"Ino? Ino? Ino apa kau mendengarku?"
"Hentikan, Sasori. Sakura membutuhkanku." Gadis pirang bernama Ino itu berusaha melepaskan pria berambut merah yang sejak tadi memeluk dan mencari kenikmatan dengannya.
"Tapi aku lebih membutuhkanmu. Kau tahu itu."
Mendesah menahan nikmat akibat dari hujaman Sasori kepadanya berupa kecupan-kecupan di leher, Ino kembali bersuara. "Ingat. Sakura masih kekasih sahmu, Sasori. Aku tidak mau dia mengetahui hal ini."
Sasori terdiam, menghentikan kegiatannya seketika. Sepasang hazel milik pria itu menatap tajam Ino, tidak suka bagaimana kekasih lainnya mengingatkan hal tabu tersebut.
"Ino, apa kau di sana?" Suara Sakura kembali terdengar dalam ruangan penuh komputer yang ditempati Ino dan Sasori.
Pria berambut merah itu menggeram pelan ketika suara yang dikenalnya terus memanggil nama kekasih lainnya. Dengan berat hati, Sasori melepaskan cengkeramannya pada Ino dan membiarkan gadisnya kembali bekerja.
"Maaf, Sakura. Aku baru saja dari kamar mandi," dusta Ino seraya melirik Sasori yang balik menatapnya dingin. Terang saja pria itu marah karena kegiatan mengasyikkannya diganggu oleh gadis yang sudah membosankan baginya. Dan itu selalu. Sakura selalu mengganggu kebutuhannya dengan Ino. Sangat menyebalkan.
"Ino, apa Sasori ada denganmu? Aku ingin bicara dengannya," pinta Sakura.
Ino menatap Sasori sejenak. Mengerti akan apa yang dibicarakan kekasihnya dengan kekasihnya—karena memang dia bisa mendengar suara Sakura—Sasori meraih headset yang baru saja dilepaskan Ino.
"Ada apa, Sakura-ku?" Dengan sangat spontan pria itu mengubah suaranya menjadi sangat lembut, suara yang sangat disukai Sakura.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
AU, OOC, Typo, etc
-M for Profanity and Violence-
.
Special Thanks to:
Seiya Kenshin, ShifukiKafudo, Tsurugi De Lelouch, Liby Qyu, Chichoru Octoba, white moon uchiha, aguma, akasuna no ei-chan, Dei' Re-kun, kHaLerie Hikari, Magenta Flow, Natsuyakiko32, Andre Uchiha, uchiharuno susi, sasusaku forever, yamaneko achil, sasusaku uciha, Aku, Rey-chan, Saga desu, agezia, Karasu, ocha chan, HazukiFujimaru, hachiko desuka, SasuSakuSasoGaa, iya baka-san, furiikuhime, salsalala, dheeviefornaruto19, cheryxsasuke,
.
oOo
"Sasori, kau bilang bahwa misiku kali ini adalah menculik seorang bocah, bukan?" Sakura bertanya tanpa mengalihkan pandangannya pada pria yang mengaku bernama Uchiha Sasuke. Pria itu kini sedang membalut lukanya sendiri sebisanya dengan kain dan tangan Sakura tetap setia menodongkan pistol ke arahnya.
"Iya, benar. Tentu saja seorang bocah … seperti kita."
"Apa maksudmu 'seperti kita'?" Sakura menuntut penjelasan.
"Hey, Gadisku, apa kau tidak mengerti? Yang memberikan misi ini adalah seorang pria tua—Danzou, kau kenal dia, 'kan?—dan bukankah itu berarti jika dia melihat orang yang lebih muda darinya dia pantas manyebutnya bocah?"
Sakura terdiam. Ada perasaan tidak nyaman yang menyergap pikirannya saat ini. Entah mengapa sebagian hatinya mengatakan bahwa dia tengah dimainkan. Namun dia sama sekali tidak berani menduganya. Tidak berani. Bukankah Sasori masih mencintainya? Itu yang sering dia katakan pada Sakura.
Tapi, kalau memang yang harus dihadapinya adalah pria dewasa, kenapa mereka—Sasori dan Ino—tidak langsung mengatakannya? Terlebih Sasori, kekasihnya. Kenapa pria bermata hazel itu tidak menjelaskan semuanya dengan rinci sekaligus memberikan fotonya, malah mengatakan Ino yang akan menunjukkan semuanya dan dijamin akan langsung bertemu dengan target?
Baiklah, nyatanya Sakura memang bisa langsung berhadapan dengan target. Hanya saja...,
"Kenapa kau tidak menjelaskannya sejak awal?" Sakura menyuarakan isi hatinya.
"Hey, Cantik, kupikir kau sudah mengerti apa arti kata itu."
"Tapi … tidak ada salahnya jika kau menjelaskan, bukan? Apa kau berniat menipuku?" Mulai ada kegelisahan saat Sakura bertanya mengenai hal itu. Bahkan dia sudah menurunkan tangan yang sejak tadi mengacungkan pistol ke arah Sasuke dan berpaling darinya—melupakan pria itu.
"Tidak…. Tidak! Sekarang begini saja, kau sudah menggunakan tenagamu untuk sampai ke rumah itu dan kau tidak mungkin kembali dengan tangan kosong, 'kan? Jadi, ada baiknya jika kau menyelesaikan misi ini atau kita semua akan dalam bahaya. Kau tahu bahwa Danzou bukanlah orang sembarangan."
"Jika dia bukan orang sembarangan, kenapa dia memerintahkanku untuk misi ini? Kenapa tidak menyuruh bodyguard-nya saja yang memiliki tubuh lebih kekar dan berjumlah banyak?"
Sasuke baru saja selesai membalut lukanya ketika dia mendengar ada sedikit isakan di antara ocehan Sakura pada seseorang yang dia hubungi. Melihat kelakuan gadis itu, dia menggeleng seraya mendengus pelan. Benaknya bertanya sesuatu: Apa benar gadis bodoh itu adalah penjahat ulung? Jika memang benar, seharusnya dia waspada. Sasuke bisa saja memukul atau membalas perbuatannya ketika dia lengah, bukan?
Bahkan gadis itu sama sekali sudah tidak fokus pada targetnya. Menyedihkan, pikir Sasuke.
