HARD LIFE and LOVE

Disclaimer : Belong to SM, God, and theirselves :D This story is mine.

Author : Lee Rae Ra / Iqlima

Genre : General, Romance

Rate : T

Length : Sequel

Summary : Sungmin adalah anak bungsu dari Presiden Direktur Tan Group. Manja sekali. Tapi di saat dia bertemu Kyuhyun, seorang penyanyi di cafe, dia jatuh cinta pada Kyuhyun. Untuk mendekati Kyuhyun, akhirnya dia menyembunyikan identitasnya. KyuMin Genderswitch! Ada ZhouRy, SiBum, 2Min tapi hanya sebagai selingan saja :D

HARD LIFE and LOVE

Sungmin mendengarkan suara merdu Kyuhyun sambil menikmati burger yang dipesannya. Sungmin beranjak berdiri untuk request lagu pada Kyuhyun, tapi terlambat. Tiba-tiba saja Kyuhyun pergi dan posisinya digantikan sang pemain keyboard.

Sungmin mendesah kecewa. Dia tidak jadi request lagu, dia beralih haluan menuju meja kasir dan membayar pesanannya.

: HARD LIFE and LOVE :

Sedikit berlari, Sungmin menuruni tangga. Hampir saja dia tersandung tapi untung saja da tidak terjatuh.

Heechul yang mengamati tingkah laku anaknya dari kaki tangga pun geleng-geleng kepala.

"Hati-hati, kalau turun tangga. Kalau jatuh nanti bagaimana? Kau mau gegar otak?" tegur Heechul.

Sungmin meringis. "Maaf Umma, aku kelewat bersemangat hari ini." Kata Sungmin.

"Hari ini mau ngapain lagi? Belanja?" tanya Heechul kesal.

Sungmin menggeleng. "Aku mau ke China hari ini."

"Yaa! Apa kau pikir barang-barang Korea kalah dari barang China? Belanja saja sampai pergi jauh ke China!" seru Heechul marah, karena dia sangat suka menggunakan produk buatan Korea.

"Tidak, Ummaaaa.. Bukannya aku ingin belanja, tapi aku ingin menemui Zhoumi Oppa. Aku rindu sekali padanya. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya."

"Hanya itu saja?" selidik Heechul.

Sungmin mengangguk. "Hanya itu saja. Pokoknya aku ingin menemui Oppa. Aku sudah rindu sekali pada Oppa."

"Oppa kan sudah ada disini." Kata Siwon yang muncul dari tangga.

Sungmin memajukan bibirnya. "Memangnya Oppa pikir aku hanya punya satu Oppa? Aku ingin menemui Zhoumi Oppa, bukan Siwon Oppa."

Siwon tertawa kecil. "Lalu kau akan kesana naik apa? Pesawat komersial?"

"Tentu saja. Umma tidak akan memperbolehkanku menggunakan jet pribadi." Keluh Sungmin.

"Kau kan hanya pergi sendiri, lalu buat apa susah-susah naik jet pribadi kalau hanya untuk mengantarkan satu orang?" kata Heechul.

"Bukankah fungsi jet pribadi memang seperti itu.. Tapi eh.." Siwon menatap adiknya heran. "Kau tidak akan memakai bodyguard?" tanya Siwon heran.

"Untuk apa? Sama sekali tidak perlu." Jawab Sungmin santai.

"Tidak bisa! Kau harus memakai bodyguard!" seru Siwon tegas.

"Oppa! Aku bisa jaga diriku sendiri! Aku kan bisa bela diri, ingat?"

Siwon menggeleng. "Bukan masalah kau bisa bela diri. Tapi kau ini anak dari Presiden Direktur Tan Group dan sudah seharusnya kau mendapat pengawalan lebih."

Sungmin tertawa kecil. "Ah, Opa terlalu berlebihan! Aku akan baik-baik saja. Sekali-kali aku ingin juga bepergian tanpa diawasi bodyguard."

