The Power of Gossip
Disc: Masashi Kishimoto
Pairing: SasuNaru
Rat: M
Warn: OOC, bad writer, AU, etc.
.
.
.
—Part three: The Past—
SUDAH hampir lima hari berlalu sejak ciuman yang dilakukan Sasuke di taman, tetapi keadaan hampir tidak berubah. Gosip tetap beredar di kalangan masyarakat awam, fujoshi masih mengirimkan paket-paket bunga hanya sekadar mengucapkan 'selamat menenempuh hidup baru Sasuke dan Naruto', tumpukkan kertas masih tergeletak rapih di atas meja kerja Sasuke. Semua keadaan masih tetap sama setelah Sasuke Uchiha membuat keributan di tempat shooting Naruto Uzumaki, padahal bagi Sasuke sendiri masih banyak hal yang harus dilakukan masyarakat Konoha daripada membicarakan hubungan pribadinya dengan seorang artis yang sedang naik daun.
"Tidakkah kau menyadari dengan apa yang kau perbuat?"
Sasuke terbangun dari lamunannya tentang Naruto. Para tetua partai yang sedang menyidangnya di ruang rapat kembali berbicara.
"Tuan Sasuke Uchiha, apakah kau mendengarku?" kata orang di depan Sasuke, memandang Uchiha bungsu dengan sinis, seakan Sasuke telah melakukan dosa yang sangat besar.
Sasuke tahu jika dia seharusnya bersikap baik sejak awal pada para tetua partai yang menaunginya sehingga masalah tidaklah akan diperumit, namun dirinya tidak bisa mentoleri siapapun yang meganggu urusan pribadinya. Bahkan, jika itu adalah orang tuanya sendiri, atau kerabat terdekatnya.
"Ini adalah urusan pribadiku, dan aku tidaklah merugikan negara," kata Sasuke, tetapi para tetua dan kerabatnya hanya menatapnya dengan sinis.
"Kuberitahu kau," kata salah satu tetua yang merupakan ayahnya sendiri. "Kepercayaan rakyat pada negara sepenuhnya berada di tanganmu, dan jika kau bersikap seperti ini terus, maka negara beserta orang-orang di dalamnya tidak akan segan untuk menurunkanmu dari posisi ini. Selain itu, berlangsungnya kehidupan partai ini untuk sekarang ada di tanganmu," lanjut Fugaku Uchiha yang merupakan salah satu petinggi partai yang telah berhasil membawa Sasuke ke dalam posisi tertinggi negara.
"Akan aku buktikan jika tanggapan kalian salah," kata Sasuke, "rakyat kita adalah rakyat modern yang sudah terbuka pikirannya."
Tetapi seluruh orang yang semeja dengan Sasuke, dan mayoritas adalah orang-orang terdekat Uchiha bungsu tidak percaya. Bahkan ayahnya sendiri pun tidak.
Susahnya, gosip selalu beredar kencang di sekitar Sasuke, dan tidak ada yang membela dirinya, bahwa dia hanya ingin mendapatkan yang dia inginkan dengan caranya sendiri, seperti orang-orang atau anak-anak muda yang berusaha untuk mendapatkan seseorang yang diinginkan tanpa campur tangan dari pihak ke tiga hingga keseratus.
Tetapi sebaliknya, dia mendapatkan kesulitan dari banyak pihak. Padahal menurut logika, Konoha adalah sistem pemerintahan yang dibentuk secara kerajaan, dan terbuka terhadap sosial. Seluruh rakyat menerima percintaan sesama jenis, bahkan negara pun memperbolehkan pernikahan sesama jenis dilakukan di negara ini. Namun ada yang kurang 'pas' dengan kemajuan sistem Konoha beserta orang-orang yang memimpinnya. Mayoritas orang-orang yang memimpin Negara Konoha masih berpikiran kolot terbawa oleh sistem kerajaan lama, dan sangat jauh dari hukum-hukum sosial yang terbuka—dianut oleh negara itu sendiri. Bahkan gosip yang bagi Sasuke tidak usah diperdebatkanpun kini selalu dipermasalahkan.
