Special thank's buat yang nge-review.. karena request-an kalian ceritanya jadi saya panjangin ._.a

Uineko-san, Si Grell yang di chapter mana? Kalau di chapter dua dia Cuma ngaca dan scene bareng Ciel. Buat tanda baca.. tanda baca yang mananya.. kalau bikin fic saya kurang merhatiin *kadang* Well, thank's karena uda bilang cerita saya lumayan~~

Numpang baca-san (?) Hmm, bagian mana yang nipu *masang muka polos* Kalau soal apdet kilat bakal diusahain.

AkuNoMeshitsukai-san, Saya juga setuju sih Claudenya ganggu *di-deathglare Claude*Vincent-nya ga salah sih, pasti ambigu sama kata 'Makhluk paling cantik' kan. kan di dialog sebelumnya si Madam Red bilang, kalau Grell itu udah membunuh semua wanita. Jadi, sisa yang di Phantomland emang cowo semua *DOR

Pembaca doang-san (?), ArthurMarie-san dan Ayumi-san Terimakasih buat reviewnya ^^

Fetwelve-san Terimakasih untuk Review dan koreksinya ^^Buat scene itu emang ambigu *PLAK

Well, untuk rate ini masih T, tapi ceritanya kelewat ngawur.. untuk typo dan OCC-nya saya mohon maaf sebesar-besarnya. And last, Happy reading ^^


CHAPTER III

Ciel is Snow White


"Wahai cermin ajaib siapakah makhluk paling cantik di dunia ini?"

"Tentu saja Anda yang Mulia Ratu, hanya saja..

"Hanya saja?!"

"Usia itu memang tidak bisa bohong ya.." tutur sosok wanita dalam cermin itu. "Lihatlah keriput di wajahmu Ratu, sekarang kau bertambah TUA.." ejeknya.

Dengan segera Grell mengambil cermin kecil yang ada di mejanya, "Kau tau ini bukan keriput.. hanya sedikit kerutan dibagian mata.." elaknya, "Sepertinya aku harus ke tempat Undertaker untuk ramuan awet muda.." ucap Ratu.

"HAHAHAHAHA, kau pikir dengan pengawet mayat dari Taker itu bisa membuatmu awet muda?!" ucap Madam Red diiringi tawanya, "Tch, formalin dan boraks itu tidak akan bertahan lama Grell.. kalau aku jadi kau sih.. lebih baik menikah lagi—"

"Yah.. selagi wajah dan tubuhmu masih menjual.." lanjut Madam Red dengan nada mengejek.

Grell pun terdiam, "KAU MINTA KUPECAHKAN YA?!" kini sosok bersurai merah itu benar-benar tampak kesal.

Seringai licik pun ke luar dari bayangan di cermin itu, "Pecahkan saja aku, kalau kau bisa.."

"SIAL!"

...

..

.

Di Hutan Salju

Sebastian POV

"Kami ke sini hanya ingin mengembalikan makhluk cantik ini.." ucapku sambil mengambil kucing yang ada dipelukan Claude.

Nona mungil itu langsung menjauh, "Tolong singkirkan makhluk itu dariku.." pintanya dan itu membuatku heran. Bagiku, kucing adalah makhluk paling manis dan imut yang pernah kutemui. Yah, karena kucing tak akan protes jika kuapa-apakan sih.

Tapi, kurasa sekarang aku menemukan makhluk yang lebih indah dan menarik dari kucing.. yah.. Nona ini..

Mata sapphire-nya yang besar itu melirik ke arahku, "Aku alergi sama bulu binatang—"ucapnya menggantung. "Makanya, aku lebih suka sama Sebastian.." lanjutnya sambil menundukan wajah.

Dan, DEG 'Tadi dia bilang apa?' batinku tak percaya.

'Aku lebih suka sama Sebastian?' rekaku dalam pikiranku sendiri. My my, Nona imut kenapa kau bisa tau namaku? Atau kebetulan saja nama kami sama? Tapi, kau tahu saat kau bilang 'Sebastian..' itu membuatku merasa— sulit untuk ku jelaskan.

Rasa penasaran akan sosok 'Sebastian' yang ia maksud membuatku bertanya padanya, "Sebastian?" ucapku ragu.

Sapphire itu pun melirik ke iris ruby-ku, "Iyaa, SEBAS-TIAN.." balasnya dengan penekanan.

Lalu, ia terdiam sejenak, "Sebastian itu, tarantula perliharaanku.." jelasnya.

Dan, JLEB sekarang hatiku terasa sakit seperti tertusuk duri, 'Apa dia bilang? Tarantula?' batinku kesal sendiri. Aku disamakan dengan binatang peliharaan?

'Well, tak apa kau menyamakanku dengan tarantula atau apalah itu.. asalkan aku bisa mendapatkanmu Nona manis..'

Normal POV

"Ada apa dengannya?" tanya Ciel bingung pada Claude, "Pfftt, Nona.. nama dia juga Sebastian.."jawab Claude sambil mehan tawanya.

