Warning : Typo(s), Semi-canon, OOC

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto.


.

.

.

Day-chan Dragneel presents

.

.

Guide?

.

Chapter 7 : Aku Tidak Suka

.

.

.

Happy reading~


(Third Person's POV)

"Kalau begitu kami pergi dulu ya, Sasuke-kun ," ucap gadis berambut pirang itu—masih dengan kerlingan jahilnya.

Sakura tersenyum juga, tetapi tatapannya lebih teduh ketimbang milik Ino. "Ingatlah apa yang sudah aku katakan tadi."

Sementara Sasuke hanya mendengus kecil. Beberapa saat kemudian dia mengangguk kecil—toh dia tidak akan bisa membantah perintah dari mereka, yang notabene memang harus mematuhi mereka.

Setelah mendapatkan persetujuan oleh pemuda Uchiha itu, kedua gadis—err satu gadis dan satu wanita itu segera beranjak dari tempat duduk mereka dan keluar dari rumah sang pemimpin desa itu.

Sasuke terdiam sesaat.

Seumur-umur dia tidak pernah menjaga sebuah—err seorang bayi atau bahkan anak kecil. Dia adalah anak bungsu dari keluarga terhormatnya itu sehingga wajar jika memang dialah yang dijadikan objek kesayangan—khususnya untuk kakaknya. Yang dia tahu adalah kasih sayang kakaknya waktu kecil, tidak ada yang lain lagi.

Sekarang, dia diperintahkan untuk menjaga seorang bayi. Yah, meskipun itu bayi seorang hokage sekalipun, ia tidak merasa nervous atau bagaimana—mengingat ia baru pertama kali menjaga bayi dan bayi pertama yang harus dilindunginya adalah bayi Hokage.

Meskipun di wajahnya masih terpampang wajah datar alias poker face yang sudah menjadi trademark bagi sang Uchiha, bisa dilihat jika sekarang pemuda itu terlihat sedikit kebingungan. Dia memang sudah diberi tahu apa saja yang dibutuhkan dan diperlukan ketika terjadi sesuatu pada monster kecil ini oleh Sakura. Tapi tetap saja, ini pengalaman pertama pemuda itu menjaga sosok ini.

Dan di saat dibutuhkan seperti ini, Ino yang notabene menjalankan misi sebagai guide-nya malah melarikan diri—menemani Sakura untuk berbelanja dan jalan-jalan. Gadis pirang itu lebih memilih untuk membantu sahabatnya ketimbang pemuda satu ini. Kenapa bisa begitu? Harusnya dia lebih menyita perhatian sosok blondie itu, bukan? Pikir Sasuke sedikit kesal.

… tunggu.

Kenapa juga dia berpikir seperti ini? Kenapa Sasuke bisa dengan percaya dirinya mengatakan—membatin bahwa dia menyita perhatian Ino? Pertanyaan demi pertanyaan muncul di hati Sasuke yang semakin berkecamuk oleh perasaan bingung.

"Oeee …"

Oh sial, masalah kebingungannya belum terselesaikan dan sekarang monster kecil itu sudah memulai aksinya? Sasuke berdecak kesal. Meskipun begitu ia segera bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar anak dari Naruto dan Sakura itu.

Sasuke membuka pintu kamar yang bernuansa oranye itu dengan lembut. Dia kemudian masuk dan mendekati sosok Tora yang sedang duduk dan menangis tersedu-sedu—entah apa yang ia tangisi.

Sasuke terdiam sebentar. Mata onyx-nya tampak meneliti keadaan sang bayi. Dan otaknya mulai memutar adegan di mana Sakura memberi tahu dasar-dasar untuk menjaga bayi—beserta perlengkapannya.

Flashback : On

"Kalau dia menangis, cari tahu apa yang membuatnya menangis. Biasanya yang membuatnya menangis itu karena dia akan buang air kecil atau pup. Itu kemungkinan paling besar. Ganti popoknya, popoknya ada di kamarnya itu juga. Atau kalau tidak ia merasa lapar dan ingin makan sesuatu. Berikan ia makanan dan minuman yang sudah aku buatkan di dapur," ucap Sakura dengan lancar dan tanpa jeda—hanya jeda dua kali dan selanjutnya terserah anda.(?)

Sasuke hanya memandangnya datar. Sakura yang sudah payah menjelaskan itu dengan bonus senyuman ramah dan teduhnya, hanya dihadiahi sebuah tatapan datar.