"Aku hanya ingin kau segera mengklarifikasi semua gosip ini, dan bekerjalah dengan benar!" kata salah satu tetua yang sudah jengah untuk berbicara dengan Sasuke, "hentikan ego tidak masuk akalmu ini, kau harus sadar diri dimana posisimu sekarang di dalam pemerintahan."
Sasuke tidak suka dirinya diatur, tetapi dia hanya diam saja untuk kali ini. Semua hal yang dibicarakan oleh para pejabat partainya ingin segera diakhiri. Tidak usah diatur pun Sasuke memiliki jalannya sendiri untuk menempuh hidup dan memimpin negara. Bahkan, para tetua tidak memperingatinya pun, dia dapat membuat gosip yang besar ini menjadi sesuatu yang menguntungkan bagi dirinya dan partai. Tetapi seperti biasa, tetua terlalu banyak cemas, sehingga tidak dapat mempercayai anak muda yang baru saja muncul memimpin negara.
"Baiklah, jika begitu apa yang harus aku lakukan agar membuat para tetua terhormat ini merasa senang?" tanya Sasuke sedikit melunak, "silahkan jelaskan!"
"Kau cepat-cepatlah jumpa pers, dan meminta maaflah pada rakyat," kata Fugaku dengan nada angkuh, "bangunlah kepercayaan rakyat kembali, dan berhentilah mengejar-ngejar Naruto Uzumaki!" Fugaku mendapat anggukkan dari para tetua partai lainnya, "dengan kau meminta maaf, berarti kau memperlihatkan kesungguhanmu untuk menjaga nama baik negara, dan mengabdikan diri atau tunduk pada rakyat Konoha—bukan mengabdi pada pikiran ego atau nafsumu semata."
'Mengambil respek rakyat kembali dengan cara meminta maaf secara serius?' Sasuke berpikir dengan tenang, 'bagiku itu disebut merendah.'
Sasuke untuk pertama kali terlihat tenang, bahkan sampai tetua berpamitan untuk pergi ke dalam aktivitas selanjutnya dia tidaklah banyak berkomentar. Dia tetap duduk rapih sembari memperlihatkan ekspresi stoic-nya tanpa diketahui siapapun pikiran liarnya sudah menjamah ke dalam cara menutup mulut para tetua, hingga dirinya tidak usah diatur.
—Skip—Skip—Skip—
NARUTO terbangun pukul tujuh esok paginya dan terlalu kesal sekaligus marah, sehingga tak bisa tidur lagi. Dia bangun dan memakai celana jins-nya karena sebentar lagi asisten kepercayaannya yang sudah diberhentikan oleh Sasuke beberapa hari lalu akan tiba menjenguk dirinya. Sekali lagi dilenturkannya tubuh-tubuhnya sebelum beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka, dan kemudian berjalan mondar-mandi di dalam kamarnya, menunggu kehadiran asistennya. Dua jam kemudian, asistennya sudah tiba dengan membawa koran. Iruka yang merupakan asisten Naruto datang dengan wajah kusam dan tidak ada kesenangan seperti biasa.
"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu dan Sasuke di masa lalu?" tanya Iruka pada Naruto.
"Ha-ah," terdengar suara desahan dari arah Naruto, "aku tidak ingin membicarakannya sekarang…"
Iruka berjalan mendekati Naruto untuk mengawasi, bertahan tidak berkedip, takut-takut jika terdapat ekspresi Naruto yang tidak terbaca olehnya—tetapi sudah cukup lama memandang Naruto tampaknya pemuda Uzumaki tersebut tetap bertahan dan bersikukuh untuk memperlihatkan ekspresi tenang, walau terbesit kegusaran di dalam ekspresinya.
"Ceritakan saja padaku, dan siapa tahu aku bisa membantumu," desak Iruka, "jika sudah begini, apa yang bisa kau lakukan hanyalah meminta bantuan orang lain," Iruka melempar koran di tangannya ke atas kasur.
