Disclaim: KHR punya Amano sensei
Rate: T
Genre: Romance, Drama
Pair: UgetsuKyoko, SpadeGio
Hati-hati dengan FlashBack dan Waktu tepatnya
Warning… aneh, BL, Lil Straight, Semi AU, ablay, lebay, semoga kalian suka, OOC jangan lupa… dan OC yg berterbangan…^^ Rated sedikit naik jadi T+ and still any gaje and hugar(humor garing) ;)
Precipitazioni in Cielo Sereno
Parte 7
.
.
Kembali di pagi hari yang cerah, namun berbeda kali ini. Tempat kali ini bukan lagi kamarnya yang berada di Italia Millefiore maupun Vongola. Ya, ia tahu tempat ini. Markas cabang Vongola yang berada di Jepang.
Saat ini Ugetsu dan Dio, berada di Jepang untuk menemui dua orang. Yah, sebenarnya hanya seorang, toh, awalnya juga, Dio hanya ingin bertemu dengan Scevola bukannya Brizio. Daripada membahas itu, sebaiknya kita pindah setting.
Sebuah tempat yang sangat indah, penuh pepohonan dan sebuah danau yang menghiasi, danau dengan air jernih yang sangat indah. Udara segar di pagi hari, dan di temani langit biru yang indah jarang awan, serta matahari yang masih terlalu dini untuk menyengatkan hawa panasnya. Ya, di sebuah taman ini, pemuda Jepang kita sedang bercengkrama dengan suasana di sini.
Sepi, namun nyaman, mungkin karena taman ini berada di wilayah Vongola makanya jarang sekali ia melihat orang lewat sekedar olahraga atau jalan-jalan di tempat ini. 'Hhh… Jepang, sudah lama sekali…' batinnya miris, mengingat kejadian apa saja yang telah ia alami di Negara kelahirannya ini.
'Tempat pertemuan…' ya, pertemuannya dengan Giotto hingga akhirnya ia bisa berada di Vongola dan bertemu dengan G. 'Tempat perpisahan dan kehilangan…' ia masih ingat dengan baik kejadian di saat keluarganya di bantai dan G. meninggalkannya. 'Dan beberapa kisah yang… sulit untuk kuingat…'
'G… bagaimana kabarnya saat ini? Aku merindukanmu…' kenapa harus G.? Bukankah ia menyukai Giotto? Kenapa bukan nama Giotto atau wajah Giotto yang ia ingat? Apakah karena Jepang tempat paling banyak kenangannya dengan G., begitu?
Jika boleh ia berharap, ya, ia ingin berharap jika karena Negara inilah, bukan karena hal lain.
Ia melangkahkan kakinya, ke suatu tempat yang bahkan ia tak ketahui, hanya mengikuti instingnya dan keinginan tahu yang berada di benaknya. Apa yang akan ia temukan di taman ini jika ia tersesat?
Dan… suara debaman yang cukup untuk di dengar olehnya dan seseorang yang ia tabrak yang dapat mengembalikan pikirannya ke dunia nyata. "Ah! Maaf, apa anda baik-baik saja? Tidak ada yang terluka, Nona?" ujarnya cukup khawatir dengan mengulurkan sebelah tangannya untuk membantu gadis itu berdiri.
Gadis itu sedikit ragu saat menerima uluran tangan dari Ugetsu, tapi ia juga tak enak jika menolak uluran tangan dari seseorang dengan wajah khawatir seperti itu. Gadis itu tersenyum manis, sangat manis sampai-sampai Ugetsu tak bisa melepaskan pandangannya dari gadis itu. "Terima kasih…" ujarnya menyadarkan Ugetsu.
"Ah, eh… ya. Sama-sama" kali ini Ugetsu membalas, dengan sedikit canggung dan terbata karena ketahuan menatap sang gadis dengan tatapan yang aneh. Ia bisa melihat sang gadis tertawa kecil, tunggu… rasanya ia mengenal gadis ini. "Kyoko… Kyoko-san?" ujarnya memastikan.
