Warning : Semi-canon, Typo(s), maybe OOC

Naruto © Masashi Kishimoto

Author tidak mengambil keuntungan material dari fanfic ini.

.

.

Day-chan presents

Guide?

.

Chapter 8 : Karena Aku ...

.

.

Happy reading


Mata aquamarine itu terbuka secara perlahan. Tidak dihiraukannya suara kicau jam weker yang memekakkan telinga itu. Seperti tidak merasa terganggu—dia bahkan tidak berniat untuk mematikannya untuk beberapa saat.

"Seburuk itukah jika aku menjadi seorang ayah?"

DEG

Kata-kata itu menghampirinya, kembali.

Terima kasih atas kalimat itu, Ino tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Suara baritone yang mengatakan hal itu seakan menyihirnya untuk tetap terjaga memikirkan artinya.

Hebat—sekarang kalimat itulah yang menyanjungnya kembali di saat ia terbangun dari tidur tidak nyenyaknya.

Setelah beberapa saat terdiam dan menghela napas, Ino kembali pada dunia nyatanya dan beranjak berdiri. Melakukan aktivitas pagi—seperti biasa.

xxxxx

"Eh? Sampai kapan, Ayah?" tanya Ino dengan kaget.

"Hm ... mungkin sekitar seminggu dari sekarang. Maaf baru memberi tahumu sekarang, Ino. Ayah tidak tega mengatakannya kemarin," ucap Inoichi dengan pandangan bersalah.

Ino hanya terdiam beberapa saat. "Ah, tidak apa-apa, Ayah. Pastikan tetap sehat dan selamat ya, hati-hati."

Inoichi hanya bisa tersenyum tipis memandang anaknya. Tapi kemudian wajahnya berubah menjadi sedikit tegang—entah kenapa?

Laki-laki paruh baya itu menyadari perubahan mimik putrinya. Dia langsung bertanya apa ada yang salah, terlalu khawatir atau bagaimana. Tapi Ino mengalihkan pembicaraan dengan lihai, mengatakan bahwa itu hanya ekspresi yang biasa saja.

Memandang khawatir anaknya, Inoichi hanya bisa menghela napas dan berdoa agar putri semata wayangnya ini tidak apa-apa. Yah, istrinya pun sedang tidak ada di Konoha, jadi sebagai seorang ayah yang hanya mempunyai satu anak—apalagi itu perempuan, dia patut merasa sedikit galau.

Bagaimana ini ... semoga saja Sasuke-kun tidak melakukan apa-apa padaku, batin Ino cemas. Eh? Kenapa aku jadi cemas begini? Sasuke-kun bukan laki-laki yang seperti itu! Lagipula kenapa juga aku berpikiran hal-hal aneh seperti ini?!

Pikiran Ino terus saja meliar mendapati kenyataan bahwa ia akan ditinggal Ayahnya selama seminggu. Sendirian, di rumah. Dan seminggu bukanlah waktu yang bisa dibilang singkat. Ino terus saja berpikir yang tidak-tidak—tampaknya tokoh utama dalam bayangan Ino kali ini adalah Sasuke. Yah, misinya belum selesai karena Sasuke harus mengumpulkan tanda tangan tersebut.

Pipi gadis blondie itu seketika memerah ketika ia membayangkan hal yang tidak-tidak. Dasar gadis remaja, haha. Melihat itu Inoichi hanya bisa sweatdrop—berandai sejak kapan putrinya jadi aneh seperti ini.

Sarapan—ya, mereka sedang sarapan— berlanjut dengan tanpa obrolan. Hanya denting-denting suara sumpit dan mangkuk yang terdengar. Rupanya ayah dan anak ini sedang tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

Setelah itu, seperti yang telah dikatakan Inoichi—bahwa mulai dari hari ini dia akan menjalankan misi, laki-laki paruh baya itu mengambil perlengkapannya dan pamit. Mata aquamarine itu tidak kuasa untuk tidak berkaca-kaca ketika ayahnya mengatakan sesuatu—yang mana itu sangat bersarang di hatinya a.k.a JLEBB pas di hati Ino.

Bertahan untuk tidak menangis, Ino balas tersenyum dan mengatakan hal yang baik menanggapi kata-kata Inoichi. Sehingga Inoichi pun balas tersenyum juga.