Sejenak Naruto melihat ke arah koran yang terlipat rapih di atas kasur, dengan headline bertulisan 'dibalik hubungan gelap Naruto Uzumaki dan Perdana menteri?'. Di bawah headline besar tersebut terdapat foto yang menampilkan dirinya dan Sasuke sedang berciuman di taman yang besarnya menghabiskan setengah halaman surat kabar.
"Naruto?" Iruka memanggil pemuda Uzumaki yang sedang melamun.
"Baiklah," kata Naruto. Entah kenapa sekarang dia memutuskan untuk bercerita. "Aku akan memulai semuanya kisahku dari jati diriku yang sebenarnya mengenai siapa keluargaku, keluarganya, dan apa hubunganku dengan keluarga Uchiha," wajah Naruto semakin muram sebelum dia menceritakan semuanya pada Iruka.
Flashback
Naruto POV.
Semenjak aku lahir, aku tidaklah pernah melihat wajah kedua orang tuaku, atau mengenal mereka. Aku hanya anak sebatang kara yang dititipkan pada keluarga kaya dan terhormat oleh kedua orang tuaku semenjak lahir di dunia ini. Ya, aku dititipkan oleh kedua orang tuaku pada sepasang suami istri Uchiha, dan hidup di Kediaman Uchiha hingga aku sedikit beranjak dewasa, dan mengerti jika aku bukanlah siapa-siapa di dunia ini.
Perlakuan ibu dan ayah angkatku sangatlah baik. Mereka berdua membimbingku dan merawatku seperti merawat anak mereka sendiri. Bahkan, akupun diberikan pendidikan, makanan, tempat tinggal yang baik—tidak jauh berbeda dengan fasilitas yang didapatkan dari kedua anak kandung dari ibu dan ayah angkatku. Selain itu, di dalam keluarga Uchiha pun aku mendapatkan teman yang seumuran dan sangat baik padaku. Dia adalah Sasuke Uchiha, orang yang selalu disandingkan dan menjadi teman sepermainanku semenjak aku datang ke kediaman tersebut.
Semua kehidupanku berjalan sangat baik dan menyenangkan, walaupun tanpa orang tua kandung di sisiku. Namun, semua berubah ketika aku dan Sasuke memasuki kelas empat Sekolah Dasar. Sikap Sasuke yang baik, dan merupakan temanku satu-satunya berubah. Ia yang sudah mempunyai banyak teman dan digandrungi oleh para wanita lebih suka bermain dengan orang-orang yang se-level dengannya dibandingkan denganku yang hanya seorang anak terbuang, dan tidak ada satupun orang yang menemaniku diriku karena aku bukanlah siapa-siapa, dan hanya anak yang beruntung dirawat oleh keluarga kaya raya.
Tetapi, aku tidak marah pada Sasuke. Aku menerima semua takdirku dengan baik karena memilih teman yang baik adalah hak Sasuke. Diperintahkan untuk membawa tasnya, dan hanya berjalan di belakangnya—memandangi punggungnya aku anggap itu semua sebagai balasanku atas kebaikan Keluarga Uchiha. Aku anggap jika diperlakukan layaknya seorang pelayan adalah bagian dariku untuk mengabdi pada keluarga tersebut.
Waktu terus berjalan, dan hubunganku dengan Sasuke tidaklah ada perbaikan seperti waktu kami kecil. Malah aku dan dia semakin sulit untuk berbicara dan bertemu. Aku hanya tahu dia sering pulang malam karena bermain dengan teman-temannya. Tidak seperti pertama kali ditemukan, kali ini kami berdua hidup di dunia masing-masing, hingga kami beranjak dewasa dan menginjak bangku SMA.
Di kala itu, Sasuke sudah bergonta-ganti pacar, sedangkan aku tidaklah pernah berpacaran satu kalipun karena tidak ada wanita yang mau mendekatiku karena latar belakangku yang tidak jelas—berstatus sebagai anak pungut, dan walaupun ada aku tidaklah pernah mempedulikan mereka karena aku tidak mau membuat susah mereka dengan kehidupanku yang rumit. Selain itu, alasan aku tidak bisa berhubungan jauh dengan orang lain karena… di dalam hati terkecilku, aku mengharapkan sosok seorang Sasuke. Hahaha. Itu terdengar sangat gila. Namun, itulah yang terjadi pada diriku.