Tapi, siapa tahu kalau Sasuke sebenarnya benar-benar memperhatikan dan menyimpan itu erat-erat di otak jeniusnya? Semua orang tidak akan tahu tentang ini. yah, Sasuke memang tipe orang yang tidak bisa begitu mudah untuk dibaca atau ditebak.

Flashback : Off

Sasuke menghentikan perputaran otak di masa lalunya dan mengangkat tubuh Tora. Dia teliti keadaan bayi yang sedang menggeru-geru itu. Dan beberapa saat kemudian ia menyadari bahwa Tora sedang pup.

Sasuke mendengus kesal. Dirutuknya anak semata wayangnya sahabatnya itu, "bodoh. Kenapa tidak pada waktu ada ibumu saja, sih?"

Bukannya menjawab pertanyaan Sasuke, Tora semakin menangis menjadi-jadi. Yah, kita bisa lihat siapa yang bodoh di sini—atau mungkin pemuda itu tiba-tiba bodoh hanya gara-gara seorang bayi?

Sasuke pun akhirnya menyerah untuk terus merutuki monster kecil itu. Dia masih cukup waras, dan lagi pula ini bagian dari tugasnya. Dia tidak mau menjadikan seorang bayi sebagai momok besar baginya.

Dengan segera Sasuke melepas popok yang telah dikotori Tora, membersihkannya dan mengganti popok yang baru—yah kira-kira begitulah pemikiran Sasuke. Tapi ternyata prakteknya tidak semulus yang ia pikirkan.

Oke—semuanya berjalan tenang dan damai pada proses pelepasan roh jahat(?)—ehm pelepasan popok dan membersihkannya, serta membersihkan tubuh Tora. Tapi semua berubah … ketika negara api menyerang. Uh, maksudnya semua berubah ketika sampai pada fase(?) pemakaian popok baru pada Tora.

Tora. Orang tuanya begitu terkenal sedesa ini, bukan? Dan kau pasti tahu betul sifat-sifat tulen yang mendarah daging di keduanya. Apa persamaan mereka? Yup. Mereka sama-sama riang dan ceria. Penuh semangat dan pantang menyerah. Jika kedua insan itu bersatu dan menghasilkan keturunan, kalian pasti tahu apa hasilnya.

Yah, Tora hiperaktif. Suka sekali bergerak ke sana dan kemari. Mungkin jika bayi ini sudah mulai bisa bicara, dia pasti akan meracau tidak jelas—dan bisa dipastikan bahwa dia akan fasih berbicara sebelum waktu yang sewajarnya.

Sasuke menempatkannya pada popok dan bersiap untuk melipatnya. Tapi sebelum itu Tora sudah gelindingan menjauhi popok dan terus bergerak. Sasuke sudah mencoba untuk terus bersabar. Pemuda Uchiha itu berkali-kali menempatkan Tora untuk kembali pada posisi semula—dan berkali-kali juga itu gagal.

Entah sudah keberapa puluh kalinya Sasuke berusaha untuk menyeret bayi hiperaktif itu untuk menurut padanya. Itu memakan waktu yang cukup lama hingga kadar kesabaran Sasuke mulai butuh pasokan.

Dengan kesal Sasuke meremas popok yang dari tadi belum dapat ditempati sang empunya itu. Ia berusaha menahan emosi yang bergejolak di dadanya—dia lebih baik bertarung kembali dengan ayahnya daripada harus berurusan dengan anaknya.

BZZZT CIIP CIIP

Mata onyx yang sedari tadi menutup itu tiba-tiba terbuka dan terlihat panik. Ia memandang tangan kanannya yang sedang meremas popok itu—dan sekarang popok itu separuh telah menjadi abu. Rasa kesal yang terlalu hebat tanpa sadar Sasuke salurkan untuk memusatkan chakranya di tangan dan membuat raikiri.

Panik, Sasuke langsung mematikan raikiri-nya. Dan popok yang malang itu telah mengakhiri masa baktinya(?) bahkan sebelum dimulai—benda itu menjadi gosong dan tidak patut untuk dilihat anak di bawah tujuh belas tahun.(?)

"Oh, sial," ucap Sasuke kesal.

Dia kemudian membuang popok yang sudah tidak berdaya itu ke tempat sampah dan mencari popok yang baru. Pemuda Uchiha itu mencarinya di tempat ia mengambilnya—di sebelah ranjang kecil Tora.

