Alohaa ! Coba tebak siapa yang datang ?
Yap! Tentu saja…..MI-CHAN!(?)#digaplok
Mi-chan akhirnya kembali lagi membawakan fic yang menggugah hati ini :D #jedor
Okee~ Mari kita simak ceritanyaa :3
Disclaimer : VOCALOID hanya milik Yamaha dan cerita ini milik saya tentunya
O'ya, Arigatou untuk KatziusTheKatze yang sudah bantuin saya bikin fic ini!
.
.
.
Aku tak akan menemukan kebahagiaan…
di tempat ini…
.
.
.
Snow
Chapter 4
Matahari telah terbit. Menyinari hari baruku ini, hari yang berbeda dari sebelumnya. Aku me melangkahkan kakiku secara perlahan ke sekolah. Menebar senyuman kepada setiap orang yang aku temui.
Aku menikmati suara burung yang berkicau. Tiba-tiba, seuara yang merdu itu terpecahkan oleh suara seseorang yang aku kenal di belakangku sambil memanggil namaku, "Mikuu !"
Aku menoleh ke belakang, dan ternyata itu Gumi. "Hai, Gumi! Selamat pagi..!" Sapaku sambil terasenyum.
"E-Eh?! Aku kira kau marah padaku…" Gumi menggigit bibirnya.
"Marah? Tidak, Aku tidak marah," Jawabku.
"Ahh..Syukurlah. Oh iya! Hari ini kau tersenyum. Tidak seperti biasanya. Ada apa? Jangan-jangan kau menemukan cinta sejatimu ya?" Tanya Gumi dengan nada meledek. Aku mengangguk.
Tiba-tiba, Gumi menggoyang-goyangkan tubuhku, "Siapa?! Siapa?!"
"Nii-chan…" kataku tak sadar. Suasana menjadi hening seketika.
"Huft…Mi-chan, mencari cinta sejati itu susah, tapi bukan berarti kau harus mencintai kakakmu." komentar Gumi polos.
"Bukan itu maksudku! Maksudku, kemarin Nii-chan memberikan arti penting dari cinta sejati kepadaku, tapi aku masih belum menemukan kebahagiaan."
"Ya su—"
BRUKKK!
Tiba-tiba aku terjatuh dan secara tidak sengaja menjatuhkan tasku. Roda dari sepeda yang menabrakku itu melindas tasku. Aku merintih kesakitan, karena kakiku terluka saat aku berusaha menghindar.
"Sudah kubilang untuk menghindar, bocah!" Aku mengenal suara itu. Ya, itu Luka Megurine! Orang yang paling membenciku. "Tak punya mata, ya? Hahaha!"
Antek-anteknya, Miki dan Rin, cekikikan di belakang Luka, walau aku samar-samar melihat tawa Rin adalah tawa tertahan.
"Lihat yang kau perbuat! Tas Miku menjadi kotor, dan lihat! Miku berdarah! Kau harus ber tanggung jawab!" Gumi membentaknya.
"Apa itu masalah buat kami?!"
"Awas ka—"
"Gumi!" Aku memotong pembicaraan Gumi, "Biarkan saja mereka, aku tidak apa-apa."
"Berusaha untuk polos ya?" Luka mengejek, "Ayo pergi! Nanti kita terlambat!" Mereka meninggalkan kami begitu saja. Aku merasa ada sesuatu yang janggal diantara mereka bertiga, tapi aku tak tahu apa itu. Ya sudahlah, lebih baik aku pergi ke sekolah.
Gumi menuntunku, karena kakiku masih berdarah akibat jatuh tadi. Saat kami tiba di sekolah, semua murid telah memasuki kelas masing-masing dan itu berarti kami telat. Kami masuk ke kelas kami. Untungnya, pelajaran belum dimulai. Aku dan Gumi duduk di kursi masing-masing.