"Oh iya, aku sudah menghubungi gadis Hyuuga itu untuk menemanimu selama seminggu. Jangan biarkan para lelaki yang kau kenal melakukan hal yang aneh-aneh padamu. Apalagi bocah Uchiha itu," ucap Inoichi.

Ino memutar bola matanya. "Ayah, aku ini sudah bukan anak kecil lagi. Aku bisa melindungi diri, dan bahkan aku ini kunoichi, bukan?" sahut Ino sewot.

"Kunoichi atau bukan, yang perlu diperhatikan itu adalah kau—kau seorang gadis, kau sadar itu kan?" balas Inoichi tak kalah sewot—sepertinya dia protektif sekali dengan anak semata wayangnya ini.

Ino hanya balas cemberut di bibirnya. Melihat itu, Inoichi tidak kuasa untuk tersenyum kecil dan mengelus rambut pirang Ino dan menciumnya.

"Jaga dirimu baik-baik."

xxxxx

Udara mulai memanas—semenjak waktu terus merangkak naik. Matahari sudah bergerak pelan-pelan mendaki ke atas, berusaha untuk menggantungkan dirinya tepat di atas para manusia. Awan terlihat mengikuti pergerakan angin—berarak tidak jelas ke mana pun angin pergi.

Dua orang sedang berjalan dengan santainya. Sesekali mereka tampak berbicara satu sama lain, tapi lebih sering terdiam. Entahlah, memikirkan hal lain atau memang tidak punya hal untuk dibicarakan?

"Jadi, Inoichi pergi ke mana? Kau kelihatan sedih sekali," ucap pemuda berambut raven tersebut.

Sesosok yang ada di sebelahnya terlihat kaget bukan kepalang—dia tidak pernah membicarakan itu pada seorang pun, kenapa pemuda di depannya ini bisa tahu? "E-eh? Kau tahu dari mana kalau Ayah pergi?"

Terdengar suara helaan dari pemuda itu—Sasuke. "Apa kau tidak sadar adegan mengharukan tadi kau lakukan di depan rumah? Bisa ditebak ayahmu akan pergi dan kau sebenarnya tidak rela."

"Eh benar juga," Ino menggaruk pipinya—sedikit malu. "Tapi deduksimu salah, tuan. Aku bukan gadis kecil yang merengek-rengek ketika ditinggal ayahnya pergi," lanjutnya menjulurkan lidah.

"Lalu kenapa kau menangis?" tanya Sasuke datar.

"Itu karena Ayah membicarakan tentang hubunganku dengan Ki—" Ino memotong perkataannya sendiri, karena itu sudah kelewat batas. Tangannya ia katupkan di mulut, dan membuat pergerakan yang mencurigakan di mata Sasuke.

"Ki ... ba. Benar?" ucap Sasuke sedikit menyeringai.

"..."

Merasa tidak ada reaksi yang berarti dari Ino, Sasuke mengarahkan kepalanya lurus menatap jalan. Menghela napas pelan, ia menggumamkan sesuatu yang membuat Ino harus menganga lebar.

"Kiba, Kiba, Kiba. Di pikiranmu dan di pikiran ayahmu ternyata isinya hanya si brengsek itu ya," ucap Sasuke.

Sebagai balasan, Ino mengangakan mulutnya. Entahlah, walaupun pacarnya disebut dengan kata-kata kotor seperti itu, tapi kenapa dia tidak emosi atau apa? Dia malah bingung, kenapa pemuda di depannya ini terlihat tidak suka dengan pacarnya.

"So ieba ... katamu kau tidak suka dengan Kiba-kun. Kenapa?" tanya Ino dengan hati-hati. Kata-kata Sasuke mengingatkannya pada kejadian di rumah Sakura kemarin.

Sasuke menoleh sekilas menatap aquamarine itu. Tapi kemudian dia kembali menatap jalan—walaupun direksi matanya tetap mengarah pada mata biru itu. Keheningan tercipta selama beberapa saat.

"Kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu," ucap Sasuke akhirnya.

Mendengar itu, Ino menaikkan satu alisnya—pertanda tidak mengerti akan sikap Sasuke. Kemarin juga, Sasuke mengatakan hal yang membuatnya bingung dan bahkan tidak bisa tidur hanya karena memikirkan itu.

Menggembungkan pipinya, Ino mendengus kesal. "Mou! Kata-katamu sedari kemarin tidak ada satupun yang aku mengerti!"

Sasuke menyeringai tipis menanggapi Ino.