"Kalau begitu temani saja adikmu." Kata Heechul enteng, lalu berjalan meninggalkan kedua anaknya.

Sungmin menatap kakaknya. "Dengan Oppa? Ah, malas sekali.."

"Jangan membantah."

Sungmn hanya bisa pasrah. Dia tahu dia tidak bisa menolak.

: HARD LIFE and LOVE :

Pesawat yang ditumpangi Siwon dan Sungmin akhirnya mendarat di bandara. Setelah mengurusi bagasi, mereka berdua keluar dari bandara dan naik taksi.

"Gedung Tan Group." Kata Siwon.

Sang supir taksi mengulangi perkataan Siwon di depan GPS. Taksi lalu mulai berjalan. Hanya butuh waktu kurang lebih dua puluh menit untuk sampai di Gedung Tan Group. Setelah membayar, mereka berdua turun.

"Whooaa.. Tan Group di China lebih besar dari yang ada di Korea!" seru Sungmin takjub.

"Kan memang pusatnya di sini. Kampungan sekali sih. Perusahaan milik sendiri kok tidak tahu. Ayo masuk." Ajak Siwon.

Sambil menyeret koper mereka, mereka masuk ke dalam gedung. Para karyawan tentu saja mengenali wajah mereka dan menyambut mereka dengan ramah.

Siwon dan Sungmin langsung masuk ke dalam lift dan menuju lantai sepuluh, lantai dimana kantor Hangeng dan Zhoumi terletak.

Begitu lift terbuka, Sungmin langsung berlari sambil menyeret kopernya menuju ke ruangan Zhoumi. Sungmin membuka pintu ruang kerja Zhoumi dengan kasar.

"Oppa!" seru Sungmin.

Sungmin langsung menghambur memeluk kakaknya. Sedangkan Zhoumi hanya diam seperti orang bodoh karena tiba-tiba adiknya muncul.

"Kau kesini sendirian?" tanya Zhoumi setelah Sungmin melepaskan pelukannya.

"Apa kau sudah gila? Tentu saja dia bersamaku." Kata Siwon yang tiba-tiba muncul dari pintu.

"Yaa! Bicara yang sopan pada kakakmu!" seru Zhoumi.

Siwon tertawa. "Sungmin tiba-tiba saja ingin pergi ke China menemuimu, jadi aku temani saja deh."

"Ah! Sudah, aku mau ke tempat Appa dulu!" seru Sungmin sambil bergegas keluar dari ruangan Zhoumi.

Sungmin berlari-lari menuju ruang kerja Ayahnya, membuat semua orang yang melihatnya heran.

"APPA!" jerit Sungmin setelah dia membuka pintu ruang kerja Ayahnya.

Hangeng yang sedang sibuk di depan laptopnya pun mendongak demi mendengar suara anaknya.

"Yaa, mengapa kau ada disini?" tanya Hangeng heran.

Sungmin cemberut. "Appa tidak senang aku ada disini?"

"Bukan begitu.. Kau sendirian?"

"Aku bersama Siwon Oppa. Aku merindukan Zhoumi Oppa dan akhirnya aku kemari saja."

"Hanya Zhoumi saja? Appa tidak?"

Sungmin tertawa lalu memeluk Ayahnya. "Tentu saja aku juga rindu Appa!"

"Baru saja tiba disini?" tanya Hangeng setelah Sungmin melepaskan pelukannya.

Hangeng mengajak Sungmin duduk di sofa.

"Iya.. Tapi besok pagi kami harus segera kembali karena Siwon Oppa kan harus bekerja.." keluh Sungmin.

"Masih belum bisa memutuskan untuk kuliah dimana?"

Sungmin menggeleng. "Tapi tahun depan aku masuk kuliah, Umma sudah mempersiapkan segalanya dan tentu saja aku tidak bisa menolaknya." Kata Sungmin sedih.

"Umma bilang apa?" tanya Hangeng sambil mengelus rambut anaknya.

