Mimi: Hari ini dark aura ku muncul lagi malah lebih parah dari kemaren...
Rin: Eh... eh... *ketakutan*
Mimi: *natap rin* apa lagi?
Len & Oliver: *ketakutan juga*
Mimi: Mimi lagi sakit...
Len, Rin & Oliver: Ne.. Disclaimer... Character yang di sini cuma dipinjam oleh Mimi, jadi character yang ada di fanfict ini bukan punya dia..
Mimi: Mimi mau tidur dulu... ga enak badan.. *ambil bantal* Happy Reading Minna ... Oyasumi..
Len & character lainnya: kami selamat... *sigh*
Previously on Orenji..
Seketika semua ekspresi cerah pada orang di sekelilingku pudar dan aura yang penuh kebahagiaan kembali menjadi aura gelap. Oliver membuka halaman demi halaman dan berhenti pada halaman tengah. Tei berdiri di samping Oliver yang tampaknya ketakutan, Gumi yang tadinya sedang memberi makan tupai tiba-tiba teralihkan ketika melihat Oliver yang ketakutan. Dengan gugupnya, Gumi berjalan menuju meja yang sedang kami duduki, matanya mencari-cari sumber aura gelap itu, matanya melebar ketika melihat buku tua yang dibawa Oliver. Karena penasaran, aku mulai memfokuskan diriku dan membaca buku itu, Zatsune dan Gakupo memegang pundakku, aku terlonjak ketika membaca baris pertamanya.
"Oliver menjauh" ucapku dengan sedikit menggerang.
"Oliver menjauhlah" Tei memperjelas ucapanku tadi.
Kemarahan menjalar di setiap inci tubuhku, tanganku mengepal dan rasanya ada sesuatu yang janggal terasa pada punggungku. Tiba-tiba...
Orenji (Iron Winged Demon)
Tiba-tiba.. sesuatu yang lebar, lembut dan seputih susu muncul dari punggungku, tubuhku rasanya seperti digelitik oleh bulu-bulu dari sayapku, tapi kemarahanku lebih besar dari keterkejutanku, tanganku masih mengepal. Kalimat pertama yang kubaca adalah 'Seorang penasihat raja iblis, Oliver mengasingkan salah seorang anggota keluarga Kagamine dan memancangnya dengan pancang perak karena telah membunuh seorang penghianat dari kerajaan iblis.' Mengetahui kalau sebenarnya Oliver yang membuat salah satu keluarga Kagamine diasingkan, rasanya aku ingin sekali memenggal kepalanya. Kuayunkan tanganku ke arah lengannya, kuku-kukuku yang tajam membuat lengannya berdarah.
"Bagaimana bisa kau tega melakukan itu?" tanyaku bersiap-siap untuk
"Waktu itu aku hanya mencoba melindungimu. Apa kau tak ingat?" jawabnya sambil memegangi lenganya yang darahnya mengalir ke lantai marmer teras yang berwarna cream susu.
"Aku,.. Tidak... Peduli.. bagaimanapun dia itu anggota keluargaku, lagian yang dia bunuh adalah penghianat" ucapku setengah berteriak.
Kembali ku ayunkan tangaku ke arahnya, kali ini lebih keras lagi. Badannya terlempar keluar teras dan membentur sebuah pokon oak besar. Dia sama sekali tidak melawan. Tei meletakkan tangannya di pundakku.
"Rin, sudahlah.. Kau hanya tidak ingat kejadian saat itu" bisiknya berusaha untuk menenangkan ku.
Bahkan kata-kata Tei tidak dapat menenangkanku. Kusingkirkan tangan tei dari pundakku dan turun dari teras. Aku berjalan dengan perlahan ke arah Oliver yang tersandar setengah sadar di bawah pohon oak. Kakiku rasanya terhisap oleh pasir pantai, mengingat beratku bertambah karena adanya sayap itu, kubiarkan ujung sayapku menyapu pasir dan fokus pada Oliver. Saat kendak melayangkan pukulan terakhirku, seseorang memelukku dari belakang dan berbisik di telingaku.
