Gadis bersurai pirang itu mendudukkan dirinya di kasur berbalut nuansa ungu miliknya. Dia terduduk memeluk kedua kakinya—seperti orang kedinginan dan ketakutan. Tidak berhenti sampai di situ, mulutnya mengeluarkan cercaan-cercaan tidak jelas yang sanggup membuat orang berpikir bahwa dia sudah gila—bicara sendiri.
Dentang jam membuyarkan omelan monolog(?)nya. Melirik sedikit, kemudian menghela napas. Sebenarnya mata aquamarinenya sudah memaksanya untuk segera merebahkan diri dan tidur sampai pagi menjelang. Tapi apa daya, masalah baru yang menimpanya ini membuatnya untuk terpaksa terjaga dulu.
Dia harus menemukan jalan keluar. Tapi dia tidak tahu bagaimana penyelesaiannya. Kejadian yang baru saja terjadi di depan toko bunga Yamanaka itu membuatnya sedikit resah—dia tidak tahu kenapa.
Flashback : On
"Bagaimana, Uchiha?" tanya seseorang bertaring yang membawa buku tebal miliknya itu. "aku akan menandatangani ini, jika kau mau membantuku," lanjutnya menyeringai licik.
"Kheh. Kau cemburu?" ucap Sasuke tidak kalah dingin dan tajamnya. Kiba terkesiap sebentar. Matanya kosong sesaat—begitu juga mulutnya, tidak langsung menjawab.
"Ku-kupikir inilah yang harus dilakukan sebagai seorang kekasih," jawab Kiba akhirnya. Dia menarik tangan Ino untuk berdiri di sebelahnya. "Kau, pulanglah." ucap Kiba mengusir Sasuke—tangannya mengibas-ngibas risih di hadapan pemuda Uchiha itu.
Sasuke masih termenung dan melihat kedua insan yang ada di depannya ini. Matanya tertumbuk pada mata tajam Kiba, lalu ke arah buku tebal yang masih dibawa pecinta anjing itu.
Mengerti maksud 'mantan' pengkhianat itu, Kiba hanya bersikap santai. "Oh … buku tidak pentingmu ini?" Kiba mengorek-ngorek kantong celananya, mencari sesuatu—bolpoin. Setelah memberi tanda tangan, Kiba menutup bukunya dan melemparkannya secara sembarangan ke arah Sasuke—untung saja Sasuke bisa menangkapnya dengan baik.
"Ingat, jangan dekati Ino," ucap Kiba lagi. Tangannya menggantung di pinggang ramping si gadis pirang—yang sedang seperti diperebutkan ini.
Sasuke hanya terdiam selama beberapa saat. Matanya menutup, "hn," menghela napas kecil, Sasuke berbalik dan berjalan menjauh dari kedua makhluk itu.
Flashback : Off
Entah kenapa dia merasa resah sekarang. Ini bukan saja tentang misinya yang akan segera terbengkalai gara-gara kekasihnya itu, tapi ada sesuatu yang lain—dan dia tidak tahu apa dan kenapa.
"ARGH!" ucap—teriak Ino frustasi. Untung saja teriakannya tidak membuat ayahnya yang tidur di lantai bawah terbangun—harapnya.
Dengan memaksa mata biru itu untuk tetap terjaga, gadis blondie itu beranjak dari tempat tidurnya. Membiarkan semua saksi bisu itu tetap tergeletak di kamarnya.
Warning : Typo(s), semi-canon, OOC
Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
.
.
Day-chan Dragneel presents
.
.
Guide?
.
Ch 6 : Kenapa?
.
.
.
Happy reading~
(Third Person's POV)
Matahari pagi sudah bertengger dengan indahnya di ufuk timur. Cahayanya membuat silau orang-orang yang masih tergeletak di tempat tidur—dan memaksa mereka untuk segera bangun dari bunga tidur mereka.
Sepasang kaki dengan tegap berjalan dengan santai menuju suatu ruangan yang berpintu coklat tua. Disapanya dengan ceria dan ramah setiap orang yang berpapasan dengannya—para ninja, warga, bahkan para ANBU yang tidak dikenalnya sekalipun.
Begitu sampai di ruangan yang dimaksud, dengan pelan dia mengetuk pintu itu. "Masuk!" terdengar suara dengan nada perintah di dalam ruangan itu. Dengan begitu langsung saja dia membuka dan masuk ke dalamnya.
