Hey I'm baaaaack ( ̄▽ ̄)/
For all who have read and review, fave, and/or follow, thank you very much! My gratitude is always with you guys! :"D
So... Please enjoy.
Warning: Beware of Alfred's sexiness. Ohhh...
Disclaimers: I do not own Hetalia (つД`)ノ
Chapter 2: Not-So-Mature Roommate
Arthur mengekor di belakang Alfred sementara pemuda itu menunjukkan asrama mereka. Asrama Dublin Academy benar-benar luar biasa: kuno, megah, dan misterius, sesuatu yang kau harapkan dari sebuah institusi paling kuno dan terkenal di seluruh dunia. Sulit mengungkapkan keindahannya dengan kata-kata, apalagi bagi Arthur yang seumur hidupnya hanya mendekam di laboratorium dan ruang bawah tanah Gereja.
"Kamar kita ada di lantai dua," Alfred menerangkan, sementara mereka menaiki tangga yang dilapisi karpet mewah berwarna merah. "Pokoknya, kalau kau tersesat, ingat-ingatlah, kamarnya di samping lukisan cewek memegang kendi ini..." mereka melewati lukisan superbesar seorang wanita muda cantik yang mengangkat kendi berisi air dengan ekspresi sedih. Arthur menatap wajah wanita dalam lukisan itu sekilas, dan entah mengapa merasa ia mengenalnya.
Alfred memerhatikan wajah Arthur yang tertegun. "Ya, aku tahu," gumam Alfred, yang turut memperhatikan lukisan wanita cantik itu bersama Arthur.
Arthur meliriknya, bertanya-tanya. Alfred mengangkat bahu, "Well, bukankah dia agak menyeramkan?" Ia berbisik, "Aku bersumpah pernah melihatnya mengedip padaku di suatu malam! Hiiiy!" Ia merinding.
Arthur memutar bola matanya. "Kau takut pada lukisan? Luar biasa," sindirnya.
Alfred langsung memutar tubuhnya, tergagap, "Si... Siapa yang takut! Ha-ha, seorang pahlawan tidak takut apapun! Terlebih pada se-sebuah gambar wanita yang menyeringai se-seolah ingin memakanmu, oh, sa-sama sekali tidak!"
Arthur hanya mengangkat kedua alisnya, tidak percaya. Pemuda yang mendeklarasikan dirinya sendiri sebagai seorang pahlawan tersebut lantas menyibukkan diri dengan merogoh-rogoh tasnya, mencari sesuatu. Beberapa saat kemudian, ia mengeluarkan sebuah kunci perak.
"Nah, ini dia," Alfred bergumam selagi memasukkan kunci ke pintu. "Ini kamarkuーmaksudku, kamar kita. Kau boleh menyimpan kunci yang ini," ia memberikan kunci itu pada Arthur, yang menerimanya tanpa banyak bertanya. Setelahnya, Arthur mengikuti vampir berambut pirang keemasan tersebut memasuki kamar.
Kamar itu cukup luas, dengan dua meja belajar dan dua rak buku setinggi satu setengah meter di masing-masing sisinya. Dindingnya tersusun atas bata yang dicat krem lembut, dua buah jendela setinggi dua meter berada di masing-masing sudut kamar. Lantainya ditutupi oleh karpet tebal berwarna merah, yang sewarna dengan kelambu dan taplak meja. Sebuah kamar mandi terlihat di samping kamar, yang berhubungan dengan kamar ganti. Dua buah tempat tidur berukuran besar mendominasi ruangan tersebut, dan salah satunya terlihat amat berantakan.
"Itu kasurku," Alfred menegaskan, mengikuti pandangan skeptikal Arthur. "Kasurmu yang di sana. Kau oke dengan itu?" tanyanya.
Arthur mengangkat bahu, tak berminat untuk berdebat. Mendapatkan tempat tidur saja sudah cukup bagus baginya. Ia berjalan dengan lunglai menuju tempat tidurnya, lalu melemparkan tasnya ke kaki tempat tidur barunya. Alfred tetap terdiam di tempatnya di dekat pintu, menyandarkan punggungnya pada dinding bata yang dingin sementara matanya yang biru meneliti pemuda berambut pirang jerami yang tiduran di kasur barunya.