Semua orang melihatku. Aku merasa malu dengan baju seragam yang kotor ini. Aku melihat senyum licik yang terlukis di wajah Luka. Seketika, Meiko-sensei masuk dan pelajaran pun dimulai segera.
-1 jam kemudian-
Jam istirahat tiba. Aku dan Gumi biasa naik ke atap sekolah untuk menikmati bekal yang kami bawa dari rumah. Tidak seperti biasanya, Nii-chan dan Kaito bergabung bersama kami.
"Hai, Manis!" sapa Nii-chan.
Wajah Gumi seketika berubah menjadi merah padam tanpa melewati merah dulu. "Si-Siapa yang manis?"
"Bukan siapa-siapa..Hehe." ledek Nii-chan.
"Ka-Kau ini…"geram Gumi.
"Sudah-sudah, kalian ini….. lebih baik kita makan saja dulu." Aku berusaha melerai mereka berdua. Oh'ya, Aku ingat sesuatu! Aku meninggalkan bekal yang kubuat untuk Kaito di kelas.
"Oh iya, aku lupa sesuatu. Tunggu sebentar!" Aku buru-buru berlari ke kelas. Saat aku kembali ke kelas, aku mencari bekal untuk Kaito di tasku. Tapi, aku tidak menemukannya! Seingatku aku taruh di dalam tas, tapi kenapa sekarang tidak ada ya?
"Mencari ini, bocah?" Itu Luka! Dan ia membawa bekal untuk Kaito.
"Luka! Kembalikan!" Bentakku.
"Ooh…bocah tengik ini sudah berani melawan ya? Aku pikir makanan ini lebih seperti sampah, kau tahu? Aku buang saja ya? Karena sampah memang tempatnya –"
PLAAKK!
Aku menampar Luka tepat di pipinya. Kurasa lebih tepat aku menonjoknya dan aku melakukannya terlalu keras, karena Luka sampai ambruk dan pipinya terlihat lebam.
Perasaaanku campur aduk antara senang karena bisa membalas Luka, dan perasaan bersalah karena melakukan yang tidak pantas. seperti, tanganku sendiri yang berbuat seperti itu.
"Dasar bocah!" Luka menjambak rambutku dan menjatuhkanku ke lantai, "Oh iya…ini punyamu kan?" Luka menumpahkan kotak bekal di kepalaku.
Semua orang di kelasku menatapku. Kebetulan saja Gumi datang, "Miku! Kau tak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja kok…"
"Luka! Aku tidak mau jadi pasanganmu saat praktek biologi nanti, KAU JAHANAM!" teriakku memakinya. Aku sudah tak peduli lagi pada sopan santun. Aku bisa saja melemparnya keluar jendela jika semua murid tidak mengawasi kami.
"Ya sudah…masih banyak yang mau jadi pasanganku." Luka dan antek-anteknya meninggalkan ruangan.
"Aku tidak peduli !" Aku membersihkan nasi dari rambut-rambutku. Beberapa rambutku rontok karena menempel pada nasinya. Gumi juga membantu membersihkan sisa-sisa makanan yang masih menempel di rambutku.
"Ini bekal siapa, Miku? Tadi sepertinya kau sudah memakan bekalmu."
"Ini….sebenarnya buat Kaito-kun, tapi mau bagaimana lagi."
Wajah Gumi berubah menjadi sangat muram, "Oh iya, ada yang ingin aku katakan sebenarnya padamu dari kemarin, tapi….."
"Ada apa? Katakan saja."
"A-Aku…..Aku akan pindah sekolah." Kata Gumi dengan suara datar.
Mataku terbelalak seakan tidak percaya omongan Gumi barusan. Aku berusaha menenangkan dan meyakinkan diriku bahwa hal tersebut tidak benar-benar terjadi.
"Kau bohong kan?! Kau berjanji untuk menemaniku selalu sampai kita di universitas nanti!" sahutku sebelum aku sempat mecegahnya.
