UMMA'S JEALOUSY (2/?)
.
Pairing :: Main SuDo (SuHo x D.O.) slight Kyumi (wajib), Yewook, Kaisoo, SuKai
Cast :: EXO + SUJU
Genre :: Romance / Family / Friendship
Rate :: aman untuk anak umur 13 tahun ke atas
Warning :: YAOI, bagi yang gak suka baca yang kayak gini mending menyingkir jauh-jauh. Mungkin ada beberapa yang Miss Typo… Bahasa agak aneh. Soalnya Mina sudah lama nggak mbuat FF.
Disclimer :: Semua nama yang Mina sebut di sini bukan milik Mina. FF yang terinspirasi dari banyak video terutama EXO showcase dan beberapa wawancara di radio yang didatangi oleh EXO-K. Ide asli dari dalam otak Mina sendiri jadi jangan ada yang mengatakan Mina memplagiat.
.
.
Don't Like Don't Read…..
.
.
"Bagaimana Joonmyun-ah?" Minseok bertanya pada Joonmyun yang baru keluar dari kamar Kyungsoo.
"Dia tertidur setelah lelah menangis."
"Dia menangis?"
"Ya. Ada bekas air mata di pipinya."
Tanpa berbicara lagi, Minseok masuk ke dalam kamar Kyungsoo. Matanya membulat dengan sempurna saat dilihatnya Kyungsoo yang sedang menangis tanpa suara.
"Kyungsoo, ada apa?"
Tak ada jawaban dari Kyungsoo. Dia masih saja menangis tak menghiraukan hyung tertuanya. Minseok bergegas mendekat dan memeluk tubuh Kyungsoo. Dibelainya punggung Kyungsoo untuk menenangkannya. "Ssh… Berhenti menangis. Semua akan baik-baik saja." Minseok terus saja mengatakan apapun untuk menanangkan Kyungsoo.
Kyungsoo terus saja menangis di pelukan hyungnya. Saat ini dia hanya ingin melepaskan semua rasa sakit di hatinya. Semoga saja setelah ini dia dapat melupakannya perasaannya pada Joonmyun hingga dia tak perlu tersakiti lagi seperti sekarang.
Minseok terus membelai punggung Kyungsoo. Diantara semua dongsengnya, dia paling sayang pada Kyungsoo. Jadi melihatnya dalam keadaan yang seperti ini membuatnya sangat bersedih. Satu jam kemudian dia sudah tak mendengar suara isak tangis Kyungsoo. Dia merasakan tarikan nafas Kyungsoo yang terdengar teratur yang menandakan kalau dia sudah jatuh tertidur. Dibaringkannya tubuh kecil dongsengnya itu, menyelimutinya, kemudian meninggalkan kamar itu. Hanya ada dua orang yang masih menunggunya di depan TV. Joonmyun dan Jongin.
"Kenapa lama sekali hyung?" Joonmyun bertanya dengan nada sedikit kesal dan sedikit khawatir.
"Aku menunggunya hingga tertidur."
"Bukankah tadi dia sudah tidur saat aku masuk?" tanya Joonmyun yang sepertinya lebih ditujukannya pada dirinya sendiri.
"Dia masih menangis saat aku masuk." Sahut Minseok tandas.
"Jadi dia hanya berpura-pura tidur?" tanya Joonmyun tidak percaya. Untuk apa Kyungsoo menipunya dengan berpura-pura tidur? Sebegitu tak inginkah Kyungsoo melihatnya?
"Aku tak tahu. Mungkin dia benar-benar tidur saat kamu masuk, dan terbangun lagi sesudahnya." Minseok berusaha menenangkan dongsengnya yang terlihat sangat kacau itu. "Kalian juga istirahatlah. Besok kita harus terbang ke China. Jadi jaga fisik kalian."
Setelah mengatakan itu Minseok meninggalkan Joonmyun dan Jongin yang masih duduk di tempat semula. Dia masih harus kembali ke dorm EXO-M.
Keheningan menyelimuti ruang tamu setelah Minseok pergi. Dua orang yang masih ada di sana terhanyut dengan pikiran masing-masing yang menuju pada orang yang sama. Kyungsoo.
"Apa Kyungsoo marah kepadaku Jongin?" tanya Joomyun memecah keheningan. "Apa aku melakukan sesuatu yang membuatnya marah padaku?" lanjutnya.
