Tadaimaaa :3

Mi-chan is bek(?)….Berhubung dengan diadakannya ujian semester yang pahit #duesh

Mi-chan sempat hiatus .-. Sekarang berhubung sudah liburan, saya sebagai author bisa menulis fic ini dengan tenang ~

Oke…Selamat menikmati~

Disclaimer : VOCALOID hanya milik Yamaha dan cerita ini milik saya tentunya


.

.

.

Aku tak butuh cinta dalam hidupku,

Karena cinta itu menyakitkan

.

.

.

Snow

Chapter 3

Aku berjalan melewati jalan setapak di dekat sekolahku. Sengaja aku pulang tidak bersama Nii-chan, karena aku pulang paling terakhir. Mungkin Nii-chan sudah di rumah. Salju masih turun dan aku sudah memakai jaket kulitku. Aku melihat dari kejauhan, seseorang yang ku kenali. Wajahnya tiba-tiba mengarah padaku, melambaikan tangannya sambil berkata,

"Mikuu!"

Itu Kaito. Sengaja aku tidak menghiraukannya. Dia datang menghampiriku, "Mau pulang bareng?"

"Tak usah, terima kasih." Aku tetap berjalan.

"Ayolah! Jangan sombong begitu. Lagipula rumah kita searah kan?"

Aku menghentikan langkahku, "Sebenarnya, apa maumu ?"

"Tak usah sinis begitu…Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat," Ia membetulkan syal yang ada di lehernya, "Oh iya, kau belum dapat kelompok untuk praktek biologi kan?"

"Iya…Memangnya kenapa?"

"Emm…Kau bersedia menjadi pasanganku?" Aku berhenti dan melihat wajahnya dengan sinis. Tiba-tiba wajah Kaito memerah, "Bu-Bukan itu maksudku! Maksudku pa-pasangan untuk praktek bi-biologi."

Aku tertawa sedikit, "Aku tau maksudmu. Oke, kalau begitu, tapi bukannya harus empat orang?"

"Cuma kita yang tersisa," Kaito melanjutkan kalimatnya, "Oh iya, boleh aku tanya sesuatu padamu, Miku ?"

"Tanya apa?"

"Kenapa kau menolak Gakupo-san waktu itu?" Keadaan menjadi hening seketika.

"Kau tak perlu tahu itu…Itu bukan urusanmu!" Kata-kata itu keluar dari mulutku begitu saja.

"Ma-Maaf…Aku tak bermaksud ikut campur…"

Aku menundukkan kepalaku, "Harusnya aku yang minta maaf. Tadi aku agak berlebihan mengucapkannya, maaf."

"Tak apalah, bagaimana jika kau ke rumahku?" Kaito menggandeng tanganku dan mulai menarikku,.

"Baiklah!"

BEEP! BEEP!

Handphone di saku bajuku bergetar, menandakan ada pesan. Aku mengambil handphone dari saku baju ku dan membukannya. Aku mulai membaca isinya,

"Mi-chan…

Jangan pulang malam-malam ya…Nii-chan sudah membuatkan makan malam untuk mu."

Aku menutup handphone ku dan memasukkannya kembali ke saku bajuku.

"Dari siapa?" Kaito menghentikan langkah kakiknya.

"Bukan dari siapa-siapa kok…Tidak penting. Ayo! Matahari sudah mulai tenggelam."


Kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Tiba-tiba, Kaito berhenti dan membalikkan badannya. Ia mulai membuka pintu pagar dan mulai masuk ke halaman rumahnya. Aku mengikutinya dari belakang.

Rumah megah tingkat dua beratapkan biru muda, terlihat seperti langit malam. "Tak apa aku masuk?" Aku mulai ragu untuk masuk ke rumah besar nan megah itu.

"Masuk saja…Tak ada apa-apa kok." Kaito membukakan pintunya. Rumahnya terasa sepi. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki turun dari tangga. Sepertinya ada orang yang sedang bermain kejar-kejaran.

"Len! Kembalikan jepitan rambutku!" Aku mengenal suara itu. Aku biasa mendengar suara itu di sekolah. Aku mencoba untuk mengingat suara itu.

"Len, Rin…Sudah, tak usah belarian dalam rumah seperti itu!" Ya! Itu suara Rin Kagamine, salah satu dari teman Luka. "Miku, masuklah!" ajak Kaito. Aku mulai masuk ke rumah Kaito.

"Miku!" teriak Rin saat melihat diriku.

"R-Rin! Ma-Maafkan aku! Aku hanya mampir sebentar.." Aku panik saat mendengar Rin berteriak memanggil namaku, karena dia salah satu teman Luka yang selalu menindasku.

"Untuk apa kau minta maaf ?" Rin kebingungan, "Oh, aku mengerti…Kau takut karena aku teman dekat Luka kan? Lupakan saja, di sini..kita teman."

"Maksudmu?"

"Akan kujelaskan nanti. Duduklah…" Aku pun duduk di sofa. Begitu ku duduk, seseorang berada di belakangku. Aku pun menoleh ke belakang…

"Hai manis…kau teman dekat Kaito ya ?" Seorang laki-laki berambut kuning dan memiliki wahjah mirip dengan Rin itu menyapaku dan duduk di sebelahku.

"Kenapa kau tidak menjadi pacarnya sa—"

PLAKK!