Benar juga! Merasa ada celah, Sasuke mulai berdiri dari duduknya dan berjalan mengendap. Mungkin saja dia beruntung bisa kabur dari ruangan itu atau minimal dia harus bisa menjangkau pemukul baseball dari dalam lemarinya untuk memukul Sakura. Setelah itu dia akan memerintahkan anak buahnya untuk membuang gadis bodoh itu entah ke mana.
Oh, rencana menyedihkan yang sama sekali bukan Uchiha. Tapi, meskipun pria tampan itu adalah pemilik nama Uchiha, bukan berarti dia harus melawan Sakura sembarangan, 'kan? Gadis merah muda itu membawa senapan, ingat?
Sakura mengusap matanya yang sedikit berair saat sepertinya orang yang berada di seberang sana sudah memutuskan sambungan wireless. Kembali emerald bulat milik gadis itu menatap galak Sasuke dan menodongkan pistol pada—
—tunggu! Mana pria tinggi itu?
Dengan sigap mata Sakura beralih pada seluruh ruangan namun dia sama sekali tidak menemukan pria itu. Bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa Sasuke baru saja keluar ruangan melalui pintu besar di depan sana. Apakah pria itu memang memiliki kecepatan seperti setan?
Baru saja Sakura akan berlari keluar dari kamar tersebut, tiba-tiba saja dia merasa ada yang menarik tangan kanannya dan menikung tangan gadis itu di pinggangnya. Orang yang sama sekali tidak Sakura ketahui itu merebut pistol di tangan kanan Sakura dengan paksa dan langsung menodongkannya di pelipis gadis itu.
Beruntung Sakura masih memiliki satu pistol lagi di tangan kirinya sehingga dia pun punya kesempatan untuk menodongkan pistol di kening orang yang menyandranya.
"Jadi, apakah kita saling mengunci?" Napas hangat pria itu menerpa telinga Sakura saat dia bertanya. Suaranya terdengar seperti alunan bernada bariton yang mampu membuat siapa saja yang mendengarnya pasti melayang. Termasuk Sakura yang saat ini sudah sangat mendegupkan jantungnya dengan kencang.
Gila! Punya pesona apa pria ini hingga Sakura bisa sangat gugup begitu?
"Kau berniat membalas perlakuanku padamu tadi, Uchiha?" Sakura balas bertanya ketika dia sudah menyadari siapa pria yang menyandranya.
"Bedanya, aku tidak berniat memperkosamu," seringainya.
Keheningan menyelimuti mereka, saat ini. Hanya ada deru napas yang memburu dari masing-masing individu yang berada di ruangan tersebut. Entahlah apa yang dipikirkan Sasuke namun Sakura sendiri sedang memikirkan cara bagaimana agar dia bisa lepas dari jeratan pria memesona itu. Bagaimanapun juga, lawannya kali ini adalah pria tinggi dan bertubuh atletis yang kemungkinan lebih kuat dari dirinya.
Merasa segala sesuatunya sudah sesuai dengan perhitungan, Sakura mulai beraksi. Dengan kecepatan yang dia latih sejak lama dia berbalik dan menjauh untuk kemudian menendang lawan dengan kaki kirinya sekuat tenaga.
Refleksi Sasuke ternyata cepat sehingga dia sempat menangkis tendangan Sakura yang tertuju pada bahu kirinya. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di samping tubuh untuk melindunginya dari serangan mendadak tersebut.
Saat Sakura sudah berdiri tegak dan menghadap Sasuke seraya kembali menodongkan pistolnya, Sasuke masih dalam posisi membungkuk dan itu tentu saja sangat tidak menguntungkannya.
Sakura menyeringai. "Kau kalah cepat. Jatuhkan pistol itu dan menyerahlah. Kau sedang berhadapan dengan penjahat yang cerdas, kau tahu?" perintah Sakura.
Sasuke bergeming sejenak. Setelah dia mendapat gertakan dari Sakura untuk yang kesekian kali, pria itu menunduk perlahan untuk melepaskan senapan yang tadi digenggamnya. Selanjutnya, dia menuruti aba-aba Sakura yaitu menendang benda beramunisi tersebut.
Sepertinya keberuntungan memang berpindah-pindah antara dua orang berbeda gender itu. Seperti yang sudah lalu, kini Sasuke yang memiliki kesempatan untuk menendang dagu Sakura yang sebelumnya menunduk untuk meraih pistol.
Katanya cerdas, tapi memungut pistol malah menghilangkan kewaspadaan seperti itu. Dasar, gumam Sasuke dalam hati seraya menyeringai.
Kesempatan tersebut sepertinya memang berpihak pada Sasuke terbukti dari terlemparnya Sakura hingga punggungnya membentur buffet yang tidak jauh dari mereka. Kontan saja akibat ketidakseimbangan itu, senapan yang digenggamnya terlempar entah ke mana.
Sasuke kembali bergerak, berinisiatif untuk benar-benar membuat gadis licin itu takluk dalam serangannya. Dia melompat menerkam Sakura yang berniat bangkit dari jatuhnya. Otomatis saja posisi pria itu berada di atas Sakura, sekarang.
Akhirnya aksi saling pukul dan tampar pun terjadi di ruangan itu. Sasuke sama sekali tidak mengindahkan nasihat mendiang ibunya yang mengatakan seorang pria tidak boleh memukul wanita apa pun kondisinya.
Namun kali ini Sasuke sama sekali tidak salah. Bukankah dia sedang dalam bahaya?
Serangan dua manusia itu masih berlanjut hingga keduanya sama-sama mengeluarkan peluh dan bernapas gusar demi membela diri. Kadang Sakura yang berada di atas dan Sasuke yang menerima pukulan, terkadang juga posisi berbalik.
Pada intinya, mereka sama-sama memiliki kekuatan yang besar.
.
.
.
"Grh! Apa-apaan kau? Lepaskan!" teriak Sakura dari dalam sana. Beberapa bodyguard yang merasa masih memiliki kewajiban untuk melindungi tuannya, berjengit heran tatkala mereka mendengar suara-suara aneh yang muncul dari ruangan itu.
"Aku tidak akan melepaskanmu," sahut seorang pria yang terdengar sangat familiar di telinga mereka. Tentu saja karena dia adalah atasan yang selama ini berkuasa penuh atas rumah tersebut. "Aku sudah lama…," suaranya terdengar lelah dan terputus, "… tidak menikmati hal ini."
