makan oleh Ugetsu. "Hei, flute freak! Jangan mengacuhkanku!"

Kyoko sepertinya sedikit kaget dengan bentakan G, namun tidak bagi Ugetsu. Ia tak terlalu memperhatikan perkataan G, "Kyoko-san, boleh saya meminta apelnya lagi?" tanyanya dan Kyoko mengangguk. Memberikan potongan apel kepada Ugetsu.

Sekali lagi G mengambil apel yang ada di tangan pemuda di hadapannya, ia lelah. Ia tak mau di acuhkan, ia ingin berbicara serius. "Jangan main-main kau, Ugetsu… sudah kubilang jangan mengacuhkanku…"

Ugetsu diam, ia menatap kearah G dan Giotto dengan pandangan kosong. Sedikit membuat hati G mencelos, mengapa waktu itu ia meninggalkannya. "Baiklah, saya akan mendengarkan… apa yang akan anda katakan?" tanyanya dengan nada suara yang dingin.

G menggeram, ia tak senang dengan nada Ugetsu yang dingin. "Aku ingin minta maaf karena telah meninggalkanmu…" pandangan G menghangat. Matanya terlihat sendu, sebenarnya ia tak mau meninggalkan Ugetsu sendirian. Tapi, Primo butuh bantuannya. Sebagai Right hand man Vongola Primo, ia harus selalu siap sedia membantu Primo apapun itu.

"Oh, saya tak mempermasalahkannya lagi. Lagipula itu memang tugasmu kan? Saya tidak akan marah, saya hanya sedih… ternyata anda tak memperdulikan panggilanku…" pandangan mata Ugetsu memburam. Pandangannya seperti sebuah boneka, ia seperti bukan dirinya.

"Ehem…" Giotto menginterupsi. "Ugetsu, aku juga minta maaf dan turut sedih atas keluargamu. Ini semua salahku, karena… sepertinya mereka mengikutimu ke Jepang." Giotto menggenggam tangan Ugetsu, tangan pemuda Jepang di hadapannya ini dingin. Seperti hatinya yang sedang membeku, membutuhkan kehangatan yang dapat mencairkannya.

G sedikit tak senang saat melihat Giotto menggenggam tangan Ugetsu di hadapannya. 'Oh, yang benar saja… dia temanmu, sahabatmu, keluargamu, atasanmu… masa kau mau marah hanya karena hal seperti itu? Tidak lucu…' mendengus, kembali ia menatap kedua orang yang ada di hadapannya.

Pemuda berambut pirang itu tersenyum, sepertinya sedikit demi sedikit dia bisa membujuk Ugetsu. Terlihat dari ekspresi sang pemuda Jepang berangsur-angsur membaik. Dan hal itu kembali membuat G kesal.

Kenapa jika Giotto bisa, tetapi ia tak bisa? Apa salahnya sampai Ugetsu tampak tak senang padanya? Memang, salahnya saat Ugetsu membutuhkannya, G menghilang. Tapi itu semua memang keseharusannya, menolong atasannya. Jika tak seperti itu, ia tak berguna sebagai right hand man.

"Primo dan G-dono, terima kasih sudah mau mengunjungi saya," ujarnya tersenyum. Senyumannya lebih tertuju pada Giotto, dan pemuda pirang itu sama sekali tak menyadari tatapan maut dari pemuda merah di sampingnya.

Beberapa minggu berlalu, Ugetsu telah kembali ke Italia. Aktivitas dan rutinitas kembali di jalaninya, hanya satu yang berbeda. Pemuda Jepang memutuskan hubungannya dengan G. Tak peduli pemuda berambut merah itu setuju atau tidak. Egois memang, tapi ia tak ingin hatinya sakit saat menatap pemuda itu.

"Giotto, ini laporan yang anda minta…" ucapnya dengan senyum lembut.

Giotto menoleh, ia mendapati sang Rain Guardian di depan mejanya dengan beberapa berkas untuknya. "Geez, Ugetsu… biarkan aku istirahat, onegai~" ujarnya memohon dengan wajah memelas dan menggunakan kata-kata yang di ajarkan Ugetsu.

Mau tak mau Ugetsu harus menghela nafas, sedikit tak tega. Tentu saja ia mengangguk meng-iya-kan permintaan Giotto.

