Halo minna~

Sepertinya interval apdetnya semakin panjang ya? Kyahahaha *ketawa nista*

#digantung readers idup-idup

Maklum minna, habis masuk sekolah baru jadi harus cemungut belajar ^^/

Eng… Disarankan untuk membaca chapter sebelumnya agar tidak bingung sama penjelasan kasusnya! Tapi penjelasannya aku singkatkan kok, nggak panjang-panjang.

Yoroshiku onegaishimasu!

Warning : Typo(s), Semi-canon, OOC

Disclaimer : Naruto punyanya Masashi Kishimoto.


Ino melebarkan aquamarinenya sesaat. Dia merasa tahu sesuatu. Dengan segera Ino menarik lengan pemuda Uchiha itu untuk keluar dari ruang tengah dan menuju ke taman rumah—tempat yang sepi. Sasuke yang bingung hanya menurut saja atas perlakuan gadis blondie itu.

Setelah Sasuke dan Ino sampai di taman belakang, Ino melepas lengan Sasuke. Sasuke memandangnya bingung.

"Ada apa, Ino?" tanya Sasuke datar.

"Sasuke-kun… Aku rasa… Aku…

.

.

.

mengetahui pelakunya."

.

.

.

Day-chan Dragneel presents

.

.

Guide?

.

Chapter 5 : Love Conflict, Begin!

.

.

.

Happy reading~


(Third Person's POV)

"Baiklah, Nona… Yamanaka. Apakah kau tahu yakin siapa yang membunuh Goro Kisaki-san?" tanya seorang petugas keamanan dengan wajah berkerut. Ino hanya mengangguk yakin.

"Iya, inspektur!" ucap Ino mantap. Sasuke hanya menatap gadis blondie itu dengan senyum tipis. Gadis ini teliti juga, pikirnya dalam hati.

Flashback : On

Ino tampak sangat bingung, nervous dan penasaran. Sasuke hanya memandangnya datar dan terus mendengarkan celotehan Ino tentang kasus yang sedang melanda mereka berdua ini.

"A-aku pikir aku mengetahui pelakunya, Sasuke-kun," ucap Ino dengan nervous. Sasuke hanya melebarkan sedikit matanya—dan kemudian wajahnya menjadi datar lagi.

"Benarkah?" tanya Sasuke. Ino hanya mengangguk. "Bagaimana kau tahu?" tanya Sasuke lagi. Jujur dia sendiri pun belum menemukan petunjuk lebih banyak lagi untuk bisa memecahkan kasus pembunuhan ini.

"Aku hanya berpikir begini. Kalau saja Ayumi-san—sang koki yang membuatkan kita teh itu membubuhkan racun di cangkir Goro-jichan, aku pikir seharusnya Subaru-san juga ikut meninggal sekarang juga," ucap Ino panjang lebar. Sasuke hanya terdiam sebentar.

Sasuke terlihat diam, tapi di dalam otaknya dia sedang berpikir keras. Dia ingin bertanya pada Ino, darimana dia mendapatkan kesimpulan seperti itu? Tapi marga Uchiha membuatnya enggan untuk bertanya dan berusaha untuk menebaknya. Beberapa lama dia tidak berkata apapun, suasana pun menjadi hening. Tangannya menyentuh dagu—pose berpikir, dan matanya tertutup.

Ino yang menunggu tanggapan dari Sasuke hanya bisa menghela napas. Dia tahu kalau Sasuke ingin bertanya bagaimana maksud perkataan Ino tadi, tapi dia tahan. Haah, dasar Uchiha, ucap Ino dalam hati.

Berniat memberi sebuah clue,Ino pun menggoyang-goyangkan pundak Sasuke untuk membuat matanya terbuka. Dan setelah Sasuke menghadap penuh ke arahnya, Ino pun mempraktekkan kebiasaan ayah dan anak itu; menggigit kuku ketika berpikir.

Sasuke hanya memperhatikan gerak-gerik gadis blondie di sebelahnya itu dengan tampang berkerut. Tapi sesaat kemudian matanya melebar dan terlihat menyadari sesuatu.

"Sudah tahu kan maksudku?" tanya Ino. Sasuke hanya memutar bola matanya. "Ya, ya, nona. Aku kau lebih teliti," ucap Sasuke menatap arah selain mata aquamarine itu.