"Oh.." Ciel pun ber-oh ria.. percakapan tak berjung yang dilakukannya dengan kedua orang asing ini sepertinya membuat ia lupa akan tujuan awalnya meninggalkan istana.

"Kalau boleh saya tau, tarantula jenis apa yang Anda pelihara?" tanya Claude antusias yang notabene-nya pecinta bintang berkaki delapan itu.

Walau sedikit bingung Ciel menjawab, "Tarantula beracun dari Mesir.."

"Awalnya aku memeliharanya untuk menjahili Ratu yang paling CANTIK DAN SEKSEH itu.." ucapnya sambil melipat kedua tangannya, "Waktu Ratu tidur, aku sering memasukan tarantula itu ke dalam selimutnya—" jelas Ciel polos tanpa dosa.

Lalu ia mengambil napas panjang, "TAPI, KENAPA DIA GA MATI-MATI!" teriak Ciel kesal dan membuat Sebastian yang tadinya pundung pun kaget, 'Oh, jadi Nona seimut dirimu juga bisa memiliki perasaan benci ya?' pikirnya dengan seringai yang dipenuhi rasa puas dan takjub kini terpampang jelas di wajah pucat Sebastian. 'Baiklah, akan kujadikan kau milikku..' putus pangeran iblis dalam hati.

Claude kaget dengan perubahan aura yang terjadi pada Tuannya, baru kali ini ia melihat Pangeran benar-benar tertarik akan sosok manusia. Dan, dilihatnya seringai yang 'lapar' ke luar dari wajah Sebastian.

Kalian tau bagaimana pandangan Claude terhadap Tuannya itu sekarang? Dengan wajah dan seringai seperti itu, tingkat kemesuman wajah Sebastian kini bertambah satu tingkat dari sebelumnya *plak*

"Tch, kenapa aku jadi menceritakannya pada kalian sih.." ucap Ciel kesal sendiri akan kecerobohannya. Sementara itu si Pangeran hanya tersenyum, "Aku rasa tak ada yang salah dengan cerita Nona.." sela Sebastian

"Maaf Nona, daritadi kami tidak sopan.." ucap si raven itu sambil membungkuk dan mencium punggung tangan Ciel, "Perkenalkan, Saya Sebastian Michelis.." tatap si ruby itu dengan senyumannya yang membuat sapphire mungil itu 'Terpesona?'

Untuk kesekian kalinya suasana menjadi hening karena si sapphire dan ruby asik saling menatap *lagi* tanpa memerdulikan orang (baca: Claude) yang daritadi terus bersama mereka. Well, sepertinya ungkapan kalau orang lagi pacaran berduaan, dan orang ketiganya iblis itu ada benarnya juga *digorok Claude*

"Ehmm.."

"Sampai kapan kalian mau tatap-tatapan begitu?" tanya Claude mencairkan suasana dan kondisi tubuhnya yang hampir membeku (?) "Kalau ingin berciuman, lakukan yang benar dong.." ucap butler itu asal sambil melangkah mendekati Ciel dan Sebastian.

Kedua orang tadi asik dalam dunia mereka sendiri pun saling menatap bingung, apalagi ketika melihat Claude yang tampaknya kesal (?) lalu memegang kepala mereka berdua. Dengan satu gerakan cepat tangannya, CUP Claude meniadakan jarak antara keduanya.

Ok, tindakan asal dari Claude membuat Tuannya (baca : Sebastian) tak sungkan (?) lagi. Dilumatnya bibir mungil Ciel layaknya mengemut permen dan tangan besarnya kini mulai berani menyentuh bagian tubuh si mungil dengan intens-nya.

Sedangkan Claude yang menjadi pecentus scene ini, hanya bisa gigit jari sambil meluk kucing yang sudah dilupakan Sebastian (?)

Cuaca memang dingin, tapi itu tidak berlaku untuk Ciel sekarang. Bukan hanya wajahnya, bahkan tubuhnya sekarang ikut memanas karena perlakuan orang yang bernama Sebastian ini padanya.

Ciel pun berpikir kalau napasnya akan berhenti kalau terus diperlakukan seperti— yah, intinya.. Saat merasa dirinya akan terjatuh tangan besar Sebastian pun menahannya. Rasanya Puteri Phantomland Kingdom itu ingin meledak marah saat menerima perlakuan sangat tidak sopan dari orang yang baru ia temui.

Namun, amarahnya tak jadi meledak (?) karena melihat tatapan 'merasa bersalah tulus' dari iris ruby itu. Bagi Ciel, tatapan itu mirip dengan puppy eyes yang di keluarkan tarantulanya ketika ia tidak berhasil menyengat Grell. (?)

Karena tidak tega memarahi Sebastian, dengan segera Ciel mengambil jarak yang cukup jauh dari makhluk mesum dan aneh itu, "Hosh.. hosh.."