"Umma bilang aku harus masuk ke bisnis. Tapi, tapi aku tidak suka bisnis.."

"Lalu kau maunya apa?" tanya Hangeng sabar.

"Jika aku memang harus kuliah, aku ingin ada di jurusan musik, Appa.." jawab Sungmin.

"Lalu, kuliahlah di jurusan musik." Kata Hangeng kalem.

Sungmin menatap Ayahnya tak percaya. "Bukankah.. Bukankah aku memang harus masuk bisnis?" lirih Sungmin.

"Appa sudah punya Zhoumi di China dan Siwon di Korea. Mereka berdua mencintai Tan Group, jadi Appa sudah percaya pada mereka."

"Aku juga mencintai Tan Group."

"Tidak." Kata Hangeng sederhana.

"Appa! Aku mencintai Tan Group!" seru Sungmin.

"Kau menyebut dirimu mencintai Tan Group? Kau bahkan tidak tahu apa-apa tentang Tan Group. Pergi ke kantor pun baru sekali. Kau bahkan tidak tahu Tan Group punya apa saja. Kau bahkan tidak tahu Tan Group sedang melakukan apa. Itukah yang kau sebut mencintai Tan Group?"

Sungmin ternganga.

"Sesederhana itu, Sungmin. Kau sama sekali tidak mencintai Tan Group. Jadi untuk apa kau susah-susah kuliah bisnis kalau nantinya kau sama sekali tidak akan menjalankan apa yang telah kau pelajari?"

Sungmin menunduk. "Maafkan aku, Appa.."

"Pulanglah. Kau pasti capek. Akan kuminta supir mengantarkanmu dan Siwon ke rumah."

Sungmin mengangguk. "Terima kasih, Appa.."

: HARD LIFE and LOVE :

Paginya, Sungmin dan Siwon langsung terbang kembali ke Korea. Siwon tak punya waktu istirahat, dia langsung bekerja begitu sampai di Seoul. Sedangkan Sungmin, dia tertidur dengan pulasnya.

Malam harinya, Sungmin pergi lagi ke kafe yang dikunjunginya kemarin lusa, Rainbw Cafe. Tujuan Sungmin hanya satu, dia hanya ingin mencari informasi tentang penyanyi kafe yang suara dan wajahnya bagai malaikat itu.

"Silahkan jalan-jalan sendiri. Nanti jika sudah selesai akan kutelepon." Kata Sungmin pada supirnya.

"Tentu saja, agasshi."

Sungmin memasuki Rainbow Cafe, yang lagi-lagi, ramai. Untung saja masih ada tempat duduk yang kosong. Sungmin mengeluarkan amplop yang telah disiapkannya. Seorang pelayan laki-laki datang mendekatinya.

"Silahkan tulis pesanan anda." Katanya sopan.

Sungmin langsung menuliskan pesanannya kemudian dia menyerahkan kertas pesanan beserta amplop yang tadi disiapkannya.

"Nanti datang lagi kemari." Kata Sungmin.

"Baik, nona."

Alunan suara merdu Kyuhyun memenuhi kafe. Sungmin sangat menyukai suara itu. Rasanya, jika mendengar suara itu, semua beban di hatinya hilang.

Pelayan yang tadi datang lagi membawakan pesanan Sungmin.

"Duduk." Kata Sungmin.

"Tidak bisa nona, tugas kami hanya melayani." Kata pelayan itu gelisah.

"Nanti aku bilang bosmu." Kata Sungmin, mengerti kegelisahan pelayan di depannya.

Akhirnya pelayan itu duduk di depan Sungmin.

"Sekarang katakan, apa yang kau tahu tentang penyanyi itu?" tanya Sungmin sambil menunjuk Kyuhyun dengan dagunya.

"Namanya Kyuhyun. Kim Kyuhyun."

"Berikan aku informasi yang lengkap. Nanti aku tambah lagi tip mu." Kata Sungmin.

