A Sasu Saku fanfiction

Cruellity of Love

Chapter six

(c)Tateyama Ayano


Author note :

Update tepat waktu dan kecepetan sehari*hosh*

Gimana chapter 5 nya ? Saya tahu agak absurd but, thankyou bagi yang udah baca sampai chapter ini :) xx ! Itu yang di atas author note baru lhoo :D

Btw, please review :) flame too :) I will be so happy if you all review :) okayy

Thankiee. xx

Happy readingg ~


Chapter 6

"It's flawless , really something"- Taylor Swift (Fearless)


Sakura POV

Jantung ku berdetak dengan sangat cepat. This is happening. Ino benar-benar mengerjaiku dengan sangat parah. InSo bagaimana kau akan menjawabnya ?" kata Ino dengan tampang iseng.

"Why did you ask me this ?" tanyaku ke Ino.

"But this is truth or dare. Plus , kau sudah mengucapkan janjimu." Ino menjawab dengan cekikikan.

"But I'm eightteen , why do you ask me such a stupid question ?" kataku dengan wajah memelas.

"Please ? don't do this" kataku lagi.

"Ok fine. you can choose dare ,then." cetus Ino dengan nada yang sangat kesal.

"I dare you to kiss ..."

"What ? Kiss ?" kataku dengan tampang kaget serta mata melotot.

"SASUKE" kata Ino sambil berteriak kencang.

'What should i do.' umpatku di dalam hatiku.

"Kiss him Sakura. Your last chance , dan kau sudah mengucapkan swear."kata Ino sambil tertawa.

"Ia sudah punya pacar, gila atau apa ?" kataku dengan muka kesal. "Take your dare. Kau sudah tidak dapat mengembalikan waktu." kata Ino lagi, ia terkekeh.

"Okay. Aku akan berbicara dengannya dulu. Kalian melanjutkan main." kataku sambil melihat Sasuke yang beranjak dari tempatnya yang tadi dan duduk di sofa yang letaknya di depan tv.

Aku melihat Sasuke dengan muka badmood. Tampangnya biasa-biasa saja, ia duduk dengan santai. Seperti biasa, ia bertampang dingin, dan bertampang tidak keberatan atau apapun. Aku duduk di sebelahnya lalu memulai pembicaraan.

"Apa aku harus melakukan ini ?" tanyaku ke Sasuke.

"Menurutmu ? Mengapa kau tidak jujur saja ?" Jawab Sasuke dengan tampang yang tidak berperasaan.

"Aku harus melakukannya dan aku terlalu malu untuk menjawab pertanyaan tentang hal tersebut. Jujur saja." jawabku singkat.

"Take your responsible." kata Sasuke lagi

"Kau tidak keberatan ? atau bagaimana ?" kataku dengan raut wajah terkejut dan perasaan lebih dari kaget.

"Aku tak keberatan, dan aku tidak malu, jika kau malu, tahanlah perasaan malumu sendiri. Just a kiss. No big deal." jawabnya dengan santai.

"But, you have a girlfriend." kataku membuat alasan. "She's not here. What's the problem ?" tanyanya dengan perasaan tidak peduli.

"Okay then jika kau tidak keberatan. Shall I tell them now ?" tanyaku. Perasaan ku sekarang sudah bercampur aduk serta ribet. Why this thing must happen. Mengapa aku harus mencium dia. Ohh my.

Aku beranjak dari tempat duduk berjalan tidak jauh dari tempat menonton TV seseorang memanggilku.

"Hey Haruno, kau mempunyai syarat juga setelah kau menciumku." kata Sasuke.

God , ia ingin apa. mengapa ia memberikan syarat. Ughh.

"Yea apa syaratmu ?" tanyaku sambil berjalan untuk kembali ke tempat tadi.

"Kau harus menceritakan kepada ku mengapa kau tidak ingin menjawab truth itu. Meet me outside the house at midnight" kata Sasuke panjang lebar.

"Itu syaratmu ? mengapa kau ingin sekali tahu tentang hal tersebut ?" Tanyaku dengan perasaan kaget.

