"Nah sebelum saya mulai pelajaran, Sakura, kau ada hubungan apa dengan aniki?" …. A-apa?


Naruto & All characters belongs to Masashi Kishimoto

Warning : ooc, typos, bahasa tidak baku dan disarankan untuk membaca Pak Ganteng! Dulu.

if you're not mind to read this story just get away from my play ground.

.

.

.

.

.

"Even knowledge has to be in the fashion, and where it is not, it is wise to affect ignorance." ─ Baltasar Gracian

Apakah gue salah dengar, atau emang tadi dia manggil gue 'Sakura'? Huh, tidak sopan sekali.

"Apa maksud bapak?"

"Katakan saja. Jangan pura-pura tidak mengenalnya." Otak gue sedang bekerja keras mengartikan apa yang dia maksud, gue baru mengenal Itachi Uchiha semalam.

"Saya baru mengenalnya tadi malam."

"Oh, jadi dia sudah bergerak, hmm" pak Sasuke menyeringai, -ih menyeramkan.

Gue yang sedang gugup pangkat tiga berusaha memfokuskan pandangan kearah kuku-kuku cantik berpoles Bobbi Brown nail polish berwarna pink pucat ketimbang memandang guru tampan mengenakan kemeja warna navy blue HM yang membungkus tubuh atletisnya. My gawd this guy just hotter than sunlight!

Sekitar 2 menit gue bertahan dalam posisi memfokuskan diri pada kuku-kuku dihadapan gue sampai tiba-tiba ─Uh-Oh!

"A-apa..Pak?" Pak Sasuke berdiri di depan meja, meraih tengkuk gue lalu mencium leher gue.

"Kau yakin masih membutuhkan materi dari saya? Emmh.. Harum sekali." Oh tidak wajah gue sekarang mungkin udah semerah kepiting rebus. Gue tidak tahu mau jawab apa, memang sebenarnya tidak perlu.

"Jangan diam saja..Bukankah kau bilang ingin jadi istriku Hn?" ─Rupanya dia ingat insiden sial itu.

"Eh ano, to-tolong menjauh pak.."

"Panggil aku Sa-su-ke"

"P-pak euh Sasuke to-tolong menjauh."

"Kau menyukai aniki?" ─suaranya terdengar seperti menggeram. Gue ketakutan, room/01 terletak di lantai 3 dan hanya memiliki jendela menghadap keluar gedung. Dengan posisi setinggi ini, tak mungkin ada yang melihat kami dari luar. Memang ruangan ini tidak kedap suara, tapi entah kenapa ─euh gue tidak ingin teriak, sepertinya.

"Ti-tidak, mana mungkin. Aku baru bertemu dengannya semalam."

"Di Rouge?"

"Ah, bagaimana bapak tahu?"

"Bapak? Kubilang Sasuke."

"Ba-bagaimana Sasuke-san tahu?"

"Kubilang Sasuke kan?" Dia mengecup pipi kanan, dekat bibir. Oh tidak, gue sama sekali tidak menyangka bakal ada kejadian macam ini.

"Euh..Sasuke.."

"Tentu saja aku tahu, honey. Aku selalu memperhatikanmu setahun terakhir, dan tak akan kuserahkan kau pada aniki ku."

"Aniki yang kau maksud, apa maksudnya Itachi-san?"

"Hn" Sasuke tidak bergerak dari posisinya, tetap dileher gue. Entah apa maksudnya.

Tiba-tiba handphone di saku pak Sasuke berdering ─ia bangun dari posisinya. Gue menghela napas lega

"Ck, mengganggu saja. Halo? ─tidak bisa. Sekitar jam 9 ─baiklah aku kesana sekarang."

Telepon ditutup.

"Sakura, kita lanjutkan pelajaran kita besok." Entah perasaan gue atau apa, ada penekanan dalam kata 'pelajaran kita.'

Dia mengambil Adidas day packnya ─yang membuatnya terlihat seperti mahasiswa ketimbang guru. Oh well dia memang mahasiswa. Dan lalu keluar ruangan.

