Spesial thanks to:
Destiasasunaru 4ever, Princess Li-chan, Earl grey benvoureth, Guest, nanazawa kay, Guest, CindyAra, Guest, Shisui Namikaze Deandress Chan, Uzumaki Scout, Arum Junnie, Miyamoto Arufina, miszshanty05, itanarublueshapphire, Mushi kara-chan, mendokusai144, Dee chan – tik, ujumaki no gifar, .
Minna pertanyaan dan unek-unek kalian mungkin akan Kira jawab dengan Chapter ini.. Sekali lagi Kira ucapkan makasih buanyak.. Heheh.. Jangan kapok buat Riview, coz itulah letak semangatku untuk melanjutkan Fic ini. he..
Selamat membaca^^
.
.
Naruto mengerjapkan matanya berkali-kali saat mendengar suara bel pertanda pulang sekolah membuyarkan lamunannya. Matanya sedikit bengkak akibat terus-menerus menangis. Sejak istirahat tadi, Naruto duduk diam bersembunyi dibalik pohon belakang sekolah, berharap tidak ada yang menemukannya. Dan harapannya terkabul, tidak ada yang menemukannya disana.
Naruto masih terduduk. Menunggu keadaan sekolah menyepi, mungkin. Ia sungguh sangat malu dan takut bertemu dengan orang-orang. Kejadian tadi, cukup membuatnya terguncang.
"Sasuke.." lirihnya begitu pelan memanggil sang kekasih, "Kumohon.. Percayalah padaku," lanjutnya lebih pelan, seakan ia sedang berhadapan langsung dengan Sasuke.
Wuuush..!
Angin lembut menjawab Naruto, meniup rambut pirang tergerainya terkibas. Membuat Naruto merasa lebih nyaman.
"Naruto, ternyata kau ada disini? Aku mencarimu sejak tadi..," suara lembut seorang gadis membuat Naruto mengalihkan perhatiannya kesamping. Sebenarnya, ia sungguh sangat kaget ketika tiba-tiba ada yang orang yang berdiri disampingnya.
Naruto mengkerutkan dahinya. Mengamati wajah gadis cantik yang tengah tersenyum kearahnya seraya mengingat-ngingat. Namun, sekeras apapun ia mencoba mengingat ia tidak mengenal gadis didepannya, walaupun memang agak familiar.
"Maaf, anda siapa?" pada akhirnya Naruto memberanikan bertanya.
Sang gadis terkikik kecil, "Betapa bodohnya aku..," katanya mengatai dirinya sendiri. "Kita bahkan belum kenalan ya? Aku sudah sok kenal, hihi.." lanjutnya menuai senyuman kecil dari Naruto karena melihat tingkah yang dianggap ucu baginya itu.
"Aku, Yukata Shihori, kelas XII. Panggil saja Yukata," ucap gadis itu seraya meyodorkan tangannya kepada Naruto.
"Naruto Namikaze, Yorishiku senpai," balas Naruto ramah seraya menjabat tangan gadis berambut hitam panjang itu.
"Boleh aku meminta waktunya, Naru?"
"Ya.. Tentu saja, senpai!"
...
Disclaimer: sudah tahu pasti kan?
Pair : SasufemNaru
Rate : T
Gendre: Romance,Drama.
WARNING:STR AIGT,OOC,GAJE,ABAL,typos ,DLL
...
Ruangan yang sakat mewah. Itulah kesan pertama setelah melihat ruang keluarga milik keluarga Uchiha, siapapun orangnya pastilah menganggap begitu adanya. Empat orang tengah duduk saling berhadapan diatas sebuah sofa elit, dengan meja yang dihiasi beberapa cemilan khas malam.
Sang kepala keluarga itu mulai berdehem, bersiap memulai pembicaraan. Tiga kepala lainnya menoleh menunggu apa yang akan Fugaku yang terkenal irit berbicara itu lontarkan.
Namun, salah satu dari hati seorang pemuda nampak terasa kurang enak.
"Sasuke?" panggilnya. Yang dipanggil segera menoleh, menatap Onyx ayahnya tanpa gentar, itulah sifat Uchiha, dan Fugaku terlihat bangga karena itu.
"Hn," gumaman yang Sasuke lontarkan sebagai jawaban atas pangglian Fugaku.
