-LIKE A STAR- ep.2
written by : babyLU

pernah di post di fp Exo Fanfiction ^^

oKai just enjoy this one ^^

Andai aku bisa kembali ke waktu dimana kita masih bersama.

Aku berjanji tak akan menyakitimu.

Aku berjanji tak akan pernah meninggalkanmu.

Dan aku berjanji, kelak aku tidak akan malu lagi untuk memberi tahu pada dunia bahwa kau kekasihku.

Orang yang selalu menganggapku bintang paling bersinar, Park Chanyeol . . .

.

Sreeek . . sreeek . .sreeek

Kusibak beberapa helai daun, membuat sedikit lubang kecil disana agar aku bisa melihat lebih jelas target incaranku.

Bisa kalian bayangkan seorang Byun Baekhyun tengah berjongkok di balik semak-semak hanya untuk memantau namja bodoh seperti Park Chanyeol?

Sungguh tidak etis. . .

Tapi pada kenyataannya hal tidak etis inilah yang sedang kulakukan.

Dari tempat persembunyianku tampak jelas sosok Chanyeol dan Aram yang tengah makan siang berdua di taman belakang sekolah.

Cih, kekasih macam apa yang lebih memilih makan bersama orang lain daripada kekasihnya sendiri.

Eits! Ku harap kalian tidak salah paham, saat ini aku tidak sedang cemburu.

Aku tekankan sekali lagi bahwa saat ini aku sedang TIDAK CEMBURU!

Hanya saja aku merasa sedikit di permainkan, bukannya kemarin dia yang memintaku untuk jadi kekasihnya tapi sekarang kenapa aku yang di abaikan?

Seharusnya dia bersyukur aku mau jadi kekasihnya, kalau perlu buat syukuran tiga hari tiga malam.

"siaaaaal~ . . ." gumamku pelan

Eh? Tunggu dulu.

Kenapa aku seperti mendengar suara lain saat mengucapkan kata itu?

Bukankah aku hanya sendiri disini?

Tidak mungkin kan pikiranku juga ikut bersuara.

"aku tidak suka jika melihat Aram berduaan bersama Chanyeol sunbae"

Eh?

Segera aku menoleh ke arah suara asing yang ternyata berasal dari belakangku.

Seorang namja mungil dengan tampang yang begitu polos tengah berjongkok di belakangku.

"YAA! Apa yang kau lakukan disini?" spontan aku berteriak karena terlalu kaget akan kemunculannya yang begitu tiba-tiba.

Entah kenapa saat melihat namja ini aku langsung teringat pada tokoh kartun, seekor anjing berwarna putih yang bernama mont? Monz? Mona atau siapalah namanya, tidak begitu penting :p

Dia meletakkan jari telunjuk kanannya tepat diatas bibirku.

"sunbae jangan berisik, nanti mereka bisa menyadari keberadaan kita"

Segera kutepis kasar jari telunjukknya kemudian mengusap-usap dengan tisu yang selalu kubawa di kantong celana. Berani sekali dia menyentuh bibir kissable-ku.

"kau ingin membuatku mati jantungan? Tiba-tiba ada di belakangku" bisikku pelan dengan sedikit tekanan agar bocah ini sadar jika aku agak emosi.

"aku hanya penasaran, apa yang sedang dilihat baekhyun sunbae disini. Ternyata kau sedang mengintip Aram"

Bocah itu sedikit mengerucutkan bibirnya membuatku ingin segera menjitak kepalanya.

Di sekolah ini hanya aku yang boleh melakukan 'aegyo'

"aku tidak sedang mengintip Aram tapi . . ."

Bodoh, mana mungkin aku bilang jika aku sedang mengintip Chanyeol.

"lalu?"

"bukan urusanmu, pergi sana!"

Bocah itu menggelengkan kepalanya tanda jika dia tak mau menuruti perkataanku.

Oke baekhyun, anggap saja dia tidak ada.

Aku kembali melancarkan aksiku yang tadi sempat terhenti.

Tapi kemana mereka berdua?

Bukannya tadi masih ada dibawah pohon itu?

Aish, gara-gara bocah ini aku jadi kehilangan jejak.

"mencariku eoh?"

Sebuah suara berat yang amat sangat kukenal sontak membuatku membeku di tempat.

"eh? annyeong Chanyeol hyung. Annyeong Aram" ujar bocah di belakangku

Mati kau Byun Baekhyun.