"Tuan Hatake, sepertinya tidak seharusnya kita berada di sini," usul salah satu dari mereka kepada bodyguard yang terlihat lebih tua. Bukan hanya bodyguard, tapi pria bernama Hatake itu adalah pimpinan semua anggota di dalam rumah tersebut. Singkatnya, dia adalah kaki tangan Sasuke.
Hatake hanya menempelkan jari telunjuk di bibirnya dan kembali fokus pada kegiatannya menguping.
"Aangh! Kalau begitu … uhh," suara Sakura terdengar lagi. "… baiklah. Ngh!"
Keringat dingin mulai mengalir di pelipis semua bodyguard yang berdiri tegap di depan pintu itu tatkala selanjutnya suara geraman, erangan, dan teriakan seorang gadislah yang mendominasi dan terkadang disusul suara seorang pria yang mengaduh lirih.
Tak jarang salah satu dari mereka menelan saliva karena tegang—memikirkan apa yang dilakukan oleh dua manusia berbeda gender di dalam sana. Ingat, mereka memiliki jenis kelamin berbeda yang artinya ... bisa saling mengisi kekosongan. Itu yang dipikirkan oleh bodyguard-bodyguard tersebut.
"Tuan Hatake, aku yakin bahwa boss kita baik-baik saja. Bahkan mungkin lebih baik dari biasanya. Bisakah kita—"
"—Aaaaaaaaaaaargh…!"
Serentak, semua bodyguard di situ saling melempar pandang satu sama lain saat mereka mendengar lolongan dari boss mereka.
Sebenarnya apa yang terjadi di dalam sana?
Merasa penasaran, dengan cepat pria Hatake itu bergerak untuk mendobrak pintu yang memang sudah tidak bisa tertutup sempurna—masih ingat, 'kan, bahwa Sakura sudah menghancurkannnya?
Sekejap, semuanya hening ketika melihat posisi dua orang itu yang terlihat begitu ekstrim: Sakura sedang berada di atas tubuh Sasuke dan pria tampan itu memeluknya. Ekstrimnya lagi, bibir Sakura berada di sisi sebelah kiri kepala Sasuke dan tangan si pria sedang mengelus rambutnya. Lebih ekstrimnya lagi, mereka benar-benar berkeringat. Oh! Bahkan Sasuke masih mengenakan handuk yang beruntungnya sama sekali belum terlepas.
Menyadari ada yang memerhatikan, Sasuke dan Sakura menghentikan kegiatannya dan menatap garang kepada para bodyguard. "Jangan ganggu kami!" teriak mereka kompak, seperti sudah terencana.
"Benar, bukan, Tuan Hatake? Sebaiknya kita tinggalkan mereka."
Tanpa menunggu jawaban dari pemimpin bodyguard itu, mereka semua berlari menjauh dan Hatake kembali menutup pintu lalu menyusul mereka. Gila! Pria bernama lengkap Hatake Kakashi itu telah mengganggu kesenangan tuannya. Bisa-bisa dia akan dipecat setelah ini.
"Aku tidak menyangka bahwa gadis itu tidak hanya mengalahkan pertempuran melawan kita tapi juga pertempuran melawan Uchiha-sama. Apa kau tidak melihatnya, tadi? Dia berada di atas dan Uchiha-sama berteriak keras karena kehebatan-nya," kata salah satu dari mereka antusias. Selanjutnya, entah mengapa sekumpulan bodyguard yang sangar itu menjelma menjadi ibu-ibu arisan yang tengah bergosip.
.
.
.
"Sebaiknya kau menyerah, Uchiha!" geram Sakura berusaha mencekik leher pria itu sementara kedua tangannya berhasil dicengkeram oleh korbannya.
"Setelah kau menggigit telingaku? Enak saja!" belanya tidak mau kalah.
"Kau juga sudah menjambak rambutku hingga rontok, kau tahu?"
"Kau duluan yang menamparku!"
"Kau memukulku sebelum ini!"
"Kau menendangku!"
"Kau memukulku hingga beberapa kali!"
"Kau menciumku."
"Kau juga—apa?" Sakura terbelalak hingga gerakannya terhenti. Dan itu adalah kesempatan bagi Sasuke untuk mengguling Sakura dan kembali memosisikan gadis itu agar dia berada di bawah—seperti sebelumnya.
"Kau mengaku saja bahwa saat kau menggigit telingaku…," Sasuke mengambil napasnya yang tersengal. "… kau mencuri kesempatan untuk menciumku, 'kan?" lanjutnya payah. Tenaganya benar-benar habis karena gadis itu. Sial! Sakura benar-benar seperti monster.
"Kau juga berkesempatan membelai rambutku dengan modus menjambaknya. Iya, 'kan?" Sakura masih tidak mau kalah padahal tubuhnya sudah terkunci oleh tubuh kekar Sasuke.
"Hey…," Sasuke melirihkan suaranya.
Mendengar itu, Sakura merasa terhipnotis untuk berhenti dari rontaannya dan memerhatikan apa yang akan dikatakan oleh pria di atasnya.
"Kau tidak akan bisa mengalahkanku," pria itu memperingatkan. Masih dengan suara lirihnya.
Sakura terdiam. Benar juga. Mereka sama-sama kuat. Entah Sakura yang terlalu kuat atau pria itu sengaja mengalah untuk bisa mempermainkannya atau bagaimana. Gadis itu sendiri tidak tahu. Namun sebagian hatinya mengatakan bahwa pria itu bisa saja membunuh Sakura dalam sekali kedipan jika dia berniat.
Sepi masih menyelimuti mereka dan kedua orang itu masih saja bertahan dalam posisinya—Sasuke yang duduk di atas perut Sakura. Napas mereka beradu, sama-sama memburu karena tenaga yang mereka keluarkan begitu besar.
Sakura merasa bahwa misinya benar-benar harus berhasil karena dia sangat membutuhkan uang. Jika pria di atasnya itu lolos, sama saja artinya dia menyerahkan nyawa pada Tuhan. Tidak! Itu tidak boleh terjadi.
Sakura mengambil napasnya dan sedikit menoleh ke arah kiri untuk merilekskan diri. Beruntung sekali pria berklan Uchiha itu tidak menyerangnya lagi.
