Stupid of Game
By : Seyora Kurohana
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Stupid Game © Seyora Kurohana
Rated : T
Genre : Drama, romance(sedikit?!)
Summary : Aku tahu, kau sudah bosan dengan ikatan ini.
Jadi, biarkan aku memotong ikatannya!
Setelah itu, kau bisa bebas!
Kau boleh, menyebut ini semua hanya permainan bodoh.
Warning : AU, bad feel, Crack Pair, OOC, semi-OC,
Ke-kaku-an bahasa, cerita abal, penuh Typo(s),
don't like, don't read!
Enjoy read
.
.
.
.
Chapter 2 : Mid of Game
.
.
.
.
Chup...
KLIK...
Bersamaan dengan bibir Sasuke yang mendarat dipipi Karin, kegiatan tersebut langsung menjadi salah satu penghuni dari memory kamera berwarna putih-keperakan yang singgah tak jauh dari tempat mereka duduk.
Si pemotret hanya tersenyum miris melihat satu-satunya bukti ke-khilaf-an 2 makluk di depannya itu.
'Kau tak tahu sebesar apa pengorbanan Sakura untukmu Sasuke! Kau bahkan sama sekali tak merasa bersalah setelah memaksanya memasang topeng kepolosan itu di wajahnya?'inner si pemotret sedih.
Pelaku pemotret tadi adalah salah satu putri dari Hyuuga Hiashi. Seorang gadis berrambut indigo, bermata amethyst, yang juga sahabat Haruno Sakura, Hyuuga Hinata. Gadis yang berpenampilan sederhana, namun terlihat anggun dan manis ini sama sekali tak terlihat sedang mengawasi seseorang.
Secara perlahan, dimasukkannya kameranya itu kedalam tas selempang berwarna ungu yang terletak di samping tempat duduknya, sembari mengambil sebuah benda dengan warna perak berbentuk persegi panjang yang berada di dalam tasnya. Setelah itu, jarinya dengan lincah mengutak-atik benda bernama ponsel itu.
Beberapa detik kemudian, didekatkannya ponsel perak itu ke telinga kanannya. Menungggu beberapa detik, akhirnya terdengar jawaban seseorang dari seberang telepon.
Hinata menghembuskan pelan nafasnya, sebelum mengatakan sesuatu.
...
"Hinata-chan, bagaimana?"
"Kau sudah bisa menghubunginya sekarang, Sakura-chan"
"Ne, Hinata. Arigatou"
"Sama-sama, Sakura"
...
Setelah bunyi sambungan telepon yang terputus,Hinata memasukkan kembali ponsel peraknya kedalam tas pandangannya ia alihkan kedepan. Menatap pasangan kekasih yang tengah duduk 2bangku di depannya. Sesaat kemudian, kegiatan pasangan itu terhenti oleh suara dering ponsel si pemuda. Ternyata itu yang berbunyi adalah ponsel Sasuke.
"Maaf, Karin. Aku jawab telepon dulu"pamit Sasuke lalu beranjak meninggalkan kekasihnya yang membalas ucapannya dengan gumaman kecil.
Setelah cukup jauh dari kekasihnya, dipandanginya layar ponselnya yang berkedip-kedip itu barang sebentar. Lalu, tanganya bergerak dengan maksud mendekatkan ponselnya itu ke telinganya.
...
"Ne,Sakura-chan. Ada apa?"
"Apakah Sasuke-kun punya waktu senggan untuk saat ini?"
"Ah,gomen,ne Sakura. Aku sedang sibuk rapat di kantor"
"Oh,begitu. Maaf mengganggumu, Sasuke"
"Hn. Sekali lagi gomen, Sakura"
...