"Tenanglah, this is not you Rin" bisiknya
Suaranya yang serak bergeming di telingaku, tangannya menggenggam tanganku. Dia mendekapku lebih erat, bisa ku rasakan kehangatan tubuhnya, tapi tidak ada detak jantung, apa dia tidak ketakutan atau jantungnya sama sekali tidak berdetak, tapi apapun yang terjadi dia berhasil membuatku merasa tenang. Sayapku menyusup kembali ke bawah kulitku, detak jantungku sudah stabil, tapi pandanganku menjadi kabur, beberapa menit kemudian rasanya dia menggendongku ke arah teras. Pandanganku memang sedikit kabur tapi aku masih bisa melihat keadaan di sekitarku. Dia membaringkan ku di sebuah sofa panjang di dalam sebuah ruangan, tidak lama setelah itu pandanganku menggelap dan aku pun pingsan.
"Rin" seseorang memanggilku.
"Rin, kau sudah sadar" Tei duduk tepat di sebelahku.
Dinding batu, lantai marmer berwarna cream susu, tirai beludru menjuntai menutupi penyekat kaca yang terdapat di sebelah kanan bangunan ini, tampaknya familiar, aku sadar kalau aku masih berada di dalam bangunan berteras lebar yang beberapa saat lalu hampir hancur karena kemarahanku. Ruangan yang cukup luas untuk dijadikan kamar untuk lima orang, yang berisi beberapa sofa panjang dan sebuah lemari kayu besar bermotif pohon oak yang entah apa isinya. Ku mencoba untuk duduk, Tei membantuku dengan menopang punggungku. Semua badanku terasa ngilu, punggungu perih.
"Cerita itu memang benar, kau adalah malaikat tercantik yang pernah ada" bisiknya.
Ku balas bisikannya itu dengan senyuman, mungkin senyumanku tidak seperti yang diharapkannya tapi sudah tidak sekaku waktu itu, tapi setidaknya aku sudah berusaha untuk tersenyum.
"Belum pernah ku lihat di sedekat itu dengan seseorang" lajut Tei
"Dia? dia siapa?" tanyaku sembari menegakkan badanku dan menghadap ke teras.
"Len Kagamine" jawabnya
Ku kumpulkan segenap keberanianku untuk bertanya pada Tei tentang Len, ini mungkin agak sedikit canggung karena aku tidak pernah menceritakan apa yang kurasakan tentang seseorang, apa lagi laki-laki. Namun melihat ekspresi Tei yang kurasa cukup peduli dan baik padaku, aku akhirnya memutuskan untuk sedikit mengandalakan Tei untuk mengingatkanku tentang apa yang telah terjadi dan apa peranku di dalam setiap kejadian-kejadian itu.
"Um.. dia itu apa?"
"Tidak ada yang tau dia itu apa, tapi yang jelas dia sudah ada di sini sejak aku dan Oliver datang"
"Um.. baiklah" aku sudah tidak terlalu marah pada Oliver tapi kecemasan memburuku.
Tei sepertinya bisa membaca raut wajahku yang terlihat sangata cemas dan ketakutan. Dia mengajakku kembali ke teras, aku tak heran tangan dan badannya yang sedikit lebih kecil dari badanku bisa menopangku yang masih bergetar karena ketakutan, aku takut tidak bisa mengendalikan emosiku lagi saat bertemu Oliver. Saat Tei menopang ku berjalan ke teras, Gakupo membantunya untuk menuntunku pada Oliver. Gumi beranjak sedikit dari tempatnya berdiri seakan takut aku akan berbuat gegabah lagi.
Oliver yang tadinya setengah sadar sekarang sedang duduk di sebuah kursi sambil memulihkan dirinya dari benturan tadi. Lukanya sudah tertutup sempurna, itulah kelebihan malaikat dan iblis. Matanya memicing ke arahku seakan aku telah menghancurkan sesuatu yang sangat berharga untuknya. Pandangannya melemah ketika aku berjalan mendekatinya dengan perlahan.