Tiba-tiba, sebuah ide muncul begitu saja ketika matanya menangkap sesuatu yang sepertinya bisa digunakan untuk menyelesaikan semua itu.
Dengan sangat samar, tangannya bergerak menuju dinding yang kebetulan dekat dengannya. Sementara itu mata hijaunya menatap sepasang oniks menawan yang ada di atasnya, seakan berusaha menghipnotis pria tersebut.
Sasuke bergeming menatap sepasang danau hijau jernih di bawahnya. Dia sama sekali tidak pernah menduga bahwa dirinya akan melihat mata seindah itu. Bahkan dia benar-benar sadar bahwa dia terperangkap di dalam sana. Terbukti dari adanya pantulan dirinya di dalam emerald indah itu. Hey, Sasuke, ingatkah kau bahwa dia musuhmu?
Detik berikutnya, Sasuke mengerang karena merasakan sakit yang luar biasa menyergap tengkuknya. Tanpa dia mau, tubuhnya limbung hingga menindih Sakura; tidak sadarkan diri.
"Tak kusangka ternyata kau bodoh," kata Sakura senang seraya melirik Sasuke. Setelahnya, emerald gadis itu tertuju pada pemukul baseball yang digunakannya barusan untuk menghilangkan kesadaran Sasuke dengan cara memukul tengkuknya secepat yang dia bisa.
Dia lalu mendorong tubuh Sasuke agar dirinya bisa bangkit, kemudian Sakura berjalan tertatih menuju lemari untuk mengambil pakaian Sasuke dan kembali mendekati pria itu, berusaha mengangkat tubuh kekarnya yang berat. Selanjutnya, Sakura menyeret kakinya sembari memapah Sasuke dengan sisa tenaga yang dia miliki.
Sama sekali tidak diduganya bahwa misi kali ini benar-benar merepotkan...
... dan belum berakhir. Entah akan ada halangan apa lagi di depan sana.
.
.
.
"Sebaiknya kaukenakan pakaianmu." Suara itu antara ada dan tiada ketika memasuki gendang telinga Sasuke. Semuanya serasa berputar, dan … berjalan. Tunggu! Berjalan?
"Hey!" Sasuke terkesiap, seketika terbangun dari ketidaksadarannya. Hal pertama yang dilihatnya adalah jalanan petang dan dirinya sadar bahwa dia sedang berada di dalam sebuah … mobil butut?—Yang dikemudikan oleh Sakura yang kini sudah berganti kostum.
"Kau…!" Suaranya tercekat saat disadari kedua tangan miliknya tidak bisa bergerak bebas. Sial! Gadis itu memborgol kedua tangan Sasuke, rupanya. "Apa kau…," Sasuke menunduk, memeriksa 'milik'-nya apakah masih aman atau tidak. "… baru saja menelanjangiku?" tanyanya pelan.
Sakura yang sedang menenggak minuman dari botolnya, tiba-tiba menyemburkan cairan bening itu saat mendengar tuduhan Sasuke. Tidak hanya itu, kemudinya juga lepas kendali karena keterkejutan Sakura. Akibatnya, mobil yang mereka naiki sempat keluar jalur untuk sesaat.
Pria ini benar-benar sembarangan! Memangnya Sakura terlihat seperti gadis mesum, apa?
"Kau boleh saja menuduhku memperkosa kucing, tapi jangan sekali-kali menuduhku telah menelanjangimu. Kau bahkan tidak menggairahkan," gerutu Sakura tidak terima.
"Benarkah? Lalu kenapa kau membiarkanku memakai handuk begini? Kenapa kau tidak memakaikanku baju?" tanyanya sinis seraya membuang muka. Entah membuang muka untuk apa, hanya saja Sakura sempat melihat ada seringai nakal di bibir sensualnya. "Aku yakin kau pasti sempat mengintip-nya saat aku tidak sadar," lanjutnya. Nada bicara pria itu sangat santai seakan hal yang dia bicarakan adalah hal biasa.
"Mengin…. Apa? Oh, tolonglah. Bisakah kau berhenti memikirkan hal semacam itu? Menjijikan!" seru Sakura sengit. "Dan bagaimana mungkin aku memakaikanmu baju? Itu artinya…. Argh! Sudah, sudah! Sebaiknya kenakan pakaianmu!" perintahnya galak.
"Kau itu bodoh atau apa? Bagaimana bisa aku memakai baju sementara tanganku diborgol begini?" Sasuke bertanya gusar namun masih mempertahankan wajah stoic miliknya. Detik kemudian, pria dengan sejuta pesona itu kembali menyeringai saat menatap Sakura yang tampak konsentrasi dengan kemudinya. Lagi, dia mencoba menggoda gadis itu. "Atau jangan-jangan kau memang sengaja—"
"—Baiklah! Baiklah!" Sakura memelototi Sasuke sejenak, lalu merogoh saku jeans--nya untuk mengambil kunci. "Lepas sendiri!" perintah Sakura seraya menyerahkan kunci borgol pada musuhnya.
Hening sejenak saat Sasuke berusaha melepaskan borgol dengan usahanya. Sedikit sulit karena pencahayaan yang minim dan posisinya yang tidak stabil. Jalanan aspal yang sedikit banyak berlubang membuat mobil yang mereka tumpangi tidak bisa seimbang.
Jika terus begini, mata Sasuke bisa pusing dan dia akan terlihat bodoh di hadapan gadis yang bodoh.
"Hey…," panggil Sasuke dan hanya disahuti lirikan sekilas oleh Sakura. "Bisakah kita berhenti sejenak? Aku perlu konsentrasi dan lampu untuk membuka borgol ini."
"Aku bukan budakmu. Maaf."
Sasuke mendesah seraya menyandarkan punggungnya di jok yang sudah sedikit lapuk. Apa dia memang harus selalu menggoda Sakura? Toh sepertinya gadis itu suka jika digoda terus menerus olehnya.
"Sepertinya memang benar bahwa kau menginginkanku telanjang begini—"
"—Aku tidak mendengarkan—"
"—terbukti dari kau yang tidak mau—"
"—dan tidak mengerti apa yang kau katakan—"
"—menghentikan mobil ini. Jika memang tidak, lalu kenapa kau—"
"—Aku tidak terpengaruh—"
"—tidak mau menuruti perintahku—"
"—oleh kata-katamu—"
"—sepertinya benar setelah ini kau akan memperkosaku—"
"—Baiklaaaaaaah!" Sakura berteriak. Ya, hanya itu yang jelas. Hanya teriakan Sakura-lah yang jelas terdengar karena sedari tadi mereka mengatakan semua kalimat di atas itu secara bersamaan; berebut. Oh, salahkan mereka jika kalian tidak bisa mendengarkan—menangkap maksud dari pertengkaran mereka itu.
