Hai minna-san! Apdet ke tiga :3
Sebelumnya mau ngucapin makasih sebuanyak-banyaknya sama elfazen-nee karena udah memberiku kritik yang membangun ;) muah muah muah! Semoga nggak kecewa lagi sama yang ini! :D dan jangan bosen untuk memberi saran ya! :D maklum author amatir -,-
Dozo yoroshiku onegaishimasu!
Warning : Typo(s), Semi-canon dan (berharap untuk tidak) OOC
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. Saia hanya berimajinasi -,-
Guide?
Chapter 3 : Tidak Terduga
.
.
.
(Third Person's POV)
Pemuda raven itu menghempaskan tubuhnya di salah satu kursi di taman yang tadi. Dia duduk diam dan hanya memandang dua minuman kaleng yang sedari tadi dia pegang. Entah kenapa hatinya tidak begitu dalam keadaan yang baik hari ini. Melihat Ino yang dipeluk dari belakang oleh orang itu menambah ketidak moodannya. Entah kenapa dia merasa kesal.
Sasuke menengadahkan kepalanya ke atas. Sepertinya dia tidak boleh memikirkan moodnya saja. Sebagai shinobi dia harus menjalankan hukuman dengan profesional. Seharusnya dia tidak punya waktu untuk seperti ini. Yah, salahkan saja Rokudaime yang memberi jangka waktu yang sangat panjang.
Yosh. Lanjutkan sajalah walaupun tanpa Ino.
~ Sasuke Ino ~
"Kyaa~ Sasuke-kun datang membantuku, kyaa!…"
"Ooh, a-anak muuda,"
"Hah? Hukuman yang aneh,"
"Yo! Arigatou na omae,"
"Aku masih tidak percaya Sasuke-sama mau membantuku…"
"Aku tidak salah lihat, 'kan?"
"Ma'aciih, onii-chan,"
Dan kalimat-kalimat lainnya yang membuat Sasuke pusing. Walaupun dia belum bisa untuk tersenyum—secara normal, tetapi wajahnya sudah tidak terlalu dingin lagi. Tatapannya pun tidak setajam dulu. Hanya wajah datarnya yang masih setia bertengger di mukanya.
Meskipun begitu, ada juga yang belum bisa menerima Sasuke kembali di desa ini. Tidak sedikit yang menutup pintu kembali ketika pemilik mata onyx itu tersenyum—menurutnya dan berada di depan pintu rumah mereka. Tidak jarang yang memaki dia ketika dia menjelaskan kenapa dia bisa ada di depan rumah mereka.
Padahal, semua orang harus membubuhkan tanda tangan di buku tebalnya ini. Bagaimana bisa Sasuke lolos dari hukuman ini jika banyak orang yang masih belum bisa menerimanya?
Ino.
Otak Sasuke bertengger ke seorang gadis pirang itu. Apa gunanya Ino yang selalu berada di sampingnya—sampai tadi siang itu?
Ah. Tapi dia sekarang sedang bersama kekasih tercintanya. Bukan, Sasuke bukan merasa cemburu. Bukan—tidak mungkin itu terjadi. Tapi kenapa dia merasa badmood ketika dia ingat kejadian Ino dipeluk dari belakang oleh orang itu? Kenapa?
Di-dia melalaikan misinya! Teriak Sasuke dalam hati. Berusaha membantah—mencari alasan yang logis kenapa dia mengalami badmood ketika teringat dengannya. Ya, secara tidak sengaja Ino sudah melalaikan misinya karena dia berpacaran di tengah-tengah misi. Dan Sasuke pantas untuk badmood hari ini karena guidenya bersikap seperti itu.
Langit sudah mulai berwarna merah kehitaman. Lampu-lampu mulai dinyalakan pada rumah masing-masing. Orang-orang banyak yang menyudahi pekerjaan mereka masing-masing.
Dengan perasaan sedikit kesal, sedih, dan kecewa—dia juga tidak tahu kenapa dia seperti itu, Sasuke berjalan menuju rumahnya. Rumah—yang Sasuke anggap kuburan yang punya kenangan.
Sasuke masuk dalam rumahnya. Hampir, karena ketika dia akan melepas alas kaki satunya, dia merasakan ada yang menepuk bahunya kecil.
