Disclaim: KHR punya Amano sensei

Rate: M

Genre: Romance, General

Pair: GU02 (Giotto x Ugetsu x G) Trisam

Warninganeh, gaje, BL, Shonen-ai, Male x Male, Semi AU, ablay, lebay, semoga kalian suka, OOC jangan lupa… dan OC yg berterbangan…^^ Rated di naikkan menjadi M! dengan konten Mature, Lemon, Trisam and still any gaje and hugar(humor garing) ;)

-XXXVXXX- flash back/end flash back

Precipitazioni in Cielo Sereno

Parte 5

.

.

Tak habis ia pikir, bagaimana bisa satu hari tanpa melihat Ugetsu barang sedikit saja? Apa yang harus ia lakukan? Bingung, kepalanya seakan mau pecah akibat terus memikirkan hal seperti itu. Siapa yang bisa menolongnya menuntaskan masalah ini? Tunggu… bagaimana dengan G?

BRAK!

Sebuah gebrakan sukses membuat Giotto menatap kearah pintu tersebut. Tepat, ia melihat G datang dengan wajah yang sangat… geram? Ukh, yang pasti wajahnya sangat menakutkan saat ini.

Giotto menelan ludahnya, "ada apa G?" tanyanya dengan senyuman biasa yang bisa melumpuhkan seekor beruang sekalipun.

G tampak tak terlalu terpengaruh untuk saat ini, ia menggebrak meja kerja Giotto. Bisa di lihat oleh Giotto umur meja itu berkurang dari seharusnya. "Katakan, Primo… mengapa kau mengirimkan Ugetsu ke Millefiore, jika kau tahu seberapa berbahayanya orang itu?" tanyanya dengan pandangan kesal.

Pemuda berambut pirang itu menghela nafas, sudah ia duga pasti G akan menanyakan hal ini. "Itu karena Dio menginginkannya, lagipula ada Azzura di sini. Dia bisa menggantikan Ugetsu sekaligus tameng untuk kita."

"Tapi Ugetsu juga bisa menjadi tameng mereka, Primo. Kau seharusnya memikirkan lebih lanjut apa yang terjadi jika si idiot itu di kirim ke tempat mereka. Bisa, bisa Ugetsu celaka… kalau itu sampai terjadi, aku…"

"Aku mengerti hal itu G, jangan kau anggap aku dengan entengnya menyetujui. Aku juga tak ingin mengirimnya ke tempat mereka…"

"Lalu kenapa kau setuju?" kesabaran G sudah berada di ambang batasnya.

"Karena dengan begitu, Vongola dan Millefiore akan menjalin hubungan dengan baik…" kali ini pernyataan Giotto dapat membuatnya sangat kesal. Biasanya ia patuh saja dengan apa keputusan yang di buat Giotto, tapi sekarang? Pernyataan itu seperti menjual Ugetsu! ia tak senang akan hal itu.

"Yang benar saja, Primo! Kau membuat si bodoh itu dalam posisi yang sulit! Jika jadinya seperti ini, aku tak akan menyerahkan Ugetsu padamu!" pemuda berambut merah itu membalikkan badannya, berjalan menjauh, menuju pintu keluar ruangan Primo. Saat membuka pintu, tak ia sangka ada Ugetsu di baliknya.

Ugetsu tersenyum, menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Sepertinya ia datang di saat yang tak tepat. "Ha-hai, G…" sapanya sedikit merasa takut saat melihat wajah kesal G.

G mengernyitkan dahinya, "Ugetsu? Kenapa kau ada di sini?" tanyanya setelah mengubah wajahnya menjadi biasa.

Giotto yang ada di dalam ruangannya berjalan keluar saat mendengar G memanggil nama Ugetsu. "Ah… Ugetsu! Pas sekali~" ujarnya senang.

G dan Ugetsu mengernyitkan dahi mereka, "pas?" ujar keduanya hampir bersamaan.

Pemuda berambut pirang itu mengangguk, "ayo masuk… ah, jika kau mau masuk lagi tak masalah G." ujarnya tersenyum, ia yakin bahwa G pasti akan masuk lagi jika ada Ugetsu di dalam ruangan tersebut.