Ino hanya menghela napas. "Maaf, bukan maksudku untuk mengguruimu," ucap Ino dengan nada bersalah.

"Sudahlah. Kembali ke topik."

"Iya. Jadi aku pikir pelakunya adalah Ai-san, sang pelayan. Karena urutan yang menyentuh cangkir itu kan Ayumi-san — Subaru-san — Ai-san. Kalau Ayumi-san yang menaruh racun di situ, pastilah Subaru-san juga mati karena dia mempunyai kebiasaan yang sama dengan ayahnya, menggigit kuku."

Sasuke hanya tersenyum tipis. "Hn, benar." Ino tersenyum senang, "benarkah?" tanyanya berseri-seri.

"Lalu untuk apa kau menceritakannya padaku?" tanya Sasuke datar. Ino hanya menggaruk sedikit tengkuknya yang tidak gatal, "aku… tidak percaya diri dengan deduksiku ini. Bisakah kau saja yang mengatakannya?" tanya Ino memohon dan mengeluarkan jurus puppy eyesnya.

Sasuke terdiam sejenak. Dia tahu deduksi Ino itu benar—Sasuke bahkan tahu di mana sisa racun itu disembunyikan berkat deduksi Ino. Dia hanya tinggal bicara apa yang baru saja dikatakan Ino. Dan itu mungkin akan berdampak positif pada popularitasnya—yang belakangan ini menurun karena dia menjadi seorang pengkhianat desa. Mungkin Sasuke bisa lebih mudah diterima lagi di desa kelahirannya ini dengan mambantu mencari siapa pelaku pembunuhan ini.

Tapi, tetap saja. Itu bukan hasil pikirannya. Jika dia tetap mengatakan apa yang dikatakan Ino pada para petugas keamanan, dengan tidak sengaja Sasuke telah mengklaim hasil pikiran Ino. Telah membohongi khalayak masyarakat, bahkan membohongi dirinya sendiri.

"Sasuke-kun?" ucap Ino melambai-lambaikan tangannya di depan pemuda raven itu. Membuat Sasuke tersadar dari lamunannya.

"Kau saja ya, yang bilang?" mohon Ino sekali lagi dengan senyum yang manis. Sasuke hanya menghela napas kecil.

"Tidak bisa. Itu pemikiranmu dan aku tidak mau dianggap sebagai pengklaim," ucap Sasuke datar. Ino tampak kaget selama beberapa saat.

"Tapi, Sasuke—"

"Percaya dirilah. Ayo aku antar," ucap Sasuke menggenggam tangan gadis pirang itu dan kemudian menariknya untuk menemui petugas keamanan.

"A-a-areee?" ucap Ino setengah kaget dan sedikit bersemu.

Flashback : Off

"…Ja-jadi begitulah." ucap Ino dengan sangat nervous. Dia memang sangat gugup karena baru pertama kali ini dia 'menuduh' pelaku pembunuhan—yang dia tidak tahu benar atau tidak. Yah, Ino sangat gugup untuk menjadi detektif dadakan.

Semua orang terdiam di tempat. Awalnya mereka semua memandang Ino, lalu memandang sang pelayan—Ai. Ai tampak melebarkan matanya bulat-bulat.

"HEI NONA! KAU BAHKAN TIDAK PUNYA BUKTI!" teriak Ai dengan marah, tapi dengan nada yang khawatir dan bergetar.

Dibalas seperti itu pun hati Ino langsung ciut. Dia tidak memikirkannya sejauh itu. Apalagi dengan pengalaman pertamanya sebagai detektif dadakan—dia tidak punya pokerface yang sudah menjadi trademark seorang detektif ataupun pesulap.

"Kau tidak punya waktu untuk membuang sisa racunnya, kan? Mungkin sekarang plastik berisi racun itu berada di tubuhmu. Di balik baki yang selalu setia menempel di badanmu itu, mungkin?" ucap Sasuke tiba-tiba. Mulutnya mengulum senyum sombong—khas detektif ketika dia bisa memecahkan sesuatu.

Kata-kata pemuda Uchiha itu sontak seperti mencekek leher sang pelayan. Dia tidak dapat berkata apa-apa, karena semua yang mereka katakan itu benar adanya.

