Disclaimer : Masashi Kishimoto
A/N:
Untuk Freeya Lawliet (kalau tidak mengganti nama lagi), hadiah 17 Desember. Tenang, ending-nya akan sesuai selera kamu, kok*wink*
Fic ini kayanya membengkak jadi 3 chapter. Terima kasih buat teman-teman yang sudah membaca dan terutama, yang sudah mau repot-repot mereview.
Berduaan dengan seorang laki-laki di sebuah sudut sepi di sekolah? Sungguh, sekalipun Hinata biasa membantu usaha keluarganya di Paradise Shoppe, ia belum pernah berduaan saja dengan seorang pria. Neji dan ayah Hinata tentu saja adalah perkecualian. Sebab, mereka adalah keluarga Hinata yang tentu saja tidak bisa disamakan dengan pria di luar lingkar keluarga Hyuuga.
Maka, berduaan dengan seorang senpai—laki-laki—seperti Iruka tak ayal membuat detak jantung Hinata tak beraturan. Walaupun sudah bisa menduga-duga maksud Iruka mengajaknya ke belakang sekolah yang sepi, Hinata tetap saja merasa agak cemas.
"Tolong... jangan bocorkan rahasiaku. Aku bisa kena masalah jika orang tuaku dan pihak sekolah sampai tahu soal pacarku," ujar Iruka sekonyong-konyong dengan nada memelas.
Hinata terperangah sesaat. Walaupun ia sudah bisa menduganya, tak pelak Hinata tetap merasa takjub juga. Seorang senpai memohon belas kasihan Hinata, kohai paling pemalu di seluruh sekolah? Wow, seharusnya peristiwa ini didokumentasikan saja!
"I-Iruka-senpai jangan khawatir. S-saya akan tutup mulut kok. Asalkan..."
"Asalkan apa?" tanya Iruka tak sabar sekaligus waswas.
"A-asalkan Iruka-senpai juga merahasiakan soal Paradise Shoppe dari teman-temanku. Aku tidak ingin mereka tahu tentang bisnis keluargaku itu."
Ganti Iruka yang terperangah. Hinata tak tahu apa yang sedang ia pikirkan, tapi Hinata sangat lega saat akhirnya Iruka mengangguk.
"Baiklah. Kita saling menjaga rahasia masing-masing. Setuju?"
Hinata menyambut uluran tangan Iruka sebagai bagian dari kesepakatan mereka. Gadis itu sempat terkesima melihat keramahan dan kehangatan senyuman Iruka. Tak habis pikir, bagaimana mungkin seseorang yang tampak sangat baik seperti Iruka bisa menjadi seorang homoseksual? Bukankah kaum itu—setahu Hinata—adalah kaum yang hanya mengumbar kesenangan di ranjang?
Tapi, Hinata buru-buru meralat dalam hati, kepribadian seseorang tidak ada hubungannya dengan orientasi seksualnya. Dia mau pacaran dengan sesama laki-laki, itu urusan dia. Aku...
"M-mengapa Iruka-senpai bisa pacaran dengan laki-laki itu?"
Sumpah, Hinata sendiri terkejut mendengar pertanyaan yang keluar dari mulutnya itu. Sungguh tak sopan menanyakan urusan pribadi seseorang. Apalagi masalah sensitif seperti ini. Hinata hanya berharap Iruka tak marah atas pertanyaannya itu.
Namun Iruka tak tampak terkejut atau marah. Siswa yang dikenal pendiam itu hanya tertegun sesaat sebelum menjawab dengan ramah.
"Terjadi begitu saja... Kami bertetangga sejak kecil dan menjadi dekat. Lalu... setelah keluarganya pindah ke selatan Konoha tiga tahun yang lalu, tiba-tiba saja dia bilang suka padaku. Kau sudah tahu apa terjadi selanjutnya."
"A-apa pacar Iruka-senpai sudah melakukan 'itu' terhadap Iruka-senpai? Soalnya pacar Iruka-senpai waktu itu membeli..." Hinata tak sanggup lagi melanjutkan.
