Disclaim: KHR punya Amano sensei

Rate: T

Genre: Romance, Drama

Pair: DioScevola (10051)

Warninganeh, BL, Shonen-ai, Male x Male, Semi AU, ablay, lebay, semoga kalian suka, OOC jangan lupa… dan OC yg berterbangan…^^ Rated turun jadi T and still any gaje and hugar(humor garing) ;)

-XXXVXXX- flash back/end flash back

Precipitazioni in Cielo Sereno

Parte 6

.

.

Pagi begitu cerah, bahkan bisa terdengar suara burung berkicau yang menandakan pagi hari telah datang dan mencoba untuk membangunkan seluruh manusia agar ikut merasakannya. Di suatu ruangan, lebih tepatnya kamar. Terlihatlah tiga orang yang tertidur di satu tempat tidur dengan selimut yang masih menutupi tubuh mereka. Kelelahan akibat apa yang mereka lakukan semalam.

Pemuda yang berada di tengah, pemuda dengan rambut panjang hitam dengan wajah yang menunjukkan jika ia orang asia. Tampak terbangun, mungkin karena sudah saat-nya ia untuk bangun. Pemuda bernama Asari Ugetsu itu melihat ke samping kiri dan kanannya, sepertinya ia tak membangunkan kedua orang itu.

'Tsk! Berlebihan sekali, rasanya pinggulku nyeri' batin Ugetsu melihat G. dan Giotto yang masih tertidur di sampingnya. Ia bergegas untuk bangun dan mandi, bersiap meninggalkan Vongola menuju Millefiore.

Beruntung keduanya tak terbangun saat ia turun dari tempat tidur, ia kemudian berjalan menuju kamar mandi. Beberapa saat setelahnya ia mengenakan baju yang sudah ia siapkan. Sepasang Jas hitam dengan kemeja biru dan celana panjang berbahan kain hitam.

Mengikat rambut hitamnya ke belakang, dan tak mengancingkan jasnya serta ia tak menggunakan dasi. Bukannya tak mau dan memang seperti itu penampilannya dalam balutan jas, tapi ia tak bisa dan tak pernah mengenakan baju itu kecuali ada perjamuan resmi. Pasti selalu G. yang memakaikannya dasi.

Tanpa meninggalkan apapun, ia keluar dari kamarnya, membungkuk sekilas di depan pintu yang belum ia tutup, dan kemudian melanjutkan perjalanannya setelah menutup pintu ruangannya. Dengan membawa satu kopor besar, ia melanjutkan perjalanannya menuju tempat Millefiore.

Sebenarnya ia tak begitu tahu dimana tempat itu berada, beruntung setelah keluar dari Markas Vongola ia melihat Novanta dan Bufera di depan sebuah mobil hitam pekat. Novanta tersenyum sekilas melihat Ugetsu. Dan Ugetsu membalas senyuman itu.

"Selamat pagi, Novanta-dono dan Bufera-dono," ujarnya berbasa-basi. Walau ia tahu tidak ada tanggapan dari Bufera.

"Selamat pagi Ugetsu, o-ho~" Novanta membalas salam dari Ugetsu dan membuka pintu mobil itu. "Anda pasti lelah sekali semalam, benar?" ejek Novanta dengan seringai yang kentara di bibirnya, ia melihat cara jalan Ugetsu yang tak biasa, yah, dirinya hanya berspekulasi apa yang telah di lakukan Giotto kepada salah satu Guardiannya ini.

Seketika wajah Ugetsu memerah, sepertinya Novanta bisa tahu apa yang ia lakukan semalam. Ugetsu mencoba untuk mengembalikan rona wajahnya seperti semula. Berdeham terlebih dahulu sebelum menjawab, "Hahaha~ begitulah," ujarnya tak memberikan jawaban yang jelas untuk Novanta.

"Cepatlah Novanta, aku sudah lelah berdiri seperti ini. Aku ingin cepat-cepat kembali ke markas!" kali ini Bufera memotong perkataan yang akan di lontarkan oleh Novanta. Sedangkan pemuda berambut keriting dan berwarna hijau itu menatap Bufera sekilas sebelum akhirnya menuntun Ugetsu untuk memasukkan barangnya di bagasi.

