Jam istirahat adalah waktu yang begitu Naruto tunggu-tunggu. Rasanya lama sekali menunggu dengan semua tatapan mencemooh itu kepadanya. Sakit sekaligus tidak tahu harus bagaimana. Apa salahnya sehingga semua siswi dan sebagian kecil siswa membencinya? Dirinya merasa menjadi orang yang paling hina jika begini. Semuanya teramat serba salah dibenak Naruto, sehingga ia begitu menantikan waktu untuk dirinya bisa bersembunyi dari tatapan menyakitkan itu. Jika mungkin yang mengalami hal ini bukan Naruto, apakah orang-orang akan tetap bersikap sama kepada orang itu?
Gadis miskin yang malang atau sial? Itulah yang ada dibenaknya saat meratapi nasibnya sendiri.
Namun, syukurlah jam istirahat sepuluh menit yang lalu telah berbunyi, hingga akhirnya gadis cantik itu bisa menyembunyikan dirinya dibalik pohon besar sakura yang biasa ia jadikan tempat untuk bertemu dengan kekasihnya, Sasuke.
Ah.. Uchiha Sasuke.
Naruto menghela napas panjang, berharap sedikit bebannya bisa berkurang terbawa angin. Memikirkan Sasuke, membuat Naruto takut.
"Suke.. Apakah ini berarti kau akan meninggalkanku?" lirihnya pahit dengan sudut mata yang mulai berkaca-kaca. 'Aku terlanjur mencintaimu Suke.. Aku terlanjur menjadikanmu cinta pertamaku. Haruskah aku menyerah atau pasrah kepadamu teme? Mengapa kau seolah tak memberiku kesempatan untuk mendapat maafmu? Sejahat dan seburuk itukah aku? Bahkan aku tak tahu apa kesalahanku..'
Naruto tampak terlarut dengan dunianya sendiri, hingga sebuah getaran kecil dikantong Saku roknya membuat ia tersadar dan segera mengusap pipinya yang tanpa sadar telah dibanjiri dengan air matanya sendiri.
"Tou-san?" gumanya melihat panggilan yang tertera dalam ponselnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia segera memencet tombol hijau pada ponselnya.
"Moshi-moshi Tousan?... HAH?! A-pa maksudnya ini Tou-san?... Tap-... Ah ya! B- Baiklah Naru akan segera pulang!"
Entah kabar apa yang Naruto terima, hingga gadis itu segera bangkit dan bergegas cepat menuju kelasnya dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan.
'Ya Tuhan.. Apakah ini semua bohong?'
Disclaimer: Masashi Kishimoto, kalau fic ini murni punyaku.. !#posesif
Pair : SasufemNaru
Rate : T
Gendre: Romance,Drama, Hurt-comfort.
WARNING:STR AIGT,OOC,GAJE,ABAL,typos ,DLL
Gaara, sebagai ketua Osis mempunyai wewenang khusus untuk membolos saat pelajaran berlangsung. Berkilah dengan alasan untuk mengerjakan tugasnya sebagai ketua Osis pemuda keturunan Sabaku itu dengan mudah diberi izin oleh gurunya untuk tidak mengikuti pelajaran. Benarkah untuk mengerjakan tugas Osis? Tentu saja jawabannya tidak.
Gaara melakukan semua itu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Ia sudah gatal dan tidak bisa duduk tenang selama masalah yang mulai semakin rumit ini belum selesai. Sebagai pihak yang mengalah_menurutnya_ Gaara harus segera men-clear-kan masalah ini. Karena diam bukan sifatnya jika ia sudah tahu dimana akar masalah itu sendiri. Well, ia memang tahu sebagian kecil memang masalah ini bermula darinya. Maka dari itu ia mau repot-repot begini karena merasa bersalah kepada Naruto. Catat! Hanya Naruto. Persetan dengan Uchiha, ia tidak peduli.
Hyuuga, ku tunggu kau diruang Osis. Sekarang.
Itulah sederet pesan yang diketik Gaara ketika ia tiba diruang Osis. Pemuda itu duduk dikursi yang menjadi teritorialnya sebagai ketua Osis dengan tenang, menunggu seorang Hyuuga Neji untuk berbicara. Kepala bermahkotakan marun itu nampak menyender dikepala kursi dengan santai. Hingga beberapa menitpun berlalu begitu saja, sedikitnya membuat Gaara merasa kesal karena bagaimanapun Gaara adalah orang yang tak suka menunggu. Hampir saja Gaara akan menelepon Neji ketika pintu ruang itu terbuka dan menampakan seseorang yang ia tunggu beberapa menit terakhir.
"Ada yang aku ingin tanyakan kepadamu, Hyuuga," kata Gaara seraya mengotak –atik ponselnya saat Neji berdiri didepannya dengan wajah datar namun matanya seolah bertanya.
