The Power of Gossip
Disc: Masashi Kishimoto
Rat: M
Warn: OOC, bad writer, etc
.
.
.
Chapter 2: Dimulainya Serangan.
.
.
SASUKE tinggal dalam ruangan kerja selama beberapa minggu berikutnya. Dia melewatkan sebagian besar waktu siangnya dengan rapat bersama menteri-menteri atau bawahannya dan malam harinya dengan memakan hidangan makan malam yang disiapkan asisten pribadinya, Kakashi, Sasuke mengerjakan tugas-tugasnya.
Mestinya ini akan menjadi hari-hari yang menyenangkan dan damai, seandainya saja tak ada wartawan yang terus meributkan gossip-nya bersama Naruto, tugas-tugas yang menumpuk, bahkan tentang para Fujoshi yang sekarang muncul nyaris setiap hari di kehidupannya. Itachi yang merupakan kakak dari Sasuke Uchiha sampai kecewa pada adiknya ketika mendengar kabar tersebut. Baginya, gossip murahan tersebut seperti aib yang harus segera diselesaikan oleh Uchiha bungsu. Tetapi, layaknya sedang memakan tomat, Sasuke bersikap acuh pada apa saja yang datang dikehidupannya, bahkan Uchiha bungsu cenderung menyukai kabar burung tersebut seperti makanan yang nikmat.
"Ada gossip yang baru lagi," Itachi mengumumkan, sementara Sasuke sudah tenggelam dengan tumpukkan kertas di atas mejanya. "Dan mereka mengatakan jika Naruto m-preg, male-pregnant olehmu, atau apalah itu. Astaga! terakhir berlajar biologi, seingatku, laki-laki tidaklah bisa hamil," gumam Itachi lebih pada dirinya sendiri, ketika mengingat gossip murahan yang diedarkan oleh fujoshi akut. Ia menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Ya," kata Sasuke, mendengus pelan di balik kerjaannya, "barangkali sebaiknya kau memerintah orang-orang di perusahaanmu untuk membuat percobaan alat m-preg atau apapun, siapa tahu aku adalah pembeli pertamanya dan akan mencobanya pada Naruto."
Itachi mengernyit. "Kau pikir perusahaanku perusahaan apa?" Itachi memperbaiki letak duduknya di atas kursi kerja seberang Sasuke, "perusahaanku adalah perusahaan ilmu pengetahuan terbaik, pencipta barang-barang yang tidak mungkin melawan kodrat dari Tuhan."
Sasuke menoleh dan memandang Itachi tak percaya ketika Uchiha sulung membanggakan perusahaan terkenalnya di depan Sasuke sendiri. Padahal perusahaan tersebut adalah perusahaan yang dibangun oleh Sasuke bersama sang kakak. Tetapi, Sasuke akui jika perusahaan yang dibangun oleh Itachi adalah perusahaan yang berkembang dengan pesat, ketika produk-produk di dalamnya adalah produk yang membuat hidup manusia lebih simple dan penuh teknologi, namun penuh dengan persaingan dan pemerasan Sumber Daya Alam di dalamnya.
"Jika begitu kau pulang sana, dan urusi perusahaanmu, jangan terus meganggu pekerjaanku," kata Sasuke sinis, menghela napas berat selagi Itachi sibuk memandangi foto-foto adiknya bersama pemuda blonde yang diletakkan di atas meja etalase belakang Uchiha bungsu.
"Kau tidak kasihan pada Naruto," kata Itachi tanpa melihat tampang adiknya yang sudah kusut karena terus ditimpa oleh semua pertanyaan sang kakak yang bermula dari kata Naruto Uzumaki, "kau memperlakukannya seperti dia ini adalah boneka."
Sasuke tidak berkomentar. Semua hubungannya dengan Naruto berubah. Ia telah kehilangan sosok yang dia inginkan dan Sasuke ingin merebutnya kembali. Uchiha bungsu memperhatikan Itachi yang tampak antusias menanti jawaban-jawaban yang akan diberikan adiknya. Namun, daripada memberikan jawaban dan kembali berdebat dengan Itachi, Sasuke lebih memilih terbenam oleh kertas-kertas di depannya. Ia berusaha berkonsentrasi membaca kerjaannya, ketika pikirannya dipenuhi oleh sosok pemuda blonde.
"Mungkin sebaiknya kau bersikap baik pada dirinya, jika ingin berbaikkan dengannya," kata Itachi, memberi saran yang harusnya diterima secara baik oleh Sasuke, "seperti memberi bunga, cokelat, atau mengajaknya kencan, ketimbang memperlakukan dia kasar dan membuat gossip yang tidak-tidak hingga hidup Naruto terganggu."
Terdengar decakan dan suara ketidaksetujuan dari arah Sasuke. "Itu tidak Uchiha sama sekali," Sasuke keras kepala. Ia bisa mendapatkan Naruto dengan caranya sendiri. "Apa yang aku lakukan itu adalah sesuai dengan karakterku sebagai seorang Uchiha, dan Naruto harus menerimaku apa adanya karena aku tidak suka berpura-pura, bahkan dalam menutupi kesukaanku ketika melihat manusia menggoda lainnya—selain dirinya," lanjut Sasuke. Senyumnya berubah dingin ketika Itachi terpukau dengan perkataannya.