Aku tetap berjongkok di posisi semula, tak berani sedikitpun bergeser apalagi menoleh kebelakang.

Alasan apa yang harus kuberikan pada chanyeol agar aku tidak malu.

Berpikir. Berpikir. Berpikir.

"hmm kyungsoo, sebaiknya kita pergi dari sini"

Aram meraih tangan bocah yang ternyata bernama kyungsoo itu.

Kurang ajar dia meninggalkanku begitu saja tanpa membantuku mencari alasan, padahal dia juga terlibat.

"berdirilah, aku tak akan marah karena kau intip"

Chanyeol meraih kedua bahuku, membimbingku untuk berdiri.

"jangan terlalu percaya diri, aku . . . aku sedang meneliti daun ini untuk pelajaran sains"

Kupetik beberapa helai daun dari semak-semak lalu pura-pura mengamatinya.

"huh, liar!"

Dasar! dia mengatai aku pembohong. Aku benar-benar sedang meneliti dedaunan kok, meski ini hanya alibi.

"byunnie sayang kalau kau rindu padaku, bilang saja! Tidak perlu mengamatiku dari jauh"

Chanyeol mencolek daguku dengan jari-jarinya yang sukses membuat merasa malu.

Seharusnya aku marah sekarang!

Tapi apa, aku hanya bisa menunduk malu.

"ayo kita kembali ke kelas"

Chanyeol meraih tangan kananku namun segera kutepis.

"aku bisa berjalan sendiri"

Aku berlalu meninggalkannya, kudengar derap langkah kakinya yang mengikutiku.

Namun lama kelamaan derap kakinya terdengar samar di telingaku.

Lambat sekali jalannya. Mungkin jika ada olimpiade lari khusus untuk kura-kura, aku akan mendaftarkannya.

Chanyeol berhenti berjalan, bersandar pada dinding lorong sambil memegangi dadanya.

Dia memejamkan kedua matanya seperti menahan sakit.

Deru nafasnya yang tak beraturan terdengar sampai di tempatku berdiri, apalagi wajah pucatnya itu makin menambah kesan menyedihkan atas kondisinya sekarang.

"kau kenapa?" tanyaku

Chanyeol tersenyum lembut seraya menggeleng pelan, berusaha meyakinkanku jika dia baik-baik saja.

"kau tidak sedang baik-baik saja. Ayo kita ke ruang kesehatan"

"a . . aku hanya perlu min . .minum obatku"

Dengan tangan gemetar dia merogoh saku celananya.

Lagi-lagi dia mengeluarkan botol kecil berisi kapsul berwarna merah yang juga diminumnya tempo hari di perpustakaan.

Aku membantunya membuka botol kecil itu, bahkan tangan besarnya itu terlihat sangat lemah untuk membuka tutup sebuah botol kecil.

Mengambil isinya lalu memberikannya pada chanyeol.

Tanpa menunggu apapun dia langsung saja memasukkan kapsul itu dan menelannya.

"tunggu akan kucarikan air" aku bergegas menuju kantin namun Chanyeol menahanku.

"aku sudah terbiasa tanpa air jika dalam kondisi darurat seperti ini"

Chanyeol tersenyum lembut kemudian menggerakkan tangan kanannya yang masih terlihat rapuh di pucuk kepalaku. Mengusapnya pelan.

Apa yang sebenarnya terjadi padamu?

.

"kyungsoo-ah, tadi apa yang sedang kau lakukan bersama baekhyun oppa?" tanya Aram setelah mereka berdua sudah berada cukup jauh dari chanyeol dan baekhyun.

"aku hanya ingin tau, apa yang sedang kau lakukan bersama chanyeol hyung" jujur kyungsoo membuat gadis cantik itu terkekeh geli.

Namja yang satu ini memang tidak bisa berbohong.

Meski terkadang banyak orang yang menganggapnya bodoh karena terlalu polos, tapi bagi Aram justru kepolosan kyungsoo itulah yang menjadi daya tarik.

"kami hanya makan siang bersama kok"

"aku tidak suka saat melihatmu berduaan dengan chanyeol hyung"

Aram menghentikan langkah kaki mungilnya kemudian menatap kedalam manik mata kyungsoo.

"kenapa?"

