Balasan Riview buat yang Guest,emm yang lain udah Kira PM yaaaa..

To All,thanks for riviews.. ^.^

lily angelica : waah.. makasih pujiannya #terbang..

buat dua orang cewe misterius itu,salah satunya akan dijawab dichap ini ko. Yang lain masih rahasia doooong! XD.. ups! Maaf mengeewakan,dific ini kushi ga main.. Minato single parents.. ^^

.

.

Guest 1 : Makasiih yaa.. padahala aku kira ini Fic paling aneh.. heheh.. okay dilanjut.

.

.

Subaru Abe : wah.. makasih dah bilang

Fic gaje ini bangus.. he # nyengir

Saya sengaja ga bikin yang antagonis nya banyak. He.. pusing entarnya.. he

Oh.. buat 2 cewe miterius itu,salah satunya dijawab di chap ini ko.

Okey.. kritik diterima dengan senang hati. Aku suka bgt kritik.. bikin aku maju.. oke,aku berusaha akan lebih baik nulisnya.. #pasang muka serius .. jangan kapok kritik yaaaaa..

Ini aku usahain update cepaaat loh.. XD

.

.

Onyx: hehe.. makasih udah bilang bagus #idung membesar

Thx for spirit!

.

.

Guest2: oke lanjuuut!

.

.

CindyAra : okaayyy!

Disclaimer: sudah tahu pasti kan?

Pair : sasufemNaru

Rate : T

Gendre: romance,drama,hurt/comport.

WARNING:STR AIGT,OOC,GAJE,ABAL,typos ,DLL

.

.

Embun pagi menyambut sepasang kaki mungil yang beranjak menuju dunia. Langkah demi langkah menelusuri jalanan yang terasa sepi. Wajar saja,waktu baru menunjukkan pukul 6 pagi. Aktifitas di kota konoha belum sepenuhnya dimulai. Mungkin sebagian orang masih menggumuli selimut mereka,melindungi tubuh dari cuaca yang cukup dingin ini.

"Haaah... Udara dipagi hari memang menyegarkan!" Seru seorang gadis berambut pirang mematahkan anggapan yang dikatakan orang bahwa pagi ini begitu dingin. "semangat! Hari ini adalah jadwal piketku! " lanjutnya memberi spirit untuk dirinya sendiri.

Pagi ini Naruto berangkat lebih pagi dari biasanya. Ia juga tidak memberitahu kekasihnya mengenai ini. Karena jika ia memberi tahu,maka kekasihnya pasti akan menjemputnya. Karena, rasanya tak enak jika merepotkan Sasuke,maka gadis ini memilih berangkat lebih dulu.

Perjalanan dari rumahnya menuju sekolah terbilang cukup jauh,maka dari itu perlu waktu setengah jam untuk mencapai sekolah dengan menaiki bis. Sesampainya disekolah,Naruto disambut oleh kedua satpam yang menjaga pos,siapa lagi kalau bukan Genma dan Kotetsu. Naruto menyapanya dengan ramah dan besemangat,mengalirkan kebahagiaan bagi dua satpam itu.

"Sepi sekali" gumamnya seraya menyapu pandangan kepenjuru sekolah. Lantas ia melirik jam tangannya ,"Pantas saja,baru jam 6.30," Lanjutnya.

Naruto pun bergegas menuju lokernya hendak menyimpan payung dan jaket yang ia bawa. Namun,langkahnya terhenti saat melihat seiluet seorang pemuda yang berdiri didepan lokernya.

"Bukankah ituu..." Naruto tidak melanjutkan kata-katanya,karena penasaran akhirnya ia memilih menghampiri pemuda itu. Dan,betapa kagetnya Naruto saat mengetahui bahwa yang berdiri didepan lokernya adalah..

"Ga-Gaara-senpai?!" panggilnya shock. Apalagi tadi ia sempat melihat Gaara yang sedang memasukan surat kedalamnya,dan ia tahu persis isi surat itu. Curat cinta yang selama ini ia terima.