"Aku tak tau siapa kalian.." ucap si mungil itu sambil mengatur napasnya, "Tapi, tolong jangan ikuti aku.."

"Kalau kalian ingin ke Phantomland, kalian bisa mengikuti jalan setapak itu.." teriak Ciel sambil berlari kecil.

"NONAAA, SIAPA NAMAMU?" teriak Sebastian ketika menyadari jarak mereka yang sudah terlampau jauh.

Nona ber-dress pink itu pun menoleh, "NAMAKU CIEL! CIELISSNOWWHITE!" balasnya dengan teriakkan juga, lalu dengan mengangkat gaunnya Ciel berlari memasuki wilayah pedalaman hutan.

Beberapa menit berlalu

"Pangeran, apa perlu kita mengejarnya?" tanya Claude pada Sebastian.

Pangeran itu pun menggeleng, "Aku rasa tak perlu, karena aku sudah menandainya tadi.." ucap si ruby itu dengan seringainya, "Aku malah lebih penasaran dengan asal usul Nona manis itu.."

Claude pun mengangguk, "Saya juga, dari pakaiannya sepertinya ia bukan gadis biasa.." ucap butler berkacamata itu.

"Belum lagi, saya penasaran dengan Ratu super CANTIK DAN SEKSI yang dibilang Nona itu.." tambah Claude sambil mengeluarkan seringai yang tak kalah mesum dari Sebastian (?)

"Baiklah, kalau begitu tujuan kita ke Phantomland Kingdom.." ucap Sebastian sambil memungut pedang jatuh yang ditinggalkan Ciel.


Hari pun mulai menggelap kini sang Luna Selena sudah terpajang di langit Phantomland, di jalan setapak menuju kerajaan itu tampaklah dua sosok pria dengan warna rambut yang sedikit berbeda. Pemuda beriris ruby dan amber itu terus berjalan sampai di depan gerbang yang bertuliskan, 'Welcome to Phantomland Kingdom DEATH!'

Mereka terdiam sejenak, 'Sungguh ungkapan yang tak lumrah untuk ucapan selamat datang..' batin pemuda berkacamata itu. Kedua pemuda itu, kini menyipitkan matanya dan tampaklah dua makhluk yang kemungkinan besar adalah penjaga istana (?) Lalu, mereka kembali diam dan berusaha untuk mempercayai pengelihatannya.

"Claude.." ucap si ruby

"Ya, Pangeran?" balas si amber itu singkat.

"Apakah aku sedang bermimpi?" tanya Sebastian dengan tampang begonya.

Dan, PLAAAKKK Claude pun menampar pipi mulus Sebastian 'cukup' keras.

"Bagaimana pangeran? Apa rasanya sakit?" tanya Claude sambil merenggangkan tangannya yang dipakai untuk menampar tadi.

Sebastian melirik butler-nya dengan tatapan sadis KREEEEEEK kini kaki Claude diinjak pangeran iblis itu untuk kedua kalinya dihari ini. "Tentu saja rasanya sakit, BODOH!"

Dan, WUUUUSSSSSSSSSSSSSHHHHHHHHHHHHHH

Tiba-tiba saja mereka sudah dikerumuni orang-orang, dan orang mereka maksud di sini jauh lebih mengerikan dari penjaga istana bertubuh kekar memakai costume wonder girl dengan wig joker yang berhasil membuat Pangeran dan butler-nya itu speechless tadi. Kumpulan makhluk yang mereka lihat sekarang..

"Ih mas~ cuco deh~~" ucap pria bertubuh atlit dengan pakaian maid itu sambil nyolek-nyolek badan Sebastian.

Sementara, pria ceking dengan mini dress itu tanpa disuruh langsung memeluk lengan Claude, "Main sama eke yukk~~" ucapnya dengan tatapan seceng atau baret (?)

"Jangan sama eke aja, masi ori boo~~" ucap banci lain sambil memeluk lengan sebelah Claude yang masih kosong (?) dan, selesailah hidup butler itu ketika, "Kaga sama akyuuh ajaa, dijamin PUAS~~" seorang banci lain *lagi* me-rap*-nya dari belakang. *PLAAAK

Dan, sekarang hancurlah masa depan mereka (Baca : Sebastian dan Claude) saat tubuh suci kedua iblis tampan itu di-rap* oleh Okama liar yang melebihi banci dari taman lawang *LOL

PRAAAAAAAAAAAAAAANNNNNNNNNNNGGGGGG

Suara keras yang entah dari mana asalnya itu membuat para okama berhenti dari aktivitasnya (?)

"Apa-apaan ini?" tanya sosok mungil bersurai blonde itu tiba-tiba, penjaga istana yang daritadi diam karena galau (mau ikutan nge-rap* tapi gensi) pun melapor.

Setelah sosok maid manis itu mengangguk beberapa kali, mungkin maksudnya mengerti (?)