"Hokage-sama memanggilku?" tanyanya sehabis menutup pintu dan langsung berjalan mendekat ke meja pemimpin desa Konoha termuda sepanjang sejarah itu.
Sang Hokage hanya mengangguk kecil, "aku ingin bertanya sesuatu padamu," ucapnya berdiri dan melipat tangannya. Dan reaksi yang sama oleh orang yang dipanggilnya—mengangguk kecil.
"Kiba," ucap Naruto memulai pembicaraan, "kudengar kau menghambat misi Ino?" tanya Naruto memandang lurus pemuda jabrik bertaring itu.
Ditatap dan ditanya seperti itu, Kiba hanya mengalihkan pandangannya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal—dia sedikit takut sebenarnya. Otaknya mulai bekerja untuk mencari-cari alasan diplomatis yang masuk akal.
"Kiba Inuzuka?" ucap sang Rokudaime memberatkan suaranya. Sebagai seorang pemimpin desa dia harus bersikap tegas—meskipun yang berdiri di depannya ini adalah temannya sejak kecil dan teman seangkatannya.
"Ah! Y-yaa," ucap Kiba refleks tersentak, "Uhm … ju-jujur aku …" ucap Kiba tidak sanggup menyelesaikan akhir dari kalimatnya. Terlalu memalukan untuk dibicarakan dan diucapkan.
"Kau cemburu?" tanya Naruto to the point.
Kiba hanya memutar bola matanya. Reaksi yang sama dengan Sasuke kemarin. Apakah dia memang terlihat cemburu? Matanya menatap selain aquamarine Hokage itu. Tatapan kosong, sama seperti yang terjadi kemarin di depan toko bunga Yamanaka.
"Aku pikir sebagai seorang kekasih, aku cukup khawatir dengannya yang menghabiskan waktu dengan pengkhianat itu sepanjang waktu," ucap Kiba, "setidaknya begitu," lanjut Kiba pelan. Dia sendiri bingung dengan apa yang telah dia lakukan.
Mendengar itu, Naruto mengernyitkan kedua alisnya. Menghela napas, pemuda berjubah putih itu berbalik memunggungi Kiba. Ditatapnya desa dengan pandangan lembut dan teduh.
"Ino orang yang profesional, aku harap kau menghargai itu," ucap Naruto masih melipat kedua tangannya.
"Tapi, Hokage-sama, aku tidak bisa membiarkan mereka untuk terus begitu. Ayahku berkata bahwa aku harus menjaga Ino setiap saat, dan tidak membiarkan satu orang pun lebih dekat dengannya selain denganku."
"Kau," Naruto berbalik menghadap Kiba lagi, "bukan seorang ninja yang profesional jika tidak dapat menerima kenyataan ini. Ino memang aku tugaskan seperti itu, mau tidak mau dia harus bersama Sasuke—karena dia guidenya," ucap Naruto panjang lebar.
Suara gemeletuk gigi yang tertahan terdengar dari sosok Kiba. Menahan emosi, karena dia tahu dia masih ingin hidup setelah ini—Kiba masih cukup waras untuk tidak menyerang seorang pemimpin desa. Ya, misi dari seorang Hokage adalah mutlak.
Disebut-sebut tidak profesional, Kiba tidak terima. Jika dia tidak terima, maka itu artinya dia harus memaklumi tugas kekasihnya saat ini.
"Apa itu artinya aku harus mengganti permintaanku terhadap Sasuke?" tanya Kiba mengingat dia minta tolong pada Sasuke untuk menjauhi Ino.
"Terserah," ucap Naruto mengedikkan kedua bahunya.
Menghela napas, Kiba pun menatap aquamarine sang Hokage—yang sedari tadi tidak dia tatapnya itu. "Baiklah. Saya permisi," ucap Kiba mengundurkan dirinya. Namun setelah beberapa langkah menuju pintu, tubuh yang berbau anjing(?) itu membalikkan dirinya kembali menghadap sang Rokudaime.
"Hn?" ucap Naruto yang melihat Kiba kembali pada posisinya. Naruto yang duduk dan sudah akan mengerjakan berkas-berkas Hokage pun mendongak mendapati Kiba yang menatapnya dengan penasaran.