"Dia kuliah di Kyunghee University, jurusan Post Modern Music. Sekarang sudah semester empat. Rumahnya dekat Kyunghee. Punya adik perempuan satu namanya Kim Taemin. Orang tuanya bernama Kim Kangin dan Kim Leeteuk. Ibunya bekerja membuka laundry dan Ayahnya bekerja di Tan Group.."

"Tan Group?" potong Sungmin.

"Ayahnya bekerja di Tan Group sebagai Kepala Bagian Penjualan."

Sungmin terperanjat. "Kepala Bagian Penjualan? Kenapa Kyuhyun bekerja disini kalau Ayahnya saja sudah bisa memenuhi kebutuhannya?"

"Kyuhyun itu anak yang mandiri. Dia tidak ingin menyusahkan orang tuanya, jadi dia memutuskan untuk mencari uang sendiri."

"Ada info yang lain lagi?" tanya Sungmin.

"Kalau tentang sifatnya, dia sangat suka bermain game. Tapi dia baik hati walaupun kadang agak jahil. Dia juga sangat menyayangi adik perempuannya, Taemin."

"Adiknya bersekolah dimana?" tanya Sungmin ingin tahu.

"Seoul High School 1."

"Bukankah itu sekolah negeri yang paling bagus di Seoul? Bahkan di Korea?" tanya Sungmin terkejut.

Pelayan itu mengangguk. "Adiknya itu pintar, begitu pula Kyuhyun. Kyuhyun dulu juga sekolah disana. Oh iya, Kyuhyun juga sangat pintar. Berkali-kali dia ikut Olimpiade Matematika dan selalu menang."

"Apakah dia punya pacar?" tanya Sungmin lagi.

"Setahu saya tidak. Kata Kyuhyun, dia sudah cukup mengurusi adiknya, tidak mau repot mengurusi gadis lain."

"Tipenya yang seperti apa?"

"Kyuhyun pernah memberitahu saya, kalau dia suka gadis yang baik, mandiri, dan pekerja keras."

Sungmin mengangguk-anggukkan kepalanya. "Terima kasih atas info yang kau berikan. Jangan bilang siapa-siapa. Ini aku tambah lagi tip mu." Sungmin memberikan sebuah amplop pada pelayan itu.

Pelayan itu mengucapkan terima kasih dan pergi meninggalkan Sungmin.

"Jadi namanya Kyuhyun ya.. Baiklah kalau begitu.. Bagaimana caranya aku bisa berkenalan dengannya ya?"

Sungmin meminum jus jeruk yang dipesannya. "Tapi dia suka gadis mandiri dan pekerja keras.. Itu sama sekali bukan aku." Keluhnya.

Sungmin berpikir lagi. Tiba-tiba sebuah ide melintas di benaknya.

"Aku tahu! Kenapa aku tidak menyembunyikan identitasku saja! Itu cara yang paling bagus!"

: HARD LIFE and LOVE :

Esok paginya, seperti biasa, Heechul, Siwon, dan Sungmin sarapan pagi. Rutinitas yang selalu mereka lakukan. Tentu akan lebih menyenangkan jika Hangeng dan Zhoumi ikut berpartisipasi. Tapi tentu saja tidak bisa karena mereka berdua ada di China.

"Sungmin." Panggil Heechul ketika dia sudah selesai makan.

"Ne, Umma.." balas Sungmin.

"To the point saja. Umma sudah bosan dengan kelakuanmu selama ini. Umma sudah tahan-tahan agar tidak marah padamu, tapi Umma sudah tidak sabar lagi. Kau perlu diberi hukuman." Heechul menjatuhkan bom yang sudah dipersiapkannya.

Sungmin tersedak susu yang sedang diminumnya. Siwon pun terdiam.

"Hukuman?" ulang Sungmin.

Heechul mengangguk. "Umma akan tarik semua fasilitasmu. Kartu kredit, mobil, dan yang lainnya."

"Andwae! Tidak bisa begitu, Umma!" seru Sungmin.