Ai—pelayan itu menjadi pusat perhatian kembali. Menatapnya tidak percaya, menatapnya bingung, dan menatapnya datar—khusus untuk Sasuke. Seketika lutut pelayan itu seperti dipukul sesuatu sehingga dia merasa lemas dan jatuh terduduk.

*KLONTANG*

Baki yang selama ini selalu dia peluk, kini jatuh tergeletak dan menampilkan sisi dalam baki itu. Terlihatlah sebuah plastic berisi bubuk yang diisolasi oleh selotip. Kecil memang ukurannya, tapi tetap kasat mata.

"Aku… Dia… mengancamku… untuk membunuhku… jika aku melaporkan… pe-perbuatan… cabulnya," ucap Ai mulai sesenggukan. Kedua tangannya menutupi wajahnya dengan sempurna.

"Kau… diperkosa?" tanya salah seorang petugas dengan hati-hati.

Dan seperti yang diduga, tangis sang pelayan itu makin menderu-nderu. Semuanya menghela napas dan memberikan deathglare pada sang petugas yang tampak kebingungan itu. Hah, dasar bodoh.


~ Sasuke Ino ~


"Ya ampun Kami-sama… hanya untuk mendapatkan satu tanda tangan saja kita harus memecahkan sebuah kasus pembunuhan. Bukankah itu tidak sepadan?" ucap Ino menggerutu sepanjang jalan sambil membawa buku tebal—buku tanda tangan.

"Hn, tapi seru juga," ucap Sasuke balik sambil sedikit tersenyum menyeringai. Ino pun menoleh ke arah Sasuke dan memasang wajah cemberut.

"HEI! Yang benar saja! Masih banyak orang yang harus tanda tangan di sini! Dan kasus tadi pun memakan banyak waktu kita! Sekarang sudah hampir sore, Sasuke-kun no baka!" ucap Ino dengan kesal tingkat dewa. Sasuke hanya memandang Ino dengan sedikit tertawa.

"Terserah," ucap Sasuke datar.

"Tapi terima kasih ya, kau sudah membantuku tadi," ucap Ino tersenyum dengan manis kepada Sasuke. Sasuke langsung mengalihkan pandangannya ke depan—agar Ino tidak melihat semburat merah yang menghiasi pipinya.

"Hn."

"Haaah, baiklah. Kita teruskan saja. Selanjutnya kita akan menuju ke rumah…" ucap Ino sambil membolak-balikan buku tebal itu. Masa bodoh dengan jalan yang tidak dia perhatikan sama sekali, toh di sampingnya ada Sasuke, pikir Ino. Tunggu, kenapa aku berpikir seperti ini? ucap Ino dalam hati.

*BRUUUK*

Karena terlalu percaya dengan Sasuke yang sepertinya tidak peduli dengan keadaannya, dia terjembab oleh sesuatu. "Aduuuh," ucap Ino mengaduh kesakitan. Kemudian dia menengadah untuk mengetahui sesuatu yang telah menghadangnya.

Ralat, ternyata seseorang yang menghadangnya.

"Shi-shikamaru?" ucap Ino gelagapan. "Sedang apa di sini?" tanya Ino bingung.

"Baka," ucap Sasuke dengan sedikit tertawa sinis. Mendengar itu Ino pun mengeluarkan simpang empat di dahinya. "Siapa yang kau bilang baka, hah?" ucap Ino dengan garang.

"Kau, mendokusai," ucap Shikamaru menunjuk Ino. "A-apa?" ucap Ino bingung.

Shikamaru hanya menghela napas. "Masuklah," ucapnya sambil berlalu ke belakang. Beberapa detik kemudian Ino melihat sekeliling dan terbeliak kaget, dia sudah berada di halaman rumah Nara!

"He-hei… Kenapa kita bisa ada di sini?" ucap Ino bingung. Sasuke hanya menghela napas, lalu mengangkat tangannya—yang ternyata sedang memegang lengan Ino.

"Kau dari tadi tidak fokus," ucap Sasuke melepaskan pegangannya pada lengan Ino dan berlalu masuk ke kediaman Nara.

Ino hanya mematung sesaat. Beberapa momen kemudian dia mengeluarkan semburat merah tipis, jadi dari tadi dia dituntun oleh Sasuke? Ino sedikit tersenyum kecil dan kemudian mengikuti arah langkah Sasuke yang sudah jauh darinya.