"Aku tak bisa mengubah rencana orang tuaku. Itu memang sudah keputusan mereka. Katanya Luka itu memang terlalu berbahaya buatku,"Aku berdiri. Berusaha menenangkan diri. Gumi memelukku erat dan menangis.
"Maafkan aku, Miku…Hanya ini yang bisa kulakukan." Gumi menangis untuk pertama kalinya. Sebelumnya aku tak pernah melihat Gumi menangis tersedu-sedu seperti ini. Aku berusaha menenangkan dirinya.
"Sudah…tak apa, kita masih bisa bertemu lagi, kok. Kita masih bisa mengobrol melalui internet."
"Bagaimana nasibmu tanpaku? Apa kau bisa mengatasi perempuan jahanam itu sendirian?" Gumi mengusap air matanya.
"Gumi…aku bukan wanita yang tidak bisa melakukan apapun seperti boneka. Aku bisa juga kuat sepertimu." Gumi mengangguk, menandakan ia setuju denganku.
Jam sekolah pun usai. Aku menunggu Gumi membereskan buku-bukunya. Semenjak Gumi memberitahuku bahwa dia akan pergi, aku merasa ingin selalu bersamanya. Kami berdua keluar gedung sekolah bersama-sama. Kami mampir ke toko takoyaki untuk membeli beberapa takoyaki. Selagi menunggu takoyaki yang sedang dibuat, aku terus menatap wajah Gumi.
Wajahnya terlihat sangat lelah, ia seperti melihat sesuatu di ujung sana dan ternyata tidak ada apapun di sana. Wajahnya terlihat kusam; tidak senang, tidak sedih. Wajahnya datar. aku menpuk pundaknya sekali, "Hei! Kau kenapa? Bengong seperti itu tidak baik tau."
"Aku hanya berfikir…" kali ini aku melihat senyuman yang terlukis di wajahnya, tapi itu terlihat jelas kalau itu adalah senyum palsu.
"Ayolah, ceritakan padaku!"
"Sebenarnya…aku sangat lemah dalam hal beradaptasi. Aku takut kalau aku tidak akan mempunyai seorang teman di sekolah baruku,"
"Jangan begitu..Kamu itu orangnya baik. Pasti akan mendapat banyak teman di sana,"
"Benarkah?"
"Tentu saja…dan yang pasti kamu akan mendapat teman yang lebih baik dari aku,"
Gumi menatap wajahku dalam, "Miku…Aku beritahu kau satu hal; tak ada teman di dunia ini yang lebih baik dari kau, Kaito, dan Mikuo-Senpai."
"Terima kasih, Gumi…" Aku mencoba untuk tersenyum. Berat rasanya ditinggalkan sahabat sendiri. Aku tahu akan sulit hidup tanpa Gumi, tapi aku akan menjadi seorang gadis yang lemah yang butuh seseorang untuk menggerakkan tubuhku sendiri. Aku yakin aku bisa hidup tanpa Gumi.
"Permisi, takoyaki-nya sudah jadi." Suara penjual takoyaki itu memecah pikiranku. Aku dan Gumi mengambil takoyaki kami masing-masing, membayar, dan meninggalkan tempat.
Aku berfikir: Kenapa orang-orang yang kucintai perlahan-lahan menghilang dari hidupku? Ini kebenaran atau hanya perasaanku saja? Sepertinya ini hanya perasaan belaka. Kelak Gumi akan mengunjungiku suatu saat nanti, dan ini bukan akhir, bahkan ini adalah permulaan dari hidup yang akan kujalani ke depan…
To Be Continued
Yeaah! Akhirnya selesai! Butuh waktu yang lama untuk menyelesaikan satu chapter saja ya...Dan sekali lagi arigatou untuk KatziusTheKatze yang sudah mau bantuin saya bikin fic ini..
Jadi bagaimana ceritanya? Bagus kah? Terlalu sinetron kah? Review yaa om dan tante~