Masa-masa SMA adalah masa yang menyenangkan bagiku. Kami berdua selalu sekelas, dan aku bisa duduk di bangku paling belakang untuk memandangi punggungnya yang tentu saja duduk di bangku terdepan, dan selalu menjadi sorotan guru. Setiap hari aku hanya melihat dirinya berbicara dengan teman-teman elite-nya yang jika berurusan denganku pasti akan sangat judes. Ha—ah, melihat dia berbahagia dengan orang lain, dan sesekali tertawa, diriku sudah menjadi baik. Bahkan, kerap kali aku melukis hal-hal yang menarik pada dirinya—ekpresi, dan gelagatnya— di sebuah buku gambar. Ya, di kala itu aku sangat senang, walau aku hanya bisa melihatnya dari jauh dan tidak pernah berbicara.
Rupanya, menginjak bangku SMA ternyata tidaklah membuat fokusku hanya pada Sasuke. Lambat laun, akupun mulai mendapatkan teman. Sama halnya dengan Sasuke, walau temanku tidak terlalu banyak, baru kali itu aku mendapatkan perhatian, dan bisa berjalan bersama teman sebayaku tanpa ada rasa beban atau malu yang mengiringiku layaknya berjalan dengan Sasuke yang tingkahnya seperti majikanku. Ya, tanpa disadariku pun, hari-hari dimana aku menggambar setiap gerak-gerik Sasuke, dan memperhatikannya berakhir. Aku mulai terfokus untuk bermain bersama teman-teman baruku, dan mencari kegembiraanku sendiri.
Dan dari sanalah semua nasibku berubah.
Suatu ketika, di saat aku pulang sekolah aku mendapatkan surat cinta untuk pertama kali. Aku tidak tahu dari siapa surat tersebut berasal, tetapi hal tersebut membuatku senang sampai pada saatnya Sasuke berdiri di belakangku dan memandangku dengan sinis.
"Apa itu?" tanya Sasuke padaku dengan sangat sinis.
Aku yang sungguh gembira dikala itu memperlihatkan surat cinta tersebut pada Sasuke. Aku seperti memperlihatkan kebanggaan pada Sasuke karena pada akhirnya ada orang yang menyukaiku. "Surat cinta..," jawabku dengan cengiran lebar, tetapi hanya ditatap dingin olehnya, "akhirnya aku bisa mendapatkan surat seperti ini juga..," kataku dengan sangat antusias.
BRAK!
Sasuke memukul loker besi di belakangku, dan menghapitku di antara loker dan tubuhnya.
Aku terkejut.
"Kau harusnya sadar diri," Sasuke mendekatkan wajahnya padaku dan memandangku lekat-lekat, "kau ingin menjadikanku rival? Hanya satu surat saja kau sudah merasa bangga, dan memamerkannya padaku? Sebelum bermuluk-muluk, kau seharusnya berpikir jika makan dan hidup pun kau ditanggung oleh keluargaku, dan daripada berpikir untuk menghabiskan waktumu bersama teman-teman barumu, kau lebih baik berpikir bagaimana caranya membalas budi."
Aku terkejut mendengar perkataan Sasuke. Ia terlihat sangat marah, ketika aku baru saja merasakan rasa bahagia, dan ingin berbagi dengannya—seperti dirinya berbagi rasa bahagianya, walau tanpa diriku.
Baru kali ini aku menatapnya, "aku tidak akan pernah melupakan jasa keluargamu, tenang saja Tuan Muda Sasuke," kataku dengan nada pelan, "aku akan selalu mengingat itu semua, dan suatu ketika aku akan membayar semua kebaikan kalian."
"Bagus," jawab Sasuke dengan singkat. Ia pun melangkahkan kaki meninggalkan diriku dan kembali bergabung bersama teman-temannya yang sudah lebih dulu berada di lapangan parkir—menunggu dirinya.