Gaara yang sedang membelakangi Naruto,tentu saja tersentak kaget mendengar suara Naruto. Lalu ia menoleh kebelakang,mendapati Naruto yang tengah membekap mulutnya sendiri dengan wajah yang menyiratkan tak percaya dan kaget. Gaara berbalik dan tersenyum kecil.

"Haah.. ketahuan ya," Gumamnya kalem,seakan tak terjadi apa-apa. Padahal baru saja dirinya ketahuan. Kalau orang Normal pasti sudah gelagapan dan nervous,entahlah Gaara itu. Dia terlalu kalem dan cool mungkin?

"Ja-jadi... A-Astaga," Ujar Naruto tak percaya. Ia pun memandang Gaara meminta penjelasan. Gaaara yang mengerti arti dari tatapan Naruto segera menjawab.

"Benar. Akulah yang selama ini mengirim surat itu untukmu. Semua itu benar,aku tidak berbohong sama sekali," Jelasnya sedikit memeberi jeda saat akan mengatakan kata selanjutnya "Aku memang jatuh cinta kepadamu Naruto Namikaze"ujarnya mantap.

Gaara merasa lega saat melontarkan kalimat yang selama ini ia pendam yang hanya ia curahkan lewat surat yang tak pernah dibalas oleh inilah saatnya,pikir Gaara. Walau hanya sebuah pernyataan tapi sungguh ia sangat terbebani,tapi syukurlah sekarang ia sudah mengatakannya. Berbeda dengan Gaara,Naruto yang mendengarnya tentu saja sangat kaget,matanya membola menyiratkan betapa terkejutnya ia.

"Ta-tapi.." suara Naruto tercekat,ia tidak tahu harus berbicara apa sekarang. Apa-apaan senpainya itu? Bukankah Gaara mengetahui kalau Naruto sedang menjalin hubungan dengan Sasuke? Dan Naruto tidak berpikir untuk selingkuh dari Sasuke sedikitpun. Ia mencintai Sasuke,sangat.

"Aku tahu. Kau ingin berkata kau sudah punya kekasih,begitukan Naru?" Tanya Gaara seakan tahu apa isi pikiran Naruto sekarang. Naruto mengangguk kaku sembari mendunduk,tak berani melihat langsung kearah senpainya . Gaara mendesah panjang,sebelum senyuman tulus terkulum diwajah tampannya. Ia mengusap kepala pirang Naruto lembut,menuai pandangan heran dari Naruto.

"Jangan khawatir. Kau tak perlu menjawabnya Naru. Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan. Selama ini,aku begitu tersiksa memendamnya sendiri," Gaara berkata lembut seraya memandang lekat shapphire cantik gadis didepannya. 'Ya.. kau tak perlu jawab,kau hanya perlu memikirkannya saja Naru. Pikirkanlah aku,dengan begitu akan lebih mudah untuk membuatmu berpaling dari Uchiha itu' Lanjutnya dalam hati.

Naruto tersenyum tulus seraya mendesah lega "Terima kasih senpai telah mengerti" Balas Naruto senang. Ditatapnya wajah tampan Gaara yang tengah tersenyum.

Blush!

Mendadak wajah Naruto merona. Naruto baru menyadari bahwa Kaichou-sama KHS itu ternyata sangat tampan. Yah.. Bagaimanapun Naruto tetap gadis Normal bukan? Merona saat melihat wajah tampan seorang pria,apalagi dirinya tahu bahwa pemuda itu menyukainya.

Melihat Naruto yang sedikit merona,membuat Gaara sedikit senang. Masih ada harapan,pikirnya. Gaara kembali mebawa surat Cinta yang ia sudah simpan didalam loker Naruto.

"Aku sudah tak membutuhkan ini" Gumamnya. Dipandangnya lagi gadis didepannya "Kuharap Kau takkan pernah menghindar dariku Naru" katanya datar namun terdengar lembut ditelinga Naruto.

"Ya" Jawab Naruto pendek. Ia meletakan jaket dan payungnya didalam loker. Menarik nafas kemudian Naruto berujar "Gomen Senpai dan arigatou," Ia sedikit membungkukan badannya kearah Gaara.

Gaara mengangguk kecil.