Sasuke mencari di sebelah ranjang Tora. Beberapa saat kemudian ia mencari di setiap sudut kamar Tora. Beberapa lama kemudian ia mencari di seluruh rumah keluarga Uzumaki itu(?). Yep, tetap tidak menemukan barang satu sekalipun.

Frustasi, Sasuke pun berinisiatif untuk membelinya di toko. Ia kembali ke ruang kamar Tora dengan wajah dan mimik deathglare yang super.

"Jangan. Pergi. Kemana-mana. Ingat itu," ucap Sasuke menekankan semua nada suaranya dan memandang Tora dengan deathglare—waraskah ia men-deathglare seorang bayi? Anggap saja itu bentuk kefrustasian pemuda raven itu.

Sementara Tora yang daritadi bergoyang ke sana kemari itu duduk terdiam dan menatap Sasuke dengan muka yang polos. Mata jade turunan sang ibunya itu mengerjapkan matanya berkali-kali dan tidak menanggapi perkataan Sasuke barusan.

Sasuke memandangnya sebentar dan kemudian ia berlalu dari kamar Tora. Persetan dengan monster kecil itu. Dia tidak akan keluar begini kalau ini bukanlah hukuman yang dia emban. Yah, faktor lain karena dia adalah anak hokage.

… hokage?

Sasuke terdiam sebentar. Kakinya ia paksa untuk mem-pause gerakannya dahulu. Anak hokage?

Seorang hokage memang sosok yang heroik. Tapi siapa tahu ada yang dendam padanya dan membidik anak dan istrinya? Dan keputusan pemuda raven untuk meninggalkannya—walaupun sebentar, itu akan sangat bermanfaat bagi sang pendendam ataupun yang sejenis dengan itu.

Tapi Sasuke berpikir lagi. Ia keluar dan meninggalkan Tora semata-mata untuk membelikannya popok, bukan? Seharusnya dia melakukan yang benar. Tapi bagaimana nasib Tora jika Sasuke tinggal?

Sasuke menutup matanya dan mendengus kesal.

.

.

.

.

.

"Sudah lama ya kita tidak makan-makan bersama, forehead," ucap gadis bersurai pirang sambil menyesap es tehnya—ia merasa haus setelah memakan makanan yang tersedia di sebuah restoran itu.

Sakura mengangguk pelan. "Yah, menjadi istri Rokudaime tidak banyak waktu yang aku luangkan bersama sahabatku," ucap Sakura tersenyum lembut. Tapi kemudian ia memunculkan perempatan di dahinya dan melanjutkan, "kau masih saja memanggilku begitu, dasar pig."

"Hmm, sibuk ya menjadi seorang ibu rumah tangga itu?" tanya Ino yang mulai tertarik dengan pembicaraan Sakura.

"Lumayan. Pekerjaan rumah, meladeni Naruto dan sekarang bertambah menjadi mengurusi Tora."

"Meladeni Naruto? Dia kan pemimpin desa. Pulangnya pasti malam dan sampai rumah dia hanya akan mandi, makan dan tidur. Apa susahnya mengurusi dia?"

Sakura tersenyum lembut. "Tidak seperti itu. Kita sebagai istri harus bisa menyamankan suami kita waktu dia merasa suntuk dan capek. Naruto memang pulang malam, dan itu artinya dia capek dan banyak hal kecil yang bisa menjadi masalah besar ketika kita tidak meladeninya dengan baik," tutur Sakura panjang lebar.

Ino hanya dapat menganga. Tidak menyangka—sahabatnya yang dulu suka memukul Naruto itu sekarang menjadi ibu muda yang penuh perhatian? Apakah ini sebuah miracle of wedding?

"Sakura … kau bertambah dewasa," ucap Ino tersenyum juga. Sakura hanya melebarkan senyumannya dan mengedikkan kedua bahunya.

"Dan bagaimana denganmu?" tanya Sakura balik. Ino hanya dapat menaikkan kedua alisnya dan sedikit mengkerut. Merasa Ino tidak tahu, Sakura tertawa kecil.

"Hubunganmu. Dengan Kiba."

Sontak Ino mengalihkan pandangannya selain dari mata jade itu. Mata aquamarine-nya memandang luar dengan kosong. Sakura hanya bisa menghela napas—ikut prihatin atas semua keruwetan jalan cinta seorang Yamanaka Ino.