"Baiklah aku akan menghentikan mobilku dan kau bisa mengganti bajumu secara leluasa!" Gadis pemilik sepasang mata emerald itu mengakhiri kalimatnya dengan mengerem mobil secara mendadak tanpa melihat ke sisi jalananan. Tatapannya galak menembus mata elang milik tawanannya.
"Bagus." Sasuke memberi seringai meremehkan. "Lagipula jika aku mengganti pakaianku di sini, kau pasti—"
"Berhenti berkata seolah aku adalah gadis mesum!" Untuk kesekian kalinya, Sakura memberikan tatapan galak kepada Sasuke.
Sasuke mengedikkan bahunya sekali dan beranjak membuka pintu untuk keluar. Dirinya berjalan ke arah semak-semak dengan membawa pakaian sebisanya.
Sesampainya di sana, Sasuke kembali berusaha membuka borgol. Hanya saja kali ini tidak sesulit di dalam mobil karena meskipun pencahayaan tetap minim, keadaannya tidak labil seperti sebelumnya.
Selesai dengan borgolnya, Sasuke mulai bergerak mengenakan pakaian yang disediakan Sakura. Hmm…. Gadis itu cerdas juga, bisa mengambil pakaian Sasuke secara … lengkap.
"Selesai. Saatnya kembali memborgol diriku dan masuk ke…," Sasuke menghentikan kalimatnya saat dirasa dirinya sadar akan sesuatu. Sepasang oniks milik lelaki itu mengawasi borgol dalam genggamannya….
"Sial…! Sejak kapan aku menjadi bodoh? Seharusnya kesempatan ini kugunakan untuk berlari, bukannya berniat kembali memborgol tanganku dan menyerahkan diri padanya!" umpatnya seraya menatap Sakura tak suka dari kejauhan.
Bahkan saking merasa bodohnya, dia sendiri lupa bahwa Sakura tadi memborgolnya dengan posisi tangan di depan tubuh. Bukankah tadi itu artinya dia punya kesempatan untuk memukul Sakura? Sepertinya kebodohan Gadis Musim Semi itu menular padanya.
Pria pemilik rambut model pantat ayam itu meremas borgol dalam genggamannya dan mendekati gadis yang sudah berani menculiknya itu. Dirinya bersumpah akan membalas dendam atas perlakuan gadis itu padanya. Menghancurkan fasilitas rumah, merusak pintu kamarnya, melukai lengan, dan terakhir dia menculik dirinya dalam keadaan memalukan; diborgol dan—setengah—telanjang.
"Kau," Sasuke memanggil setelah dirinya sudah berada di sisi pintu mobil Sakura.
Tanpa balas menatap Sasuke, Gadis Musim Semi itu malah memerintahkan Sasuke untuk kembali memasuki mobil dan melanjutkan perjalanan. Itu sama saja artinya dengan menyuruh Sasuke menyerahkan diri, bukan?
Ck! Tidak semudah itu.
"Hey, Nona. Siapa namamu?"
Sakura berjengit. Apa-apaan korbannya ini? Dia seperti seorang pria yang sedang mengganggu wanita murahan di tengah jalan terjal dan sepi ini. Ditambah posisi tangannya yang menyender di atap mobil begitu. Yack!
"Namaku tidak penting karena besok kau sudah berada di dalam peti jenazah. Jadi, cepatlah masuk. Tidak baik mengulur-ulur waktu, apalagi waktu milik Malaikat Pencabut Nyawa. Dia masih memiliki jutaan makhluk bumi yang harus dijemputnya," sahut Sakura asal. Kunyahan permen karet di mulutnya membuat gadis itu terlihat err … liar? Maksudnya, liar dalam artian sulit untuk ditaklukkan.
"Kaupikir aku mau menuruti perintah darimu? Jangan mimpi. Sebelum ada yang membunuhku, kau akan kubunuh terlebih dulu." Sasuke mengancam dengan suara yang—bisa-bisanya—sangat tenang.
"Kalau begitu lakukanlah!" Sakura balik mengancam.
Setelah sedikit mendengus dan menyeringai—kebiasannya, tanpa ba-bi-bu lagi Sasuke membuka pintu kendaraan Sakura dan menyeret paksa gadis itu agar keluar dari mobilnya. Tentu saja Sakura yang kalah sigap terjerembab ke tanah.
Gadis yang masih dalam posisi terjatuh itu berguling dan menggerakkan kakinya untuk kemudian menendang kaki kiri Sasuke dari samping. Sasuke tak sempat mengelak namun juga dia tidak lengah terlalu lama. Kakinya hanya tertekuk dan dengan cepat dia kembali bangkit.
Dia memiliki rencana lain selain menghajar Sakura. Menurutnya gadis yang dia tidak ketahui namanya itu benar-benar merepotkan jika diajak ber-duel.
Baiklah, kembali ke keadaan di mana kini Sasuke sedang berusaha menarik tangan Sakura yang terus berontak. Hingga akhirnya entah perjuangan ke berapa, Sasuke berhasil menarik tangan gadis licin itu dan menekuknya ke belakang pinggang.
Oh, tidak! Posisi mereka saat ini benar-benar menyeramkan. Sasuke tepat berada di depan Sakura. Bukan, bukan! Bukan hanya tepat, tapi tubuh mereka sudah menyatu. Menyatu dan saling berhadapan.
Ck. Dan hal ini sukses membuat pria pemilik sejuta pesona itu kembali menyeringai. Sepertinya menyenangkan sekali saat menggoda penjahat abal macam Sakura.
Karena Sasuke tahu bahwa Sakura pasti tidak akan diam, dia mendorong gadis itu—masih dengan posisi yang sama yaitu menekuk tangan Sakura di pinggang bagian belakang gadis itu sendiri—untuk merapat ke mobilnya. Alhasil benturan pelan antara punggung Sakura dan pintu mobil pun terjadi.