Mendengus, keduanya lalu bergerak masuk kedalam ruangan. G duduk di sofa di sebelahnya duduk sang pemuda Jepang yang sedari tadi menjadi topik mereka. Di seberang, Giotto sedang tersenyum menatap kedua rekannya itu.

"Jadi… ada apa?" tanya Ugetsu yang sedari tadi tak mengerti.

Pemuda bermata coklat muda itu tersenyum, tak menanggapi perkataan pemuda berambut hitam di seberangnya. Kesal karena tak di jawab, Ugetsu hanya diam dan tak mengeluarkan suara. Sama dengannya, G hanya diam mentap dengan bosan ke arah Giotto.

"Ugetsu… bisakah kau kemari?" ujar Giotto dengan senyum masih terpancar dari bibirnya.

Pemuda Jepang itu menyanggupi permintaan Giotto, ia berjalan ke arah pemuda Italia. Giotto nampak menepuk pangkuannya, seperti mengisyaratkan Ugetsu untuk duduk di sana. G yang melihat itu mengepalkan tangannya, tak senang akan apa yang ia lihat saat ini.

Dengan sedikit paksaan dari Giotto akhirnya Ugetsu duduk di atas pangkuannya. Giotto juga mengisyaratkan Ugetsu untuk merangkul lehernya. Walau sedikit malu, akhirnya Ugetsu melakukannya.

Hal ini tentu membuat G geram, ia lalu berdiri dari duduknya. Meninggalkan dua orang yang sedang bermesraan. Ia tak habis pikir, apa yang di lakukan Giotto? Melakukan hal seperti itu di hadapannya? Apa pemuda itu tak memiliki otak? Ia juga pernah menjadi kekasih orang yang ada di pangkuannya itu. Mana mungkin ia mau melihat adegan seperti itu, kan?

"Mau kemana G?" tanya Giotto dengan sangat anehnya saat melihat G yang akan keluar dari ruangannya.

"Meninggalkan kalian, sialahkan di lanjutkan acara bermesraan anda." Tanpa menoleh ia kembali menjejakkan kakinya meninggalkan tempat itu.

"Giotto, lepaskan aku…" bisik Ugetsu berusaha melepaskan genggaman tangan orang yang memangkunya.

"Tunggu G, jangan cemburu dulu. Kemarilah… karena hari ini hari terakhir Ugetsu ada di sini, tak ada salahnya kau menemaninya juga, kan?" pertanyaan Giotto itu kembali membuat G kebingungan.

Bukankah jika ia masih ada di sana, ia hanya akan menjadi pengganggu? Kenapa malah Giotto ingin ia ada di sini juga? Ingin membuatnya cemburu karena hanya ia yang bisa menyentuh Ugetsu? Oke, hal itu berhasil membuat G cemburu, jika ini yang diinginkan Giotto mungkin bisa membuatnya puas.

"Memang kenapa ini hari terakhirnya? Lagipula, kuberi tahu satu hal. Aku tak cemburu dengan apa yang kalian lakukan, hanya saja… bisakah kalian tak melibatkanku dalam acara bermesraan kalian itu? Merepotkan…"

"Benarkah? Kau tak akan menyesalkan, G? Kudengar kalian belum melakukan apapun saat pacaran, jadi… tak masalah jika aku yang menjadi orang pertama yang menyentuhnya kan?" Giotto menyeringai saat mengatakannya. Benar dugaan apa yang ia katakan, G dan Ugetsu memang belum melakukannya.

G mengepalkan tangannya, sangat erat hingga mengeluarkan darah. "Kau sebenarnya ingin apa dariku, Primo?"

Bisa di lihat Giotto menyeringai, "aku ingin… kita melakukannya bertiga," ujarnya dengan sangat santai. Entah dia kesambet setan dari mana sampai berani mengatakan hal seperti itu.

Tentu, G dan Ugetsu hanya menampakkan wajah terkejut mereka. 'Apa katanya? Melakukan bertiga? Melakukan apa yang ia maksud?' batin mereka berdua kurang lebih.