"Aku tahu kau itu pintar—ah tidak, jenius. Tapi jangan membuatku bingung seperti ini," ucap Ino kesal.

"Memangnya apa yang tidak kau mengerti dari kata-kataku barusan dan kata-kataku kemarin? Bukankah sudah jelas, aku tidak suka laki-laki itu dan aku tidak mau mengatakan alasannya sekarang. Apa lagi?" ucap Sasuke panjang lebar.

"Alasanmu itu! Dan juga kenapa kau tidak mau mengatakan alasanmu sekarang hm?" tanya Ino berkacak pinggang.

"Jadi kau menanyakan alasan kenapa aku tidak mau mengatakan alasanku tentang alasan aku tidak menyukai laki-laki itu? Alasanku tentang alasan itu ... " Sasuke berhenti bicara karena melihat Ino yang semakin cemberut.

"Sudahlah. Kalau kau tidak mau ya sudah. Jangan membuatku tampak bodoh dong," sahut Ino yang sudah kewalahan mendengar kata 'alasan'.

"Kau sendiri yang tidak mengerti kata-kataku," ucap Sasuke tertawa kecil.

Ino menghela napas. Sepertinya dia akan kalah kalau dia terus melakukan silat lidah ini melawan Sasuke.

"Oh! Ino! Dan ... Sasuke!" ucap seorang pemuda di seberang.

Ino dan Sasuke menoleh dan langsung sweatdrop bareng.

"Kochi kochi!" sahut seorang lagi dengan penuh semangat.

Didapatinya dua sosok makhluk berpakaian warna hijau ketat dan headband di kepala masing-masing. Tangan mereka membawa sabit dan alat kebersihan lainnya. Mata mereka berbentuk seperti api—terlihat sangat panas. Bahkan tubuh mereka pun terlihat sangat ... hijau.

"Aa, konnichiwa, Lee, Gai-sensei," sapa Ino.

"..."

Ino melirik pemuda di sebelahnya dan mencubit pelan pinggangnya. Mereka sudah diajak kemari—ke lapangan ini, dan pemuda di sampingnya ini tidak mengatakan sepatah kata pun?

"Konnichiwa," ucap Sasuke datar. Dia sedikit men-death glare Ino setelah itu.

"Yooo! Konnichiwa Ino, Sasuke! Apa yang kalian berdua lakukan? Hm? Kencan?" tanya Lee dengan semangat. Tipikal orang seperti Lee adalah orang yang cepat melupakan apa yang telah dilakukan seseorang pada waktu lalu. Seperti itulah pandangan Lee terhadap Sasuke.

Mendengar itu, pipi Ino sedikit memanas. "Bukan bukan bukan. Kami sedang ada misi," ucap Ino yang langsung menyanggah perkataan Lee. Kemudian dia—sebagai guide, menjelaskan situasi seperti biasa.

Lee dan Gai-sensei manggut-manggut mengerti mendengar penjelasan Ino. Sesaat kemudian Lee terlihat cengengesan dan meminta maaf pada Ino.

"Ah, souka! Kau kan kekasihnya Kiba, jadi mana mungkin kau kencan dengan Sasuke. Gomen ne, Ino," ucap Lee dengan polosnya—dia menggaruk-garuk kepalanya yang terlihat berminyak, berketombe dan penuh dengan kutu.

Walaupun Lee mengatakannya dengan ringan dan polos, reaksi yang dimunculkan oleh Ino—maupun Sasuke, sepertinya tidak seringan itu. Atmosfer di antara mereka tampak awkward dan tidak nyaman. Entahlah, karena mungkin ekspresi Ino yang terlihat kaget dan ekspresi Sasuke yang terlihat sedikit emosi. Mereka juga tidak segera menjawab pernyataan Lee, akhirnya jadi canggung.

Lee yang mulai merasakan hawa itu pun menjadi bingung dan semakin menggaruk kepalanya yang memang terlihat sangat gatal sekali itu.

"Jadi, dengan kata lain, kalian juga perlu tanda tangan kami berdua, bukan?" tanya Gai-sensei memecah kecanggungan yang ada.

"Ha-hai," balas Ino akhirnya.

Guru berambut bob itu menyeringai—menampakkan giginya yang bersih bersinar.

"BANTU KAMI MEMOTONG RUMPUT LAPANGAN INI! TUNJUKKAN SEMANGAT MASA MUDA KALIAN!" teriak Gai-sensei dengan semangat. Lee pun menanggapinya dengan berteriak keras.