"Kau lupa sesuatu, Tuan…." Sakura balas menyeringai pada seringai remehan dari Sasuke. Gadis itu lalu mengayunkan tangan kiri untuk memukul wajah lawannya namun rupanya Sasuke benar-benar tidak mau kalah, di sini. Dia berhasil menangkap pergelangan tangan Sakura dengan mudah.
Keheningan menyelimuti mereka, sejenak. Hanya ada degupan jantung yang entah mengapa saling terdengar dari kedua individu itu dan deruan napas yang memburu. Tidak ada yang tenang, sama sekali.
"Saat di kamarku … aku tahu bahwa kau berusaha merayuku. Iya, 'kan?" Sasuke menatap Sakura intens, berusaha membuat lawannya takut dan takluk.
"Cih…! Tanpa kurayu pun kau sudah terpesona padaku." Gadis itu berpaling, menatap background di belakang Sasuke yang hanya berupa hamparan padang pasir dan satu-dua pepohonan kering.
Entah disengaja atau tidak, Sasuke menaikkan tangan kiri Sakura—yang sebelumnya berhasil ditangkap—ke atap mobil yang itu artinya Sasuke semakin mendekatkan wajahnya kepada gadis dalam cengkeramannya tersebut.
Sakura sedikit mendesah saat dirasanya Sasuke semakin menghimpit tubuh mungil gadis itu. Apa dia akan…. Tidak! Tidak! Imajinasimu terlalu tinggi, Sakura.
"Dengar…! Kau menculikku. Aku laki-laki dan kau perempuan. Kau membawaku ke tempat tidak berpenghuni begini. Terakhir, yang tidak boleh kaulupakan…, aku adalah lelaki normal." Sangat disengaja. Sangat disengaja ketika di akhir kalimat tadi Sasuke sedikit mendekati telinga Sakura dan menghembuskan napasnya di sana. Ugh! Bikin iri saja!
"Apa-apaan kau?" Sakura berteriak seraya mencoba memberontak.
Memandang Sakura sekilas, Sasuke akhirnya berjalan menjauh, melepaskan Sakura yang sekarang sedang mengatur napas sedemikian rupa. Gila! Lama-lama Sakura bisa terbunuh karena kehabisan napas jika berlama-lama dia berdekatan dengan Sasuke.
"Biar aku yang mengemudi," kata Sasuke seraya membuka pintu mobil. Terang saja hal itu membuat Sakura membelalakkan matanya. Hey, bagaimana mungkin penculik dibawa oleh yang diculik? Sebenarnya yang berprofesi sebagai penjahat di sini itu siapa, sih?
Ketika Sakura hendak melangkah untuk merebut kemudi yang sudah dikuasai oleh tawanannya, dia merasa ada sesuatu yang menjerat tangan kirinya.
"Oh, God…." Sakura menggeleng seraya menatap horor pada roof rail mobilnya. Dia…. Dia baru saja dijebak oleh pria setan itu.
"Selamat berolahraga, Nona Galak," ucap Sasuke seraya mengeratkan genggamannya pada kemudi mobil. Detik berikutnya dia menyalakan mesin, memasukkan gigi, dan dengan perlahan menginjak gasnya—memutarbalikkan mobil.
Besok pagi, tubuh Sakura pasti hanya tinggal tulang dan kulitnya saja!
"Lepaskan borgol ini dari tangankuuuuuuu…!" teriak Sakura seraya berlari mengimbangi mobil yang dilaju oleh Sasuke.
Gila! Bagaimana mungkin Sakura tidak sadar bahwa saat Sasuke sengaja menghimpit dan mengangkat tangannya tadi adalah untuk memborgol tangan gadis itu dengan roof rail mobilnya?
.
.
.
Sakura sudah benar-benar kehabisan napasnya ketika dirasa sudah tiga jam dia dalam posisi begitu. Sasuke memang mengendarai mobil Sakura dengan kecepatan sedang. Hanya saja berlari selama tiga jam tanpa henti pasti membuat Sakura sangat kelelahan. Tidak hanya Sakura. Siapa pun yang berlari selama itu tanpa istirahat rasanya pasti akan mati.
"Tolong hentikan, Uchiha…," Sakura mengatakan seuntai kalimat itu dengan susah payah. Napasnya serasa habis dan paru-parunya seakan mengecil. "A-aku…. Aku benar-benar lelah," lanjutnya.
Seakan tak mendengar, Sasuke malah bersenandung lirih seakan menikmati musik rock yang dia dengar dari radio yang ada di mobil Sakura, satu-satunya fasilitas yang menonjol dalam mobil butut itu.
"Uchiha…," Sakura kembali memanggil melalui suara payahnya. Dia pasti akan mati setelah ini.
"Baiklah…." Sasuke menyerah. Dia lalu mengecilkan volume radio dan memelankan laju mobil sehingga kini Sakura berjalan. "Beritahu aku jalan pulang," pintanya.
Sakura terdiam. Antara memikirkan permintaan Sasuke dan masih mengatur napasnya yang tersengal. Saat Sasuke meliriknya melalui cermin, kondisi gadis berambut merah muda itu benar-benar menyedihkan. Tubuhnya mengilap oleh keringat dan pakaiannya basah. Wajahnya juga sedikit kotor oleh debu padang pasir.
"Atau aku akan mempercepat mobil ini dan membiarkanmu mati. Aku tidak akan takut karena kau bukan siapa-siapaku, ingat?" kata Sasuke lagi.
Mengingat sepertinya ancaman Sasuke bukan main-main, Sakura mengangguk. Urusan dia akan dipenjara karena dilaporkan Sasuke, atau dimarahi habis-habisan oleh kekasihnya dan Danzou, itu akan dia pikirkan nanti. Yang jelas, saat ini dirinya benar-benar tersiksa.
"Bagus…." Sasuke menaikkan alis lalu mengerem mobil Sakura. Dia membuka pintu dan mempertahankan posisi duduknya sejenak untuk menikmati pemandangan yang membuatnya merasa puas tersebut. "Kau terlihat sangat seksi dengan keringat itu," katanya santai.
Sakura menatap pria itu penuh benci. Dia berjanji dia akan membalasnya jika sudah punya tenaga, nanti.
"Oh, ya. Satu lagi. Siapa namamu, Nona Galak?"
"Apa kau akan menyeretku lagi jika aku tidak menjawab?"
