Stupid of Game

By : Seyora Kurohana

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Stupid Game © Seyora Kurohana

Rated : T

Genre : Drama, romance(sedikit?!)

Summary : Aku tahu, kau sudah bosan dengan ikatan ini.

Jadi, biarkan aku memotong ikatannya!

Setelah itu, kau bisa bebas!

Kau boleh, menyebut ini semua hanya permainan bodoh.

Warning : AU, bad feel, Crack Pair, OOC, semi-OC,

Ke-kaku-an bahasa, cerita abal, penuh Typo(s),

don't like, don't read!

Enjoy read

.

.

.

.

Chapter 3 : Last of Game

.

.

.

.

To: Sasuke-kun

Aku tahu, kau sudah bosan dengan ikatan ini. Jadi, biarkan aku memotong ikatannya!

Setelah itu, kau bisa bebas! Kau boleh, menyebut ini semua hanya permainan bodoh.

Semoga kau bisa berbahagia dengan penggantiku Sasuke! Dan terima kasih banyak, karena selama ini kau telah bersedia untuk menjadi pemilik hatiku.

Satu paragraf kalimat di atas mampu meruntuhkan pertahanan seorang Uchiha Sasuke saat itu juga. Perasaan bersalah kembali mengkungkungnya dengan erat. Dan kali ini, Sasuke bisa merasakan bagaimana kesakitan-nya Sakura saat mengetahui bahwa dia telah selingkuh dengan gadis lain.

'Ne, Sakura. Aku sudah merasakan karmanya sekarang ini. Gomen, Sakura!' innernya dengan penuh penyesalan.

Kedua telapak tangannya tertelungkup tepat didepan wajahnya. Tanppa disadarinya, sifat Uchiha-nya sedikit terlupakan saat ini. Isi surat itu benar-benar memukul telak keadaan Sasuke saat ini. Semuanya terasa kejam dimatanya. Baik itu jalan takdir ataupun perlakuannya pada Sakura-yang saat ini mngkin sudah berstatus sebagai mantan kekasihnya.

Dari kejauhan, sahabat jabrik-nanas-nya menatapnya dari jauh tanpa disadarinya. Sebuah ekspresi nanar dan sesal terpasang rapi di wajah Naruto. Mungkin dalam hatinya, dia sangat menyesal melihat sikap Sasuke terhadap Sakura, kali ini.

Tepat saat Sasuke mendongakkan kepalanya ke arah samping, matanya menangkap siluet Naruto yang terlihat menjauh. Kepalnya saat ini tengah dipenuhi oleh rangkaian kat penyesalan dan permohonan maaf pada gadis bersurai pink yang masih ditangani oleh dokter di ruang ICU.

Sementara itu, seorang pemuda berambut merah darah yang saat itu tengah berdiri di depan pintu ICU terus menghembuskan nafas gelisah sedari tadi. Dialah Haruno Sasori, kakak kandung dari seorang Haruno Sakura. Pikiran negatif mulai berseliweran dikepalanya saat dirasanya sudah 1 jam lebih dokter yang menangani adik semata wayangnya itu tak kunjung keluar dari pintu didepannya.

Rasa kesal sudah menumpuk lebih banyak di rongga dadanya saat ini, namun amarahnya berusaha ia tahan agar ia bisa terus menjaga adiknya. Karena jika dia marah, dan melampiaskannya pada Sasuke, maka hal itu akan berlangsung sangat lama.

Ruang tunggu itu terasa sepi. Yang terdengar hanyalah isak tangis Ino yang sesekali terdengar,dan gumaman kalimat penenang yang diucapkan Hinata dan Naruto secara bergantian, serta suara gerakan jarum jam dinding yang berada di dinding tak jauh dari tempat duduk Ino, Hinata, dan Naruto.

Hingga akhirnya, suara gumaman dan sesenggukan itu lenyap, digantikan oleh suara dengkuran halus dan suara helaan nafas lelah menudara, sang dokter yang menangani Sakura tak kunjung keluar menampakkan diri hanya untuk sekedar mengatakan bagaimana keadaan pasien yang ditanganinya itu.

Deg. Deg. Deg. Deg.

Bahkan suara detak jantung ke empat orang yang tengah duduk di depan ruang ICU itu mulai terdengar bergema secara bergantian. Membuat suasana yang tadinya sunyi senyap bertambah menjadi suram.

CEKLEK...

Suara pintu terbuka itu langsung menyadarkan Sasori dari lamunannya, begitu juga Naruto, Ino, dan Hinata. Ke empat orang itu langsung berdiri dari duduknya, untuk melakukan 1 hal. Menanyakan bagaimana keadaan Sakura terhadap sang dokter.

"Bagaimana keadaan adik saya, dok ?" tanya Sasori dengan nada penuh kekhawatiran.