Sumpah! Hinata ingin menampar bibirnya sendiri karena tak bisa menahan diri untuk menggali informasi mengenai Iruka. Walaupun terdengar 'wajar' untuk mengetahui perihal seorang homoseksual seperti Iruka, namun pertanyaan mengenai hal paling pribadi seperti itu sampai kapanpun tidak akan terdengar sopan.
"Aku tidak..." Iruka juga tak sanggup melanjutkan. Wajahnya memerah. Jelas sekali bahwa ia jengah. Hinata mulai cemas jika Iruka marah padanya.
Namun bunyi bel tanda masuk ke kelas menyelamatkan Iruka dari keharusan menjawab pertanyaan Hinata. Hinata kembali ke kelasnya dengan perasaan yang berbeda dengan perasaannya saat bertemu dengan Iruka di dekat gerbang sekolah. Ada perasaan lega pula yang menyelinap di hatinya. Sejauh ini, rahasianya—dan rahasia Iruka—aman. Namun, di sisi lain, Hinata justru mulai terganggu dengan pertanyaan yang belum terjawab.
Sudahkah pacar Iruka-senpai melakukan 'itu' pada Iruka-senpai? Dengan barang-barang yang tempo hari dibeli oleh pacar Iruka-senpai, seharusnya telah terjadi 'itu' di antara Iruka-senpai dan pacarnya. Iruka-senpai barangkali merasa sangat menderita saat dipaksa mengenakan benda-benda itu dan merasa malu mengakuinya. Ya, itu bisa saja terjadi, bukan? Atau, jangan-jangan...
Hinata menutup kupingnya sendiri. Berusaha menghentikan laju pikiran-pikiran aneh yang berkeliaran di benaknya. Dia tidak boleh berpikiran yang aneh-aneh. Tidak boleh!***
Iruka tak mengira bahwa Hinata justru balik memintanya menjaga rahasia. Bukankah toko sex toys adalah bisnis yang lumrah dewasa ini?
"Lumrah?" Kakashi tergelak, "sekali lihat aku langsung tahu bahwa dia adalah anak yang pemalu. Apa yang lumrah jika kau terlalu malu bahkan untuk sekadar berbicara?"
"Iya, tapi aku hanya tidak habis pikir... Apa yang salah dengan bisnis itu? Bukankah bisnis itu tidak sama dengan prostitusi? Jadi, apa salahnya?" Iruka bertanya bertubi-tubi seolah Kakashi dapat menjawabnya. Ia memandang ke salah satu titik di kamar Kakashi, seolah ia dapat menemukan jawaban di sana.
Kakashi memeluk pinggang Iruka dari belakang lalu mengendus-endus leher kekasihnya. Iruka menepisnya dan menatap tajam pada Kakashi. Memperingatkan bahwa pacarnya yang sedang berhasrat itu agar segera menghentikan perbuatannya. Kakashi tersenyum dan menarik tangannya.
Tiba-tiba Iruka teringat sesuatu. Ia harus menanyakannya.
"Sebentar, Kakashi-san. Waktu itu kau membeli apa saja di toko sex toys itu?"
Kakashi menanggapi pertanyaan Iruka dengan menarik tangan kekasih remajanya agar ikut rebah di sisinya. Iruka berusaha menepis, namun Kakashi lebih cepat dan lebih kuat menarik Iruka. Memaksa remaja yang masih mengenakan seragam sekolahnya itu agar rebah di ranjang kamar Kakashi.
"Kakashi-san!" sergah Iruka kesal. Ia berusaha bangun namun Kakashi dengan cepat menindih tubuhnya hingga tak mampu bergerak.
"Ayolah... sebelumnya kau sudah setuju, 'kan? Aku harus menunggu berapa lama lagi?" bujuk Kakashi lalu menciumi wajah Iruka.
"Kakashi!" bentak Iruka, mulai marah. Ia meronta, mencoba melawan. Namun kekuatannya tak mampu mematahkan dominasi Kakashi.
Lima belas menit kemudian, Iruka sudah duduk tak berdaya di ranjang. Kedua tangannya ditarik ke belakang lalu disatukan dengan kakinya. Posisi Iruka itu dikunci dengan menggunakan tali yang terbuat dari kulit—yang entah apa namanya itu—yang mengikat masing-masing pergelangan tangan dan kaki remaja itu. Mulut Iruka juga dibungkam dengan mouth gag ball sehingga tak dapat berteriak meminta tolong.