Giotto yang juga merasa aneh dengan suasana di tempat itu yang mulai hening sedikit merasa tak enak. 'Ettoo… kenapa mereka berdua diam? Memangnya apa yang kukatakan salah?'

Ugetsu tampak tak mengerti, ia bertanya pada G "G-dono, melakukan bertiga apa maksudnya?" ujarnya dengan nada berbisik.

G tampak menghela sedikit nafasnya, "maksudnya adalah melakukan 'itu' secara threesome." jawabnya singkat.

Kembali pikirannya bertanya-tanya, "melakukan 'itu' secara threesome? Maksudnya?"

Dalam hati, G mengacungkan jempol sambil menangis mendengar pernyataan polos dari orang yang ada di sampingnya itu, "kau ini benar-benar baka, eh? Atau polos?" ujar G tak kalah berbisik, wajahnya sedikit merona ingin menjawab pertanyaan kelewat polos itu.

Ugetsu berpikir sejenak, menatap wajah G yang sedikit memerah. Sepertinya ia mendapatkan jawabannya walau sedikit ragu… jangan-jangan, Giotto ingin…

"Ngg… ada apa? Kenapa kalian berdua terdiam? Memangnya ada yang salah dengan perkataanku?" ujar Giotto dengan wajah tak berdosa.

Kedua pemuda di hadapannya itu lantas langsung menatap kearah Giotto. G yang jauh dari tempat Giotto hanya bisa menggebrak meja, sedangkan Ugetsu yang dekat Giotto mencubit kedua pipi orang yang ada di hadapannya itu. "Jelas salah! Kau, baka Giotto/Primo!" teriak keduanya kesal.

"Eh? Masa? Tapi aku ingin…" ujar Giotto dengan wajah memelas.

Keduanya lumayan tak tega, tapi juga tak mau. "Tidak!" tolak Ugetsu.

"Terserah…" sahut G, sepertinya ia mau-mau saja.

Tampaknya Giotto sedikit merasa senang, tapi tidak setelah melihat senyuman dengan aura hitam terlihat sebagai background Ugetsu. Mau tak mau Giotto harus mengeluarkan jurus andalannya, kitty eyes! Kenapa kitty? Tentu saja kitty adalah image Giotto dan dia benar-benar sangat menyukai kucing! Alhasil nama untuk puppy eyesnya berganti menjadi kitty eyes. Oh, sungguh sangat gaje.

"Tidak, saya tidak mau! Permisi." Ugetsu meninggalkan tempat itu. Ya, G berjalan mendekati sang Primo yang sudah terduduk di pojokkan dengan tampang gloomy miliknya.

Tentu dengan menahan tawa, G menepuk kepala sang boss singkat. "Hei, sebenarnya kau ini kenapa Gio? Tak biasanya kau mengikut sertakan diriku saat kalian berduaan?" ia menernyitkan dahinya, meminta jawaban yang jelas dan cepat dari orang yang ia tanyai tadi.

"Kau tahu G, aku tahu kau masih mencintainya." si pirang mengangguk-anggukkan kepalanya dengan dada tersilang di depan dadanya. "Lagipula… Ugetsu juga masih menyukaimu." Ia tersenyum, tulus, cukup tulus di mata G. Memang ada yang salah dengan orang satu ini.

"Heh, tahu dari mana kau? Jangan asal bicara… suka dengan cinta itu beda… dan, aku tak mau mengambil kekasih dari teman, sahabat, dan keluargaku." Ya, perkataan itu sdikit mengenai Giotto. Oh, dia pasti sengaja mengatakannya. Walau terdengar manis, perkataannya itu seperti langsung menusuk hatinya; satu kata, sakit.

"G, kau enteng sekali ya mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu," ujar si pirang memegang dadanya.

Si pirang kembali duduk di pojokkan dengan tampang gloomy-nya, tentu si merah pun tertawa mengejek. "Kau benar-benar jelek saat seperti itu, Giotto. Sudahlah, aku mau kembali… sebaiknya kau cepat-cepat mengejar si bodoh itu… jaa ne~" G melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Giotto dan meninggalkannya sendiri dengan tampang berpikir.