Gadis itu terlihat kaget saat sebuah nama meluncur mulus dari bibir Ugetsu. "Kenapa anda bisa mengenal saya?" ujar gadis itu, ya, ternyata Ugetsu tak salah mengenali, seseorang yang sudah menolongnya dulu.
Ugetsu tersenyum, terlihat tampan juga sedikit manis. "Lama tidak berjumpa, Kyoko-san… saya, Ugetsu… Asari Ugetsu…"
.
.
"Aaah~ bosaaan~ Sce-chan… bisakah kita sekedar jalan-jalan di kota untuk melepaskan kebosanan ini?" rengek Dio di sofa terdekat tempat Scevola saat ini. Saat ini, Dio dan Scevola sedang berada di ruang bawah tanah, tempat eksperimen Gola Mosca berada.
Scevola menghentikan kegiatannya dan menolehkan pandangannya pada Dio, sebelumnya ia menghela nafas sebentar dan mengacak pinggangnya. "Maaf, Dio-san, saat ini aku harus menyelesaikan Gola Mosca terbaru kami. Jika tak selesai hari ini, kami tak bisa mengejar Dead Line Gola Mosca rancangan baru yang lain…"
Seperti tak mendengar perkataan Scevola, Dio kini telah menikmati Marshmellow kebanggaannya, dan juga benda yang sudah menjadi Tread Mark seorang Dion, Millefiore 1st. Terlihat frustasi, dan sedikit kesal, Scevola melanjutkan pekerjaannya menangani sirkuit Gola Mosca.
Beruntung Brizio tak ada di tempat itu, karena pemuda itu tak ingin mengganggu kegiatan Scevola tentunya, toh saat ini bukan bagiannya mengurusi Gola Mosca karena masih banyak Gola Mosca yang membutuhkan sentuhannya.
.
.
Italia saat itu…
Giotto tampak giat mengerjakan pekerjaannya, oh, segiat apapun Giotto pada akhirnya ada batasnya juga. Ia membanting pena miliknya di lantai kemudian mengambilnya kembali dan meletakkannya di meja. Ia tak menginginkan teriakan dari para pengurus rumah jika terlihat tinta mengotori karpet ruang kerjanya bukan? Tinta sukar hilang bila menetes di karpet dan mengering, kawan.
"Aku lelaaaaahhh! Aku ingin bertemu Ugetsu…" pemuda itu mengerucutkan bibirnya lucu, hmm… sudah berapa bulan, atau bahkan tahun ia tak bertemu dengan Ugetsu? Ah, ia malas untuk menghitung, ya… masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan, tak mungkin ia membuang waktunya hanya untuk menghitung tanggalan, bukan?
Terdengar suara debaman pintu terbuka dan tertutup, menampilkan sosok pemuda dengan rambut berwarna biru gelap hampir kehitaman. Kedua bola mata yang berlainan membuatnya mudah di kenali, apalagi dengan potongan rambut yang menyerupai buah.
Semangka, buah yang berfungsi apa saja, bisa di makan dengan segar jika buahnya matang. Bisa di buat jus jika kita menginginkan sari patinya. Juga bisa di buat hiasan saat perjamuan jika seorang Chef handal menjadikan buah itu untuk Fruit Crafting. Hmm, benar-benar buah multifungsi.
"Spade? Ada apa?" senyum khas seorang Giotto menghantam penglihatan Spade. Masih sama, ya, sama seperti dulu… Giotto yang ia rindukan, Giotto yang tak memikirkan Ugetsu yang berada di sampingnya, Giotto yang hanya miliknya.
Spade membalas senyuman itu dengan cengiran jahil, ya, ia sangat senang mengusili Boss-nya. Tidak, bukan berarti ia kesal pada Boss-nya ini, melainkan, ia suka sekali dengan ekspresi yang di tunjukkan Boss-nya saat ia mengganggunya. Kekanakan memang.
