Oyasumi
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Rated : K+
Genre : Friendship, General
Warning : OOC, Typo(s)?, AU, GaJe, Abal
makasih buat kakak-kakak yang udah review di chapter 'Ame'
dan lagi buat kak Voidy : jangan sampe giginya bolong loh kak. hehe... iya, aku lupa periksa ulang. jadi gak tau kalo kata di- itu belum kuperbaiki
Just a sweet fiction
Don't Like, Don't Read, so…
Enjoy it!
.
.
.
Gadis kecil berambut hitam itu terdiam sejenak. Menatap wajah anak laki-laki yang tertempel di dinding ruangan. Sesekali ia terkekeh ketika setetes air liur menetes di sudut bibir anak itu.
Gadis kecil itu, sang Kuchiki kecil, Rukia terus terkekeh melihat temannya itu. Mata amethyst-nya masih setia memperhatikan anak-laki-laki itu. Baginya, sangat menyenangkan melihat teman sepermainannya ini tertidur dengan wajah tertempel di dinding dan tangan kanan yang dengan jahil –atau mungkin tak sengaja– menggaruk pantatnya sendiri.
"Ichigo, kalau kau tidur ceperti itu nanti pinggangmu patah," sahut Rukia akhirnya. Namun, tentu saja bocah bernama Ichigo itu tak merespon karena ia masih bermain di alam mimpinya.
Rukia tersenyum, lalu kembali terkekeh. Ia membalikkan tubuhnya, lalu berlari ke arah yang berlawanan dengan Ichigo, menemui seorang perempuan cantik dengan rambut bergelombang yang warnanya hampir mirip dengan rambut jeruk Ichigo.
"Nee-chan... nee-chan..." Rukia memanggilnya sambil menarik-narik ujung rok sang nee-chan, Rangiku.
"Ada apa, sayang?" Rangiku berbalik, lalu mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh mungil Rukia.
"Apa punggung Ichigo akan patah kalau dia tidur ceperti itu?" tanya Rukia dengan suara imutnya, agak sulit baginya berbicara dengan kalimat panjang tanpa jeda, dan itu jelas membuatnya harus mengambil napas ekstra.
"Sepertinya iya," kata Rangiku sambil terkekeh, gaya nungging yang diperagakan Ichigo benar-benar lucu.
"Uugghhh..." Rukia menundukkan kepalanya, sedang matanya dengan nakal mengintip Ichigo.
"Wah... Rukia-chan khawatir dengan Ichigo-chan?" tanya Rangiku sambil mengusap rambut Rukia pelan. Rukia mengangkat kepalanya dan menatap wajah Rangiku dengan tatapan sendu, kepala itu perlahan mengangguk.
"Iya," jawab Rukia takut-takut.
"Baiklah.. kalau begitu, nee-chan ambilkan bantal untuk Ichigo-chan yah?!" sahut Rangiku sambil berdiri, namun, dengan cepat Rukia menarik kuat ujung rok Rangiku.
"Kenapa, sayang?" sahut Rangiku sambil kembali terduduk.
"Nee-chan beritahu caja di mana bantalnya, biar Rukia yang ambilkan," kata Rukia. Rangiku tersenyum jahil lalu menggelitiki tubuh mungil Rukia hingga gadis kecil itu tertawa keras.
"Kyahahahahha... nee-chan..." Rukia tertawa lepas sambil meronta dalam pelukan Rangiku.
"Baiklah... baiklah... nah, Rukia-chan ambil saja bantal dan selimut yang ada di atas meja kecil di sudut sana," kata Rangiku sambil menunjuk ke arah sudut ruangan. Mata Rukia berbinar dan ia langsung berlari menuju tempat itu setelah mengangguk patuh.
Rangiku terkikik pelan saat melihat gaya lari Rukia yang begitu lucu dan menggemaskan. Ah... dia masih kecil, hal wajar jika dia berlari dengan susah payah bahkan hampir terjatuh seperti itu.
...
Senyuman mengembang di wajah Rukia, diambilnya selimut dan bantal yang ada di atas meja kecil itu, lalu berlari –dengan susah payah – lagi menuju tempat Ichigo tertidur– dalam keadaan nungging.
Rukia meletakkan bantal yang ia pegang di sebelah Ichigo. Tangan kecil Rukia lalu dengan hati-hati menarik tubuh Ichigo dan membaringkan bocah laki-laki di atas bantal. Sempat Ichigo melenguh pelan karena merasa terganggu, tapi senyuman nyaman diiringi liur kembali keluar dari mulut Ichigo, membuat Rukia terus saja tersenyum nakal.
Melihat bibir Ichigo yang basah, Rukia berinisiatif untuk membersihkannya menggunakan selimut yang ada di tangannya.
"Bacah," lirih Rukia ketika ia selesai mengelap air liur itu, namun setelah itu Rukia kembali tersenyum nakal dan perlahan menyelimuti tubuh Ichigo dengan selimut yang baru saja ia gunakan untuk mengelap liur Ichigo.
"Oyacumi, Ichigo," sahut Rukia pelan. Rukia mendekat pada wajah Ichigo, lalu mengecup pelan pipi menggemaskan Ichigo. setelah terkikik pelan, langsung saja Rukia berlari menjauh dan bermain bersama teman-temannya yang lain, meninggalkan Ichigo yang hanya bisa tersenyum nyaman dalam tidurnya.
"Hehe..." Ichigo terkekeh pelan.
.
.
.
FIN – 08/04-2013
.
Yey... saya melanjutkan fic drabble ini XD
Sebenernya pengen di judul terpisah, tapi gk jadi karena ceritanya di waktu dan tempat yang sama. Hehe... gimana yg satu ini? Saya gak tau sweet ato nggak... yang jelas, saya tahu fic-fic saya itu jelek. Jadi, silahkan keluarkan uneg-uneg kalian di kotak review di bawah :D
Dan lagi... terima kasih telah membaca :D