Sudah jelas, Iruka tersiksa karena dipaksa berada dalam posisi seperti itu. Ia melotot, semakin marah saja karena ulah Kakashi.
Bukannya ciut nyalinya, Kakashi malah duduk di sisi Iruka, lalu merangkul dan menggigit telinga Iruka. Tangannya yang masih bebas memotret pose mereka berdua dengan menggunakan kamera handphone. Iruka bukan main terkejutnya melihat ulah Kakashi.
"Nah, kita sudah mengabadikan momen ini. Hanya kita berdua yang tahu," bisik Kakashi di telinga Iruka, "kecuali jika kau ingin membaginya dengan keluargamu..."
Iruka melotot lagi. Tapi kali ini wajahnya memucat. Ia tahu, Kakashi sedang mengancamnya.
"Nah," lanjut Kakashi ceria seolah tak terjadi apa-apa, "sekarang, bisa kita mulai?"
Iruka melotot sekali lagi. Tidak! Ia tak ingin melakukannya! Apalagi dengan cara seperti ini!
Iruka berusaha meronta, melepaskan diri dari Kakashi. Namun Kakashi dengan sigap menghentikannya.
"Ingat, Iruka-chan. Satu gerakan konyol darimu, maka foto itu akan terkirim ke handphone orang tuamu," kata Kakashi, masih dengan nada ramah dan ceria. Namun tentu saja, ancamannya tak main-main.
Iruka urung melawan. Ia hanya memandang Kakashi dengan memelas. Memohon agar Kakashi menutupi rahasia mereka berdua.
"Jadi, kau akan menuruti kata-kataku, 'kan? Bukankah kau sendiri yang setuju untuk melakukan ini?" tanya Kakashi sambil melepaskan dasi seragam sekolah Iruka lalu menggunakannya untuk menutup mata Iruka.
Iruka memang setuju setelah membiarkan Kakashi menunggu selama dua tahun sejak Kakashi pertama kali ingin menyatukan tubuh dengan Iruka. Tapi pada saat ia nyaris menyeberangi jembatan menuju 'dunia orang dewasa', Iruka malah menjadi ragu... dan takut. Benarkah untuk menjadi dewasa, ia harus melalui 'jembatan' itu?
Iruka belum sempat mengangguk tanda patuh pada Kakashi saat pintu kamar Kakashi digedor dari luar. Suara seorang pria terdengar berseru pada Kakashi.
"Woi, bantu aku dulu! Aku belum mengerjakan tugas dari Minato-sensei!"
Benar-benar tak sopan. Tapi, tentu saja perbuatannya masih jauh lebih sopan daripada perbuatan Kakashi terhadap Iruka saat ini. Iruka berdoa dalam hati, semoga pria tak tahu sopan santun itu menjadi penyelamatnya. Semoga.***
Hinata menghembuskan napas berat. Walaupun saat ini ia sedang berada di kamarnya di lantai dua gedung Paradise Shoppe, tak ayal pikirannya masih berada di lantai satu. Tentu saja bukan karena ia mencemaskan keadaan toko yang kini sedang dijaga oleh Hiashi ayahnya, Asuma dan Kurenai, melainkan karena memikirkan nasib Iruka.
Bagaimanapun, Hinata ikut merasa bersalah jika pacar Iruka sampai menggunakan alat-alat yang ia beli di Paradise Shoppe tempo hari pada Iruka. Sebab, bagaimanapun, Hinata mengenal Iruka. Jika Iruka sampai menderita, Hinata akan sulit memaafkan dirinya.
Neji melintas di depan kamar Hinata yang pintunya sedikit terbuka. Hinata bergegas menghampirinya dan menceritakan kegundahan hatinya perihal nasib Iruka di tangan pacarnya. Neji tersenyum mendengarnya.
"Itu bukan urusan kita, Hinata-chan. Kita punya izin menjual dan itu sudah lebih dari cukup. Masalah siapa yang menggunakan terhadap siapa, kita tidak perlu tahu."
"T-tapi ini menyangkut Iruka-senpai..."
