Naruto milik Masashi Kishimoto, saya cuman minjem karakter2nya tanpa mengambil keuntungan apa2 kecuali untuk membuat saya dan yang baca fic ini ngerasa senang ;D
A/N :
Untuk Freeya Lawliet. Happy Our 1st Anniversary, Dear! Maaf telat*pundung*
Iruka mengembalikan helm dengan kasar. Terdengar satu 'ugh' dari mulut Kakashi yang dadanya terkena helm. Namun hanya sebatas itu. Kakashi tak berani mengeluh lagi saat Iruka melotot padanya.
"Jangan marah, Sayang. Orang tuamu yang memintaku agar mengantar dan menjemputmu, supaya kau tidak..." rayu Kakashi berusaha melunakkan hati Iruka.
"Terlibat masalah lagi karena ada kau yang mengawasiku. Begitu, 'kan?" potong Iruka kesal dan geram, "oh, andai mereka tahu, kaulah penyebab semua ini. Kau!"
"Aku?" Kakashi menaikkan satu alisnya, "kau yang berada di toko itu. Bukan aku! Kau yang dijemput oleh orang tuamu di kantor polisi, bukan aku. Lagipula, untuk apa kau berada di toko itu? Kau mau membeli sex toy tambahan agar permainan kita nanti menjadi lebih menyenangkan?"
Iruka merapatkan mulut. Ia berbalik, tak mau lagi berurusan dengan Kakashi. Sekolah masih berjarak sekitar dua ratus meter dari tempat Iruka meminta dirinya diturunkan dari sepeda motor Kakashi. Iruka harus bergegas jika tak ingin terlambat.
"Ah, aku tahu," Kakashi sekonyong-konyong bersuara, "alasanmu mendatangi toko sex toy itu adalah untuk menemui gadis itu, 'kan? Kulihat kau sangat memikirkan perasaannya."
Iruka berhenti melangkah. Dengan agak bergetar, ia menoleh pada Kakashi. Seluruh perasaannya saat itu juga, terlukis jelas di wajahnya.
Kakashi tersentak melihat raut wajah Iruka. Gawat!***
Kelas belum dimulai, tapi siswa-siswi SMA Konoha sudah menemukan bahan perbincangan yang lebih menarik daripada olok-olok soal gaya kemayu Orochimaru-sensei atau tingkah laku dua bersaudara paling populer, Uchiha Itachi dan Sasuke. Yang lebih menarik lagi, sosok yang menjadi topik tersebut adalah siswa yang belum menampakkan batang hidungnya di sekolah dan memang selama ini nyaris tak dikenal oleh kalangan elit sekolah : Umino Iruka.
Hinata—seperti biasa—hanya mengamati dari kejauhan keriuhan yang acap terjadi di sekolah. Pada awalnya—hanya sekadar menduga—Hinata mengira bahwa kehebohan itu disebabkan oleh terkuaknya orientasi seksual Iruka yang 'menyimpang'. Hinata ikut prihatin mendengarnya dan berniat untuk menyampaikan simpatinya pada Iruka pada saat ia bertemu dengan sang senpai.
Namun rasa simpati itu segera sirna pada saat Hinata mendengar pembicaraan Sakura dan Ino di depan kelas mereka. Efeknya membuat wajah Hinata memucat dan keringat dingin pun mengucur dari kening gadis yang lebih sering tersipu malu daripada menatap wajah lawan bicaranya tersebut.
"Kata Anko-senpai dari kelas XII-2, semalam sepupunya yang polisi menangkap seorang anak SMA Konoha yang mencoba masuk ke dalam toko khusus orang dewasa," ujar Sakura.
"Aku juga sudah mendengarnya. Anak yang ditangkap itu 'kan Iruka-senpai dari kelas XII-4. Dia anak yang punya bekas luka melintang di hidungnya itu 'kan?" balas Ino.
"Ya. Kupikir dia pendiam, kelihatannya juga baik dan ramah. Ternyata dia nakal juga, ya."
"Iya. Tapi aku jadi penasaran, toko apa sih yang hendak Iruka-senpai masuki sampai-sampai orang tuanya harus menjemput dia di kantor polisi?"
"Kenapa? Kau juga ingin ke sana?" tanya Sakura penuh selidik.
"T-tidak. Aku hanya ingin tahu nama tokonya saja, kok."