PRAAAAAAAAAAAANNNNNNNNNNNNNNNGGGGGGGGGGG

Dengan menepukan kedua tutup panci yang ia bawa membuat semua makhluk yang menempel pada kedua korban itu menghilang satu per satu.

"Cepat pergi kalian.. jangan ganggu mereka!" perintahnya sambil melangkah mendekati Sebastian dan Claude.

Kini penamiplan Pangeran Iblis itu sangatlah lusuh, untung kucing yang ia peluk membantunya mencakar-cakar banci tadi. Sedangkan, Claude sudah sangat menyedihkan.. bayangkan seluruh pakaiannya habis dirobek makhluk-makhluk itu.

"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Alois polos atau memang tak tahu kondisi. Kedua pria yang kucel tapi masih kece itu pun berkata, "Menurut Anda?" ucap mereka bersamaan.

"Engga baik-baik aja sih.." jawab Alois sambil memerhatikan keduanya. Dan, kini mata light blue-nya itu tertuju pada benda yang dibawa Sebastian.

"Pedang itu kan milik Puteri.." ucap Alois dengan tampang bingungnya. Yah, itu karena.. kenapa pedang yang tadi siang baru ia beri pada Puterinya bisa berada ditangan pria ini?

Iris ruby itu pun mengambil pedang yang tersangkut di pinggangnya dengan sebelah tangan, "Ini?" tanyanya, "Tadi, ada seorang Nona manis yang menjatuhkannya—"

"Kalau tidak salah namanya Ciel.. Cielissnowwhite.." lanjut Sebastian dengan senyumannya.

Alois yang langsung percaya dengan omongan iblis satu itu pun berkata, "Bodoh sekali Ciel-ojousama.. masa benda warisan kerajaan bisa terjatuh begitu saja!"

Sebelah alis iblis tampan itu terangkat (?), "Eh? Ojousama?" tanyanya penasaran.

Alois pun menggembungkan pipinya, "Ciel-ojousama itu Puteri kerajaan ini.." jawab maid itu sambil melipat kedua tangannya. "Oh, iya.. kalian ini siapa dan ada urusan apa ke sini?"

"Ehmm.." Sebastian melirik ke arah Claude, meminta butler-nya itu menjawab pertanyaan si maid. Tapi, koneksi yang menghungkan Claude dengan dunia ini sepertinya sedang terputus akibat Culture Shock (di rap* okama) tadi. Ingin rasanya si ruby menginjak kaki pelayaannya *lagi*namun, karena kasihan pangeran iblis berhati mulia (?) itu mengurungkan niatnya.

"Ehmm, sebenarnya kami datang dari kerajaan yang sangat JAAAAAUUUHHHH!" ucap Sebastian, "Dan, kami ke sini untuk bertemu Ratu.." bohong iblis tampan itu untuk mencari alasan agar bisa masuk ke istana (?)

Alois yang di fic ini berperan jadi anak polos plus baik pun langsung percaya dengan omongan Sebastian(?) "Oh, kalau begitu silahkan masuk.." ucapnya sambil menyuruh penjaga membukakan gerbangnya.


TAP TAP

SREEKK SREEKK

"Kalian tunggu di sini sebentar, saya akan memanggilkan Ratu.." ucap maid berpakaian biru itu. Diikuti anggukan Sebastian dan Claude.

"Kau kenapa?" tanya si ruby ketika butler-nya itu menatap fokus kepergian surai blonde.

Claude menggeleng, "Tidak kenapa-kenapa—"

"Hanya saja.. saya pikir maid itu manis.." ungkapnya sambil melipat kedua tangannya.

Sebastian pun melirik ke arahnya, "Well, kau lebih tertarik pada 'maid manis' itu daripada sang Ratu?" tanya pangeran itu dengan nada penasaran.

Si amber tampak berpikir sejenak, "Entahlah.. Kalau, Ratunya lebih seksi sih—" ucapnya menggantung. Dan..

"Maaf membuat kalian lama menunggu.." potong surai blonde yang tadi dibicarakan, "Ini adalah Ratu kerajaan kami—" lanjut maid manis itu.

"Perkenalkan, aku Ratu Phantomland.. Grell Sutcliff DEATH!" ucap Ratu (?) itu sambil masang pose sailormoon melet-melet (?)

SIIIIIIIIIII—NNNNGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGG

Kedua pemuda itu pun ber-cengo ria, Claude yang tadinya bisa dibilang naksir sama si Ratu mendadak brockenheart. Yah, bagaimana tidak? Siapa yang menyangka, kalau ternyata Ratu Phantomland ini makhluk ga beres juga (baca: banci)

Kini, si pangeran iblis itu tampak mengerutkan keningnya ketika berhasil ke luar dari ke-cengo-annya, 'Bagaimana bisa Nona manis seperti Ciel, punya 'ibu' yang seperti itu?' pikir Sebastian dan tanpa sengaja mata ruby-nya bertemu dengan mata Grell. Dan..