"Aku tak tahu hyung. Mungkin aku sahabat baiknya. Mungkin dia menceritakan banyak hal padaku. Tapi percayalah, ada lebih banyak rahasia yang dia sembunyikan dariku."
"Benarkah? Dia tak mengatakan apa-apa akhir-akhir ini?" tanya Joonmyun dengan tatapan tak percaya.
"Tidak. Tiap kali bersamaku dia hanya mengkhawatirkan kondisi pinggangku. Dia lebih sering mendengarkanku bercerita tanpa mengatakan apapun yang ada dalam otaknya. Dia lebih senang mengkhawatirkan orang lain daripada dirinya sendiri. Oleh karena itulah Sehun-ah memanggilnya Umma." Jelas Jongin. Sedikit senyum terukir saat dia menyebut nama Sehun.
"Apa yang harus kulakukan Jongin? Aku merasa kalau dia marah padaku. Tapi aku tak tahu kesalahan apa yang kulakukan hingga membuatnya marah." Joonmyun menundukkan kepalanya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ingin sekali dia meneriakkan semua perasaannya agar dia bisa merasa sedikit lega.
"Hyung bertanya langsung saja pada Kyungsoo-hyung." Balasa Jongin apa adanya.
"Bagaimana aku bisa bertanya padanya? Dia terus menghindariku. Bahkan dia berpura-pura tidur saat aku masuk ke kemarnya." Sahut Joonmyun.
"Kalau begitu tunggu saja hingga Kyungsoo-hyung tenang."
"Sampai kapan?"
"Aku tak tahu sampai kapan. Tapi pasti tak akan lama. Kyungsoo-hyung bukanlah orang yang betah marah dalam waktu yang lama. Apalagi padamu hyung." Jongin mengucapkan kalimat terakhirnya dengan sangat pelan hingga hanya dia sendiri yang mendengar kata-katanya.
"…." Joonmyun tak memberikan respon apapun. Dia tak bisa benar-benar memusatkan perhatiannya pada Jongin.
"Ayo tidur hyung. Aku sudah mengantuk." Jongin menguap lebar. Dia sudah mengantuk dari tadi. Tapi karena ada Minseok di dalam dia merasa tak enak untuk masuk.
"Tidurlah dulu. Bagaimana keadaan pinggangmu?" Joonmyun yang masih memikirkan Kyungsoo sama sekali belum merasa mengantuk. Dia masih ingin memikirkan apa yang akan dilakukannya esok hari tapi dia teringat kondisi pinggang Jongin yang memburuk.
"Baik hyung. Aku sudah minum obat penghilang rasa sakit tadi. Aku tidur dulu hyung!" Jongin mengucapkan kebohongannya dengan lancar. Melihat kedua hyung-nya yang sedang bermasalah membuatnya tak tenang dan lupa kalau dia belum meminum obatnya lagi. Lagipula dia tak ingin menambah beban pikiran Joonmyun dengan menceritakan masalah pinggangnya dengan apa adanya.
"Jiljaeyo Jongin-ah." Joonmyun menampakkan sekilas angel smilenya.
Setelah Jongin masuk ke kamar yang ditempatinya dengan Kyungsoo, Joonmyun kembali terlarut dalam pikirannya. Hari ini baru hari pertama mereka debut dan dia sudah menyebabkan Kyungsoo menangis. Bagaimana dengan hari-hari selanjutnya? Sejauh mana dia bisa bertahan dengan melihat air mata Kyungsoo yang mengalir?
.
.
Kyungsoo terbangun lagi saat hari sudah larut malam. Atau malah bisa dibilang dini hari. Ditengoknya sekilas tempat tidur yang dipakai oleh Jongin. Dilihatnya Jongin yang tidur dengan pulasnya. Rasa lega seketika menyergapnya. Karena masalahnya dia lupa dengan kondisi dongseng yang disayanginya itu.
Kyungsoo bangun dari tempat tidurnya dan berjalan dengan pelan ke arah pintu dan berusaha sesedikit mungkin menimbulkan suara. Sesedikit apapun waktu tidur yang mereka dapatkan saat ini sangatlah berarti. Perasaan aneh menjalari hati Kyungsoo saat menemukan ruang tengah yang masih benderang. Apa masih ada member selain dirinya yang tidak bisa tidur? Dengan mengendap-ngendap dia berjalan ke arah ruang tamu, dan betapa kagetnya dia saat dia menemukan Joonmyun yang tertidur di sofa. Tanpa mengenakan jaket, tanpa memakai selimut dengan raut yang sedikit tertekan.