"Sasuke-kun! Dari mana saja kau ini!" ucap seseorang itu dengan kesal. Sedangkan Sasuke hanya membulatkan matanya—kaget kenapa dia bisa sampai di sini.
"Ino? Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Sasuke dengan nada sedikit tidak percaya—selebihnya yang terdengar hanyalah nada datar.
"Kau dari mana saja hah? Aku cari ke mana-mana, kau tahu!" ucap Ino dengan kesal tingkat dewa tanpa menjawab pertanyaan Sasuke barusan.
"Aku… Menjalankan hukumanku. Memang kenapa?"
"Kenapa kau meninggalkanku tadi siang? Dan malah kau menjalankan hukumanmu sendiri—apa kau lupa kalau aku ini guidemu?" tanya Ino bertubi-tubi.
Sasuke yang mendengar pertanyaan-pertanyaan Ino hanya sedikit melengos dan berpaling ke arah lain selain dari mata aquamarine itu. Hening sesaat. Bukannya bersiap untuk menjawab pertanyaan Ino tadi, Sasuke malah berbalik memunggungi Ino dan masuk ke rumahnya.
Ino hanya melongo disuguhi sikap seperti itu. Merasa diabaikan, Ino pun mengikuti langkah Sasuke masuk ke dalam rumahnya—setelah dia melepas alas kakinya. Mereka terus berjalan dengan Ino di belakang sampai di sebuah ruangan.
Ruangan yang hanya terdiri dari tempat tidur, lemari dan meja kecil—sebut saja kamar. Sasuke dengan santai masuk ke kamarnya, sedangkan Ino masih mematung di depan kamar. Ini memang bukan pertama kalinya dia masuk ke kamar laki-laki—dia pernah masuk kamar Shikamaru, Chouji dan ayahnya jika dihitung. Tapi, masuk ke kamar Uchiha Sasuke? Itu seperti mimpi.
Walaupun Ino sudah tidak mengejar-ngejar Sasuke lagi seperti dulu, tapi dia memang masih mempunyai sedikit rasa dengannya. Ino bohong kalau dia tidak memikiran pemuda raven itu, yah meskipun itu hanya berlangsung tidak lama dan sekelebatan saja.
Tidak. sebelum Ino mempunyai keberanian dan kekuatan untuk memutuskan dia, Ino harus menjauhi perasaan kecilnya pada Sasuke ini. Ya, harus.
Setelah beberapa lama akhirnya Ino sadar dari daydreamingnya dan mulai melangkah masuk ke dalam kamar Sasuke. Tapi alangkah kagetnya ketika Ino melihat Uchiha itu membuka pakaian atasnya. Sontak membuat pipi mulus Ino memerah tidak karuan.
"KYAAAA! SASUKE-KUN APA YANG KAU LAKUKAAAAN!" teriak Ino secara spontan. Dia pun menutup iris aquamarinenya itu dengan keduan tangannya. Bukannya kaget atau apa, Sasuke malah diam dan menatap gadis di depannya.
"Hn? Kenapa kau masih mengikutiku sampai sini?" tanya Sasuke dengan tenang. Dengan santai dia melanjutkan aktifitasnya—membuka baju atasnya kemudian dia ganti dengan kaos biasa.
Setelah Sasuke sudah berganti baju, dia lihat Ino masih menutupi mukanya dengan kedua tangan kecilnya itu. Melihat itu Sasuke tersenyum geli sedikit. Didekatinya Ino dan melepas tangan Ino dari mukanya yang masih merah.
Ino pun membuka matanya dan memandang mata onyx yang ada di depannya. Setelah beberapa saat Ino pun memalingkan mukanya ke arah lain.
"Kenapa kau meninggalkanku dan mengerjakan semuanya sendiri?" tanya Ino dengan nada yang sedikit kesal. Sasuke terdiam sesaat.
"…Aku tidak mau mengganggumu dengan si pecinta anjing itu," jawab Sasuke dengan nada datar.
"Apa? Kau melihatnya?" ucap Ino dengan kaget.
"…"
"Ya Tuhan—Sasuke-kun! Kiba hanya menyapaku sesaat! Dia tidak mengajakku jalan-jalan—oke dia memang mengajak tapi aku tolak dan mengatakan semua misiku ini!" ucap Ino dengan emosi.
"Oh, itu benar? Bahwa kau dan pecinta anjing itu berpacaran?" tanya Sasuke dengan nada datar—padahal di lubuk hatinya tersirat rasa penasaran.