DEG, background Love-love sprakling sekarang menghiasi hati Ratu Phantomland itu.

"My God, tampan namamu siapa?" tanya Grell antusias sambil meluk sebelah tangan Sebastian.

Si raven yang mulai risih langsung melirik ke butler-nya, "Perkenalkan Ratu, beliau ini adalah Pangeran Ib—eh, Pangeran yang berasal dari belahan bumi bagian selatan.." jelas Claude dan membuat..

"God, ternyata kau pengeran ya?" Grell jauh lebih antusias meluk Sebastian (?)

Di dalam hati, sang Pangeran pun mengutuk butler-nya.. 'Setelah ini akan kuinjak kakimu seratus kali..'

Iris emerald melirik ke arah Claude, "My.. my.. apa yang terjadi padamu, Dear?" tanyanya sambil mendekati butler itu. Claude mulai merasa ngeri karena takut diapa-apain lagi (?)

"Alois.. cepat antar si tampan berkacamata ini untuk membersihkan dirinya—" perintah Grell pada maid kerajaan itu. Dengan segera, si light-blue itu menuntun Claude ke luar dari ruang tunggu. Diiringi Sebastian yang mengekor di belakang. Namun..

GREEP

Sang Ratu menarik lengan Sebastian dan dengan senyumannya, "PANGE-RAN~ TAM~PAN~ kau harus tetap di sini~~"

"Karena.. AKUH ingin banyak tahu.. tentang dirimu~~" ucap Grell sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Sebastian. Dan, dengan refleks si raven itu menangkisnya.

Ok, mungkin ini adalah salah satu kesialan Sebastian di hari yang panjang ini? Entah apa yang ditanyai Grell pada si iblis tampan itu, biarlah itu menjadi rahasia mereka berdua (?)


Sementara itu di suatu tempat

Ciel POV

'Ini di mana?' batinku

'Apa aku salah jalan?' tanyaku dalam hati

'Jangan-jangan.. aku tersesat?!' pikirku sendiri dan, "Tch.. semua ini gara-gara orang bernama Sebastian itu!" ungkapku kesal sendiri.

Tapi.. tadi itu.. aku dan dia berciu— BLUSH 'Apa yang kau pikirkan Ciel? Dia itu cuma orang asing yang tiba-tiba saja mencuri FIRST KISS-mu..'

Iya, FRIST KISS-ku dan berkatnya aku tak bisa melupakannya sepanjang jalan kumelangkah dan berakhirlah aku di sini.. tersesat entah di mana. Belum lagi..

KRIIIUUUK

Cacing dalam perutku mulai membutuhkan pasokan, yah maksudnya aku kelaparan.. dan rasanya benar-benar menyiksa.. Coba saja ada Alois, pasti dia sudah menyiapkan macaron dan cake di afternoon tea tadi.. "HAAAAAAAHHHHHH, aku laparrr…." gumamku frustasi.

Dan kini indera penciumanku, mencium bau choco cookie? Mungkin ada rumah di dekat sini? Aku pun sedikit melagkah, sekarang dihadapanku tampak papan yang bertuliskan 'KURCACI House'

BINGO, berarti penciumanku yang setajam anjing ini tak ada yang salah. Tanpa disuruh aku pun berlali kecil ke rumah yang tak jauh dari papan tadi.

TOK TOK

Aku mengetuk pintu kayu itu.

TOK TOK

Kuketuk lagi karena tak ada balasan.

TOK TOK TOK

Tanganku mulai terasa sakit sekarang, "Apa ada orang di rumah?" tanyaku sopan sambil memegang daun pintu. Lalu..

CKLEEEEKK

Pintu itu terbuka dengan sendirinya, dengan ragu aku memasuki rumah yang cukup sempit itu. Tak ada ruang tamu dalam rumah ini. Yang kulihat hanyalah tujuh tempat tidur yang tersusun rapi dengan warna seprai yang berbeda. Dan, yang terpenting sekarang ada cookie yang menganggur di meja dapur itu.

Kuambil cookie yang sepertinya baru matang itu dan kumasukan ke dalam mulutku, NYAAMM rasanya, "Enaaakkk" ungkapku girang sediri, lalu kuambil lagi dan lagi cookie itu sampai tak bersisa sedikit pun.

Karena kekenyangan yang melanda, aku pun mengantuk dan memutuskan untuk tidur di ranjang berselimut hitam itu.


Normal POV

TAP TAP

"Sampai kapan aku harus seperti ini?" keluh sosok bergaun orange sambil membawa pencukur rumput otomatisnya.

TAP TAP

"Tentunya sampai uang kita terkumpul banyak.." desis surai gelap itu sambil membenarkan letak kacamatanya tak bergeser.

TAP TAP TAP

"Kalau, aku sih asal bersamamu.. mau perkerjaan apapun itu, OK OK aja sih.." ucap surai blonde itu sambil memeluk si rambut brown yang ada di dekatnya, "Jangan ngegombalin aku, please.." protes si brown sambil melepaskan pelukan si blonde (?)