Gue turun ke basement, berlari ke parkiran dan langsung masuk ke dalam mobil.

Semuanya jadi rumit, ga ngerti apa maksudnya. Gue baru mengenal Itachi semalam, kenapa dua bersaudara itu berlagak seolah mengenal gue sudah lama?

Gue melirik Tribeca Chronograph Bracelet Watch Michael Kors di pergelangan tangan.

16. 27

Dan Sasuke..

Sebenarnya, yang barusan itu apa?

.

.

.

"I have multipersonality disorder - in a very good way, of course - when it comes to my fashion choices." Katy Perry

Ada banyak hal yang harus gue lakukan sekarang, gak ada waktu buat mikirin Sasuke terus. Gue benar-benar tidak bisa menghilangkan sosok tampannya dari bayangan gue. Sial.

Gue segera membuka pink MacBook Air dan mencoba untuk browsing highlightly fresh from runaway untuk segera di review, mengingat tadi sore saat baru sampai rumah, editor in chief Elegant menelpon dan menanyakan kapan blog gue akan di update karena sudah telat 3 hari sejak jadwal publish.

Masalahnya, sulit konsentrasi mengingat apa yang baru terjadi pada gue 3 jam lalu, sementara gue harus menyelesaikan ini dengan cepat dan mengurusi beberapa task sekolah.

Web page Barneys terbuka. Gue benar-benar nyaris melupakan tujuan awal gue untuk mereview beberapa new item yang baru dipublish karena hampir menggesek Visa untuk multicolor tweed skirt nya Proenza Schouler yang kewl abis.

Setelah memilih 3 item fresh from runaway untuk di review, gue langsung menyelesaikan economics assignment dan langsung mengirimnya via e-mail ke Mr. Ebisu.

Iphone mangalunkan lagu Houdini, Foster the people. Tenten.

"Hey girl."

"Hmm?"

"Haagen Dazs, yuk?" ─gue memikirkan berapa lemak jahat dalam es krim itu yang akan menempelkan dirinya pada tiap lekukan tubuh gue, malam ini.

"Aduh kelamaan. Tenang aja deh, kan ada yang baru. Non-fattening katanya sih."

Gue menganga tidak percaya, "Bisa baca pikiran gue?"

"Yah, sekalian certain bisnis fashion lo itu bisa kali."

"Mau dimana nih?"

"Yang di Grand Konoha aja."

"Ok, gue ganti baju dulu. See ya there."

Untung semua task udah selesai. Mungkin dengan kelembutan es krim bisa sedikit membuat gue melupakan…Kejadian tadi.

.

.

.

"Whoever said that money can't buy happiness, simply didn't know where to go shopping."

Bo Derek

"Apaaaaaa?" gue memutar mata bosan, reaksi super lebay Tenten setelah gue menceritakan seluruh kejadian selama 2 hari kemarin.

"Duh pantesan muka lo kusut banget, gue kira lagi banyak kerjaan makanya gue ga berani ngerecokin."

"Thanks for caring me eh."

"Selalu kan? Tapi sumpah ya lo beruntung banget direbutin dua Uchiha hot itu. Kalo gue sih, yah udah pasti gue embat dua-duanya."

"Astaga, lo kan udah punya Neji. Direbutin? Menurut lo gitu?"

"Punya 3 juga gapapa kok." Tenten tersenyum centil lalu melanjutkan, "Yaiyalah, emang apa lagi namanya kalo bukan direbutin? Pak Sasuke aja sampe kayanya uhh posesif gitu" Tenten menggoda dengan nada erotis yang enggak banget.

Kita berdua ngobrol, tertawa dan bergurau. Gue berhasil berhenti memikirkan Sasuke walau sebentar. Berhasil melupakannya sampai…

Krieet

Kursi dibelakang gue berderit. Perasaan gue tidak enak. Gue mendengar suara baritone yang tadi sore berinsiden menyebabkan kerusuhan dihati gue sampai sekarang.

"Kenapa harus disini sih? Aku tidak suka manis-manis."