"Baiklah, baiklah… tak usah berteriak Bufera, aku masih bisa mendengarmu." Novanta melirik sekilas pada Bufera dan kembali tatapannya tertuju pada Ugetsu, sedangkan pemuda asia itu sudah masuk kedalam mobil, ia hanya menutup pintu di samping Ugetsu. Ia sendiri duduk di kursi pengemudi di susul oleh Bufera yang duduk di sampingnya.

Mobil berjalan meninggalkan Vongola dan melaju menuju Millefiore. Sepertinya Ugetsu tak terlalu tertarik melihat Markas Vongola yang akan ia tinggalkan beberapa saat itu. 'Sampai jumpa, G.'

Ia tak akan tahu, setelah ia meninggalkan Vongola, semuanya akan berubah.

.

.

G. terbangun dari tidurnya, tubuhnya terasa lengket. Ah, ia ingat apa yang ia lakukan semalam, dan hal itu membuat rona di wajahnya semakin memerah. Ia duduk di atas tempat tidur Ugetsu, menoleh kan kepalanya ke kanan, ia tak melihat Ugetsu di sampingnya. 'Sudah pergi… Aku bahkan belum sempat mengatakan apapun padanya,' batin G. ia kemudian berdiri dan membersihkan dirinya sebelum meninggalkan kamar Ugetsu.

Keluar dari kamar Ugetsu dan menguncinya, kamar itu sepertinya tak akan di gunakan lagi sebelum Ugetsu kembali. Karena ia tak akan mengizinkan masuk kedalam kamar itu, kamar milik Ugetsu. Toh, Azzura bisa menggunakan kamar Giotto dan ruang kerja lain. Di markas itu banyak sekali tempat bahkan beberapa yang masih kosong.

"Ugetsu…" ujarnya lirih.

.

.

Beberapa bulan sudah ia lalui di Millefiore, ia juga sudah terbiasa dengan tugas-tugasnya. Dio juga tak banyak mengganggunya, mungkin hanya sesekali ia mendapati pemuda pecinta marshmallow itu menyuruhnya untuk mencari seseorang, entah itu untuk hal iseng atau hal lain.

"Dio-dono, sebenarnya… untuk apa anda menyuruh saya mencari Scevola dan Brizio?" tanya pemuda asia itu, sepertinya ia penasaran sekali dengan dua orang yang saat ini sedang di cari oleh Dio.

Dio memperlihatkan cengiran khasnya, "Ne, ne~ Ugettchi~ tugasmu hanya mencari mereka berdua, jadi, tak usah terlalu memusingkan siapa mereka berdua, ne?" ujarnya dengan menunjukkan cengirannya.

Ugetsu menghela nafasnya, jadi orang ini tak ingin ia tahu siapa kedua orang yang di cari olehnya? "Baiklah, aku tak akan bertanya lagi…" ia kembali ketempatnya, seperti biasa, Dio selalu menghabiskan waktunya di ruangan Ugetsu. Sepertinya ia tak sabar mengenai kedua orang yang di percayakan kepada Ugetsu untuk mencarinya.

Kembali Ugetsu berkutat pada pekerjaannya, sedangkan Dio hanya duduk dan memakan marshmallow-nya di sofa tak jauh dari tempat Ugetsu. "Ini…" ujarnya saat melihat sebuah berkas, sepertinya ia menemukan orang yang mereka cari.

Tertarik dengan apa yang di dapatkan oleh Ugetsu, Dio akhirnya meninggalkan sofa yang ia duduki tadi. "Ada apa, Ugettchi~?" tanyanya.

"Dio-dono… sepertinya saya sudah mendapatkan informasi tentang kedua orang yang sedang kita cari." Ugetsu menatap Dio yang senyumnya kini telah menghilang dan diganti oleh wajah serius yang jarang sekali ia perlihatkan.

Dio menunggu Ugetsu untuk melanjutkan perkataannya, Ugetsu-pun menghela nafas sebentar. "Mereka berada di Jepang, saya tidak tahu jika keduanya sudah beraliansi dengan Vongola… jadi, kemungkinan mereka berada di markas Vongola yang berada di Jepang."