TAP TAP TAP TAP

"Ara?" gumam sosok yang memejamkan mata itu, "Sepertinya ada yang memasuki rumah kita teman-teman.." ucap sosok oriental berpakaian mini itu pada keempat orang temannya.

Dan, "APHHAAAA?!" Ronald, Will, Erick dan Allan berteriak bersamaan. tanpa ba-bi-bu mereka memasuki rumah yang dalam kondisi terbuka itu.

CKLEEEEEKKKKK

BRAAAAAAAKKKKKKKKKKKKKKKKK

Mereka pun jatuh bersamaan, dengan segera si sosok bergaun hitam itu bangkit dari posisi jatuh masalnya. Iris emerald-nya kini tertuju pada sosok Nona mungil ber-dress soft pink dan yang paling penting.. sosok mungil itu tidur di atas kasurnya.

Munculah kerutan di pelipisnya pertanda dia kesal, lalu dengan anggunnya ia menarik dress Nona yang sedang tertidur itu.

GEDUBRAAAAAAAAAAK

Nona mungil itu sukses mencium lantai, "Sa-sakitt.." gumamnya sambil menyentuh kepalanya yang terasa sakit. Iris sapphire-nya terbuka lebar, "Kalian siapa?" tanyanya seakan ia yang punya rumah.

Sosok berpakaian serba hitam itu mulai dongkol, "Tch.. harusnya kami yang bertanya seperti itu—"

"NONA TIDAK SOPAN!" ucapnya kesal. "Will, sertinya kau berlebihan.. kasian Nona ini.." bisik sosok ber-dress coklat senada dengan rambutnya itu.

"Ah, Allan.. ngapain sih bisik-bisik sama Will.. mending sama aku ajaa.." ucap sosok ber-dress hijau itu sambil meluk si coklat dari belakang (?)

"Dih, bisa berhenti beardegan menjijikan seperti itu ga sih?!" *inget rate woii* protes sosok blonde bergaun orange tadi. Diikuiti, "Ara?" si oriental yang sama sekali tidak menyimak perdebatan teman-temannya.

Sementara, "Ehm.. Nama saya Ciel, mulai sekarang saya akan tinggal di sini.." Ciel memperkenalkan dirinya, "Jadi, mohon bantuannya ya?" ucap si mungil itu diiringi senyuman termanisnya. Dan..

SIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII—NNNNNNNNNNNGGGGGGGGGGGGGGG GGGGGGGGGGG

Kelima orang yang asik berdebat tadi terdiam. Lima menit berlalu..

BRAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKK

Will pun, melempar Ciel dari rumahnya (?) "Jangan pernah datang ke sini lagi!" ucapnya kesal.

Ciel yang merasa tak punya cara lain pun memasang muka innocent face dibarengi tatapan puppy eyes yang seakan mengatakan, 'Tolong jangan usir aku..'

Alan yang mempunyai jiwa ke-ibu-an pun tak tega melihatnya, "Will, biarkan dia tinggal di sini untuk sementara—"

"Lagipula ka nada dua tempat tidur kosong di rumah.." pinta Allan pada Will.

"Nona ini pasti akan merepotkan kita.." elak Will, kini Allan yang memasang tatapan memohon, "Aku yang akan menjaganya.. jadi kau tak perlu repot Will" ucap Allan.

Will yang tidak bisa membalas perkataan Allan pun terdiam, pertanda ia setuju (walau setuju sepihak)

Erick pun mengulurkan tangannya pada Ciel yang masih dalam posisi jatuh, "Baik, Nona manis.. aku Erick dan mulai sekarang aku adalah papa mu—"

"Lalu, si cantik berambut coklat ini Allan.. kau bisa memanggilnya Mama.." ucap Erick sambil nyengir diikuti PLAAAAAAAAKKKKKKK tamparan keras dari sosok 'mama' itu.

Ron dan Lau hanya bisa geleng-geleng ketika melihat kedua orang itu bertengkar layaknya pasangan. Ciel hanya diam sambil masang muka polos karena dia memang tidak mengerti apa-apa.. yang penting sekarang ia sudah punya tempat tinggal dan tempat makan gratis (?)

"Ehmm.." dehaman yang ke luar dari si Klimis Will pun membuat mereka berhenti ribut, lima sekawan itu pun saling melirik dan berkata, "Selamat datang di KURCACI house!" ucap mereka bersamaan.

Ciel yang kaget pun berkata, "Mohon bantuannya.." sambil tersenyum ke keluarga barunya paling tidak di tempat ini dirinya diterima. Tunggu, sepertinya ada yang menjanggal dalam nama rumah ini.. merekakan bukan kurcaci? Tapi, kenapa nama rumah ini..

"Eh, iya kenapa rumah ini bernama KURCACI house?" tanya si mungil itu tiba-tiba.