"Jadi... Kau manusia," Alfred menyatakan, bukan menanyakan. Segala jenis kehangatan dan humor seketika lenyap dari wajahnya. Arthur hanya meliriknya, tak mengiyakan maupun mengelak.
Alfred menatapnya lekat-lekat, seakan menunggunya berbicara. Detik-detik berlalu dengan lamban.
"Hei, kenapa kau diam saja? Bicaralah!" pemuda bermata biru langit itu akhirnya berseru sambil bersungut-sungut.
Arthur menghembuskan napas, merasa lelah. "Iya. Lalu?"
Alfred menggembungkan pipinya, jengkel. "Asal kau tahu, Arthur Kirkland, bahwa kau baru saja masuk ke akademi khusus vampir. Nah, selamat datang, semoga esok darahmu masih mengalir sederas arogansimu!" Ia merentangkan kedua tangannya dengan gaya mencemooh.
Arthur melipat kedua tangannya di belakang kepala, tampak tak tertegun mendengar ucapan Alfred yang cukup kasar.
"Ini bukan mauku," si pemuda bermata hijau itu akhirnya berbisik. "Ini takdirku."
Alfred mengeluarkan suara seperti 'tch' sambil memalingkan wajah. Arthur mengalihkan tatapannya ke pemuda tersebut dengan penasaran dan mendapati pemuda berambut pirang keemasan tersebut sedang melipat tangannya di depan dada, seolah sedang berdebat dengan dirinya sendiri, sementara tatapannya menerawang jauh. Arthur dapat menduga bahwa Alfred tidak mengerti... dan jelas tidak senang.
Ia berdeham. Tatapan Alfred kembali padanya.
"Kau akan mengetahui semuanya besok, Alfred. Ayahmu akan menjelaskannya padamu," Arthur bergumam, dengan sengaja menghindari tatapan pemuda di seberangnya itu.
Hening lama. Suara angin yang memukul-mukul dinding kastil terdengar nyaring di antara keheningan yang terentang di antara mereka, membawa pikiran Arthur kembali ke masa kanak-kanaknya, ketika seluruh kegilaan ini belum menyeretnya ke kegelapan.
Angleton, negeri kecil yang terdiri dari pulau-pulau, memiliki iklim yang tak bisa dibilang sangat ramah. Hujan dan mendung bukanlah hal yang tak lazim bagi Angletarian. Arthur ingat bagaimana rasanya terkurung dalam kamarnya yang gelap selama berjam-jam karena badai, merasa sangat bosan meskipun teman-teman peri dan flying mint bunny menemaninya dan menyanyikan lagu-lagu kuno untuknya.
Salah satu favoritnya, tentu saja, adalah Scarborough Fair, yang seringkali dinyanyikan oleh peri-peri kebun untuk menghiburnya.
"Arthur, Arthur, dengarkan nyanyian kami!" Mereka memekik dengan suara mereka yang halus dan tinggi, terbang kesana kemari dengan riang untuk menarik perhatian si Arthur kecil.
"Ini adalah balada yang sangat populer," peri bersayap merah berkata,
"...di kalangan kaum kami," peri bersayap hijau berkata,
"...tentang sesosok peri yang mencintai," sambung peri bersayap merah,
"...seorang gadis manusia," peri bersayap hijau cekikikan.
Dan mereka pun bersenandung, dengan suara mereka yang gaib, menghipnotis anak kecil tersebut...
Apakah kau akan pergi ke Scarborough Fair?
Parsley, sage, rosemary, dan thyme!
Ingatkah padaku, seseorang yang pernah hidup di sini?
Dahulu kala, ia pernah menjadi cinta sejatikuー
Bunyi derit tempat tidur membawanya ke masa kini. Alfred, teman sekamarnya, membaringkan tubuhnya di atas kasurnya juga. Arthur menghela napas, lalu membiarkan matanya kembali terfokus pada guratan-guratan di langit-langit.
"Hei," panggil Alfred, yang kini juga menatap langit-langit. Arthur meliriknya.
"Apakah kau tidak takut?" tanya vampir itu dengan suara pelan. "Salah satu dari siswa di sini bisa saja... kau tahu, menyerangmu... suatu saat nanti..."
Arthur mengeluarkan suara tawa tertahan.
Alfred menatapnya, menyandarkan kepalanya pada sikunya. "Apa maksudnya itu? Kenapa kau tertawa?"
