Flamers, Go away, hush...hush... #Baca Ta'awudz.
Disclaimer : Bleach itu punyanya Pakde saya si Tite Kubo (Doh, Ngaku-ngaku -_-). Saya cuma pinjem nama tokoh yang ga akan mungkin saya ganti lagi ._.
Pairing : IchiRuki
Genre : Romance
Rate : T
Warning : Typo, OOC, Gaje dan entah mungkin penyakit semacamnya
Sequel 2 of Nerd,Citrus,Fake Eye Glasses and Love © _SheWonGirl_
NB dulu ya :D
Sebelumnya ntar kalo ada yg nemuin kata Absurd disampingnya ada kata konyol
Absurd yg ku maksud menggelikan, soalnya bahasa inggris kan banyak pengartiannya
Mohon perhatiannya dan be gentle to me, lagipula saya juga author newbie :3
Masih perlu bimbingan dari senpai dan para reader :D
Selamat membaca
Oh, hay bertemu lagi denganku. Tidak perlu aku memperkenalkan diriku kalian pasti sudah tahu. Soal hari-hariku, jangan bertanya lagi! Masih sama seperti dulu bahkan sekarang malah lebih banyak yang menentangku. Sebenarnya aku ingin sekali mendirikan fansclub yang pro dengan hubunganku dan kaichou. What da hell Rukia, kau pikir bahkan akan ada orang yang mendaftar jadi anggota? Mengingat posisiku yang merugikan seperti ini aku yakin fansclub idamanku tidak akan hidup dan berjalan dengan baik. Huh, keironisan berbalik melanda diriku sekarang, sebelum sempat berteman baik dengan beberapa siswa perempuan bahkan mereka sudah membenciku. Apa aku ini sebegitu tidak pantasnya berada disamping kaichou?
Sejenak aku menghentikan pelarianku dari Ishida Uryuu. Aku naif sekalikan memikirkan masalah tentang teman dan kaichou bersamaan? Si kaca mata itu memang benar-benar menyebalkan, aku doakan saja semoga dia cepat-cepat dapat pacar agar dia tidak lagi mem-bully -ku terus-terusan karena masalah sampah. Kalian masih tahu aku sedikit phobia, bukan lebih tepatnya jijik, dengan kata dan barang-barang seperti itu. Memang benar, dulu pada waktu diriku masih member awal, kaichou yang sering memintaku membuangnya, tapi itu hanya berjalan selama dua minggu, setelahnya, dia sendiri yang membereskannya. Tapi beberapa hari ini selalu seperti ini, dia menghilang disaat istirahat siang dan kesempatan itu digunakan si mata empat untuk mem-bully-ku. Sejak kunjungan terakhirku ke rumahnya dan aku merengek agar kami lebih bisa lovey dovey juga di ruang dewan siswa – aku pikir sifat kekanakanku kali ini keterlaluan – memang kaichou mengabulkannya dan mungkin itulah yang membuat si mata empat sedikit jengkel kepadaku.
Aku menghirup napas kuat-kuat dan mengeluarkannya dengan pelan. Mencoba menenangkan jantungku yang berdetak tak karuan karena pelarian. Rambut panjangku sekaranglah yang menyebalkan! Ah, ini memang salahku saja karena lalai mengikatnya. Kusibakkan rambutku lalu aku berdiri dari duduk nyamanku. Ku pandangi sekelilingku, ya ampun, aku tersesat di halaman belakang sekolah yang sudah tak berpenghuni karena bangunan tua belakang sekolah ini tak digunakan lagi.
Entah apa yang membuatku penasaran aku berjalan menyusuri ke dekat gedung itu. Banyak dari bangunan itu sudah rapuh, dindingnya lembab dan ditumbuhi tumbuhan merambat. Aku semakin berjalan mendekat, ada yang menarik perhatianku karena ada sebuat Concrete Gazebo tua yang berdiri kokoh ditengah-tengah kolam dihiasi bebatuan dan tanaman rimbun yang begitu manis. Concrete Gazebo tua itu berbentuk melingkar atau bisa disebut bundar. Aku melihat kaichou orange ku sedang terlelap disana, dia menyelonjorkan kakinya dan menyandarkan tubuhnya pada concrete gazebo beton itu. Aku semakin berjalan mendekat lalu duduk di sampingnya. Kasihan sekali dia tertidur dengan kepala tanpa sandaran seperti itu, jadi aku menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Jadi ini tempat rahasiamu," ucapku, kemudian aku mencubit dengan gemas pipi bervolume miliknya.
Dia tidak terusik oleh cubitanku apalagi terbangun karenanya. Jadi aku memutuskan untuk bersandar pada kepalanya dan kemudian aku terlelap dengan tenangnya.
Rukia sedikit menggerak-gerakkan kepalanya nyaman. Huh? Nyaman? Kenapa kepalanya membentur sesuatu yang sedikit empuk mengingat dirinya tadi menyandarkan kepalanya sendiri di kepala kekasih berambut jabriknya, Ichigo.