Kelima sosok itu pun melirik ke arah Ciel, "KURCACI itu singkatan—" ucap Will, diikuti anggukan keempat temannya.

"KUMPULAN—" ucap Lau.

"RAS—" lanjut Erick.

"CANTIK—" sambung Allan.

Dan, terakhir.. "Tapi, BANCI!" ucap Ron dengan kesalnya. "Cih.. Kenapa.. aku yang harus kebagian bilang BANCI-nya sih!" protesnya tak terima.

"Derita kouhai, Ron.." ucap Erick diikuti tawa Allan. Ciel yang tadinya diam pun ikut tertawa bersama mereka (walaupun ga ngerti) dan suasana hangat kini menghampiri Puteri yang hampir tak punya teman sepanjang hidupnya itu.


Kembali lagi ke Phantomland

"Oh, jadi Sebby ini anaknya Raja Underworld (?) ?" tanya sosok serba merah itu dengan nada penasaran.

Si raven pun mengangguk, "Iya begitulah yang Mulia Ratu.." ucapnya bohong diringin senyuman palsunya.

Yah, tak mungkinkan Sebastian bilang kalau dia itu Pangeran Iblis yang menginkan Ciel untuk jadi pendamping hidupnya (?) Well, underworld sendiri adalah nama kerajaan yang baru semenit lalu dikarang Sebastian, 'Hell sama Underworld, bedanya sebelas duabelaskan? Intinya sama-sama buat orang mati?' *abaikan*

"Oh, iya Ratu.. saya dengar Anda memiliki seorang Puteri—"

"Kalau tidak salah namanya Cielissnowwhite kan?" tanya si ruby itu untuk mengorek informasi lebih.

Grell pun memasang senyum kecutnya, "Dia itu bukan anak kandungku!" ucapnya kesal, "Kau tahu kan~ aku ini masih SINGLE~~ LHO~~" ucap Ratu sambil mendekati Sebastian diikuti seringai dari makhluk hitam yang berada dipangkuan pangeran tampan itu.

"Miaaawww~~ Miaaawww~~ MIAAAAWWW!" meong (?) kucing itu seakan berkata, "Jangan dekati Sebas, dia punyaku!" dan, setiap kali Grell berusaha meluk si raven pasti kucing ini mencakar-cakarnya. Jadi, si pangeran tampan itu pun terselamatkan (?)

"Pangeran.." ucap seseorang yang suaranya tak asing ditelinga Sebastian.

Si ruby itu pun menoleh, "Ya, Claude?" tanyanya sambil memasang tampang kagetnya..

"PFFFTTTTTTTT.. HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH" tawa itu pun meledak dari mulut Sebastian, "Claude, pakaian apa yang kau pakai itu.. hahahaha.."

Claude yang berdiri sekarang masih memakai kacamata dan baju serba hitam, hanya saja dari outfit yang ia kenakan sekarang.. rasanya Sebastian lebih cocok memanggilnya 'Nona Maid' daripada 'Butler'

Sosok maid berpakaian serba hitam itu pun mulai kesal karena Tuannya menertawainya, "Pangeran.. bisakah Anda berhenti tertawa.."

Sang Pangeran pun terdiam, "Baiklah, ada apa Claude?" tanyanya serius.

"Ini sudah terlalu malam, sebaiknya Pangeran beristirahat.." ucap butl— eh maid (?) itu.

Sebastian mengangguk, "Kau benar.." ucapnya..

"Well, Ratu saya pamit diri dulu.." ucap Sebastian pada Grell diiringi senyuman khasnya yang dengan mudahnya membuat si Ratu kelepek-kelepek seperti ikan yang tak di airi (?)


Pangeran dan butler-nya yang lagi cosplay (?) jadi maid itu pun meninggalkan Ratu, kini mereka melewati lorong istana dan sampailah mereka ke kamar tamu.

Claude langsung merapihkan lagi kamar Tuannya, sementara Sebastian memerhatikannya dari belakang.

"Claude, ke sini sebentar.." titah si ruby, pelayannya itu langsung menghampirinya tanpa menjawab.

"Sekarang buka kacamatamu.." ucap si raven itu, walau sedikit bingung Claude tetap mematuhi perintah Tuannya itu.

Lalu, Sebastian mengambil sisir yang terletak di atas meja yang ada di sampingnya itu. Dan, sekarang ia mulai menyisir rambut Claude (?)

"Nah, sempurna.." ucapnya, "Sekarang lepas bajumu.." pertintah Sebastian membuat Claude merinding disko (?)

"Maaf, tadi pangeran bilang apa?" tanya si amber itu memastikan ucapan Tuannya *tadi*

Sebastian menghela napasnya, "Kubilang lepas bajumu.."

'Ok, sekarang memang mengerikan..' batin Claude dan ia mulai melangkah mudur (?)

Iris ruby itu pun menatap amber, "Apa kau sulit membukanya? Eh?" tanyanya diiringi seringai yang sukses membuat bulu kuduk Claude menegang. Dan..