Tunggu-tunggu. Ini suaranya…

"Sekali-kali tidak apa kan?" Tenten melotot. Gue mengetikkan text pada iPhone.

'Itu Uchiha?' Tenten merebut iPhone dari gue lalu mengangguk cepat, dia mengetikkan sesuatu dan mengembalikannya pada gue.

'Lo diem dulu. Sasuke persis ada di belakang lo, duduk hadap-hadapan sama Itachi. Yang Itachi lihat gue, dia ga mungkin kenal gue.'

Gue keringetan. Ini kebetulan yang kebetulan, karena rambut pink gue, gue gelung keatas dan saat ini gue memakai topi kupluk quicksilver dengan atasan moto crop sleeveless shirt-nya Topshop. Mereka tidak mungkin mengenali gue.

"Sudah cepat katakan, aku tidak punya banyak waktu." Suara…pak Sasuke…

"Aku tidak akan menyerahkan Sakura padamu." Tenten batuk. Sial.

"Heh, kau kira semudah itu? kalau kau kesini hanya untuk mengatakan hal itu, maka jawabanku tetap sama. ITU HANYA DALAM MIMPIMU. Aku pergi."

Gue mengetik.

'Dua-duanya udah pergi?' Tenten merebut dan mengetik. 'Itachi belom. Mukanya sedih.' Dia memberikannya pada gue kemudian, 'kita tunggu dia sampe cabut.'

Tenten dan gue dalam posisi tegang selama sekitar 20 menit. Gue berusaha menghabiskan es krim dan terus-terusan merapikan topi kupluk gue, menjaga kalau-kalau ada helaian merah muda yang jatuh. Tenten memainkan game di iPadnya. Yang lebih tepatnya, gue lah yang tegang sendiri karena bagaimanapun Itachi tidak kenal Tenten.

Tenten lalu mendongak dari iPadnya, menatap gue lalu mengarahkan bola matanya kearah luar café es krim. Itachi sudah keluar rupanya.

Gue menghela napas lega, rasanya seluruh tubuh gue benar-benar lemas.

"Gila, mereka bener-bener ngerebutin lo, nona Haruno!" Tenten berbinar-binar, benar-benar ga cocok dengan sikon.

"Ada apa sih? Gue salah apa.."

"Gue ga merasa lo segitu cantiknya untuk direbutin Uchiha bersaudara kok."

"Iya-iya. Dunia sempit banget."

"Basiiii." Tenten tertawa, "Ayo pulang. Udah jangan dipikirin."

"Ya, kita lihat aja nanti."

Ya, kita lihat aja nanti.. Apa maksudnya

.

.

.

"Elegance is the only beauty that never fades."— Audrey Hepburn

Pagi ini sepertinya panda eyes menghiasi wajah gue. Gue hanya memikirkan skenario terburuk kalau saja duo Uchiha itu mengenali gue kemarin.

Harus gue akui keduanya sangat tampan, tapi tetap saja yang gue pikirkan hanya Sasuke.

Sasuke.

Uh-oh gue benar-benar pusing sekarang. gue masih berada di dalam bilik toilet lantai 2, rasanya belum siap menghadapi hari ini.

Hari ini hari Rabu.

Ah, pembinaan. Rasanya gue ingin mundur saja dari olimpiade. Mana bisa konsentrasi kalau belajar hanya berdua dengan dia? Lagipula, kemarin dia juga sudah sadar dengan pemahaman materi yang sudah gue kuasai. Sebenarnya, gue bukan anak ajaib yang bisa dengan sendirinya. Selama elementary school gue sangat menggemari matematika dan terus belajar, bahkan sampai materi untuk jenjang yang lebih tinggi. Saat itu gue masih terus mempelajari sampai gue duduk di bangku 2nd grade di junior high school, sampai waktu itu Kaa-san membawakan beberapa outfit cute saat baru pulang dari NY. Waktu itu, gue hanya tertarik bagaimana outfit-outfit itu tidak seperti pakaian gue yang kebanyakan hanya kaos dan rok. gue mulai menggambar, mendesign dan menjahit sendiri pakaian gue, lalu gue bertemu Kushina yang berumur 19 tahun di toko buku dan kami berkenalan karena gue menolongnya bangun dari jatuhnya lantaran terpeleset kertas bon di lantai. Gue masih mencari panduan menggambar design sedangkan dia berdiri di rak yang sama, namun mencari referensi material pakaian.