#GU/02U(?)#

Sungguh, apa yang di pikirkan Giotto tadi? Melakukan bertiga itu maksudnya cosplay bertiga? Memang beberapa waktu lalu aku sempat memesan baju cosplay baru dan sepertinya Giotto ingin mengenakannya, tapi… tunggu! Masa G mau ikutan juga? Bukannya ia biasanya menolak? Waktu aku menyuruhnya mengenakan nekomimi ia tak mau, padahal manis sekali. Ya, yah… sudahlah, hal itu kapan-kapan ku pikirkan.

Kakiku berjalan kembali ke ruanganku, hampir selesai membereskan barang-barangku. Yah, walau ku tinggal beberapa waktu, tapi aku sungguh tak tahu hingga sampai kapan aku berada di Millefiore itu.

Tapi—sampai waktu itu, aku tak bisa melihat tempat ini. Setelah ini akan sedikit berbeda, tak ada keributan tak ada berkas yang berantakan, tak ada Giotto, G, Lampo, dan yang lainnya.

"Oh, Ugetsu? Kau sudah mau berangkat?" suara yang familiar, benar saja dengan apa yang kupikirkan. Alaude-dono melintas dan berhenti di depan pintu kamarku, aku tersenyum melihatnya, seperti biasa dia selalu berekspresi kesal.

"Ah, tidak… baru besok berangkatnya, hari ini membereskan barang-barang yang akan di bawa" aku tersenyum kecil.

Alaude-dono tampak terdiam, entah apa yang ia pikirkan, tapi setelah itu dirinya hanya membalikkan badannya dan pergi entah kemana. Sedikit aneh, tapi begitulah biasanya Alaude-dono.

.

.

"Jadi, Primo… ada apa lagi-lagi anda memanggilku?" ah, entah ada apa Giotto memanggilku. Kalian tahu, sudah keberapa kalinya beliau memanggilku? Empat, bayangkan empat kali itu aku harus berjalan dari jarak yang sangat jauh, dan terperangkap di ruang ini selama berjam-jam dengan sesuatu yang tak ku mengerti alasannya.

Sepertinya ada yang sedikit berubah dari waktu-waktu yang lalu, wajah Giotto tampak serius dan tak dapat di tebak. Apa hanya perasaanku saja?

"Ugetsu, kau tahu… aku menyukaimu?" tanyanya tiba-tiba.

Tak kuasa menahan semburat merah di wajah, aku hanya menunduk. "Mu-mungkin?" entah mengapa terdengar nada gugup di suaraku.

"Kenapa kau menjawab mungkin?" Uh, dia berjalan menujuku. Bisa kurasakan hentakan demi hentakan di lantai yang di akibatkan oleh kakinya. Kenapa aku merasa aneh? Gugup, berdebar namun ada sedikit perasaan takut.

Aku menelan ludahku, keringat tampak meluncur mulus dari pelipis hingga pipi. "Ka-karena aku memang tak tahu…"

Bisa kurasakan tangannya menyentuh pipi lalu daguku, mengangkatnya pelan dengan jari telunjuknya. Turun hingga menyentuh ikat topi yang ku kenakan, melepasnya dengan gerakan lembut hingga rambut panjang yang tak kuikat tergerai ketika topi tersebut sudah berpindah tangan.

"Apa… yang anda lakukan primo? Bisakah anda kembalikan topi itu?" tanyaku, entah kenapa aku menggunakan bahasa sopan di depannya, aneh… biasanya aku melakukannya hanya jika ada orang lain di antara kami.

"Primo?" tanyaku kembali setelah ia acuhkan selama beberapa menit.

Giotto mendesah lelah, apa aku sudah membuatnya lelah? "Kenapa kau menggunakan bahasa sopan di hadapanku, Ugetsu? Apa karena aku mengatakan jika aku menyukaimu di saat seperti ini?" ia menundukkan kepalanya, meremas topiku. Aish, topiku yang berharga… semoga dirimu tak rusak setelah ini.