"Bisa. Ini hukumanmu karena kau selalu berfoya-foya. Apa kau tidak ingat apa yang selalu dikatakan Appa mu padamu?"

Sungmin melenguh pelan. "Jangan, Umma.."

"Oh ya, satu lagi. Kau juga tidak boleh tinggal di rumah ini. Kau harus mencari tempat tinggal sendiri. Umma hanya akan memberimu uang saku lima puluh ribu won per bulan, selebihnya kau harus kerja sendiri untuk mencari uang. Kau harus bekerja minimal di tiga tempat berbeda."

Siwon menjatuhkan sendok yang dipegangnya. Dia menatap Ibunya tak percaya, kemudian menatap adiknya yang menunduk pasrah.

"Umma, itu sama sekali tidak bisa dijalankan!" tolak Siwon keras.

"Mengapa? Umma punya hak untuk menghukum adikmu. Kau tidak perlu ikut campur, dan jika kau membantu adikmu, kau sendiri yang akan kuberi hukuman." Kata Heechul tegas.

"Umma.. Kasihan Sungmin.."

"Tidak ada kasihan-kasihan. Sudah saatnya dia merasakan hidup susah. Sungmin, cepat siapkan semua peralatanmu dan carilah tempat tinggal!"

Sungmin tahu dia tidak bisa menolak, maka dari itu dia menganggukkan kepalanya pasrah.

"Ne, Umma.."

: HARD LIFE and LOVE :

"Hah? Begitu?! Kenapa Umma mu bisa jahat sekali? Kasihan Sungmin!" pekik Kibum di telepon.

"Aku tahu. Aku sama sekali tidak setuju. Aku tidak bisa membiarkan adik perempuanku satu-satunya hidup susah dan sendirian sedangkan aku hidup mewah begelimang materi."

"Siwooon.. Bujuk Umma mu. Kita semua tahu Sungmin tidak akan bisa bertahan hidup sendirian dan harus bekerja sendiri!"

"Kau tahu sendiri Umma adalah orang yang keras. Aku sudah berusaha membujuknya tapi dia tetap teguh dengan pendiriannya."

"Ah, kenapa susah sekali sih membujuk Umma mu? Ayolah coba lagi, kasihan Sungmin. Apa kau tidak menyayanginya?"

"Pertanyaanmu bodoh sekali. Tentu saja aku menyayanginya.."

"Lalu lakukanlah sesuatu! Siwon, aku benar-benar tidak tega pada Sungmin. Coba hubungi Zhoumi Oppa, tanya dia apa pendapatnya."

"Baiklah. Gomawo, Kibum-ah. Saranghae.."

"Nado saranghae.."

Siwon menatap foto Kibum yang dia jadikan wallpaper ponselnya. Dia begitu mencintai Kibum. Dan dia sangat bersyukur bahwa Kibum juga sangat mencintai Sungmin. Sungmin pun begitu, Kibum seperti sosok kakak perempuan yang selalu diidamkannya.

"Sungmin, Oppa akan membantumu, chagi.."

: HARD LIFE and LOVE :

"Yeoboseyo, Siwon.." sapa Zhoumi ketika dia mengangkat telepon dari adiknya.

"Hyung, ada berita buruk!"

"Ada apa? Apa Tan Group Korea mengalami masalah?"

"Ini bukan tentang perusahaan, ini tentang Sungmin. Umma menghukum Sungmin!" seru Siwon panik.

Zhoumi tertawa kecil. "Dihukum apa anak itu? Tidak boleh makan seharian?"

"Hyung! Ini serius! Umma menarik semua fasilitas Sungmin dan bahkan Sungmin diusir dari rumah."

"APA?!" seru Zhoumi tak percaya. Dia sampai melompat berdiri dari kursinya saking kagetnya.

"Sungmin harus tinggal sendiri dan dia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Dia hanya diberi uang saku lima puluh ribu won per bulan."