Itachi menatap Sasuke dengan gaya mengejek.
"Wow, lihatlah! Di depanku ada yang mengajarkanku mengenai sifat dan prinsip seorang Uchiha, ketika aku sendiri adalah seorang Uchiha," sindir Itachi dingin.
"Tidak seperti diriku, kau Uchiha tidak berguna," kata Sasuke agak tidak sabar dengan sindiran Itachi, "Uchiha tidak berguna pergilah dari hadapanku," Sasuke menyindir Itachi balik. Ia menatap Itachi, memperlihatkan egonya.
"Fine," kata Itachi, singkat.
Itachi tak perlu disuruh dua kali. Dia bergegas ke pintu, dengan perasaan kesal. Setelah membuka pintu, Itachi membanting pintu di belakangnya tanpa banyak berbicara lagi, dan membuat dentuman yang keras. Namun seperti biasanya, tidak merasa bersalah, Sasuke hanya terkikik geli ketika melihat tingkah kakaknya apabila sedang marah.
Skip—skip—skip
NARUTO berdiam diri di tempat shooting (atas bangku taman) sebelum kerjaannya dimulai. Berharap seluruh wartawan dan para orang-orang yang ingin tahu kehidupannya menyingkir dari hadapannya, Naruto mulai membuang-buang waktu memainkan hand phone-nya, walaupun tulisan game over terus terpampang di layar ponselnya yang menampilkan aplikasi permainan game.
"Kau tampak tidak sehat, Naruto?" sela Gaara, sebelum dia mulai shooting kembali. "Apa kau tidak izin istirahat saja?"
Naruto menatap Gaara, "tidak," kata Naruto sangsi, "aku baik-baik saja…"
Usai berkata demikian, Gaara duduk di samping Naruto, menunggu perasaan Naruto sedikit membaik untuk diajak berbicara kembali. Ekspresi wajah Naruto lebih rumit daripada biasanya kali ini, karena Naruto terlibat cukup banyak masalah. Terlebih masalahnya berasal dari orang terpenting di negara ini. Bukan hanya terpenting saja, melainkan penguasa negara.
"Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Sasuke dan dirimu di masa lalu?" tidak sabaran Gaara membuka pembicaraan, "kenapa bisa kau putus dengannya?"
Naruto menundukkan kepalanya. Gaara menatap Naruto lekat-lekat.
Pemuda berambut blonde tampak merana dan menggumamkan "itu bukan urusanmu".
"Humph," dengus Gaara. "Sudah waktunya kau membuka diri dan mengungkapkan semua perasaanmu, daripada kau bertingkah seperti ini, dan seperti orang yang akan bertemu dengan ajalnya saja."
Naruto menjadi merah padam dan mengerjap bingung. Gaara tak pernah perhatian sebelum ini. Biasanya pemuda berambut merah tersebut hanya mendelik atau berkata dikit, ketika Naruto bercerita padanya. Bahkan, baru kali Gaara yang merupakan rekan kerja Naruto memberi nasehat pada sang Uzumaki sendiri.
"Maaf Naruto, jika aku berkesan ikut campur pada urusanmu, tetapi melihat berita yang muncul di televisi dan media massa lainnya, bagiku Perdana Menteri yang terhormat tersebut sudahlah keterlaluan."
"Tidak apa-apa, Gaara."
"Kau coba melawannya sesekali," saran Gaara, "dan tunjukkan jika kau tidaklah selemah yang terlihatnya, percuma saja kau bersembunyi seperti ini ketika cepat atau lambat dia akan semakin menguasai dirimu dan tetap menghancurkan dirimu dari luar maupun dalam."
Berikutnya Gaara menoleh ke arah kru film yang memanggil dirinya, yang memerintahkan dirinya untuk bersiap-siap dalam pengambilan adegan selanjutnya.
"Aku duluan…" kata Gaara seraya menoleh ke arah Naruto. "Kau pikirkanlah kata-kataku tadi."
"Iya…" jawab Naruto singkat.
Beberapa menit kemudian, Naruto diperintahkan untuk mulai bekerja bersama Gaara, dan keduanya mulai ber-acting bersama-sama. Di kala itu, Naruto sedikit melupakan masalahnya bersama Sasuke.
Skip—skip—skip
Sore hari telah tiba. Naruto memandang sekeliling tempat shooting ketika para kru sedang sibuk membereskan perlengkapan film. Pengaruh Sasuke terhadap kehidupannya sungguh besar. Para wartawan dan manusia lainnya masih sibuk mondar-mandir di sekitar tempat shooting, meminta konfirmasi Naruto ketika pemuda berambut pirang tersebut belum bersedia memberi berkomentar.
