[YAOI BaekYeol] -LIKE A STAR- ep. EPILOG

Written by : babyLU

buat yang berharap kaisoo maaf ya saia tidak bisa mewujudkannya disini, soalnya ff ini pernah saia post di fp exo fanfiction jadi ga bisa ngerubah alurnya lagi :'(
mungkin nanti bisa saia wujudkan di lain ff hahahah
oiya ini chapter terakhir ya, enjoy it!

Andai aku bisa kembali ke waktu dimana kita masih bersama.

Aku berjanji tak akan menyakitimu.

Aku berjanji tak akan pernah meninggalkanmu.

Dan aku berjanji, kelak aku tidak akan malu lagi untuk memberi tahu pada dunia bahwa kau kekasihku.

Orang yang selalu menganggapku bintang paling bersinar, Park Chanyeol . . .

.

.

.

Byun P.O.V

Aku melihat pijakan tangga besi di hadapanku, terlalu ragu untuk melangkah.

"excuse me sir, but there are many people waiting behind you"

Suara dari seorang pramugari berkewarganegaraan asing membuyarkan keraguanku. Aku melirik ke belakang, dan benar saja ada banyak orang yang juga mengantri untuk segera turun dari pesawat.

"i'm sorry" ujarku seraya membungkuk sebagai tanda penyesalan dariku.

London.

Untuk pertama kalinya aku memijakkan kakiku ke kota ini. Kota yang selama 10 tahun ini terus menghantuiku untuk datang kemari.

Chanyeol benar dengan ucapannya. Dia serius tidak kembali, bahkan meskipun aku telah menunggu kedatangannya selama 10 tahun dia tetap tidak kembali.

Apa dia telah melupakanku? Semudah itukah?

Tapi kenapa aku tidak bisa melupakannya sampai detik ini.

Semenjak Chanyeol pergi aku merasa seperti kehilangan diriku. Aku tidak bisa lagi bersikap bangga terhadap predikat tampan-cerdas-cool-populer yang dulu selalu ku junjung tinggi.

Sisi menyedihkan dari diriku yang lebih mendominasi. Aku takut.

Apa Chanyeol masih bisa menerimaku sekarang?

Andai waktu itu aku tidak membiarkannya pergi . . .

Aku mengeluarkan secarik kertas dari kantong celanaku. Secarik kertas yang menjadi penentu bertemu tidaknya aku dengan Chanyeol. Alamat rumahnya di London.

Caviera st. 365E 3X0

London, England

.

.

.

Flashback

"aku mohon Aram"

Hampir saja aku bersimpuh di hadapan yeoja ini jika saja Kyungsoo tidak menahanku.

"untuk apa kau menemui Yeol oppa? Dia sudah hidup bahagia disana"

"aku ingin bertemu dengannya"

"setelah apa yang telah kau lakukan padanya? Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti hatinya lagi"

Aram menatapku dengan mata berair, terlihat jelas dia begitu takut jika aku akan menyakiti kakak kesayangannya lagi.

"Aram tidakkah kau lihat jika sunbae sudah berubah. Aku berani jamin dia tidak akan menyakiti Chanyeol hyung . . ."

Aku mengangguk meng-iyakan ucapan Kyungsoo. Namja bermata besar ini sekarang sudah tidak bodoh seperti dulu.

Aram menatapku ragu namun kemudian mengangguk.

"akan kuberi alamatnya . . ."

.

.

.

Aku menatap rumah bergaya klasik dengan dinding berwarna putih di hadapanku. Apa benar Chanyeol ada disini?

Apa yang harus kulakukan?

Aku takut. Bagaimana jika aku kembali saja ke Korea.

Hey, kau terlalu pengecut jika melakukan itu. Kau sudah jauh-jauh datang kemari dan tidak bertemu dengannya. Ayolah Byun Baekhyun, kau pasti bisa.

Aku sebisa mungkin menyemangati diriku sendiri.

Pintu kayu rumahnya terbuka membuatku terlonjak kaget, segera berlari untuk bersembunyi di balik pohon besar yang ada di seberang jalan. Lihat, kau begitu pengecut Baekhyun.

Figure namja yang begitu kurindukan, Park Chanyeol. Benar dia si bodoh Chanyeol.

Aku menutup mulutku menggunakan kedua tanganku, menahannya agar tidak memanggil namja di seberang sana.