"Tahu dari mana? Kejadiannya baru kemarin malam," tanya Kiba, "apa si Uchiha itu berkeluh kesah denganmu? Manja sekali dia," lanjunya melipat kedua tangannya dengan kesal.
Naruto yang mendengar itu hanya bisa sedikit nyengir, "hm … aku mendengarnya dari salah satu pasukan ANBU yang lewat di tempat kalian bertengkar kemarin. Merasa ada yang perlu diselesaikan, dia melaporkannya padaku," jawab Naruto dengan lancar.
Kiba hanya ber 'oh' ria. Dan dia pun kembali mengundurkan diri. Tepat saat Kiba memegang kenop pintu ruangan Hokage yang bernuansa hangat itu, "Kiba," suara Hokage membuatnya menoleh kembali pada pemuda yang seumuran dengannya itu.
"Apa kau sudah benar-benar jatuh cinta pada Ino?" tanya Naruto serius. Kiba hanya tersentak kecil. Bukannya wajah merona yang menghiasi wajah Kiba, melainkan wajah kebingungan yang terpancar.
"Aku … tidak tahu," ucapnya lalu kemudian dia benar-benar menghilang dari hadapan Naruto.
Naruto menyenderkan punggungnya di kursi Hokage. Menghela napas, dia menatap langit-langit.
"Naruto," ucap seorang gadis—wanita yang mengguncang-guncangkan bahunya.
"Kau tidur dulu saja, Sakura-chan, ada beberapa berkas yang harus aku kerjakan sekarang," jawab Naruto tanpa melihat wanita yang ada di sebelahnya ini menggembungkan kedua pipinya, "oh iya, ngomong-ngomong, tadi di ruang tamu kau bicara dengan siapa? Ada tamu?"
"Itulah masalahnya," Sakura menarik dan mengumpulkan semua berkas yang ada di meja Naruto dan duduk di atas meja agar perhatian pemuda itu bisa penuh menghadapnya.
"Baiklah, ada apa?" tanya Naruto yang sedikit kesal dengan perlakuan istrinya. Dia hapal sekali dengan kebiasaan istrinya jika dia ingin diperhatikan—menyingkirkan apa yang menjadi pusat perhatiannya.
"Ini tentang Ino. Dia bercerita padaku bahwa …" ucap Sakura memulai cerita yang sama dengan apa yang baru saja dikatakan Ino barusan.
Naruto yang awalnya hanya mendegarkan ogah-ogahan, menjadi terbeliak kaget ketika mendengarkan kelanjutan ceritanya. "A-apa?"
"Kau harus bertindak, Naruto," ucap Sakura memandang rendah suaminya—semenjak dia duduk di meja dan Naruto duduk di kursi, "aku rasa memang wajar, tapi jika terus begini hukuman untuk Sasuke tidak akan pernah berhasil."
Naruto terdiam di tempatnya. Punggungnya kini dia senderkan di senderan kursi kerja miliknya dan memasang wajah berpikir. Kedua tangannya melipat.
"Dan sebagai bonus," ucap Sakura menyunggingkan sebuah senyum lembut, "kurasa si pig itu tidak tahu bahwa rasa sukanya telah kembali bersemi," mendengar itu Naruto langsung memasang wajah bingung dan sedikit protes.
"Bukannya Kiba dan Ino—"
"Aku tahu. Tapi itu tidak membuktikan bahwa mereka benar-benar mencintai, kan? Lagipula, hal seperti itu akan membutuhkan waktu yang lama untuk saling mencintai," ucap Sakura memotong perkataan suaminya.
Menghela napas, Naruto berkata, "ya sudahlah, besok aku akan bicara dengan Kiba. Sekarang kau tidurlah bersama Tora," Naruto menarik Sakura untuk turun dari mejanya dan mulai mengambil berkas-berkas yang belum dia selesaikan.
"Huh," Sakura menggembungkan kedua pipinya—pura-pura marah. Melirik istrinya, Naruto terkikik geli.
Dia berdiri dan menarik Sakura dalam sebuah ciuman lembut dan manis. Aura strawberry menguar dari mulut Sakura—inilah yang membuat Naruto makin ketagihan oleh Sakura. Sebelum terlena lebih jauh, dia menarik dirinya dan kembali duduk di kursi kerja.