Sasuke cengo, kepala Ino miring sembilan puluh derajat.

xxxxx

Senja sudah di depan mata. Burung-burung mulai berkelompok dengan jenisnya dan terbang untuk pulang ke sarang mereka. Matahari sudah merasa cukup untuk menyinari wilayah ini—dia akan segera beranjak ke bagian bumi yang lain. Awan-awan yang tadinya putih bersih tanpa dosa, sekarang ternoda oleh warna jingga yang dipantulkan sang surya. Angin berarak tipis, membelai dedaunan pohon yang mulai menggelap.

"Yosh, kore de ii?" ucap Lee menutup bolpoin yang diberikan Ino.

"Oke, arigatou Lee, Gai-sensei," ucap Ino riang. Sesaat kemudian dia melirik pemuda di sebelahnya—kau tahu itu siapa dan kau tahu maksudnya.

"A-ari ... gatou," ucap Sasuke seperti tidak ikhlas. Matanya bahkan tidak memandang ke arah duo makhluk hijau itu, melainkan ke direksi lain.

"Do itashimashite," sahut dua-duanya bersamaan.

"Ano sa ... Ino, yang tadi ..." ucap Lee berekspresi khawatir.

"Tidak apa-apa," balas Ino tersenyum. "Kau meremehkan kunoichi? Luka seperti ini tidak akan terpengaruh dan tidak ada apa-apanya," ucapnya lagi memandang tangan kanannya yang diperban. Lee hanya tersenyum dan Gai-sensei mengoarkan semangat masa muda.

"Ja, matta ne," ucap Sasuke membalikkan punggungnya.

"Matta ashita," ucap Ino melambaikan tangannya dan mengikuti Sasuke untuk pergi dari lapangan.

Lee dan Gai-sensei memandang punggung kedua sosok itu hingga tidak terlihat lagi. Sejurus kemudian, muka Gai-sensei berubah menjadi agak masam. Matanya terus memandang ke depan, tidak peduli bahwa kedua sosok itu sudah tidak ada.

Lee yang menyadari itu pun bertanya pada guru tercintanya tersebut. "Ada masalah, Gai-sensei?"

Menghela napas, Gai-sensei hanya menggumamkan kata-kata yang Lee sama sekali tidak mengerti.

"Aku turut bersedih atas Kiba."

"Eh? Kenapa Kiba?" tanya Lee yang semakin bingung akan gurunya ini.

Gai-sensei memandang muridnya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Sesaat setelah keheningan terjadi, guru berjas chunnin itu lagi-lagi menghela napas dan melipat tangannya.

"Kau tidak lihat tadi?"

Flashback : On

"Argh, kita akan seharian memotong rumput kalau begini caranya," keluh Ino sambil tetap menyiangi rumput liar yang lumayan tinggi.

"Tidak apa-apa, Ino! Ini akan menjadi latihan yang bagus untuk tangan kita! Itu kata Gai-sensei, benar kan sensei?" sahut Lee dengan semangat empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh.

Gai-sensei menanggapinya dengan tidak kalah heboh juga. "Benar! Itu juga akan melancarkan program dietmu, hahaha."

Ketiga orang itu terus saja berbicara, kecuali satu—yah kau tahu siapa itu. Sasuke Uchiha jawabannya. Dia terus memotongi rumput liar dengan tenang dan damai, tidak ada satupun yang dia tanggapi tentang obrolan mereka. Bahkan, berbicara pun tidak.

Sampai suatu ketika, saking semangatnya, Lee mengkoarkan semangat muda nya dengan tangan kuat-kuat. Tapi sepertinya dia lupa bahwa dia memegang sebuah sabit dan—

"Ugh!"

Lee tidak sengaja melukai tangan Ino dengan sabit yang dibawanya.

Mendengar suara rintihan gadis blondie itu, Sasuke langsung mengangkat wajahnya dan mulai mengeluarkan suara. Dia langsung mendekati Ino dan memegang tangan yang penuh darah itu—lukanya cukup dalam juga.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke.

Ino mengangguk pelan. "Daijobou yo. Aku ninja medis, bukan?" ucapnya tersenyum ketir. Tangan yang satunya mengeluarkan cahaya hijau untuk menyembuhkan luka di punggung tangan itu.