"Apa ya, nama tokonya," Sakura berusaha mengingat-ingat, "Pa-Paradise Shoppe. Toko Surga. Ya, itu dia namanya!"
Cukup. Hinata tak perlu mendengar kelanjutan dari pembicaraan tersebut. Alih-alih meneruskan perjalanan ke kelas, Hinata berbalik arah menuju toilet. Pada pagi hari toilet memang biasanya sepi, tempat yang baik bagi Hinata untuk menenangkan diri setelah mendengar kabar yang sangat sangat mengejutkan tersebut.
Hinata menatap bayangan dirinya di sebuah cermin. Wajahnya sangat pucat, semakin kontras dengan warna rambutnya. Ia yakin bahwa bunyi detak jantungnya menggema di seluruh penjuru toilet. Bahkan bunyi tetesan air dari keran yang tak tertutup rapat mampu membuat hatinya ngilu.
Paradise Shoppe telah disebut-sebut di sekolah. Hanya masalah waktu hingga teman-teman Hinata mulai menghubungkannya dengan nama keluarga Hyuuga. Hinata hanya dapat berharap, ia masih diberi waktu lebih lama sebelum hubungan antara Paradise Shoppe dan dirinya terkuak.
Barangkali... Hinata bisa meminta tambahan waktu tersebut dari Iruka.***
Selama hampir dua belas tahun menuntut ilmu di sekolah umum, Iruka belum pernah menjadi pusat perhatian. Ia sudah siap dengan kemungkinan yang ia anggap paling buruk—mendapatkan sanksi dari pihak sekolah—setelah mendapatkan pemotongan uang saku dari kedua orang tuanya diikuti dengan berbagai hukuman lainnya. Namun Iruka tak pernah mempersiapkan diri menghadapi ganjaran berikutnya : menjadi selebritas sekolah.
Maka, pada saat ia memasuki gerbang sekolah, ia sudah disambut bak pahlawan oleh sejumlah siswa yang mendadak menjadi penggemarnya. Naruto dan Kiba bahkan berebut untuk membawakan tas Iruka, cara aneh mereka untuk menyatakan kekagumannya atas diri Iruka. Semuanya bermuara dari satu kejadian yang pada awalnya tampak sangat memalukan : tertangkap basah hendak memasuki sebuah toko sex toy. Di mata para siswa, Iruka adalah sosok keren yang berani berbuat lebih jauh daripada sekadar berfantasi dengan gambar dan video panas di internet. Sungguh ajaib.
Ada yang mengagumi, namun ada pula yang tak suka. Sebagian siswi memandang aksi Iruka semalam dengan sinis. Hilang sudah gambaran Iruka sebagai siswa yang baik hati dan ramah. Bagi mereka, Iruka tak ubahnya anak nakal di sekolah yang suka bersenang-senang dengan cara yang tak lazim bagi remaja seperti mereka. Maka, tak perlu heran jika Iruka kini dipandang dengan dingin oleh siswi-siswi tersebut.
Namun, selain mereka yang tak menyukai, ternyata ada pula siswi yang mendadak menjadi penggemar Iruka. Karin bahkan berhenti—mungkin untuk sementara—mendekati Sasuke demi berbicara dengan Iruka-senpai yang bahkan baru kali ini ia dengar namanya. Saat itu Iruka baru saja keluar dari ruang kepala sekolah dan Karin mencegatnya sambil menyodorkan minuman dan seulas senyuman yang—dibuat sangat—simpatik.
Iruka sebenarnya terburu-buru hendak ke kelas Hinata. Namun ia juga tak enak hati menolak keramahan Karin. Maka, ia pun membalas senyuman Karin dan menunggu kesempatan untuk meninggalkan siswi itu dengan santun.***
Keriuhan yang ditimbulkan oleh banyaknya siswa di selasar sekolah pada saat istirahat membantu Hinata menyembunyikan diri dari pandangan Iruka. Alih-alih mendekati Iruka, ia memilih menunggu—sambil mengamati—di sebuah sudut.
Karin tampak menyentuh lengan Iruka dengan satu gerak halus yang tampaknya tak disadari oleh Iruka namun terlihat jelas oleh mata Hinata. Hinata agak terhenyak melihatnya. Wajahnya agak memerah, namun Hinata berusaha meyakinkan dirinya agar tak terganggu oleh tindakan Karin yang sedikit agresif tersebut.