Arthur mengusap matanya dengan lelah, merasa bahwa tak ada gunanya bermain sarkasme pada vampir satu iniーia kelihatan terlalu polosーatau terlalu bodoh, Arthur tidak begitu yakinーhingga Arthur harus setengah mati menahan diri untuk tidak memutar bola mata akibat kenaifannya.
"Yah, aku... hanya tak yakin apa yang harus kutakutkan," jawab Arthur akhirnya.
Alfred menatapnya tersinggung. "Apa kau baru saja bilang bahwa vampir sama sekali tak menakutkan?"
Arthur menghela napas dengan lelah. "Bukan, bukan... Aku hanya... tak memiliki apapun, jadi rasanya... Kalaupun aku mati, aku tak akan kehilangan apapun."
Kali ini Alfred memelototinya dengan jengkel. "Bicara apa sih? Kau berlagak seolah-olah nyawamu sama sekali tak berharga, tahu!"
Arthur tersenyum kecil. "Aku tahu."
Tiba-tiba vampir bermata biru itu menghampirinya. "Bagaimana denganku?" tuntutnya.
Arthur hanya menatapnya.
"Maksudku, apakah kau takut denganku?" Alfred menghampirinya sambil menyeringai, memperlihatkan sedikit taringnya. "Kami para vampir memiliki kelebihan dibandingkan manusia," ia menjelaskan, mata birunya berkilat berbahaya di balik kacamatanya. "Karena itulah, kami predator manusia," Ia berkata dengan seringai yang sama sekali tak ramah, menatap Arthur yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya dengan penuh hasrat.
Arthur tetap bergeming, meskipun ia dapat merasakan jantungnya berdegup lebih kencang, seolah-olah belum mau menyerah pada kematian. Ia hanya memperhatikan, menjaga agar ekspresinya tetap datar, ketika Alfred duduk di tepi tempat tidurnya, lalu mencondongkan badannya ke arah Arthur.
Rasa panik seketika menyerangnya, bagai berjuta kupu-kupu yang hendak melepaskan diri dari rongga dadanya.
Arthur menghela napas, berusaha menenangkan diri. Tidak, ia telah lama bersiap untuk hal ini, dan ia tak bisa menyerah sekarangーatau seluruh siksaan yang telah dialaminya akan sia-sia.
Wajah mereka berdua kini dekat sekaliーArthur bahkan bisa merasakan denyut jantung Alfred dan mencium bau samponya. Ia bisa melihat tahi lalat kecil di pangkal leher pemuda tersebut, bintik-bintik halus di atas hidungnya, membaca merek kacamatanya, dan melihat cairan tipis yang membasahi bibir pemuda tersebut, yang tampak merah, merekah...
Seketika wajah Arthur memerah. Apa sih yang dipikirkannya?
Konsentrasinya seketika buyar ketika ia merasakan kedua tangan kokoh pemuda itu di samping kepalanya, memenjarakannya.
Ya Tuhan, terkutuklah para vampir, gerutu Arthur, menatap leher Alfred yang jenjang dengan tidak nyaman. Terkutuklah mereka karena mereka sangat menarik! B-bukannya aku menganggap Alfred menarik, tentu! Ia buru-buru mengoreksi pikirannya sendiri.
Alfred memindahkan tangan kanannya dan meletakkannya dengan lembut di pinggang Arthur, mengelusnya. Errrr... Apa tadi yang dipikirkannya? Ia sudah tak begitu yakin lagiーtangan itu, wajah itu, bibir itu, leher itu, kehangatan tubuhnya itu, merupakan distraksi yang cukup kuat terhadap pikirannya.
ーtunggu. Apakah tangan kiri vampir tersebut baru saja melepas kancing kemejanya? Pemuda itu ingin memprotes, namun suaranya tertahan di tengah-tengah tenggorokannya ketika melihat vampir tersebut berusaha melepaskan dasi yang melingkari leher Arthur dengan gigi vampirnya. Dalam sekejap dasi hijau itu telah terlempar ke seberang ruangan.
Alfred memamerkan senyum predatornya sekilas sebelum menghirup kulit Arthur, tepat di pangkal leher, menyebabkan bulu kuduk pemuda tersebut berdiri.
"Lihat," pemuda itu berbisik menggoda, menjilat bibir bawahnya seraya mengawasi Arthur dengan matanya yang biru terang, "Kau hanyalah manusia biasa, Arthur Kirkland. Kau tak akan bisa mengalahkan kekuatan kami."