"Tidurlah, aku akan segera menyusulmu," ucap Naruto tersenyum lembut. Sakura hanya bisa menghela napas, dia harus terima konsekuensinya sebagai istri seorang Hokage.
"Bagaimana aku bisa bilang kalau Ino yang berkeluh kesah pada Sakura?" ucapnya tanpa sadar.
.
.
.
~ Sasuke Ino ~
.
.
.
TOK TOK TOK
"Hn?" tanya orang itu pada dirinya sendiri. Dengan segera ia meninggalkan rebusan sup tomat kesukaannya dan membuka pintu.
"Sasuke-kun! Ohayou!" sapa seorang gadis pirang yang terlihat cerah. Sedangkan mata onyxnya terbeliak kaget mendapati pemandangan di depannya.
"Ino? Kenapa kau di sini?" tanya Sasuke terlihat kaget.
"Kiba-kun baru saja ke rumahku, dia mengatakan bahwa dia menarik semua ucapannya kepadamu tadi malam! Dan dia tidak meminta bantuan apa-apa lagi, itu artinya kau menerima tanda tangan Kiba dengan gratis," ucap Ino dengan wajah sumringah dan terlihat gembira.
Sasuke hanya diam saja mendengar penuturan panjang lebar dari si gadis pirang tersebut. Sedikit tersenyum geli, Sasuke menimpali, "lalu kenapa kau tampak sangat gembira?"
"Ya jelas lah! Karena …" ucapan Ino tidak dapat dia lanjutkan. Dia terdiam. Benar juga, kenapa dia sangat gembira ketika dia bisa bersama Sasuke lagi? Kenapa?
Melihat Ino yang berdiri mematung dan terlihat tidak melanjutkan ucapannya, Sasuke pun berbalik masuk—tanpa menutup pintu rumahnya.
"E-eh, Sa-sasuke-kun!" ucap Ino terbata saat dia melihat punggung Sasuke semakin jauh.
"Kau belum sarapan?" tanya Ino pada Sasuke yang sedang melahap sup tomatnya dengan tenang dan damai(?). Sasuke hanya ber 'hn' ria. Ino pun tersenyum lembut dan mengambil tempat di seberang Sasuke.
Dipandangnya terus wajah dingin yang sedang makan makanan kesukaannya itu. Wajah kokoh yang telah melewati beberapa hal yang mengerikan—sangat mengerikan. Tidak percaya dia bisa duduk di sini dan bisa sedekat ini dengan pemuda Uchiha itu, mengingat kejahatannya yang tersebar kemana-mana—sangat berbanding terbalik dengan keadaan yang sekarang.
Gadis pirang itu masih melayang dalam pikirannya. Apa yang terjadi dalam dirinya ini? Kenapa dia merasa senang karena tidak ada lagi penghalang yang menghalangi dia dan Sasuke? Lagipula ini hanya misi. Ino tidak akan terlalu heboh jika hanya sebuah misi menemani seseorang seperti ini.
Yah, lain ceritanya kalau memang yang dia temani itu seorang pengkhianat desa yang tampan dan kuat seperti Sasuke ini.
Tapi, hei. Dia bukan gadis remaja yang heboh ketika ada pemuda ganteng di dekatnya. Dia sadar umur, dia sudah bertambah dewasa dan tua. Jadi ini bukan rasa fangirling yang sangat kekanakan itu. Ini lebih ke sesuatu yang … mendalam. Tapi apa? Dan kenapa?
Dipandang seperti itu membuat pemuda Uchiha itu mendongak, mata onyxnya memancarkan sedikit kebingungan karena gadis di depannya ini terus melihatnya makan. "Kau lapar?" tanyanya datar.
"Tidak," ucap Ino yang masih saja menelusuri lekuk wajah Sasuke
"Lalu?"
"Apa?"
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Sasuke sedikit kesal. Ino hanya kaget dan sadar akan perbuatannya. Mukanya sedikit memerah.
"Go-gomen," ucap Ino terbata. Semburat-semburat tipisnya tak luput dari pemandangan sang pemuda. Dan itu membuat dahinya berkerut semakin bingung dengan tingkah gadis di depannya.