Setelah mereka dipersilahkan masuk oleh Shikamaru, duduk di ruang tamu keluarga Nara itu, dan menerima dua cangkir teh hijau, Shikamaru mulai menguap lagi.

"Hmm… Jadi berikutnya rumahku, ya?" ucap Shikamaru setengah mengantuk.

"Eh? Kau sudah tahu semuanya?" tanya Ino bingung. Shikamaru hanya mengangguk kecil, "Kau pikir menjadi asisten Hokage itu hanya sekedar pajangan saja bagiku?" ucap Shikamaru balik dan membuat Ino terkekeh.

"Jadi kau ingin aku melakukan apa?" tanya Sasuke langsung to the point. Shikamaru hanya menopang dagunya sebentar dan menatap Sasuke dengan intens.

"Tidur saja," ucap Shikamaru simple.

"APA? TIDUR DENGANMU?" ucap Ino tidak percaya. Mulutnya menganga lebar. Shikamaru hanya mengangguk. "Ada yang salah?"

"Ka-kau… Sasuke… tidur bersama…" ucap Ino terbata-bata. Shikamaru hanya mengangkat alis, lalu kemudian dia tertawa kecil dan mengacak-acak rambut pirang Ino.

"Bukan begitu, bodoh. Tidur siang saja di sini. Karena aku juga akan tidur. Kau pasti memikirkan hal yang aneh-aneh," ucap Shikamaru terkikik meremehkan Ino. Ino hanya memerah karena malu.

"Aku menolak."

"Eh? Kenapa Sasuke-kun? Bukannya mudah untuk sekedar tidur siang saja di sini?" ucap Ino bingung akan penolakan Sasuke yang terkesan agak dingin. Sasuke hanya tersenyum—yang bagi Shikamaru dan Ino seringaian licik.

"Aku masih ingat dulu kalau kau itu mempunyai IQ 200. Jadi bagaimana kalau kita bermain igo saja?" tawar Sasuke. Shikamaru hanya menguap dan berpikir sebentar.

"Mendokusai," ucap Shikamaru, tapi toh dia bangkit berdiri dan mengajak mereka berdua untuk ke halaman belakang—tempat di mana ayahnya dan dia bermain igo.

Setelah mereka betiga duduk—Sasuke dan Shikamaru duduk berseberangan dan Ino berada di samping Sasuke, Ino menyadari sesuatu.

"Hei, lalu aku harus berbuat apa?" tanya Ino bingung. Shikamaru hanya mengangkat alisnya, "kau kan hanya menemani."

"Tapi apa yang Sasuke-kun kerjakan harus aku kerjakan juga," ucap Ino.

"Darimana ada peraturan seperti itu?" tanya Shikamaru bingung.

Sasuke sedikit melebarkan matanya. Memang peraturan seperti itu tidak ada, Sasuke saat itu—saat di rumah Hyuuga hanya asal ceplos saja, dan Ino pun mengikutinya saja tanpa bertanya lebih lanjut. Mati aku, pikir Sasuke.

Tapi di luar dugaan Sasuke, Ino hanya tersenyum lembut. Dia memandang wajah Sasuke yang ada di sebelahnya, "aku tahu tidak ada peraturan seperti itu—aku cukup jeli untuk urusan misi. Tapi aku rasa sebagai guide aku harus ikut membantunya," ucap Ino dengan lembut.

Sasuke tidak tahu harus berkata apa. Matanya membulat kaget. Dia tidak percaya kalau Ino tahu bahwa Sasuke hanya asal ceplos saja. Ternyata salama ini Ino tulus membantunya. Sasuke hanya terdiam melihat aquamarine itu, dalam.

"Huahh… Ini jadi apa tidak?" Shikamaru menguap—mengganggu suasana tatap-menatap dua insan ini. kaget, mereka berdua langsung menghadap depan. "Ka-kalau begitu kali ini aku melihat saja ya, Sa-sasuke-kun," ucap Ino sedikit gugup—efek ditatap begitu intens oleh pemuda Uchiha dan tertangkap basah oleh sahabatnya sendiri.

"Hn."