Sakura tahu, bahwa saat ini Sasuke berbohong padanya. Walaupun Sasuke sedabg sibuk sekalipun, dia pasti akan berusaha menghubungi Sakura untuk memberi tahu tentang kesibukannya barang sejenak. Namun, saat ini Sakura merasa bahwa Sasuke sudah mulai bersikap acuh terhadapnya. Mungkin saat ini perhatiannya tengah tercurah hanya untuk pacar barunya -Karin- semata daripada diriinya.
Sekalipun Sasuke menyembunyikan hal itu rapat-rapat, namun Sakura telah menhetahuinya sejak 5 bulan terakhir. Dan tanpa Sasuke sadari, saat ini Sakura tengah berada di ruang kerjanya, dengan tatapan nanarm yang mengarah ke rekaman di hadapannya dan memori tentang percakapan singkatnya tadi dengan Sasuke.
'Bahkan kau tak lagi memanggilku dengan panggilan sayangmu'batin Sakura sedih.
Padahal, baru saja beberpa saat yang lalu Sakura bertanya kepada sekertaris Sasuke tentang jadwalnya hari ini. Dan jawabannya adalah, semua jadwal hari ini dibatalkan. Termasuk ucapan Sasuke tentang rapat tadi.
Rasa ridu dalam hatinya kali ini, harus kembali di tahannya saat dia menyadari, bahwa saat ini Sasuke tengah bersama kekasih gelapnya-Karin.
Ingin rasanya Sakura menjerit keras-keras agar Sasuke segera memutuskan hubungannya dengan Karin dan kembali sepenuhnya kepadanya. Namun (lagi-lagi), hanya tawa miris yang Sakura ukir dibibirnya.
"Kurasa, kau ingin agar aku terus memainkan peranku ini Sasuke. Baiklah, jika itu memang keinginanmu"gumam Sakura sendu.
Lalu tubuhnya bangkit dari sofa di ruang kerja Sasuke. Kakinya berjalan pelan melangkah keluar dari ruang kerja kekasihnya itu.
"Tenang saja, Sasuke. Sandiwara kita tinggal 4 hari lagi"lirih Sakura sebelum hilang di balik pintu kerjaruangan bercat putih polos itu.
Malam hari segera merayap ke langit bumi. Membuat keadaan menjadi gelap gulita (sebagian) jika tak ada lampu yang berfungsi sebagai penerang dalam gelap.
Disebuah ruangan dengan dominasi warna cream dipadu warna putih yang terkesan klasik, terlihat 4 orang yang duduk melingkar di depan sebuah meja persegi berukir yang berada di engah ruangan. Mereka ber4 sama-sama terlihat sedang berbincang-bincang.
"Tumben sekali Sasori-nii pulang kesiini saat hari sabtu?"tanya Sakura terhadap seorang emuda berrambut merah darah sihadapannya itu.
"Memangnya kenapa? Kau tidaksenang ya, kakamu inni pulang kerumah?"tanya Sasoridengan wajah melas yang sengaja dibuat-buat.
"Bukan begitu! Habisnya, Sasori-nii lupa membawakan oleh-oleh pesananku sih?!" balas Ino deng nada bercanda.
"Huh. Apasih yang kau pikirkan selain hal 'itu'? sepertinya tidak ada deh?!" sahut Sasori malas.
"Enak saja. itukan memang satu-satunya hal yang kuinginkan! Sasori-nii saja yang teralu malas untuk membawakannya untukku!" ucap Ino kesal.
"Su-sudahlah Ino-chan! Ti-tidak baik marah-marah terus"kata Hinata berusaha menenangkan Ino.
"Iya, kau itu lama-lama akan semakin mirip dengan Sasori-nii yang tukang marah dan tukang malas itu jika kau seperti itu terus, Ino-chan!" rupanya kata-kata Sakura menurut Ino ada benarnya juga. Terbukti dengan kemarahan Ini yang tadi meledak-ledak kini mulai berangsur-angsur kembali normal.