"Kau tahu, aku hanya ingin memberi saran," ucap Sakura setelah beberapa saat terjadi keheningan yang canggung. Ino hanya ber'hn' ria.

"Tidak usah dipaksakan."

Ino memandang mata hijau milik Sakura dengan kaget dan tidak percaya. Sakura seperti peramal saja—batin Ino dengan takjub. Tapi kemudian gadis pirang itu tersenyum dengan paksa.

"Apa yang kau katakan, Sakura? Aku baik-baik saja dengan Kiba-kun," ucap Ino terkekeh pelan. Namun mata birunya dengan jelas tersirat kesedihan—dan Sakura, sebagai Best Friend Forever, dapat menangkap itu dengan jeli.

"Kau tidak perlu memaksakan. Kalau kau tidak benar-benar menyukainya, lebih baik kau bilang pada ayahmu untuk membatalkan semua ini," ucap Sakura memandang Ino teduh.

"A-aku tidak apa-a—"

"Hubungan awalmu dengan Kiba memang tidak didasari dengan hati. Jadi jangan salahkan dirimu dan memaksakan dirimu untuk menyukaiya."

" … atau kau tidak akan menyadari siapa yang sebenarnya kau sukai," tambah Sakura dengan senyum kecil.

Ino terdiam.

Jadi selama ini dia tidak berhasil untuk menyukai pemuda jabrik itu? Sampai-sampai sahabatnya melihat itu semua hanya dari tatapan sayu dan sedih dari aquamarine-nya.

Likuid bening mulai menjatuhi pipinya satu persatu. Dia berusaha menahannya—dan berakhir dengan air mata yang malah makin menjadi.

"Kau sudah menikah, Sakura. Bahkan punya keturunan. A-aku hanya ingin mengabulkan keinginan ayahku dan melihatnya ba-baha … gia," ucap Ino sedikit terisak—ia berusaha untuk mengusap air mata yang telah jatuh itu dengan tangannya.

"Tapi bukan begini caranya. Tidak ada jalan pintas untuk mencari jodoh," ucap Sakura sedikit meninggi. Kemudian wanita muda itu menghela napas.

Dengan sigap ia memegang pundak gadis blondie itu. "Pikirkanlah baik-baik. Orang yang kau pilih haruslah orang yang benar-benar mencintaimu dan kau cintai. Orang yang kita pilih akan menemani kita sampai akhir hayat, jangan salah pilih hanya karena faktor orang tua."

Ino memandang sahabatnya yang tersenyum teduh itu. Air matanya mulai mengering semenjak ia mendengar penuturan yang begitu bijak dari sosok wanita muda bersurai pink itu. Tidak lama kemudian Ino membalas dengan senyuman.

"Arigatou, Sakura."

.

.

.

.

.

Dua pasang kaki sedang berjalan dengan santainya. Mereka tampak menikmati suasana taman yang begitu sejuk—meskipun ini di siang hari. Satu gadis dan satu pemuda yang tampak asyik mengobrol satu sama lain.

"Ne, apakah aku terlihat cantik waktu kemarin? Aku akan membelinya jika aku terlihat cantik," ucap sang gadis menatap wajah kokoh pemuda yang ada di sebelahnya itu.

"Kau memakai apapun tetap sama bagiku," ucap pemuda itu datar—membuat gadis berambut coklat itu menggembungkan pipinya kesal.

Itu membuat ninja satu ini tertawa kecil. "Kau selalu cantik di depan mataku, Tenten," ucapnya tersenyum lembut.

Gadis bercepol dua itu sontak berubah menjadi kepiting rebus. "A-aku serius, Neji! Masa iya aku harus memakai pakaian ninja waktu aku berkunjung untuk makan malam nanti di rumahmu?"

Neji hanya terkekeh kecil—dan menyeringai. Ia tidak langsung menjawabnya melainkan ia mendorong Tenten ke sebuah pohon dan menghimpitnya. Tenten yang diperlakukan seperti itu hanya melotot tidak jelas—dan blushing-nya sampai pada tingkat akut.

"Aku serius." Neji memandang tunangannya itu dengan intens, "kau selalu cantik setiap saat."

"Uh … a-arigatou," balas Tenten melirik ke arah lain selain mata lavender yang menyita seluruh hatinya belakangan ini.

Neji seperti tidak puas. "Hanya itu?"

