"Waduhh... gimana nih... " gumamnya miris sambil melihat layar tamagochi yang udah rusak .

"Sakura! Ini ada Hinata! Dia mau ngambil tamagochi-nya!"

"HAH?!" Sakura makin kaget. Aku harus gimana nih... ?!

...

TAMAGOCHI : Chapter 2 update

Disclaimer: ©Masashi Kishimoto-sama

Rated: K+

Genre: Friendship

Warning: AU, OOC, TYPO, kependekan, garing, alur cepat, diksi kurang kreatif, bahasa suka- suka author, dll… my first fic.

Summary: Sakura menemukan sebuah Tamagochi di pinggir jalan saat pulang sekolah. Kemudian ia memutuskan untuk memberikannya pada salah satu temannya. Tapi tanpa diduga, mereka punya masalah lain. RnR please ... ?

Here We Go

Sakura 9 tahun

Hinata 7 tahun

Tenten 8 tahun

Ino 9 tahun

A/N: disini fic-nya lebih cenderung ke petualangannya, bukan uraian mengenai tamagochi-nya. Jadi, bagi yang lupa tamagochi itu apa, cari sendiri di google, ya!

...

"Sakura! lagi ngapain, sih?" Tanya Ino.

"Kita masuk, ya?" Tenten menambahkan.

"Buset, mampus …" gumam Sakura. Ia pun mengeringkan tamagochi tsb dengan handuknya. Lalu ia sedikit berteriak, "Iya! Masuk dulu, bentar ya. Aku lagi mandi nih…"

Setelah ketiga temannya masuk, "nggak pa – pa kamu mandi dulu, yang penting tamagochinya kamu taruh mana?"Tanya Ino lagi.

Merasa nggak ada akal lagi, akhirnya Sakura memutuskan untuk nggak jadi mandi dan menghampiri ketiga temannya yang sudah duduk di sofa ruang tamu, sambil tangannya yang masih membawa bungkusan handuk berisi tamagochi.

"Mana?"Tanya tenten lagi lalu melihat bungkusan handuk yang dibawa Sakura, "itu apa, sih?"

"Emm… ini…err.." keringat mulai membasahi jidat Sakura, selain karena hawanya panas, juga ia gugup.

"tamagochi-nya, ya? Koq kamu bungkus handuk, sih?" Hinata mulai bersuara, hebatnya kali ini tanpa gagap.

"Eh, i- iya… ta-tadi jatuh di bak mandi…" yaah…terucap juga, pikir Sakura.

Hening sesaat.

"trus, ru – rusak?" ino melirik ke Hinata sekilas.

Sakura pun mengeluarkan benda tersebut lalu menyodorkannya ke Ino, "nggak tau juga sih, coba liat dulu…"

Setelah Ino menerimanya, alisnya berkerut begitu melihat bercak pelangi aneh di sudut layar bagian dalam. Lalu ia menghidupkan tamagochi tsb. Naas, gambarnya buram dan berkedip – kedip nggak jelas.

"Err… kayaknya… ru – rusak deh…" diam – diam Ino melirik ke Hinata yang kini matanya sedikit basah.

"Masa' sih, lagi loading kali…" Tenten mengambil tamagochi itu dari tangan Ino.

Benar- benar kreatif. Emangnya tamagochi bisa loading, ya?

"Ehh, gomen- ne, hinata. Aku nggak sengaja, kok. Jangan nangis, ya…"Sakura mencoba menghibur. Ia duduk di sebelah Hinata.

Dengan susah payah Hinata menahan isak dengan menggigit bibir bawahnya. Ck, polosnya Hinata…

Dan, setelah itu keempatnya duduk berhadapan mengisi masing- masing sisi meja persegi—entah dapet dari mana-, dengan tangan menopang dagu dan matanya menghadap tamagochi di tengah meja, mirip orang lagi menginterogasi tersangka.

Sakura menghela napas, "Ada ide?"

"sebaiknya cepat sebelum tambah rusak," Ino mengelus poninya.

Seandainya ini adalah komik, pasti ada sebuah bohlam imajiner di atas kepala Tenten yang kini mengacungkan tangannya, "Nah, aku tahu!" dan itu cukup sukses membuat ketiga lainnya kaget.

"Apa?" Tanya Sakura.

"Beli aja yang baru," senyum lebar menghiasi wajah Tenten.

Ino berkerut, "tapi Hinata kan nggak mau yang lain,"

Tenten menggeleng cepat, masih dengan senyumnya, "Enggak, masih ada terusannya".

"Gimana?"

"Gini lho…"Tenten pun menceritakan idenya. Sesekali Sakura dan Ino mengangguk mengerti.

Selesai, mereka pun berhigh- five. Err… kecuali Hinata yang cuma bengong. "Eh?"

Ketiga lainnya cuma tertawa kecil.

"Sak, nggak pa-pa nih Hinata ikut?" Tanya Ino di tengah perjalanan menuju toko terdekat.

"Nggak pa-pa, lagian kan dia bisa milih sendiri," Sakura merangkul Hinata yang mengangguk kecil.