Bukannya dia tidak tahu kalau Ino adalah salah satu fansgirlnya di akademi. Dia tahu. Tapi bukannya dia sudah bersama si pecinta anjing itu? Apa dia masih mempunyai perasaan padanya, seseorang jahat yang telah mengkhianati desanya sendiri? Kenapa?
Dalam diri Sasuke sendiri ada rasa kaget saat mengetahui kalau Ino bersama si pemuda jabrik itu. Perasaan yang sama saat Sasuke kaget saat Naruto sudah memperistri Sakura. Tapi ada yang berbeda saat melihat Ino terlihat khawatir dengan keadaan pacarnya itu. Ada jauh di dalam hatinya, rasa tidak suka pada laki-laki bertaring itu.
Mengetahui Sakura sudah bersama Naruto, dia tidak membenci Naruto—dia bersikap biasa saja. Dia hanya kaget kalau usaha Naruto ternyata benar-benar berhasil. Tapi saat mengetahui Ino bersama Kiba, entah kenapa dia seperti tidak suka, risih, benci atau apapun itu pada sosok pemilik Akamaru itu. Kenapa?
"Sasuke-kun?" ucap Ino melambaikan tangannya di depan mata pemuda onyx itu. Sekarang ganti Sasuke yang tersentak kaget—tidak sadar telah menatap aquamarine itu sekian lamanya.
"H-hn," ucap Sasuke melanjutkan acara makan pagi—sarapannya.
"Lucu. Sekarang ganti kau yang melamun," ucap Ino terkikik geli. Sementara Sasuke hanya mendengus kecil.
"Kita akan ke mana hari ini?" tanya Sasuke memecah keheningan yang tercipta selama beberapa saat. Dan itu membuat Ino tertegun sebentar.
"Aku juga tidak tahu," ucap Ino mengedikkan kedua bahunya, "apa kita mulai dari paling barat seperti kemarin?" tanya Ino balik.
"Kupikir itu sedikit membosankan," ucap Sasuke datar, "bagaimana kalau kita memulai dari yang kita kenal dulu?"
"Ide bagus!" ucap Ino riang, "aku tahu tempat yang akan kita tuju."
.
.
.
~ Sasuke Ino ~
.
.
.
TOK TOK TOK
"Pig? Jadi berikutnya rumahku ya?" tanya seorang wanita yang sedang menggendong anaknya yang tidak juga tertidur itu.
"Forehead! Aku di sini untuk membantumu!" ucap Ino dengan senyum tiga jarinya, tapi sesaat kemudian dia meralat, "ups, maksudku Sasuke-kun akan membantumu!" ucapnya dengan seringaian jahil.
Sasuke hanya menghela napas, dia akan tahu kalau tujuan pertama akan ke sini—mengingat Sakura dan Ino adalah Best Frienemy Forever.
Sakura sedikit terkejut dengan kehadiran Sasuke, tapi kemudian tersenyum simpul. Jadi tidak sia-sia dia melaporkannya pada suaminya itu. "Masuklah," undang Sakura mempersilahkan kedua tamunya itu untuk masuk.
"Jadi, kau mau kubantu apa, Forehead?" tanya Ino setelah mereka bertiga—minus Tora duduk di ruang tamu keluarga Uzumaki itu.
Sakura terdiam sebentar, otaknya berpikir apa yang dibutuhkannya sekarang. Beberapa saat kemudian sebuah senyum seringaian jahil terpampang di wajahnya yang keibuan dan teduh.
"Sebenarnya begini … Akhir-akhir ini aku ingin sekali keluar berbelanja seperti halnya dulu sebelum aku mempunyai Tora," ucap Sakura masih dengan seringaiannya.
Mengerti maksud Sakura, Ino langsung memasang seringaian yang sama seperti wanita berambut pink itu. Dia melirik Sasuke yang masih menebak-nebak apa yang akan dilakukan kedua monster ini terhadapnya.
"Sasuke-kun … Aku akan menemani Sakura untuk pergi refreshing. Bisakah kau …" ucap Ino sengaja menggantungkan perkataannya dan menatap Sakura sebentar. Setelah Sakura juga memasang wajah yang mengatakan ayo-cepat-lanjutkan, Ino melanjutkannya dengan setengah tertawa.
"… Menjaga Tora dan rumah ini seharian?"
.
.
.