"Apakah Sakura-chan baik-baik saja, dok?"seru Ino dengan suara paraunya sehabis menangis.

"Sakura-chan tidak mengalami luka parah kan, dok?" serbu Naruto cepat.

"S-Sakura-chan tidak a-pa-apa kan, dok?" tanya Hinata memastikan.

Mendapat begitu banyak pertanyaan, sang dokter hanya menghelanafas pelan lalu berkata,

"Lebih baik, kalian ikut saya masuk ke ruang rawat nona Sakura!"balas sang dokter pelan, lalu dibalas anggukan oleh ke empat orang didepannya itu. Kelima orang tersebut-pun berjalan memasuki ruang ICU dengan perlahan setelah sebelumnya, mereka berlima memakai pakaian khusus untuk memasuki ruang ICU.

Sasuke saat ini tengah berada di taman rumahsakit. Hanya sendirian. Tanpa ditemani oleh siapapun, bahkan oleh Karin sekalipun. Wajah tampannya yang bagaikan malaikat, saat ini hanya menampilkan raut lelah, bersalah, dan raut menyesal. Sepasang mata onyx-nya bersinar sayu, seakan memperlihatkan kepedihan hatinya yang saat ini ditahannya mati-matian agar tak meluap keluar bersama amarahnya terhadap dirinya sendiri.

Entah kenapa, perasaannya saat ini mengatakan bahwa dia terlalu pengecut untuk melihat keadaan Sakura saat ini. Bahkan setitik keberanian-pun tak dimilikinya jika itu menyangkut tentang Sakura. Wajahnya yang memerah akibat sinar matahari yang menyengat sebagian wajahnya membuat-nya terasa seperti seorang penjahat.

Penjahat yang dengan teganya melukai seorang gadis tak bersalah, lalu secara perlahan menambah luka hati gadis tersebut. Senyum pahit kembali terukir di bibirnya. Dirasanya, kesempatannya untuk menebus kesalahnnya itu telah menipis dan hampir tak ada. Membuat jiwanya terombang-ambing dalam lautan sesal dan sakit hati yang sangat dalam. Bahkan jika dia berenang sekuat apapun, jiwanya itu tak akan mencapai tepi dari lautan tersebut.

'Kami-sama, jika ini memang hukuman darimu, beri aku 1 jalan agar dapat menyelesaikannya!' innernya berusaha memohon pada Kami-sama.

Malampun menjelang kota Konoha.

Keadaan di Konoha International Hospital mulai terasa agak lengang karena sebagian oarang yang menjenguk para pasien sudah lebih berkurang dari siang tadi. Di depan pintu ruang ICU tempat Haruno Sakura dirawat, berdirilah seorang pemuda berrambut emo . Uchiha Sasuke, berdiri gelisah didepan ruang rawat Sakura dengan membawa sebuah bingkisan di tangannya. Rasa ragu masih menuasai pikiran Sasuke, hingga membuatnya berdiri agak lama di depan pintu ruang ICU tersebut.

Dengan memantapkan hati, akhirnya dibukanya pintu ruang ICU itu secara perlahan. Matanya berpendar, menyapukan pandangannya keseluruh ruang itu. Yang ada disana hanyalah Sakura yang terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit dengan berbagai kabel alat medis yang tertempel di tubuhnya.

Lalu, Sasuke masuk kedalam ruang itu dengan memakai pakaian khusus untuk memasuki ruang ICU. Kakinya melangkah pelan mendekati tempat Sakura terbaring dengan wajah pandangannya jatuh pada dahi Sakura untuk pertama kalinya. Dahi dari wanita yang telah menggenggam hatinya itu diperban oleh kain kasa.

Lalu, matanya menatap kelopak mata Sakura yang saat ini menyembunyikan sepasang emerald yang selalu berbinar cerah saat menatap dirinya. Tangannya bergerak perlahan menuju pipi tembam milik Saakura yang saat ini terlihat pucat.

Mulutnya terkunci rapat saat kilasan kejadian siang tadi menghampiri ingatannya. Walaupun sebenarnya, dia ingin sekali mengatakan sesuatu kepada gadis manis yang terlihat tengah tertidur didepannya itu.

"Sakura, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Tapi, jangan memarahiku ya!"ucap Sasuke dengan suara lirih,"Apa aku masih boleh mengucapkan kata maaf padamu?" pertanyaan yang telah dirangkai Sasuke sedari tadi itu, akhhirnya keluar juga dari mulutnya.

Dan dengan perlahan, kelopak matanya tertutup. Hendak menyembunyikan sepasang onyx miliknya.