Kyungsoo menekan dada kirinya yang kini kembali terasa sakit. Kenapa mencintai seseorang terasa begini menyakitkan? Tanpa disadarinya setitik air mata kembali menetes dari kedua bola matanya. Dipandangnya wajah tidur pelindungnya itu. Kulit porselinnya yang tanpa cela, bibir yang setiap saat selalu menampilkan angelic smile, matanya yang biasanya selalu berbinar, rambutnya yang saat ini agak berantakan dan sedikit menutupi wajahnya. Kenapa dia begitu sempurna? Sudah sepantasnya orang sesempurna ini juga mendapatkan orang yang sama dengannya. Luhan hyung.
Setelah pikiran itu melintas di otaknya Kyungsoo merasa matanya semakin panas karena air matanya semakin ingin mengalir keluar. Dengan terburu-buru dia melangkah ke kamar yang ditempati oleh Sehun dan Joonmyun. Diambilnya selimut yang ada di ranjang milik Joonmyun dan kembali menutup pintu dengan pelan. Diselimutinya orang yang sangat dicintainya itu dengan penuh kasih sayang. Setelah yakin Joonmyun sudah lebih hangat dia memandang Joonmyun dengan pandangan ragu-ragu. Tapi akhirnya dia mendekatkan wajahnya kea rah Joonmyun dan mencium kening Joonmyun. "Saranghae hyung." Bisiknya pelan. Tanpa disadarinya setetes air matanya jatuh ke pipi Joonmyun.
Kyungsoo sudah lupa niat awalnya untuk mengambil minum. Dia langsung masuk ke kamarnya dan melanjutkan menangis. Menangisi nasib cintanya yang harus kandas bahkan saat dia belum mengatakan apapun pada orang yang telah menambat hatinya. Menangisi kebodohannya yang berani jatuh cinta pada orang yang tak punya perasaan apapun padanya.
.
.
Joonmyun mengerjap-ngerjapkan kedua matanya menyesuaikan dengan sinar lampu yang benderang. Diregangkannya tangannya hingga selimut yang menutupi tubuhnya jatuh ke lantai. Dipungutnya selimut yang telah menghangatkan tubuhnya itu. siapa yang menyelimutinya?
Joonmyun masih memegang selimut saat Sehun, Baekhyun, dan Chanyeol keluar dari kamar masing-masing. Mereka terlihat masih mengantuk.
"Joonmyun hyung? Kapan bangun? Kenapa sudah duduk di sofa?" Sehun menghampiri Joonmyun dan ikut merebahkan tubuhnya ke sofa.
"Hyung tidur semalaman di sini?" tanya Baekyeol bersamaan.
"Iya." Jawab Suho singkat.
"Untuk hyung membawa selimut. Udara sangat dingin saat ini." celetuk Baekhyun melihat selimut yang ada di pangkuan Joonmyun.
"Lho? Bukan salah satu dari kalian yang membawakannya untukku?"
"Bukan hyung. Kami capek sekali semalam. Dan kami tak ingat memberi hyung selimut." Sahut Chanyeol dengan wajah bingung.
"Sehun?" tanya Joonmyun pada Sehun yang kembali memejamkan kedua matanya.
"Ani hyung." Ujarnya singkat.
"Kyungsoo…" tanpa sadar Joonmyun menyebut nama itu. Sebuah perasaan hangat langsung menyelimuti dirinya saat menyadari apa yang telah dilakukan oleh orang yang sangat dicintainya itu. Semarah apapun Kyungsoo padanya, Kyungsoo tetap akan melimpahkan perhatian padanya.
.
.
Satu jam sesudahnya masih di dorm EXO-K
Hampir semua member sibuk untuk mempersiapkan keberangkatan mereka ke China. Di dalam salah satu kamar dua orang namja sedang berkutat dengan tas bepergiannya, yah tidak dua sebenarnya. Hanya salah satu yang bermata lebar yang sedang mengaturkan barang bawaan milik dongsengnya yang masih duduk dengan nyaman di atas ranjang. Dia bukannya tidak ingin membantu. Tapi sang hyung yang tahu kondisi pinggangnya yang memburuk memerintahkannya untuk diam.
"Hyung… Aku bisa menatanya sendiri." Jongin merasa tak enak melihat hyung kecilnya menatakan barang miliknya.