"Masih banyak Iruka-Iruka lain di luar sana yang memakai toy sex yang dibeli dari toko kita dan sejauh ini tak ada masalah. Malah," Neji merendahkan nada bicaranya, "mungkin saja mereka berterima kasih karena merasa puas dengan alat-alat yang dibeli dari toko kita."
Wajah Hinata memerah. Ia merasa, berbicara pada Neji tak ada gunanya. Neji sama saja dengan ayah Hinata, tak peduli pada dampak penjualan toy sex di toko mereka.
Ugh, maafkan aku, Iruka-senpai!***
Saat pintu kamar Kakashi terbuka, Obito tertegun sejenak. Ia melihat pemandangan yang tak biasa. Seorang remaja—yang Obito ketahui sebagai kekasih Kakashi—terbelenggu tak berdaya di ranjang Kakashi. Kemejanya sudah dilucuti, memperlihatkan dadanya yang tergolong bidang untuk ukuran remaja seusianya. Obito mengerutkan kening saat melihat ikat pinggang dan kancing celana remaja itu sudah dilepaskan. Kakashi pasti sudah menurunkan celana anak malang itu jika Obito tak datang mengganggu kesenangannya.
"Nah, ini. Silakan edit sesukamu lalu biarkan aku bersenang-senang dengan pacarku," ujar Kakashi sambil menyerahkan flash disk Obito kembali pada pemiliknya.
Jika bukan karena ingin segera menikmati tubuh kekasihnya, Kakashi pasti tak akan membiarkan Obito mencontek tugas yang telah susah payah ia kerjakan. Obito tahu pasti bahwa Kakashi sangat mencintai remaja berkuncir—yang Obito tak pernah ingat namanya—itu dan ingin menyempurnakan hubungan mereka. Tapi, Obito juga tak bisa membiarkannya begitu saja...
"Kau akan menikmati tubuh anak itu sendirian? Sekarang juga?" tanya Obito tanpa basa-basi.
Pertanyaan itu membuat kekasih Kakashi bereaksi. Ia pasti tidak rela dijadikan mainan oleh dua orang pria sekaligus.
"Tentu saja. Nah, sekarang, pergilah," jawab Kakashi, mengusir.
"Lalu bagaimana dengan tugasku? Kau 'kan harus mengajariku karena aku tidak mau tampak bodoh saat presentasi besok di kelas Minato-sensei."
Kali ini kekasih Kakashi tak bereaksi. Walaupun mata remaja itu ditutup, Obito tahu bahwa ia menyimak kalimat Obito. Menunggu.
"Itu urusanmu sendiri. Aku..."
"Ayolah, Kakashi bod... eh maksudku sahabatku, bantu aku. Kau satu-satunya harapanku," mohon Obito, "aku tahu kalian hendak bersenang-senang. Tapi, tolong ditunda dulu. Aku janji, ini terakhir kalinya aku merepotkanmu, Kakashi."
Kekasih Kakashi kali ini bereaksi lebih hebat. Rupanya ia merasa telah mendapatkan seseorang yang bisa membantunya keluar dari penyekapan ini sehingga tanpa ragu ia bergerak. Dengan susah payah beringsut, berusaha meninggalkan ranjang Kakashi seolah-olah ia dapat melarikan diri dalam posisi tubuh terlipat seperti itu. Tentu saja ia terjatuh dari ranjang dan tubuhnya membentur lantai. Bisa terdengar teriakan kesakitan dari mulut remaja itu sekalipun disumbat dengan bola kecil berwarna merah menyala.
"Astaga, Iruka!" sergah Kakashi sambil menghampiri kekasihnya. Dengan panik, ia menanggalkan seluruh alat yang digunakan untuk memasung kemerdekaan kekasihnya, kemudian memeriksa keadaan remaja bercodet melintang itu. Kakashi tampak lega saat menemukan bahwa kekasihnya baik-baik saja.
Obito menyaksikan tingkah sejoli itu sambil tersenyum penuh arti. Setidaknya, ia sudah berhasil mencegah Kakashi untuk menyatukan tubuhnya dengan tubuh remaja itu. Masih ada kesempatan lagi, bukan?***
Setelah menghadiahkan satu pukulan untuk wajah tampan Kakashi dan satu lagi tendangan untuk sepeda motor Kakashi, Iruka meninggalkan kediaman Hatake dengan wajah merah karena marah. Ia berterima kasih pada Obito yang sudah 'menyelamatkan' dirinya, namun tetap curiga pada pemuda itu. Bagaimanapun, orang yang bertanya 'kau akan menikmati tubuh anak itu sendirian?' mengindikasikan bahwa ia juga sebenarnya tertarik untuk ikut 'bermain'.