"Kau terlalu memanjakannya, Ugetsu…" G yang sedari tadi di sana akhirnya angkat bicara. Ia tak tahan dengan kedekatan kedua orang di hadapannya itu.

"Oh, G… masa kau tega padaku. Kumohon, biarkan aku istirahat sebentaaaarrr saja juga tidak apa-apa, ya?" pintanya.

"Biarkan Giotto istirahat G-dono… beliau pasti kelelahan," kembali Ugetsu membela dan mendapat senyuman hangat dari Giotto.

Pemuda pirang itu berjalan ke arah pemuda Jepang lalu memeluknya erat, mengungkapkan rasa terima kasihnya karena sudah di bela. "Sankyu na… Ugetsu, kau memang orang yang paling baik…"

Dengan perasaan marah G memisahkan mereka, tentu saja ia tak senang. Orang yang masih ia cintai di sentuh orang lain? Hell no! "Kau mau menyia-nyiakan istirahatmu hanya untuk memeluk flute freak ini? Jika kau ingin seperti itu, sebaiknya kau kembali bekerja…"

"Jahatnya…" pemuda itu berjalan diikuti langkah G dan Ugetsu di belakangnya.

-XXXVXXX-

'Like a hell aku masih mengingatnya… hebat,' G meringis, posisi berdirinya tergantikan oleh dirinya yang sedang jongkok.

Tsuna terheran melihat G yang berjongkok, "G-san? Anda tidak apa-apa?"

G menggeleng, "aku tidak apa-apa, tapi… terima kasih sudah menyemangatiku" ia berdiri, menunjukkan cengiran yang mirip dengan Hayato. Ia berlari meninggalkan Tsuna, sebelum benar-benar pergi ia berbalik. "Kau harus hati-hati, Tsuna… sepertinya Giotto sudah tahu hubunganmu dengan bocah nanas keparat itu…" kembali ia berlari tawa terdengar sebagai iringan langkah G.

Tanpa menolehpun G tahu, wajah Tsuna saat ini sudah sangat memerah. Tapi tak ia pikirkan, tujuannya saat ini adalah menemukan seseorang yang ia cintai. Seorang hujan yang selalu ia cari, seorang pemuda baik hati yang selalu ia sayangi dan seseorang yang terus ada di hatinya. Asari Ugetsu. Ya, ia akan mencari-nya di satu tempat yang mungkin di kunjungi oleh pemuda itu.

#STF#

Sesampainya di tempat yang mungkin menjadi tempat tujuan Ugetsu, penuh dengan tumbuh-tumbuhan. Beberapa di antaranya merambat dan yang lainnya tampak di tanam dengan runtut di tanah. Kebun tomat milik Timoteo.

"Sudah kuduga kau akan di sini, Ugetsu…" ujarnya tenang dengan senyuman terlihat dari bibirnya.

Ugetsu mendongakkan kepalanya, melihat sosok G yang tak jauh darinya. Air mata masih meluncur mulus di kedua matanya. "Kenapa anda ada di sini?"

"Karena aku mencarimu…" G mendekat dan berjongkok tepat di hadapan Ugetsu. "Kenapa kau menangis?"

"Bukan urusan anda…"

"Tentu saja urusanku, karena ini menyangkut… menyangkut Giotto juga!" ah, lagi-lagi ia harus berbohong. Kenapa ia tak mengatakan hal yang sebenranya saja pada Ugetsu? kenapa ia harus berbohong seperti ini?

Ugetsu menundukkan kepalanya, air mata keluar lebih deras. "Ah, begitu… seharusnya aku tahu… bodohnya." Pemuda itu berdiri, kepalanya masih tertunduk. Ia muak dengan G, muak dengan perkataan pemuda di hadapannya ini. Sebenarnya apa maunya? Dia bukan lagi seseorang yang ada di hati Ugetsu tapi kenapa saat ia bilang karena Giotto, hatinya sakit?

Apakah ia masih mencintai G? Tunggu! Ia sekarang mencintai Giotto, bukan pemuda di hadapannya ini. Bukankah muak bukti bahwa ia cemburu? Jika cemburu juga itu membuktikan ia menyukai orang yang pernah meninggalkannya ini?