Neji hanya mengangguk kecil, "Ya,ada apa senpai?" tanya Neji ketika Gaara tidak memandang kearahnya.
"Soal foto itu, aku sudah tahu siapa yang memberikannya padamu. Aku tida bisa tingg-"
"Sepertinya kita mempunyai tujuan yang sama senpai," potong Neji cepat membuat Gaara mengalihkan pandangannya kepada Neji dan mendapati sebuah seringai misterius dibalik wajah tenang pemuda Hyuuga itu. Untuk beberapa saat Gaara terpaku sebelum ia mendengus geli dan memberikan seringaian sama dengan Neji.
"Baiklah... Kau hanya cukup ikuti rencanaku saja, Hyuuga."
"Aku tahu."
Shikamaru benar-benar merasa tak enak. Amat merasa tak nyaman jika berdekatan dengan Sasuke dalam mood yang kacau begini, pemuda Uchiha itu tampaknya memang sedang dalam masa terburuknya. Entahlah..
Namun, memang begini. Jika Sasuke sedang dalam mood jelek pasti imbasnya seluruh murid yang ada dikelas. Semuanya nampak tegang. Oke, sejauh ini memang Uchiha sangat merepotkan, pikir pemuda Nara itu.
"Aku tahu kau sedang dalam mood buruk Sas. Tapi, jangan buat suasana semakin merepotkan begini. Chk..," keluh Shikamaru persis disamping Sasuke.
Sasuke mendelik tajam kearah kawannya yang kini menampakan raut malasnya. "Bukan urusanmu!"
"Mendokusai.. Urusanku. Selama kau membuatku tidak merasa nyaman, Sas," timpal Shikamaru mulai serius. "Ayolah, meskipun itu merepotkan aku tetap sahabatmu. Aku tidak akan diam melihatmu kacau seperti ini," lanjutnya.
"..." Sasuke tak menyahut, ia malah mengalihkan pandangannya kearah jendela memandang biru langit yang membuatnya teringat seseorang.
Shikamaru mendesah_ panjang. "Baiklah. Tapi, hentikan aura tak enakmu itu," ujar Shikamaru seraya mendengus dan mengedarkan pandanganya keseluruh kelas, dan persis seperti kuburan, suasananya hening walau banyak penghuni didalamnya. "Sepulang sekolah, aku ingin memberitahumu sesuatu."
'Naruto memang hebat. Dia bisa membuat seorang Uchiha Sasuke sampai seperti ini,' batinnya memuji Naruto yang berhasil membuat Sasuke galau setengah mati seperti ini. 'Bahkan sampai membuat keluar dari karakternya, gadis merepotkan.'
Sasuke menoleh, mengkerutkan sedikit dahinya sebagai tanggapan apa yang dikatakan Shikamaru. Tapi..
"Hn," gumamnya tak banyak kata lagi saat mendapati bagaimana raut malas Shikamaru berganti dengan wajah teramat seriusnya. Tidak biasanya, begitulah pikir Sasuke. Apapun itu, pastilah masalahnya serius. Well, jarang-jarang pemuda Nara itu begini. Lalu, Sasuke beranjak dari tempat duduknya. Memilih untuk meninggalkan kelas dan menenangkan dirinya di atap.
"Haah.. Mendokusai. Sepertinya aku harus mengarang alasan untuk membuat pemuda es itu selamat dari Orochimaru-sensei," keluh Shikamaru memandangi punggung sahabatnya yang berjalan lurus kearah pintu.
"Suke,apakah kau mempercayaiku?"
"Suke,apakah kau mempercayaiku?"
"Suke,apakah kau mempercayaiku?"
Kalimat itu terus terngiang dikepala Sasuke. Saat itu, Naruto bertanya ambigu seperti itu padanya. Apakah semua ini artinya? Sasuke menggelengkan kepalanyanya, sedikit. Apa dirinya keterlaluan menghiraukan penjelasan dan maaf kekasihnya itu? Apa kata-katanya tempo hari keterlaluan kepada kekasihnya itu?
"Tidak," gumam Sasuke menjawab pertanyaaan yang berkecambuk dikepalanya_ sendiri. Onyx nya kembali menerawang kedepan dengan tatapan kosong. Menurutnya, tidaklah salah jika ia marah dan menghiraukan Naruto karena gadis itu telah menyembunyikan hal sepenting itu darinya. Harga dirinya merasa terluka sebagai seorang Uchiha ketika kekasihnya sendiri bermain curang dibelakangnya. Ia juga merasa benar dengan kata-katanya tempo hari kepada Naruto. Itu tidak keterlaluan, itu semua fakta. Ia memang kecewa kepada Naruto karena lebih membela Gaara ketimbang dirinya, kekasihnya sendiri.