Dengan segera Rukia membuka kedua manik amethysnya. Kaki mungilnya tertutup oleh jas sekolah Ichigo sedang dibagian pinggangnya, Ichigo merengkuh memeluknya. Jemari tangan kanannya digenggam oleh Ichigo, sedang kepalanya bersandar di dada bidang Ichigo.
Rukia mendongakkan wajahnya dan saat itu pandangan matanya bertemu dengan manik amber Ichigo. Ichigo lalu menyungging senyuman manis, "Kau sudah bangun?" tanya Ichigo.
Angin musim semi berhembus pelan kemudian Rukia juga membalas Ichigo dengan senyuman.
Ichigo menyibakkan rambut raven yang menutupi wajah Rukia karena angin tadi kemudian mencium kening Rukia.
"Kau terlihat sangat... manis," ucap Ichigo.
Rukia mencubit tangan Ichigo yang berada di pinggangnya, "Apa ini caramu menggodaku?" tanya Rukia, dia menyungging senyuman lagi di bibir pink nya.
Ichigo mendekatkan bibirnya pada bibir Rukia, lalu mengecupnya. "Menurutmu?" Ichigo balik bertanya pada Rukia.
"Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Rukia.
"Tidurmu pulas begitu bagaimana mungkin aku bisa membangunkanmu?" Ichigo balik bertanya.
Rukia hanya mendengarkan jawaban Ichigo dan kemudian tersenyum, lalu Rukia bergerak pasti, menggeser tubuhnya agar sedikit menjauh dari Ichigo. Rukia memberikan jas sekolah Ichigo yang masih bertengger manis di pahanya.
"Ayo kita pulang," ucap Rukia.
Ichigo hanya terkikik, kemudian Rukia membuka suara, "Ichi, kenapa bajumu basah begitu?" ucapnya ketika Ichigo memakai jas sekolahnya.
Ichigo memasang wajah serius, "Kau tidak ingat? Ini air liurmu."
Rukia melongo lalu dia langsung membuang muka, sedikit tak percaya akan hasil perbuatan mulutnya, 'Kau menjijikkan Kuchiki Rukia,' innerself nya berbicara.
Beberapa detik kemudian terdengar tertawaan keras dari Ichigo dan Rukia bisa merasakan kepala ravennya dielus lembut oleh Ichigo, "Aku bercanda," jawab Ichigo peka.
Rukia langsung menjulurkan tangan dan mencubit pinggang Ichigo. Tak kentara pipi Rukia memerah. Ichigo yang awalnya kesakitan tetapi saat ia memperhatikan peri mungilnya itu kelabakan, Ichigo mengurungkan niatnya membuka suara.
"Ayo pulang," ucap Rukia lembut, hampir tak terdengar.
"Tidak mau tidur lagi denganku?" goda Ichigo.
"Aku bilang ayo pulang," bentak Rukia tak sabar, dengan segera Rukia bangkit dari duduknya. Ichigo ikut berdiri dan ia melihat semburat merah lebih merajalela dipipi putih Rukia.
Rukia berjalan meninggalkan Ichigo, tapi dengan segera Ichigo meraih tangan Rukia, menautkan jemari kokohnya pada jari lentik Rukia.
"Aku akui, kau benar-benar manis," ucapnya dan kemudian Ichigo tertawa.
_SheWonGirl_
Pagi itu Rukia masih dengan senyum ayunya menyusuri koridor sekolah, mengingat-ingat kejadian kemarin, mengingat si Ichigo yang memang sangat berhasil menggodanya. Beberapa orang memandangi Rukia dengan aneh dan sedikit tak percaya. Pasalnya mukannya lebih mirip orang gila daripada orang yang bahagia, dan ya, satu hal lagi, pulang sekolah nanti dia akan berkencan dengan Ichi. Ini kencan kedua mereka setelah kencan pertama mereka, 2 minggu yang lalu.
Siang itu, setelah pulang sekolah Rukia memang langsung menuju kelas Ichigo, dia menunggu di samping pintu. Saat Ichigo keluar, Rukia langsung menggelanyutkan tangannya pada Ichigo, memamerkan pada beberapa siswi perempuan yang berlalu – dengan pandangan menyebalkan – bahwa Ichigo memang miliknya, sepenuhnya!
Ishida yang berada di belakang mereka langsung membuka suara, "Apa kalian harus berbuat seperti itu setiap waktu?" tanya Ishida. Dia menaikkan letak kacamatanya.
Rukia menghadap belakang lalu mencibirnya, "Jika kau cemburu, buru-burulah cari pacar, kotak!" ucap Rukia.
Renji yang entah berasal darimana dan dia seenak jidatnya berada disamping Ishida menahan tawa, "Kau pikir ada wanita yang mengidolakannya Kuchiki?" tanya Renji.
Ishida hanya membetulkan letak kaca matanya lagi, ia tak mampu membalas candaan dua orang itu, sedang Ichigo malah mengelus-elus kepala Rukia dengan sayang dan saat itu pula Ishida menendang si rambut orange dan terjadilah perang absurd yang konyol.