"ah! Aku ada piket! Aku harus cepat! Aku permisi dulu. Jaa" pamitnya seraya berbalik meninggalkan Gaara. Namun,sebuah tangan menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya cepat. Dan..

Grep!

Tubuh Naruto menegang saat mendapatkan pelukan mendadak dari Gaara. "Se-senpai.. "

"Sebentar saja kumohon" Lirih Gaara mengeratkan pelukannya kepada Naruto "Mungkin aku tak bisa lagi memelukmu. Izinkan sekali saja Naru" Pinta Gaara sembari menghirup aroma citrus yang memabukan dari tubuh Naruto 'Ya.. mungkin. Bukan berarti pasti. Apapun akan kulakukan untuk mendapatkanmu Naru' Gaara melanjutkan dalam hati .

"Baiklah" akhirnya Naruto membiarkan Gaara memeluknya sebentar. "Mungkin kita bisa menjadi teman senpai?" Tanya Naruto berharap.

Gaara mengkerutkan dahinya tak suka saat Naruto melontarkan kalimat itu. Yang benar saja! Ia tak mau menjadi teman Naruto,ia mau lebih. Tapi..

"Ya kita teman" Bisik Gaara. 'Teman untuk sekarang.' Lanjutnya benar-benar munafik.

Naruto melepaskan pelukannya. Ia menatap Gaara dengan senyuman sumringah diwajah cantiknya. "hehe.. kita temaaan! Baiklah aku pergi dulu senpai. Jaa!" pamitnya lagi. Naruto langsung berlari meninggalkan Gaara yang terpaku ditempat karena mendapatkan senyuman malaikat dari Naruto.

Deg Deg Deg!

Ia mencengkram dadanya sedikit saat merasakan getaran dari jantungnya. "Aku tak salah memilih seorang gadis" gumamnya seraya berlalu dengan membawa seringai diwajahnya.

Tanpa mereka berdua ketahui,ada seorang gadis yang menyaksikan seluruh kejadian itu. Tubuhnya bergetar seperti menahan sesuatu.

Lalu?

"Hohohohohohoo" gadis itu tertawa aneh. Pandangannya berkilat-kilat kearah hanphone yang digenggamnya.

"Tidak sia-sia aku berangkat lebih pagi" Ujarnya seraya terus mengamati gambar yang terdapat dihandphonenya,dimana Gaara sedang memeluk Naruto. "Karena aku bisa mendapatkan berita mengenai perselingkuhan gadis miskin kekasih pangerang sekolah dengan Kaicho-sama. Hahahah.." Tawanya nyaring persis seseorang yang kesetanan.

Dan?

"Lihatlah Sasuke-kun! Apa aku bilang! Kau benar-benar memilih gadis yang salah! Dasar wanita jalang!" Umpatnya kejam.

.

...

.

Sasuke menuruni tangga rumahnya dengan tenang. Hari ini ia berangkat lebih siang dari biasanya,karena Ia tak menjemput kekasihnya yang katanya lebih dulu berangkat karena mau piket. Padahal,ia tak keberatan sama sekali jika menjemput Naruto sangat pagi juga. Bahkan disuruh menjemput tengah malampun ia rela. Benar-benar rela. Apa sih yang nggak buat Naruto tercintanya?

Haaaah.. sasuke merasa dirinya benar-benar aneh. Ia tak pernah bersikap seperti itu sebelumnya,bahkan kepada wanita yang telah melahirkannya.

Cinta membuatnya rela melakukan apa saja.

"Outouto? Tumben sekali kau ikut sarapan" suara baritone Itachi memecahkan kesunyian yang tercipta dimeja makan keluarga Uchiha itu. Sasuke tidak menanggapi,hanya menatap kakaknya yang kadang kepo itu dengan wajah khas datarnya. Ia menduduki dirinya disamping sang Kakak dengan ogah-ogahan.

