Special thank's buat fetwelve-san, Guest-san dan AkuNoMeshitsukai –san yang uda ngereview. Saya pengennya sih bikin yang lucu.. tapi suasana hati yang gloomy tidak mendukung.. Well, mungkin ini ceritanya biasa aja. But, happy reading ya ^^


CHAPTER II

Ciel is Snow White


"Wahai cermin di dinding, siapakah makhluk paling cantik di dunia ini?" tanya sosok serba merah itu pada cermin ajaibnya.

"Tentu saja Anda yang Mulia Ratu.." ucap sosok wanita berambut merah dari dalam cermin. "Itu, karena Anda telah membunuh semua wanita yang ada di negeri ini.." lanjutnya sedih.

"Khukhu.. Bisakah kau tak mengingatkan itu Madam Red.." ucap Grell sambil mengelap kacamatanya. "Untuk menjadi Ratu secantik AKUH.. memang diperlukan pengorbanan!"

Kini sosok wanita cermin itu tampak sendu, "Kau tau yang harusnya menikah dengan Vincent itu aku.. tapi.. kenapa kau tega—" "Tega? Kalau aku tega pasti sudah kubunuh kau!" potong Grell sambil mengeluarkan seringai tajamnya.

"Sudahlah, hanya buang-buang waktu berbicara denganmu.." ucap Grell sembari membalikan badan.

"Tunggu.."

"APAA?!"

"Ramalan berubah.." ucapnya menggantung, "Sekarang ada sosok yang lebih cantik darimu.."

"Siapa?"

"Vincent.."

...

..

.

Setahun setelah itu, Vincent dikabarkan tewas saat berburu di hutan. Phantomland dikelilingi suasana berkabung dan suram. Karena sepeninggalan Rajanya, masa depan Kerajaan itu dapat diprediksikan berakhir menjadi Dark Era ditangan makhuk jadi-jadian itu (baca : Grell).

Sepuluh tahun pun berlalu, kini Ciel memasuki usia ke enam belas dalam hidupnya. Kerajaan yang dulunya damai, aman, tentram dan penuh kebahagian itu sekarang berubah ketika Negara ap— Eh, maksudnya berubah menjadi amburadul layaknya wajah dan gigi Ratunya yang ga jelas itu.

"Ayabunda Ratu, bolehkah aku melihat ke luar istana.." ucap sosok mungil itu dengan tatapan sendunya, sementara sang Ratu asik mengikir kuku runcingnya.

"Tch, Ayabunda Ratu? Panggilan macam itu?" protes sosok serba merah, "Kau cukup memanggilku RATU CANTIIKKK DAN SEKSEHH!" ucap Grell sampai muncrat-muncrat (?)

"Tapi, kata buku sejarah.." ucap Ciel sambil menutup payung yang ia gunakan untuk menangkis hujan liur Grell. "Di Kerjaan ini hanya ada dua makhluk, yaitu Wanita dan Okama.. kalau dilihat dari fisik situ kan ga mungkin disebut wanita.."

"Jadi ambigu deh mau manggil apa.." jelas Ciel apa adanya. "Lagian, situ juga makhluk tak jelas.." tambahnya asal.

Senyum kecut pun terukir dibibir absurd Grell, "Ciel, putriku yang SOK pintar.." ucapnya, "KAU DIHUKUM!" teriak Grell.

"Dihukum? Masa Puteri dihukum sih?!" protes Ciel tak terima.

"Oh, jadi uda berani membangkang ya?" tanya Grell sinis, "Pergi saja kau dari istana ini!" ancamnya kesal.

"Baik, dengan senang hati!" ucap Ciel sambil BRAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKK membanting pintu tak bersalah itu.

Saat Ciel berjalan menuju gerbang istana, seorang maid memanggilnya.

"Ciel-ojousama.." panggil sosok berambut blonde itu.

Ciel pun menoleh, "Ada apa Alois?" tanya si mungil itu, "Tolong jangan halangi aku.." ucap Ciel dengan PD-nya

"Siapa yang ingin menghalangi Puteri?" ucap maid itu polos (Ciel sweatdrop). "Aku hanya ingin memberikan ini.." lanjutnya sambil memberikan sebuah benda panjang.

"Pedang itu adalah peninggalan untuk penerus kerajaan.." jelas Alois, "Aku harap pedang itu bisa melindungi Anda.."

Ciel melihat pedang itu dengan tatapan serius, "Aku tak tau harus bilang apa—"

"Walau tak bisa menggunakannya, ku ucapkan terimakasih.." ucap Ciel sambil melipat kedua tangannya. "Alois, kau bersabarlah.. aku pasti akan kembali merebut semuanya dari Ratu itu.." sambung si sapphire itu dengan seringai liciknya.

Senyuman pun merekah dari bibir Alois, "Saya tau, Puteri pasti bisa melakukannya.." ucap si blonde itu tulus, "Dan, satu hal lagi.. Anda harus berhati-hati.."