Apa yang di katakan Aram benar, dia terlihat lebih bahagia disini. Bisa kalian lihat jika wajahnya terlihat lebih segar, tidak pucat pasi seperti dulu. Sekarang dia sudah bisa berlarian tanpa harus takut jika penyakit lemah jantungnya akan kambuh. Dan Hey, dia memangkas rambutnya menjadi sangat pendek namun tetap tidak menghilangkan aura tampan yang ada dalam dirinya.

Seorang bocah berambut pirang yang kurasa berusia sekitar 3 tahun ikut keluar seraya menenteng bola di tangannya.

"i want to play soccel . . " ujar bocah itu lucu. Aku sedikit terkikik saat mendengarnya yang belum bisa mengucapkan huruf 'R'.

"come here. Kevin"

Suara bass yang amat kurindukan. Aku ingin lagi mendengar suara itu menyebut namaku dengan sebutan byunnie.

Duak!

Sebuah tendangan dari Chanyeol membuat bola itu melambung ke seberang jalan, tepat di sebelah pohon persembunyianku. Mati kau Baekhyun!

Aigoo, aku harus bersembunyi dimana? Disini tidak ada semak-semak.

"take the ball"

Anak kecil yang bernama Kevin itu berjalan pelan menuju tempatku untuk mengambil bola. Iris matanya yang berwarna biru menatap bingung padaku. Mungkin dia berfikir kenapa ada orang aneh yang berjongkok di balik pohon.

"go away . . go away" ujarku setengah berbisik agar bocah ini segera pergi sebelum Chanyeol menyadari kehadiranku.

"THELE IS A STLANGE UNCLE WHO HID HELEEEE~ . . ." teriak bocah ini.

Aaaargh! Ingin rasanya kubungkam mulut kecil bocah ini. Aku memintamu untuk pergi menjauh tapi kenapa mulut kecilmu malah berteriak. Belajarlah untuk mengucapkan huruf R dengan benar dulu baru berteriak.

"who?" aku bisa mendengar derap kaki Chanyeol yang mendekat.

Spontan aku mengenakan tudung jaketku dan menyembunyikan wajahku kedalam tas.

"byunnie~ . . ."

Aku menjerit dalam hati karena dia bisa mengenaliku. Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan?

"hai Chanyeol apa kabar? Aku sedikit tersesat dan sepertinya aku harus segera pergi. Bye"

Aku merutuki kata-kata bodoh yang malah meluncur dengan bebasnya dari mulutku.

Chanyeol menahanku, memegangi pergelangan tanganku begitu erat.

"kau datang untukku?"

Dia membalik tubuhku untuk menghadapnya. Mata yang selalu menenangkan miliknya menatapku.

Tidakkah kau tau jika aku begitu merindukan tatapan itu. Tatapan yang hanya akan kau lancarkan untukku.

Aku mengangguk atas pertanyaannya. Aku sudah berjanji jika aku tidak akan membohongi perasaanku lagi, aku tidak ingin kehilangan Chanyeol untuk yang kedua kalinya.

"mengenai perkataanku waktu itu, aku tidak serius mengatakannya" lirihku.

"perkataan yang mana?"

"aku- aku bintang yang membutuhkan matahari. Aku tidak bisa memancarkan sinarku tanpa matahari"

Aku menggigit bibirku pelan, sudah saatnya aku jujur atas perasaanku sendiri.

Aku membutuhkan Chanyeol, aku menginginkan Chanyeol selalu ada disisiku.

"abeoji, what did he say? I don't undelstand . . ."

Aku menatap horror bocah di hadapanku. Barusan dia memanggil apa? Abeoji?

Seakan mengerti kebingunganku, Chanyeol menghela nafas pelan.

"maaf Baekhyun, tapi aku sudah menikah. Dan ini anakku, Kevin . . ."

Aku seperti di hadapkan pada sebuah ruang kosong tanpa udara. Hanya ada aku dan dinding-dinding berwarna putih yang mengelilingiku. Berusaha menggapai senyawa bernama oksigen yang tidak pernah ada di dalam ruangan ini. Aku sendirian dan tak ada seorangpun yang akan datang menolongku.

Sesak, rasanya begitu menyesakkan.

"chukkae . . ."