"Haah... apakah hari ini kau tak menjemput gadismu lagi?" tanya Itachi jahil,karena kesal juga yang tidak ditanggapi oleh adiknya. Mendengar kalimat itu terlontar,mendadak Sasuke menegang. Kenapa baka-anikinya tahu? Well.. jangan remehkan Itachi loh. Bahkan,Ia sudah mengetahui siapa gadis yang menjadi kekasih adiknya itu. Dan Itachi tentu sangat setuju dengan pilihan adiknya itu.

"Bukan urusanmu" ketusnya kesal. Itachi menyeringai menang karena berhasil membuat adiknya lagi-lagi kesal karenanya. Benar-benar kakak yang usil.

Mendengar itu,Mikoto terpekik senang "Ah! Benarkah itu suke? Kenapa kau tak mengenalkannya kepada Kaa-san?" tanyanya sedikit kesal karena Sasuke tak pernah berbicara. Padahal,ini adalah kali pertama Mikoto mendengar anak bungsunya itu mempunyai kekasih.

Sasuke mendengus kecil seraya mendelik Itachi sebal. "Belum saatnya Kaa-san" jawab Sasuke datar tapi dengan nada yang lembut dan sopan. Dalam hati ia mengutuk Itachi ,karena gara-gara dia ia pasti mendapat intrograsi dadakannya dari sang Kaa-san.

"Tapi,Kaa-san ingin secepatnya bertemu dengan kekasihmu. Apa dia gadis yang baik dan cantik?"

Tuh kan benar dugaannya!

"Hn" Sasuke mengangguk seraya tersenyum kecil. Fugaku yang sedari tadi hanya diam mendengarkan sedikit mendehem pelan. Sebenarnya,ia juga penasaran.

Mikoto bertambah sumringah,senyumnya semakin melebar "Kyaaa! Kaa-san mau bertemu suke! Apa dia pintar?" tanyanya lagi begitu antusias,menuai senyuman dari Itachi.

"Dia juga pintar Kaa-san." Kini giliran Itachi yang menjawab. Tentu saja menuai pandangan heran dari semua orang,terutama Sasuke.

'Dia benar-benar tahu?' batinnya bertanya tak percaya.

"Heee.. Kau tidak adil Suke. Kenapa Itachi diberi tahu,Kaa-san tidak?" tanyanya sedikit protes. Sasuke melayangkan pandangan bertanya kepada Itachi,yang hanya dijawab dengan gedikan bahu sang kakak.

"Hn" gumamnya membalas pertanyaan Kaa-sannya. Mikoto mendesah pasrah mendengar jawaban Sasuke yang tidak jelas itu. Benar-benar mirip ayahnya,pikir Mikoto.

"Tou-san harap gadis itu sederajat dengan kita Sasuke"

Deg!

Sasuke menegang mendengar pernyataan dingin dari Fugaku. Itachi menoleh cepat kearah Sasuke. Ia melihat adiknya menegang dan gelisah. Ia tahu,Naruto bukanlah gadis dari kalangan kayaraya yang terhormat.

"Aku selesai." Sasuke mengalihkan seraya berdiri hendak pergi,ia mengecup pipi Mikoto sekilas. "Aku pergi" lanjutnya berpamitan.

"Tidak sopan bocah itu" Komentar Fugaku datar kentara dengan nada kesalnya, karena ucapannya yang tak digubris oleh anak bungsunya.

'Berjuanglah Outouto!' batin Itachi memandang sendu punggung Sasuke yang menjauh. Lalu,Keluarga Uchiha itupun kembali melanjutkan sarapan yang sempat tertunda.

.

...

.

Sasuke menjalankan mobil mewahnya dengan kecepatan yang tinggi. Hatinya begitu gelisah sekarang. Perkataan Tou-sannya terus tengiang dikepalanya. Ia tahu,perkataan Tou-sannya adalah mutlak. Ia tak mungkin menyutujui hubungannya dengan Naruto yang seorang yang tidak kayaraya dan sederajat dengan Uchiha.

'Cih.. persetan dengan Uchiha!' Sasuke mengumpat dalam hati tidak menyadari bahwa dirinya juga seorang Uchiha. Kenapa orang selalu menilai dengan harta sih?

Bagaimana ini?