"2 hari lagi ayah akan melaksanakan pesta untuk merayakan ulang tahun ibumu," kata Fugaku kemudian melirik lembut kearah istrinya yang tersipu, "Ayah ingin kau membawa kekasih perempuanmu kepesta ibumu sebagai kado ulang tahun ibumu." Lanjut Fugaku dengan menegaskan dikata perempuan. Seakan menyindir Itachi yang seorang gay, namun yang disindir malah cuek.
JEDER!
Sasuke menahan nafas saat ini, mendengar pernyataan ayahnya bagaikan tersambar petir dihujan yang lebat. Membawa Naruto ke pesta ulang tahun ibunya? Alamat kiamat! Naruto itu bukan seorang yang kaya raya, gadis sederhana_kalau mau tidak dikatakan miskin. Habis sudah Naruto kalau ayahnya mengetahui dirinya menjalin cinta dengan gadis semacam Naruto. Harta seakan menutupi segela kesempurnaan yang dimiliki Naruto.
Lagipula, ia kan saat ini dengan Naruto sedang bermasalah. Ah! Mendadak rasa galau yang Sasuke rasakan berlipat menjadi dua kali.
'Shit! Kenapa semuanya bertambah rumit begini?!' rutuk Sasuke gamang.
"Bagaimana Sasuke? Bukankah kakakmu bilang kau mempunyai seorang gadis yang menjadi kekasihmu?" tuntut Fugaku kepada anaknya. Sasuke saat ini mulai menyumpahi Itachi karena mulutnya yang ember itu.
Sementara itu, Itachi nampak khawatir. Ia merasa bersalah juga kepada Sasuke. Karena, secara tidak langsung Itachilah yang membuat orang tuanya begitu terobsesi dengan menantu perempuan, yah karena ia seorang penyuka sesama jenis, orang tuanya menjadi was-was kalau-kalau Sasuke mengikuti jejak kakaknya. Mengingat Sasuke yang tidak pernah dikabarkan dekat dengan seorang gadis manapun. Dan hati kedua orang tua Sasuke begitu bahagia ketika mendengar kabar Sasuke berpacaran dengan seorang gadis.
"Kau akan membawanya untuk Kaa-san kan Suke?" Mikoto tampak sangat berharap kepada Sasuke.
Sasuke yang tidak tega melihat tatapan ibunya hanya mendesah_pasrah. "Baiklah.." sahut Sasuke akhirnya.
Mikoto tersenyum bahagia, begitu juga Fugaku.
Hal yang mereka tidak ketahui adalah ..
'Aku tidak peduli bagaimana gadis yang akan Sasuke perlihatkan. Yang penting aku bisa bernafas lega, karena setidaknya Uchiha mempunyai penerus keturunan,' batin Fugaku.
Fugaku lebih mementingkan seorang cucu, dibanding harta. Yah.. memang Fugaku menginginkan menatu yang sepadan dengan Uchiha, tentu itu untuk kepentingannya sendiri. Namun, punya penerus lebih penting bukan? Itachi dan Deidara mana bisa mempunyai anak! Harga dirinyalah yang tak mengizinkan dirinya mengungkapkan hal itu.
...
"Tadaima.."
"Okaeri.. Tou-san!" sahut Naruto berusaha terlihat ceria didepan sang ayah. "Ne, kenapa Tou-san puangnya malam sekali? Makan malam kita hampir saja dingin," kata Naruto seraya membatu ayahnya membawakan tas.
Minato nampak memberikan cengiran 5 jari yang diturunkan langsung kepada anaknya. "Hehehe.. Tou-san keasyikan lembur sayang, gomen." Kata Minato bersalah, tapi wajahnya jelas-jelas tidak menunjukan ekspresi menyesal.
Naruto menggembungkan pipinya kesal. "Naru, heran deh! Kenapa Tou-san sangat menyukai pekerjaan sih?" gerutunya pura-pura ngambek. Gak taunya itu malah membuat sang ayah menjadi gemas. Melihat putrinya, membuat semua rasa lelah yang ia tanggung seakan menguap entah kemana.
'Maaf Naru, tapi Tou-san berusaha agar kita lebih bisa hidup dengan sejahtera,' batinnya sedih ,walaupun berbanding terbalik dengan wajah Minato yang terlihat tersenyum usil.