Ino hanya diam dan mengangguk kecil dengan tidak antusias.
Oke, sekarang Sasuke merasa jantungnya ditusuk oleh sesuatu. Dia tidak tahu apa—dan kenapa bisa merasakan hal aneh ini.
"Kekasih yang tidak kucintai," ucap Ino pelan tapi masih terdengar oleh telinga Sasuke. Jantung Sasuke yang semula merasa tertusuk itu sedikit demi sedikit hilang rasanya. Kini berganti rasa penasaran yang merajalela di pikiran Sasuke.
"Kena—"
"Sudahlah! Yang penting sudah berapa yang tanda tangan yang sudah kau kumpulkan hari ini? Apa sudah seperempat dari desa?" ucap Ino memotong ucapan Sasuke dengan ceria. Dia mengambil buku laporan dan membukanya lembar demi lembar.
"…"
"Hmm, lumayan! Tapi kenapa kau meloncati beberapa nomor rumah? Hei, banyak sekali yang kau lompati," tanya Ino tanpa memandang Sasuke.
"Karena mereka tidak mengizinkanku untuk membantu mereka, mereka masih membenciku."
Sekarang Ino menoleh sepenuhnya pada sosok Uchiha muda itu. Memang prediksi Hokage benar. Tapi mereka tidak sepenuhnya percaya pada pengkhianat ini walaupun sudah memperlihatkan kertas perizinannya.
Sesaat kemudian, senyum Ino mengembang.
"Ayo! Pakai baju ninjamu lagi! Kita akan melakukan hukuman ini sampai malam!" ucap Ino sumringah. Sedangkan Sasuke hanya menautkan alisnya.
"Tidak. Akan kulanjutkan besok saja," ucap Sasuke.
"Ganti bajumu atau kau akan kugantikan baju!" ucap Ino egois.
Sasuke yang mendengar itu hanya melipat tangannya dan menyeringai, membuat Ino meneteskan keringat di pelipisnya dan mundur selangkah.
"Gantikan bajuku kalau begitu."
*BRAKK*
"CEPAT GANTI BAJUMU! AKU TUNGGU DI LUAR!" teriak Ino setelah dia menutup—membanting pintu kamar Sasuke dengan keras. Pipi mulusnya mulai bersemu merah kembali.
~ Sasuke Ino ~
"Huh… Kenapa mereka tidak mau percaya sih? Aku harus bernegoisasi seperti orang bodoh setiap saat," keluh Ino setelah mereka akhirnya berhasil mendapatkan tanda tangan orang-orang yang menolak Sasuke tadi.
"…"
"Aku sudah capek sekali. Ini rumah terakhir ya, Sasuke-kun?" tanya Ino memandang Sasuke dengan puppy eyes andalannya.
"Hn. Terserah."
*TING TUNG*
Hening.
*TING TUNG*
Hening.
*TING TUNG*
Hening.
"Orangnya pergi?" tanya Ino agak kesal. Ino menghentakkan kakinya dengan kesal.
"Ini rumah terakhir dan tidak ada orangnya?" ucap Ino kesal. Sasuke hanya diam dan tidak menanggapinnya.
*SREEK*
"Si-siapa?" ucap seorang gadis kecil berambut panjang yang terlihat ketakutan.
"Oh, hai adik kecil! Kami ada perlu—"
"KAA-CHAN TIDAK ADA DI RUMAH!"
*BRAKK*
Ino hanya melongo. Sudah ramah-ramah dia menyapa tapi tanggapannya seperti itu? Dia sendiri tidak tahu kenapa adik kecil yang manis itu bisa berteriak sekeras dan setajam tadi.
"Hah sudahlah! Kalau nggak mau ya sudah! Kita pulang saja, Sasuke-kun!" ucap Ino dengan—lagi-lagi kesal.
Saat Ino sudah berbalik dan berjalan menjauh, dia merasa Sasuke tidak mengikutinya. Dan benar saja, ketika Ino berbalik lagi, dia tidak mendapatkan sosok pemuda Uchiha itu. Dengan bingung dia kembali ke rumah adik kecil yang sudah menolaknya tadi.
Saat sudah berada di depan rumah adik kecil itu, Ino tidak juga mendapati sosok Sasuke. Dia pun berpikir bahwa Sasuke pasti sudah pulang ke rumah tetapi melewati jalan yang berbeda dengannya. Tanpa pamitan sedikitpun. Haah, tidak berubah sedikitpun, ucap Ino dalam hati.