Di saat Naruto sibuk terhanyut dengan pikirannya, ketika menanti asisten pribadinya menjemput, sebuah iring-iringan mobil meluncur ke arah depan taman tempat terakhirnya melakukan adegan film yang dibintanginya bersama aktor dan aktris papan atas. Dari dalam mobil tersebut keluar sosok pemuda berambut raven yang memakai jas, dan di sekelilingnya dilindungi oleh para bodyguard.
"Sial…" Naruto bergumam ketika matanya membuka lebar ketakutan.
Dengan percaya diri Sasuke berjalan ke arah Naruto. Seluruh wartawan sibuk mengambil gambarnya ketika Uchiha sendiri tampak cuek, tidak menanggapi kericuhan, di saat bodyguard-nya terus bertahan menjaga tuan-nya. Sedangkan Naruto hanya terpaku di tempat, tidak bisa berjalan kemanapun— ketakutan.
"Senang sekali bertemu denganmu, sayang," kata Sasuke, memandang Naruto seperti pemuda di depannya adalah santapan yang sangat nikmat, "asistenmu tidaklah akan menjemputmu karena aku memintanya untuk berhenti, dan menyerahkan seluruh rutinitasmu setiap hari kepada diriku."
Mata Sasuke yang hitam menjelajah tubuh Naruto, berhenti sepersekian detik lebih lama di bagian lekuk tubuh Naruto sebelum memandang bagian-bagian lainnya.
"Sexy selalu," komentar Sasuke yang membuat Naruto meringis jijik.
Naruto memandang Sasuke. Memang orang di depannya ini adalah bajingan dan berbahaya, tapi bagaimana caranya Naruto menyingkir dari pemuda tidak tahu malu ini? Dia sangat muak dengan keberadaan Sasuke yang terus meganggu kehidupan tenangnya.
"Pergilah!" kata Naruto dingin, "kau tidak pernah mengerti artinya kata benci?"
Naruto kembali terdiam. Di sisi lain, para wartawan dan orang-orang yang selalu ingin tahu kehidupannya terus mengambil gambarnya. Bahkan kru film pun mulai diam, menyaksikan pembicaraan Naruto dan Sasuke yang semakin menegang.
"…tidak pernah akan ada yang bisa membenci seorang Sasuke Uchiha, termasuk dirimu," kata Sasuke, percaya diri, "sudah aku bilang berapa kali jika kau adalah milikku suka atau tidak su—
PLAK!
Naruto menampar Sasuke sekeras mungkin pada bagian pipi, dan Sasuke hanya tersenyum membiarkan darah mengalir dari sudut bibirnya.
Kilatan lensa kamera mulai menyirami wajah Sasuke dan Naruto.
Naruto mengepalkan kedua tangannya erat. "KAU JANGAN BERBICARA SEMBARANGAN!" desis Naruto. Wajahnya memerah marah, siap menghajar Sasuke, dan tidak peduli jika pemuda di depannya adalah seorang perdana menteri.
Sasuke menarik Naruto.
Cupppppp…
Gerakan-gerakan mengerikan muncul begitu saja. Disadari oleh dirinya sendiri, Sasuke menarik tubuh Naruto, dan mendekap tubuh tersebut, ketika bibirnya menyentuh bibir Naruto—egois. Di balik kericuhan Sasuke mulai melumat bibir Naruto, ketika tangannya memegang pinggang Naruto sangat erat dan protective. Sedangkan Naruto hanya bisa terkejut dengan peristiwa cepat ini.
Gossip ini semakin bermasalah saja.
.
.
.
TBC
Cuplikan chapter 3:
Keadaan semakin memanas. Bukan hanya Naruto saja yang mengalami dampak dari tingkah laku buas Sasuke, melainkan nama baik Sasuke sendiri di pemerintahan pun mulai tercemar, dan kepercayaan orang-orang sedikit demi sedikit mulai meragu. Namun, pemuda tersebut tetap bersikukuh untuk melawan semuanya, dan tetap mengejar targetnya, Naruto Uzumaki.
Di balik tugasnya menjadi pemimpin yang baik, Sasuke harus memenuhi hasratnya untuk mendapatkan Naruto yang jelas-jelas sudah membenci dirinya.
Ada apa dengan masa lalu Naruto dan Sasuke?
Kenapa pemuda Uchiha tersebut sangat terobsesi untuk mendapatkan Naruto kembali?
"Uchiha Sasuke tidak akan pernah melepaskan bidikkannya jika sudah menentukan target karena Naruto adalah obsesinya, dan karena dia memiliki prinsip ego seorang Uchiha."
.
.
.
KEPADA: sheren, Subaru Abe, bebobobo, BaekRen, onyx shappireSEA, Cappuccino 'Kappu san, Kiseki No Hana, UzumakiKagari, LonelyPetals, Imperiale Nazwa-chan, iqyuzuchan14, Daevict024, Azusa TheBadGirl, Qhia503, kkhukhukhukhudattebayo terima kasih telah bersedia me-review fic ini. ^^ Maaf jika ada kesalahan pada pembuatan fic ini. Terima kasih.
