[YAOI BaekYeol] -LIKE A STAR- ep.5
Written by : babyLU
Andai aku bisa kembali ke waktu dimana kita masih bersama.
Aku berjanji tak akan menyakitimu.
Aku berjanji tak akan pernah meninggalkanmu.
Dan aku berjanji, kelak aku tidak akan malu lagi untuk memberi tahu pada dunia bahwa kau kekasihku.
Orang yang selalu menganggapku bintang paling bersinar, Park Chanyeol . . .
.
.
.
Byun P.O.V
Hyolin menepati janjinya dengan membuat pernyataan jika artikel tentangku yang di muat di koran sekolah adalah palsu. Dia beralasan jika ternyata orang di foto itu bukanlah aku dan Chanyeol melainkan orang lain yang kebetulan agak mirip dengan kami berdua. Alasan klasik.
Dan sekarang sekolah ganti dihebohkan oleh foto ciumanku dengan Hyolin, semua orang mengira jika kami berpacaran dan tentu saja yeoja licik itu senang bukan main bisa di gosipkan denganku.
Yah mungkin sedikit lebih baik daripada harus di gosipkan berpacaran dengan si bodoh Chanyeol.
Ngomong-ngomong soal si bodoh, semenjak kejadian itu dia tidak masuk sekolah. Hari ini dia juga tidak masuk lagi. Apa penyakitnya kambuh?
Atau dia tidak masuk sekolah karena marah padaku?
Hey aku pahlawan disini. Seharusnya dia banyak-banyak berterima kasih karena aku telah menyelamatkan imagenya yang pada awalnya sudah buruk menjadi lebih buruk lagi.
Biarkan saja, dia pasti akan menyesal karena tidak masuk sekolah. Ini sudah 7 hari sejak kami berpacaran, berarti ini adalah hari terakhirnya.
Seharusnya dia memanfaatkan hari ini dengan baik. Bodoh.
Benar-benar bodoh, tidak akan ada lagi kesempatan bisa berpacaran dengan murid tampan-cerdas-cool-populer dan sekarang dia malah menghilang begitu saja.
"dia pasti akan menyesal . . ." gumamku
"siapa yang akan menyesal? Dari tadi kau menggerutu sendiri"
Aku menutup mulutku mendengar pertanyaan teman sebangkuku Jongin.
Memalukan, aku tanpa sadar menggerutu sendiri. Semoga tadi saat menggerutu aku tidak menyebut nama Chanyeol.
"kau mau kemana?" tanyaku saat melihat Jongin beranjak dari duduknya.
"tentu saja menemui gadisku"
Aram.
Aku menjentikkan jariku tanpa sadar. Betul sekali, Han Aram.
Dia kan sangat dekat dengan Chanyeol otomatis dia pasti tau alasan kenapa Chanyeol tidak masuk 2 hari ini. Aku akan bertanya padanya.
"kau kenapa tertawa sendiri?"
Lagi-lagi aku menutup mulutku yang tanpa sadar telah tertawa sendiri. Otakku jadi sedikit error semenjak sering berdekatan dengan si bodoh itu.
Besok aku harus meminta appa untuk mengantarkanku suntik vaksinasi.
"sudah, pergi sana" usirku.
Jongin mengendikkan bahunya dan berlalu keluar kelas.
Dan tanpa dia sadari aku diam-diam mengikutinya, hanya ingin tau dimana nantinya aku bisa menemukan Han Aram.
Taman belakang sekolah. Tentu saja itu kan tempat favoritnya jika sedang bersama Chanyeol.
Aku curiga jika mereka berdua sebenarnya memiliki hubungan lebih dari sekedar sahabat.
"apa yang sedang sunbae lakukan?"
Aku hampir saja melompat dari tempatku berjongkok saking kagetnya.
Sesosok figure namja dengan mata bulat besar memandang curiga padaku. Sial, mengagetkaku saja.
Ternyata si bodoh yang lain, adik kelasku Kyungsoo.
"kenapa aku selalu memergokimu sedang mengintip? Sunbae menyukai Aram?"
Aku membekap mulutnya yang berisik lantas menyeretnya untuk menjauh dari sini.