"KYAAAAAA!"
Dari dalam rumah itu terdengar suara jeritan seorang wanita. Sontak Ino yang awalnya mau kembali pulang segera mengecek keadaan rumah itu. Karena pintu depan terkunci, dengan terpaksa Ino berlari menuju samping rumah dan memecah jendela.
Ketika Ino sudah akan memecah jendela, ternyata salah satu dari jendela besar itu sudah ada yang pecah satu. Ino pun membatalkan aksinya dan segera masuk melalui lubang jendelanya.
Dan alangkah kagetnya ketika Sasuke sedang dicekek lehernya dari belakang oleh salah satu komplotan—yang dia tidak tahu kenapa mereka mencekik Sasuke. Yang pasti aura jahat telah menyelimuti mereka kuat.
Dilihatnya ke semua tempat, ada beberapa anggota dari komplotan itu yang memang sudah pingsan atau terluka. Di sudut paling pojok terlihatlah seorang wanita muda yang sedang memeluk anaknya—adik kecil yang membentak Sasuke dan Ino.
Pandangan Ino pun kembali ke Sasuke. Sasuke masih dalam keadaan tercekik dari belakang. Kedua tangannya mencoba untuk melepaskan tangan orang jahat itu dari lehernya. Melihat itu Ino pun langsung berpikir.
"Hei… Ada satu shinobi lagi. Wah, dia cantik! Bagaimana kalau kita ajak untuk masuk dalam kelompok kita?" ucap seseorang yang sedang mencekik Sasuke.
"Hei kau! Kalau kau sudah selesai mengikat anak kecil itu, segeralah mengikat shinobi cantik itu!" tambahnya.
"Sasuke-kun…" ucap Ino lirih. Kemudian dia memasang kuda-kuda untuk jurus andalannya.
"Shintenshin no jutsu!"
*BZZZT… CIP CIP CIP… BZZZT…*
Alhasil, Ino yang baru saja sukses memasuki inner dari seseorang yang mencekik leher Sasuke, terpental kembali ke tubuhnya yang asli. Kenapa? Karena tepat di saat Ino memasuki inner orang itu, Sasuke mengeluarkan petirnya di kedua tangannya dan mengenai tangan si pencekik—mengenai tangan Ino.
"Arrgh…" ucap Ino menahan sakit karena kedua tangannya 'tersengat' petir Sasuke.
Sasuke yang baru saja menyadari itu, kembali menyakiti tangan si pencekik. Ketika pencekik itu lengah—meregangkan tangannya dari leher Sasuke, Sasuke segera menghabisinya dengan chidori, begitu juga dengan orang yang sedang mendekati Ino sambil membawa tali.
Setelah para komplotan itu sudah tidak berdaya lagi, Sasuke mendekati Ino yang sedang menahan sakit dan tangis akibat petirnya tadi. Sasuke berjongkok di depan Ino dan memegang kedua tangan Ino. Sontak membuat Ino kaget dan sedikit memerah.
"Sakit?" tanya Sasuke. Singkat, jelas dan padat.
"…" Ino tidak menjawab. Bagaimana bisa Sasuke bertanya begitu ketika dia melihat dengan jelas kalau Ino menahan tangis?
Tahu kalau Ino sedang menahan sakit, Sasuke melepaskan genggaman—pegangan tangannya pada kedua tangan Ino. Kemudian Sasuke menatap intens pada aquamarine itu. Merasa diperhatikan Ino pun mendongak dan mendapati onyx Sasuke.
"Dengarkan aku, Ino. Aku…" ucap Sasuke dengan sedikit mengeluarkan semburat merah.
"…"
"Aku… mi-minta—"
"Shintenshin no jutsu!"
*BRUKK*
Tubuh Ino jatuh dalam dada—pelukan Sasuke. Sasuke melebarkan mata onyxnya, tanda tidak mengerti dan kaget. Tapi setelah dia mendengar suara di belakangnya—
"Masih ada satu yang akan melemparkan pisau padamu, baka,"
—dia mengerti.
Sasuke berdiri dan menggendong Ino—bridal style lalu berbalik. Dia melihat salah satu komplotan yang berdiri dan menyeret orang-orang jahat itu keluar dari rumah ini.