"Siwon, ini sama sekali tidak bisa dibiarkan! Sungmin.. Kau tahu anak itu, Siwon! Kita tidak bisa membiarkannya!"

"Aku tahu, hyung. Umma bilang ini hukuman untuk Sungmin karena dia selalu berfoya-foya. Tapi kau tahu sendiri bagaimana Umma. Aku sudah capek membujuknya. Cobalah bicara pada Appa. Aku tidak tega pada Sungmin, hyung. Aku terlalu menyayanginya, aku tidak bisa membiarkannya menderita."

"Tentu saja aku akan bicara pada Appa. Aku tutup ya, aku akan bicara pada Appa."

Zhoumi menutup teleponnya dan berjalan tergesa menuju ruang kerja Ayahnya. Beruntung sekali Ayahnya sedang bersantai sambil menonton televisi.

"Appa, Umma mengusir Sungmin dari rumah."

"Umma APA?" tanya Hangeng kaget.

Zhoumi menjelaskan apa yang telah dikatakan Siwon padanya. Begitu mendengar cerita anaknya, Hangeng menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.

"Appa, bujuklah Umma.. Kasihan Sungmin."

"Tidak, aku rasa keputusan Umma mu itu benar."

Zhoumi membelalakkan matanya tak percaya. "BENAR? APPA! KASIHAN SUNGMIN JIKA HARUS HIDUP MENDERITA!" seru Zhoumi keras, tak percaya bahwa Ayahnya bisa setega itu.

"Adikmu tidak akan menderita." Kata Hangeng datar.

"Appa, Sungmin tidak akan bisa bertahan. Apakah.. Apakah Appa mau melihatnya mati menderita?" tanya Zhoumi getir.

Hangeng berdiri dan menepuk bahu anaknya. "Gila, kalau Umma mu tidak mengawasinya. Aku tahu Umma mu akan mengawasinya, dan dia tidak akan menderita, Zhoumi. Sudah saatnya dia belajar."

Hangeng meninggalkan Zhoumi. Zhoumi berdiri diam, kemudian mengambil ponselnya dan menelepon Henry.

"Henry, bisa kita bertemu sekarang? Di kafe biasa. Aku benar-benar memerlukanmu, Henry.."

: HARD LIFE and LOVE :

Zhoumi memasuki kafe yang biasa dikunjunginya bersama Henry. Begitu dia masuk, langsung dilihatnya Henry yang melambai ke arahnya. Zhoumi segera menghampiri Henry.

"Ada apa? Sepertinya kau kalut sekali." Tanya Henry.

"Bagaimana aku tidak kalut, jika adikku menderita?" balas Zhoumi sambil menyeruput teh hijaunya yang sudah dipesankan Henry.

"Adikmu? Siwon dan Sungmin?"

"Lebih tepatnya Sungmin. Kau tahu kan sifat adikku itu, dia boros sekali, manja, dan suka seenaknya sendiri. Dan sekarang Umma menghukumnya. Sungmin tidak boleh tinggal di rumah, dia harus tinggal sendiri dan harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Dia tidak akan bisa, Henry.."

Henry tersenyum, kemudian mengenggam tangan kekasihnya.

"Aku tahu Sungmin adalah gadis yang kuat, dia pasti bisa, Zhoumi." Kata Henry menenangkan kekasihnya.

Zhoumi menggeleng. "Aku tidak bisa, Henry.. Aku sangat menyayangi Sungmin. Aku tidak bisa membiarkannya hidup sendiri dan harus bekerja keras. Kasihan Sungmin, Henry.. Dia masih kecil.."

"Aku tahu, Zhoumi. Tapi dia juga harus merasakan, bagaimana rasanya hidup susah. Selama ini dia hidup bergelimang harta, dia harus merasakan kehidupan yang lain. Apalagi kau tahu sifatnya yang manja dan boros itu."

"Tapi tidak dengan begini caranya. Kalau begini, itu sama saja dengan membunuh Sungmin secara perlahan." Kata Zhoumi frustasi.