Aku hanya terdiam, dan membiarkan surat cinta di tanganku teremas—tidak terpedulikan.
Aku tersadar jika di mata Sasuke orang yang aku cintai hanyalah sebagai benalu.
Perkataan Sasuke sangat membekas di pikiranku. Akupun mulai berpikir untuk mulai berhenti menggantungkan hidup pada keluarga yang selama ini merawatku. Aku mulai mencari kerja part time di sebuah kafe tengah kota yang jaraknya tidak jauh dari sekolah, sehingga aku tidak terlalu repot mengejar waktu kerja setelah pulang sekolah. Namun, walau aku kerja part time, perkataan Sasuke yang tajam tidaklah bisa hilang dari benakku selama aku masih tinggal satu atap dengan keluarga harmonis tersebut, dan membuatku merasa seperti seorang benalu di keluarga bahagia. Terlebih ketika tingkah Sasuke padaku semakin sinis, dan memperlihatkan kebencian. Alhasil, aku mencoba mencari jalan keluar. Aku berpikir untuk keluar dari Kediaman Uchiha dan menetap sendiri dengan uangku sendiri sampai aku sukses dan bisa membayar kebaikkan mereka.
Itu semua karena hanya aku tidak ingin dibenci oleh orang yang aku hormati.
"Kau memutuskan untuk tinggal sendiri?" Mikoto yang merupakan ibu Sasuke memandangku dengan cemas. Dia yang merawatku sejak kecil tentu akan sedih mendengar semua ini.
Aku menganggukkan kepalaku dengan berat hati.
"Tetapi kenapa? Kami masih mampu membiayaimu hingga kuliah, dan kau tidak usah sungkan. Naruto, walau kau bukan anak kandungku, tetapi kau sudah seperti anakku sendiri…," Mikoto memegang kedua tanganku, dan aku hanya bisa menundukkan kepala.
Aku tersenyum, memang berat meninggalkan keluarga ini, "ini sudah menjadi keputusanku," tekadku, "aku ingin mencoba mandiri, ibu…"
Berjam-jam membujuk diriku tanpa hasil yang diinginkan tentu membuat Mikoto menyerah. Ia menghela napas dengan berat hati, dan akhirnya mengijinkan aku pergi. Namun, dikala aku akan membawa tas ranselku, dan pergi pindah ke tempat kosan yang telah aku sewa, aku memeluknya terlebih dahulu. Aku ingin merasakan kehangatan seorang ibu untuk terakhir kalinya. Sebelum semua berubah dan aku menjadi seorang anak yang hidup di dalam kesendirian.
"Terima kasih," kataku dengan nada pelan sambil memeluk ibu angkatku, "dan jika ayah kembali dari luar negeri, ucapkan terima kasih juga padanya, aku akan mengunjunginya untuk meminta maaf karena tidak menunggunya pulang…," aku melepaskan pelukkanku pada Mikoto, "akupun menitip salam pada Kak Tachi, dan Sasuke…"
Aku tahu jika kedua anak kandung Mikoto sedang tidak ada di rumah. Itachi sedang kerja kelompok, dan Sasuke tentu saja sedang bermain bersama teman-temannya.
Mikoto mengalirkan air mata untukku.
Detik itu, di saat aku keluar gerbang Uchiha dengan memakai payung karena hari itu hujan, akupun mulai mengambil keputusan untuk berhenti merepotkan keluarga Uchiha, dan berusaha mencari jalan untuk membalas jasa mereka.
Keesokkan harinya, setelah aku hidup sendiri, aku harap semua akan menjadi biasa saja. Aku harap tidak akan membuat Sasuke merasal kesal padaku karena telah menjadi benalu di keluarganya. Aku harap dia tidak akan terusik dengan keberadaanku. Namun, pikiranku salah. Di saat aku menginjakkan kakiku di sekolah dengan perasaan yang sangat lega, dan terbebas dari semuanya, Sasuke yang ternyata sudah tiba terlebih dahulu di sekolah menarikku ke kamar mandi. Ia menghempasku ke tembok.