Sasuke terdiam sejenak melihat aksi Ino yang menyembuhkan dirinya sendiri. Sejurus kemudian, dia memandang Lee yang terlihat merasa bersalah dan panik. Pandangan yang berbeda dari biasanya. Jika biasanya dia memandang dengan wajah datar, wajah biasa atau bahkan wajah dingin, kali ini berbeda.

Dia memandang Lee seperti memandang seorang yang sangat emosi dan ingin membunuh orang yang sedang dipandang tersebut. Mata hitamnya menggelap, giginya menggertak pelan. Wajah dinginnya go to the max.

"Teme ... apa yang kau lakukan hm?" ucap Sasuke dengan dingin.

"Ma-maafkan aku, Ino! Maafkan aku, Sasuke! Aku benar-benar tidak sengaja!" ucap Lee dengan pandangan bersalah. Ia segera mengeluarkan obat-obatan dari tasnya.

"Tidak perlu panik begitu, Lee. Aku sudah bisa mengatasinya sendiri. Ini luka kecil," ucap Ino tertawa kecil. Dia sudah mulai meredupkan cahaya hijau di tangannya dan mulai membuka tasnya guna mengambil perban.

"Tidak apa-apa bagaimana! Kau itu terluka!" sentak Sasuke tiba-tiba. Sentakan Sasuke seketika membuat semuanya menatap dia. Keheningan terjadi selama beberapa lama—semua sibuk memandang Sasuke yang kelihatan menahan emosi itu. "Dan itu semua gara-gara semangat muda tidak jelas darimu," lanjut Sasuke melirik tajam pada Lee.

Lee hanya mampu menundukkan kepalanya—tambah merasa bersalah. Ino masih terlihat menganga dengan sikap Sasuke.

Sementara Gai-sensei sedari tadi hanya diam mengamati mereka.

Flashback : Off

"Lalu hubungannya dengan Kiba, apa?" tanya Lee yang masih bingung.

"Aku bisa berasumsi bahwa Sasuke kelihatannya menyukai Ino. Terlihat dari sikap protektifnya. Orang dingin seperti dia tidak akan peduli pada siapapun, tapi kenapa dia peduli pada Ino? Hanya satu kemungkinan, bukan," ucap Gai-sensei yang jarang-jarang berpikir dengan otak.

"Dan kalaupun Ino masih memiliki perasaan terhadap Sasuke ..." ucap Lee yang mulai menyadari maksud gurunya. Lee juga tahu bahwa Ino adalah salah satu fansgirl Sasuke yang lumayan menyebalkan dan cerewet. Tapi itu dulu, waktu mereka masih kecil dan tidak sedewasa ini.

Mereka berdua menghela napas bersamaan. Oh, sungguh guru dan murid yang sweet sekali.

xxxxx

"Hah, gara-gara mereka berdua, rencana kita ke tempat Kakashi-sensei jadi setelat begini," ucap Ino sedikit kesal. Sebenarnya bertemu dengan duo hijau tadi tidak terjadwal. Tapi mau bagaimana lagi, mereka pun belum mendapat tanda tangan dari mereka berdua.

Sasuke melirik ke arah samping. "Tidak. Kita pulang."

"Eh?" Ino ganti memandang balik Sasuke.

"Kau terluka. Kita pulang."

"Sasuke-kun, kau meremehkan—"

"Aku tidak meremehkanmu sebagai kunoichi. Aku meremehkanmu sebagai seorang gadis. Puas?" potong Sasuke.

"Ta-tapi, bukannya aku dulu pernah terluka karena chidori-mu? Dan buktinya aku tidak apa-apa!" sanggah Ino menjadi sedikit kesal. Dia reflek berkacak pinggang—dan akhirnya berakhir kesakitan karena luka di tangannya belum kering benar.

"Kupikir lukamu cukup dalam. Sialan si Lee, dia bersemangat sekali melukaimu," ucap Sasuke sedikit kesal.

"Dia sudah bilang tidak sengaja, bukan," balas Ino sweatdrop.

Sasuke tidak membalas perkataan Ino. Entah dia sedang memikirkan sesuatu yang lain atau memang tidak mempedulikannya.

Perjalanan berikutnya tidak ada obrolan yang berarti. Sampai mereka berada tepat di depan kediaman Yamanaka—lebih tepatnya ruko.

"Jadi, sampai di sini dulu ya—"

Sasuke tidak mendengarkan Ino mengucapkan salam perpisahan dan langsung nyelonong masuk ke dalam. Ino yang melihat itu hanya bisa membeliakkan matanya dan memandang punggung Sasuke. Ada apa dengan Sasuke?