Henry menggeleng. "Tidak, Zhoumi. Kau harus percaya bahwa Sungmin akan bisa bertahan. Dia bukan anak yang lemah, aku tahu itu. Kau harus percaya. Kau harus mendukung Sungmin. Percayalah, dia akan bertahan dan kuat dengan dukungan orang-orang yang dicintainya."

Seketika hati Zhoumi menjadi tenang. Dia tahu, dan selalu tahu, kalau Henry adalah satu-satunya orang yang selalu bisa menenangkan hatinya.

"Henry, wo ai ni.."

: HARD LIFE and LOVE :

Tanpa sepengetahuan siapapun, diam-diam Sungmin sudah meninggalkan rumahnya sambil membawa dua koper besar. Dia menyuap satpam rumahnya agar tidak bicara apa-apa mengenai kepergiannya.

Tadi setelah sarapan, Sungmin langsung mengemasi pakaiannya kemudian mencari di google, dimana dia bisa menemukan rumah sewa yang bagus dan murah. Akhirnya dia menemukan satu, di dekat Kyunghee University. Sungmin sudah menelepon dan memesan kamar.

Karena Umma nya sudah merampas semua barangnya dan hanya menyisakan ponsel beserta uang saku lima puluh ribu won dan uang yang diambilnya diam-diam dari tabungannya, Sungmin terpaksa naik bus untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia bertanya pada orang di halte bus mana yang menuju Kyunghee University. Ketika bus datang, Sungmin naik dan untungnya saja dia tidak tersesat.

Sungmin turun di halte Kyunghee University. Dia terperanjat begitu melihat Kyuhyun muncul dari arah utara sambil menenteng tasnya. Otak Sungmin berputar mengingat apa yang dikatakan pelayan Rainbow Cafe kemarin.

"Dia kuliah di Kyunghee University, jurusan Post Modern Music. Sekarang sudah semester empat. Rumahnya dekat Kyunghee."

Sungmin bergegas pergi dari halte dan mencari alamat yang telah di print nya dari internet. Ternyata tak begitu jauh, hanya sekitar seratus meter dari halte Kyunghee University.

"Annyeong haseyo." Sapa Sungmin begitu pintu rumah dibuka.

"Ah, Jung Sungmin ya?" sapa Ibu pemilik rumah dengan ramah.

Sungmin tersenyum. "Ne, ahjumma."

"Sini, masuk. Akan kutunjukkan kamarmu."

Sungmin mengikuti Ibu pemilik rumah. Begitu masuk, dia langsung disambut deretan pintu yang berjajar di kanan dan kiri. Mereka berhenti di kamar nomor tujuh. Ibu pemilik rumah membuka pintu dan mengajak Sungmin masuk.

Sungmin memperhatikan kamarnya. Tidak terlalu buruk. Luasnya 3,5 m x 3,5 m. Perabotan yang ada di dalam kamar cukup sederhana. Sebuah tempat tidur, lemari, meja, dan kursi.

Sungmin menyerahkan amplop yang sedari tadi dibawanya.

"Ini ahjumma, untuk bayar sewa tiga bulan ke depan."

Ibu pemilik rumah menerima amplop itu dengan wajah bahagia. Kemudian terdengar suara orang memanggil.

"Hyeso ahjumma, Hyeso ahjumma!"

Ibu pemilik rumah ternyata bernama Hyeso. Ibu pemilik rumah kemudian balas berteriak.

"Aku di kamar nomor tujuh!"

Kemudian seorang laki-laki yang kira-kira berumur empat puluh akhir muncul di ambang pintu. Wajahnya menyiratkan keterkejutan begitu melihat Sungmin.

"Nona muda?"

.

.

To Be Continued..

.

.

Aaaak respon untuk FF ini cukup bagus. Terus beri review ya, karena review kalian adalah cambuk buatku untuk tetap semangat menulis fanfiction ini. ^^