Ah, for-god-sake ia benar-benar pusing dengan semua ini. Kapankah penderitaannya menghilang? Benar juga, dia harus menuntaskan semua ini. Ia tak boleh terpuruk hanya karena hal yang seperti ini, bisa-bisa ia di tuduh sebagai orang yang sangat lemah.

Ugetsu berdiri, ia menghapus air mata yang mengalir di ujung matanya. "Osh! Sankyu G-dono, sampai nanti!" pemuda itu berlari menjauh dari hadapan G.

G tampak sedikit mematung, 'apanya yang terima kasih? Memangnya aku bilang apa sampai dia berterima kasih? Apa ada yang salah dengan telingaku? Tidak, tidak… aku yakin tak ada yang salah tapi… aah… baguslah jika dia sudah semangat kembali. Ugetsu…'

.

.

#STF#

BRAK!

Aku menoleh, apa lagi kali ini? Oh, pintuku… sepertinya kau harus kembali ku ganti. Tapi, nanti saja aku mengganti pintu itu karena aku melihat sosok rain guardian milikku. Aku bisa melihatnya tersenyum, syukurlah dia sudah kembali seperti semula, akupun membalas senyumannya.

"Sepertinya, senyumanmu sudah kembali Ugetsu…" ujarku dengan tenang dan tak lupa senyuman hangat yang selalu ku layangkan.

Ugetsu menunjukkan senyuman terbaiknya yang pernah kulihat, "begitulah… ah, ano… Giotto."

"Baguslah. Ada apa Ugetsu?" aku menatapnya dengan sedikit heran. Tingkahnya sedikit aneh walau, yah… kadang memang tingkahnya aneh.

Ia tampak memainkan jarinya, sungguh kekanakan tapi… mau bilang dia kekanakanpun memang sangat cocok. "Etoo… sebenarnya-"

"Giotto!"

Sepertinya kali ini pintu ruanganku benar-benar jebol. Kuliha wanita berambut biru pendek berdiri di ambang pintu. Wajahnya menyiratkan rasa kesal. Entah apa yang di lakukannya sampai bisa seperti itu.

Menghela nafas mungkin salah satu alternative yang baik, tapi sepertinya tidak juga. Saat ini lebih baik menjawab panggilan wanita itu, "ada apa Azzura?"

Wanita berbadan pendek nan ramping itu melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Kapan kau menyuruhnya pergi ketempat Dio-sama? Dio-sama terus bertanya-tanya, aku bosan menanggapinya!" wanita itu berkacak pinggang, mendengus dengan kesalnya seraya menatap Ugetsu tajam.

Bisa kulihat wajah bingung yang di perlihatkan pemuda Jepang itu, setelah menatap Azzura dengan tatapan bertanya-tanya lalu ia menatapku. "Apa maksud nona ini, Primo?" ah, bahasa sopannya kembali lagi.

Better to answer him, right? Sedikit menghela nafas ku awali penjelasanku, "Ugetsu… mungkin kau tidak mau, yah… kalau kau tak mau sih itu tidak mungkin bisa jadi-"

Kulihat pemuda itu menggebrak mejaku, membuatku dan Azzura kaget karena hal itu. Untunglah di antara kami tak ada yang sakit jantung, jika ada ya… taulah. "Jangan berbelit-belit! Bisakah anda mengatakannya dengan penjelasan yang mudah tanpa menambahi dan membelitkan perkataan anda?"

"Ba-baik… jadi, begini… Dio, memintamu untuk menggantikan Azzura untuk beberapa saat di tempatnya." Singkatku sesuai dengan keinginanya kan? Semoga saja…

Kulihat ia diam, lalu menghela nafas dan berbalik membelakangiku. "Begitu? Kenapa tak anda bilang dari awal? Yah, tak masalah sih… jadi, kapan saya harus kesana?" ujarnya penuh senyum yang sedikit aneh.

Tampak Azzura pun tersenyum, lalu ia melangkahkan kakinya beberapa langkah. "Secepatnya, Dio-sama menunggu jawabanmu. Jadi, jawablah dengan cepat!" kuyakin itu bukan kalimat untuk meminta seseorang, tapi perintah. Apakah dia tak di ajarkan sopan santun sedikit oleh Dio?