"Mmm bagaimana ya? Habisnya Tou-san membeli sesuatu dulu sih buat Naru-chan," ucap Minato seraya melirik jahil kearah putri cantiknya.
Raut wajah Naruto berubah drastis, matanya berbinar senang, "Hounto? Tou-san beli apa buat Naru?" tanyanya antusias, benar-benar melupakan bahwa baru saja Naruto itu sedang ngambek.
Minato terkikik geli, kemudian mengusap kepala putrinya penuh sayang.
"Coba lihat didalam tas itu ada apa."
Naruto segera membongkar apa isi dalam tas Minato dengan tergesa.
Dan?
"YEIIIIYY! RAMEN CUP LIMITED EDISI!" pekiknya begitu bahagia ketika mendapatkan beberapa cup makanan kesukaannya yang limited edisi. Matanya begitu berbinar, tangan mungilnya memeluk-meluk cup ramen dengan protektif. Minato nampak sweatdrop melihat tingkah putrinya yang bahagia bak mendapatkan sebuah mobil mewah, padahal hanya ramen. Tapi..
Minato tersenyum bahagia melihat putrinya bahagia.
"Arigatou Tou-san!" seru Naruto seraya mengecupi kedua pipi ayahnya. "Ya sudah, Tou-san cepat mandi sana! Naru sudah siapkan! Sekarang Naru mau menghangatkan lagi sup!" cerocosnya kepada sang ayah.
"Iya, putri cerewet!" sahut Minato pura-pura sebal, karena Naruto mendadak baik hati kalau dikasih ramen.
"Hihihihi..."
...
Naruto menghempaskan tubuhnya diatas kasur ukuran nomor 3 itu dengan tangan terlentang, setelah selesai makan malam bersama ayahnya. Ia tersenyum kecil kemudian. Momen bersama ayahnya memang selalu sukses membuat Naruto melupakan sejenak semua masalahnya. Ketika bersama sang ayah Naruto selalu merasa tenang.
"Terimakasih Tou-san.. Naru janji takkan mengecewakan Tou-san..," lirihnya seraya tersenyum kecil.
'Kaa-san pasti disana juga sedang tersenyum bukan?' batinnya menerawang, mengingat kembali wajah cantik sang ibu.
"Ah! Aku belum menulis pelajaran yang sempat aku tinggalkan,ttebayo!" serunya tiba-tiba bangun. Ia kemudian segera beranjak dan mulai mencatat dari pelajaran yang ia lewatkan catatan yang Hinata tinggalkan kedalam tasnya.
Lima belas menit kemudian..
"Haah.. Akhirnya selesai juga," desahnya lega sembari membereskan kembali buku catatannya. Melihat buku pelajaran, mendadak Naruto mengingat kembali masalahnya yang terjadi disekolah.
Wajahnya berubah sendu. Ia menghela napas_berat.
"Sasuke, bahkan tidak membalas satupun pesanku, apalagi mengangkat telponku. Bagaimana ini? Hhh.." tukasnya lemas. Naruto kembali menghempaskan tubuhnya keatas kasur yang lumayan empuk itu.
Jujur, Naruto sangat takut kehilangan Sasuke. Ia sudah terlanjur mencintai pemuda tampan itu, cinta pertamanya.
Matanya menerawang kearah langit-langit kamarnya yang berwarna putih, ia kembali mengingat perbincangannya dengan Yukata siang tadi.
"Ne, senpai ada perlu apa?"
"Naru, maaf sebelumnya. Mungkin aku terlalu to the point. Mungkin juga terlalu ikut campur dengan masalahmu."
"Memangnya ada apa senpai?"
"Ini mengenai, hubunganmu dengan Sasuke, dan Gaara-kun."
"Eh?"
"Aku ingin membantumu meluruskan semua kesalah pahaman ini."
"Maksud senpai?"
"Aku ingin kau dan kekasihmu kembali bersatu. Sebenarnya, aku tahu siapa yang melakukan semua ini kepadamu Naru."
"Se-senpai tahu? Lalu siapa? Terus kenapa senpai mau membatuku?"
"Nanti kamu juga mengetahuinya Naru. Aku melakukan ini semua demi hubunganku dengan Gaara-kun."
"Gaara-senpai?"