"Aku hanya ingin menemui, my Amore…" ujarnya dengan nada seduktif. Ia ingin Giotto tahu jika ia masih menyukainya, dengan mengatakan 'Suka' dan 'Cinta' yang kerap kali ia katakan. Yah, walau berbuntut dengan penolakan dan tanggapan dingin. Cinta itu susah di dapat jika kita tak berusaha, kawan.
Giotto tertawa kecil, tidak, bukannya senang. Ia tertawa dengan rona wajah yang dingin. Sepetinya Spade sedang tak ada di daftar orang yang ingin temui di kala lelah. "Kau mengigau Spade? Atau salah makan Semangka menjadi Nanas?" ejeknya.
Kali ini terdengar kekehan di tempat Spade, "menanti sang Hujan yang tak kunjung datang My Sky? Apa kau tak bosan menunggunya terus menerus? Apa sang Awan tak membantumu menemukan Hujanmu?" kali ini ucapan Daemon sedikit membuat Giotto kesal, ia sedang tak ingin di singgung tentang Ugetsu yang menghilang bersama Dio.
Apa boleh buat, ia tak berpikir Ugetsu dan Dio berada di Jepang karena keadaan di Italia cukup gawat dan berat karena banyaknya kasus. Tak mungkin Giotto berpikir sampai sejauh itu tentang Ugetsu bukan? "Jangan membahas Ugetsu dalam keadaan seperti ini, Spade… Kau membuatku bertambah kesal!"
"Nufufufu~ bukan maksudku untuk membuatmu sangat kesal. Aku hanya ingin mengganggumu sebentar~" kekehnya dengan raut muka bercanda di wajahnya, ia mengeluarkan Jam saku berharganya dan melihat sudah berada di manakah jarum jam saat ini dan, "ups, sepertinya aku harus pergi~ sampai jumpa lagi, My Amore~" ia meletakkan setangkai mawar merah di meja Giotto, dan tubuhnya menghilang bersamaan dengan kabut yang menyelimuti tempat semula berdirinya Daemon Spade.
"Ukh! Dia kemari hanya untuk mengejekku? Benar-benar menyebalkan… ah, mawar…" ia melihat setangkai mawar merah yang tadi di tinggalkan oleh Spade, ia tak terlalu menyukai mawar tetapi, ia juga tak membencinya. "Hihihi~ benar-benar khas Spade…" mendekatkan mawar itu dan mengecup mahkota bunga berwarna merah tersebut.
'Harum…'
.
.
"Nama saya… Ugetsu… Asari Ugetsu…" Ugetsu memperkenalkan dirinya kepada Kyoko sekali lagi. Membungkukkan tubuhnya seraya mengecup punggung tangan kanan Kyoko, sikap formal yang biasa ia gunakan di Italia.
Sedikit kaget saat tangannya di kecup begitu saja oleh Ugetsu. Saat ini, bahkan setangkai mawar merah kalah merah oleh rona wajah milik Kyoko, dia malu, terlalu malu di perlakukan seperti itu. Ugetsu, ya dia ingat, pemuda yang di rawat di rumah sakit tempat ia bekerja. Ia tak mungkin lupa dengan wajah itu, walau sekarang… banyak sekali perubahan yang signifikan pada Ugetsu, toh, dia seorang Pria, masih dalam pertumbuhan.
"Ugetsu-san? Waah! Sudah berapa lama kita tak bertemu ya?" ujarnya, ia sudah mengingat pria di hadapannya ini, benar-benar berubah, wajahnya yang semakin maskulin, tingginya yang sepertinya ikut bertambah, senyumnya yang jauh lebih ramah daripada dulu.
Ugetsu tersenyum, sedikit miris, "Sudah sangat lama kita tak bertemu…" ujarnya kembali.
.
.