Aku pernah mengalami ini, entah kapan, entah dimana, tapi yang jelas ini pernah terjadi padaku. Aku memejamkan mataku, sekilas bayangan melayang-layang di pikiranku, bukan bayangan tapi proyeksi, proyeksi masa lalu ku. Keadaan saat itu gelap seperti situasi sehabis perang, Oliver sedang bersandar pada sebuah dinding berlumut, luka-luka nya sedang menutup, airmataku mengalir deras saat melihat Oliver menyembuhkan lukanya. "Rin, aishiteru" ucapnya, gerbang di dihadapanku terbuka, ekspresi wajah Oliver berubah murung ketika ku langkahkan kakiku memasuki gerbang tersebut. "Oliver, Me too" teriakku saat tubuhku hampir lenyap ditelan gerbang tersebut.
Sekali lagi tubuhku tersentak dan aku pun mundur beberapa langkah dari Oliver dan menabrak meja dibelakangku. Oliver berdiri dan berlutut didepanku.
"Maafkan aku Oliver" ucapku saat meraba salah satu bekas luka yang ku sebababkan karena kemarahanku tadi.
Dahinya mengkerut, sepertinya lukanya masih sakit. Tangan Oliver terkilir karena membentur pohon oak. Dia tersenyum, aku tau itu hanya cara seseorang untuk menutupi sakit yang dirasakannya, apalagi orang seceria Oliver, dia akan melakukan itu untuk membuatku merasa kalau dia baik-baik saja dan agar aku tidak merasa bersalah akan perbuatanku. Tapi malah sebaliknya, aku merasa bersalah akan apa yang telah ku lakukan pada Oliver, sekarang aku tau. Dulu aku dan Oliver adalah sepasang kekasih yang harus terpisah karena gerbang yang aku bahkan tak tau membawaku ke mana. Mungkin karena alasan itu Oliver sangat baik padaku.
"Aku mencintaimu Rin!" ucapnya di sela-sela senyumnya yang ku kagumi.
"Uh, maafkan aku Oliver, saat ini yang bisa ku lakukan adalah hanya mencoba memahami ini dan mengingat semua yang pernah ku lupakan, kita memang pernah menjadi sepasang kekasih tapi aku masih belum bisa sekarang" aku kembali berdiri dan meninggalkan teras dibantun dengan Tei yang menopang badnku.
"Ku rasa ini yang terbaik untukmu Rin, eh, bukan bermaksud membuatmu menjauhi Oliver tapi... " ucap Tei terbata-bata saat sedang membawaku masuk.
"Kau menyukai Oliver?" godaku
"Ah, Tidak.. Uh... okay baiklah aku mengakuinya.. aku menyukai Oliver" pipi tei merah merona, kulitnya yang putih pucat membuat rona wajahnya terlihat jelas seperti saat kau melapiskan cet merah pada dinding putih.
"Bukan masalah untukku" ucapku sambil sedikit tertawa.
Dia mendudukkanku di sofa yang tadi ku tempati saat tak sadarkan diri. Kami bercerita dan tertawa bersama sambil menceritakan Oliver, orang yang dari dulu disukai Tei.
Matahari mulai terbenam, langit menggelap, tapi warna jingga dan campuran ungu cerah di fajar menunjukkan bahwa malam ini semua akan berjalan baik. Semua yang berada di teras berjalan menuju hutan oak dan mengumpulkan beberapa ranting kayu untuk menyalakan api unggun. Sedikit demi sedikit kegelapan mulai melapisi hutan oak, suara burung hantu dan angin dingin pantai melengkapi keadaan mencekam. Kebanyakan dari mereka menggunakan sweater, tapi sebagian hanya menggunakan baju kemeja tipis seperti Gakupo dan Oliver. Gumi sedang asyik menyediakan wortel untuk dibakar dan sibuk bergelut dengan sweater tebalnya yang bermotif wortel.