"Aku tahu, aku memang laki-laki bodoh yang dengan beraninya menyia-nyiakanmu! Aku memang laki-laki kurang ajar yang dengan lantangnya mengucap kata-kata kasar padamu! Aku memang laki-laki tak bertanggung jawab yang dengan seenaknya menghancurkanmu!"kata-kata Sasuke terdengar menyayat hati walaupun di telinganya sendiri.

"Aku juga sangat mengakui, jika aku memanglah-" ucapan Sasuke terpotong oleh sebuah suara kenop pintu yang dibuka.

CEKLEK...

Pintu ruang tersebut-pun terbuka, menampakkan seorang pemuda bersurai merah darah dengan raut lesu yang menempel erat diwajahnya. Sasori –pemuda yang membuka pintu ruang ICU tersebut- melangkah pelan mendekati ranjang rumahsakit yang saat itu tengah ditempatioleh Sakura yang masih dalam keadaan tidak sadar.

Kemudian, tubuhnya berdiri didekat ranjang Sakura. Sementara kedua tangannya bergerak menggenggam telapak kiri tangan Sakura. Kepalanya sedikit menunduk kebawah- bermaksud menatap raut pucat yang mendiamai wajah cantik adiknya itu.

Sebulir cairan bening meluncur mulus dari sepasang jade'nya. Hal itu semakin menampakkan betapa khawatirnya dirinya terhadap Sakura.

"Gomen, Sakura... aku tak bisa menjagamu. Kakak macam apa aku ini?"gumamnya tak jelas.

Sementara Sasuke yang mendengar serta mengintip adegan itu, merasa semakin menyesal, bersalah, dan merasa bahwa dirinya-lah dalang dari kecelakaan yang menimpa Sakura. Biibrnya bergetar menahan airmatany yang telah menggumpal di sepasang onyx-nya. Mungkin, saat ini dia tak bisa mempertahankan sifat Uchiha-nya .

Dengan berat hati, Sasuke segera meninggalkan halaman samping kamar rawat Sakura karena tidak tahan menderang ucapan Sasori yang dirasanya menambah rasa sakit dalam hatinya.

Keesokan harinya, Sasuke kembali menjenguk Sakura di Konoha International Hospital. Namun, tiba-tiba sebuah pemandangan asing tergelar apik didepan mata kepalanya.

Didepan pintu ruang ICU yang ditempati Sakura, Naruto berdiri sambil memeluk Hinata yang saat itu sedang menangis histeris. Sementara itu, disampingnya, Sasori berdiri mematung memandangai kaca pintu ruang ICU. Pandangannya terliht kosong, tak ada kilas semangat hidup.

Dengan cepat Sasuke menerobos masuk keruang ICU didepannya iitu tanpa dihalangi oleh Sasori. Perasaannya mengatakan ada yang tidak beres didalam sana. Dan benar saja, saat dirinya masuk kedalam, terlihat sesosok tubuh diselimuti selimut putih rumahsakit yang menandakan bahwa orang dibaliknya telah tak bernyawa.

Disamping ranjang tempat Sakura dirawat, berdirilah Ino dengan wajah penuh kekosongan seperti mayat hidup. Sementara dari kedua aquamarin-nya, terbentuk sungai kecil yang mengalir deras tanpa ada yang berusaha mencegahnya.

Suasana damai yang menyertai angin kencang yang terjadi diluar rumahsakit, seakan menjadi pertanda bagi Sasuke, bahwa sebuah kejadian buruk tengah menimpanya.

Kakinya melangkah perlahan-lahan kearah ranjang rumahsakit sampai disamping ranjang itu, tangannya terangkat untuk membuka selimut putih tersebut.

JLEGAR... GLUDUK... GLUDUK...

Liquid bening itu langsung menjatuhkan diri dari sepasang onyx milik Sasuke tanpa aba-aba. Hal itu seakan sebuah sinyal buruk yang diiringi dengan suara guntur yang tiba-tiba menggelegar tanpa adanya mendung ataupun hujan.

Tes. Tes. Tes.

Tetesan air langsung membasahi kain putih yang saat ini dipegang tangan Sasuke. Bersamaan dengan turunnya hujan deras yang pagi itu langsung mengguyur kota Konoha walaupun matahari bersinar cerah.

ZZRRRRSSSHHH...

Tangan Sasuke langsung menyingkap seluruh kain putih itu dari tubuh Sakura. Memperlihatkan tubuh kaku gadis bersurai pink itu yang kini terlihat terlelap dalam tidur damainya yang panjang.

"SAKURA... BANGUN! KAU DENGAR AKU? JIKA IYA BANGUN!"jerit Sasuke tiba-tiba dengan suara yang menggema keras.

Diguncang-guncangkannya tubuh Sakura dengan pelan. Bermaksud membuat Sakura membuka kelopak matanya. Dia tak peduli sedikitpun jika dia akan dianggap gila oleh orang-orang.