"Huh, dengar ucapan Saku-chan dan Hina-chan itu! Kau itu bisa-bisa mirip denganku?! Daripada seperti itu, aku lebih memilih Hinata yang mirip denganku!" tambah Sasori sambil mencoba sedikit menyulut api kemarahan Ino.
"Hei,,Sasori-nii , jangan sembarangan bicara ya! Ku buat wajahmu jadiperkedel tahu rasa!" Seru Ino sengit.
"He-hei, sudahlah! Ja-jangan bertengkar terus!" lerai Hinata pelan.
"Iya, memalukan tau! Seperti anak kecil saja! benar-benar menyebalkan."tambah Sakura sedikit
Mengeraskan suaranya.
"Sasori-nii duluan, Saku!" balas Ino sambil menunjuk wajah Sasori yang tepat berada didepan hidung Sasorii.
"Eh, ebak saja! Sahabat pirangmu itu yang mulai duluan!" sahut Sasori geram.
"Hei, aku punya nama tahu!"teriak Ino kesal. Dan pekikan-pekikan itu terus berlanjut tanpa Sakura dan Hinata mampu melerai keduanya seperti biasanya.
'Benar-benar seperti anak kecil yang sedang berebutan permen! Tak akan ada yang mengalah sampai salah satu darimereka ada yang menang. Apa ini cara mereka berdua berinteraksi ? benar-benar seperti pertengkaran konyol! Tak ada hari tanpa berdebat sengit seperti saat ini.' Inner Sakura kesal.
Diliriknya 2 orang dihadapannya itu yang masih saja bertengkar. Keduanya seakan taak menyadari deathglare Sakura yang kian meremangkan bulu kuduk Hinata.
Di sebuah Cafe yang tak jauh dari kediaman keluarga Uzumaki, Sasuke tengah bersama dengan sahabat pirang-nanasnya di sebuah bangku yang terletak di pojok ruangan yang terlihatt sepi .
"Hei, Teme! Apa maksudmu dengan membohongi Sakura-chan tadi? Lalu apa maksudmu berduaan dengan gadis merah itu? Kau tak berniat menduakan Sakura kan?" serbuan pertanyaan dari Naruto itu membuat pikiran Sasuke yang tdi melayang ketempat lain harus kembali ketempatnya yang semula.
"Dobe, kukatakan sekali lagi, jika itu bukan urusanmu,sebaiknya jangan mengurusinya!" balas Sasuke acuh.
"Hei, apa maksudmu dengan ucapan itu? Kau meracau, eh?" balas Naruto sambil meneluarkan cengiran lebarnya.
"Siapa yang meracau? Hal itu memang benar adanya! Aku bahkan aku merasa bosan dengan hubunganku dan Sakura" sahut Sasuke malas.
"Teme, kau itu mabuk! Aku tahu, bahwa itu bukan kata-kata yang berasal dari hatimu. Jadi lebih baik sekarang kita pulang!"ucap Naruto sambil merangkulkan tangan Sasuke ke pudaknya, lalu membawa Sasuke keluar dari Cafe itu setelah membayar bond'nya.
Dipelataran parkir, sopir pribaadi keluarga Uchiha telah menunggu di depan mobil majikannya. Saat mellihat Sasuke dan Naruto keluar dari pintu Cafe, sang sopir segera membantu Naruto untuk membawa Sasuke masuk kedalam mobil. Setelah beres, mobil Lhamborgini hitam terrsebut bergerak meninggalkan pellataran Cafe.
2 hari kemudian...
Sakura tengah mematut dirinya didepan cermin yang berada di kamarnya. Penampilannya saat inin benar-benar memukau. T-shirt putih pudar dengan hiasan garis-garis coklat di pinggirannya, ditambah dengan rok pink pudar selutut itu benar-benar membuat Sakura terlihat sangat manis.
"Yosh, hari ini, aku akan memperjelas hubungan kita Sasuke!" gumam Sakura dengan nada ceria. Senyum lembut kali ini berhasil menggantikan peson topeng kepolosannya.