Sasuke memegang kerah bajuku, "jangan anggap dengan kau pergi, kau bisa bebas dari tanggung jawabmu!" teriaknya tepat di depan wajahku, "kau tahu? Apa yang keluargaku lakukan untukmu adalah sesuatu yang tidak akan bisa kau balas sampai mati, jadi kepergianmu hanya memperlihatkan dirimu memang benar-benar pantas dibuang oleh orang tuamu—tidak berguna dan tidak tahu berterima kasih."
Sasuke terus yang mendesakku tentu membuat aku berang. Aku memegang tangannya, dan menyingkirkan tangannya yang menahan kerah bajuku, "tidak usah diberitahu pun aku mengerti," sengitku, muak dengan tingkah kasar Sasuke, "aku mengerti jika hidupku telah bergantung pada kalian selama ini, maka dari itu aku pergi dari keluargamu, aku tidak ingin semakin merepotkan dirimu dan keluargamu, hingga membuat kalian muak."
Senyuman Sasuke yang sinis telah hadir, "bagus jika kau mengerti kau hanya milik Uchiha," Sasuke menatap Naruto dengan tajam, "apapun dirimu, siapapun dirimu, sehebat apapun dirimu, dan menjadi apapun dirimu di masa sekarang atau masa depan kau adalah milik Uchiha, tidak ada yang lain! Hanya milik seorang Uchiha," Sasuke memastikan diriku untuk mendengarnya.
Perkataan Sasuke membuat aku bingung dan sesak. Aku seperti dipaksa untuk sadar jika aku dilahirkan hanya untuk mengabdi pada Keluarga Uchiha. Aku seperti diposisikan agar menjadi pelayan Uchiha selamanya. Aku seperti tidak mempunyai jalan untuk menebus semua jasa mereka padaku. Sepertinya, bagi Sasuke kelahiranku adalah suatu dosa karena telah merepotkan keluarganya, dan harus dibayar oleh seluruh hal yang ada pada diriku.
Aku menatap getir Sasuke, "aku mengerti," lirihku, memohon di dalam hati agar Sasuke berhenti berbicara hal-hal yang membuatku merasa sesak—tertekan, "aku tidak usah diberitahu olehmu sekalipun tetap mengerti posisiku yang berhutang budi sangat banyak pada keluargamu, dan tentu saja aku harus membayar semuanya, bukan? Entah bagaimana caranya membayar kebaikkan kalian agar membuat seluruh keluargamu puas yang pasti aku tetap harus membayarnya."
Tatapan dingin tidak bersahabat kembali diperlihatkan Sasuke, "Bagus jika kau mengerti," sedikit kelegaan sepertinya terdengar di suara Uchiha bungsu, "aku harap kau tidak terbuai dengan kesendirianmu, tetap fokus untuk membalas budimu, dan tetap hadir di tengah-tengah keluargaku untuk membantu di Kediaman Uchiha."
Aku tidak bisa melawan. Aku tidak bisa membentak dirinya karena itu hanyalah membuat aku terlihat buruk di mataku sendiri. Apabila aku membalas perkataan kasarnya, aku hanyalah akan terlihat seperti manusia yang tidak tahu berterima kasih dan berani melawan orang yang telah membantuku hidup selama ini. Alhasil, aku hanya mencoba untuk menahan diri—tidak menggubris semua perkataan dan tingkah lakunya yang menyakitkan.
Aku menganggukkan kepalaku—lemah, membiarkan dirinya pergi sekali lagi dengan kemenangan.
End Flashback
End Naruto POV.
Sulit bagi Iruka untuk berkonsentrasi dan tidak menangis dengan kisah Naruto, ketika pemuda di depannya terlihat tegar, walaupun selama ini hidupnya tidaklah sebaik yang terlihatnya.