Ugetsu berbalik, namun ia menghadap ke arah Azzura. "Jika seperti itu, besok saya akan kesana. Sudah saya jawab, jadi… bisakah anda menyampaikan pada Dio-dono?" ujarnya menatap Azzura dengan senyum yang sedikit meremehkan. Kembali ia berbalik, "baiklah, saya akan kembali untuk mengemasi barang saya… selamat siang tuan, nona…"

Aku termenung, apakah ini yang kuinginkan? Ahaha… apa benar ini yang kuinginkan? Jawab, Ugetsu… kumohon… jawablah pertanyaanku.

#STF#

"Hei, Ugetsu… apa kau benar-benar akan ketempat Millefiore itu?" tanya G yang saat ini berdiri di ambang pintu.

"Ahaha, begitulah~" kulihat raut wajah G berubah kesal mungkin karena perkataanku ya? Ahaha~

"Terserah dirimu, tapi jika kau menyusahkan Giotto lagi. Aku tak akan peduli padamu." G berbalik, langkah kakinya semakin menjauh dariku.

Aku hanya tersenyum berdiri di tempat semula seraya menatap langkah G yang semakin lama menjauh. "Tenang saja G, aku tak akan menyusahkan Giotto maupun kau."

.

.

"Jadi… mau apa kau kemari, Asari Ugetsu?"

Pemuda dengan yukata biru laut dan sebuah jubah putih tampak duduk bersimpuh di hadapan pemuda lainnya yang berambut sewarna dengan warna mayonnaise. Raut cemberut menghiasi wajah Ugetsu, tak kalah cemberutnya dengan wajah Alaude.

"Asari Ugetsu, aku bertanya padamu…"

Tetap pemuda itu bungkam. Sepertinya ia benar-benar ingin di hajar oleh seorang Alaude baru mau mengatakan apa yang ingin di katakannya. Dengan terpaksa Alaude mendengus dan melangkahkan kakinya menuju lemari pendingin kecil di samping tempat tidur. Mengambil sekaleng minuman.

"Tak ada teh, hanya ada kopi jika kau mau…" pemuda itu duduk di hadapan pemuda lainnya, meletakkan kaleng tersebut dan meminum miliknya. Untuk entah keberapa kalinya ia harus menghela nafas. "Yang benar saja Asari, kau harus menyuruhku berbicara berapa kali baru kau mau menjawabku?"

Ugetsu menundukkan kepalanya, sepertinya sebuah pikiran menyergap isi otaknya. "Maaf, aku…"

"Hmph, jangan memaksakan dirimu Asari… ini seperti bukan kau sama sekali."

"Alaude-dono…" berbulir-bulir air jatuh dari kelopak matanya. Pemuda Jepang itu memeluk Alaude. Tentu tak ada ekspresi lain yang ia perlihatkan selain kaget, baru kali ini ada orang yang sangat berani memeluknya. Kecuali pemuda dari keluarga Cavallone.

"Apa-yang-kau-lakukan?" terdengar dalam suara Alaude sedikit nada kesal bercampur kaget disana namun tak di dengar oleh Ugetsu.

"Hiks… huu… Alaude-dono, aku... aku harus bagaimana?" isaknya masih memeluk Alaude.

Pemuda mayonnaise itu mengernyitkan dahinya, "apa maksudmu dengan bagaimana? Dan bisakah kau melepaskanku? Kau membuatku gerah."

Ugetsu melepas pelukannya, namun tangisannya masih dapat dilihat. Tampaknya Alaude harus menunggu sampai pemuda di hadapannya ini selesai menangis. Sungguh, mungkin ini kali pertama ia melihat seorang pria menangis. "Sekarang, katakan… apa maksudmu dengan harus bagaimana, huh?" tanyanya dengan penuh penekanan.

Sang Ame no sugosha menghapus bekas air matanya, suaranya terdengar serak karena sehabis menangis. "Uh… sebenarnya, saya bingung harus bagaimana…"

"Ceritakan…"

"Uh, begini… misalkan, ada sebuah pasangan. Sebut saja mereka A dan B. Suatu hari, si A harus pergi meninggalkan si B, hal itu yang membuat si B sudah tak mengenal arti cinta. Setelah B di tinggal A, akhirnya ia menemukan seseorang yang membuatnya kembali mengenal cinta. Orang itu adalah C." Ugetsu menghentikan sejenak perkataannya.