Setelah itu Sakura segera mengambil tas selmpang merah jambu yang terletak di meja belajarnya, lalu meninggalkan kamarnya itu.
Tanpa disadarinyaa, seekor burung gagak bertengger sebentar di dahan pohon yang menghadap ke jendela kamar Sakura, lalu burung gagak itu terbang meninggalkan halaman samping kediaman Haruno. Tanpa terasa, sebuah sinyal ganjil yang penuh sisi negatif tangah melingkupi diri Sakura sejak kepergian gagak tadi.
Sebelum pergi, Sakura menyempatkan diri untuksarapan pagi bersama keluarganya di ruang makan .
"Pagi, Sasori-nii-san" sapa Sakura dengan senyuman lembut yang menghiaasi bibirnya.
"Pagi, Sakura-chan. Tumben kau bangun sepagi ini? Biasanya kan kau bangun siang!" sahut Sasori dengan heran.
"Memangnya salah kalau aku bangun pagi" uacap Sakura dengan kesal.
"Bukan begitu, biasanyakan hari minggu seperti ini kau jarang main keluar! Jangan-jangan kau ingin kencan dengan pacarmu ya?" selidik Sasori dengan nada menggoda.
"Itu bukan urusanmu Nii-san! Urusi saja dirimu yang sampai sekarang masih men-jomblo itu!" kilah Sakura dngan nada mengejek.
"Huh. Enak saja mengataiku! Aku nsudah punya tahu!" balas Sasori.
"Oh,iya? Siapa dia ? kenapa tidak dikenalkan padaku?"berondong Sakura dengan pertanyaan lugasnya.
" Itu rahasia! Nanti kau juga pasti tahu kalau sudah saatnya!"Ucap Sasori,"Lebih baik cepat habiskan sarapaanmu!"
"Ne-ne, Nii-san!"ucap Sakura malas. Lalu suasana kembalihening saat keduanya sibuk menghabiskan sarapan masing-masing.
Setekah beberapa suap, Sakura menyudahi sarapannya.
"Aku berangkat." Pamit Sakura.
"Ne, jaa-ne. Hati-hati dijalan!" balas Sasori.
Sasori sedikit heran saat mendengar kalimat yang tadi diucapkan Sakura. Kata-kata itu terasa ambigu ditelinganya. Seakan-akan, Sakura tidak akan berkumpul bersamanya lagi setelah acara Sarapan pagi ini. Namun segera ditepisnya pikiran buruk itu dari pikirannya.
Angin kencang langsung menderu tubuh Sakura saat dirinya sudah sampai di taman kota –tempatnya dan Sasuke janjian- yang pagi itu masih terasa sepi. Kakinya melangkah pelan menuju salah satu bangku di taman tersebut.
"Sasuke, kuharap kau hanya sekedar bermain-main dengannya!" gumam Sakura berharap lebih pada pemikirannya itu.
Senyum cerah menghiasi bibirnya. Sebuah angan baru segera ia persiapkan untuk kelanjutan hubungannya dengan Sasuke yang dirasanya hampir diujung tanduk itu.
1 menit.
2 menit.
5 menit.
15 menit.
30 menit.
1 jam.
ZRRRRHHHSSSSS...
Hujan deras tiba-tiba saja turun dari langit. Namun Sakura masih bergeming di tempatnya. Berusaha sabar menunggu Sasuke datang menepati janjiniya, tanpa menghiraukan dirinya yang saat ini tengah basah kuyub akibat deraan hujan deras.
Entah kenapa, perasaan khawatir tiba-tiba menghampiri hatinya. Sebuah pemikiran baru segera merayapi kepalanya.
"Kenapa Sasuke-kun lama sekali,ya?" gumam Sakura heran.
"Ahaha..." tiba-tiba sbuah suara tawa yang terdengar familiar ditelinganya itu membuat seluruh syaraf otaknya bekerja untuk menengok ke asal suara itu.