Namun, bukan itu saja yang membuat pikiran seorang jenius Uchiha penuh. Ia kembali teringat janjinya dengan sang Kaa-san. Besok adalah hari ulang tahunnya. Ia berjanji akan membawa kekasihnya kepada Kaa-sannya itu saat pesta. Bagaimana ia bisa membawa Naruto kepesta itu? Ia sendiri tidak tahu bagaimana hubungannya dengan Naruto sekarang. Sasuke memerlukan waktu untuk menenangkan diri. Ia sendiri tak memungkiri bahwa ia tidak pernah mau berpisah dengan gadis yang sangat dicintainya itu, Sasuke yakin hidupnya akan kacau tanpa Naruto.
"AAAAARRRGH!" Teriak Sasuke frutasi, menjambak rambutnya sendiri. Pemuda itu benar-benar kacau dan OOC. Belum lagi masalah ia teringat kembali perkataan Fugaku tempo hari. Jikapun ia membawa Naruto kepesta itu, apakah ayahnya akan setuju? Bagaimana reaksinya?
Shit!
Sasuke tejebak dengan masalahnya sendiri. Ayolah otak jenius dan liciknya kemana? Engh.. Mungkin tertimbun dengan keegoisan dan rasa cemburu yang berlebihan? Entahlah.
"Naruto.." Lirihnya tiba-tiba memanggil gadis penghuni hatinya dengan penuh kerinduan.
.
.
AAAAA
.
.
"Naru-chan? Apakah ini cucuku itu Minato? Dia cucuku? Oh.. Tuhaaaaan! Hahahah.."
Disambut dengan pelukan erat, Naruto mematung dengan wajah yang shock. Tidak bergeming, pikirannya antara setengah sadar dan setengah mimpi. Masih memproses semua kejadian yang menimpanya saat ini. Lelaki bertubuh besar paruh baya yang masih setia memeluk Naruto tertawa begitu renyah seakan ia mendapatkan sebuah kebahagiaan yang teramat besar. Mata shapphire itu bertubrukan dengan warna yang sama dibalik pundak sang pria paruh baya. Naruto dengan jelas melihat ayahnya menganggukan kepala dengan senyum haru.
"Ka-Kakek? Ma-sih hidup..," Suara bergetar Naruto menghentikan pelukan maut sang kakek, Jiraya namanya. Pria itu nampak tersenyum lembut kearah sang cucu.
"Ya, Naru-chan. Ini kakekmu," sahut Jiraya dengan cengirannya.
Lalu?
Secepat kilat Naruto berbalik menghambur kedalam pelukan sang kakek seraya terisak kecil. "Naru kira Kakek.. Kakek... hiks..," ucapnya terbata tak melanjutkan perkataannya karena tercekat. Ia tidak menyangka keajaiban ini akan datang melanda hidupnya. Kakek yang begitu ia sayangi, yang dianggap sudah tiada olehnya akibat sebuah insiden kecelakaan pesawat 4 tahun lalu, ternyata masih hidup. 'Arigato.. Kami-sama,' batinya penuh syukur.
"Hahaha.. Kau kira kakekmu ini akan mati hanya dengan kecelakaan kecil seperti itu? Ayolah.. Kakek masih terlalu muda untuk mati sebelum menikmati gadis-gadis seksi diKonoha," guraunya menuai cubitan kesal dari Naruto dan berteriak 'MESUM' dengan lantangnya.
Minato sweatdrop. Ia kira kejadian yang membuat ayahnya hampir mati bisa membuatnya tobat. Ternyata sifat mesumnya sudah mengakar jauh. "Haaah," desahnya panjang seraya menggeleng pasrah.
"Baikalah.. Sekarang ceritakan pada Naru, kenapa kakek bisa selamat! Dan kenapa Kakek tidak menemui Naru dan Tou-san dari dulu?! " pinta Naruto tidak mau ditolak dengan ekspresi merenggutnya, karena ia sedikit sebal kepada kakeknya yang baru sekarang menemuinya. Jiraya terkekeh, kemudian mendelik tajam kearah anaknya yang berdiri persis disampingnya. Minato hanya tersenyum nervous dan Naruto hanya memiringkan kepalnya tidak mengerti atas situasi yang terjadi antara ayahnya dan sang kakek.
"Sebaiknya, kau bereskan dulu pakaian kalian. Nanti akan kuceritakan kejadian sebenarnya dirumah kakek, dan kenapa kakekmu ini baru sekarang menemuimu, nanti kakek jelaskan. Tapi, tidak disini," Ujar Jiraya sembari mengerling kearah sekitar. "Tidak dirumah butut ini, oke?"
Walaupun Minato rada tersinggung dengan ucapan ayahnya yang seakan mengejek, ia tetap melakukan apa yang diperintahkan sang ayah. Sedangkan Naruto hanya mengedikan bahu dan nyengir melihat ekspresi ayahnya yang terlihat lucu. Antara kesal dan takut? Campuran ekspresi yang aneh, pikir Naruto.