"Aku hanya ingin tahu saja, lagipula kau tidak mungkin melakukan apapun secara gratis tanpa bayaran kau tahu." katanya lagi.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, aku tidak dapat menentang Ino atau yang lainnya, jika bermain permainan selerti ini semuanya akan menjadi ribet jika kau tidak melakukan dare mu.

"Ok fine. I'll meet you." jawabku pasrah sambil beranjak dari tempat duduk tersebut.


Hal ini semakin gila, Mengapa ia ingin tahu tentang kejadian ini ? OhGod Why ? Why ?

"I'll do it." kataku dengan pasrah. Sangat pasrah.

"You'll do it ?" tanya Ino terkekeh. "Do it then. Now." kata Ino sambil tersenyum jahil.

"Fine" kataku sambil memutar bola mataku.

Aku duduk di kursi yang letaknya di depan sofa Sasuke. Tepatnya mukaku merah padam dan tentu saja jantung ku terasa akan berlari dari tubuhku.

"Remember the promise. " bisik Sasuke.

"Okay.." kataku pelan.

Aku menghela napas dan siap melakukan hal 'gila' ini. Aku mendekatkan wajahku kewajahnya, wajah kami hanya beberapa centi saja. "Just remember the promise okay." katanya lagi.

"Hey hurry up ? What are you waiting for?" teriak Ino kencang.

Aku mendekatkan bibirku sampai bibir ku bertemu dengannya. Sesuatu yang tidak ku lakukan selama kurang lebih 3 tahun lamanya. Ciuman pertama ku setelah semua yang menyakitkan terjadi. Semuanya terasa seperti ada kupu-kupu bertebangan di seluruh perutku. Walaupun menakjubkan juga mungkin rasanya.

Aku melepaskan bibirku setelah sekitar 5 detik bersatu dengan bibir Sasuke.

Aku sadar seluruh wajahku merah dan nafas ku tidak beraturan. Aku merasakan perasaan sesuatu yang gila dari tubuhku.

Entah mengapa aku merasa bahwa semua orang yang berada di ruangan ini melihat hal yang baru saja terjadi, walaupun aku sudah menunjukan hal ini kepada mereka dari jarak yang tidak terlalu dekat aku masih merasa belum tenang.

"I have done that. Okay. Please continue." kataku malu-malu kepada yang lainnya.


Pukul 10 malam.

Kami semua sudah kembali ke kamar masing-masing, Yah, seperti biasa, aku tidak bisa tidur. Terlalu banyak yang harus kupikirkan. Semuanya membingungkan. Aku masih terlalu banyak memikirkan tentang masa laluku.

Mengapa beberapa hal ini harus terjadi. Aku terduduk diam sendirian di kamar. Aku memeluk lututku sendiri. Semuanya terasa flashes lagi. Aku membutuhkan teman yang sekarang mengerti tentang semuanya. Tapi sayangnya Ino sudah berada di kamarnya dan sudah tertidur.

Ayame ? kau sudah gila kalau aku memikirkannya ? I think she is doing something with Sasuke. Aku masih duduk dalam posisi tersebut sebelum iPhone ku berbunyi, seseorang menelefon. Aku beranjak dari kasurku dan melihat siapa yang menelefon.

Aku melihat sebuah nomor yang tidak ku kenaal menelefonku. Entah siapa. Sebaiknya ku angkat atau tidak.

Ku putuskan untuk mendiamkan iPhone tersebut dan kembali duduk. Aku tidak bisa melakukan kegiatan semacam bunuh diri disini. Itu sebuah kegiatan yang membuat semua orang mengetahui rahasiaku. Aku sangat tertekan hingga akhirnya kuputuskan untuk keluar dari kamarku.

Aku membawa earphone serta iPhone ku, lalu kuambil hoodie yang bewarna putih ku di sisi tempat tidur. Aku berjalan keluar ruangan tersebut lalu aku keluar dari rumah.


Ku lihat pantai yang indah dan laut biru yang tenang.

Not a lot going there, hanya ada beberapa kerang, pantai yang indah, ombak yang tenang serta udara malam yang sangat dingin sampai menusuk tulang.

Aku tidak peduli tentang hal ini. Semuanya terasa lebih sakit jika aku mencoba membunuh diriku lagi. Aku duduk di pasir, menikmati udara dingin dan suasana malam yang nyaman. Aku memejamkan mataku . Aku merasakan semuanya bebas, semuanya terasa indah, menyenangkan, aku seketika melupakan satu tumpuk masalah yang ada.