"Kamu istirahat saja Jongin-ah. Sebentar lagi sudah selesai. Maafkan hyung yang tidak membantumu berkemas sejak kemarin. Pinggangmu memburuk setelah showcase kemarin kan? Apa tak apa hari ini harus tampil lagi?" tanya Kyungsoo dengan raut khawatir. Biasanya dialah yang merawat cedera Jongin, tapi karena masalah kemarin dia lupa dengan cedera Jongin.
"Tak apa hyung. Saat tampil di panggung aku lupa dengan cederaku. Yang ada hanyalah perasaan senang bisa tampil di atas stage setelah lima tahun training."
"Kamu namja yang kuat Jongin-ah." Kata Kyungsoo tulus.
"Hyung juga."
Tiba-tiba pintu kamar mereka terbuka dan kepala Joonmyun menyembul di celah pintu. Kyungsoo dan Jongin menolehkan wajah bersamaan ke arah pintu. Wajah Kyungsoo langsung memucat dan dia langsung mengalihkan pandangannya pada tas di hadapannya lagi tanpa ada niat mengangkat kepalanya lagi saat dilihatnya siapa pemilik kepala tersebut.
"Kalian sudah siap? Lima menit lagi kita berangkat." Joonmyun berujar sambil mengamati Kyungsoo yang masih menata bawaan Jongin dengan kepala menunduk. Hatinya kembali teriris melihat Kyungsoo yang tak mau menatapnya. Tapi mau tak mau di sunggingkannya senyum simpul di bibirnya. Dialihkan pandangannya ke arah Jongin. "Kenapa Kyungsoo yang menata barangmu Jongin-ah? Semalam kamu bilang pinggangmu tak sakit lagi." Tegurnya halus.
"Kyungsoo hyung yang memaksa. Padahal aku ingin menatanya sendiri." Jongin mengerucutkan bibirnya. Bagaimanapun juga dia member termuda kedua. Jadi dia juga menguasai kemampuan semua magnae. Berakting cute.
"Kamu sudah siap Kyungsoo-ah?"
"Sudah." Sahut Kyungsoo singkat dengan nada yang sedikit lebih keras dari yang dimaksudkannya. Perasaan menyesal langsung menghinggapinya setelah jawaban itu keluar dari bibirnya.
"Kalau sudah selesai berkemas kami tunggu di luar." Ujar Suho dengan suara datar. Tapi dari sorot matanya bisa dilihat kalau ada kesedihan di sana.
Jongin yang melihat ekspresi Joonmyun jadi sedikit menemukan alasan menangisnya Kyungsoo kemarin. "Hyung ada masalah dengan Joonmyun hyung?" tanyanya pada Kyungsoo yang masih menundukkan wajahnya.
"Tidak ada. Nah sudah selesai. Ayo segera keluar." Kyungsoo menutup tas jongin dan berdiri. Sebuah senyum tersungging di bibirnya.
"Hyung itu tidak pintar berbohong. Hyung tahu itu?" kata Jongin dengan suara pelan. Dia sangat sayang pada hyung-nya ini dan dia tak suka melihat senyum palsu yang terpasang di bibir hyung-nya saat ini.
"Aku tidak berbohong Jongin-ah." Kyungsoo masih bersikeras tak mau mengaku.
"Terserah hyung sajalah. Tapi kalau hyung butuh tempat untuk bercerita, aku akan selalu ada untuk hyung." Jongin memeluk hyung tersayangnya itu. Kyungsoo menepuk pelan lengan Jongin yang melingkar pada bahunya.
"Terimakasih Jongie."
.
.
Tbc
.
.
Balasan review ::
RiyoungSuhoWife :: ini udah lanjut… Btw, panggil Mina aja. Jangan thor..
Reita :: Wae untuk apanya? O_O ? (Error mode on)
Briel APel gak Login :: lain kali login ya? Biar bisa langsung kirim PM. Kayaknya yang kasihan dua-duanya deh…
Nisa :: klo gak tbc ntar gak bakalan publish2 dong!
Shim Agassi :: ow… kecepetan ya? Di chap ini masih kecepetan atau gak?
Untuk yang mereviewnya login bisa dilihat di inbox masing. Makasih semuanya buat yang udah mbaca dan meninggalkan pesannya.
JEONGMAL KAMSAHAMNIDA
Btw, Lee Chaerin, I still Remember You. Can You log in and leave me your fb accout? I will add you.