Takjub. Gadis berambut pirang bergelombang itu memandang penuh takjub kearah banguanan yang menurutnya sangat megah dan elit. Ketika mobil hitam mewah sang kakek berhenti didepan sebuah pagar berwarna keemasan, Naruto disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Bangunan tiga tingkat yang menjulang mewah dengan halamannya yang hijau dan luas, tertata indah dan terkesan bangsawan. Bangunan itu bercat oranye, warna kesukaannya yang dipadu dengan hitam. Mencolok, namun bagi Naruto itu terlihat sangat berseni.
"Besar sekali," bisik Naruto takjub.
Lain hal dengan Naruto. Minato nampak kaget dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.
"Tou-san? Bukankah ini..," katanya menggantung, menatap Jiraya dengan pandangan penuh tanya plus ekspresi tak percayanya.
Jiraya mengangguk. "Ya, inilah rumah yang kubuat khusus untuk cucu perempuanku," sahut Jiraya tersenyum puas melihat rona wajah kedua orang didepannya.
Ha?
Hampir saja Naruto melayangkan serentet pertanyaan kepada kakeknya, jika seorang pria berpakaian serba biru dongker dengan wajah yang tertutupi masker tidak menginterupsinya.
"Selamat datang, Jiraya-sama."
"Ah.. Kakashi! Lihatlah aku membawa anakku dan cucuku! Aku menemukannya, bukan?"
Setelah makan siang, Jiraya menceritakan seluruh kejadian yang menimpanya kepada Minato dan Naruto. Dari mulai ia bisa selamat dari kecelakaan 4 tahun lalu. Ternyata, Jiraya merupakan satu dari 4 korban selamat kecelakaan pesawat itu. Lalu kenapa Minato sampai tak tahu jika sebenarnya ayahnya masih hidup? Itu karena kesalahan pihak pembawa berita yang menyatakan bahwa semua penumpang tidak ada yang selamat. Jadilah dulu, Minato menganggap ayahnya telah tewas. Dan Jiraya sungguh kesal dengan kesimpulan Minato tersebut.
"Itulah alasannya kakekmu tidak langsung menemuinya saat kakek dinyatakan sembuh," ungkap Jiraya kesal menatap anaknya yang kini hanya melongo. "Ayahmu, bahkan tidak berusaha mencari informasi lebih lanjut lagi menegnai kakekmu ini Naru-chan," lanjut Jiraya. "Oleh karena itu aku sengaja tidak menemuinya. Namun, kakek tidak menyangka bahwa ayahmu sepayah itu. Ternyata dia tak becus mengurus Namikaze corp, sehingga kau harus mengalami nasib menyedihkan, cucuku," tukas Jiraya menyindir sanga anak seraya mengusap kepala pirang cucunya prihatin. Naruto nampak manggut-manggut mengerti.
"Huum.. Naru ngerti kek. Jadi kakek marah sama Tou-san, karena Tou-san seperti pasrah begitu saja ya?" Naruto menyimpulkan.
Twitch!
Kedutan kesal terpatri didahi Minato. Dengan menahan kekesalannya ia berujar, "Tou-san, dengar dulu penjelasanku," katanya. Jiraya memutar matanya acuh, sehingga menambah rasa kesal Minato.
"Pertama, aku sudah mencari informasi tentang Tou-san dan mereka tetap mengatakan bahwa orang yang bernama Jiraya telah tewas," ujarnya memandang sang ayah tak kalah sengit. Mintao segera melanjutkan perkataannya saat melihat gestur ayahnyyang akan menimpali.
"Kedua," ucapnya mengacungkan kedua jarinya keatas, "ayah meninggalkanku segunung hutang untuk dibayar. Sedangkan tiba-tiba setengah kekayaan Namikaze hilang. Dan kurasa sekarang aku tahu sebabnya kenapa," delik Minato berkedut saat melihat seringaian Jiraya.
"Hahahahah!" dan Jiraya hanya tertawa puas untuk mejawab penjelasan Minato. "Kau saja yang bodoh!"
Twitch!
"Kau dengan sifat usilmu, kakek tua!"
"Anak durhaka yang tidak peduli dengan ayahnya!"
"Ayah yang tega melihat anaknya yang jatuh miskin selama 4 tahun!"
"Hahaha... Itu resikonya!"
Naruto hanya terkikik melihat pertengkaran sengit ayahnya dan kakeknya yang terlihat kekanakan itu. Aaah... Betapa gadis itu sangat merindukan situasi seperti ini. Ia kira ia takkan bisa merasakannya lagi.
"Kakek, Ayah.. Naru sangat bahagia." 'Kaa-san.. Melihatnya disurga sanakan?'