"Ya. Sebenarnya, aku ini adalah tungan Gaara-kun. Ah tidak! Mungkin lebih bisa dikatakan calon tunangan. Aku dan Gaara dijodohkan oleh orang tua kami masing-masing karena melihat hubungan kami yang dekat. Sebenarnya, memang dari kecil kami bersahabat. Mungkin itu yang membuat orang tua kami bersepakat untuk menjodohkan kami."
"..."
"Aku sangat bahagia ketika mendengar hal itu, jujur saja dari dulu sudah lama aku memendam perasaan kepadanya. Tetapi tidak dengan Gaara-kun. Ia tidak setuju, ia menolak pertunangan ini. Namun, orang tua kami tetap melaksanakan perjodohan ini. Aku sangat berharap banyak dengan hubungan kami, disana aku bertekad untuk membuat Gaara-kun mencintaiku. Aku mengungkapkannya, dan Gaara-kun hanya diam. Kemudian ia berkata padaku, jika aku bisa membuatnya jauh cinta kepadaku, dan dia tidak jatuh cinta pada orang lain, maka ia akan menerimaku."
"Aku mengerti senpai. Maafkan aku.."
"Tidak Naru, kau tidak salah sedikitpun. Kau mencintai Sasuke kan?"
"Ya, aku mencintainya senpai. Dan aku tidak ingin berpisah dengannya."
"Baguslah.. Maka dari itu aku akan membantumu menyelasaikan kesalahfahaman ini. Aku tidak mau hubungan kalian sampai berakhir. Karena dengan begitu, tidak ada kesempatankan buat Gaara-kun? Heheh.."
"Iya, senpai. Naru ngerti, hehe.. Arigatou Senpai."
"Ayo kita berjuang untuk cinta kita Naru! Dan panggil saja Yukata-nee ya?!"
"Hai,genbate Yukata-neechan!"
Bibir Naruto mengulas senyuman kecil mengingat kejadian tadi. Hatinya begitu berharap dengan apa yang Yukata lakukan. Ia berharap dengan ini, masalahnya dengan Sasuke cepat selesai. Mudah-mudahan Sasuke segera menyadari kesalahfahaman ini, dan memaafkannya dengan segera. Jujur saja, Naruto sangat rindu dengan pelukan kekasihnya.
Malam itu, Naruto pergi kealam mimpi dengan membawa sebuah harapan.
...
Pagi ini pemuda Hyuuga itu nampak datang dengan wajah yang tertekuk, wajah tampannya memang datar. sekilas memang tak kelihatan, tapi bagi yang mengenal dekat Hyuuga Neji pastilah dengan jelas bisa melihat raut tertekuknya itu.
'Sial! Sakura tidak menepati janji. Semua orang menyerangku.. Damn!' batin pemuda itu seraya terus berjalan keruang klubnya.
"Gadis itu.. Benar-benar salah menilai seorang Hyuuga Neji," desisnya seraya menyeringai.
Berbanding terbalik dengan Neji, Sakura datang kesekolah dengan perasaan yang berseri-seri. Wajah cantiknya menyiratkan betapa semangatnya hari ini ia menjalani hari. Kabar yang mungkin ia tunggu-tunggu akan segera ditelinganya.
"Sasuke putus dengan gadis miskin itu,hihihihi..," bisiknya pelan. "Ah! aku benar-benar tidak sabar!" pekiknya pelan. Tangannya dengan gemas, meremas roknya sendiri, tentu saja karena kelewat semangat.
Ia segera melangkahkan kakinya menuju kelas. Namun, sebuah tangan menghentikannya.
"Ohayou.. Jidat lebar!"
"Kau berhasil menghancurkan pagi indahku, babi hutan!"
Ino tertawa puas melihat wajah kesal Sakura. Ia segera merangkul pundak Sakura. "Ayolah.. Salahmu sendiri yang tidak menyahut sapaanku. Sebegitu senangnya kah dirimu putri Haruno?" goda Ino membuat Sakura mau tak mau tersenyum kembali.
"Hihihi.. You know i mean mybest friend..."
"Oh.. Tentu aku tahu apa yang ada dalam benakmu itu." sahut Ino agak mencibir. Sakura hanya terkikik, tidak menyadari sahabat baiknya sedang mencibir seraya mendelik kearahnya.
"Ah! Itu Sasuke-kun! Sasuke-kuuun!" gadis bersurai pink itu tampak kegirangan saat meihat Sasuke berjalan dikoridor sekolah, ia segera melepaskan rangkulan Ino dan pergi meninggalkannya begitu saja.