"Oke, target pertama, toko dekat rumahnya Ino. Target kedua, pasar dekat jalan raya. Dan kalo tetep nggak ketemu, baru deh kita ke mall…"Tenten menahan tawa.

"Asik! Ke mall aja langsung," Ino bersemangat.

"Tuh, kan. Denger kata 'mall' pasti langsung semangat. Sabar dulu, cari yang paling dekat dulu…" Tenten menepuk bahu Ino.

Skip time

Singkatnya, mereka dituntut Ino menuju lantai tiga, tempat kios- kios barang elektronik dan mainan anak- anak, sambil sesekali bersembunyi karena beberapa kali mereka melihat ibunya hinata dan Hanabi yang ternyata juga berada di situ. Untungnya mereka nggak lihat, jadi keempatnya nggak terlalu serius bersembunyi.

"Hinata, gimana ciri- cirri tamagochi-mu?" Tanya Sakura begitu mereka sampai di depan rak di dalam kios mainan anak cewek sementara Tenten dan Ino menunggu di luar.

"Err.. bentuknya se-seperti buah… stroberi…"

"Bukan itu. Maksudnya tuh, binatangnya apa aja, trus makanannya sama musiknya apa aja?"

"Oh, emm… binatangnya ada 2, ne- nekomata sama kyuubi… trus, makanannya ada nasi, sayur, sashimi, dan… emm…, musiknya …lu-lupa,"

"Nah, coba liat ini dulu,"Sakura mengambil sebuah tamagochi berbentuk kepala panda di bagian bawah rak.

"Lho, k-kan dibungkus plastic," Hinata mengerjap bingung.

"Lihat belakang kartonnya dong, biasanya kan ada tulisannya".

Skip time lagi

Sekarang mereka udah di rumahnya Hinata. Layaknya dokter bedah, mereka pakai sarung tangan, senter yang diikat di kepala, dengan target otopsi-nya kali ini adalah dua buah tamagochi.

"Nah, langsung saja kita mulai operasi-nya."

Dan, rencana Tenten itu adalah, membeli tamagochi baru. Terserah bentuknya kayak apa, yang penting isinya mirip kayak punyanya Hinata. Trus menukarkan casing- nya dengan casing stroberi milik Hinata. Dan semoga aja rencana ini berhasil.

Namun sayangnya, baut pengerat dua sisi casing tamagochi itu terlalu kecil, sampai- sampai mereka hampir putus asa karena obeng yang mereka punya masih terlalu besar.

Setelah beberapa saat akhirnya casing itu bisa terbuka, dengan err… cara yang kurang elit hasil ide Sakura. Yaitu memecahkan casing baru tsb namun dengan hati- hati agar dalamnya tidak rusak.

Dan untungnya baut tamagochi stroberi agak besar, jadi agak mudah setelah itu. Tapi mereka harus tetap waspada—mengikatkan serbet di kepala sekaligus sebagai tempat senter—agar keringat mereka tak sampai jatuh ke obyek.

"Buwaaah,, selesai juga nih akhirnya," kata Tenten sambil melepas serbet- nya.

"Yup! Hina-chan, jangan ceroboh lagi, ya. Kalau mau dibawa, simpen aja di dalem tas, jangan dimainin pas lagi jalan," Sakura menyerahkan tamagochi tsb. Hinata menerimanya sambil mengangguk dalam, "Arigatou ne, teman- teman…"

"Nah, kalo gitu kita pamit dulu," setelah meja itu dibersihkan, Ino berdiri diikuti yang lain.

"Jam berapa sekarang?" tenten melihat jam dinding, "Hah, jam setengah 4? Cepet banget, pantes aja aku udah bau keringet kayak gini,"

"Eh, t-tunggu dulu.." panggil Hinata sebelum ketiganya keluar pintu. "Se-sebagai balasannya, a-aku mau beliin kalian ta-tamagochi masing- masing satu besok…"

Sakura, Ino dan tenten berpandangan. Lalu tersenyum geli.

*FIN* aja ya

Author's note: selesai. Masih nanggung ngga? Iya sebentar, nanti dibawah ada omake-nya. Saya Cuma mau bilang makasih bagi yg udh nyempetin waktunya buat review fic yang gak jelas bin garing ini…

Oke, sekarang omake-nya.

OMAKE

Hinata's home, 19:15 malam

Tok tok tok, pintu kamar Hinata diketuk pelan.

"ya? Masuk,"

"Hinata-nee, semua udah nungguin Hinata-nee makan malem," kata Hanabi.

"Oh, ka-kamu turun dulu aja, ntar aku nyusul,"

"Ta-tapi…"

"Hinata! Ayo cepet turun, udah ditungguin daritadi kok malah main tamagochi mulu," seru ibu Hinata yang tiba- tiba muncul. Ia merebut mainan tsb lalu menggeret Hinata turun.

Sedangkan yang digeret tersenyum tipis kearah tamagochi sebelum akhirnya menutup pintu.

Sakura-chan, Ino-chan, Tenten-chan, makasih banya, kalian memang sahabatku…