Ino terus mengikuti Sasuke dari belakang. Rasa penasaran yang meledak di dalam hatinya tidak bisa ia tahan lebih lama sepertinya. Langkahnya berusaha untuk mendahului pemuda raven itu, tapi tetap saja gagal.

Sampai Sasuke tiba-tiba berhenti di suatu ruangan. Karena tanpa aba-aba, Ino langsung saja bertemu dengan punggung kokoh Sasuke—mencium lambang Uchiha tanpa sengaja. Sesaat kemudian setelah mengontrol dirinya, Ino berdiri di samping Sasuke dan bertanya apa yang akan dia lakukan.

"Kau duduk saja di sana atau lakukan apa yang kau mau," jawab Sasuke.

Ino mengernyit. "Apa? Kau mau a—hei! Jangan bilang kalau kau ..." ucap Ino yang melihat Sasuke mengambil beberapa sayuran dan mulai memotongnya. Ya—mereka ada di dapur.

"Baiklah, aku tidak akan bilang," sahut Sasuke datar. Matanya beralih tertuju pada sayuran-sayuran yang siap untuk dipotong.

Ino terlihat kaget. Tapi beberapa saat kemudian dia tertawa kecil. Kenapa pemuda di sampingnya ini begitu lucu? Dia seperti pengganti ayahnya yang selalu protektif terhadapnya.

"Apa ini? Kenapa kau bersikap begini padaku? Kenapa? Sedari tadi kau terlalu protektif, Sasuke-kun. Kau seperti ayahku," ucap Ino tertawa.

Sasuke berhenti memotong sayuran dan terdiam selama beberapa saat. Dia kemudian memandang Ino yang masih tersenyum—menahan tawa yang ingin dikeluarkannya.

Melepaskan pisau dari genggamannya, Sasuke menghadap Ino. Ia terus berjalan maju mendekati Ino sehingga Ino terus saja mundur dan akhirnya punggungnya menabrak tembok dapur.

Pipi Ino sontak memanas mendapati bahwa dia tengah dikurung di antara Sasuke dan tembok.

"Kenapa kau ingin tahu alasanku saja, dari tadi pagi, hm?" tanya Sasuke pelan. Ino tidak bisa berkata apa-apa. Mata onyx Sasuke seakan menyihirnya untuk terdiam menikmati indahnya mata itu.

"Ka-karena ... kau dari tadi aneh—tidak, sedari kemarin pun aneh," ucap Ino yang akhirnya bisa mengatur napasnya juga.

Ino bisa merasakan helaan napas panjang dari Sasuke. Tampaknya dia sedang mempersiapkan sesuatu.

"Karena aku tidak ingin kau terluka. Karena aku tidak ingin kau tidak ceria. Karena aku tidak suka pada orang yang menyakitimu. Karena aku tidak suka orang yang membuatmu tidak ceria. Karena aku tidak suka ada orang yang selalu kau pikirkan—bahkan ayahmu memikirkannya. Karena ..."

Sasuke terlihat sedikit terengah-engah sehabis mengatakan itu semua. Padahal dia hanya mengucapkan itu saja, maksudku—dia tidak melakukan aktivitas fisik yang berat, tapi dia sudah terengah-engah seperti itu.

Sedangkan Ino? Jangan tanya. Mukanya sudah seperti kepiting rebus yang siap dihidangkan. Dia tidak menyangka bahwa Sasuke mampu berkata panjang seperti itu. Dan yang paling penting, dia tidak menyangka bahwa Sasuke akan—dan mampu berkata seperti itu.

"Sa-sasuke-kun ..." ucap Ino sedikit membuka mulutnya—menganga.

Sasuke hanya memandang mata aquamarine itu dengan intens. Ingin rasanya dia melahap Ino. Ingin rasanya dia meluapkan rasa aneh yang menjalari hatinya—dan itu semakin menjadi-jadi pada sekarang ini. Tapi Sasuke menahannya. Sebagai gantinya, ia mengepalkan kedua tangannya dan meninju tembok yang disandari Ino. Giginya bergemeletuk pelan, napasnya menjadi tidak teratur kembali.

"Sial. Aku kenapa sih?" gerutu Sasuke pelan. Walaupun pelan, tapi Ino masih bisa mendengarnya—karena jarak wajah mereka hanya beberapa senti.