"Ck.. Mendokusai.. Sepertinya, gadis itu sangat terobsesi dengan sahabatku.."
"Eh? Shika, sejak kapan kau dibelakangku?" Ino benar-benar kaget saat mendapati kekasihnya tiba-tiba berbicara dibelakangnya. Demi bunga bangkai yang baunya minta ampun! Ia tak menyadarinya sedikitpun.
Shikamaru nampak menyeringai kearah Ino yang saat itu juga merona melihatnya. "Yah.. Memberi kejutan untukmu bukanlah hal yang buruk bukan?" katanya seraya mencuri kecupan selamat pagi dipipi Ino.
Blush!
"Shikaaaaa! Kau membuatku malu! Jangan lakukan itu lagi didepan umum!" Ino terpekik sembari mencubit pinggang Shikamaru dengan wajah yang dipastikan memerah. Sedangkan, Shikamaru malah terkekeh dan meingkarkan tangannya dipinggang Ino dengan sengaja.
Semua orang yang melihat adegan itu hanya menatap iri kearah mereka berdua. 'Romantisnyaaaaaa..' batin mereka serempak.
"Sasuke-kun tunggu!"
Pemudua tampan berperangai dingin itu nampak cuek dengan panggilan genit dari Sakura. Sejujurnya, Sasuke sungguh menyesal ia meninggalkan headsetnya dirumah. Kenapa? Karena jika ia memakai benda itu otomatis telinganya terselamatkan dari polusi suara macam itu.
"Sasuke-kun! Kenapa kau tak berhenti sih?" Sakura dengan merajuk menggelayutkan tangannya dilengan kekar Sasuke tanpa izin. Sasuke nampak risih saat mendapatkan perlakuan seperti itu dari Sakura.
"Lepaskan Haruno!"desis Sasuke berbahaya namun pelan, wajahnya tetap datar tanpa menoleh.
Namun Sakura tak menggubrisnya, ia malah dengan sengaja mengeratkan gelayutannya. Sasuke sungguh malas menghadapi gadis ini, sehingga ia membiarkannya saja melakukan hal sesukanya. Lagian, ia sedang tidak mood berdebat atau pun bebicara. Efek masalah yang terjadi dengan Naruto, sungguh sangat besar.
Ia sangat merindukan gadis pirang mungil itu, tapi hatinya belum siap bertemu dengan Naruto. Ia masih kecewa pada Naruto, bahkan ia tak menghiraukan usaha Naruto untuk menghubunginya lewat ponsel. Ia takut, jika saat ini bertemu dengan gadis yang dicintainya malah berbalik menyakitinya. Sungguh, Sasuke sangat tau bagaimana dirinya jika sudah emosi dan lepas kendali.
Hingga, Sasuke tidak menyadari bahwa gadis yang sedari tadi dipikirkannya ada dihadapannya. Menatapnya dengan sorot mata yang amat terluka.
"Na-Naru-chan.. Kau tidak apa-apa?"
"E-eh? I-ya Hinata, aku tak apa. Ayo kita kekelas!"
Sasuke membatu saat mendengar suara yang amat ia rindukan. Ia segera menoleh kearah Naruto. Mereka sempat bertemu pandang beberapa saat, sampai Naruto memalingkan wajahnya dari Sasuke. Gadis cantik itu melewatinya begitu saja.
Hati Sasuke mencelos saat Naruto bersikap seperti itu. Akan tetapi, Sasuke yakin saat itu ia melihat mata shaphire Naruto memandangnya penuh luka.
Kenapa?
"Ada apa Sasuke-kun? Kenapa berhenti?" nada manja itu mengalihkan pemuda raven itu.
Raut wajah Sasuke berubah sengit saat iya menyadari sesuatu . "Lepaskan Haruno! Shit!" dengan kasar Sasuke melepaskan lengan Sakura darinya. Pemuda itu lalu pergi meninggalkan Sakura yang terpaku kaget begitu saja seraya menggeram penuh amarah.
Lalu?
Bibir yang dipoles lipgoss strawberry itu menyunggingkan sebuah seringaian licik.