.
AAAAA
.
.
Sakura merasakan firasat yang kurang enak selama pelajaran terakhir berlangsung. Kenapa? Batinnya bertanya. Namun, ia mengusir segala kegundahan hatinya dengan fantasi-fantasinya bersama sang pujaan hati, Uchiha Sasuke.
"Lihatlah aku Sasuke," bisiknya teramat pelan, hingga Ino yang duduk disebelahnyapun tak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Sakura.
"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Ino menggigit kecil ujung pensilnya dengan gemas, tanpa menoleh kearah Sakura. Gadis itu seperti nya sedang asik berkutat dengan soal fisika yang diberikan Asuma. "Ya Tuhan.. Sulit sekali," desahnya.
Sakura terkikik melihat bagaimana dahi Ino mengkerut frustasi, lalu ia mengambil buku paket yang sedang Ino baca, menuai protes dari sang empu. "Aku tak mengatakan apapun. Soal yang mana yang membuatmu bingung?" timpal Sakura beserta tanyanya kepada Ino, sepertinya berniat membantu sang sahabat yang tengah dilanda kesulitan.
Gadis berkuncir kuda itupun bersorak senang. "No. 7, aku benar-benar tak bisa mengaplikasikannya walaupun rumus untuk mengerjakan soal itu aku hafal diluar kepala. Ah.. Fisika membuatku gila!" Cerocosnya lebih seperti menggerutu.
Sakura mengangguk, lantas dengan menggunakan otak encernya gadis itu dengan senang hati menjelaskannya kepada Ino.
'Aku rindu Sakura yang seperti ini,' batin Ino tersenyum kecil. 'Jangan terlalu banyak berubah, Sakura. Jadilah temanku yang manis dan baik hati seperti dulu.' Lanjutnya seraya memperhatikan apa yang dijelaskan Sakura.
Dan bel pulang sekolahpun berbunyi dengan nyaring, Ino dan Sakura segera membereskan alat-alat sekolahnya kedalam tas masing-masing. Kemudian, lebih dulu Sakura beranjak.
"Sakura, tunggu!" seru Ino saat Sakura akan melangkah keluar.
Gadis keturunan Haruno itu menoleh kearah Ino. "Ada apa?" tanyanya.
"Kita pulang bersama?" tawar Ino dengan cengirannya.
Sakura nampak menaikan sebelah alisnya bingung. "Shikamaru?" tanyanya heran. Bukankah setelah Ino dan Shikamaru menjadi pasangan kekasih, Ino selalu pulang bersamanya?
Ino menggeleng. "Katanya dia hari ini ada urusan sebentar. Entahlah.. Bagaimana?"
Akhirnya Sakura mengangguk. Dan Ino pun berjalan beriringan dengan sahabat pinknya menyusuri koridor sekolah dengan langkah santai. Hingga, seorang gadis dengan surai hitam panjangnya mengehentikan langkah mereka.
"Kau yang bernama Haruno Sakura? Kenalkan, aku Yukata. Bisakah kita berbicara sebentar?"
Setelah mendenger bel berbunyi, Sasuke segera beranjak dari tempatnya_ atap_ menuju kelas. Sesampainya disana, ia melihat hanya tinggal Shikamaru seorang yang sepertinya sedang menunggu kedatangannya. Sasukepun menghapiri pemuda berambut nanas itu dalam diam, kemudian mengambil tasnya untuk ia menyampaikannya dipunggung. Shikamaru, yang sedang asik membenamkan kepalanya diatas meja_ tertidur_ mengangkat kepalanya dikala ia merasakan kehadiran seseorang. Dan sesuai dugaannya itu adalah Sasuke, orang yang ia tunggu-tunggu.
Shikamaru menguap sebentar, kemudian ia beranjak dan mengambil tasnya. "Sepertinya tidak disini," ujar Shikamaru.
Seakan mengerti, Sasuke hanya bergumam saja sebagai tanggapan terhadap kawannya itu. Mereka kemudian berjalan kearah pintu dan langkahnya terhenti saat Hyuuga Neji menghalangi jalan mereka.
Dengan wajah datar Sasuke menatap Neji terganggu, seolah dalam diamnya ia berkata 'Pergi- dari- sana- aku- mau- lewat'. Akan tetapi, Neji tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya.
"Uchiha, ikutlah denganku. Ku jamin kau takkan menyesal melihat pertunjukan yang akan datang."
Sasuke dan Shikamaru saling melepar pandangan tanya, sebelum memandang Neji dengan aneh.
"Mendokusai, kami sedang sibuk. Lain kali saja kita melihat pertunjukan yang kau maksud itu," timpal Shikamaru karena Neji benar-benar membuatnya terganggu. Ia juga ada urusan dengan Sasuke, dan ia tidak suka menambah hal-hal merepotkan untuk saat ini.