Bukannya Sasuke takut atau tidak mau memperjuangkan cintanya dengan Naruto. Jika perlu apapun akan dia lakukan untuk bersama dengan Naruto.

Tapi..

Sasuke sangat tahu bagaimana sikap ayahnya yang keras,egois dan mutlak itu. Ia khawatir. Khawatir kepada Naruto atas sikap Fugaku yang tidak pernah segan-segan terhadap siapapun ketika menyangkut harga diri. Ia mulai menyesali takdir yang di lahirkan dikeluarga yang mempunyai dan menomorsatukan Harga diri yang selangit itu. Benar-benar tidak menyadari bahwa dirinya juga menuruni sifat sang ayah

Lalu?

"Naruto..." lirihnya memanggil nama sang terkasih.

...

"Oooosh... selesaiii!" seru Naruto seraya mengangkat kepalan tangannya ke udara. Fyuuh.. Akhirnya Naruto menyelesaikan piketnya. Ia segera duduk dibangkunya,seraya menunggu bel masuk. Kelasnya masih sepi,beberapa sudah ada yang datang tapi mereka langsung keluar lagi. Begitulah,jarang sekali ada yang diam dikelas seperti Naruto. Mereka lebih memilih bergosip diluar seraya menanti pujaan masing-masing daripada masuk kelas.

Naruto memandangi langit dari jendela seperti kebiasaannya. Namun,ia terlihat tidak menikmati pemandangan langit biru yang selalu disukainya itu. Pandangannya terlihat menerawang. Ia teringat kembali kejadian tadi pagi,dimana ia mengetahui bahwa yang selama ini mengirim surat cinta itu adalah Gaara.

Ia masih belum mempercayai ini.

"O-ohayou Naru-chan!" sapa lembut seorang gadis yang tak lain adalah Hinata.

"Ohayou Hinata-chaaan~" balasnya riang,walaupun tadi agak tersentak kaget ketika mendapatkan saapan dari Hinata.

"N-Naru,apa kau sudah mengerjakan tugas dari Anko-sensei?" tanya Hinata setelah mendudukan dirinya disebelah gadis blonde itu. Naruto mengangguk sebagai jawaban.

"Ah.. a-pa aku boleh meminta bantuanmu untuk menjelaskan so-al nomor ti-ga? Aku be-lum mengerti.." pinta Hinata kepada Sahabatnya itu.

"Tentu saja!" jawab semangat Naruto,menuai senyuman dari Hinata yang merasa beruntung mempunyai sahabat seperti Naruto.

Disela-sela penjelasan,Naruto tiba-tiba mendapatkan sebuah panggilan dari Handphonenya.

'privat Number?' batinnya. Ia segera menjawab panggilan itu.

"Moshi-mo-"

"Bersiap-siaplah Namikaze Naruto untuk kehancuranmu. Jika kau terus bersama Sasuk-kun" suara disebrang sana menyela Ucapan Naruto dengan nada yang terdengar sangat berbahaya. Naruto mengkerutkan dahinya,saat merasa Suara dari sebrang sana ia kenal. Tapi siapa?

"Maaf ini siapa?" tanya Naruto tenang tidak tepengaruh oleh ucapan yang dikatakan tadi.

"Khekhekhe" suara itu terkekeh mengerikan "kau tidak perlu tahu siapa aku~ yang kau perlu tahu adalah bahwa perselngkuhanmu dengan sang Kaichou sudah ketahuan~" ujarnya dengan nada sing a song.

Deg!

"APA MAKSUDMU!" Teriak Naruto tersulut emosi. "Aku tidak pernah selingkuh dengan siapapun asal kau tahu! Siapa kau?" lanjutnya sedikit menurunkan nada suaranya yang sempat meninggi. Hinata menatap Naruto khawatir.

"HAHAHAHAH" tawa mengejek disebrang sana begitu nyaring ditelinga Naruto,menambah rasa kesal dari kekasih Uchiha Sasuke itu "Lihat saja apa kau masih berani menyangkal setelah aku memberimu sebuah bukti! Tunggulah kehancuranmu gadis jalang!"

Dan?

Klik!