"Akhirnya, hubungan mereka akan benar-benar berakhir, khukhu.." bisik Sakura yang tadi sebenarnya menyadari keberadaan Naruto dihadapan mereka. Ia tidak menyesal telah bersikap lebih genit kepada Sasuke jika bayarannya hancurnya hubungan mereka berdua.
Jahat sekali!
Gadis bermata hijau itu terlalu asik dengan kesenangannya, sehingga tidak menyadari beberapa pasang mata tengah mengamatinya dengan intens, menyorotnya dalam bahaya.
"Jadi, itu alasannya kau tidak menempati janjimu? Kau salah Sakura, jika kau menganggap aku takkan bertindak." Seringaian itu tersungging dibibir pemuda Hyuuga yang tak sengaja meihat adegan tadi.
Disisi lainnya..
"Mendokusai.. Kurasa, aku bukanlah sahabat yang baik jika tetap diam saja."
"Kau benar Shika, Sakura sudah keluar batas keterlaluan. Mungkin , ini saatnya memberi dia sedikit teguran."
Sadarkah kau Sakura? Bukan Naruto yang akan hancur melainkan dirimu. Kau dikepung!
...
Kaki mungil Naruto berjalan terhuyung,ia merasa dirinya tidak menapaki bumi saat ini. Hatinya begitu sakit bagaikan dihujami beribu pisau tajam tepat dijantungnya. Tangannya mencengkram kuat dadanya yang terasa begitu ngilu dan perih. Namun matanya tak meneteskan air mata,padahal ia menginginkan sekali air matanya terjatuh hanya untuk sekedar mengurangi rasa sakitnya. Orang berkata : jika kita menangis akan mengurangi sedikit beban dihati. Tapi,ternyata mata shapphire yang dulu berbinar itu tidak kuasa menumpahkan lagi air mata. Apa mungkin terlalu banyak dikeluarkan? Mungkin itu jawabannya, dari kemarin ia sudah terlalu banyak menagis.
'Itukah alasanmu tidak sekalipun menjawab pesan dan telpon dariku? Itukah alasanmu tidak menghiraukan penjelasanku, Sasuke?'
Gadisitu membatin terluka, pemandangan Sasuke berjalan mesra dengan seorang gadis cantik terus berputar dikepalanya.
Hinata, sang sahabat memandang Naruto penuh prihatin. Sedikitnya, ia tahu apa yang dirasakan Naruto.
'Kenapa Sasuke-senpai sengaja melakukan itu? Bukankah dia sangat mencintai Naru? Seharusnya, ia mendengar penjelasan Naru terlebih dahulu. Kejam sekali..'
Dua gadis itu nampak bergelung dengan pemikiran masing-masing. Tanpa tahu, bahwa mereka salah menilai seorang Uchiha Sasuke.
"Naru?" panggil Hinata.
"Eh? Ya?"
"Kau mau kemana? Kita su-dah sampai didepan ke-las kita." Ucapan Hinata membuat gadis pirang itu tersadar sepenuhnya. Ia kemudian mengganti raut wajahnya dengan cengiran lima jarinya yang manis.
"Heheh.. Aku sepertinya melamun ya? Ayo!" ujar Naruto seraya menggaruk punggung kepalanya yang tidak gatal.
Hinata kemudin mengikuti Naruto dari belakang. Ia mendesah berat. Hinata tahu bahwa gadis didepannya itu sedang menutupi kesedihannya dengan berusaha terlihat ceria. Namun, bagi Hinata hal itu malah terlihat menyedihkan.
Semoga semuanya cepat selesai, doanya dalam hati.
...
Gadis bernama Yukata itu segera menghampiri Gaara yang sepertinya sedang bersiap untuk keluar kelas, mengingat ini adalah jam istirahat sekolah.
"Gaara-kun? Bisa kita bicara sebentar?" ucap gadis berkulit porselen itu berharap.
Gaara nampak berpikir, tadinya ia akan menemui Sasuke untuk menjelaskan semuanya, setelah itu rencananya ia akan menemui Naruto setelahnya. Akan tetapi, melihat raut wajah sahabatnya ia menjadi tak tega menolak, karena ia yakin Yukata sedang ingin berbicara penting.
"Baiklah," setujunya seraya mengangguk kecil.
Yukata nampak tersenyum senang. "Tapi, tidak disini," katanya seraya memberi kode kepada Gaara untuk keuar. Pemuda tampan yang banyak digilai perempuan itu nampak mengerti, lantas ia berjalan keluar berdampingan dengan wakilnya dalam Osis itu.