Rin menampar pipi laki-laki itu dengan sangat keras, "Len! Sopanlah sedikit!" Rin menoleh ke arahku, "Perkenalkan, ini saudara laki-lakiku, Len Kagamine. Dia agak sedikit…..frontal."

"Tak apa…oh iya, tadi kau mau bilang apa?"

"Jadi begini, dulu aku dan Miki memang berteman dengan Luka, tapi semejak Luka dekat dengan Gakupo….kami menjauhinya." Jelas Rin.

"Memangnya kenapa?" tanyaku

Rin melanjutkan kalimatnya, "Kami tau, sebenarnya Luka berteman dengan kami hanya karena ingin dekat Gakupo, semenjak Gakupo adalah saudara sepupu Miki."

Ternyata selama ini Rin dan Miki, teman dekat Luka juga mulai membencinya. Aku akui, Luka adalah perempuan yang egois. Aku melihat sekeliling ruangan, berusaha mencari jam.

"Sekarang jam 7 malam, kau mau pulang?" Len berkata begitu saja. Ia seperti membaca pikiranku. "Bukan…aku bukan pembaca pikiran." Lagi-lagi dia bisa membaca pikiranku.


Sepertinya aku harus pulang. Aku mengambil tasku dan pamit untuk pulang. Aku berjalan menuju apartemen rumahku, berhubung jaraknya tidak terlalu jauh. Sebenarnya aku terlalu takut untuk pulang. Aku takut kalau Nii-chan marah, tapi aku juga khawatir dengan Nii-chan yang sendirian di apartemen . Terpaksa aku berjalan pulang.

Sesampainya di depan pintu apartemen, aku memberanikan diri untuk membuka pintu. Tiba-tiba, seseorang memelukku erat dari depanku. Suaranya yang lembut bagaikan salju mulai bicara, "Aku mengkhawatirkanmu, kemana saja kau?"

"Ke rumah Kaito sebentar. Maaf aku tak bilang Nii-chan dahulu."

"Tidak apa-apa. Yang penting kamu bisa pulang dengan selamat. Sekarang, masuk kamar dan ganti bajumu.." Aku masuk ke kamarku dan mengganti baju seragamku. Aku melihat ke jendela dan melihat bayanganku. Di luar, salju telah turun.

Aku berpikir, apakah cinta sejati itu ada? Bahkan, aku masih belum bisa merasakan hangatnya kasih sayang dari Nii-chan. Mengapa hidup ini begitu menyakitkan?

Tok!Tok!

"Masuk…" Jawabku. Nii-chan masuk ke kamarku dan berdiri di sampingku.

"Mi-chan kenapa?"

"Tidak."

"Nii-chan masih belum mengerti kenapa kau bilang kau akan hidup tanpa cinta."

Aku menarik napas dan menghembuskannya kembali, "Akan kujelaskan, Nii-chan sadar tidak…kalau tidak ada yang mencintaiku, karena ini diriku yang sebenarnya? Tidak…Mereka mencintaiku karena kasihan padaku. Anak sebatang kara yang ditinggal oleh kakak dan orang tuanya sendiri,"

Aku melanjutkan kalimatku, "Selain itu, mereka mencintaiku hanya karena wajahku, parasku…tidak melihat diriku yang sebenarnya."

"Nii-chan sayang sama Mi-chan kok.."

"Selalu itu yang Nii-chan bilang! Nii-chan sayang sama Mi-chan, karena Mi-chan adik Nii-chan kan?! Bukan karena aku adalah Hatsune Miku, gadis yang butuh kasih sayang dalam hidupnya!"

"Mi-chan…"

"Aku cuma butuh satu...kasih sayang yang tulus. Gakupo yang menyatakan perasaan cintanya padaku pun juga hanya melihat bagian luarku.."

"Bagaimana kau tahu? Kamu tidak boleh menuduh orang sembarangan."

"Karena aku tidak merasakan tulusnya kasih sayang dari Gakupo!" Aku menitikkan air mataku. Nii-chan memelukku.

"Mi-chan hanya perlu tenang, diam, dan rasakan…..Bagaimana rasanya?"

"Terasa…hangat. A-Apa ini?"

Nii-chan mengelus rambutku dan tersenyum, "Nii-chan sayang kok sama Mi-chan, bukan hanya karena Mi-chan adik ku. Karena Nii-chan gak mau kehilangan Mi-chan, orang yang paling penting dalam hidup Nii-chan."

Aku terdiam tanpa kata. Derai air mata menghujani wajahku. Aku tak tahu harus bagaimana lagi…

Salju, hari ini dia datang membawa cinta kepadaku. Menghangatkan hatiku dari dinginnya rasa kesepian dan sakit hati. Hidup bersama dengannya telah membuatku bahagia. Aku bersyukur dia telah hadir dalam hidupku.

Aku belum merasakan hadirnya kebahagiaan yang sesungguhnya dalam diriku. Satu sisi ruang hatiku masih terasa hampa tapi aku yakin, kebahagiaan pasti akan datang kepadaku….

TO BE CONTINUED


Nyahaa (0)

Selesai juga ceritanya…Akhirnya Miku bisa merasakan cinta jugaa...

Tapi itu bukan akhir dari semuanya, cerita Miku masih berlanjut…

Kalau alur ceritanya gak nyambung, aneh, gaje, dan sespesiesnya(?)…Kasih tau Mi-chan aja yaa, lewat review ~ tapi jangan flame -.-

Jaa ^^

*Don porget….Reviewnya om dan tante ;;))*