Kembali cengiran khas terlihat di bibir Dio, "Bagus~ baiklah, Ugettchi~ kau ikut denganku, karena kau yang tahu di mana markas Vongola di Jepang sana~" ujar Dio memutuskan. Ugetsu terlihat tak suka dengan keputusan Dio, menyuruhnya ikut ke Jepang? Yang benar saja.

"Saya, ke Jepang bersama anda?" ujarnya ingin mengkonfirmasi apa yang di katakan oleh Dio, bisa saja ia salah dengar.

"Apa kau tuli, Ugetsu? Tentu saja kau harus ikut denganku ke Jepang." Dio kembali mengulang perkataannya walau terdengar suara yang sedikit terdengar ketus di telinga Ugetsu.

"Baiklah…" kali ini Ugetsu menyerah, sepertinya memang sudah saatnya ia kembali ke Jepang, Negara yang sudah memberinya mimpi buruk itu.

.

.

Jepang, Markas Vongola…

"Dio-san…" seorang pemuda dengan rambut berwarna merah bata dan sebuah kacamata yang menghiasi wajahnya. Scevola Uberto nama pemuda itu, orang yang sejak dulu dicari oleh Dio. Scevola juga, tampaknya sangat menrindukan Dio, tetapi ia tak berani kembali ke Italia, kembali ke tempat Dio. Sebenarnya ada hubungan apa di antara keduanya?

"Scevola… Scevola~ hoooi~!" sebuah suara mengagetkan Scevola dari lamunannya, ia melihat belakangnya, ternyata sahabatnya sudah sampai.

"Maaf Brizio, aku tak tahu kau sudah sampai…" sebuah senyumah nampak di bibirnya.

Pemuda bernama Brizio, tampak mengangguk, dan setelahnya ia memberi sebatang permen berasa strawberry kepada Scevola. Brizio sepertinya mengerti apa yang sedang di lamunkan oleh Scevola, ia sudah hapal siapa orang itu, ya, Boss dari Millefiore, dan teman sejak masa sekolah Scevola, dan tentunya orang yang di cintai oleh pemuda berambut merah bata itu. Dio.

"Jika kau merindukannya, sebaiknya kau kembali ke Italia, biar di sini aku yang urus…" ujar Brizio memberi gagasan. Yang kembali di tolak dengan gelengan kepala oleh Scevola. "Jangan paksakan dirimu…" ujarnya menambahkan saat melihat raut sedih nampak di wajah Scevola, teman baiknya.

"Aku tak memaksakan diriku, Brizio." Scevola meninggalkan Brzio dengan Robot Gola Mosca-nya. Mendekati jendela terdekat yang ada di ruangan itu, menatap langit dengan wajah sendu, 'Dio-san…'

.

.

"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Sce-chan~" Dio tak bis berhenti untuk menyeringai setelah pesawat yang di naikinya mendarat di bandara. Meneliti bandara itu dengan seksama, dan pandangannya kembali kearah Ugetsu. pemuda yang dilihatnya sepertinya sama sekali tak menyadari jika Dio sedang menatapnya.

'Jepang… Sudah lama sekali aku tak kemari, tempat penuh kenangan…' batinnya miris, pikirannya kembali lagi di beberapa tahun yang lalu.

"Ugettchi~ kau ingin menunggu apa di sana? Kau tak lupa kenapa kau datang kemari, kan~?" tanya Dio saat Ugetsu tak mengikuti jejaknya yang sudah akan berjalan meninggalkan bandara itu menuju taksi terdekat.

Mendengar Dio memanggilnya, mau tak mau Ugetsu melangkahkan kakinya mengikuti langkah pemuda Italia itu. Memasuki sebuah taksi yang kemudian membawanya ke alamat yang telah ia katakan pada sang supir taksi.

"Hmm~ kenapa kau jadi pendiam seperti ini, Ugettchi~ apa kau ada masalah atau kau rindu dengan kekasihmu di Italia~?" tanyanya dengan nada yang sebanrnya tak tertarik untuk mendengar jawaban, tetapi, daripada diam saja di tempat itu, bukan?