~ Sasuke Ino ~


Sudah beberapa jam berlalu. Matahari mulai membenamkan dirinya sendiri, memutar dirinya ke arah daerah lain yang sedang akan pagi. Langit sudah berganti warna menjadi merah kehitaman.

Shikamaru dan Sasuke masih bergelut dengan sebuah papan igo. Tidak ada dari mereka yang mau mengalah. Kalah menang Sasuke masih tetap mendapatkan tanda tangan dari Shikamaru, lantas kenapa Sasuke bersikeras? Jawabannya pasti ada satu. Gengsi seorang Uchiha.

Dua pemuda yang masih semangat ini—dan sedikit uapan kantuk dari Shikamaru tetap melanjutkan permainan mereka. Tapi tidak dengan seorang gadis pirang yang ada di sebelah Sasuke.

Mata aquamarinenya sudah berkedut-kedut ingin menutup—tapi ditahan oleh sang empnya untuk tetap terus terjaga. Baginya, permainan ini sangat tidak cocok untuk kepribadiannya—Ino tidak begitu mengerti tentang igo.

*PLUK*

Mata onyx itu menatap horor di sebelahnya. Dengan mata yang sedikit melebar Sasuke melihat Ino dengan nyamannya mengistirahatkan kepalanya ke bahu pemuda raven ini.

Sontak tanpa diduga wajahnya sedikit mengeluarkan garis-garis kemerahan di pipi. Shikamaru yang menyadari itu hanya terkekeh kecil. Sasuke sudah berniat untuk menggoyang-goyangkakn badan Ino untuk bangun ketika suara baritone Shikamaru menahannya.

Shikamaru berkata bahwa Ino mungkin terlalu bosan dan tertidur, jadi percuma kalau membangunkannya. Sasuke yang mendengar penuturan Shikamaru hanya bisa menghela napas kecil.

Bukannya dia tega untuk membangunkan Ino. Dia tidak tega sebenarnya. Tapi saat Ino mengistirahatkan kepalanya di pundak Sasuke, membuat jantung Sasuke bertalu-talu tidak karuan. Sasuke pun jadi lepas konsentrasi dari papan igo. Sasuke pun akhirnya hanya bersikeras untuk tetap fokus pada igo.

"Ngh…" desah Ino semakin menempel pada Sasuke ketika Sasuke sedikit berubah posisi. Dan itu semakin membuat Sasuke tidak fokus dan akhirnya—

"Eh?" Sasuke yang akan memindahkan igonya pun menyadari. "Cih," umpat Sasuke memutar bola matanya dan melirik Ino yang masih tertidur.

—dia kalah dari seorang Nara Shikamaru.

Oke, mungkin hasil keduanya seri jika tidak ada malaikat pengganggu mental Sasuke yang manis itu sedang tertidur dengan nyamannya. Shikamaru hanya memasang senyum kecil—dia sedikit puas karena gelar tidak terkalahkannya tidak dihancurkan oleh Sasuke.

"Bangunkan saja dia sekarang. Aku mau tidur," ucap Shikamaru sambil menguap. Sasuke hanya mengangguk kecil dan membangunkan Ino.

Setelah Ino bangun, mereka berdua pun pamit untuk pulang karena hari sudah semakin kelam.

~ Sasuke Ino ~

"Haaah, jadi seharian ini kita hanya dapat dua tanda tangan? Argh gila!" umpat Ino yang mengacak-acak rambutnya. Sasuke hanya memasang muka datar. "Masih ada banyak waktu," ujarnya datar.

"Haaah… Tapi tetap saja, aku tidak suka menghabiskan waktu yang tidak efektif seperti ini," ucap Ino cemberut.

"Hn."

Setelah beberapa lama mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di depan rumah—ruko bunga keluarga Yamanaka. Ino langsung terbeliak kaget mendapati pemandangan di depannya. Sedangkan Sasuke masih tetap dalam mode datarnya saja.

"Ki-kiba…-kun…" ucap Ino memandang Kiba yang duduk di depan ruko dan menatap kosong. Dan suara bergetar Ino mengembalikan kesadaran pemuda bertato segitiga terbalik itu.

Dengan segera Kiba bangkit dan berdiri di hadapan kedua insan itu. Matanya menatap tajam satu persatu. Sasuke tampak santai saja meskipun di hatinya ada sedikit rasa tidak suka ditatap seperti itu. Sedangkan Ino menatap Kiba dengan khawatir.