Untung saja seruling berharga yang selalu ku jaga hingga sekarang ku letakkan di lengan kimono, tidak di topi yang biasa ku lakukan. "Tentu saja tidak Primo, saya melakukannya karena ini perjumpaan terakhir kita" ujarku mantap, kulihat wajah Primo menegang, ia menggigit bibirnya tapi kemudain menghela nafas.

"Baiklah… sampai jumpa lagi Asari Ugetsu… aku akan menanti kedatanganmu…" ujarnya, ia berdiri, berjalan kearahku tapi tak berhenti ia tetap berjalan meninggalkanku yang sebelumnya memberikanku secarik kertas.

Aku membacanya… 'Ku tunggu kau di kamarku nanti malam… jangan terlambat…' aku menoleh, dan Primo sudah tak ada di sana.

.

.

Ugetsu berjalan ke tempat Giotto, sesuai dengan apa yang tertulis di secarik kertas yang di berikan oleh pria itu.

Ia membuka pintu yang ada di hadapannya, "Primo?"

"Kau sudah datang Ugetsu?" sapa seseorang, ya… dia adalah Giotto. Ia sudah menunggu Ugetsu datang ke ruangannya, senyum cerah yang biasa di perlihatkan pria itu merekah, tanpa tahu hal tersebut, Ugetsu masuk tanpa pertahanan.

Giotto menggiring Ugetsu ke meja yang ia siapkan di balkon, pemandangan rembulan yang indah menghujam penglihatannya, angin malam yang menenangkan membelai kedua orang tersebut.

"Bagaimana Ugetsu? Kau suka?" tanyanya dengan senyuman. Ugetsu hanya mengangguk dan kemudian ia tersenyum. "Duduklah…" Giotto menggeserkan tempat duduk untuk Ugetsu, setelah itu ia duduk di tempatnya.

"Minumlah… hanya anggur putih, jangan takut-takut~" ujarnya seraya menatap intens Ugetsu.

Ugetsu yang tak tahu menahu meminum segelas anggurnya, rasa manis dan hangat menghujam kerongkongannya. Beberapa saat setelah meminum anggur tersebut, entah kenapa nafasnya menderu, terasa sangat panas, untung ketika ketempat ini ia tak memakai serta topinya dan jubah putihnya.

Giotto yang berada di seberang hanya tersenyum samar, merasakan angin malam yang menerjang dirinya. Ia menatap Ugetsu, "ada apa Ugetsu? sepertinya kau berkeringat, kau baik-baik saja?" tanyanya dengan nada cemas.

"Ti-tidak apa-apa…" dengan bersusah payah Ugetsu mengeluarkan suaranya.

Giotto mendekatinya, berdiri di belakangnya, ia menatap intens leher jenjang yang berkeringat itu. "Benar kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan suara menggoda tepat di telinga Ugetsu, mendesah kemudian menjilatnya.

"P-primo… ahh…" desahan di keluarkan Ugetsu, matanya terasa berat, pikirannya terasa kosong ia tak bisa berpikir. Sepertinya Giotto telah memasukkan sesuatu di dalam minumannya.

"Sebaiknya kau istirahat saja Ugetsu…" dengan begitu Giotto menggendongnya, merebahkannya di atas tempat tidur miliknya, dan demi tuhan! Giotto melonggarkan kimono Ugetsu, sehingga membuatnya sangat berantakan dan terlihat seksi dengan wajah memerah yang di keluarkan Ugetsu.

"P-primo? Aahh! Aaah… ap—aah… Primhh…" Ugetsu mendesah ternyata Giotto sudah bermain dengan lehernya, mengigitnya pelan dan menjilatnya, memberikan tanda merah yang terlihat untuk beberapa hari kedepan.

Ciumannya lengser ke dada bidang Ugetsu, bermain dengan tonjolan yang berada di sana, mengigit, jilat dan plintir, berkali kali ia melakukannya.

"A-aah… Gio… aah…" Ugetsu menjambak rambut pirang milik Giotto.