Kyungsoo menghirup udara sebanyak-banyaknya setelah bekapan tanganku dimulutnya terlepas, berlebihan sekali seakan tidak mengirup udara selama bertahun-tahun.
Aku menyeret Kyungsoo ke balik pohon yang sepi, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padanya.
"kau tau alasan kenapa si bodoh tidak masuk sekolah 2 hari ini?" tanyaku langsung karena aku tidak suka berbelit-belit. Waktuku terlalu berharga jika hanya digunakan untuk bersilat lidah.
Kyungsoo berfikir sejenak "si bodoh siapa?"
"siapa lagi kalau bukan P-A-R-K C-H-A-N-Y-E-O-L!"
Aku sengaja menjeda pengucapanku karena aku tau kemampuan otaknya dalam memproses informasi bisa dibilang agak lambat. Sama seperti Chanyeol.
"sunbae kan pacarnya, seharusnya kau yang lebih tau"
Aku menjitak kepalanya yang seenaknya berucap membuat yang bersangkutan meringis kesakitan.
"aku tidak tau, maka dari itu bertanya padamu bodoh. Mungkin saja kau tau"
Kyungsoo menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Sudah kuduga, tak ada yang bisa di harapkan dari bocah ini.
"aku minta tolong padamu, tanyakan pada Han Aram. Dia pasti tau"
Kyungsoo hanya menghela nafas. "tidak mungkin, Aram sedang marah padaku. Sudah 2 hari kami tidak bicara"
"kenapa?" tanyaku. Bukannya bermaksud mencampuri urusan mereka namun aku hanya sedikit penasaran saja.
"aram bertanya padaku –apa arti dirinya bagiku- dan ku jawab sahabat baikku. Entah kenapa dia malah berterima kasih karena aku telah memberikan kepastian, setelah itu dia menangis dan pergi begitu saja. 2 hari ini aku terus berfikir apa salahku sunbae?"
Lagi-lagi aku menjitak kepalanya. Ternyata bocah ini jauh lebih bodoh dari Chanyeol dan juga tidak peka.
"tentu saja Aram kecewa dengan jawabanmu!"
"memangnya apa yang salah dari jawabanku?"
Aku mendesah panjang, harus memiliki kesabaran ekstra saat menjelaskan suatu hal yang rumit pada orang bodoh.
"itu karena Aram mengharapkan suatu hubungan yang lebih dari Sahabat"
"maksud sunbae saudara?"
"ARAM MENYUKAIMU~" teriakku lepas kontrol. Ingin rasanya kucekik leherku sendiri dari pada harus menjelaskan masalah ini hingga mulutku berbusa.
Kyungsoo malah tertawa lepas sampai memegangi perutnya, sekarang dia kerasukan?
"kau bercanda sunbae! Mana mungkin Aram menyukaiku, dia . . . menyukai Jongin sunbae" ujarnya lirih.
"kenapa kau bisa berfikir begitu?"
"Aram pernah bilang jika dia sedang menyukai seseorang, dan seseorang itu adalah orang yang sangat ku kenal. Siapa lagi kalau bukan Jongin sunbae" (baca like a star ep.2)
Aku mengusap pucuk kepalanya pelan, mencoba menjadi penasehat yang bijak. Tentu saja karena segala hal yang keluar dari mulutku adalah kata-kata yang berguna dan bijak.
"jangan suka berspekulasi sebelum kau memastikannya sendiri. Memang, jika di bandingkan dengan Jongin kau tidak ada apa-apanya . . ."
Kyungsoo mengerucutkan bibirnya, hey aku hanya mencoba berkata jujur.
"dia tampan, tinggi, populer, lead dancer di sekolah. Namun belum tentu semua hal itu bisa membuat Aram menjadi menyukainya. Karena Aram menyukaimu dan kau juga menyukainya bukan? Cobalah jujur pada perasaanmu sendiri dan langsung katakan padanya. . ."
Kyungsoo memandangku dalam, mencoba meresapi setiap perkataan yang baru saja kuucapkan meskipun aku tak yakin otaknya yang kecil mampu menampung semuanya ha-ha-ha.
"mencoba jujur pada perasaan sendiri?" tanya Kyungsoo
"iya" jawabku mantap.