Sambungan teleponpun terputus.

"Hey! apa mak-.. Halo?! Hallooo! Chk.. sial!" umpat Naruto benar-benar kesal saat melihat handphonenya sudah tidak tersambung.

"A-ada apa Naru?" Hinata bertanya Khawatir. Naruto ter lihat cemberut dengan wajah yang memerah menahan amarah.

"Orang yang benar-benar kurang kerjaan," balas Naruto kesal.

"Ja-ngan terlalu di-ambil hati ya.." ujar hinata seraya mengelus punggung Naruto lembut. Naruto menghela nafas panjang seraya mengangguk.

Dan merekapun kembali mengerjakan kembali soal yang ditanyakan Hinata.

.

...

.

Teng teng teng!

Denting bel istirahat berbunyi,memberikan kesenangan kepada siapa saja yang mendengarnya. Termasuk tokoh pria Utama kita alias Uchiha Sasuke. Ia segera beranjak dari tempat duduknya hendak menemui Dobenya. Ia sungguh Rindu kepada Dobenya. Ayolaah.. Dia belum mendapatkan ciuman hari ini. Rasanya seperti ada yang kurang jika belum mendapatkannya,kemarin malampun ia tak sempat menjemput Naruto pulang kerja,karena ia ada urusan dengan Tou-sannya. Berarti dari terakhir saat pulang sekolah kemarin dong? Chk.. Pantas saja rasanya rindu sekali,pikirnya.

Haaah.. Dasar mesum!

Sasuke berjalan meninggalkan kelasnya,namun didepan pintu ia melihat seorang gadis yang tak lain adalah Ino. Ia menyipitkan matanya tak suka,ia tahu dimana ada Ino disitu juga ada Sakura bukan? Itu juga berarti akan ada gangguan kecil terhadapnya. Bukannya Ge-Er atau kepedean,tapi pengalamanlah yang membuktikan. Bukan waktu yang sebentar,selama lima tahun ia selalu dikejar-kejar gadis yang sama.

Tapi..

"Shika-kun!" Panggil Ino mematahkan anggapan Sasuke yang beranggapan akan berurusan dengannya. Ia menoleh kebelakang,mendapati Shikamaru yang sedang berjalan kearah gadis itu. Menaikan sebelah alisnya bingung,Sasuke berujar "Sejak kapan Nanas malas berurusan dengan sorang gadis?"

Shikamaru memutar matanya bosan "Chk.. Mendokusai" Gumaman khasnya menjawab pertanyaan Sasuke.

Sasuke mendengus geli saat melihat sedikit rona pink yang bertengger diwajah malas Shikamaru. Benar-benar tidak pantas dan terlihat aneh,pikirnya. Tapi,ia cukup paham dengan situasi yang ada. Sepertinya,Shikamaru dan Ino adalah pasangan yang baru. Ia ikut senang mendengarnya. Sasuke pun,berlalu tanpa bertanya lebih jauh lagi. Menginggalkan pasangan yang sedang merona malu itu.

...

Naruto menghirup aroma taman dengan dalam,sekedar merileks-an pikirannya yang sedang kacau. Hari ini ia medapatkan kejadian yang cukup mengejutkan dan mengesalkan baginya. Gaara dan si penelepon itu. Tapi,Naruto tidak terlalu memikirkan mengenai Gaara,ia cukup senang dengan akhirnya Gaara yang menjadi temannya. Yahh.. Meskipun tetap saja kaget. Yang jadi pikirannya adalah ancaman dari si penelepon misterius itu yang terdengar sangat yakin dan tidak terdengar main-main. Walaupun dirinya sudah terbiasa mendapatkan teror atau surat kaleng yang mengancamnya,tapi yang ini berbeda. Hati kecilnya berkata ini semua buruk.

Namun..

Ia tak mungkin menuruti ancaman si penelepon itu,karena Ia tak sanggup dan tak mau meninggalkan kekasihnya itu.

"Sasuke.." Naruto memanggil kekasihnya lembut.

"Ya Dobe?" Sahut seseorang tiba-tiba membuat Naruto tersentak. Kapan Sasuke ada disampingnya? Ia bahkan tak merasakan kehadiran seseorang sedari tadi.