Terdengar suara tarikan nafas yang lumayan panjang oleh Ugetsu, ia melirik sekilas pada Dio. "Saya tidak punya kekasih di Italia begitu pula dengan masalah, hanya… sudah lama saya tak kembali ke Jepang" ujarnya menjawab pertanyaan Dio.

Dio menyeringai, "Begitu~ Jadi kau merindukan tempat kelahiranmu ini~? Ternyata kau bisa melankolis sekali, ya, Ugettchi~"

Keduanya merasakan taksi yang di tumpanginya telah berhenti di sebuah rumah dengan halaman yang luas. Bisa di perkirakan jika mereka sudah sampai di Markas Vongola yang berada di Jepang. Tak jauh berbeda dengan yang berada di Italia, sama-sama luas. Salah satu penjaga pintu tampak mendekati keduanya, rasanya, Ugetsu mengenal orang itu.

"Kojirou?" ucapnya sedikit ragu.

Orang yang di panggil Kojirou tampak kaget dan mendongakkan kepalanya, "Ti-tidak mungkin… Apa aku salah lihat? U-Ugetsu-sama!" teriaknya kegirangan bercampur tak percaya.

Pemuda dengan surai hitam dan bermata coklat madu itu dengan segera memeluk Ugetsu yang berada di depannya. Sepertinya sangat senang dengan kedatangan sang Ame Hito. "Ugetsu-sama! Ugetsu-sama! Aku merindukanmu!" teriaknya masih dengan memeluk Ugetsu. Sedangkan Ugetsu sedikit kaget dengan apa yang di lakukan oleh Kojirou.

"Oi! Kojirou! Apa yang kau lakukan, berteriak-teriak seperti i—…" seorang lagi anak buah yang sepertinya sedang berpatroli mendengar suara jeritan Kojirou yang sangat keras, mendatangi tempat ketiganya berada dan sepertinya kembali Ugetsu membuat pemuda ini terdiam kaku di tempatnya karena tak percaya dengan apa yang di lihatnya.

"Yo, Jirou…" sapa Ugetsu masih dalam keadaan di peluk oleh Kojirou yang bertubuh mungil.

Jirou nama pemuda itu, berlari dengan cepat menuju Ugetsu. Dengan tubuh yang sama besar dengan dirinya –karena sekarang Ugetsu telah tumbuh lebih besar dari yang dulu– dan dengan kecepatan seperti ingin men-tacle dirinya yang dalam keadaan tak bisa bergerak, terlihat menakutkan di mata Ugetsu.

"Matte… matte, Jirou! Chotto matte yo!" teriak sang Ame Hito, walau pada akhirnya ia tak bisa menghentikan Jirou yang telah men-tacle atau sebenarnya Jriou hanya ingin memeluk dirinya. Lumayan sakit sebenarnya. "Itte…" erang Ugetsu, kini dua orang telah bergelayutan di tubuhnya.

"Ugetsu-sama~" ujar keduanya. Dio yang diam tak menolong Ugetsu akhirnya tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah Ugetsu yang seperti, Ini-adalah-ajal-ku-kami-sama.

"Ekhem! Dio-dono… apa yang anda tertawakan?" tanyanya tak senang melihat Dio yang sepertinya puas dengan tawa yang ia hasilkan.

Masih kurang bisa menahan tawanya, akhirnya Dio memutuskan untuk mendekati tembok dan memukul-mukul permukaan tembok itu karena ia tak bisa menghentikan tawanya saat ini. "Demi Tuhan di atas sana… Wajahmu benar-benar lucu, Ugettchi~ coba kau lihat wajahmu itu~"

"Ya! Siapa kau?! Seenaknya memanggil Ugetsu-sama seperti itu!" ujar Kojirou sedikit nyolot. Beruntung, karena hal itu Ugetsu bisa bernafas dengan normal walau sebentar karena Jirou masih memeluknya.

Masih mencoba untuk menenangkan tawanya, Dio menghirup dan menghela nafas beberapa kali. "Ou~ aku? Aku Boss Millefiore~" ujar Dio dengan seringaiannya.