Barulah setelah Iruka meninggalkan Karin, Hinata bergerak mengikuti sang senpai. Niatnya adalah mengajak bicara Iruka di tempat sepi agar tak ada yang tahu. Hinata menyesal mengapa ia tak pernah menanyakan nomor handphone Iruka sebelumnya, agar ia tak perlu repot-repot mencari kesempatan berbicara dengan Iruka seperti ini.
Hinata tersentak saat menyadari bahwa Iruka sebenarnya berjalan menuju ke kelasnya. Wajahnya kembali memucat. Saat Iruka sudah berada di depan kelas Hinata dan tampak berbicara pada Shino yang baru saja keluar kelas, untuk sesaat Hinata merasa kakinya mendadak tertancap kuat di lantai. Tak dapat bergerak sama sekali padahal Hinata ingin sekali segera kabur agar tak terlihat oleh Shino dan—tentu saja—Iruka. Panik.
Saat kakinya mulai dapat digerakkan dan hendak beranjak meninggalkan selasar, Hinata mendengar Shino berkata, "itu dia Hinata."
Iruka menoleh dengan lengkungan senyuman ramah miliknya. Ia mengangkat tangan, hendak menyapa Hinata, tapi tidak jadi. Yang terdengar hanya kecemasannya bertanya, "Hinata-san! Kau tak apa-apa?"
Tak apa-apa? Hinata tak dapat menjawabnya. Bukan karena ia tak tahu apa yang harus ia katakan, melainkan karena memang tak bisa. Sebab, secara drastis, wajahnya memerah saat melihat wajah Iruka. Sangat merah, mungkin lebih merah daripada saat berpapasan dengan Naruto. Terlalu merah dan mulai hangat, hingga akhirnya menjadi panas, mencapai titik didih dan mulai meletup.
Pufff!
Hinata akhirnya tak sadarkan tepat di depan Iruka. Suhu tubuhnya terlalu tinggi untuk dapat ia tahan. Sangat, sangat panas.***
Kakashi melempar handphone-nya ke tempat tidur. Berikutnya, giliran dirinya yang melemparkan tubuhnya sendiri ke ranjang, menimpa handphone-nya sendiri.
Brengsek, maki Kakashi dalam hati. Ia baru saja menelepon Iruka di sekolah untuk meminta maaf dan tentu saja, berbaikan dengan si kuncir itu. Setelah tadi pagi—lagi-lagi—Iruka menghadiahkan satu pukulan di pipinya, Kakashi mau tak mau harus membujuk Iruka agar kekasihnya itu memahami bahwa Kakashi sangat mencintai dirinya. Kakashi tak ingin posisinya digantikan oleh orang lain, termasuk oleh seorang gadis yang bahkan untuk berbicara saja sulit.
Namun saat menelepon Iruka, yang Kakashi dengar hanya suara panik Iruka yang mencemaskan keadaan Hinata. Tanpa berbasa-basi, Iruka menutup telepon karena harus membawa Hinata ke ruang kesehatan sekolah. Semudah itu.
Sejak kapan anak pemalu itu menjadi lebih penting daripada aku, pikir Kakashi dengan mata menerawang memandang langit-langit kamarnya. Sedikit marah, namun ia juga tahu bahwa amarah tak akan berguna untuk mengobati kegundahannya.
Sekarang Kakashi mulai menyesali keputusannya membeli sex toy dari toko milik keluarga Hinata tersebut. Memang, Iruka dan Hinata adalah senpai dan kohai di sekolah yang sama dan kemungkinan mereka hanya saling mengenal sebatas hubungan sebagai sesama pelajar. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa pertemuan di Paradise Shoppe telah membawa hubungan Iruka dan Hinata ke tingkat lebih lanjut. Tingkat yang—di mata Kakashi—mulai mengkhawatirkan.
Kakashi duduk, lalu menoleh pada meja kecil di sisi ranjang. Di atasnya terdapat sebotol chardonnay yang rencananya hendak ia nikmati bersama Iruka. Tentu saja jika Kakashi berhasil membujuk Iruka agar mau mengunjungi kamarnya lagi. Setelah kegagalannya membawa Iruka pada kenikmatan praktek BDSM, Kakashi memutuskan untuk mengganti strategi. Membuat Iruka nyaman dengan white wine mungkin akan berhasil membuat Iruka mau menyatukan tubuh dengan Kakashi.