"Hee~ Ugetsu, kau ingin… menikah dengan seseorang?" Dio agaknya kaget dengan apa yang di ucapkan oleh Ugetsu. Bisa kita kesampingkan dulu kata di atas dan merenung sebentar? Baik, saya mulai… pertama, bukankah Ugetsu sangat mencintai Giotto? Lalu kenapa tiba-tiba, di tempat ini, di tempat selain Italia yang bahkan Giotto tak tahu keberadaan mereka ini… Ugetsu bilang ingin 'menikahi seseorang'?
Kedua, apa Ugetsu sudah tak mencintai Giotto lagi dan menginginkan sebuah keluarga normal? Layaknya keluarga lain yang terdiri dari sepasang Suami-Istri dan Anak? Apapun jawabannya, kita dengar dulu penjelasan dari Ugetsu.
Dio tersenyum tertarik, "Jadi, wanita beruntung mana yang mendapatkan hati seorang Asari Ugetsu?" ia menyelidiki raut wajah yang di perlihatkan oleh Ugetsu. 'Pandai menyembunyikan ternyata~' batinnya saat tak menemukan apapun.
Ugetsu menyerahkan sebuah foto. Foto seorang gadis dengan gaun terusan berwarna putih. Gadis dengan rambut cinnamon yang indah dan berbola mata madu yang terlihat lebih lembut. Senyuman yang di berikan gadis yang di foto menunjukkan ia sangat bahagia sekali di foto saat itu. "Gadis ini yang akan ku nikahi…" Ugetsu berkata dengan tenang.
"A-apa?! Ugetsu-san! Apa tidak masalah? Vongola adalah keluarga mafia, yang sama halnya dengan Yakuza di Jepang ini." Scevola menatap dengan penuh selidik, matanya memperlihatkan kecemasan pada seseorang yang akan ia bawa ke tempat berbahaya bernama Mafia ini.
Ugetsu tersenyum, "Aku sudah menyadari konsekuensi yang akan terjadi jika aku mengajaknya menjadi Mafia. Aku ingin melindunginya dengan tanganku, aku sadar aku mungkin tak mampu, tetapi aku menyukai Gadis ini…" ia berlutut dengan lutut sebagai tumpuan badannya, ia membungkukkan tubuhnya sedikit, menyembah kepada Dio yang duduk di sofa.
"U—Ugetsu-san…" Scevola tak sampai hati untuk memperingatkan Ugetsu lagi, dia hanya bisa pasrah dengan keputusan Dio. Toh, saat ini, Ugetsu bekerja di bawah Dio. Scevola menatap Dio yang berada di sebelahnya, ekspresi Dio tak dapat di baca. Sepertinya ia sedang menimbang apa yang akan terjadi kedepannya nanti.
Dan sebuah cengiran khas seorang Dio, menjawab permintaan Ugetsu. "Baiklah, asal kau melindunginya, Ugettchi~" ujarnya dengan nada yang biasa ia gunakan untuk Ugetsu. Mendengar hal itu, Ugetsu dengan semangatnya menjebat tangan Dio dan berterima kasih. Akhirnya, ia akan mendapatkan keluarga normal, yang ia inginkan.
.
.
"Sudah sangat lama kita tak bertemu… Kyoko-san" Ugetsu tersenyum miris. Ia menatap kearah Kyoko yang menyadari senyumannya. Gadis itu menundukkan kepalanya, sepertinya ia sudah salah memilih kata-kata. Ya, jangan ingatkan Pria ini dengan mimpi buruk yang ingin di lupakannya! Teriakan di hatinya membuat tubuhnya bergetar.
"Ugetsu-san, Ugetsu-san… maaf, maaf… jangan perlihatkan wajah seperti itu, aku tak ingin kau terlihat bersedih lagi…" ucapnya dengan air mata berlinang di mata kirinya dan di susul dengan mata kanannya.
Shock, Ugetsu dengan cepat mencari sebuah sapu tangan dan memberikannya pada Kyoko. "Ma-maaf… jangan menangis lagi, Kyoko-san… jangan bersedih hanya karena saya…" pemuda itu menundukkan kepalanya, tak ingin melihat lagi air mata itu.