Kojirou dan Jirou seketika dalam Mode War mereka. Siapa yang tidak tahu Millefiore? Famiglia yang dengan seenaknya menyerang Vongola, Famiglia yang mencari gara-gara dengan Famiglia terbesar di Italia, datang ke Jepang tepatnya ke markas Vongola bagian Jepang? Sendirian tanpa pengawalan, seperti masuk kedalam kandang Singa.

"Ugetsu-sama, tolong berlindung di dalam. Biar kami yang mengurus Pria ini!" ujar Kojirou seraya melindungi Ugetsu.

"Koji—…" belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Jirou sudah memotongnya.

"Ugetsu-sama, cepatlah! Pria ini sangat berbahaya!" teriak Jirou sama dengan Kojirou, ia juga dalam Mode War miliknya.

"Kojirou! Jirou! Hentikan kalian berdua, Dio-dono adalah tamu kita, saya yang mengajaknya kemari. Jadi, tenanglah… dia tidak berbahaya selama Orang itu masih ada di sini…" kali ini akhirnya Ugetsu bisa menyelesaikan kalimatnya. Beruntung keduanya langsung mematikan mode mereka masing-masing dan mempersilahkan Dio dan Ugetsu masuk kedalam.

"Heheheh~ mereka lucu juga~" kekeh pemuda Italia itu. Membuka bungkusan marshmallow yang ia ambil di tasnya, mencomot satu dan memakannya. "Kau mau marshmallow, Ugettchi~?" tawarnya seraya menyodorkan bungkusan yang baru ia buka.

Dengan tulus Ugetsu menolak tawaran Dio, "Tidak terima kasih, mereka tidak akan seperti itu jika anda tidak mengeluarkan hawa tak mengenakkan seperti itu…" ujarnya.

Kembali Dio terkekeh, "Salahkan tampang mereka yang sepertinya menarik untuk di goda." Hening sesaat sebelum Dio kembali membuka mulutnya. "Jadi, dimana Dia?" tanyanya dengan raut wajah serius.

Ugetsu melirik sekilas pada Dio, "Dia ada di lantai atas, mungkin masih ada di ruangannya…" ujarnya sedikit yakin, karena tak ada suara ledakan hingga saat ini. Mempercepat jalannya, menunjukkan jalan yang ia ingat adalah ruangan Orang Itu. Menaiki tangga dan kembali berjalan di sebuah lorong hingga akhirnya ia sampai di sebuah pintu. Pintu berwarna coklat tanpa ukiran.

"Di sini kah?" Dio tampak memperhatikan pintu coklat itu. Menganggukkan kepalanya saat Ugetsu bersiap untuk membuka pintu coklat tersebut.

Sebuah ruangan yang cukup luas terlihat setelah pintu kecoklatan itu terbuka, memperlihatkan dua orang yang sedang meneliti sebuah robot yang bisa diketahui sebagai Gola Mosca.

Dio menunjukkan seringaian di bibirnya, akhirnya ia menmukan pemuda yang ia cari. "Sce-chan~" ujarnya di ambang pintu.

.

.

Italia di waktu yang sama…

"Argh! Aku bosan dengan semua ini…" frustasi, saat ini Giotto tampaknya frustasi dengan pekerjaannya yang tak ada habis-habisnya. Kembali ia memandang langit mendung di luar sana. Sebentar lagi pasti akan hujan.

Membicarakan hujan… ia rindu dengan Ame Hito-nya. Pemuda asia dengan pakaian khas Negri Sakura, dan kehebatannya dalam memainkan Sakuhachi. Seruling Jepang. Dimana sekarang pemuda itu? Apakah ia baik-baik saja di Millefiore?

Bisa saja ia pergi ke Millefiore dan menemui Ugetsu. Tetapi, Ugetsu pasti sama sibuknya dengan dirinya. Mungkin kalian bertanya mengapa Giotto bilang ke Millefiore? Bukankah Ugetsu sekarang berada di Markas Vongola bagian Jepang? Tentu saja itu semua karena Ugetsu maupun Dio tak mengatakan apapun pada Pria bersurai pirang itu.

