Mimi: Holaaaaa minna... ada rindu sama mimi?

Rin: Kagak, udah bosen tiap hari liat baka author kayak mimi.

Mimi: Gitu ya... Uh... Gomen *nunduk*

Len: *pat pat* Len rindu sama mimi kok.

Mimi: Yeyyy... Len rindu sama mimi ... Prok Prok Prok *lebay*

Len: Tapi Len mau screen time cukup di baca disclaimernya aja kok.

Mimi: Tapi ada maunya juga ni anak *dark aura*

Len: Please...

Mimi: Terserah. *ngambek*

Len: Okay minna... Disclaimer : Fanfict ini punya Imouto (Mimi) tapi characternya buka punya dia melainkan punya creator masing-masing mereka.

Mimi: *masing ngambek*

Len: Yah... Mimi nya masih ngambek tuh... yaudah minna... Happy Reading ya... Len mau beliin lolipop buat mimi...

Oliver: Ada apa ini? *baru bangun*


Previously on Orenji

"Tei menarik nafas panjang dan menarikku keluar dari kelas. Sepertinya ada yang salah di sini.

"Aku akan menunjukkanmu sesuatu" ujarnya sambil menarikku ke sebuah ruangan.

Saat pintu ruangan itu terbuka, yang kulihat hanyalah seberkas cahaya lampu yang digantung di dinding batu berlumut dan lembab. Tei menarikku ke dalamnya. Terowongan apa ini? Kenapa di sekolah seperti ini ada terowongan yang sama dengan yang ku lihat di foto Ayah dan Ibu?"


Orenji Chapter 2 (My Family's History)

Aku dan Tei berjalan menyusuri lorong gelap, lembab dan berlumut. Setelah beberapa menit berjalan meyusuri lorong lembab tersebut, bau lumut mulai berkurang dan digantikan dengan bau air laut dan pasir pantai. Di ujung terowongan aku bisa melihat cahaya matahari yang mulai terasa panas. Semakin jauh kami berjalan, pantai tersebut semakin jelas terlihat, ombak pantai yang bergulung indah, hutan oak tepat di sebelah pantai tersebut. Aku mulai bertanya-tanya, mengapa ada terowongan seperti ini di sekolah anak nakal dan berujung di pantai yang biasanya terdapat pada sekolah pariwisata. Tei berjalan menjauhi pintu kaca yang menuju pantai dan memasuki bagian lorong lain.

"Apa menurutmu sekolah ini adalah sekolah anak nakal?" Tei bertanya seolah dia bisa membaca pikiranku

"Uh, sedikit kurang yakin" jawabku, jelas kurang yakin, mana mungkin seseorang menguras tenaga membuat terowongan yang berakhir di sebuah pantai indah yang mungkin bisa saja digunakan untuk pariwisata dan mengahasilkan uang.

Tei dengan mudahnya menggeser sebuah penyekat dinding tebal yang terbuat dari kaca. Aku tidak kaget dengan apa yg baru saja dilakukan oleh seorang gadis bertubuh mungil seperti Tei, karena dengan tubuhku yang mungil ini aku juga bisa melakukan hal seperti itu.

"Tempat ini adalah tempat favoritku" ujarnya sambil menuntunku memasuki ruangan itu.

Tei menjentikkan jarinya dan lampu-lampu di ruangan itu mulai menyala.

"Tei matikan lampu nya" teriak seorang gadis yang sedang duduk disebuah sofa sambil megunyah permen karet dan mendengarkan ipodnya.

Tei menghiraukan teriakan gadis tersebut dan berjalan ke arah sebuah pintu yang lebih elegan dari pada penyekat pintu yang tadi dibukanya. Dibukanya pintu tersebut dan bau buku dan kertas-kertas yang sudah berdebu menyengat hidungku dan membuatku terbatuk-batuk.

"Kau harus terbiasa dengan debu dan buku-buku kuno, karena aku akan menyuruhmu untuk membaca beberapa buku tentang asal usul sekolah dan keluarga Kagamine" ucapnya saat menepiskan debu dari buku yang bersampul tebal yang isinya kira-kira 1000 halaman yang diambilnya dari rak buku yang berada di sepanjang kedua sisi lorong tersebut.

Tei meletakkan buku itu di sebuah meja dan mulai membalik-balik halaman buku itu dan akhirnya berhenti pada sebuah halaman dengan banyak kata yang dicoret dan di garis bawahi. Ia menunjuk pada salah satu kalimat yang digaris bawahi pada halaman tersebut.

'Keterlibatan sepasang malaikat dalam pembuatan tempat perlindungan dan pengasingan seorang anggota keluarga kagamine bernama ... karena telah membunuh ayahnya sendiri'

"Apa hubungannya sepasang malaikat dengan ku?" tanyaku bingung.

"Apakah kau masih tidak mengerti? Sepasang malaikat itu ayah dan ibumu." Jawabnya saat menutup buku itu dan meletakkannya di tepi meja baca.