"Gadis yang aneh" ucapku dari balik penyekat kaca
"Apa kau mau sweater?" ucapnya sambil mengacak-acak isi lemari kayu besar tadi.
"Hm.. kurasa tidak" lajutnya lagi.
Mungkin aku tidak memerlukan sweater, aku punya sayap tebal dan lembut yang bisa ku gunakan untuk menghangatkan tubuhku.
"Mereka sudah mulai" ucap Tei kembali menutup lemari kayu tersebut.
Aku dan Tei turun dari tangga teras menuju tempat dimana api dinyalakan. Sepatu bot abu-abuku menjaga kakiku tetap hangat, tapi tetap saja, dinginnya angin malam menusuk kulitku seperti jarum-jarum kecil. Suara burung hatu semakin lama semakin jelas terdengar, hutan oak semakin lama menjadi semakin gelap, tapi penglihatanku malah menjadi semakin tajam dari sebelumnya. Daun-daun kering berserakan di mana-mana, bisa ku lihat anak-anak yang berkumpul di teras sedang mengelilingi api unggun. Batang-batang pohon yang sudah mati digunakan sebagai tempat duduk, Akaito sedang bermain gitar dan kembarannya kaito bernyanyi, suara merdu mereka berdua bisa mengalahkan kesunyian malam di hutan oak yang mengerikan ini. Semua yang ada di teras sedang bernyanyi bersama Kaito dan Akaito, kecuali satu Len, dia sama sekali tidak kelihatan sejak kejadian tadi.
Aku dan Tei mengambil tempat di antara mereka yang sedang sibuk bernyanyi. Aku duduk di samping Oliver dan Tei duduk di sampingku, aku ingin sekali membiarkan Tei duduk di sebelah Oliver tapi ada sedikit kecemburuan di hatiku, jadi aku memutuskan untuk duduk di samping Oliver hanya untuk malam ini saja. Malam mulai larut. Suara gitar sudah berhenti beberapa dari mereka yang sudah hidup beberapa abad menyediakan tempat tidur untuk malaikat dan iblis "pemula" seperti Gumi, Zatsune dan Aku. Tapi aku memilih untuk tidak tidur.
"Apa kau tidak tidur?" tanyaku pada Oliver.
"Pada dasarnya semua malaikat maupun iblis tidak tidur, kami hanya beristirahat sebentar" Oliver merebahkan kepalaku di pangkuannya, aku sudah terlalu lelah untuk menolak, jadi ku putuskan untuk membiarkan Oliver menjadi tempatku bersandar.
Seseorang berjalan terhuyung-huyung dari kegelapan, Gakupo berlari ke arahnya, tapi orang itu sudah jatuh tersungkur di tanah hutan yang lembab dan penuh dengan daun-daun mati. Aku dan Oliver pun ikut berlari ke arah orang tersebut. Badanya pucat seakan sudah tidak ada darah sama sekali, kulitnya membeku tak bernyawa,
"Bahkan seorang vampir akan menyisakan sedikit darah pada mangsanya" ucap Gakupo.
"Selama hidupku, aku tidak pernah melihat yang lebih buruk dari ini" tambah Oliver
"Siapa yang tega melakukan ini?" aku duduk di sebelah lelaki tak bernyawa itu, tangan dan kakiku bergetar. Aku sering merasakan kesedihan orang lain, tapi yang ini bukan hanya kesedihan, ketakutan yang membuatku bergetar dan gelisah sudah mulai merambati seluruh tubuhku.
Karena terlalu takut untuk melihat ke arah lelaki itu, aku menoleh ke arah bangunan yang tadi ku tempati, ada sepasang sayap besi yang bergerak di bayangan gedung tersebut dan menghilang begitu saja, sayap yang juga tidak begitu asing untukku.
To Be Continued
.
.
Wah maaf ni minna kalau telat nge publish yang satu ini, soalnya lagi ga enak badan juga
Tapi ya semoga senang dengan chapter yang ini...
Jaa..