Kyoko yang mendengar dan melihatnya, jadi tersenyum dan menghapus air mata yang sudah keluar dari tempatnya. "Hihi~ anda benar, maaf… ah, lagipula Ugetsu-san, tolong panggil saya Kyoko saja, tak perlu menggunakan '-san', oke?" Kyoko mendekatkan dirinya pada Ugetsu, mengangkat dagu Ugetsu yang menunduk lemas.
Pandangan mereka bertemu, kedua mata mereka bertautan menatap mata satu dengan yang lain. "Ya, Kyoko…" sebuah suara meneriakan sesuatu di benak terdalam milik Ugetsu. Ia menginginkan gadis itu, ia menginginkannya!
Jika ia menikah dengan gadis itu, apakah ia bisa memiliki keluarga yang normal? Apakah ia bisa memiliki keturunan? Apa ia bisa mengembalikan jiwa adiknya kedunia ini dalam wadah 'anak' darinya?
Ia menginginkannya, ia menginginkannya, ia menginginkan gadis itu!
Ia ingin, ingin, ingin!
Sebuah senyuman terukir indah dalam bibir Ugetsu, menampakkan keinginan yang sudah lama ia inginkan. Keinginan memiliki sebuah keluarga. "Kyoko, kau bisa memanggilku Ugetsu juga jika kau mau…" tangan Ugetsu sudah berada di kedua tangan Kyoko. Tanpa mengetahui niat dari seorang Asari Ugetsu, Kyoko hanya terus tersenyum dan mengikuti ajakan Ugetsu ke tempat tidak ada orang yang bisa mendengar dan melihat kegiatan panas mereka.
.
.
"AAAHH~! AHHHNNGG! OOHH~ UGETSU!" dua suara deruan nafas di sebuah kamar hotel terdekat yang bisa ia capai bersama Kyoko. Dua tubuh berlainan tanpa sehelai kain yang membungkus mereka. Keadaan kamar yang sangat berantakan akibat 'kegiatan' gila-gila-an yang mereka lakukan.
Tubuh seorang wanita, di bawahnya tampak kelelahan. Juga sedikit kesakitan, baru pertama kali ia melakukan hal ini, hubungan intim dengan seorang pria. Wanita berambut cinnamon itu terkulai lemas, bagian bawahnya baru pertama kali ini merasakan sensasi nikmat seperti ini.
Satu kalimat, Permainan yang sangat hebat.
"Kyoko, tidurlah, besok akan kuantar kau pulang…" Ugetsu mengelus pipi wanita itu lembut, awal rencananya telah ia laksanakan. Hanya tinggal menunggu buahnya yang akan ia petik. Tetapi sebelum memetik buah itu, ia harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah ia perbuat. Ya, dengan menikahi gadis ini.
Sebuah seringai terlihat, terlihat sama menyeramkannya dengan seringai Daemon Spade. Tapi kita harus lihat dulu siapa yang menyeringai, ya, karena seorang Asari Ugetsu jarang sekali memperlihatkan seringai Iblis seperti ini.
.
.
"Baiklah, asal kau melindunginya, Ugettchi~" Dio tersenyum penuh makna, mencomot sebuah marshmallow di dalam bungkusan yang ia bawa. Menatap senyuman dari seorang Asari Ugetsu yang di lihatnya sangat berbeda. Bagaimana, ya… penuh dengan, sesuatu? Ah, tidak mengerti. Biar ia lihat dulu saja apa yang akan terjadi kedepannya.
Setelahnya manik matanya melihat Ugetsu berjalan keluar dan kembali ke ruangannya. "Dio-san, apa tidak apa-apa jika ia menikah dengan seseorang yang bahkan kita tidak tahu asal usulnya?" Scevola mendekati Dio, membisikkan kalimat-kalimat itu dalam jarak yang cukup dekat.