"entahlah, aku hanya merasa tidak suka saja"

Aram tersenyum kecut mendengar jawaban kyungsoo. Bukan sekedar jawaban 'entahlah' seperti ini yang ingin dia dengar.

"aku dan chanyeol oppa hanya berteman, lagipula chanyeol oppa sudah punya orang yang disukai . . . mmm begitu pula aku"

Aram memainkkan jari-jari lentikknya pada unjung seragam sekolahnya, sekedar untuk mengalihkan perasaan gugup yang tiba-tiba menjalar dalam dirinya.

"kau sedang menyukai seseorang? Siapa? Apa aku mengenalnya?" berbagai pertanyaan kyungsoo luncurkan untuk Aram, sedangkan yang ditanya hanya tersenyum lembut.

"iya, kau sangaaaaaaaat mengenalnya . . ."

Kyungsoo terdiam sejenak, berfikir keras kira-kira siapa orang yang Aram maksud.

Sedetik kemudian dia hanya menghela nafas panjang, seakan menyerah untuk terus berfikir.

"siapapun dia, yang jelas aku tak akan pernah suka jika dia berdekatan denganmu"

Aram langsung mengangkat mukanya yang sedari tadi tertunduk, menatap kyungsoo dengan mata berbinar.

Jika dia hidup di dunia komik mungkin akan ada efek bintang-bintang di kedua matanya.

"kenapa kau tidak suka?" tanya Aram antusias

"aku tidak tau"

Refleks Aram menghentakkan kaki kanannya kesal, jujur saja saat ini dia benar-benar kesal pada namja polos ini.

Kyungsoo selalu bilang tidak suka jika Aram berdekatan dengan namja manapun, bahkan pernah suatu kali kyungsoo dengan terang-terangan melarang Aram pergi kencan dengan seorang sunbae yang menurutnya bukan orang baik.

Seharusnya ada alasan logis untuk sikapnya ini, tidak hanya sekedar 'entahlah' atau 'aku tidak tau'.

Mungkinkah kalau selama ini Aram hanya terlalu percaya diri dengan berfikir bahwa kyungsoo juga menyukainya?

"kenapa kau selalu bilang tidak tau. Tidak bisakah kau memahami perasaanmu sendiri? Kau selalu membuatku merasa terombang-ambing"

Aram merasakan kedua matanya memanas seperti ingin memuntahkan sesuatu.

Kyungsoo yang menyadari hal itu langsung panik.

"kau kenapa Aram? Kau sakit?"

kyungsoo meneliti setiap inci tubuh Aram kalau-kalau ada luka disana yang telah membuat Aram menangis.

Aram mendekap dadanya sendiri yang begitu sesak.

Jauh didalam sini yang terasa sakit, dan tentu saja kau tak bisa melihatnya karena hanya Aram yang bisa merasakan sakitnya.

"sudahlah aku tidak apa-apa"

Aram menghapus bulir-bulir air yang tadi sempat melintasi kedua pipinya.

Kyungsoo yang tidak menyadari apa-apa hanya tersenyum lembut melihat Aram sudah berhenti menangis.

"hai Aram . . ."

Sesosok namja tampan dengan kulit kecoklatan tiba-tiba muncul diantara mereka berdua.

Kyungsoo yang menyadari kehadiran namja itu langsung menatap tajam kearahnya seraya menarik Aram merapat padanya.

"jongin oppa" sahut Aram

Namja tampan yang dipanggil Jongin tersenyum lembut pada Aram, kemudian beralih melirik sinis kearah kyungsoo.

"aku ingin mengajakmu makan siang di kantin"

Jongin meraih tangan Aram hendak mengajaknya pergi, namun yang ditarik hanya diam tak bergeming.

"mianhae oppa, tapi aku baru saja selesai makan siang" tolak Aram halus

"kalau begitu temani aku"

Jongin tetap bersikeras meminta Aram untuk menemaninya makan siang.

Aram melirik kearah Kyungsoo, meminta sedikit pertolongan pada namja itu agar membantunya untuk menolak ajakan jongin.

"tidak masalah kalau kau mau menemani jongin sunbae, aku bisa kembali ke kelas sendiri"

Kyungsoo bodoh!

Aram benar-benar merutuki jawaban yang baru saja keluar dari mulut kyungsoo.

"ta . .tadi kau bilang ingin mengajakku ke perpustakaan?"