"Aku tidak sedang berbicara padamu, Nara," dengus Neji sedikit sebal karena bukannya Sasuke yang menjawab, malah pemuda malas itu. Mengalihkan kembali matanya kepada Sasuke, kemudian Neji melanjutkan.
"Ini berkaitan dengan kekasihmu, Naruto."
Dan perkataan Neji yang terakhir itu berhasil membuat Sasuke mengikuti langkah Neji. Shikamaru menghela napas_malas. Dan mau tak mau, ia pun harus mengikuti Sasuke juga. "Benar-benar merepotkan," gerutunya kemudian.
.
.
AAAAA
.
.
Gaara menunggu tidak sabar didekat gerbang. Disana adalah tempat yang lumayan ramai untuk jam pulang sekolah seperti ini. wajah datarnya sedikit memperlihatkan seringai yang mengerikan untuk dilihat. Sepertinya, dia memang benar-benar dalam keadaan yang bersemangat, tentunya 'semangat' dalam artian misterius. Sehingga, bagi yang tidak sengaja melihat wajah sang ketua Osis itu pastilah merinding dibuatnya.
Dan seringaian itu semakin lebar saat mata jadenya menangkap tiga orang gadis berjalan kearahnya, dua diantaranya adalah gadis yang ia kenal, tentunya yang dari tadi ia tunggu-tunggu.
"Gaara-kun!" panggil Yukata semangat seraya menggandeng tangan Sakura kearahnya. Gaara sedikit mengangkat tangannya membalas lambaian Yukata. Onyx dan jade itu saling melemparkan sinyal misterius yang membuat Sakura sangat merasa tak nyaman.
'Kenapa dia membawaku kemari? Dan bukankah itu Gaara-senpai?' batin Sakura tak enak. Ino yang mengikuti dibelakang hanya mengerling bingung kepada Yukata.
"Maaf membuatmu menunggu lama, Gaara-kun," ucap Yukata tersenyum manis kepada Gaara yang disambut anggukan maklum dari pemuda itu.
Sementara itu disisi lain, Neji, Sasuke dan Shikamaru telah sampai ditempat yang tak jauh dari Gaara, dkk.
"Kau hanya cukup melihat dan mendengar apa yang terjadi, Uchiha," kata Neji memberi aba-aba kepada Sasuke untuk tetap diam. Lalu, pemuda Hyuuga itu berjalan kearah Gaara entah mau apa. Sasuke tak banyak menyahut ia sendiri penasaran apa yang akan sang Hyuuga tunjukan.
Shikamaru, yang berotak jenius mengamati situasi dan pemuda itu dapat langsung menangkap apa yang sebenarnya sedang terjadi. Mengulum seringai, Shikamaru lantas menoleh kearah kawannya dan berujar : " Sepertinya memang ini akan menjadi pertunjukan yang seru," katanya terdengar sangat tertarik menuai pandangan heran dari Sasuke yang seakan berkata 'Kau-tahu-sesuatu?'. Shikamaru hanya mengedikan bahu.
Melihat Neji sudah menghampirinya, Gaara cukup mengerti bahwa sebentar lagi pertunjukan akan segera dimulai. Neji menganggukan kepalanya, yang disambut anggukan balik dari Gaara.
"Jadi, untuk apa Senpai memanggilku kemari?" tanya Sakura memulai, karena ia sungguh tidak mengerti dengan kondisinya sekarang.
"Hihihi.. Ternyata kau sudah tak sabar ya?" sahut Yukata dengan cekikikannya yang terdengar ganjil ditelinga Sakura.
Lalu?
"PERHATIAN SEMUANYA!" teriak Gaara tiba-tiba membuat semua orang mengalihkan perhatiannya masing-masing kepada pemuda tampan bertato 'ai' itu. "Aku akan memberitahu suatu kebenaran kepada kalian semua!" Lanjut Gaara puas ketika melihat raut wajah Sakura yang mulai terlihat gelisah. Semua orang, nampak menantikan kelanjutan kata-kata sang ketua Osis dengan raut penasaran, termasuk Sasuke. Karena, ini merupakan hal yang langka dan mungkin tak pernah terjadi lagi, yaitu sang ketua osis yang terkenal dingin dan kalem berteriak dihadapan umum.
"Ini mengenai gosip tempo hari!" ujar Gaara memandang Sakura dengan pandangan mengintimidasi, lalu jade nya beralih mencari sang Uchiha. Ketemu, onyx dan jade itu bertemu. "Dengar ini Uchiha!" lanjut Gaara menuai pandangan tak suka dari Sasuke saat namanya ikut dibawa-bawa.
Dan Sakura yakin tubuhnya bergetar dengan keringat dingin disekujur tubuhnya _ takut.