_SheWonGirl_
Seharusnya kencannya kali ini harus berjalan tanpa adanya pengganggu, tetapi mau bagaimana lagi itu hanya rencana Rukia, tapi kalau rencana Tuhan yang berlainan? Ditengah perjalanan mereka, Ichigo bertemu dengan teman-teman SMP nya. Mereka malah mengajak Ichigo makan siang bersama, ya walau tentu Rukia diajak, dia seperti makhluk dari planet lain, yang ia lakukan hanya duduk di pojok meja, menikmati ice cream strawberrynya yang mulai meleleh. Rukia sudah tidak tahan lagi setiap melihat adegan demi adegan, Ichigonya diajak bicara oleh perempuan lain, apalagi perempuan-perempuan itu berdada besar. Argg... dia paling tidak suka ada wanita seperti itu yang menggoda Ichigo.
Harusnya hari ini mereka makan siang bersama, bermain game, nonton film, lalu dinner bareng. Tapi apa? Rencananya sudah rusak sejak awal.
Rukia sudah tidak tahan lagi, amarahnya hampir meledak jadi dia memutuskan untuk pergi ke kamar mandi mendinginkan kepalanya.
"Harusnya aku bunuh mereka satu persatu," geram Rukia. Ia membasuh mukanya lagi, terhitung sekarang ini yang ke tujuh kali.
Ketika Rukia keluar dari kamar mandi, si kepala orange sudah menungguinya.
"Kenapa ada disini?" tanya Rukia.
"Menungguimu," jawab Ichigo, ia tersenyum.
"Harusnya aku tadi menculikmu ke Mars agar tidak ada pengganggu," ucap Rukia.
"Kau yakin mau menculikku? Ke Mars? Bukankah rambutku sudah mengalahkan pesona mars itu sendiri?" goda Ichigo. Ia menjulurkan tas milik Rukia.
Rukia hanya sedikit melongo, tapi diterimanya juga tas miliknya, "Kita pergi?" tanya Rukia.
"Ya, dan kali ini aku yang menculikmu, jadi kau tidak perlu menculikku," ucap Ichigo, ia menggenggam tangan Rukia sedang Rukia sedikit terpesona dan menyunggingkan senyuman manja.
'Hahahaha, dia mudah sekali dipahami,' pikir Ichigo.
"Apa?" tanya Rukia, "Memang aku salah kalau hanya ingin berduaan saja dengan pacarku selama kencan?" Ia melotot ke arah Ichigo.
"Ya, aku mengerti," jawab Ichigo.
Pacar Tsundereku memang tidak ada duanya bukan? Hahahaha
E N D
"Ichi, kenapa kita menuju ke sekolah lagi? Ini sudah malam," ucap Rukia.
"Ayolah, nanti kau akan tahu jawabannya setelah sampai disana," jawab Ichigo, dia masih menggandeng mesra Rukia mungilnya.
Rukia tahu jalan itu, jalan itu menuju Concrete Gazebo yang ada di samping bangunan tua. Dari kejauhan Rukia memang tidak melihat sesuatu yang aneh atau spesial disana tetapi saat, mereka hampir sampai, di gazebo itu sudah tertata rapi, bahkan ada meja dan makanan juga. Sinar rembulan membantu indahnya malam ini, walau tanpa lampu atau lilin, gazebo itu terlihat sekali.
"Ini apa?" tanya Rukia dengan bodohnya, Ichigo hanya tersenyum, lalu menarikkan kursi untuk Rukia dan menyuruh Rukia duduk diatasnya.
Ichigo berdiri di samping Rukia lalu menghidupkan lilin yang ada di depannya, "Ini candle light dinner untukmu," jawab Ichigo. "Maafkan aku," jelasnya.
"Untuk apa?" tanya Rukia polos.
"Kencan hari ini tak berjalan sesuai keinginanmu," jawab Ichigo.
"Kalau begitu, lain kali kita kencan disini saja, kau tahu sifatku, jika aku ingin berduaan denganmu aku benar-benar tidak ingin terganggu," ucap Rukia.
Ichigo mengangguk setuju, "Jadi kau memaafkanku?"tanya Ichigo.
"Kemarilah," jawab Rukia, ia mendekatkan bahu Ichigo ke tubuhnya, lalu ia mengecup bibir Ichigo, "Dengan ini, tentu saja," jawab Rukia.
Ichigo hanya tersenyum, lalu dia mengecup kembali bibir tipis Rukia, tak hanya sekali bahkan berkali-kali.
Sementara itu ...
"Besok aku akan membunuhmu Kurosaki, seenak jidatmu menyuruhku mempersiapkan sesuatu yang konyol seperti itu," ucap Ishida.
"Demi teman, kawan," jawab Renji.
Di lain tempat
"Hattssshhhiiiiii."
"Apa kau terkena flu, Ichi?" tanya Rukia.
" Tidak, hanya saja sepertinya seseorang sedang membicarakanku," jawab Ichigo.
Gimana minna? Boleh minta reviewnya? :3
Saran atau yang lainnya, kalo minta sequelnya lagi kapan-kapan Sifa buatin :D