"Kiba-kun… Apa yang kau lakukan di luar? Apakah ayah tidak mempersilahkan kau untuk masuk?" tanya Ino tanpa menyembunyikan rasa khawatirnya. Kiba hanya tersenyum kecut.

"Aku memang terima dan mencoba mengerti apa misimu sekarang. Tapi tidak berarti kau harus seharian dengannya kan?" ucap Kiba tidak menghiraukan pertanyaan Ino. Ino hanya diam dan tertunduk.

Kiba sesaat melihat buku tebal yang dipeluk Ino dengan erat. Segera Kiba merebut buku tebal itu dan membukanya. "Oh… Ini buku tanda tangan yang kau kumpulkan, Uchiha?" tanya Kiba sinis menekankan kata-kata Uchiha—seperti tidak pernah bertemu sebelumnya.

"Hn," ucap Sasuke datar. Kiba diam sebentar, lalu dia mencari-cari sesuatu di buku itu. Setelah ketemu, Kiba tersenyum kecut dan memperlihatkan buku itu ke Sasuke dan Ino.

"Di sini ada namaku, kan? Berarti kau juga harus meminta tanda tanganku dan membantuku, kan?" ucap Kiba dengan dingin. "Hn," ucap Sasuke datar, lagi. Kiba menyeringai.

"Baiklah. Kalau begitu, AKU MINTA TOLONG AGAR KAU MENJAUH DARI INO!"

.

.

.

~ To Be Continued ~


Ahihihi… akhirnya selesai juga XD

Bagaimana? Masih kurang suasana romance nya?

Okee, sekarang waktunya balas review…

yuki-hime hikaru : Iya, Kiba nista banget di fic ini. kasian aku XD. Makasih udah review…

.

yamanaka : Makasih ^^ makasih juga udah review…

.

cherry kuchiki : Ahahaha tersanjung deh fic abal gini disebut-sebut keren XD sama dong detektif kesukaanku Sherlock Holmes :D Makasih udah review…

.

KyuRa : Aduuh penantianmu sekarang tambah lama nih, maap yak XD. Sumpah Kiba galau tingkat dewa sekarang ini, jadi jangan diganggu XD. Ini udah panjang belum? makasih udah review…

.

vaneela : Yo sista too! (?) XD. Ya enggaklah, baru kenal masa bisa membunuh? -_- tenang! Paman itu sudah mati! XD. Iih, asal kau tahu Kiba itu bukan Om-om girang ya! (?) makasih udah review…

.

nona fergie : . . . . . . . . oke deh? #gubrak XD makasih udah review…

.

Silent Reader GaJe : Iya emang chapter 4 itu aku masukin sedikit genre mystery XD. Eh bener juga ya? Jadi agak njomplang gitu ya habis kasus pembunuhan tiba-tiba ada adegan Kiba yang galau XD. Ini udah apdet, kerasa nggak romancenya? Makasih ya udah review…

.

Hiromi Toshiko : Yoow salam kenal :D haha, baiklah XD. Makasih ya udah review…

.

Yamanaka Chika : Yooo Chika! :D XD XD. Kalau pembunuhan di dunia ninja emang sudah biasa sih. Tapi kan itu emang khusus untuk ninja. Sedangkan Goro Kisaki—korbannya ini kan hanya orang biasa XD. Gomen Chika, belom sempet baca fic Chika. Yang ItaIno kan yak? Tapi tenang aja udah masuk daftar baca kok :D makasih udah review…

.

Noki Is One Piece Lover : Aku sudah sempetin untuk mereview beberapa fic oneshot kamu kan? ^^ makasih udah review…

.

Chika Chyntia : aih itu lappy emangnya bisa jalan-jalan sendiri? Kok nunggu pulangnya? XD. Makasih ^^ makasih juga udah review…

.

.

.

Bagaimana, reader-tachi? Apakah fic ini masih berkenan di hadapan anda? XD.

Makasih banyak telah membaca fic ini ^^

Dan sempatkan diri untuk mereview fic ini yaa! Karena sebuah review adalah penyemangat penulis untuk bisa melanjutkan tulisannya. XD

Onegaishimasu~

V

V

V

V

V