Deg.
Hantaman rasa keperihan yang luar biasa itu mengenai tepat ulu hatinya saat itu juga. Bagaimana tidak ? kekasihnya yang dia tunggu-tunggu sejak1 jam yang lalu di tengah hujan deras , saat ini malah sedang bermesraan dengan seorang gadis berambut merah di sebuah Cafe yang berada tepat di dekat taman itu.
Benar-benar sebuah kejutan luar biasa yang diterimanya saat itu. Sebuah kejutan menyakitkan yang senantiasa bergerak cepat dan intensif saat merayapi hati dan perasaannya. Selama ini dia berusaha sabar. Namun kali ini, kesabarannya habis. Dengan cepat, dirinya bangun dari duduknya dan berlari masuk kedalam Cafe itu.
Brak...
Pintu Cafe itu terbuka lebar dengan suara memekakkan telinga. Dengan tergesa-gesa, kakinya melangkah mendekati pasang kakasih yang tengah duduk didekat pintu. Tangannya langsung menyambar tangan si wanita tanpa pikir panjaang, laalu menyeretnya keluar dari Cafe tersebut dengan gerakan kasar. Setelah berada di Lingkup taman, barulah tangan Sakura melepas tangan gadis merah itu.
PLAK..
"Kau tahu? Au sudah memberimu waktu agar kau menjauhi Sasuke! Tapi kau malah tak tahu diri dan meneruskan hal memalukan itu" seru Sakura dengan maksud memaki gadis didepannya itu.
PLAK..
Tiba-tiba sebuah tamparan keras mendarat mulus dipipi tembamSakura. Pelakunya ialah pemuda berambut emo yang tadi duduk dengan gadis merah itu.
JLEGAR...
Suara petir langsung menghiasi keaadaan ketiganya. Bahkan pertanda ganjil itu semakin terasa kentara di benak orang-orang yang melihat kejadian itu.
"Sasuke.."
PLAK..
Ucapan Sakura langsung di potong oleh tamparan keras dari pemuda didepannya itu.
Bahkan kali ini ribuan jarum seakan ikut menusuk hatinya setelah 2 kali tamparan Sasuke mengenai pipinya. Air hujan menyamarkan liquid bening yang mengalir dari kedua emeraldnya. Mata Sakura menatap tak percaya pada apa yang baru saja dilakukan Sasuke padanya.
Sebuah senyum miris tercetak jelas dibibirnya saat ini. Hatinya seakan remuk redam saat pertama kalinya Sasuke menamparnya dengan sangat keras didepan selingkuhannya dan di depan umum.
Lalu, tangannya merogoh pelan tas merah jambunya. Bermaksud menyerahkan sebuah kotakpersegi berukir pada Sasuke. Sasuke langsung menerimanya dengan cepat.
"Mulai sekarang, kita putus!" desis Sasuke dingin. Sakura hanya membalasnya dengan senyum miris (lagi). Lalu, Sakura berbalik berjalan pulang. Merasa kasihan, Karin berlari mengejar Sakura tanpa tengok kanan-kiri saat menyeberang jalan, dan ...
BRAAKK... CKIIITT...
Bersamaan dengan berhasilnya Sasuke menyelamatkan Karin, sebuah kenyataan pahit tiba-tiba membuat Sasuke mematung ditempat. Di depannya, Sakura terbaring lemah dengan senyum pedih. Tubuh Sakura terlentang di tengah jalan dengan darah yang terus mengucur dari dahi dan kepala belakangnya. Inilah bukti dari sinyal gagak hitam yang tadi mampir sebentar didepan jendela kamar Sakura. Sebuah kecelakaan maut.
'Arigatou... Sasuke' inner Sakura lirih, lalu kedua matanya terpejam erat.
Entah kenapa perasaan menyesal dan kesedihan yang sangat besar berhasil menguasai perasaan Sasuke. Kali ini, rasa perih luar biasa berusaha mengerogoti hatinya secara perlahan.