~ To Be Continued ~
Yeee … Akhirnya jadi juga \(^o^)/
Mari kita lihat komentar yang nyasar(?) di kotak review daku …~
.
rizta : udah banyakkah adegan SasuIno nya? ^^ makasih udah review.
.
Sukie 'Suu' Foxie : Eh, ada Suu-nee! *langsung kicep kicep mata* ini beneran Suu-nee kan? XD. Ah, makasih concritnya, aku sangat terbantu sekali! :D bersedekap itu sama seperti melipat tangan, nggak baku ya? gomen dah ._. lalu plotnya, eh, kenapa dengan tokoh Ai Edogawa? *toel toel* XD. Penasaran ya kenapa Ino bisa jadian sama Kiba? Ada hints lho yang aku berikan di sini, alasan kenapa mereka berdua bisa bersama XD. Oke neechan, kuharap tidak terlalu melenceng X"D. makasih udah repiu.
.
Geng' Ashikaga Akane : Iya tak papa X"D. penasaran juga ya kenapa si Ino bisa jadian sama Kiba? XD. Oke, makasih udah review.
.
uchiha yamanaka : ini lanjutannya ._. semoga nggak penasaran XD makasih udah review.
.
Yamanaka Chika gk login : aaah! XD aku juga suka Chika repiu fic aku lagi! X"D. Kiba mah bukan berani, dia itu liar #gatsugaaed(?) XD. Makasih udah review.
.
KyuRa : haha, aku juga suka KyuRa-san repiu fic ini lagi X"D. Kiba memang tokoh pengganggu di sini. Kalo nggak ada die nggak seru dong XD. Jangan sama siluman anjing ah, sama aku aja sini~ *tiba-tiba Kiba kabur* makasih udah review.
.
Ichimonji : ini udah banyak belum adegan SasuIno nya? ^^ makasih udah review.
.
nona fergie : Aiih, makasih masukannya :D iya untung aja udah selesai kasusnya X"D. ini udah banyak belum romensnya? XD. Makasih udah review.
.
Chika Chyntia : Aku rasa di sini masih belum terlalu kelihatan konfliknya SasuInoKiba. Apa sudah kelihatan? X"D. ini udah banyak belom? XD. Makasih udah review.
.
Kken RukIno : Iklhas nggak ini mujinya? Yang keren authornya apa ceritanya? Hayooo? XD. Yaa entaran deh buat konflik antara SasuKiba lagi X"D. makasih udah review.
.
El : Ini el Cierto-nee kan yak? (OvO)a ceritanya keren? Authornya keren juga nggak? (El : Nggak!) #ciaaa XD. Di sini udah aku kasih hints lho nee tentang KibaIno itu X"D. makasih udah review.
.
Yosh. sepertinya banyak sekali yang bertanya-tanya kenapa Kiba bisa jadian sama Ino ya X"D. di chapter ini sudah aku tebarkan beberapa ranjau(?) ehem, beberapa hints yang mengarah pada KibaIno. Ada yang bisa nebak? Hayoo kenapa mereka berdua bisa jadian? X"D tapi kalo bisa nebak nggak ada hadiahnya, sih. *reader langsung pulang ke rumah masing-masing* eh? jangan tinggalin Day-chan!
Lalu, banyak juga yang mengeluhkan kenapa kok tiba-tiba membelot ke misteri. Gini nih, Day-chan itu aslinya pengen yang agak bervariasi gitu, jadi nggak cuma humor, action, ataupun drama. Day-chan berusaha menambah variasi XD maapkan kalau kasus pembunuhan kemarin tidak mengenakkan reader-tachi *ojigi*
Lalu, karena berikutnya adalah rumah Sakura a.k.a rumah sang hokage, menurut kalian setelah ke rumah hokage ini, duo SasuIno ini kemana ya enaknya? Ada saran? Mungkin balik ke rumah Neji atau ke mana lagi? Yang bisa menambah humor gitu X"D. ayo vote! Ke rumah :
-Tenten
-Shino
-Chouji
-Kakashi
-Gai (satu paket bonus dengan Lee XD)
- Dan boleh kasih saran tokoh yang lain :D
Yosh! udah deh, gak usah banyak bacot XD. Silakan dikomentari sesuka hati reader-tachi! Flames monggo yukmari~ concrit ayo yg mau mengajari aku silakan XD~ komentar yoow~
V
V
V
V
V