BRAAKK

KRESSSSKK

BRRAAAKKK BRAAAKK

Suara itu terdengar dari luar kamar Sebastian sekarang dan lima menit pun berlalu.

"Nah, selesai.." ucap Sebastian.

"Apa tak akan apa-apa kalau melakukan ini?" tanya Claude ragu.

Ruby dan amber itu pun saling menatap, "Tenang saja, percayalah padaku—" ucap Sebastian serius.

"Kau hanya perlu berpura-pura menjadi aku yang tertidur sampai besok pagi.." lanjut pangeran iblis itu.

Claude pun hanya bisa menyetujui permintaan tuannya, "Tapi.. apa Anda serius menggunakan pakaian seperti itu?" tanyanya pada Sebastian.

Lalu, seringai licik pun terpampang di wajah tampan surai raven itu, "Kalau demi Ciel, apapun akan kulakukan—"

"Lagipula, aku penasaran dengan aroma kematian yang melekat pada Ratu itu.." ucap Sebastian dan diikuti anggukan dari Claude.

"Iya aroma kematian itu, jangan-jangan dia menggunakan sihir.." sambung pelayan yang kini memakai pakaian Tuannya itu.

"Well, sepertinya aku harus segera pergi untuk mencari tahu kebenarannya.." ucap Sebastian sambil membuka jendela kamarnya. Dan

WUUUSSSSSSSSSSSSHHHHHHHH

Angin kencang bertiup dan ia pun memulai pencariaan barunya di tengah badai salju itu.


Omake : First Time

Claude POV

"Alois.. cepat antar si tampan berkacamata ini untuk membersihkan dirinya—" ucap si Ratu menjijikan itu pada maid yang imut ini. Dengan segera, si light-blue itu menggenggam tanganku dan membawaku ke luar dari ruangan tadi.

Dia menggandeng tanganku tanpa berbicara satu patah kata pun. Dan ini

DEG! Berhasil membuat jantungku berpacu dengan cepat. Aku ini iblis, tak mungkin aku—

'My.. my.. demi apa pun baru pertama kali ini aku mencium aroma yang semenyegarkan ini..' batinku..

'Ingin sekali aku melahapnya..'

Tiba-tiba saja langkahnya berhenti, tangan mungilnya sekarang melepaskan tangan pucatku.

SREEEEEEEEEEEEEEEKKKK

Dibukanya pintu yang ada dihadapannya, lalu dengan senyumannya "Tuan.. ini adalah kamar Anda.." ucapnya.

"Silahkan bersihkan diri Anda terlebih dahulu, bathtub dan air panasnya sudah disiapakan…" ucapnya lagi sambil menujukan jalan ke arah kamar mandi.

"Namamu Alois kan?" tanyaku padanya, diiringi anggukan darinya. "Well, terimakasih.." ucapku padanya sambil masuk ke dalam kamar mandi.

Lima belas menit pun berlalu, setelah membilas semua busa dari tubuhku aku pun ke luar dari kamar mandi.

"Apakah Anda sudah selesai?" tanya surai blonde yang masih setia menunggu di pojok pintu.

Perlahan ia mendekatiku, "Kalau dilihat dari tubuh Anda, sepertinya Anda belum pernah melakukannya—" ucapnya menggantung. Dan, situasi ini sukses membuatku—

Lalu ia menatap iris amber-ku, "Mungkin, untuk pertama kali rasanya akan sakit—"

"Tapi, kalau sudah terbiasa.. rasanya akan menjadi enak kok.." jelasnya dengan senyuman manisnya.

Aku hanya bisa terdiam untuk mengerti maksud perkataannya. Sekarang isi otakku sudah cukup penuh untuk berpikir.

"Baiklah, akan kumulai perlahan.." ucapnya pelan seakan berbisik ditelingaku. Dan,

"AAAHHHHHHHHHHHHHH~~~~~~~~~~~~~~~~~" teriakku keras.

"Tch, kecilkan volume suaramu.." pintanya, "Kalau ada yan dengar bagaimana?" protesnya.

"AHH~~" sedangkan aku hanya bisa mendesah (?) akibat ulahnya. Lalu, lima menit berlalu dan aku merasa—

"Nah, selesai.." ucapnya sambil menyeka keringat yang membasahi pelipisnya.

"Bagaimana? Sudah enakan kan?" tanyanya padaku.

"Memakai korset itu memang bukan hal yang mudah.." lanjutnya sambil memakaikan headdress di kepalaku.

Dan, Kini.. aku benar-benar merasa malu..

'TEMPAAAAT MACAAAAAAAAAAM APAAAAAAAA INIIIIIII?!' teriakku dalam hati


A/N

Author? KABUURRRR!

Well, saya mau minta maaf BAAAAAAANGGET karena uda banyak menistakan karakter di fic ini

*sujud sembah ke Toboso Yana-san*

Well, Mind to Review?