"Aku juga butuh sisi yang bahagia. Keluarga, teman, sahabat … istri … anak … dan mungkin cucu."

DEG

Kata-kata Sasuke kemarin tiba-tiba bersarang di pikiran Ino. Dan itu membuat Ino semakin gila dan tidak dapat berpikir jernih. Tanpa aba-aba, Ino mengalungkan kedua tangannya ke leher Sasuke. Entahlah, itu seperti naluri ketika kau terbawa oleh suasana.

Ino mendekatkan wajahnya ke wajah Sasuke. Semakin dekat, hingga Ino dapat benar-benar merasakan napas Sasuke yang terlihat tidak stabil. Dahi mereka sudah bertautan, hidung mereka pun sudah beradu. Namun mata mereka belum menutup dan masih memandang satu sama lain.

Di sisi lain, Sasuke hanya terdiam mendapati pergerakan Ino yang mengagetkan itu. dia tidak menolak, tapi juga tidak bertindak. Hanya napasnya yang semakin memburu ketika Ino semakin mendekat. Entahlah, dia tidak pernah mengalami hal yang seperti ini. Walaupun sedang menghadapi Orochimaru pun, jantungnya tidak berdetak sekencang ini.

Beberapa lama kemudian, Sasuke lah mengambil inisiatif pertama untuk menutup matanya dan—

—mencium Ino, tepat di bibir.

Dia tidak tahu ini apa, tapi secara naluri dia ingin maju dan terus maju. Naluri lelaki memang tidak bisa ditahan. Kedua tangan Sasuke yang menahan di dinding menjadi semakin terkepal dengan keras.

Ino yang awalnya kaget, beberapa saat kemudian ikut menutup matanya dan menikmatinya. Seakan dia sudah lupa akan kehadiran sosok Kiba di hatinya. Ataukah itu hanya kepalsuan?

"Hmmh," gumam Ino ketika ia mulai kehabisan napas. Mengetahui itu, Sasuke segera melepaskannya.

Napas mereka berdua terlihat ngos-ngosan dan memerah. Ino kelihatan sekali kehabisan pasokan oksigen, sementara Sasuke hanya terdiam—berusaha mengatur napasnya juga.

"Dengar, Sasuke-kun ..." ucap Ino akhirnya. Sasuke masih tetap memandangnya.

"Aku ... aku—"

TOK TOK TOK

"Anoo, sumimasen? Ada orang?" ucap seorang gadis di depan pintu ruko yang masih terbuka.

Keduanya reflek melepaskan diri satu sama lain. Beberapa saat setelah Ino dapat mengendalikan napas—dan juga blushing-nya, ia beranjak dari dapur dan menemui seseorang yang sedikit berteriak tadi. Yah, salah siapa juga yang tidak menutup pintu depan ruko? Untung saja orang yang mendatangi dia ini cukup sopan dan baik—dia permisi dahulu.

Ino segera menghampirinya dan seketika—

"Hi-hinata?"

—dia terkaget mendapati gadis berambut indigo tersebut.

Apa jadinya kalau Hinata tahu aku dan Sasuke-kun sendirian di rumah seperti sekarang ini? ucap Ino panik dalam hati.

To be Continued

xxxxx


[ A / N ]

HELOOOO MINNAAA ! *terjun dari tebing /apah

Lama tak jumpa X3 kembali lagi dengan Day-chan di sini! Dengan kelanjutan fanfic yang sudah bulukan tak terurus :"""D

Semoga minna masih ingat jalan ceritanya gimana X"""Da

Sebenarnya, aku masih tidak ada niatan untuk menulis kelanjutan fanfic ini lho. /dibuang

Tapi, karena ada seseorang yang sekarang sedang ulang tahun, dan dia (secara mendadak) memintaku untuk melanjutkan fanfic ini sebagai hadiah ... akhirnya, aku melanjutkan fanfic ini juga X""D.

Dengan kata lain, chapter ini aku dedikasikan untuk Iztii Marshall a.k.a Izti-chan (yang ngakunya) adeknya si Deidarakampret :""") Tanjoubi omedeto, Izti-cwan! Gimana? Kaget gak kalo nyatanya aku kabulin permintaan kamu? XD semoga gak mengecewakan, ya?

Jaa ne~!

[ FLAMES ALWAYS ALLOWED, BUT NO WAY FOR SILENT READER ]

V

V

V

V