Tak ayal jika saat ini Giotto sangat ingin pergi ke Markas Millefiore dan menerjang Ugetsu. Beberapa bulan tak bertemu pasti dia sudah sangat berbeda, banyak berubah ataukah masih sama seperti dulu? Bahkan Giotto tak tahu jika saat ini Ugetsu sudah tak mungkin bisa menjadi Uke-nya, karena perubahan tubuh Ugetsu yang sangat drastis selama beberapa bulan ini.

Di tempat lain bahkan G. yang biasanya tak akan peduli dengan Ugetsu kini beberapa kali kita bisa melihatnya sedang melamun. Ah, mungkin hanya saat hujan datang saja, mungkin? Karena, hujan mengingatkannya pada Ugetsu. "Ugetsu… kau bodoh… aku rindu dengan masakanmu!" kembali seseorang terlihat frustasi.

Kembali di depan sebuah jendela besar, seekor burung hantu berwarna putih memperhatikan ruangan di dalamnya. Memperlihatkan sang penguasa Vongola, Giotto sedang melamun seraya memperhatikan hujan, tanpa menyadari adanya sang burung hantu yang masih memperhatikannya. "Giotto…" lirih sang burung hantu.

Burung hantu dengan bulu tak biasa dan kedua bola mata yang berbeda. Sudah bisa di perkirakan jika burung hantu itu adalah Mukurowl, milik Spade.

.

.

"Akhirnya aku menemukanmu, Sce-chan~" ujar Dio masih di ambang pintu. Ugetsu menunggu di dekat pintu masih menahan pintu itu agar tak tertutup dan mengenai Dio yang masih tetap diam di ambang sana.

Bisa di perhatikan jika pemuda berambut merah bata, membelalakkan matanya melihat kehadiran Dio di hadapannya saat ini. Pria yang ia rindukan, serta orang yang selama ini ingin ia temui tetapi tak bisa. Saat ini berada di depannya dengan senyum seperti biasa dan sebungkus marshmallow kesukaannya.

"Dio-san…" ujarnya tak percaya, kakinya melangkah untuk mendekati Dio. Takut jika apa yang ia lihat hanya ilusi semata. Ia tersenyum saat ia bisa menyentuh Dio dengan tangannya. Memeluknya dan merasakan kehangatannya. "Dio-san… Dio-san… aku merindukanmu…" Dio membalas pelukan Scevola, menepuk-nepuk kepalanya dan mengelus punggungnya.

Ugetsu sedikit mendorong Dio agar masuk dan dia bisa menutup pintu itu, tahu jika ia sudah tak di butuhkan, Ugetsu akhirnya memutuskan untuk mengelilingi Markas Vongola ini. "Brizio-dono, sepertinya keduanya mengusir anda juga…" ujar Ugetsu melirik pada Brizio yang mengikutinya di belakang.

Brizio dengan permen batang yang di kulumnya, sedikit menarik sudut bibirnya ke atas. "Aku tak ingin mengganggu Scevola bersama Dio… Dia begitu merindukan orang itu, jadi, aku tak ingin mengganggu…"

"Sama dengan saya, sepertinya… Tertarik mengelilingi tempat ini bersama saya?" tawar Ugetsu, daripada ia bosan di ruangannya. Dan sepertinya Brizio menyetujui gagasan Ugetsu saat ini, ia tak ada pekerjaan di ruangannya sendiri, Gola Mosca juga ia tinggal di kamar Scevola.

.

.

To be Continued…

A/N : yaaa~~ akhirnya gw memutuskan untuk melanjutkan penpik ini… ga enak juga ternyata punya tanggungan penpik…

Oke, mungkin kalian bertanya-tanya siapa sih Scevola, siapa itu Brizio, bahkan siapa itu Dio? Scevola, bisa di katakan jika dia adalah Shoichi Irie, Brizio, seperti yang kalian tahu, jika dia adalah Spanner di jaman Primo sana. Sedangkan Dio, mungkin juga, kalian bisa tahu siapa dia~ Yep, mungkin itu saja… masih ada yang berkenan membaca?

Review~ RadioBrain Walker: huhuhu~ yah, Ugetsu emang di buat Uke untuk saat itu, tapi~~ beneran dia bakalan jadi uke? Kekekek~ ^^ Makasih udah Review, dan nunggunya… Review lagi? ^^

06/07/2012