"Kau seperti hantu" Balas Naruto sekenanya menuai jitakan sayang dari Sasuke,karena menyebutnya hantu.

"Ittai..! Kenapa kau suka sekali menjitakku sih?!" Bentak Naruto keras. Ia mempoutkan bibirnya lucu.

Sasuke memutar matanya " Karena Kau sudah jelas adalah seorang Dobe" Sahut Sasuke malas.

"Grrrr...! Kau itu sungguh pacar yang menyebalkan!" T eriak Naruto seraya memalingkan wajahnya sebal.

"Hn" Gumam Sasuke pendek dan datar,membuat Naruto semakin kesal.

'Kenapa aku mencintai orang yang menyebalkan dan datar seperti dia sih?' Naruto membatin miris.

Sasuke mengamati Naruto lewat ekor matanya. Gadisnya itu sedari tadi melamun terus,bahkan sepertinya ia juga tadi tidak menyadari kedatangannya. Ada apa lagi dengan Naruto? Kenapa Naruto seperti selalu menyembunyikan sesuatu darinya? Ia mengehela napas berat.

"Kau tidak membawa makan Dobe?" Sasuke memecahkan keheningan yang sempat tercipta dengan pertanyaan. Naruto menoleh bingung kearah kekasihnya.

"Aku bawa ko," jawabnya santai. Kemudian Naruto menengok kekanan dan kekirinya bermaksud mencari bentonya. Tapi..

"Eh?" Ia bergumam heran,saat tidak mendapatinya bekal makanan yang selalu ia bawa. "Tapi aku tadi membawanya ko!" Naruto berujar yakin.

Sasuke mendesah. Tuhkan ada yang tidak beres dengan Dobenya. Sekarang Ia yakin Naruto sedang banyak pikiran dan menyembunyikan sesuatu darinya.

"Ada apa Dobe?" Sasuke bertanya ambigu kepada Naruto. "Apa yang sebenarnya kau pikirkan?" tegas Sasuke saat melihat raut bingung kekasihnya.

Naruto menggeleng lemah,ia malah mendekatkan duduknya kepada Sasuke dan memeluknya manja. Sasuke mengernyit heran atas kelakuan manja kekasihnya yang tidak biasa itu. Tapi,ia membiarkan Naruto memeluk dirinya tanpa membalas.

"Aku hanya merindukanmu" kilah Naruto berkata lirih,mendengarnya Sasuke tersenyum lembut,meskipun dalam hati ia yakin bukanlah itu masalah yang dialami Naruto. Tapi,ia tidak mau memksa Naruto untuk berbicara. Sasuke sangat tahu bagaimana tabi'at keras kepala kekasihnya itu. Memaksa membuat semuanya percuma jika berhadapan dengan Naruto yang sedang keras kepala.

"suke,apakah kau mempercayaiku?" tanya Naruto tiba-tiba.

"Kenapa kau bertanya begitu?"

"Jawab saja Teme!"

"Hn"

"Arigatou suke" ujar Naruto lega,entah bagaimana caranya ia mengartikan 'Hn' adalah Iya. Ia membenamkan kepalanya didada bidang Sang Kekasih seraya mengeratkan pelukannya.

Sasuke mendengus "Kau manja sekali Dobe," suara Sasuke terdengar menegejek padahal dalam hati ia bersorak senang atas sikap Naruto.

"Kau benar-benar menyebalkan Teme!" seru Naruto sembari melepaskan pelukannya. Namun,segera Sasuke mencegahnya dengan melingkarkan tangannya dipinggang ramping Naruto.

"Tapi aku suka," tambah Sasuke membuat gadis dalam pelukannya merona malu. Naruto mencubit perut Sasuke gemas,menuai tawa kecil dari Sasuke.