"Begitulah…."
Sakura memutar bola matanya jengah. Setelah mengambil napas, gadis itu menjawab, "Haruno Sakura."
Sasuke kini berdiri, berjalan dua langkah untuk berada di hadapan Sakura dan mulai merogoh saku; mengambil kunci borgol dan melepaskan—manusia yang kini menjadi—tawanannya. Ternyata keadaan terbalik itu bisa benar-benar terjadi.
Beberapa detik berlalu namun Sasuke tidak juga menemukan apa yang dia cari. Raut panik mulai bertengger di wajahnya kala menyadari hal itu. Sakura juga merasakan hal yang sama, bahwa pasti ada yang tidak beres dengan apa yang dilakukan oleh—mantan—tawanannya.
"Tidak. Jangan katakan jika…,"
"Sayangnya, dugaanmu benar," sahut Sasuke seraya menatap Sakura dengan pandangan horor.
Manusia yang saling bermusuhan itu saling pandang dalam diam. Mengerti akan isyarat mata yang ter-transfer bahwa: Kunci borgol untuk membebaskan Sakura telah hilang.
"Apa yang telah kaulakukan, Bodoh? Kau berniat membunuhku, benar!?" teriak Sakura panik. Wajahnya semakin berkeringat menyadari kemungkinan dirinya akan berada di samping pintu mobil sampai akhir hidupnya.
Sasuke memejamkan mata. Menetralisirkan telinganya dari teriakan keras Sakura. Dia sama sekali tidak berencana demikian. Entahlah, meskipun dia merasa gadis itu menyebalkan, tidak tega juga jika Sakura terus dalam keadaan tersiksa.
"Aku tidak menyangka bahwa kau ternyata sangat ceroboh! Aku tidak mau tahu! Pokoknya kau harus menemukan kunci itu!"
"Tenang..., tenanglah," ucap Sasuke seraya menyembunyikan raut panik sebisanya.
"Bodoh! Bagaimana aku bisa tenang? Cepat temukan kuncinya atau cari akal agar aku bisa terbebas dari borgol sialan ini!"
Sasuke sempat terdiam beberapa detik. Namun mengingat dia bisa pulang hanya jika Sakura berada di sampingnya, dia lalu memasuki mobil tanpa suara.
.
.
Ino mengerutkan kening ketika sepasang aquamarine-nya konsentrasi mempelajari layar komputer. Di salah satu layar yang dipandangnya, hanya ada garis-garis putih pada background warna hitam dan terdapat benda merah bulat yang berkedip.
"Sasori, apa kau tidak merasa ada keganjilan?" tanya Ino pada atasan sekaligus kekasihnya.
Sasori menghentikan kegiatannya meminum kopi dan mendekati Ino untuk kemudian mengikuti arah pandang kekasih pirangnya. Seperti reaksi Ino, pria itu pun mengerutkan kening.
Titik merah yang seharusnya mengarah ke arah Konoha malah berjalan sebaliknya. Apa mungkin Sakura—titik merah itu—menemukan kendala di tengah jalan kemudian berbalik mencari jalan lain? Memangnya ada kendala apa di sana? Dan bukankah akan lebih jauh lagi jika dia tidak melewati jalan alternatif itu?
Ino mengarahkan pandangan pada Sasori seluruhnya. "Apa mungkin Sakura menemukan kendala?" tanyanya khawatir. Baiklah, meskipun di sini dia adalah selingkuhan pacar sahabatnya, dia juga masih memiliki kepedulian pada gadis itu.
"Kau sudah menghubunginya?" alih-alih menjawab, Sasori balik bertanya seraya balas menatap Ino.
"Sudah kucoba berkali-kali. Hanya saja aku tidak mendapatkan jawaban."
Sasori kembali memfokuskan pandangannya pada komputer. "Dia tidak akan mendapat masalah. Kita tahu itu," hiburnya pada Ino. 'Dan aku sama sekali tidak peduli,' lanjut pemilik sepasang mata warna hazel itu tanpa menyuarakannya.
.
.
.
Sasuke masih berkutat dengan tas bawaan Sakura yang menurutnya dia bisa menemukan sesuatu yang bisa digunakan untuk membebaskan gadis malang menyebalkan itu. Namun sudah melewati beberapa menit dan dia belum juga menemukan benda yang tepat.
Yang dibawa Sakura tak ubahnya peralatan-peralatan membunuh seperti amunisi, belati, serangkaian alat aneh untuk mencuri, dan senapan. Tidak ada alat yang berguna sama sekali.
Tunggu dulu! Kenapa tidak terpikirkan sama sekali? Bukankah dia bisa menggunakan pistol untuk menghancurkan borgol?
Tanpa pikir panjang lagi, Sasuke mengambil salah satu pistol Sakura dan mengisinya dengan amunisi. "Kalau bukan karena aku ingin pulang, aku tidak akan melakukan hal bodoh ini," gumamnya lalu beranjak pergi, mendekati Sakura yang sedang berjuang melawan gigitan nyamuk.
"Lama sekali kau!?" tanya Sakura gusar seraya menggaruk tangannya yang tergigit serangga kecil bermoncong runcing itu.
"Kau seharusnya berterima kasih karena aku keluar membawa ini," kata Sasuke seraya menunjukkan senjata. "Jika aku tidak kasihan padamu, lebih baik aku tidur di dalam dan menutup jendela, membiarkanmu mati kelelahan di luar sini," lanjutnya sinis.
Melihat Sakura yang hanya terdiam seraya menatapnya tajam, Sasuke kembali bergerak dan mengacungkan pistol pada borgol.
"Tunggu!" teriak Sakura tiba-tiba. Tangan gadis itu yang terbebas terangkat di udara seperti seorang polisi lalu lintas yang menghentikan pengendara. "Apa kau tahu cara menggunakan senjata itu?"
Sasuke menurunkan pistolnya sejenak dan memandang lurus ke dalam mata gadis berambut merah muda itu sinis. Ya Tuhan, dia pikir dia sedang menculik siapa?
"Baiklah," kata Sakura setelah tidak mendapatkan jawaban dari lawan bicaranya. "Lanjutkan."
Sasuke kembali mengarahkan pistolnya dan tidak perlu menunggu satu detik, sebuah peluru telah meluncur mengenai rantai borgol dan melubangi atap mobil Sakura.