Namun setelah pembicaraan dengan Iruka via telepon tersebut, Kakashi mulai merasa bahwa investasi membeli chardonnay mungkin akan sama sia-sianya dengan membeli sejumlah sex toy sebelumnya. Iruka—kelihatannya—akan menolak apapun yang Kakashi lakukan untuk membawa hubungan mereka ke arah yang lebih jauh. Jika dulu Iruka menolak karena takut, kini Kakashi mulai merasa bahwa Iruka akan menolak lagi… dengan alasan yang berbeda.
Kakashi membuka botol chardonnay –nya, lalu menenggak isinya langsung dari botol. Mirip cara pemabuk menikmati wiski atau bir. Sama sekali tak berseni.
Namun Kakashi tak peduli lagi. Saat tubuhnya mulai terpengaruh dahsyatnya kenikmatan white wine, Kakashi mulai merasa tak nyaman minum-minum sendirian. Ia memungut handphone-nya, lalu menghubungi seseorang yang kiranya dapat menjadi temannya dalam menikmati minuman yang sedianya untuk Iruka tersebut.
"Heh, aku juga bisa berbuat sama sepertimu, Iruka-kun," gumam Kakashi dengan nada mengejek yang lebih mirip suara orang yang meracau. Bertekad membuktikan bahwa ia tak perlu menunggu Iruka untuk bersenang-senang.***
Kalau kau menjadi seorang selebritas, maka apapun dan siapapun yang berada di dekatmu akan ikut menjadi bahan yang diperhatikan oleh orang-orang di sekitarmu. Semacam hukum alam yang berlaku bagi siapa saja, tak terkecuali bagi remaja delapan belas tahun yang sebelumnya dikenal biasa saja. Hal itulah yang kini mulai disadari oleh Iruka. Popularitasnya yang meroket hanya karena insiden memalukan ternyata berimbas pada Hinata.
Saat Hinata mulai kehilangan kesadarannya, Iruka dengan sigap menahan tubuh gadis itu agar tak menyentuh lantai. Bak roman picisan, tentu saja hal yang dapat Iruka lakukan adalah menahan tubuh Hinata di… pinggangnya. Iruka—yang sedang panik dan cemas—tentu saja tak memerhatikan lagi bagian tubuh Hinata yang mana yang ia sentuh, yang penting ia dapat mencegah agar tubuh Hinata tak terjerembab menghantam lantai.
Masalahnya, saat kejadian, ada puluhan pasang mata yang menyaksikan insiden tersebut. Kini, Iruka sedang menghadapi konsekuensinya. Ia mulai dihubung-hubungkan dengan Hinata, gadis yang semalam bahkan hendak ia damprat.
"Hinata pingsan saat kau mencarinya di kelasnya. Menarik," bisik Kabuto pada Iruka pada saat Tsunade-sensei sedang mengajar.
"Aku ada urusan dengannya. Tidak masalah, 'kan?" balas Iruka, ikut berbisik, "aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba pingsan. Mungkin saja dia memang sedang sakit."
"Katanya kemarin kau juga mencari dia di kelasnya. Apa kejadian itu juga kebetulan saja?" timpal Mizuki, ikut menyelidiki Iruka.
"Oh ya, katanya kalian juga berbicara di tempat yang sepi. Berdua saja. Apa yang kalian bicarakan?" tanya Kabuto, merasa mendapat kawan untuk menyelidiki Iruka.
Kalian menyebalkan, maki Iruka dalam hati. Hanya memaki dalam hati. Sebab, tidak mungkin ia menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, bukan? Namun, Iruka juga harus mencari cara agar dirinya dapat terbebas dari interogasi teman-temannya.
Dengan sengaja Iruka menjatuhkan kamus biologi yang tebal hingga menimbulkan bunyi berdebam di lantai. Perhatian seisi kelas, termasuk Tsunade-sensei, akhirnya tertuju pada Iruka. Dengan tenang, Iruka memungut kamus biologi tersebut, sementara Kabuto dan Mizuki secara perlahan menegakkan tubuh mereka pada sandaran kursi. Berusaha agar Tsunade-sensei tak menyadari bahwa mereka baru saja mengobrol pada saat kelas masih berlangsung. Pertanyaan berikutnya yang hendak mereka ajukan pada Iruka tampaknya menguap begitu saja.