I haven't feel like this before.

Tapi, aku merasa ada sesuatu yang kulupakan.


Aku terbangun di sisi pantai. Aku melihat iPhone ku dan menunjukan disana menunjukan pukul12.32 PM.

"I've spend so much time here." kataku dengan suara serak. Aku mulai merasa ada sesuatu yang harus kulakukan. I haven't remember it yet.

Aku berjalan ke arah rumah. Aku bisa sakit jika aku terlalu banyak tidur di luar. Aku masih mengingat-ingat apa yang harus ku lakukan.

"Jam 12 malam.." pikirku.

"Oh shittt" kataku sambil berlari menuju rumah. Aku dapat melihat bayangan remang-remang dari cahaya lampu. Tidak jauh dari rumah itu, aku melihat Sasuke duduk di pinggiran pantai.

"Hey, I'm sorry I'm late." kataku sambil duduk di sebelahnya. "Hn, that's fine." katanya sambil melihatku duduk. "Apa yang baru saja kau lakukan ?" tanyanya.

"Sekitar pukul sepuluh aku kesini lalu tertidur di pantai." kataku sambil memeluk lututku. "So, kau akan menepati janjimu ?" tanyanya.

"Ya, mungkin kau orang pertama yang mendengar cerita ini." kataku sambil menghela napasku.

"Ino tidak mengetahuinya ?" tanyanya sambil melihat pemandangan laut. "No. Mungkin hanya kau." kataku lagi.

Aku menarik nafas ku dalam dalam , lalu menghembuskannya perlahan.

" It's all started at his house." kataku sambil menundukkan kepalaku. Aku bersiap menceritakannya, aku bersiap membuka rahasia yang kupendam selama 3 tahun ini.


Flashback on

"Apa yang kau lakukan Naruto ?" kataku ketika sadar Naruto memelukku lalu menggendongku ke tempat tidurnya. "You still wanna know what will happen ?" tanya Naruto sambil mengedipkan matanya.

Perasaanku mulai tidak enak ketika kami menyatukan bibir kami. Sesuatu mengganjal pikiranku yang membuatku merasa aneh.

"Stop, please" kataku sambil mendorongnya dengan kencang.

Ia menjauh. Ia terlihat sangat kecewa.

Tampangnya sangat sedih. "Why ?" tanyanya sambil duduk di kursi yang letaknya di seberang tempat tidurku.

"Apa yang aka kau lakukan padaku ? Mengapa kau melakukan hal tersebut ?" kataku sambil membenarkan posisi dudukku di tempat tidur.

"I know we're just fifteen, tapi aku ingin mengatakan kepada semua orang bahwa kau milikku. Selamanya, I want to be your forever and always. Aku ingin menjadi pacar pertama dan terakhirmu." Katanya sambil menundukan kepalanya.

Aku terdiam di dalam posisi itu. Ia hanya menunduk. Situasi menjadi gila. Aku hanya ingin ia berhenti melakukan kegiatan gila itu. Mengapa menjadi seperti ini ? Oh God.

"I hope you're not mad. Aku berkata jujur, mungkin saja aku mati sebelum aku menikahimu, tapi you always be my number one princess." lanjutnya. Ia tidak melakukan gerakan apapun. Ia hanya menundukkan kepalanya

"Jika kau membenciku sekarang, I hope you find a better one. Dan jika kau memiliki pacar yang jauh lebih baik dari diriku ataupun kau menikah dengan seseorang yang bukan diriku, Aku akan mengerti, dan aku akan menjadi temanmu untuk selamanya." kata Naruto mulai terisak.

"I'm really sorry for everything. Are you going to break up with me ? I hope you will be mine forever, but if you're not, it's okay. Aku mengerti, aku mengerti mengapa kau memutuskan hubungan kita sekarang."tampangnya yang tersenyum sedih.

Aku speechless. Semuanya terasa ribet. 'Mengapa hal ini harus terjadi ?' kataku dalam hati. Aku masih dalam suasana terdiam dan hanya melihat tempat tidur yang berada tepat di pandanganku.

