Mākā
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Rated : K+
Genre : Friendship, General
Warning : OOC, Typo(s)?, AU, GaJe, Abal
makasih buat kakak-kakak yang udah review di chapter 'Oyasumi'
Q Ren: haii... makasih dah RnR :) manis ya? Hehe... iyah.. semangat (^0^)9
Kak Voidy :hihi... makasih dah RnR kakak :3 hehe... manis ya? Syukurlah kalo begitu, disini mereka masih anak-anak yang polos banget. Love you too, kak Voidy
Just a sweet fiction
Don't Like, Don't Read, so…
Enjoy it!
.
.
.
Bocah laki-laki berambut jeruk itu melenguh pelan. Matanya saling merapat, lalu perlahan terbuka. Jemari mungilnya terangkat dan mulai menggosok asal matanya.
"Eungh.." bocah itu, si rambut jeruk –Kurosaki Ichigo, mulai mengeluh dan mengganti posisi berbaringnya menjadi duduk. Ia meregangkan otot-otot punggungnya, berlagak seperti ayahnya saat bangun tidur. Kepala Ichigo menoleh ke arah kiri dan hampir saja ia mencium dinding gara-gara hentakan kepalanya yang lumayan kuat.
"Hampir saja," sahut Ichigo dengan napas berantakan. Ia mengelus dadanya, bersyukur karena wajahnya selamat dari kedataran akibat membentur dinding. Dan matanya membelalak kaget. Benar-benar wajah bocah lugu.
Setelah berhasil menenangkan diri, strawberry kecil itu menoleh ke kanan –dimana ia yakin wajahnya tak akan membanting dinding.
Ichigo merengut masam, teman-temannya sudah tertidur. Ternyata, sekarang sudah memasuki jam tidur siang, dan sayangnya... Ichigo telah mencuri lebih dulu waktu tidur siang. Ia bahkan bisa mendengar dengkuran teman dekatnya yang hobi makan pisang itu.
"Ngghh..." Ichgio menoleh saat mendengar lenguhan di belakangnya. Pipinya bersemu saat melihat teman dekatnya, si Kuchiki kecil ternyata tertidur di sebelahnya.
Oh... gadis mungil itu lucu sekali saat sedang tidur. Jari Ichigo bergerak mendekati wajah Rukia. Sambil terkikik ia menekan-nekan pipi menggemaskan itu, hingga membuat Rukia melenguh tak nyaman.
"Hehe..." Ichigo terkekeh dan terus menekan-nekan pipi itu.
"Ichigo-kun, tidak boleh nakal!" Ichigo menoleh pada kakak pengawas yang menasehatinya, Rangiku. Ia menarik tangannya dari pipi Rukia, lalu menunduk dalam.
"Gomenasai," sesalnya.
"Baiklah... nee-san maafkan. Ichigo-kun jangan menjahili Rukia-chan, Rukia-chan lho yang menyelimuti Ichigo-kun tadi," Rangiku kembali menasehati dan Ichigo mengangguk lemas lagi.
Bocah laki-laki itu menatap Rukia malu dan berbisik, "Arigatou." Dan itu membuat Rangiku terkikik lucu.
"Oh iya, Ichigo-kun..." Ichigo menoleh saat Rangiku memanggilnya. Ichigo sempat tersentak saat tiba-tiba Rangiku mendekatkan bibirnya pada telinga Ichigo.
"Rukia-chan tadi juga mencium pipi Ichigo-kun lho..." Nada menggoda itu diiringi tawa, namun reaksi yang dikeluarkan si strawberry mungil justru membuat Rangiku menahan tawa dan segera beranjak pergi.
Wajah Ichigo kembali bersemu. Ia lalu membaringkan tubuhnya di sebelah Rukia –mereka terbaring pada bantal besar yang sama. Senyuman menghiasi wajah Ichigo. Dengan nakal, ia menekan-nekan pipi Rukia –lagi. "Nakal.. nakal... nakal..." bisik Ichigo diantara senyumannya. Ia mengucapkan kata itu berirama dengan tekanan jarinya di pipi Rukia.
"Nakal!" kikik Ichigo sambil memegang bibir Rukia.
Namun, saat mendengar Rukia melenguh tak nyaman, senyuman kebanggaan penuh arti tercetak di bibir mungil Ichigo.
...
..
...
Rukia melenguh pelan. Suara bising telah membangunkannya dari tidur nyenyaknya. Ia mengusap kasar kedua tangannya di matanya, namun ia merasa ada sesuatu di tangannya.
Sambil memicingkan mata, Kuchiki kecil itu melihat sesuatu di tangannya. "Mākā?" sahut Rukia bingung melihat spidol di tangannya. Rukia tak menggubris spidol itu, mungkin saja ketika dia hendak tidur dia sempat bermain-main dengan spidol.