Aram mengedipkan sebelah matanya berharap kali ini kyungsoo menyadari maksud hatinya.

Dia hanya merasa tidak enak jika terang-terangan menolak ajakan kakak kelasnya itu.

"kapan?" tanya kyungsoo dengan polosnya.

Baiklah! Sepertinya Aram harus menarik kembali ucapannya yang tadi mengatakan jika kepolosan kyungsoo adalah daya tarik.

"baiklah jongin oppa, aku menerima ajakannmu"

Aram yang sudah merasa kesal langsung mengapit lengan jongin dan meninggalkan kyungsoo.

Jongin melambaikan tangannya kearah kyungsoo disertai seringaian mengejek dari bibirnya.

"tunggu . . .!"

Aram yang merasakan tarikan pada tangannya langsung berhenti dan menoleh kesal.

"apa lagi kyungsoo-ah?"

"aku . . aku . . mmm tidak jadi"

Perlahan kyungsoo melepas tautan tangannnya yang tadi sempat menahan Aram.

"kau kembali saja ke kelas. Jangan ganggu kami"

Jongin membalik tubuh Aram dan merangkul pundaknya. Menuntun tubuh mungil Aram menjauhi kyungsoo.

Aram memandang sendu pada kyungsoo.

Kenapa selalu begini? Kau tidak pernah bisa mempertahankan apa yang kau inginkan.

.
.

"annyeong, ada yang bisa kami bantu?"

Seorang apoteker yeoja menyapaku ramah begitu aku memasuki sebuah klinik kesehatan kecil di dekat sekolah.

"aku mencari obat yang seperti ini"

Kurogoh saku bajuku dan mengeluarkan sebutir kapsul berwarna merah.

Jika kalian bertanya darimana aku mendapat kapsul itu, tentu saja aku mencurinya dari chanyeol.

Tadi sewaktu membantunya meminum obat, aku mengambil dua butir.

Satu kuberikan padanya, sedangkan yang satu lagi kumasukkan dalam saku bajuku.

Mianhae chanyeol-ah, aku tidak bermaksud mencuri darimu.

Aku hanya sedikit penasaran, tidak sedikit tapi sangaaaaat penasaran.

Chenyeol selalu mengelak jika yang diminumnya hanyalah vitamin.

Memangnya ada vitamin yang menyebabkan ketergantungan?

Dia akan merasakan sakit pada dadanya jika sampai telat meminum obat ini.

Apoteker itu mengamati dengan seksama kapsul pemberianku, mengendus baunya kemudian terlihat berpikir keras.

Pyuuuh, untung saja kapsul itu tidak ikut di jilatnya.

"anda menderita lemah jantung?"

"MWOO! Lemah jantung?"

Apoteker itu malah terheran-heran saat melihat reaksi kagetku.

"iya, obat jenis ini hanya dikonsumsi oleh penderita lemah jantung" jelas apoteker itu

Park chanyeol ternyata menderita lemah jantung?

Bagaimana bisa?

"agassi bisa kau jelaskan padaku bagaimana tanda-tanda orang yang menderita penyakit ini?" pintaku

"hmm, biasanya orang yang menderita penyakit ini akan mudah berkeringat . . ."

"bodoh jangan menyentuhku dengan tanganmu yang basah!"

"maaf, aku memang mudah sekali berkeringat hehehe . . ."

"yakin itu bukan air liurmu?"

"aish byunnie, kau pikir aku masih bayi"

"wajahnya selalu pucat dan mereka tidak bisa melakukan aktivitas yang banyak menguras tenaga . . ."

"yeol oppa, apa kau lelah?"

"cih baru kusuruh membawakan tasku yang tidak seberapa berat saja sudah lelah"

"baekhyun oppa kau kejam sekali, kau kan bisa membawa tasmu sendiri"

"tapi aku ingin chanyeol yang membawakan tasku"

"tapi yeol oppa tidak seperti kita, dia . . ."

"sudahlah Aram, aku masih kuat membawa tas byunnie"

Jadi selama ini chanyeol menderita lemah jantung?

Kenapa dia tak pernah memberitahuku . . .

~~~ TO BE CONTINUED ~~~

NB: sepenggal percakapan diatas yang saia kasih efek bold dan italic itu maksudnya flashback yang dibayangkan baekhyun gitu gkgkgkg *geje

Thanks for reading *deep bow XD

RnR pleeeeaseee~ :D