"..."

kembali keheningan timbul diantara mereka. Kali ini,Sasuke lah yang melamun. Ia agak terganggu saat ingatannya kembali pada perkataan ayahnya,Fugaku. Setiap mengingat hal itu,hati Sasuke terasa begitu berat dan takut sekaligus. Berat untuk menghadapi ke-egoisan Fugaku. Takut kalau Naruto lebih memilih menyerah,atau yang paling buruk adalah Naruto memilih orang lain. Ia mengeratkan pelukannya kepada Naruto posessif,membuat Naruto sedikit sesak.

"Suke~"

"Hn"

"Kau membuatku sesak Teme!"

"Hn"

"Teme! Kau mendengar ku ti-" Naruto tidak dapat menyelesaikan perkataannya. Kalimatnya terpotong saat bibir Sasuke menempel dibibirnya.

"Aishiteru Naru.."

...

Pulang sekolah . Sakura sedang berdiri menghadap seorang pemuda berambut cokelat,mengotak-atik ponsel dan terlihat gembira. "Kau mengertikan?" Sakura bertanya seperti sedang meyakinkan kepada pemuda yang menatapnya datar namun penuh minat.

"Ya," jawab pemuda itu pendek,namun cukup membuat Sakura berkilat senang. Sakura manggut-manggut antusias.

"Baiklah.. Kuharap kau mengerjakannya dengan baik,dan besok harus berada dimading sebagai Hot News No. 1 "

"Tidak masalah"

"Hihihi... Arigatou."

"Asalkan kau menepati janjimu,Sakura," pemuda itu menatap tajam Sakura tepat dimata emeraldnya.

"Kau tahu aku bukanlah orang yang suka ingkar...

.

.

Neji"

...

.

.

Ke esokan harinya...

Naruto berjalan beriringan dengan Sasuke dikoridor sekolah,diselimuti oleh rasa penasaran yang hening diantara mereka berdua. Disekolah,biasanya mereka selalu mendapatkan pandangan memuja dari orang-orang. Tapi ini?

Naruto merasa dirinya dipandang jijik oleh setiap pasang mata yang tidak sengaja bertemu pandang dengannya. Setidaknya begitu dalam pikirannya. Demikian juga Sasuke yang merasa dirinya dipandang.. Prihatin? Entahlah.. Tapi mereka berdua yang jelas tidak menyukai ini.

Sasuke melirik kearah Naruto yang sedang menunduk. Kemudian padangannya beralih kepada orang yang memandang jijik Naruto. Lantas,dengan sukarela Sasuke memberika Deathglare terbaiknya kepada mereka. Tentu saja,hal itu ampuh.

Tapi ada apa dengan semua ini?

"Ih.. Dasar gak tahu diri! Sudah punya Sasuke-kun juga masih selingkuh dengan yang lain! Gadis jalang!"

"Murahan!"

Bisikan-bisikan itu tak sengaja didengar oleh dua sejoli itu. Tubuh Naruto bergetar saat menyadari suara bisikan itu tertuju kepadanya. Sasuke yang juga menyadari hal itu semakin bingung. Apalagi didapatinya tubuh Naruto yang menegang dan sedikit bergetar.

'Kenapa dia?' Sasuke membatin,namun ia tak berani bertanya karena saat ini ia sedang sibuk memberi tatapan maut kepada setiap orang.

'Kami-samaaa... Kenapa hatiku tak enak?' dalam benak ,Naruto bertanya.

Langkah mereka terhenti saat mereka berdua melihat sebuah kerumunan didepan sebuah mading. Sontak,semua orang menatap kedatangan mereka berdua dengan pandangan berbeda-beda. Penasaran,akhirnya Sasuke menggandeng Naruto untuk melihat apa yang mereka kerumuni. Otomatis,orang-orang minggir seolah memberi ruang untuk Sasuke dan Naruto berjalan.

Lalu?

Mata mereka berdua terbelalak kaget saat melihat apa yang tertempel di mading.

"Su-suke! Ini tidak seperti yang kau pikirkan!"

.

.

Tbc..

Heheh... Gomen kalo chap ini ngecewain.. Soalnya Kira lagi dapet banyak tugas dikampus.. hiks..T.T

Tapi.. Apapun hasilnya,Kira mohon pendapat,saran,komentarnya Minnaaaa...

So?

Riview please!