"I'm really - really sorry," katanya lagi

"I'm really sorry too... I just .. don't understand." kataku sambil berdiri.

"Wh-what do you mean ?"

"Gomen Hontoni arigato. " kataku sambil berlari keluar dari rangan tersebut.

Aku berlari sekuat tenaga untuk mencapai rumahku. Di zebra cross terakhir, aku hanya terus berlari, tanpa melihat situasi.

Secara tiba-tiba sebuah truk datang. Ketika aku sedang berlari.

Aku hampir tertabrak truk, ketika itu juga aku terdorong ke belakang dan semuanya merah. Suasana jadi sangat mengerikan. Naruto meninggal di saat itu.

Aku mulai menangis di tempat. Aku kehabisan kata-kata.

Flashback off.


"kira kira seminggu sesudah pemakaman Naruto, aku mulai terpenjara dalam sebuah routine." terusku.

Tangisan ku pecah dari pertengahan cerita. Semuanya, come and flashes. Semuanya terasa gila.

"You okay ?" tanya Sasuke.

"I'm fine." kataku sambil menghapus air mataku.

"Aku mengetahui rahasiamu, aku mengetahui tentang hal itu." kata Sasuke sambil melihatku.

"A-Apa maksudmu." kataku sambil melihatnya lagi

"Aku tahu tentang self-harm mu. Aku tahu kau pernah memotong tanganmu."

Mataku melihatnya dengan tampang tidak percaya.

Ia mengetahuinya.

"Ba-bagaimana kau bisa tahu , Sasuke ?"

"Aku melihatmu. Kau ingat dimana kau menceritakan ke diriku di taman ?"

"Yep. Mengapa ?" tanyaku penasaran

"Di malamnya aku melihatmu meminum pill dan kau memotong pergelangan tanganmu." lanjutnya. "Aku melihat semuanya." kata Sasuke sambil memegang pergelangan tangan kiriku, lalu menggulung hoodie ku. "I saw it." katanya sambil menatap mataku.

"Mengapa kau tidak dapat menyudahi semua ini ? Mengapa kau tidak pernah mencoba untuk memberi tahu tantemu ?" Tanya Sasuke.

Aku terdiam. Aku hanya mematung . Air mataku terus bercucuran.

"Nobody understands me." Kataku. Aku menarik tangan ku dari Sasuke lalu memeluk lututku lagi.

"Kau tahu. Setiap kau membeli pill, aku menukarnya." kata Sasuke perlahan memasukan tangannya ke dalam kantong jaketnya lagi.

"Aku menukarnya dengan obat yang tidak memiliki efek. Pill mu kau buang. Setiap kau melakukan self-harm mu aku hanya dapat melihatmu. Nothing more i can do." tambah Sasuke.

"Sasuke..." kataku sambil melihat wajahnya.

"Hn."

"You know. Hal self-harm ku sudah menjadi sebuah kebiasaan ketika aku berumur 15 tahun. Aku berumur 18 sekarang. Aku terlalu tertekan untuk semua ini. Aku sudah tidak memiliki orang tua lagi, aku ingin tanteku tidak mengatahui tentang semua ini. Aku ingin semua orang tidak merasa terbebani karena diriku. Aku mencari jalan keluarku sendiri. So, itulah jalan keluar yang kugunakan." kataku sambil menundukan kepalaku.

"Kau mengambil jalan keluar yang salah." jawab Sasuke."Kau mengambil sebuah jalan keluar yang menambah ribet hidupmu."

"Ta-tapi."

"kau jangan melakukan hal tersebut lagi." jawab Sasuke singkat

"Ku harap.. Hanya berharap." kataku sambil mengembuskan nafasku.


Note :

Everything started here.

All the complicated friendship and love story begin.

All the cruellty begin.

Semuanya berawal dari sebuah ciuman dan sebuah permainan sederhana.


YOSH BAGAIMANA :3 Saya tidak late kan updatenyaa ? :) tepat waktu.

Go shien itadaki, arigatogozai ! (thankyou for all of your support)

Saran dan kritik dapat dituliskan di kotak review :) okayyy xxxxxxx

saya akan mengupdate chapter 7 mungkin tanggal 15 April 2013 okay ?

Stay read.

Love,AuthorAyano