Sakura menghela napas lega setelah sebelumnya degup jantungnya berdetak tidak beraturan. Bagaimana jika keberuntungan tidak berpihak padanya dan peluru tadi melukai tangan gadis itu? Tidak bisa dia bayangkan.
"Sekarang, kutagih janjimu. Pulangkan aku!" perintah Sasuke tegas. Sorot mata pria itu tajam—berbeda dengan sebelum-sebelumnya yang terkesan mempermainkan dan menyepelekan.
"Jika aku melakukannya, apa kau akan membebaskanku?"
"Hanya jika aku pulang ke rumah dengan selamat dan utuh. Dan terutama, aku tidak kehilangan keperjakaanku."
"Aku tidak akan melakukannya!" tegas Sakura sebal. "Biarkan aku yang mengemudi," pintanya kemudian.
Sasuke terdiam sejenak, tampak mempertimbangkan permintaan Sakura. Kedengarannya memang sepele. Tapi ingat, Sakura adalah musuhnya. Bisa saja gadis itu mengakali Sasuke sedemikian rupa dan malah menculiknya kembali.
Setelah beberapa menit berpikir, Sasuke mengangguk dan mengajukan satu syarat. "Aku akan menjaga alat-alat kriminalmu," katanya.
Sakura berjengit. "Tidak bisa! Itu milikku!"
"Tapi itu perjanjian," ucap Sasuke tenang. "Kau dan aku, saat ini mencari selamat. Kau mengemudi, mengantarkanku sampai rumah dan aku akan membebaskanmu dengan syarat aku menjaga peralatanmu."
"Bagaimana jika di tengah jalan nanti kau menembakku?"
"Tidak."
"Apa jaminannya?"
"Kau menyimpan seluruh amunisi dan aku pistolnya. Bagaimana?" usul Sasuke dengan kepala yang dimiringkan ke samping kanan dan mempertahankan wajah cool-nya. Ya ampun, pria itu bahkan masih sempat tebar pesona dalam situasi seperti ini.
"Baiklah. Deal...," kata Sakura akhirnya.
Tanpa menunggu lama, gadis itu melangkah masuk sementara Sasuke berputar untuk duduk di kursi penumpang. Selanjutnya, tangan pria tampan itu bergerak cekatan—merogoh isi tas Sakura dan membagi amunisi pada gadis di sampingnya. Sesuai perjanjian.
Setelah kegiatan kecil itu selesai, Sakura mulai menghidupkan mesin mobil dan menginjak gas dengan santai.
Gadis berparas—lumayan—ayu itu menyeka keringat dan mendesah. Ada sejuta masalah yang mengganggu pikirannya saat ini. Apakah dia akan benar-benar menuruti perintah korbannya atau menyelesaikan misi?
Dia sudah tidak memiliki benda apa pun untuk mengikat atau mengamankan Uchiha Sasuke. Dengan bodohnya gadis itu hanya membawa satu borgol dan ternyata malah berakhir dengan dirinya yang terikat.
Lalu, bagaimana caranya dia menyerang Uchiha? Sakura memang memiliki dua belati yang tersimpan di saku pahanya. Hanya saja, akan percuma karena sekali lagi—dia tidak memiliki alat untuk menahan Sasuke.
Sedangkan jika dibunuh? Tidak! Tidak! Itu bukan misinya. Danzou menginginkan Uchiha Sasuke dibawa hidup-hidup. Selain itu, dia tidak pernah membunuh. Selama dia menggeluti pekerjaan ini, dia hanya melumpuhkan lawannya dengan menembak tidak di bagian vital.
Tapi jika dia melepaskan Sasuke...
Ya Tuhan ... justru dia sendiri yang akan terancam! Sakura yakin Danzou tidak akan mengampuninya. Jangan mengharapkan perlindungan dari Sasori karena dia sendiri tunduk pada si Tua Bangka itu, tuannya saat ini.
"Sebaiknya jangan merencanakan sesuatu. Percepat laju kendaraan ini," perintah Sasuke.
Saat Sakura melihat Sasuke, pria itu tidak memandangnya. Tatapannya serius dan lurus ke depan, menghadap jalanan.
Baiklah. Untuk sementara dia akan menuruti kemauan Uchiha ini dan dia akan memikirkan rencana selanjutnya.
Sakura memasukkan gigi untuk bersiap mengebut. Namun naasnya, saat baru saja gadis bermata sehijau batu emerald itu menginjak gas dengan kuat. Sesuatu yang buruk kembali terjadi. Truck butut miliknya bukannya menambah kecepatan malah semakin melambat. Untuk selanjutnya, jalan truck itu tersendat dan mesin pun mati.
Sakura menoleh tegang pada Sasuke yang ternyata juga menoleh padanya. Raut wajah pria itu terlihat heran dengan alis dan dahi yang mengerut sempurna. Sementara Sakura sendiri menganga dan matanya seakan hampir keluar.
"Apa yang...?" Sasuke bertanya dengan tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Sepertinya kita kehabisan bahan bakar."
Bersambung
.
.
.
Sophie's Note: Yah ... akhirnya chapter dua apdet! Maaf karena—mungkin—terlalu lama. Tapi mau gimana lagi? Hobiku kan emang ngaret. #dicincang
Semoga chapter ini memuaskan reader, dan memang adegan action-nya cuma dikit. Tapi ini kan ada genre adventure-nya juga, jadi yah ... gitu deh! Hohooo... Dan oya, Sakura itu memang pacarnya Sasori dan Ino itu selingkuhannya. Itulah kenapa di chapter pertama ada Ino yang tergagap ngomong sama Sakura. Mungkin Ino emang habis ngelakuin sesuatu? Entahlah. xD
Umm ... satu pertanyaanku. Apa Sasuke di sini terlalu OOC? Aku emang bikin dia sedikit jail, tapi aku juga berusaha mempertahankan sisi cool-nya di deskripsi.
Buat reviewer maupun silent reader, terimakasih karena sudah mampir. Buat yang udah nge-fave dan nge-alert jugak. Sekali lagi terima kasih. Maaf gabisa bales satu-satu. Tapi percayalah, aku ngucapin makasih buat semuanya. I lup yu ol.
Barangkali ada kritik, saran, kongkrit, dan sebagainya, monggo tulis di review.
Sankyuu vo Riding.