"seharusnya . . . kau menyimpan kata-kata itu untuk dirimu sendiri sunbae"
Jleb!
Rasanya seperti.
Seperti . . .
Seperti entahlah yang jelas tidak enak sekali di hati.
Beginikah rasanya di tampar oleh sebuah ucapan?
"apa maksudmu" tanyaku, sedangkan tanganku telah terkepal semburna siap untuk menghantam wajah bodohnya.
"aku- aku hanya berkata jujur. Kau sebenarnya juga menyukai Chanyeol hyung namun kau tidak mau jujur pada perasaanmu sendiri"
"YAAAAA! Kau akan mati di tanganku"
"ampuuun~" spontan Kyungsoo berlari dariku. Sial, kali ini saja kubiarkan kau lolos dan menikmati sisa waktumu sebelum mati oleh kepalan tanganku.
Apa maksud ucapannya?
Aku menyukai Chanyeol?
Aku menyukai si bodoh Park Chanyeol?
Mana mungkin aku menyukainya, hey perlu kalian tau aku masih normal.
Tolong jangan salah paham, hari ini aku mencarinya bukan karena aku menyukainya tapi karena . . .
Aku sedikit . . .
Hanya sedikit lho ya, tolong di garis bawahi.
Sedikit . . .
Merindukan kehadirannya.
.
.
.
Kyungsoo P.O.V
Mencoba jujur pada perasaan sendiri?
Entah kenapa ucapan Baekhyun sunbae barusan itu membuat hatiku mencelos.
Beginikah rasanya di tampar oleh sebuah ucapan?
Sampai sekarang aku tetap tidak bisa mengerti tentang apa yang kurasakan.
Debaran jantung ini.
Rasa gugup setiap bertemu manik matanya.
Merindukan senyum malaikatnya.
Apa aku benar menyukai Aram?
Aku mengacak rambutku frustasi, jadi beginikah rasanya jatuh cinta.
Kalian bisa berfikir aku bodoh tapi pada kenyataannya aku memang belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.
Ini sebuah perasaan baru bagiku dan hanya kurasakan kepada Han Aram.
Deg!
Aku tak bisa menutupi rasa terkejut di wajahku saat berpapasan dengan mereka.
Yeoja yang membuat perasaanku menjadi begitu campur aduk bersama dengan . . .
"jangan melamun saat sedang berjalan, kau hampir saja menabrak kami" ujar Jongin sunbae.
Aku melirik Aram yang berdiri disampingnya, dia bahkan sama sekali tidak melihat padaku malah terkesan membuang muka.
Jongin menggeser tubuhku yang menghalangi jalan mereka.
"aram . . ."
Mereka berhenti, namun Aram tetap tidak menoleh padaku yang memanggilnya.
"ada yang ingin kukatakan"
Jongin mendecih kesal, dia melipat kedua tangannya di depan dada.
"tidak ada yang perlu dibicarakan" jawab Aram singkat.
Jongin tak kuasa menahan seringainya saat mendengar jawaban ketus Aram. Namja itu kembali membimbing Aram untuk berjalan meninggalkanku.
"araaaam~"
"jangan memaksa jika dia tidak ingin bicara denganmu"
aku tetap bersikeras menahannya, tidak peduli dengan tatapan Jongin sunbae yang terlihat tidak senang atas tindakanku.
Aku beralih kedepannya, memandang wajah cantiknya yang menunduk di hadapanku.
Juntaian rambut ikal kecokelatan miliknya sesekali melambai karena tertiup angin lembut, aku mengerahkan semua keberanian yang kupunya untuk menyingkirkan surai yang menutupi wajahnya.
Membuat manik matanya bertatapan langsung dengan milikku, cukup lama kami saling memandang.
"sekarang aku memiliki jawaban kenapa aku tidak suka jika kau bersama dengan namja lain"
"jawabanmu selalu klasik, jika bukan entahlah ya aku tidak tau" ujar Aram.
Tidak. Kali ini jawabanku berbeda, aku tidak akan mengucapkan kata itu sebagai jawabanku.
Aku sudah yakin dan tau dengan pasti mengenai perasaanku sendiri.