Namun, Iruka tak hanya marah pada Kakashi. Ia juga kesal pada pihak yang menjadi 'fasilitator' peristiwa yang menimpa dirinya, yakni Paradise Shoppe. Kenapa juga toko itu menjual alat-alat yang akan digunakan terhadap remaja seperti Iruka? Oke, Iruka sudah cukup umur untuk melakukan hubungan intim. Tapi, dia tetaplah seorang anak SMA biasa.
Iruka hanya anak SMA biasa yang... menjadi gay pada usia lima belas tahun. Oke, di mana letak ke-'biasa'-an itu? Berpacaran dengan sesama laki-laki yang lebih tua tiga tahun jelas bukanlah hal yang jamak di kalangan remaja. Dan Iruka masih menganggap dirinya tak layak diperlakukan sebagai seorang (calon) pelaku seks pra nikah yang menyimpang dari kebiasaan? Tunggu dulu, Iruka.
Tetapi Iruka tak mau menunggu. Ia melangkah pasti menuju Paradise Shoppe. Ia belum tahu, apa yang akan ia lakukan di sesampainya di toko itu. Tapi, satu hal, ia harus menemui orang yang bertanggung jawab atas penjualan alat-alat yang digunakan terhadap Iruka oleh Kakashi. Barangkali pemiliknya? Atau karyawannya saja? Atau, gadis itu...? Hinata. Itu 'kan usaha keluarganya, jadi dia harus ikut bertanggung jawab!
Iruka tiba di depan Paradise Shoppe nyaris tanpa ia sadari. Saat itu waktu menunjukkan pukul sembilan malam namun toko sedang ramai-ramainya. Seorang wanita berparas cantik jelita bertugas di meja kasir. Sedangkan dua orang pria tampak sibuk melayani keinginan para pembeli. Pria pertama berusia lebih tua dan tampaknya adalah bos di toko tersebut. Sedangkan pria yang lebih muda tak berhenti merokok. Cuek sekali.
Mana Hinata? Bukankah dia bekerja di sini?
Iruka mencari-cari sosok Hinata. Mendadak lupa pada tujuannya yang hendak menuntut pertanggungjawaban Paradise Shoppe yang telah menjual alat-alat yang telah membuat Iruka menderita. Ketidakhadiran Hinata di toko tersebut rupanya menjadi pengalih perhatian yang ampuh bagi niat konyol Iruka sebelumnya. Benar-benar remaja yang aneh.
Iruka hendak melangkah masuk ke dalam toko. Ia harus menemui Hinata untuk... apa itu tadi, meminta pertanggungjawaban? Ah, bukan... Apa, ya? Ah, pokoknya, setelah bertemu dengan Hinata, segalanya akan terjawab. Iruka hanya perlu masuk dan menanyakan perihal Hinata pada mereka yang bertugas di dalam toko.
"Mau apa di toko itu, Nak?" tanya seseorang dari belakang Iruka, "apa kau sudah cukup umur untuk mengunjunginya?"
Iruka menoleh dan melihat seorang polisi berseragam yang sedang menatap tajam padanya. Sosoknya yang tinggi besar dengan luka-luka goresan di wajahnya tampak menyeramkan. Di dada polisi itu tersemat nama Morino Ibiki.
Iruka tak dapat menjawab. Lidahnya mendadak kelu. Iruka masih membisu bahkan pada saat ia dimasukkan ke dalam mobil patroli Ibiki untuk dibawa ke kantor polisi. Ia bingung, bagaimana harus menjelaskan pada orang-orang dewasa bahwa tujuannya ke Paradise Shoppe bukanlah demi memburu kesenangan, namun demi...
Iruka merutuk dalam hati. Kesal karena tak dapat menjelaskan apa-apa saat ditangkap oleh Ibiki. Menyebalkan.***
TBC