Tubuhnya merosot jatuh kelantai putih dibawahnya dengan suara debuman agak keras. Sementara tangannya dengan setia masih menggenggam telapak tangan dingin Sakura.

"Gomen Sakura, gomenne... aku memang makluk paling jahat didunia ini! Tapi jangan hukum aku seperti ini?! Aku sebenarnya sudah lama ingin melamarmu"lirih Sasuke seakan tak bertenaga.

Tiba-tiba saja, Sakura membalas genggaman tangan Sasuke. Sasuke yang terkejut dengan hal itu,langsung mendongakkan kepalanya menghdap wajah Sakura.

Didepannya saat ini, wajah Sakura terlihat cerah-ralat, sangat cerah dengan tambahan binar bahagia dan senyum manis terpatri indah diwajahnya.

"Sakura?" ucap Sasuke memastikan.

"Ne, Sasuke-kun. Ini aku, Sakura. Aku juga sudah memaafkanmu!" balas Sakura dengan suara jernih yang mengisyaratkan bahwa dia terlihat sehat.

"Ka-kau? Apa yang terjadi?"tanya Sasuke seperti orang linglung.

"Bangunah Sasuke-kun!"pinta Sakura, lalu membantu menarik Sasuke agar segera berdiri.

"Ne, Sasuke-kun. Pertama-tama aku ingin minta maaf, karena selama 6 bulan ini aku membohongimu"ucap Sakura perlahan. Dahi Sasuke mengernyit heran saat mendengar ucapan Sakura.

"Selama ini, aku berusaha menguji keseriusanmu dalam hubungan kita dengan mmengenalkan Karin-san padamu. Tapi, kau malah terpikat sungguhan dengannya, jadi aku terpaksa sedikit menghukum'mu!" lanjut Sakura," Dan, akhirnya... kau telah memilih siapa yang akan menerima seluruh cintamu".

"Dan juga, aku ingin meminta maaf padamu, Sakura-san, atas sikapku yang terlalu mendramatisir kemarin"sambung seseorang didepan pintu ruang ICU. Sakura langsung menengok kearah pintu, dan dilihatnya Karin berdiri disana dengan senyum penyesalan yang terppatri diwajahnya. Sakura balas tersenyum ramah.

"Ne, Karin-san. Aku sudah memaafkanmu kok!" balas Sakura lembut.

"Jadi, kalian semua bersekongkol untuk menguji keseriusanku dalam hubunganku dengan Sakura-hime?"sentak Sasuke sambil menatap Naruto, Hinata, Sasori, Ino, dan Karin secara bergantia dengan pandangan marah.

"Ehehe, gomen,ne Teme! Itu semua karena permintaan Sakura!"sahut Naruto dengan cengiran lucunya.

"Ne, Sasuke. Aku juga minta maaf, karena aku tak mau jika adikku menyesal setelah bertunangan denganmu nantinya! Jadi, kucoba saja ide Sakura ini"tambah Sasori dengan wajah bersalahnya yang seakan merasa menyesal.

"Ne, Sasuke! Jangan salah paham padaku! Karena aku juga sudah punya tunangan sendiri"ucap Karin dengan ringisan senyum memelas.

"Dan juga, sebenarnya Sakura itutidak apa-apa! Dia hanya lecet-lecet saja kemarin!"kata Ino membuka suara.

"Ne, Sa-Saauke, kami be-benar-benar hanya ingin me-menguji kesetia'an mu pa-pada Sa-Sakura-chan"kali ini suara itu berasal dari Hinata.

"Huft, tahu seperti itu, aku tak usah menangis saja tadi!"balas Sasuke dengan kalimat pura-pura menyesal.

"APA?" pekik kesal seluruh orang dalam ruangan itu kecuali Sasuke menggema. Rupanya permainan sandiwara dari Sakura, Ino, Hinata, Naruto, Karin dan Sasori yang terjadi selama 6 bulan ini membuahkan hasil baik-walupun sedikit lecet disana-sini.

.

.

.

.

.

.

-The End-

gimana endingnya? apakah kurang bagus? kurang Seru? atau menjengkelkan? saya harap, semua readers menyukai endingnya walaupun mhngkin

kurang bisa dipahami. Dan juga buat : Nabila, Namika, Uchiha, Ryouta Shirou, Sasusaku loversss,

Mako-chan, Hachikodesuka, Pcherry, Hidan gila, Clarist,

Fivani-chan,SasuSakuSasoGaa,Sasusaku kira, Merrya Narcissa Bellatrix,

Chii No PinkyCherry : POKOKNYA, MAKASIH BUANGET

BUAT SEMUA READERS DAN REVIEWERS ATAS SEMANGAT, KRITIK,

SARAN, DAN PUJIANNYA! *saya-terlalu-senang-sekaliJ*

Oh,iya buat yang login, saya balas di PM,ya?!