Pada akhirnya hanya kata itu yang terlontar dari mulutku. Aku telah kehilangan akal.

Otakku membeku sedangkan pelupuk mataku memanas. Sebuah sensasi parutan kasar terasa nyata di hatiku.

"kau menangis?" tanyanya kemudian.

Aku tertegun mendengar pertanyaannya. Benarkah aku menangis?

"aku tidak menangis"

"tapi ada air yang keluar dari matamu"

Aku memang merasakan sesuatu mengalir di pipiku namun aku tidak menyadari jika itu adalah air mata. Karena aku tidak mengharapkannya keluar. Aku tidak ingin menangis di hadapan Chanyeol.

Bukankah ini impas, dulu aku manyakitinya dan sekarang aku harus menuai apa yang telah ku tanam.

"maaf, aku harus pergi sekarang"

"khu..khu..khu kau lucu Byunnie~ . . ."

Chanyeol memegangi perutnya yang bergoncang hebat karena menahan tawa. Apa ini?

Dia begitu bahagia melihatku menangis. Inikah yang ingin dilihatnya setelah 10 tahun tidak bertemu.

"kau percaya jika aku sudah menikah? Aku hanya mengerjaimu hahahaha . . . Aram memberi tahuku jika kau akan kemari hari ini, jadi aku sengaja mengerjaimu dan meminta Kevin untuk memanggilku abeoji hahaha . . ."

Aku menatap Chanyeol tak percaya. Entahlah, lidahku terasa kelu untuk berucap sedangkan air di pelupuk mataku malah makin mengalir deras.

"hiks . .hiks"

"hey aku hanya bercanda. Serius Kevin bukan anakku, dia adik tiriku . . "

Chanyeol menangkup kedua pipiku, berusaha menenangkanku yang malah makin terisak.

"aku- aku hiks . . tidak bisa berhenti menangis"

Chanyeol merangsek memelukku, merengkuhnya erat. Rengkuhan paling erat darinya yang pernah kurasakan.

"maaf, kalau aku sudah keterlaluan"

Aku balas melingkarkan kedua tanganku pada pinggangnya, menyandarkan kepalaku pada dada bidang yang selalu kuinginkan sebagai tempat bersandar. Ini begitu hangat dan nyaman.

"aku hiks . . .tidak marah. justru aku sangat lega jika ucapanmu hanya lelucon"

Aku tidak bisa membayangkan jika hal tadi bukanlah lelucon melainkan kenyataan. Aku takut untuk membayangkannya.

Aku membutuhkan namja ini, aku membutuhkan Chanyeol sebagai milikku seorang.

"kau sudah semakin dewasa Byunnie~"

Usapan lembutnya di pucuk kepalaku mengalirkan perasaan aneh yang mengalir ke seluruh tubuhku. Gelembung-gelembung dalam perutku serasa meledak-ledak, aku begitu bahagia.

"sa- sa- sa- . . . sarang . ."

Chanyeol meletakkan jari telunjuknya di bibirku, menghentikanku yang agak kesulitan untuk mengucapkan kata cinta. Aku tidak biasa menyatakan cintaku pada seseorang.

"biar aku yang mengatakannya. AKU MENYUKAI BYUNNIE~ bintangku yang paling bersinar"

"nado. nado si bodoh"

"what ale you doing?" tanya Kevin yang sedari tadi hanya diam dan mengamati kami. Aku buru-buru melepaskan pelukanku dari Chanyeol, dia masih terlalu kecil untuk melihat adegan romantika orang dewasa.

"YEOL~AH nuguya? Ooh temanmu dari Korea?"

Seorang yeoja paruh baya yang masih terlihat cantik berdiri di ambang pintu.

"nde umma!" jawab Chanyeol.

Itu umma Chanyeol? Umma cantik yang telah melahirkan matahariku.

"kajja, bawa Kevin dan temanmu itu masuk kedalam"

Aku menggenggam kedua tangan wanita di hadapanku lantas menciumnya lembut. Umma Chanyeol hanya bisa terkekeh atas tingkahku.

"eomonim, saya mencintai putra anda. Ijinkan saya meminangnya . . ."

"eh?"

. . . . . REAL END . . . . .

makasih banget yang udah mau baca n coment ff ini dari awal sampe akhir #deep bow
sampai jumpa di lain cerita :)