"Namun, ternyata C dan A adalah sahabat karib. Kembali si B bertemu dengan si A, tapi ternyata keduanya masih saling mencintai. Tetapi B juga mencintai si C, setelah itu… sebuah kejadian tak terduga terjadi. Si C harus menikah dengan orang lain dan B sangat sedih akan hal itu. A menggunakan ini sebagai keuntungan untuk kembali dengan B. Singkatnya, apa yang harus dilakukan oleh si B, siapa yang harus ia cintai? Tak mungkin si B harus mencintai keduanya kan?"

Raut wajah Ugetsu nampak seperti tertekan. Mungkinkah ini yang ada di hatinya? Di otaknya? Ini yang sebenarnya ia ingin utarakan?

Wajah Alaude nampak tak memberikan ekspresi yang berarti. "Tak ada salahnya kau mencintai keduanya kan? Kau harus cari sendiri, di mana hatimu berlabuh…"

"Jadi… anda ingin… tunggu! Kenapa anda tahu jika itu adalah saya?" hampir saja Ugetsu mendapatkan gigitan penuh sayang dari Alaude jika ia tak cepat-cepat menutup mulutnya.

"Mudah saja, selain kau, Giotto, dan G siapa lagi?" ujarnya dengan tangan terlipat di depan dadanya.

Ugetsu tampak sedikit diam, ia menundukkan kepalanya. "Tapi, mana mungkin saya harus mencintai keduanya kan? Ahk! Saya tak mengerti dengan yang namanya cinta!" teriaknya sambil mengacak rambut hitam yang entah sejak kapan topi panjang yang biasa ia kenakan sudah terlepas.

"Hmph, cinta memang membingungkan… tapi lebih baik kau mencari jawabannya di hatimu. Memang aku tak membantumu, tapi… kadang, ceritakanlah padaku apa yang ingin kau ceritakan." senyum tipis terlihat di bibir Alaude.

"Alaude-dono memang baik, walau menyeramkan…" Ugetsu memeluk Alaude, sebenarnya ingin sekali Alaude menggigitnya tapi… sudahlah, hanya untuk sekali ini saja tak ada salahnya.

Alaude menunggu lama, Ugetsu masih terus memeluknya sampai ia merasa kesal sendiri. "Asari Ugetsu, lepaskan tanganmu atau kau akan berakhir di rumah sakit saat ini juga." Tentu pernyataan Alaude ini bukan main-main, dengan cepat Ugetsu melepaskan tangannya dan mundur kebelakang secara teratur.

"Tapi, saya benar-benar berterima kasih. Setelah berbicara dengan anda, saya bias meninggalkan tempat ini dengan lega…" pemuda itu tersenyum, terlihat sangat lembut namun terlihat sedih juga.

"Apa… maksudmu, Ugetsu? Kau akan meninggalkan Vongola?"

Ugetsu tersenyum, "saya… akan pergi ke Millefiore…"

.

.

.

#Renzoku#

Shiki : yoho! Me, balik lagi setelah keluar dari neraka yang namanya UKK! xD

Teito : sempat2nya aniki melakukan hal ini… pantes aja nilainya seperti itu… hmph~

Shiki : kurang ajar! Sudah, mari kita membalas review walau hanya 2 kali ini … /lumayan sedih/ oh ya! Ada yang mau request ga? Ada yg minta rated M? pair GU, 02U atau GU02 tak masalah xDD come, come… ada yang mau ta? xD

Teito : /sigh/ pertama dari… Radiobrain Wlaker-san … G27? Tunggu aniki… kau memasangkan G-san dengan Tuna?

Shiki : nani? Tidak… /menggeleng/

Teito : oh… mungkin itu hanya perasaan anda saja Walker-san ^^ review lagi? ^^

Shiki : lalu, Yamamoto Aiko-san :D terima kasih :D padahal me yakin, chap 3 itu chap yg gagal menurut me QAQ wakakaka~ baguskan? ' 'd Ugetsu emang minta di raep :3 /dhajarmasal/pingin buat GU02/ benarkah, benarkah? /senang~/ sekali lagi terima kasih suadah mau repiu, review lagi? :3

Terbuka Request, minta rated M pair GU, 02U, atau GU02? Silahkan review :3

Special Thnx v all readers :D