Sankyuu yang udah review and follow. :)

Buat yang udah baca tapi gak review (sider) juga makasih. :D

Disclaimer : Masashi Kishimoto-Sensei

Typo (s), abal, aneh, OOC, etc.

Dont like, dont read, dont flame.

Chapter 2.

Liburan musim panas tiba, saatnya untuk Naruko pergi mengunjungi neneknya di Sunagakure.

Sepertinya liburan sekarang benar benar akan dihabiskannya di Sunagakure. Kebetulan dia mengenal salah satu keluarga di Suna, meskipun bukan keluarga sedarah tapi keluarga Naruko sangat akrab dengan keluarga tersebut. Sampai sampai Nenek sudah menganggap Naruko seperti cucunya sendiri.

Naruko juga berjanji tidak akan pulang ke Konoha sebelum waktu liburan habis, itulah yang diungkapkannya saat berpamitan pada ayahnya tertampan sedunia dan pada ibunya tercerewet sedunia pula.

"Kau yakin akan menghabiskan liburanmu di Suna ?"

"Yakin! sangat yakin."

"Kau tidak akan datang ke pesta pertunangan-"

"Tidak.. Tidak, itu tidak penting." Naruko memotong ucapan ibunya sambil mengibas-ngibaskan tangannya dan menutup rapat rapat matanya, berpura-pura tidak peduli soal pertunangan yang akan digelar keluarga Uchiha.

"Hmm..." Gumam Minato mengangkat sebelah alisnya yang melihat kelakuan putrinya,

"Tou-sama... Kaa-chan... Menghabiskan waktu bersama Chiyo baa-san jauh lebih penting daripada menghadiri pertunangan."

"Baiklah, sepertinya kau sangat merindukan Chiyo Baa-san." Kushina tersenyum mendengar penjelasan Naruko.

"Tentu saja Kaa-chan, sudah lama sekali aku tidak menjahilinya."

"Hei jangan nakal! Kau tahu kan Chiyo Baa-san sudah sangat tua ? Jadi jangan coba coba menjahilinya."

"Memangnya kenapa ? Mudah terkena serangan jantung kah ?"

"Ahhh.. Bukan ! Kau bisa terkena kutukan karena sudah berlaku tidak sopan pada orang tua."

"Hare gene maseh percaya kutukan ? Please deh !" Ujar Naruko dengan bahasa gaulnya, yang kontan membuat Kushina tidak suka.

"Hei!" Protes Kushina.

"Baik.. Baik. Aku tidak akan macam-macam dengan nenek itu, lagi pula aku juga masih sayang nyawaku. Sasori-nii bisa membunuhku jika aku ketahuan menjahili Chiyo baa-san." Minato dan Kushina hanya tersenyum mendengar ocehan putri semata wayang mereka.

"Kalau begitu aku berangkat." Pamit Naruko.

"Hati hati dijalan."

"Baik." Naruko masuk kedalam mobil pribadinya yang akan mengantarkannya ke Suna. Dia sudah berpamitan pada Sasuke sehari sebelum keberangkatannya ke Suna, sepertinya tidak ada masalah dengan kepergiannya ke Suna. Sasuke bahkan tidak menunjukkan raut sedih atau apapun yang menunjukkan bahwa dia akan kehilangan Naruko untuk beberapa waktu. dan tentu itu membuat Naruko benar benar tidak ingin menghubungi Sasuke sedikit pun.

'Mungkin dia lebih memfokuskan diri pada pertunangannya.' Batin Naruko. Lagi pula setelah kepulangannya dari Suna dia bukanlah kekasih Sasuke lagi. Secara otomatis hubungan mereka terputus karena pertunangan Sasuke dan Hinata. Jadi tidak ada alasan apapun untuk menghubungi Sasuke lagi. Sekarang Naruko juga akan fokus pada dirinya sendirinya. Suna menantinya, dia akan menghabiskan waktu liburannya disana.

.

.

.

"Naruko ?" Panggilan suara seseorang mengusik alam bawah sadar Naruko. Pagi buta seperti ini kenapa sudah ada yang berteriak memanggil namanya, ini kan liburan seharusnya dia bisa bangun kapan saja dia mau, pikir Naruko.

"Naruko ?" Panggilnya lagi kemudian, langkah kaki lemahnya menuju kearah kamar Naruko. Nenek Chiyo menggedor-gedor pintunya supaya cucu berambut kuningnya itu segera bangun.