"Kau lepaskan ibu dan anaknya itu. Lalu jaga tubuhku dulu untuk sementara waktu. Aku akan menangani ini semua," ucap salah seorang komplotan—inner Ino.
"Tanganmu?"
"Tidak apa, aku masih bisa."
Sasuke hanya mengangguk tanda mengerti. Belum beberapa detik orang itu melangkah menjauh, dia sudah berbalik lagi menuju Sasuke.
"Ah ya, Sasuke-kun. Sebelumnya ada yang mau kutanyakan. Kenapa kau tahu kalau di sini sedang ada kejahatan?" tanya orang itu—Ino.
"Kau tidak tahu ekspresi dari anak kecil itu?" ucap Sasuke. Laki-laki itu hanyau menggeleng.
"Ekspresinya takut 'kan? Bagaimana bisa takut di rumah sendiri? Dan kenapa dia sudah tahu kalau kita mencari ibunya? Dan reaksinya membanting pintu sangatlah aneh," ucap Sasuke panjang lebar.
"Ooh… ehehe, gomen na, aku terlalu terpancing emosi. Ya sudah aku pergi dulu ke kantor keamanan."
~ Sasuke Ino ~
"Haah. Akhirnya selesai juga. Ini sudah akan tengah malam. Tinggal tubuh yang kupakai ini anggota komplotan yang terakhir. Kalau begitu aku kembali dulu ya!"
"Ya, terima kasih telah membantu Yamanaka-san," ucap salah seorang anbu bertopeng.
"Kai!"
Iris aquamarine itu menampakkan dirinya secara perlahan. Yang pertama kali dia lihat adalah langit-langit rumah. Ino melihat sekeliling. Ah, dia sepertinya pernah melihat desain ruangan ini.
Dia pun melihat kedua tangannya sudah diperban rapi. Rasa sakitnya pun tidak sesakit tadi. Ino tersenyum kecil mendapati kedua tangannya itu.
Yang kedua kali dia ketahui adalah hangat. Ino tidak tahu kenapa bisa sehangat ini, padahal tadi saat dia memasuki tubuh laki-laki di luar sana dia merasa agak kedinginan. Ino melirik di bawah selimut; dia masih berpakaian lengkap. Jaga-jaga kalau si Sasuke itu melakukan hal yang tidak-tidak.
Sasuke.
Ingatannya teringat pada laki-laki itu. Di mana dia sekarang?
Sesaat kemudian Ino merasakan ada yang sedikit bergerak di samping tubuh Ino.
Dan ketika dia melihat ke arah samping—
"KYAAA!"
—Ino langsung berteriak kaget.
.
.
.
~ To Be Continued ~
Yooosh akhirnya jadi XDD menurutku actionnya masih kurang, jadi mungkin di chapter depan akan kusuguhi pembunuhan Xd #digantung
Mau bales repiu~
riztata : Aiiih, makasih makasih makasiih :D yang meluk dari belakang? Bisa ditebak di chapter ini XD arigato udah review.
anon : Makasih udah repiu :D
princess nathania swan : ItaIno? Err jujur belum terlalu suka dengan pairing itu ^^a gomen na. But makasih udah mau review :D
Ann Kei : Waduuh, kalo humor nggak janjii… nggak pandai bikin humor Xd yang meluk Ino, diluar dari perkiraan Ann-san XD kalo mau bilang crack silahkan XD okelah, ntar ane pikirkan lagii XDD arigato udah repiuu :D Ohya, sempet kaget juga Ann-san ke fandom FDCI Xd dan nagih utang fic ini XDD
KyuRa : Makasiihh :DD apdetnya mungkin seminggu sekali Xd mangap banget nggak bisa cepet-cepet, maklum author amatiran XDD arigato udah review.
Chika Chyntia : Nggak papa kok, nggak papa *ngasah pisau* XDD becanda becanda. Makasih :D makasih juga udah mau review.
Iztii Marshall : Benarkah? Makasih :D Sasu emang begitu wkaakka XDD arigato udah review.
vaneela : Nggak, Neji nggak sama Hinata… masa incest? bisa ditebak setelah vaneela-san membaca fic ini :DD bukan penjahat kok! XDD arigato udah review :D
Yooosh minna… arigatou gozaimasu udah baca fic gaje ini.
Mind to RnR?
V
V
V
V
V
V