Tangan jahil yang tak mau hanya diam akhirnya bermain dengan benda yang berada di bawah, meremasnya dan di rabanya lembut. "Hm~ kau sudah basah ya, Ugetsu…"

"A-aaahh… ah… aaahh…"

Giotto mengeluarkan benda tersebut, berdiri dengan tegak. Tanpa ragu Giotto melahapnya, memaju mundurkan kepalanya mengikuti permainan hingga akhirnya Ugetsu memuntahkan hasratnya keluar.

"Aaaaah! Primo! A-aahh… aah…"

"Wow… kau cepat sekali, Ugetsu…" ujarnya dengan desahan. Tak lupa ia memuntahkan setengah hasrat Ugetsu dan melumurkannya ke ketiga jarinya, sementara setengah yang ada di dalam rongga mulutnya ia telan habis.

"Aaah… Primo… apa yang kau laku—eerrghh…" Ugetsu membelalakkan matanya.

Satu jari Giotto dengan cepat ia masukkan dalam lubang kenikmatan milik Ugetsu, kontan Ugetsu menggigit bibirnya dan menggenggam erat bantal yang tak jauh dari jangkauannya. Dua jari miliknya ia masukkan saat ia rasa Ugetsu sudah mulai terbiasa, di gerakkannya jari-jari tersebut degan liar, berusaha meloggarkan lubang tersebut.

Tanpa segaja Giotto menabrak sebuah titik yang dapat membuat Ugetsu mengeluarkan hasratnya untuk yang kedua kalinya secara bertubi-tubi.

"Aaagh! Di-disana… aah…" desahnya.

"Begitu? Jadi si sini eh? Tapi, maaf Ugetsu… aku sudah tidak tahan…" ujar Giotto mendesah ia keluarkan kedua jarinya, degan cepat ia menurukan zipper celananya, menurunkan serta celana miliknya dan memperlihatkan benda yang sudah menegang dan mengeras.

"Aku mencintaimu Ugetsu… sangat… aku takut kehilanganmu, my ame…" selesai mengatakannya, Giotto menghujam lubang Ugetsu denga bendanya, dengan sekali hentakan benda miliknya telah memasuki lubang hasrat milik Ugetsu.

Setitik air mata keluar begitu saja, ia tak bisa mangeluarkan suaranya akibat rasa sakit yang mendera bagian bawahnya. Setitik noda berwarna merah mengalir begitu saja mengotori seprai, bau anyir darah menggelitik hidung. Keperawanan err… atau keperjakaan Ugetsu sudah diambil oleh seorang don Vongola.

Di gerakkannya dengan pelan, ia mencium bibir Ugetsu untuk mengalihkan perhatian sang ame kepadanya. Desahan demi desahan di keluarkan Ugetsu setelah akhirnya terbiasa dengan benda lain yang memasuki tubuhnya.

"Uhh! Aaahh… hhh… aaaahhnnggg…"

Giotto menggerakkannya semakin lama semakin cepat, degan cepat ia mengganti posisi mereka, ia memangku Ugetsu di pangkuannya, mereka tak berhadapan Giotto membiarkan Ugetsu membelakanginya.

Derap langkah berat terdengar semakin mendekat, tadinya Ugetsu mengacuhkannya tidak sebelum akhirnya derap itu berhenti tepat di pintu kamar Giotto. "G-giotto… ada orang… nngghh…" rintihya.

"Kau ingin menghentikannya Ugetsu?" bisik Giotto.

"Ta—aaahh…"

"Primo! Ada apa kau memanggilku?" ujar suara di seberang ruangan, berkali-kali ia mengetuk pintu ruangan atasannya tanpa jawaban membuatnya ingin berteriak, tentu ia tahu bahwa Giotto ada di dalam.

"Masuk saja G… kita bisa berbicara di dalam…" ujar Giotto setengah berteriak. Dan hal itu membuat Ugetsu menatap Giotto tak percaya.

"Baiklah aku masuk…" pintu terbuka, terbelalaklah mata merah G.