Ciel mengangguk, "Aku mengerti.." lalu Puteri Phantomland itu pun melangkahkan kakinya meninggalkan istananya.


Sementara itu disuatu tempat

TAP TAP TAP

Terdegar suara yang dihasilkan pijakan kaki seseorang di lantai, "Pangeran.." langkah itu pun terhenti.

"Apa yang sedang Anda lakukan?" tanya sosok pria berpakaian hitam dengan kacamata itu.

"AHH~~ Claude~~" gumam orang yang dipanggil Pangeran itu. "AHH~ My.. my.. kau agresif yaa.." gumamnya lagi.

"Kau tau, aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu.." lanjut pemuda beriris ruby itu.

SIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNNNNNNNNNGGG

Suasana hening sejenak, banyak prasangka yang kini tumbuh dibenak butler sang pangeran itu. Bulu kuduk si amber pun mulai menegang saat mengingat beberapa adegan yang ia baca dalam fiksi novel dewasa, "Pangeran?" tanyanya ragu sambil melangkah mendekat.

"Tanganmu halus.." ucap Pangeran sambil menyentuh tangan itu.

"Kukumu juga bagus.." pujinya dengan senyuman khasnya.

"Tolong, jangan tatap aku seperti itu.." lanjutnya sambil memalingkan wajahnya.

"Aku benar-benar jatuh cinta padamu.." tambah si raven itu tulus sambil memeluk sosok hitam itu.

Merasa tak kuat dengan perlakuan majikannya itu, "MIAWW~~ MIAAAWW~~" kucing bebulu hitam itu mulai berontak.

"Wah, ternyata tomboy yaa.." lanjut si pangeran sambil menidurkan pujaan hatinya di atas sofa. Dan, saat berbalik.. "Claude, ada apa mencariku?" tanyanya dengan muka polos yang terkesan mesum di mata Claude (?)

"Pangeran Sebastian.. sepertinya yang dikatakan Ratu ada benarnya juga—" ucap si pelayan itu.

"Maksudmu?" tanya Sebastian bingung. "Saya rasa Anda harus segera mencari pendamping hidup.." jawab Claude, "Karena.. saya tidak ingin melihat Pangeran negeri ini.. melakukan tidakan SENONOH pada binatang!" lanjut butler itu berapi-api.

"My my, kau berlebihan.. aku ini masih dua puluh tahun.." protes Sebastian, "Aku akan menikah kalau sudah saatnya.."

Claude menghela napas panjang, "Kapan, Pangeran?"

"Sampai aku menemukan makhluk yang lebih memukau darinya.." balas Pangeran tampan itu sambil menggendong kucing manis tadi. "Yaah.. sudahlah.. sekarang temani aku ke dunia manusia.. dia tak akan kuat kalau terus berada di sini.."

Seringai kecil itu keluar dari mulutnya, "Baiklah Pangeran.. Aku sangat suka ke dunia manusia—"

"Karena kita bisa menggoda mereka dengan bisikan memukau, dan membuat mereka jatuh dalam kegelepan.." lanjut Claude sambil melirik ke arahTuannya itu.

"Oya oya, kau memang Iblis Claude.." ucap Sebastian dengan senyuman demonic-nya.


Benda putih bernama salju sekarang telah menghujani Phantomland, disebuah hutan salju yang terletak di daerah perbatasan Kerajaan itu. Tampaklah surai abu-abu kebiruan melangkah di jalan setapak karena salju yang cukup tebal ia pun tak bisa berjalan dengan baik. Sampai akhirnya…

BRRRRRRRRAAAAAAAAAAAKKK

Ada benda jatuh dari langit yang kini menimpahnya, benda yang memiliki berat dua kali lipat dari dirinya itu sukses membuat sekujur tubuhnya mati rasa.

"Ah, sakit.." gerutu Ciel kesal bercampur pasrah (?)

Makhluk yang menimpahnya itu pun mulai bergerak, "Maaf.." ucap si ruby itu sambil melihat sosok yang menjadi korbannya.

Dilihatnya mata sapphire yang indah sebiru samudra itu kini menghanyutkannya dalam-dalam seakan memaksa pemuda itu menari mengikuti ombak yang menerpanya. 'Kenapa ada manusia yang seindah ini?' batin Sebastian.

Sementara Ciel juga tak bisa melepaskan pandangannya dari iris ruby yang menggoda itu, sungguh warna yang hampir tidak lazim untuk mata manusia. Lima menit berlalu, tapi kedua orang itu masih enggan untuk mengalihkan pandangan dan mengubah posisi jatuh (?) mereka. Sampai akhirnya..

"Ehm.. sampai kapan kalian mau bermersaan seperti itu.." celetuk seseorang tiba-tiba, "Aku tak mau mau mati beku di musim yang seperti ini.." lanjutnya. "MIAAAWW!" di ikuti makluk mungil yang sepertinya cemburu itu (?)