"itu karena, aku menyukai Aram"
Manik matanya membesar setelah mendengar jawabanku, kemudian gumpalan-gumpalan bening terlihat mulai memenuhi matanya.
"kau membuatnya menangis" jongin menyingkirkan tanganku dari wajah Aram dan membawa yeoja itu kedalam pelukannya.
Apa yang telah kulakukan? Lagi-lagi aku hanya bisa membuat Aram menangis.
Aram melepaskan pelukan jongin sunbae dan melihat padaku, masih dengan tetesan embun yang mengaliri kedua pipinya. Namun, dia menyunggingkan sebuah senyum dalam tangisnya.
"aku juga menyukai kyungsoo"
"MWOOOOO~!" teriak kami berdua.
Yang ku maksud kami berdua disini adalah aku dan Jongin sunbae. Sepertinya dia sama terkejutnya denganku.
"tapi, aram . . ."
"maaf sunbae, kau begitu baik padaku tapi aku hanya menyukai Kyungsoo" jelas Aram.
Dan kali ini untuk pertama kalinya aku bisa membalas seringaian Jongin sunbae. Terima kasih telah banyak mengajariku cara menyeringai dengan benar.
.
.
.
Byun P.O.V
Aku menutup kedua telingaku dari segala macam curahan hati yang keluar dari mulut Jongin. Sepanjang perjalanan pulang sekolah ini dia terus berbicara mengenai betapa hancur hatinya saat gadis incarannya mengatakan suka untuk namja lain. Aku tidak mungkin tahan jika harus mendengar ocehannya sampai kami berpisah di tikungan selanjutnya.
Rupanya si bodoh Kyungsoo termakan oleh ucapanku, dia serius mencoba jujur pada perasaannya sendiri dengan menyatakan cintanya pada Aram. Dan seperti dugaanku mereka memang saling mencintai bukan. Lagi-lagi aku menjadi pahlawan, mulai sekarang kalian boleh memanggilku cupid.
"sudahlah, kau bisa dapatkan yang lebih cantik dari Aram" potongku.
"seharusnya kau menghiburku"
Jongin mengerucutkan bibirnya dan langsung berbelok tanpa mengucap selamat tinggal padaku. Dasar, bocah ini. Lihat saja besok dia pasti sudah kembali seperti biasa, sekarang yang dibutuhkannya hanyalah menenangkan diri.
Tubuhku berjengit saat tiba-tiba kurasakan sesuatu melingkari leherku, sebuah syal rajutan berwarna hitam dengan ornamen bintang-bintang kecil yang terletak secara acak.
"kenapa tidak mengenakan syal di cuaca sedingin ini?"
Tubuhku membeku melihat figure di hadapanku. Figure yang sedari tadi kuharapkan kehadirannnya.
"kau tidak merindukanku dan ingin memelukku?" godanya.
"kau terlalu percaya diri Park Chanyeol"
Chanyeol terkekeh. Lihat dirinya, tidak berangkat sekolah dan malah berkeliaran di cuaca sedingin ini. Bagaimana jika penyakitnya kambuh lagi?
"hari ini adalah hari terakhir kita. Tidak terasa ya, waktu berjalan begitu cepat"
"aku senang akhirnya bisa bebas darimu" jawabku ketus.
Chanyeol mengacak rambutku pelan. Aish, tidak ada yang boleh menyentuh rambutku. Aku menatanya hampir 1 jam setiap pagi.
"maaf jika selama ini selalu menyusahkanmu namun terima kasih, aku benar-benar bahagia. Kau memberikan kenangan di hari-hari terakhir . . ."
Tunggu, aku tidak salah dengar bukan?
Hari-hari terakhir, apa maksudnya?
"KAU AKAN MATI?" tanyaku spontan, aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku.
"aish, pikiranmu buruk sekali"
Dia memukul kepalaku pelan, tidak sakit sih namun aku merasa terhina. Mentang-mentang ini hari terakhir dia jadi berani padaku, apa dia sudah lupa betapa dia memujaku dahulu. Dasar.
"umma memutuskan untuk membawaku ke London, kudengar perawatan medis disana lebih baik daripada di Korea. Kau tau kan jika aku serius ingin sembuh . . ."