Konoha International Hospital.
Di depan ruang ICU, Sasori,Ino,Hinata,dan Naruto serta Sasukemenunggu dokter yang menangani Sakura. Ino menangis sesenggukan di pelukan Hinata. Sementara Naruto dan Sasori tengah mengadili Sasuke saat itu juga.
"Apa kau pernah berfikir betapa sakitnya hati Sakura saat melihatmu selingkuh?" pekik Naruto kasar.
"Apa kau tak punya perasaan hingga berani membuatnya seperti itu? Hah?"seru Sasori, lalu memukul wajah Sasuke penuh emosi.
Buk..
Sedangkan Sasuke hanya diam sambil berusaha menahan airmatanya yang hampir meleleh akibat penyesalannya. Sudut bibirnya terlihat mengeluarkan darah.
"Setelah ini, kau tidak akan ku ijinkan menemui Sakura ataupun melihatnya! Jangan harap kau bisa kembali bertemu ataupun berhubungan dengan adikku!" teriak Sasori kesal.
Tak dihiraukannya airmatanya yang terus membentuk sungai kecil dikedua pipinya.
Emosinya saat ini terasa menguar disekelilingnya. Bahkan Hinata dan beberapa orang merasa merinding mendengar teriakan Sasori.
"Sekarang, lebih baik kaku pergi dari sini!" ucap Naruto dengan maksud mengusir Sasuke. Sasuke yang mengerti keadaan punlangsung berjalan pelan menjauhi depan ruang ICU dengan genangan air di mata onyxnya.
Langkahnya terhenti di depan ruang rawat pasien. Lalu, dirinya bermaksud duduk di salah satu kursi yang tersedia.
Dipejamkannya matanya perlahan. Lalu tangannya merogoh saku jaketnya untuk mengambil ponselnya. Tapi,tangannya menemukan sesuatu di sakunya. Ditariknya keluar benda itu. Matanya melebar saat di ingatnya bahwa kotak itu adalah pemberian Sakura beberapa saat yang lalu. Kemudian, tangannya tergerak untuk membuka kotak tersebut.
Didalam kotak itu, terdapat sebuah kertas yang dilipat rapi. Lalu, dibukanya lipatan kertas tersebut dengan hati-hati.
To: Sasuke-kun
Aku tahu, kau sudah bosan dengan ikatan ini. Jadi, biarkan aku memotong ikatannya!
Setelah itu, kau bisa bebas! Kau boleh, menyebut ini semua hanya permainan bodoh.
Semoga kau bisa berbahagia dengan penggantiku Sasuke! Dan terima kasih banyak, karena selama ini kau telah bersedia untuk menjadi pemilik hatiku.
Satu paragraf kalimat di atas mampu meruntuhkan pertahanan seorang Uchiha Sasuke saat itu juga. Perasaan bersalah kembali mengkungkungnya dengan erat. Dan kali ini, Sasuke bisa merasakan bagaimana kesakitan-nya Sakura saat mengetahui bahwa dia telah selingkuh dengan gadis lain.
'Ne, Sakura. Aku sudah merasakan karmanya sekarang ini. Gomen, Sakura!' innernya dengan penuh penyesalan.
.
.
.
.
.
-To Be Continue-
Gimana pendapat reader? Apakah chapter ini kurang bagus? Kurang seru? Kurang sedih?
Maaf juga jika chapter ini kurang memuaskan bagi para readers? Gomen, ya saya updet'nya 5 hari setelahnya? Soalnya tugas sekolah saya numpuk gara-gara kemalasan saya untuk segera mengerjakan tugas tersebut.
Guest : makasih,ya buat pujiannya, hehehe *plak!terlaluPDsaya:D*
Ini saya usaha'in, walaupun telat 5 hari (T_T), maaf, ya? Chapter terakhir Last of Game nanti sudah saya pastikan akan menjadi happy ending. Makasih,juga buat reviewnya ya.