Dio menyeringai, "Tenang saja Scevola, ini pasti akan sangat menarik… apa kau ingin melihat drama ini hingga selesai, Scevola?" Dio menolehkan wajahnya kepada Scevola, sebelumnya ia masih dengan setia menatap pintu yang ada di hadapannya.
"Ma—maksudnya?" tanya Scevola tak mengerti, sungguh, apa yang ada di dalam kepala kedua pria berbeda ini? Mengapa senyum mereka tampak mengerikan? Senyuman yang menginginkan sesuatu, menginginkan hasrat itu untuk terpenuhi.
"Sudah kubilang tenang saja Scevola, kau pasti akan mengerti dengan berjalannya waktu… apa yang di inginkan oleh Amehito, dan bagaimana nasibnya setelah ini~" kembali tangan itu mencomot marshmallow yang tinggal beberapa di bungkusannya. "Apakah seperti yang di katakannya? Atau malah berkembang lebih menarik? Fufufu~ aku jadi tak sabar~"
"…" Scevola menatap bergantian antara pintu tempat di mana Ugetsu keluar tadi dan Dio yang saat ini berada di sampingnya. 'Menyeramkan, kedua orang ini menyeramkan… ukh, perutku sakit jika memikirkannya…' batinnya ketakutan dengan apa yang akan terjadi. 'Brizio… ya, Brizio, aku harus minta tolong padanya.'
.
.
"Jadi… kau ingin aku mengehentikan pernikahan Ugetsu?" rambut pirang acak-acakan terlihat semakin acak saja setelah mendengar cerita dan permintaan sahabat berambut merahnya ini. Apa-apaan dengan mengacaukan pernikahan? Apa yang akan ia dapat jika mengacaukannya?
"Ya! Kumohon Brizio, ukh… kumohon ganggulah, apapun itu dengan cara bagaimanapun. Tetapi jangan sampai ketahuan… perutku melilit rasanya saat membayangkan apa yang baru saja aku katakan…" Scevola menahan rasa perih di perutnya dengan memegangi perutnya dengan kedua tangannya. Ya, ia bukan orang yang berani melakukan hal seperti ini dengan baik.
Brizio mencoba untuk menghentikan Scevola, "Wow, wow, wow… tunggu dulu, Scevola. Apa kau gila? Bagaimana bisa aku menghentikan hal seperti ini, jika musuhku adalah Ugetsu dan Dio yang menikmati keadaan ini?" ia mengungkapkan unek-uneknya. Ia tak mau melakukan hal yang akan membahayakan dirinya dan Scevola. Apa lagi sampai melawan Dio. Ia tak sampai hati dan tak sampai kekuatan jika seperti itu.
"Kumohon Brizio… bantu aku…" Scevola tampak masih memohon pada Brizio, sebenarnya Brizio tak sampai hati harus menolak keinginan Scevola sahabatnya, tapi…
Brizio dengan segenap kekuatannya, menggelengkan kepala miliknya. Menolak keinginan Scevola, "Scevola… sebaiknya kita lihat dulu, apa yang kau cemaskan terjadi atau tidak. Jika apa yang kau cemaskan ternyata tak terjadi, bagaimana dengan hubungan mereka? Bagaimana nasib keluarganya nanti? Bisa saja wanita itu sudah hamil duluan sebelum mereka menikah, kan?"
Terdiam sesaat, pemuda merah bata itu menundukkan kepalanya, benar apa yang di katakan oleh temannya satu ini. Ya, bagaimana jika apa yang di katakan oleh Brizio benar-benar terjadi? Ia tak ingin merusak kebahagiaan orang lain. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang di tinggalkan oleh Ugetsu di Italia? Bagaimana dengan cinta pemuda itu pada Giotto atau G.? Apakah semua itu telah berakhir sejalan dengan berlalunya waktu?
.
.
To Be Continued
A/N:
Wueeeehh… akhirnya cerita menuju babak akhir~ mungkin tinggal beberapa chap lagi, yosh! Mari kita tunggu sama-sama! Review?
19/08/2012