"Gaara-kun, sebelumnya aku minta maaf karena aku mencampuri masalah kalian. Tapi.." Yukata nampak ragu mengatakan apa yang akan ia bicarakan selanjutnya, sehingga ia tidak melanjutkan perkataannya.
"Kenapa?" tanya Gaara heran. Mereka nampak masih berjalan berdampingan dengan arah kekantin sekolah.
"Aku tak enak hati kepada Gaara-kun." Gadis itu melanjutkan dengan rona tak enak nampak gelisah.
Gaara tersenyum kecil, senyuman yang hanya ia perlihatkan kepada orang-orang terdekatnya saja.
"Tak apa. Aku selalu percaya kepadamu Yukata."
Teregun. Gadis itu tertegun saat seseorang yang dicintainya mengatakan hal tersebut kepadanya. Ia beitu bahagia ketika Gaara memberikan rasa percaya itu kepadanya. Yukata terlihat terharu. Setidaknya, rasa percaya adalah sesuatu yang baik untuk hubungan mereka.
Yukata tersenyum dengan wajah merona, memperlihatkan dengan lebih jela agi kecantikannya.
"Terima kasih Gaara-kun. Ini masalah Naruto dan Gaara-kun. Sepertinya, aku tahu siapa yang telah menyebarkan foto dan fitnah itu," katanya menjelaskan.
Gaara mengehentikan langkahnya, segera ia menoleh kearah Yukata dengan cepat dengan pandangan sorot mata yang seolah berkata: Apa- kau- serius ?
"Ya. Orang itu adalah Haruno Sakura."
Gaara memejamkan matanya seraya mengepalkan tangannya erat. Ia menghirup udara kemudian menghembuskannya kembali dengan perlahan. Ia membuka matanya kemudian menyeringai bahaya.
"Arigatou.. Yukata. Gadis yang bernama Haruno itu akan menerima akibatnya. " Katanya dengan suara berat yang membuat Yukata merinding seketika saat mendengar nada dingin itu keluar dari mulut Gaara.
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya Gaara?"
"Tentu saja, membuat dia mengaku dihadapan semua orang," jawab Gaara lugas. Ia kembali berjalan dengan muka datarnya.
Yukata mengangguk mengerti. Namun, ada satu hal yang sangat ia ingin tanyakan kepada pemuda disampingnya ini...
"Lalu Naruto? dan hubungannya dengan Uchiha itu?"
"..." Gaara terdiam sesaat, sebelum senyuman tipis itu hadir kembali diwajah Gaara, senyuman yang terlihat lembut, berbeda dengan sebelumnya.
"Mengenai gadis malaikat itu... Mungkin lebih baik aku menyerah. Kurasa si Uchiha itu sangat beruntung mendapatkan seluruh hati gadis itu, aku tidak melihat harapan itu dimatanya. Harapan untuk menyambut cinta lain," ucap Gaara panjang lebar seraya menunjuk hatinya saat mengucapkan akhir kalimatnya.
"..." Yukata nampak tak percaya dengan apa yang didengarnya, gadis itu termangu dengan mulut tertutup.
"Biarlah perasaan ini terhapus untuknya. Kurasa aku akan mencari cinta lain yang bersedia mencintaiku dengan tulus," lanjutnya memandang gadis disampingnya dengan pandangan penuh arti,sebelum berlalu begitu saja.
Deg. Deg. Deg.
Hah?
Mata onyx itu terbelalak.
"Ga- Gaara-kun.. Arigatou.. hiks.. hiks.."
.
.
Tbc..
Aah.. Maaf teman-teman fic ini mungkin semakin hari semakin ga bermutu. #nangis gaje.
Setelah aku baca ulang, fic ini semakin kesini semakin ancur. T.T
Maaf buat readers pada kecewa. #bungkuk2
Rencananya Fic ini tidak akan lebih dari 10 chapter, heheh..
Soalnya, Kira berencana bikin Fic baru straight lainnya. Tapi, tetep menggunakan karakter Naruto dan Sasuke.
Cuman Kira masih bingung, NaruFemSasu ato SasuFemNaru? Kira minta pendapatnya Minna..
Akhir kata Kira mohon..
RIVIEWNYA MINNAAA... ^.^