"itu bagus tapi . . . sampai kapan?" tanyaku.
Chanyeol menatapku dalam lantas menggelengkan kepalanya lemah.
"tidak tau. Mungkin aku tidak akan kembali ke Korea"
Deg!
Perasaan macam apa ini. Kenapa aku begitu takut saat dia bilang jika dia tidak akan kembali lagi ke Korea.
Bagaimana jika dia benar tidak kembali dan aku tidak bisa bertemu dengannya lagi.
Kenapa tiba-tiba harus berpisah, aku bahkan belum sempat berbuat baik padanya.
Chanyeol meraih tas ranselku dan menyematkan sesuatu disana, membuat benda itu bergelantungan di resleting tasku.
Bintang?
"gantungan tas itu bisa bersinar di kegelapan. Dia akan selalu menjadi bintang paling bersinar di siang ataupun malam, seperti Byunnie"
Aku menggenggam bintang berukuran cukup besar itu. Permukaan beningnya membuatku bisa melihat rentetan kabel kecil yang ada di dalamnya.
Aku memeluk tubuh namja di hadapanku, menenggelamkan kepalaku di dadanya. Biarlah kali ini saja aku terlihat lemah di hadapan Chanyeol, menepis semua ego yang selalu ku junjung tinggi.
"aku akan selalu merindukanmu" bisik Chanyeol.
Nado, aku juga akan selalu merindukanmu bodoh.
Aku mencoba membuka mulutku namun entah kenapa seluruh syaraf yang tertanam di lidahku serasa membeku. Sulit sekali hanya untuk mengatakan jika aku juga akan merindukannya.
Chanyeol melepas pelukanku "waktuku tidak banyak lagi, aku harus segera pergi"
Sekali lagi dia tersenyum padaku sebelum berbalik meninggalkanku. Senyum secerah mentari yang akan selalu kurindukan, Senyum secerah mentari yang hanya dimiliki oleh Park Chanyeol.
Dia menghentikan langkahnya dan berbalik padaku.
"byunnie, jika kau- jika . . . kau bilang jangan pergi. Maka aku tidak akan pergi"
Aku. Dia memberikan semua keputusan padaku?
Apa yang harus kukatakan?
Cukup lama kami saling berdiam diri. Berhadapan dan saling memandang satu sama lain.
"pergilah . . ."
Chanyeol menatapku dengan kedua mata beningnya, bisa kulihat tersirat banyak kekecewaan disana.
Aku tau dia pasti sangat kecewa dengan jawabanku.
Aku menginginkan Chanyeol tetap disini, sangat menginginkannya namun jika aku menahannya itu berarti aku egois.
Chanyeol ingin sembuh dan aku tidak bisa menahannya untuk mewujudkan keinginannya ini, dia harus sembuh. Itu lebih penting dari apapun, termasuk keinginanku untuk terus bersamanya.
"bintang bisa memancarkan sinarnya sendiri, dia tidak butuh siapapun untuk membantunya tetap bersinar. Termasuk matahari . . ."
Mata indahnya berair. Apa yang telah kulakukan, aku telah menyakiti hatinya.
Lagi-lagi dia mengeluarkan senyuman itu, sebuah senyuman untuk menyamarkan rasa sakit yang tengah dirasakan hatinya. Tersenyum pahit.
"kau benar, bintang tidak membutuhkan kehadiran siapapun. Jaga dirimu baik-baik"
Aku menutup kedua mataku rapat-rapat untuk menghalangi bulir-bulir bening yang terus berdesakan di mataku. Aku tidak boleh menangis di hadapan Chanyeol, itu hanya akan membuatnya semakin berat untuk pergi.
Hingga saat kubuka mataku, dia telah hilang dari pandanganku.
kau akan benar-benar meninggalkanku?
"gajima . . ."
Aku meremas dadaku yang terasa begitu sesak seakan semua asupan oksigen di bumi telah terkuras habis.
"gajima, chanyeol~ah . . ."
Percuma, sekarang percuma jika kau memintanya untuk tidak pergi.
Dia tidak akan mendengarmu.
Dia tidak akan kembali.
Chanyeol tetap akan pergi meninggalkanmu.
.
.
.
RnR pleaseee :)