"A-apa lagi?" tanya Tenten sedikit bingung.

"Aku minta hadiah karena aku sudah membuka satu faktaku tentangmu," ucap Neji menyeringai penuh—membuat Tenten sedikit bergidik.

Neji semakin mencondongkan kepalanya ke wajah gadis bercepol dua itu dan memegang dagunya. Semakin dekat, semakin dekat dan—

"Apakah kalian tahu di mana biasanya toko yang menjual popok?"

—seseorang dengan datarnya mengganggu event romantis mereka.

Neji dan Tenten langsung melepaskan diri masing-masing. Neji terlihat sangat kesal dengan pengganggu—apalagi ini merupakan momen special baginya.

"Timing yang bagus," ucap Neji tanpa memandang sang penanya.

"Hn, lagi pula berbuat mesum di tempat umum itu dilarang," jawabnya datar.

Tenten merasa tersulut. Dengan emosi dia menoleh pada sang pengganggu dan meneriakinya, "Kami tidak melakukan hal mes—pffft," Tenten tidak bisa melanjutkan kata-katanya ketika ia melihat siapa yang bertanya tadi.

Merasa aneh, Neji pun ikut menoleh dan mukanya segera memancarkan kegelian yang ia tahan dengan keras.

"Aku tidak datang ke sini untuk ditertawai oleh kalian."

"Go-gomen gomen, Sasuke. Uh … a-ada yang bisa kami bantu?" tanya Tenten masih berusaha menahan tawanya.

Yah, siapa yang tidak akan tertawa.

Dengan pawakan Sasuke yang siap tempur menghadapi Kyuubi milik Naruto, sekarang sedang menggendong seorang bayi yang ia taruh di belakangnya—ada tas khusus bayi yang memang gunanya seperti itu. Tas berwarna pink cerah dan bayi yang digendong di belakang sangat manis—sehingga membuat Sasuke menjadi manis juga.(?)

Di sudut kananya terdapat makanan dan minuman kecil yang cocok untuk bayi—mungkin persiapan jika bayi lucu itu menangis kelaparan. Tipikal cerdas seorang Uchiha—selalu memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi.

"Apakah kalian tahu di mana biasanya toko yang menjual popok?" tanya Sasuke lagi untuk yang kedua kalinya.

"Tahu," jawab Neji datar.

"Di mana?"

"Aku tidak akan memberi tahumu karena kau sudah membuatku kesal," ucap Neji dengan nada sedikit kesal—meskipun wajahnya masih dengan menahan tawa.

Sasuke mendengus kesal. "Aku benar-benar masih belum terlalu hapal dengan desa yang didaur ulang ini," ucapnya datar.

"Lalu aku harus berkata wow?" tanya Neji retoris.

"Sudahlah, Neji. Tidakkah sikapmu ini kekanakan? Begitu saja marah," ucap Tenten menenangkan Neji dan menepuk-nepuk pundaknya.

"Hn. Kata-kata yang bijak, … err," ucap Sasuke sedikit menggantung. Beberapa saat setelah keheningan Sasuke melanjutkan," … Tonton."

Hening.

BRUAK

Satu pohon yang tidak berdosa retak oleh hantaman kepalan tangan dari sang gadis bercepol dua itu. Kedua pemuda yang menatap itu langsung sedikit bergidik ngeri.

"Kau tidak mengenal nakama rookie 9 mu sendiri, heh Sasuke," ucap Tenten dengan senyumnya yang manis—dan ekstra 90% kengerian.

"Aku … minta maaf," ucap Sasuke dengan wajah polosnya.

Perempatan urat semakin muncul di dahinya ketika gadis tomboy itu melihat reaksi Sasuke yang masih tetap datar tanpa ekspresi.

"Permintaan maaf … ditolak," ucap Tenten dengan rasa kesal yang memuncak. Kemudian dengan segera ia menarik tangan Neji untuk segera pergi meninggalkan Sasuke dan bayi mungil itu sendirian.

"Tidakkah sikapmu ini kekanakan? Begitu saja marah," ucap Neji membalikkan kata-kata Tenten barusan. Dia tertawa kecil melihat tunangannya tersulut emosi hanya gara-gara namanya salah disebut—yah, masa iya dia disamakan dengan babi piaraan Tsunade-obaasama?

"Urusaii," ucap Tenten men-deathglare Neji—membuat Neji semakin bergidik ngeri.