Nabila : Iya, disini Sasuke uadh saya buat menyesal, tapi itu belum seberapa! Tunggu kelanjutannya aja. Makasih banget buat reviewnya, ya!
Namika : waduuh, saya dipuji lagi nih? *hehe,maaf,efek-terlalu-bahagia * Maaf, ya saya updetnya telat (T_T)
Uchiha : aduduh, maafin saya,ya kalau ceritanya terlalu menyedikan? tapi tenang aja, endingnya sudah saya persiapkan agar menjadi happy ending !
Ryouta Shirou : salam kenal juga Ryouta-san ... ini udah saya lanjut, maaf ya kalau telat agak lama? Hehehe,semoga aja begitu! Makasih,ya buat review dan semangatnya ...
Sasusaku loversss : eeh, maaf ya? Soalnya ceritanya saya buat begini biar agak seru. Tapi tenang aja!
Endingnya nanti happy ending kok! Tapi dengan cara yang menurut saya aneh(?)*hehehe:D
Mako-chan : Iya Mako-san. Saya juga sebenarnya sama kayak kamu. Ta-tapi jangan di bawain golok,ya ? *Jurus puppy eyes* Akan saya kabulkan sesuai permintaan Mako-san! Itu pasti! Makasih juga buat review dan semangatnya ...ya...
Hachikodesuka : Ah, makasih buat pujiannya!*hehe-maaf-terlalu-berbunga-bunga* ini udah saya lanjutkan, walaupun telat (T_T), maaf,ya? Makasih banget buat reviewnya,ya.
Pcherry : salam kenal juga ..
maaf, ya ? soalnya jalan ceritanya seperti itu, tapi tenang aja, nanti bakalan happy ending kok! Makasih buat review dan sarannya ...
Hidan gila : nanti bakalan happy ending,kok! Tapi caranya agak berbeda dari cerita lainnya! Oke-sip! Nanti bakalan saya buat Sasuke juga merasakan sakit yang sama dengan Sakura, jadi tenang aja ?! Makasih buat review, semangat dan sarannya ..
Clarist : baik! Ini sudah saya lanjutkan. Saya juga sependapat dengan Clarist-san, tapi maaf ya, kalo disini Sakura saya buat menderita? Maaf, ya kalo chapter ini telat? Tapi tenang aja, Chapter ketiga saya usaha'in updet kilat! Makasih buat review dan semangatnya ..
Fivani-chan : aduh, maaf, ya Fivani-san? Soalnya kalu Sasu gak tega nanti gak seru lagi?! Ini dia chapter 2, udah saya updet... pastinya, Sasuke akan menyesal karna udah mengkhianati orang yang mencintainya -Sakura- makasih buat review sekaligus semangatnya,ya!
Sasusaku kira : Salam kenal, kira-san. Boleh saya panggil begitu? *hehe-jadi-ngikutin-kata"nya-*
Iya, gak pa-pa kok . Makasih bangeeet, buat pujiannya *ehehe-maaf-terlalu-nge'Fly-* ehehe, maaf ya, kalau disini tokoh Sasuke terlalu OOC banget, habisnya saya terlalu suka kalau Sasuke jadi OOC (T_T), sekli lagi maaf,ya? Haha,iya KARMA-nya pasti lebih terasa nantinya! Hm,saya usahakn lebih chapter selanjutnya lebih menarik dari chapter ini! Makasih banyak buat review,semangat dan kritikan'nya. Tapi maaf, updetnya agak telat,hehehe..:D
POKOKNYA, MAKASIH BUANGET
BUAT SEMUA READERS DAN REVIEWERS ATAS SEMANGAT, KRITIK,
SARAN, DAN PUJIANNYA! *saya-terlalu-senang-sekali*
Oh,iya buat yang login, saya balas di PM,ya?!