"Gadis pemalas bangun! Ada telpon dari ibumu."

" hahhh... Kenapa Kaa-chan menelpon pagi pagi sekali ?" Teriak Naruko dari dalam kamarnya. Naruko sengaja tidak mengaktifkan telepon genggamnya karena tahu hal seperti ini akan terjadi. Meskipun Naruko mematikan telpon genggamnya ternyata Kushina masih bisa menghubunginya melalui telpon rumah kediaman Akasuna.

"Pagi pagi ? Jam 11 siang kau bilang pagi ? Memangnya kau mau bangun jam berapa ?" Tanya nenek Chiyo dengan sedikit kesal pada cucu pemalasnya itu. Padahal Naruko itu seorang gadis tapi kenapa pemalasnya melebihi nenek nenek seperti dia, Sasori saja cucu laki lakinya tidak sepemalas Naruko."Cepat bangun !"

"Hoamppp... Moshi moshi ?" Dengan tidak sopannya Naruko menguap lebar saat mengangkat telpon dari ibunya,

" hahh..." Dikonoha sana Kushina hanya menghela nafas pelan, sudah terbiasa dengan sifat anak semata wayangnya ini.

"Apa kau tidak berniat pulang sekarang Naru-chan ?"

"Hoampp... Sudah kubilang tidak akan pulang sebelum waktu liburan habis Kaa-chan."

"Hhh.. Baiklah, mata ashita."

Naruko tahu kenapa ibunya menelpon menanyakan kepulangannya ke Konoha, ya hari ini hari pertunangan Sasuke dan Hinata. Untuk apa dia datang ? Menyakiti dirinya sendiri ? Sebaiknya dia pergi berjalan jalan di kota Suna, menghilangkan perasaan kalut yang memenuhi dipikirannya.

"Sasori-nii ?" Sasori membalikkan badannya ke belakang, ke arah Naruko memanggil namanya.

"Hn ?"

"Apa di Suna pernah hujan ?" Naruko melihat seluruh pemandangan Suna dari atas menara di pusat kota Suna yang terlihat gersang.

"Pernah."

"Ah ? Benarkah ?"

"Hn," angguk Sasori "hujan pasir." Naruko sweatdrop.

"Maksudku hujan air seperti di Konoha."

"Hahhh... Kau ini." Hela nafas Sasori yang mendengar pertanyaan konyol dari gadis yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.

"Tentu saja tidak."

"Apa tidak pernah mencoba membuat hujan buatan ?"

"Tidak."

"Kenapa ?"

"Aku tidak tahu." Jawabnya seadanya.

"Oh iya apa disini juga tidak ada ramen ? Persediaan ramenku habis Sasori-nii."

"Tidak ada, salahmu sendiri kenapa kau membawa persediaan ramen hanya untuk satu minggu, padahal kau berlibur disini selama dua minggu."

"Aku membawa persediaan untuk dua minggu, hanya saja... Aku -"

"Makan banyak ramen karena kau pikir persediaannya masih banyak ?" Potong Sasori, yang memperhatikan Naruko selama satu minggu ini hanya makan ramen, tidak pernah makan nasi.

"Hn." Jujur Naruko.

"Naruko ?"

"Ya ?"

"Kenapa kau terlihat berbeda dari sebelumnya ?"

"Ah ? Maksudmu apa Sasori-nii ?"

"Keceriaanmu tidak sehangat dulu."

"What ?" Naruko mengerutkan kedua alisnya, sangat tidak suka dengan apa yang baru saja dikatakan oleh kakaknya ini. 'Keceriaanmu tidak sehangat dulu ?' Apa actingnya selama ini supaya selalu terlihat ceria seperti biasanya tidak meyakinkan atau bisa disebut gagal ?

"Sifat ceriamu itu diibaratkan seperti topeng, kau tersenyum tapi sebenarnya kau menangis."

"..." Apa yang dikatakan Sasori memang benar, Naruko mengakui itu, dan jika ingin menyalahkan siapa yang bersalah kenapa seorang Naruko jadi seperti ini salahkan saja Sasuke. Batin ego Naruko muncul.

"Kau bisa membohongi orang lain tapi tidak kau bisa membohongiku."

"Baiklah kau menang Master Sasori."

"Jadi apa masalahmu ?" Naruko duduk dilantai menyandarkan tubuhnya di dinding, meluruskan kaki jenjangnya yang terasa pegal karena terus berdiri sedari tadi.

"Sasuke akan bertunangan."