Aku terkejut dan sontak terduduk di sebuah kursi yang disediakan untuk membaca buku di ruangan yang tampaknya seperti perpustakaan pribadi seorang yang telah hidup puluhan tahun hanya untuk membaca. Tei menarik tanganku dengan kasar dan kembali menuntunku menuju terowongan yang gelap, lembab dan berlumut tadi yang mulai membuat perutku mual, tapi kali ini dia mengajakku ke pantai yang tadi ku lihat saat hendak menuju perpustakaan yang baru saja ku masuki bersama Tei.

Tei kembali membuka pintu kaca yang tebal dengan mudahnya. Ku pikir saat keluar dari pintu kaca, kakiku akan disambut oleh hangatnya pasir pantai, tapi kali ini aku harus mencari cara untuk turun ke pantai dari pintu kaca yang tingginya sekitar 8 meter dari garis pantai. Kakiku gemetaran dan mungkin aku akan muntah kalau saja tidak ada Tei di sini bersamaku.

"Bagaiman cara turun?" tanyaku

"Lompat" dengan santainya Tei menjawab pertanyaanku sementara aku sendiri tidak yakin akan jawabannya.

Aku merasakan sebuah tangan mencengkram pundakku yang tak lain adalah tangan Tei, dia mendorongku keluar dari pintu kaca. Sedetik setelah dia mendorongku, ku pikir aku akan mati, tapi entah mengapa kedua kakiku mendarat sempurna di pasir pantai. Tei melompat tepat setelah aku mendarat di pasir, aku kembali terduduk karena shock akan apa yang baru saja ku lakukan. Tei membantuku berdiri sembari merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat lompatan tadi.

"Hah.. bagaimana? sudah yakin kalau kau bukan manusia?" pertanyaan yang aneh terlontar dari seorang gadis yang tampaknya 'normal' bagiku.

"B-b-baiklah.. kau perlu menjelaskan lebih detail tentang 'Aku bukan manusia'" nada suaraku terdengar sedikit bergetar karena kaget dan takut akan jawaban yang akan terlontar dari mulut Tei.

"Okay, sebelum itu, aku akan menunjukkan sesuatu padamu" ucapnya sambil menarik tanganku lagi, tapi kali ini genggaman tangannya lebih lembut.

Aku mengikuti gadis itu yang sedang berjalan dengan ria menuju hutan oak, setelah melewati beberapa pohon oak, aku mendapati sebuah "gedung" bergaya classic dengan penyekat kaca dan beberapa meja dan kursi di teras yang diduduku beberapa orang yang tampaknya familiar olehku.

"Yep, Oliv, Zatsu, dan Gakupo, mereka juga malaikat dan Iblis" sekali lagi, Tei sepertinya bisa membaca pikiranku.

Beberapa dari mereka pernah ku lihat di sekitar lingkungan rumahku, pemuda berjas yang berrambut biru tua dan kembarannya yang berambut violeti yang duduk di palang besi teras bersama beberapa anak berjas lainnya adalah anak pemilik museum yang jaraknya tidak jauh dari rumahku. Gadis berambut hijau pendek yang sedang memberi makan tupai pernah ku lihat di toko bunga yang pernah ku kunjungi.

"Gumi, dia gadis yang sedikit gila" Tei menunjuk ke arah gadis yang sedang memberi makan tupai itu.

"Malaikat atau Iblis?" tanyaku

"Tebak saja" jawabnya dengan santai

"Malaikat"

"Salah, dia iblis" jawabnya lagi "Nanti kau akan mengerti bagaimana cara membedakan malaikat dan iblis" lanjutnya.

Aku berjalan menuju meja yang diduduki oleh Oliver, Zatsune dan Gakupo. Dari kejauhan aku bisa melihat Oliver yang memanggilku, walaupun dia tersenyum, senyumannya tidak seceria senyum yang di kelas tadi, sepertinya ada yang mengganjal di hatinya.

"Well, Rin, apa Tei sudah menceritakan tentang sejarah keluargaku?" Oliver menunduk dan mengeluarkan sebuah buku dari raselnya yang kelihatannya sama umurnya dengan buku yang tadi ditunjukkan oleh Tei kepadaku di perpustakaan.

Seketika semua ekspresi cerah pada orang di sekelilingku pudar dan aura yang penuh kebahagiaan kembali menjadi aura gelap. Oliver membuka halaman demi halaman dan berhenti pada halaman tengah. Tei berdiri di samping Oliver yang tampaknya ketakutan, Gumi yang tadinya sedang memberi makan tupai tiba-tiba teralihkan ketika melihat Oliver yang ketakutan. Dengan gugupnya, Gumi berjalan menuju meja yang sedang kami duduki, matanya mencari-cari sumber aura gelap itu, matanya melebar ketika melihat buku tua yang dibawa Oliver. Karena penasaran, aku mulai memfokuskan diriku dan membaca buku itu, Zatsune dan Gakupo memegang pundakku, aku terlonjak ketika membaca baris pertamanya.

"Oliver menjauh" ucapku dengan sedikit menggerang.

"Oliver menjauhlah" Tei memperjelas ucapanku tadi.

Kemarahan menjalar di setiap inci tubuhku, tanganku mengepal dan rasanya ada sesuatu yang janggal terasa pada punggungku. Tiba-tiba...

To Be Continued

.

.

.

Selesai juga Chapter 2 nya. Update kilat, Ok deh.. Reviewnya ditunggu ya Minna

Jaa..