"Alfred," ia berbisik, beringsut tak nyaman di bawah pemuda itu sementara pemuda itu terus menikmati aroma kulitnya dengan hidungnya. Sang vampir tampak tidak mendengarnya, dan terus menciuminya, mengaguminya.
"Mmm... Tahukah kau bahwa aromamu luar biasa, Artie?" Dan seolah menekankan pernyataannya barusan, ia kembali menghirup pangkal leher Arthur. "Dan kulit yang seputih pualam ini. Ohhh... Butuh segenap kontrol, kau tahu, untuk tidak menyerangmu saat ini juga dan menikmati setiap saripatimu," ia berbisik lembut, "Coba bayangkan, bagaimana kalau suatu ketika aku lepas kontrol dan melakukan ini...?" ia menyurukkan kepalanya, menempelkan bibirnya ke leher Arthur, lalu menjilat kulit yang terbuka tersebut dengan ujung lidahnya.
Arthur merasa tangan dan kakinya seketika berubah menjadi agar-agar. Mengumpulkan kekuatannya, akhirnya ia merasa cukup kuat untuk berbisik, "Kau boleh melakukan apapun padaku, Alfred, tetapi dengarkan aku dulu."
Seketika Alfred menatapnya, terkejut.
Arthur berusaha mengeluarkan tawa kecil, meskipun suaranya pecah. "Aku bersungguh-sungguh. Kau boleh melakukan apapun padaku. Sejak awal, aku memang dipersiapkan untuk menjadi partnermu. Tentu kau tahu apa artinya itu?"
Arthur menatap Alfred, hijau emerald yang bertemu biru langit, kekosongan dan kebosanan yang bertemu kehidupan dan keterkejutan. Dengan hati-hati, nyaris lembut, Arthur meraih telapak tangan vampir muda itu dan menggenggamnya, meletakkannya di atas dadanya, tempat jantungnya sendiri berdebar.
"Ya Alfred, jantung ini akan menjadi milikmu. Darah yang dipompanya adalah milikmu. Tubuh ini adalah milikmu. Aku akan menjadi satu-satunya mangsamu. Aku milikmu," Arthur menjelaskan dengan suara datar, namun seketika ekspresinya menjadi sangat serius. "Tetapi kuingatkan kau akan satu hal, Alfred, dan camkan ini baik-baik: ketahuilah konsekuensinya ketika kau menghisap darahkuーkau dan aku akan terikat dengan cara yang tak dapat kau bayangkan. Kau boleh memakanku kapan pun kau mau, dengan cara bagaimana pun, tetapi persiapkan apa yang terjadi selanjutnya. Camkan ini, Alfred, aku telah memperingatkanmu."
Seketika wajah Alfred berubah.
"A-aku hanya bermaksud menakut-nakutimu, bukan benar-benar memangsamu, tahu!" ia bangkit dari tempat tidur Arthur, kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya dan matanya berkilat. "Dan aku tak mau membunuh siapapun!"
Dengan kalimat itu, ia berlari keluar dari kamar, membanting pintu keras-keras pada prosesnya.
Tinggallah Arthur sendiri dalam keheningan.
"Tch, ia lebih kekanak-kanakan daripada yang kukira," ia bergumam sendiri. Hanya Tuhan yang tahu mengapa ia harus berpasangan dengan Alfred.
Menghembuskan napas berat, Arthur kembali melipat tangannya di bawah kepala dan menatap rintik-rintik air yang terhempas di kaca jendela.
.
.
.
To be continued.
(A/N)
1. Sudahkah kalian mendengarkan balada Inggris Kuno Scarborough Fair? Jika belum, silakan dengarkan! Liriknya sangat mistis dan misterius, dan entah kenapa sangat Arthur, LOL. Versi yang saya dengarkan adalah yang dinyanyikan Simon dan Garfunkel. Banyak versi lain yang tak kalah ajaib(?)nya.
2. Terima kasih sudah membaca! Jika tidak merepotkan, saya juga meminta pendapat kalian mengenai fic ini (baik gaya penulisan, tata bahasa, plot, dsb). Karena saya masih belajar, saran dan komentar kalian sangat dibutuhkan! o(^_-)O
よろしくお願いします!