"Aku tidak pernah sekalipun berselingkuh dengan gadis yang bernama Namikaze Naruto. Dan mengenai foto itu adalah benar, bukanlah rekayasa. Namun, asal kalian tahu apa yang tertulis dimading adalah sebuah rekayasa dari seorang yang tidak tahu diri!" lugas Gaara tegas penuh emosi.
"Aku memang menyukai gadis itu, dan aku sempat menyatakannya," lanjutnya membuat semua orang terperangah tak percaya, "tapi Naruto tidak sedikitpun memberi harapan padaku. Dia mencintaimu, Uchiha! Dan orang yang telah menyebar fitah itu adalah..." Gaara menggantungkan kalimatnya menatap Sakura sengit dengan seringai mengerikannya. "DIA! HARUNO SAKURA!" Tunjuk Gaara kepada gadis yang kini terbelalak horor.
Sasuke yang menlihat semua kejadian itu, mengepalkan tangannya kuat dengan rahang yang mengeras menahan amarah yang mungkin sebentar lagi akan membeludak.
Dan?
"BOHONG! SEMUA ITU BOHONG! BUKAN AKU YANG MELAKUKANNYA SASUKE-KUN!" teriak Sakura gusar menyangkal tuduhan yang Gaara lancarkan. "Bukankah yang menyebar itu jelas pihak mading?!" tuduh Sakura menyalahkan Neji sebagai biang kerok. Tentu saja, dituduh seperti itu Neji tak terima.
"HAHAHA...!" Neji tertawa keras, namun matanya mengejek kearah Sakura, "asal kalian semua tahu! Gadis ini datang kepadaku dengan membawa foto itu. Dan dia memintaku utuk menulis apa yang telah kalian baca tempo hari!" jelas Neji gamblang tanpa beban.
"NEJI! Kau..!"
"Apa?! Pengkhianat ahn?" potong pemuda Hyuuga itu sengit, "Berkacalah gadis jalang, siapa disino yang menjadi pengkhianat!" lanjutnya mendesis sadis.
Demi Tuhan! Mulut Sakura teraska kelu, gadis itu mulai mengeluarkan air mata. Ternyata, rasaya sakit sekali ketika orang yang selama ini mengejarmu memandangmu penuh dengan kebencian.
"Dia benar! Aku mendengarnya dengan telingaku sendiri saat gadis ini mengatakan bahwa dia yang melakukannya, benarkan Yamanaka-san?" tambah Yukata seraya mengerling kearah Ino yang berdiri shock melihat sahabatnya dikepung. Ino tak membenarkan maupun menyalahkan. Namun, diamnya Ino cukup membuat semuanya tahu bahwa hal itu benar adanya.
'Dia tak pernah mendengar nasihatku. Inilah akibat yang ku peringatkan padamu Sakura,' batin Ino prihatin melihat nasib Sakura yang pasti sangat malu.
Sekarang, harga diri seorang Haruno Sakura telah hancur oleh perbuatannya sendiri.
Semua orang menatap Sakura jijik, dan mencemooh seperti halnya pandangan yang selama ini Naruto terima kini berbalik kepadanya dua kali lipat. Serta bisik-bisik panas dan mencemooh itu berbalik juga kepadanya. Dan yang paling membuat gadis bermata emerald cantik itu semakin deras adalah pandangan penuh kebencian dari orang yang begitu ia cintai_ Sasuke Uchiha.
Akhirnya...
Sakura dengan wajah yang dipastikan memerah malu dan air mata rasa sakitnya, berlari meninggalkan semuanya dengan membawa sebuah harga diri yang telah hancur.
"Sakura! Sakura!" Ino mengejar sahabatnya yang berlari dengan khawatir.
Gaara, Yukata, dan Neji tersenyum puas. Lantas ketiga orang itu menghampiri sang Uchiha yang kini menampakan wajah datar, namun mereka tahu dibalik wajah itu tersimpan berbagai macam gejolak emosi.
"Kuso!" Lirih Sasuke akhirnya. Perasaan lega bercampur penyesalan yang begitu dalam melandanya. 'Aku minta maaf Naru..' hatinya membatin.
"Uchiha, kau lihatkan semuanya? Aku takkan meminta maaf padamu. Namun, aku peduli pada Naru yang mungkin sekarang.."
"Aku tahu," potong Sasuke kepada Gaara. "Arigato!" Lanjutnya sedikit tersenyum kearah Gaara.
Gaara terpaku, namun ia segera mengangguk. "Jaga dia baik-baik," kata Gaara lagi seraya mengapit lengan Yukata erat.
Sasuke menatap Gaara sebentar sebelum berguman, "Hn." Dan sang Uchiha pun berlalu berniat menemui kekasihnya. Shikamaru yang sedari tadi diam ikut tersenyum lega. 'Mendokusai.. Setidaknya aku tak perlu menjelaskan lagi.' Batinnya ikut meninggalkan ketiga orang lainnya.