Rukia kembali mengucek matanya, dia masih sulit melihat sekeliling. Dan setelah dia berhasil membersihkan matanya, wajahnya langsung terlihat kecewa melihat sekelilingnya. Sepi. Hanya ada... Ichigo.
"Ichigo-kun... yang lain mana?" tanya Rukia sambil berusaha berdiri dan berlari kecil medekati Ichigo di sudut ruangan. Bocah laki-laki itu sedang bermain dengan dua buah mobil truk mainan dan... cermin?
"Ah... Rangiku nee-san dan yang lainnya sedang bermain di luar," jawab Ichigo tanpa menoleh. Rukia hanya diam. Ia menolehkan kepalanya ke luar dan dapat melihat teman-temannya sedang bermain di sana. Gadis mungil itu lalu duduk di sebelah Ichigo. Anehnya, dia sama sekali tak mau melepaskan spidol di tangannya.
"Kenapa kau macih di cini?" tanya Rukia. Gadis kecil itu mendekap kedua kakinya.
Ichigo menoleh dan menghentikan gerakan tangannya, sebuah senyuman konyol terpatri bibir wajah bocah itu. "Hehe... wajahmu lucu," kata Ichigo dengan suara yang dibuat-buat, bocah itu menunjuk-nunjuk wajah Rukia.
"Apa?" jengkel Rukia sambil meraba-raba wajahnya.
"Hei... kau mencoret wajahmu sendiri?" Ichigo semakin menggoda dengan suara yang dibuat-buat, membuat Rukia merasa takut.
"Apa makcudmu?" kesal Rukia dan saat itu juga Ichigo memampangkan cermin di depannya pada Rukia. Mata Rukia membelalak kaget lalu menukik ke arah Ichigo yang terus menampakkan senyum konyolnya. "Hehehe..." Ichigo tetap terkekeh mengejek. Kasihan sekali dengan wajah gadis kecil itu, ada lingkaran di kedua matanya, kumis di antara bibir dan hidunya, ia bahkan memiliki 3 pasang kumis kucing di pipinya.
"Ichigo-kun yang melakukannya, kan?" ambek Rukia sambil memajukan bibirnya. Rukia mengelap wajahnya asal dengan telapak tangannya, namun itu justru membuat wajahnya semakin mengerikan.
"Mana mungkin... spidol itu ada di tanganmu."
"Ichigo-kun jahat..." Rukia menundukkan kepalanya, membuat Ichigo terdiam. Kenapa suaranya sedikit bergetar dan...
"Hua... Ichigo-kun jahat... hua... hua... nee-chan..." Tiba-tiba gadis kecil itu merengek dan menangis. Ichigo mulai panik, berkali-kali ia menghibur Rukia, namun tangisan gadis kecil tak kunjung berhenti, semakin besar malah.
"Ah... Rukia... ma... maafkan aku... aku... tidak sengaja.. cu... Cuma... Cuma mau... menjahilimu sa... huaa..." dan sekarang kedua bocah itu menangis bersama-sama.
"Hua... hua..." Tangisan mereka makin meledak saat melihat wajah menyedihkan di depan mereka. Ichigo terus menangis karena merasa bersalah dan Rukia terus menangis karena dijahili. Mereka terus menangis hingga kakak mereka, Rangiku datang.
"Eh... kenapa... ada apa, Ichigo-kun, Rukia-chan? Eh... kenapa wajah Rukia-chan?" tanya Rangiku panik.
"Ichigo-kun mencoret wajahku. Hua..." ambek Rukia sambil menunjuk-nunjuk Ichigo. Alis Rangiku bertaut, lalu pandangannya beralih pada Ichigo yang juga ikut menangis.
"Ichigo-kun kenapa?" tanya Rangiku lembut.
"Hua... Rukia tidak mau berhenti menangis... hua... padahal aku sudah.. hik... minta maaf... hua..." rengek Ichigo sambil menunjuk-nunjuk Rukia.
Rangiku menghela napas pasrah. Ini semua karena kenakalan bocah strawberry itu dan ia tak bisa menghentikan tangisan kedua anak itu sampai orang tua mereka datang.
"Hua..." tangis Ichigo dan Rukia meledak.
.
.
FIN – 23/05/13
.
.
Hei... saya melanjutkan fic ini... haha... lanjutan dari chapter sebelumnya XP sebenernya ragu mau buat ato nggak tapi yah... sudahlah... disini saya gk tau manis atau tidak chapternya... :D beri pendapat masing mina-san :D di PM atau di review juga boleh
Terima kasih sudah membaca
See ya! (^0^)/