Sementara Sasuke memandang kedua insan itu sampai punggung mereka tidak terlihat.

Memandang ke awan, pemuda raven itu sedikit melengkungkan garis bibirnya.

"Semuanya bahagia," ucapnya pelan.

.

.

.

.

.

.

.

"Tadaima,"

"…"

"Sasuke-kun?" seorang gadis pirang membuka pintu kamar.

Sasuke menolehkan perhatiannya dari sebuah buku tebal ke arah gadis blondie dan wanita muda pinkish yang masuk ke dalam kamar Tora.

"Tora sedang tidur dari tadi siang. Untung saja dia mau untuk tidur siang," ucap Sasuke sedikit kesal.

"Dan bagaimana hasilnya? Apakah pria kecil ini bertingkah lucu?" tanya Ino dengan gemas.

"Dia sangat hiperaktif. Jika aku orang biasa, mungkin aku sudah benjol daritadi terlempari mainan-mainan kecil atau apa saja yang ada di tangan monster kecil itu," ucap Sasuke sedikit frustasi.

Sakura tertawa kecil dan mengucapkan terima kasih pada Sasuke yang terlihat sedikit capek itu—mengurusi bayi hiperaktif memang bukan hal mudah. Mata jade itu kemudian menangkap benda asing yang seharusnya tidak ada di kamar anaknya sebelumnya.

"Kau membeli popok baru?" ucap Sakura takjub. Sasuke hanya mengangguk kecil.

"Dan meninggalkan Tora sendirian?" tanya Ino mendelik—bersiap untuk memarahi pemuda raven di depannya ini.

Sasuke menghela napas.

.

.

.

.

.

"HUAHAHAHAHA!"

"Cih."

"Ja-jadi kau menggendong Tora menggunakan tas penggendong ini dan membeli popok?" tanya Ino sambil menahan tawa—matanya sampai berair.

"Aku tidak punya jalan lain lagi."

"Oh, aku ingin melihatnya," ucap Sakura tertawa.

Sasuke mendengus kesal, tangannya melipat. "Seburuk itukah aku menjadi seorang ayah?"

Tiba-tiba Ino berhenti tertawa—sementara Sakura masih melanjutkan tawanya.

"Apa katamu? A-ayah?" tanya Ino takjub. Mengerjapkan mata sebentar, Ino melanjutkan kalimatnya, "sejak kapan kau berpikir akan menjadi ayah?"

"… aku tidak boleh berpikir begitu? Setiap orang pasti memiliki keinginan untuk menikah dan menjadi orang tua yang baik," ucap Sasuke membuang muka dari hadapan kedua kunoichi profesional itu.

Sakura memberhentikan tawanya. Ini akan menjadi awal yang baik bagi mereka, batin Sakura tersenyum. Dengan pelan namun pasti ia meninggalkan kedua insan itu—sampai wanita pinkish itu benar-benar meninggalkan mereka di kamar anaknya.

"Err tidak, boleh saja. Tapi untuk seorang Sasuke Uchiha …" ucap Ino sedikit tertawa geli.

"Aku tidak hanya berpikir tentang bertarung saja. Kita ini sudah dewasa, Ino."

"…" Ino diam saja. Memang benar apa yang dikatakan oleh pemuda Uchiha satu ini. Semua orang ingin hidup bahagia dan nyaman.

"Aku sadar. Semua ini tidak mengenai tentang kekuatan saja," ucap Sasuke. Ia mendekat pada Ino.

"Aku juga butuh sisi yang bahagia. Keluarga, teman, sahabat …" ucap Sasuke menggantung perkataannya. Kemudian ia melanjutkan dan menatap aquamarine Ino—sambil tetap berjalan," … istri … anak … dan mungkin cucu."

DEG

Jantung Ino seakan berhenti berdetak dikarenakan mata onyx yang seolah-olah menyihirnya dengan pesona yang tidak pernah ada habisnya. Apalagi kata-kata yang sepertinya ditujukan padanya—dia tidak terlalu gede rasa untuk mengambil keputusan seperti itu. Seperti terpana, dia hanya berdiri saja ketika pemuda itu telah sampai di depannya.

"A-aa?" tanya Ino tidak jelas pada Sasuke yang sedang memandangnya intens.

Menghela napas, Sasuke menutup matanya. "Aku ingin jujur padamu, Ino. Aku tidak tahu kenapa aku tidak suka pada Kiba-kun mu itu," ucapnya tegas. Ino mengernyitkan alisnya.