"Jadi, selama ini Uchiha adalah orang yang merawatmu?" tanya Iruka dengan nada tidak percaya, "dan Perdana Menteri menekanmu dengan seperti itu? Untuk apa?" tanya Iruka—tidak mengerti pada sikap Sasuke yang seperti senang membuat Naruto terluka.
Naruto terdiam.
"Kisah ini masih panjang untuk mencapai masalah yang aku alami bersamanya sekarang…," lirihnya dengan nada pelan, ketika Iruka siap kembali mendengar cerita Naruto, "apa yang aku ceritakan tadi hanyalah awal dari semua hal yang aku alami, hingga menjadi kisah hidupku menjadi bermasalah seperti ini."
—Skip—Skip—Skip—
Sasuke menghabiskan waktu di kantornya , hanya ditemani secangkir kopi dan berkas-berkas kerjaan yang menumpuk. Dia memutuskan untuk diam di dalam kantor terlebih dahulu sebelum asisten kepercayaannya memanggil dirinya, dan memulai jumpa pers siang ini. Bagi dirinya semua hal ini (jumpa pers) sangat menyebalkan. Sasuke menghempaskan punggungnya pada kursi empuk, membaca berkas-berkas di tangannya dengan malas. Untunglah berkas-berkas ini tidaklah terlalu rumit untuk dikerjakan, dan jangka waktu pengerjaannya masih lama, jika tidak Sasuke bisa keteteran karena tidak bisa berkonsentrasi.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk!" perintah Sasuke pada orang yang mengetuk pintunya.
"Er—Pak Perdana Menteri?"
Sasuke menggumamkan gerutuan tidak jelas untuk menunjukkan dia mendengarkan.
"Acara jumpa pers sebentar lagi akan mulai, anda dipersilahkan untuk segera bersiap-siap," kata asisten Sasuke yang berdiri tepat di depan meja Uchiha bungsu.
"Ya," jawab singkat Sasuke.
Asisten Sasuke sudah menutup pintu ketika Sasuke mendesah berat. Ia membalikkan kursi kantornya untuk melihat foto dirinya dan Naruto.
"Hari ini," Sasuke mengambil foto tersebut dan mengelus wajah Naruto yang terdapat pada foto tersebut, "akan aku perlihatkan apa yang bisa aku lakukan untukmu… dan untukku Naruto," gumam Sasuke. Ia menaruh foto tersebut di tempatnya, dan beranjak dari atas kursi kedudukannya.
Brak!
Pintu kerja Sasuke tertutup ketika yang menempatinya akan bersiap-siap menuju area pertarungan.
.
.
.
TBC.
Terima kasih kepada yang telah me-review chapter 2:
Azusa TheBadGirl, kkhukhukhukhudattebayo, sheren, AAind88, Daevict024, kinana, devilluke ryu shin, AnimeaLover Yaha, Kiseki No Hana, onyx shappireSEA, LonelyPetals, ringo revenge, bebobobo, Tidus Arrain, Seo Shin Young, Guest, dame dame no ko dame ku chan, NiMin Shippers, Uchiha Over Love, Subaru Abe, Princess Love Naru, Kurome-Amechan, iqyuzuchan14, miszshanty05, miao-chan2, diancuaem, nasusay, Gunchan CacuNalu Polepel, hanazawa kay.
NiMin Shippers: Maaf kalau nggak kesebut di chapter kemarin namanya. Mungkin skip, sorry oke? Ini spesial dari Author ucapan terima kasih untuk review chapter 1 dan 2 kalau begitu.
Fic ini nggak ada Itakyuu-nya. Fic ini benar-benar fokus sama SasuNaru. ^^
Terus masalah apdet-nya pendek-pendek? Penting cepat apdet walau pendek kali ya.
Terakhir,
Spesial thanks buat sensei, sudah mau meng-acc lemon buat fic ini, walau cuman di PM sensei mau menerimanya dengan senang hati. Awesome, nggak sabar ngetik terus dikirim ke e-mail sensei. Makasih juga udah nyediain waktu buat baca dan siapin diri buat bantu ngajarin bikin lemon dan nge-beta lemonnya untuk chapter depan mungkin (?)