Iruka tersenyum tipis saat Tsunade-sensei kembali mengajar. Ia aman sekarang. Untuk sementara.***
Kakashi mengerjap-ngerjapkan sepasang mata sayunya. Sudah berapa lama ia tertidur setelah menenggak chardonnay buatan Amerika yang lebih enak daripada buatan Perancis itu? Ia mengangkat kepalanya. Sedikit berat, tapi Kakashi masih bisa menahannya.
Kakashi berdiri dengan terhuyung. Ia hendak ke toilet, namun kesulitan melihat dengan jelas karena minimnya pencahayaan di sana. Menekan saklar lampu hanya akan membuat Kakashi berjalan menjauhi toilet, sehingga ia memilih untuk menyibak tirai tebal yang menutupi jendela kamarnya yang lebar.
Terdengar bunyi tirai yang disingkap, bersamaan dengan masuknya cahaya matahari melalui jendela. Kakashi memicingkan mata karena silau. Ia kini sadar, ia telah kehilangan kesadaran sepanjang siang hingga malam hari kemarin. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Iruka pasti sudah berangkat ke sekolah sendirian.
Kakashi meringis saat mengingat Iruka. Ia yakin bahwa ia pasti sangat mencintai remaja culun itu sampai-sampai orang pertama yang Kakashi ingat pada pagi hari adalah Iruka. Sayangnya, Iruka tampaknya tak memiliki perasaan yang sama kuatnya dengan perasaan Kakashi. Menyedihkan.
Kakashi menjauh dari jendela, meneruskan perjalanannya untuk memenuhi panggilan alam. Namun, lagi-lagi ia terusik karena mendengar suara parau yang berkata dengan malas, "tutup tirainya, dong. Aku masih ngantuk nih."
Sumpah, Kakashi—yang masih setengah sadar—hampir saja menutup kembali tirainya. Namun, ia juga mulai menyadari bahwa pemilik suara serak itu juga bukanlah orang yang berhak menyuruh Kakashi untuk membiarkannya tidur. Maka, Kakashi menoleh ke asal suara dan menemukan sesosok pria sedang berbaring di ranjang. Ranjang yang sama dengan yang ditempati oleh Kakashi sebelumnya. Namun yang membuat Kakashi melotot adalah, sang pemilik suara serak khas orang yang baru bangun tidur itu sedang berbaring dengan damainya, tanpa mengenakan pakaian sama sekali!
"Hei! Mengapa kau tidur telanjang kamarku?!" teriak Kakashi, marah.
Orang yang disemprot oleh Kakashi malah menggeliat, membelakangi Kakashi. Meneruskan tidurnya yang terganggu seolah-olah dirinya adalah pemilik ranjang empuk yang sedang ia tempati.
Kakashi hendak memaksa orang yang lancang itu agar turun dari ranjangnya saat ia menyadari keanehan pada dirinya. Kakashi melihat ke bawah, mengamati tubuhnya yang ternyata juga... sedang tak berbusana sama sekali!
Wajah Kakashi memucat. Dengan gemetar, ia memandang sosok yang tampaknya kini semakin nyenyak saja tidurnya itu. Kakashi—dengan was-was—mulai menebak-nebak sendiri apa yang terjadi semalam.
"T-t-ti..." Kakashi tak sanggup meneruskan kata-katanya. Pucat pasi. Sangat, sangat terguncang. Ia cukup yakin bahwa sesuatu telah terjadi semalam. Sesuatu yang Kakashi inginkan, namun ingin ia lakukan bersama Iruka dan bukannya bersama sosok berambut berantakan itu, Obito!
Kakashi tumbang saat itu juga. Tubuhnya menimpa lantai. Bukan untuk meneruskan tidur, melainkan demi kehilangan kesadaran diri selama entah berapa lama.
Sementara itu, Obito masih juga terlelap dalam tidurnya. Damai sekali.***
TBC-uhuk
A/N :
Beres juga chapter ini di tengah kegalauan lantaran Neji, salesman sex toy kesayangan saya telah berpulang ke pangkuan Masashi-nii*ngelap ingus* Tapi, Hinata kayanya justru lagi senang ya. Ya udah deh, sebagai pendukung NaruHina, saya ikut senang XD
Dear Freeya Lawliet, fic ini buat kamu. Lap yu!