"Hah? Ke-kenapa?"

"Aku tidak tahu. Aku merasa—"

"Oee …"

"Cih, sial," gerutu Sasuke menoleh lagi pada sosok bayi yang telah menghancurkan momen kedua insan itu.

Sasuke mendekati Tora yang sedang terisak itu dan menenangkannya. Ia memperlakukan Tora dengan lebih lembut—tanpa ada insiden raikiri seperti tadi.

Melihat itu semua, Ino menjadi takjub dan sedikit tidak percaya. Seorang penjahat kelas atas, mampu menenangkan seorang bayi yang hiperaktif?

Kau lebih baik dari Kiba-kun. Aku jadi bertanya-tanya kenapa kau tidak suka pada Kiba-kun, batin Ino tersenyum lembut.

.

.

.

.

.

~ To Be Continued ~


Yihaaaa~ aku kasih bonus. Chapter ini lebih panjang dari yang lain! XD

Maaf atas keterlambatan ane ngapdet fic ini X"D

Yosh. Mari kita buka kotak pos yang sudah bulukan(?)~

KyuRa : hmm, aku tidak tahu apakah ini sudah cukup kadar kegilaannya(?) XD. Makasih udah review.

Yamanaka Chika : Sasuke disuruh jagain Tora sama Ino? Jangan dong, ntar kesan humornya nggak ada, terus nggak ada momen sahabat antara Sakura dan Ino X"D. makasih udah review.

inuy-chan Samanta Lopez : Wah, maaf sekali sepertinya aku belum bisa memasukkan tokoh duet ulet ijo itu ke chapter ini. Aku pun tidak tahu kenapa jadi sepanjang ini walaupun belum ganti rumah XD. Makasih udah review.

princess nathani : Hmm, ide bagus XD akan kusimpan idemu. Tapi chapter sekarang ini belum ada kedua orang energik itu XD. Makasih udah review.

Kken RukIno : Hahaha, biarlah Sasuke dibully XD. Makasih udah review.

Chika Chyntia : *ikut nari juga di tengah-tengah jalan tol* #eh si Kiba itu suka apa enggak sama Ino? Itu rahasia dapur mueheheh~ yosh chapter ini panjang lho. Makasih udah review.

Fujirai Ichiyonomi : uwaaa makasihhh ! meskipun ini bukan pairing ShikaIno tapi masih mau ngereview! Makasih yaa udah review.

Guest : Iyaaaa ini lanjuuuuttt! XD makasih udah review.

Iztii Marshall : nggak apa-apa Izti-san, yang penting komentarmu tersampaikan :D XD di sini nggak ada Kiba, nih. Dan ohya, hmmm Izti luph dei-niichan? Err XD makasih udah review.

Sukie 'Suu' Foxie : Makasih concritnyaa :D berguna banget nee OvO)b tentang adegan Kiba dan Naruto, err aku berusaha untuk memunculkan wibawa seorang Naruto yang sebagai hokage, yang tenang, dewasa, teduh, rajin menabung dan suka menolong(?). bahkan karakter Sakura aku buat dewasa kan di sini? XD kalo Naruto nya dibuat IC itu desa konoha bisa-bisa hancurr XD soal KibaIno nya, hmmm di chapter ini kayaknya juga masih misteri, nih. XD yosh, makasih udah review.

Minami22 : Makasih ;) makasih juga udah review.

vaneela : Maksud dari perkataan Naruto? Sepertinya masih misteri juga. Pokoknya di chapter ini juga masih samar-samar alasan dari KibaIno nya XD. Wkwkwk, aku kasian sama Sasuke, jadi aku skip aja bagian yang menyiksanya XD. Makasih udah review.

Aku minta maaf karena sementara duo ulet ijo yang terpilih menjadi tujuan selanjutnya ditunda dulu di chapter ini. kenapa? Aku sendiri pun tidak tahu kenapa aku menulis sepanjang ini padahal belum ganti tujuan selanjutnya X"D. mungkin kebanyakan plot, ya? Tapi nggak tahu lagi.

Chapter ini panjaaa~ng! nggak panjang-panjang amat sih, cuma lebih panjang dari yang kemaren kemaren X"D.

Yosh! Berikan komentar anda~

[ FLAMES COME IN, BUT NO SILENT READER! ]

V

V

V

V

V

V