.
.
AAAAA
.
.
Naruto benar-benar melupakan masalahnya ketika ia bisa kembali berkumpul dengan kakeknya. Pertemuannya dengan Jiraya benar-benar telah merubah kehidupan Naruto.
Gadis itu, mulai sekarang bukanlah seorang gadis miskin lagi. Melainkan seorang yang layaknya berlian. Cantik dan mempunyai wadah yang mewah dengan segala keamanan yang menjaganya.
Ia bukan lagi, "DIAMOND IN THE DUST". Mulai sekarang, ia akan keluar dari kehidupan yang berdebu itu.
"Kyaaa!" tiba-tiba gadis itu berteriak. "Ya Tuhan! Handphoneku!" ratapnya melihat ponselnya yang tak sengaja ia jatuhkan tenggelam saat ia melamun kekolam ikan.
"Ada apa Naru?" Minato yang mendengar anaknya berteriak tentu saja langsung bergegas kearah Naruto. "Kenapa kamu beteriak?" tanyanya lagi khawatir.
"Ponsel Naru tenggelam Tou-san," jawabnya manyun dengan mata berkaca-kaca.
Minato menghela napas lega. "Kirain apa. Ya sudah besok beli yang baru ya?" bujuknya seraya mengusap penuh sayang kepalan anaknya. Dan Minato melihat cengiran anaknya yang sangat mirip dengannya setelah berkata demikian.
'Maaf nomor yang anda hubung sedang tidak aktif atau diluar jangkauan..'
"Naruto, dimana kau?!"
.
.
Tbc.
Moshi-moshi! ;D HAPPY SFN FANDAY! ^^,
Kelamaan ya updatenya? Gomen Minna-san.. ^^, coz nya Kira emang sengaja update fic yang laen dulu. Fic ini rencananya akan ditamatin selama bulan Puasa ini coz fic yaoi kira lagi puasa dulu. Heheh..
Oia, mengenai pertanyaan Kira tempo hari ttg pendapat fic SasufemNaru ato NarufemSasu? Dan ternyata vote lebih banyak SasuFemNaru lagi.. ^^, yosh.. Untuk fic straight selanjutnya Kira akan kabulin req terbanyak. Maaf untuk yang req femSasu. Tapi Kira usahain buatin oneshootnya untuk obatin sedikit kekecwaannya. Tapi itu jg mngkin.. nyeheheh..
Ohya, mari kita balas reviewnya dulu. Singkat saja ga apa-apa ya?
-Sakura bikin menderita dong! (Pasti, dong! Santai saja. Khukhu.. #psyco, noh diatas masih kurang kejam ga?)
-Panjangain lagi dong! Bikin reader puas gitu sama ficnya nape?! (Huweee... #mewek. Kira ini udah berusaha sepanjang mungkin. Tapi kalo ide mentok gimana coba? #Manyun) #Reader nahan muntah
- Err.. Ficnya katanya keren?! ( #idung terbang, engh.. makasih udah maksain bilang keren.. hiks.. #terharu, peluk reader #ReaderTepar) uups! O.o
-Woy apdetnya lama amat sih? (#cengengesan, err.. diatas udah dijelasin ya? Hehe.. viiis!)
-Wah nasibnya gimana tuh si Sasu, pan kudu bawa cewe ke ultah jeng Mikoto?! ( #smirk, itu RA-HA-SIA) #ditabok
Ah.. udah dulu ya balesnya.. engh.. Maaf kalo yang belum kejawab. He.. Kira lebih suka jawabnya sama next chapter aja.. ;D #wew
Oia, tau Yukata kan? Dia kunoichi sunagakure, cantik. Rambutnya hitam panjang, matanya Onyx, kulitnya putih. Kalo masih ga tau bayangin aja Sai versi cewe, tapi kulitnya ga pucat mayat kaya Sai. Hehe..
Spesial thanks to:
, Uchiha gamabunta, haruna yuhi, Afyurikyuu, Aiko Yuuka , Guest1, Guest2, earl grey, CindyAra, waw, Lily angelica, Nitya-chan, Kyla, (Guest) Ida, Aicinta, AkemyYamato, Dee chan - tik, kirika no karin, Princess Li-chan, Yuki No Fujisaki, , arisha matsushina, Icha Clalu Bhgia, Earl Louisia vi Duivel, wildapolaris, Miyamoto Arufina, hanazawa kay (sekarang udah bener ya? He), mendokusai144, HaaniieRyee, Sachi Alsace, fajar jabrik, kirei- neko, CCloveRuki, siNaru Ichi, Yuto.
Akhirkata!
Review please! ^^,
Jaa ne! Sampai jumpa 4-5 hari kedepan in next chap!