Kaget… ia sangat kaget, ia tak percaya apa yang ada di hadapannya. "P-primo? Apa-apaan ini?" tanyanya berharap ini semua hanya mimpi.

"Ja—ngan nnh… lihat… Ji—G…" rintih Ugetsu, Giotto menggerakkan bendanya, ia menahan pinggang Ugetsu, menggerakkannya agar sesuai ritme gerakannya.

"Hai, G… kau ingin bergabung?"

"Ap—apa maksudmu Primo!" G sudah tak dapat menyembunyikan kekesalannya, ia benar-benar ingin mengamuk saat ini.

Giotto menghentikan gerakannya, melebarkan lubang milik Ugetsu yang masih menelan benda miliknya. "Kau pasti mengerti maksudku… kulihat, kau juga sudah tak dapat menahannya, kan?" ujarnya tepat saat ia melihat benda milik G sudah meraung minta di keluarkan dari tempatnya.

"Aaahh… aaahh! Aaahh!"

"Cih, aku tidak mau!" elaknya walaupun sebenarnya ia sangat ingin sekali menghujam lubang Ugetsu dengan miliknya.

"Benar, kau tak mau?" Giotto menyeringai saat ia melihat G sudah gemetaran. "Lihatlah G… sepertinya Ugetsu juga sangat menginginkan milikmu…"

"Ji—G… aah! Aaah…"

"Kau yang minta Ugetsu!" ia berlari menerjang, Giotto pun menampakkan seringaiannya.

G mencium bibir Ugetsu, seperti tak ada hari esok untuk menikmatinya. Perlahan ia memasukkan bendanya kedalam lubang Ugetsu walau sebenarnya masih ada benda milik Giotto yang bersarang namun apa daya, ia tak bisa menahannya lagi.

Ugetsu membelalakkan matanya saat ia merasakan benda G memasukinya, rasa sakit kembali di rasakan Ugetsu ia berteriak sekeras yang ia bisa, dan pada akhirnya suara yang sangat miris tersebut tergantikan oleh desahan-desahan saat tanpa sengaja benda milik Giotto dan G menekan titik ternikmatnya.

Berkali-kali mereka melakukan hal sama, keluar masuk hingga Ugetsu mengeluarkan hasratnya untuk kesekian kali. Titik klimaks sekarang menghujam Giotto dan G, mereka dengan intens memainkan benda milik Ugetsu agar mereka bisa keluar bersama, menumpahkan hasrat milik mereka.

Dan akhirnya klimaks di rasakan ketiganya, Giotto dan G menyemprotkan hasrat mereka di lubang Ugetsu, sedangkan pria itu sudah terkulai lemas dan tertidur begitu saja.

"Ah… dia pingsan…" ujar Giotto dengan senyum manisnya.

G mendengus, "itu salahmu kan?" ujarnya ketus.

"Hei, bukan hanya salahku… tapi kau juga…" sanggah sang don Vongola, ia merebahkan dirinya di samping Ugetsu. "Aku juga ingin tidur… oyasumi…"

"Hm, buona notte…" G pun merebahkan dirinya sebelumnya ia kecup ringan bibir Ugetsu. "Oyasumi, Ugetsu…" akhirnya mereka tertidur dan terbawa sang pembuai mimpi.

.

.

-Suzuku-

.

.

Huaaaarrgh! Sugoii desu! Gimana trisam yang me bikin? Anehkah? Gaje kah? Taukah… me bikin draft sebelum yg rated M berbulan-bulan yang lalu… dan entah mengapa me bisa dengan cepat menyelesaikan bagian yg rated M dalam satu hari entah kenapa pikiran me sedang yadong-yadongnya mesum akut mode, untunglah bukan bulan puasa bikinnya… err… tapi… masih berniat untuk me REVIEW kan? Silahkan di review atau flame, asal flame yg membangun ;)

Yup! Makasih yg udah review… reviewan anda sangat membantu member semangat~ oh, me mau menyampaikan sesuatu… tidak ada review kurang lebih 4 tdak akan me lanjutin lagi~ ^^ saa… sampai jumpa lagi ;)