Gue ingat bagaimana dulu gue masih mengenakan kacamata minus berbingkai hitam yang sekarang telah gue ganti dengan softlens tanpa warna. yeah tentu saja gue tidak mau menutupi keindahan iris hijau indah dimata gue dengan warna-warna norak khas softlens kebanyakan. sedangkan Kushina yang dulu selalu mengenakan kaos dan jeans, sekarang menjadi sangat stylish dan hampir tidak dapat diprediksikan outfit ready to wear-nya karena hampir selalu salinan dari fresh highlight runaway. Yah wajar mengingat dia memang mahasiswa jurusan tata busana di Universitas Konoha.

Eh? Universitas Konoha? Astaga gue baru ingat Sasuke kuliah disitu juga! Bakal gue tanyain ke Kushina.

Entah sudah berapa lama gue mengurung diri disini, kebiasaan sejak junior high school yang sulit sekali diubah.

07.30

Setengah jam lagi sudah masuk jam pertama, apa gue bolos aja ya?

Euh mau dibilang apa anak olimpiade membolos. Tiba-tiba kepala gue sangat pusing. Gue terus memaksakan berjalan.

Sedikit lagi sampai.

Oh-oh tidak, itu Sasuke. gue ga ingin dia melihat gue dalam keadaan gini, terlalu plain dan pucat.

Tidak, jangan sekarang.

Sama-samar gue mendengar suaranya. Kau bilang apa, Sasuke?

Ah.

Gelap.

つづく

[a/n : wah saya deg-degan beneran pas ngetik adegan dua Uchiha di café. Yah sebenarnya, ini kisah nyata yang diedit-edit dikit sehingga menjadi fiksi. Semoga feel-nya dapet, daan mohon maaf untuk typo yang berseliweran. Saya mo ngecek lagi tapi pusing baca tulisan sendiri -_- anyway, ada yang suka dengan sistar19? Saat ini saya sedang jauuuuh sekali dari Jakarta, dan ditempat saya sekarang sering sekali di putar lagunya. Dimana-mana, di mall, di kafe malahan di tempat saya biasa mencuci pakaian dengan mesin cuci koin juga selalu memutar lagunya. Judulnya gone not around any longer. Pas saya lihat video nya, kereeeen! Saya jadi dance dan meniru-niru gerakan seksi mereka. Wih keren banget pokoknya eh maaf jadi cerewet #plak akhir kata… review? ;) ]

Mako-chan : iya-iyaaa ahahaha

Haru-kun uchiha : ah kalau kamu males baca brand-brandnya diabaikan aja ya. Udah kok ini udah mulai masuk konflik sasusaku itasakunya ;))

Karimahbgz : bukaaan, itachi yang punya hubungan sama hinata. ah gimana yaaa aku jadi takut sendiri nih, soalnya ide di kepalaku complicated banget, tapi takutnya malah jadi bingungin :/ hmm engga kok engga, di cerita ini Shika iq nya ngga ku buat 200. Dia cukup 160 aja, sakura yang 200 hahaha *evilaugh*

Hanazono yuri : okeeey, aku banyak free time sih bulan-bulan ini. Jadi mungkin bakalan update kilat terus. Nah tapi karna kilat jadi words nya cukup 1500k aja ya? ;)

Kimikicci nan : gyaaaa di cium XD iya sebisa saya updatenya cepet kok. Adoh syukur banget ya kalo terhibur XD makasih banyak loh mau baca fic ini ~serrr senangnya dalam hatii XD

Rakaita shika : wa-waduh senpai? Saya newbieeee, iya ini udah update ;)

Riz : a-apa? Se-senpai lagi? Adoww bukan-bukan, saya newbie. Ini udah update ya ;)