Muda-mudi yang asik bermesraan tadi (?) langsung tersadar dan kembali kedunia nyata, semburat merah pun menghiasi pipi keduanya. Dengan canggung si raven membatu darkblue-grayish itu berdiri.

Iris sapphire itu pun membola saat melihat makhuk asing yang tak pernah dilihatnya mendekat, "Makhluk apa kalian?" tanya Ciel to the point sambil membuka sarung pedangnya.

Sebastian langsung melirik kearah Claude, 'Darimana dia tau kalau kita bukan manusia?'

'Saya juga tidak tau, pangeran..' tatap Claude sambil mengibas-ibaskan tangannya.

"Kenapa kalian diam?" gertak Ciel, "Apa kalian sudah bosan hidup?" kini si mungil sapphire itu mengarahkan pedangnya ke dagu si ruby.

Seringai kecil pun terukir diwajah si raven itu, "My my.. Nona sepertinya Anda terlalu bersemangat.." ucap Sebastian sambil mejauhkan mata pedang itu dari lehernya.

Perlahan ia mendekati si sapphire manis dan membuat si mungil itu menjatuhkan pedangnya, "Apa yang mau kau lakukan?" tanya Ciel gugup.

Sebastian pun tersenyum, "Eh? Yang mau lakukan?" tanyanya sambil menyentuh dagu Ciel yang membuat pipi Puteri itu serasa terbakar. "Nona inginnya diapakan?"

BLUSH pipi seputih salju itu kini memerah karena, "Sebenarnya maumu itu apa? Makhluk aneh?!" kesal bercampur malu dan Sebastian pun memasang tampang bingungnya.

"Ehm.. Nona maaf sebelumnya," sela Claude. "Daritadi Anda mengakatakan kalau kami ini makhluk aneh? Bisa tolong jelaskan?" tanya butler itu untuk menyudahi Tuannya yang kemungkinan besar akan melakukan tindakan mes— eh, tindakan TIDAK SOPAN kalau terus dibiarkan.

Ciel pun langsung menjauh dari Sebastian, "Itu.. pakaian kalian…" jelasnya pada Claude. "Di Phantomland, aku tak pernah melihat orang berpakaian seperti kalian.." lanjut Ciel.

Sebastian dan Claude pun saling menatap dan memasang muka bingung yang membuat Ciel sedikit takut (?) bayangkan, kalau kalian sosok kecil yang masih polos lalu di jalan bertemu dengan dua orang om-om yang menanyaimu bermacam-macam hal, walau om-om (baca : Sebastian dan Claude) di fic ini cowok kece sih.. tetap saja, bisa membuat Ciel yang baru berusia enam belas tahun ber-fantasy ria

"Well, mungkin ini perbedaan budaya Nona.. di Negara kami, pakaian seperti ini wajar kok.." ucap Claude tiba-tiba.

Ciel pun tersadar dari dunia khayalnya, "Oh, begitukah?" ia pun mengangguk-anggukan kepalanya, "Jadi, kalian orang asing? Ada urusan apa sampai datang ke Phantomland?" tanya si mungil itu.

Claude pun membenarkan letak kacamatanya yang tak bergeser (?), "Saya dan Paaang—" KREEKK Sebastian menginjak kaki butler-nya itu lalu memasang tampang senyumnya, 'Kau ingin bilang kalau aku ini pangeran iblis?' lirik Sebastian, 'Gadis mungil ini bisa kabur, bodoh!'

"Kami ke sini hanya ingin mengembalikan makhkuk cantik ini.." sambil mengambil kucing yang ada dipelukan Claude.

Ciel langsung menjauh, "Tolong singkirkan makhluk itu dariku.." pinta Ciel dan membuat Sebastian heran. Pasalnya, tak ada orang yang mampu menolak makhluk seindah dan semanis kucing .. tapi, sepertinya pandangan Pangeran Iblis itu sedikit berubah.. karena sekarang ia menemukan makhluk yang lebih manis dari kucing..

"Aku alergi sama bulu binatang—"ucapnya menggantung. "Makanya, aku lebih suka sama Sebastian.." lanjut Ciel dan 'DEG' Sebastian merasa ada yang salah pada jantungnya.

"Sebastian?" tanya si raven ragu.

Sapphire itu pun melirik ke ruby, "Iyaa, SEBAS-TIAN.." ucapnya dengan penekanan. "Sebastian itu, tarantula peliharaanku.." jelas Ciel. Dan,

Berhasil membuat si ruby a.k.a Sebastian sweetdrop. Aura suram menghiasi ubun-ubunnya. Ok, kini namanya disamakan dengan makhluk bernama tarantula. Setelah anjing dan tarantula mungkin iblis satu ini akan membenci hewan selain kucing yang memakai nama sama dengannya.

'Well, tak apa kau menyamakanku dengan tarantula atau apalah itu.. asalkan aku bisa mendapatkanmu Nona manis..' seringai itu pun terlukis diwajah tampan Sebastian.


A/N

Saya harap kalian menyukai ceritanya, Mind to Review?