"Malam ini dia akan bertunangan dengan Hinata, Hinata Hyuuga."

'Hinata Hyuuga ?' Nama itu terasa tidak asing di telinga Sasori, Sasori yakin dia pernah mendengar nama itu. Tapi ? Ingatan Sasori langsung tertuju pada Itachi. Satu minggu yang lalu Itachi mengundang sahabat sahabatnya di Akatsuki untuk datang ke pesta pertunangannya. dan Deidara menanyakan siapa gadis yang akan menjadi tunangannya, 'Hinata Hyuuga.' Itachi dengan jelas menyebutkan nama itu.

Sepertinya Sasori mengerti dengan masalah yang tengah dihadapi adiknya ini.

"Lalu bagaimana dengan hubunganmu dengan Sasuke ?"

"Tentu saja berakhir."

"Memang Sasuke sudah mengakhiri hubungan kalian secara resmi ?"

"Umm... Be..lum."

" hah... Kau ini." Desah Sasori

"Tidak perlu mengakhiri secara resmi pun hubungan kami sudah jelas akan berakhir." Sentak Naruko dengan yakin.

"Apa kau yakin yang bertunangan dengan Hinata itu Sasuke-mu ?"

"Ya ! Yakin, aku sangat yakin." Tegas Naruko.

"Sasuke tidak akan meninggalkanmu tanpa sepatah kata pun Naruko..."

"Jika memang malam ini dia akan bertunangan seharusnya dia sudah memutuskan hubungan denganmu dari sejak dulu, karena cepat atau lambat kabar pertunangannya pasti menyebar di Konoha."

"..."

"Jika dia tidak mengatakan apapun tentang pertunangan Hinata, bisa saja yang bertunangan dengan Hinata itu bukan Sasuke tapi orang lain."

"Apa kau berpikir kekasihmu itu seorang pengecut ? Meninggalkan kekasihnya sendiri kemudian seenaknya bertunangan dengan wanita lain?"

'Tentu saja tidak.' Jawaban dari benak Naruko. Sasuke-nya tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Sikap Sasuke memang dingin tapi bukan berarti hatinya juga sedingin sikapnya. Naruko bisa merasakan kehangatan dari perlakuan Sasuke terhadapnya.

"Jika bukan Sasuke, apa mungkin Itachi-nii ?" Tanya Naruko dengan penuh harap, mengharapkan jawaban 'ya' bahwa yang bertunangan dengan Hinata itu bukan kekasihnya.

"Ya." Jawab Sasori tersenyum tulus. Jawaban yang sangat diharapkan Naruko.

"Benarkah ? Kenapa kau yakin sekali ?"

"Tentu saja yakin, satu minggu yang lalu Itachi sendiri yang mengundangku untuk datang ke pertunangannya dengan gadis Hyuuga itu." Pernyataan Sasori kontan membuat Naruko terkejut,

"KENAPA KAU TIDAK BILANG DARI SEJAK AWAL HAH ?" Teriak Naruko, teriakan yang mengetarkan bangunan bangunan di Suna.

.

.

.

"Sasori-nii cepat sedikit.." Gertak Naruko yang sudah tidak sabar ingin segera sampai di Konoha. Lebih tepatnya dia ingin segera sampai di acara pertunangan Itachi dan Hinata.

"Sabarlah." Ucap Sasori. Dan mobil Sasori pun melaju kencang saat diwaktu senja. Langit berwarna jingga mengiringi keberangkatan Naruko dan Sasori ke Konoha.

.

.

.

Naruko sampai di gedung tempat diadakannya pesta pertunangan Itachi dan Hinata. Suasana didalam sana nampak begitu meriah, ayah dan ibunya juga pasti ada dalam suasana kemeriahan disana.

Tak.. Tak.. Tak suara sepatu hak tinggi berwarna putih mengiringi setiap ayunan langkah kaki manjanya. Gaun selutut senada dengan sepatunya membalut tubuh ramping Naruko. Sebagian rambutnya diikat kebelakang dengan pita berwarna putih dan sisanya dibiarkan terurai. Make up yang minimalis membuat Naruko nampak begitu manis. Oow dan lihatlah pangeran bungsu Uchiha begitu terpana melihat kedatangan Naruko. Mata onyxnya mengisyaratkan kekaguman pada sosok indah yang tengah mendekat kearahnya.

Tiga langkah...

Dua langkah...

Satu langkah...

TBC.

Review please ! _/|\_