Minna! Akhirnya aku kembali dan update untuk cerita yang ini ^p^.
Gomene, kalo aku udh saaaaanngggaatttt lama sekali g update yg ini T_T
BTW, enjoy read and don't forget buat R&R
Disclaimer : I don't own KOG and GC
Chapter 2
"Ehh? Ehhhh!? Kakak ku?" kata Sieghart tidak percaya. "Kau diculik saat masih bayi oleh segerombolan orang tidak dikenal, mereka membunuh ayah dan ibu. Dan hanya aku yang masih hidup." Kata Luke.
"A…apa?! Bohong, tidak mungkin!" bentak Sieghart. Luke hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Jadi, aku tidak punya orang tua, hiks…." Kata Sieghart dengan nada sedih.
"Tapi kau belum sendiri, ada aku. Ayah dan Ibu menitipkan pesan, saat aku bertemu kamu. Rawat dan jaga Sieghart dengan kasih sayang, kata pesan Ayah dan Ibu. "Sieghart menghentikan tangis nya, dan berkata "be…benarkah?"
"Iya… tenang saja. Dan kau akan di latih untuk menjadi petarung dalam ahli pedang yang hebat." Kata Luke. Sieghart senang mendengarnya dan memeluk Luke.
.
.
Sesampainya di sebuah bangunan megah layaknya orang bangsawan. "Wow…. Besar sekali." Kata Sieghart terkagum-kagum. "Ini memang rumah mu, Sieghart." Sieghart terkejut dan terkagum-kagum.
"Tuan anda sudah kembali!" kata seorang pelayan yang tiba-tiba keluar. "Hahaha… Alfred kau ini terlalu khawatir, belum sampai dua jam kau sudah khawatir." Kata Luke.
"Maaf kan aku tuan Luke." Kata Alfred, lalu dia melihat ke Sieghart. "A…anda tuan Sieghart kan?" tanya Alfred. "Ummm… aku Sieghart." Kata Sieghart. "Tuan Sieghart masih hidup!? Oh ya tuhan, kami pikir tuan sudah mati. Kami sangat sedih sekali waktu itu."
"Iya, aku sudah mendengar semuanya kok dari kakak Luke." Kata Sieghart. Lalu Sieghart jatuh tertidur di rumput. "Tu…tuan Sieghart! Kau kenapa?" tanya Alfred dengan panik.
"Tolong antarkan aku ke kamar, aku lelah…" kata Sieghart dengan senyum. Luka hanya bisa pasrah dan membopong Sieghart ke dalam, diikuti Alfred di belakangnya.
Mereka pun sampai di kamar Sieghart, di sambut oleh beberapa butler dan maid. "Woahh…. Kamar yang mewah!" kata Sieghart terkagum-kagum. Ia pun langsung melompat ke kasurnya yang super lembut dan empuk. "Ahh… enaknya…"
"Tuan Sieghart kembali…"
"Be…benarkah?"
"Setelah sepuluh tahun, sejak dia diculik. Akhirnya dia kembali."
.
.
"Sieghart! Waktunya untuk latihan…" panggil Luke. "Ehh? Latihan sekarang?! Aww… padahal aku masih ingin istirahat~" kata Sieghart dengan nada malas. "Ckckck… jangan malas, ayo latihan." Kata Luke sambil menarik kerah baju Sieghart.
"Ahh… aku lupa, Alfred tolong ambilkan bajunya." Perintah Luke. "Baik tuan." Alfred pun pergi ke kamar Luke untuk mengambil pakaian Sieghart.
"Ini baju nya tuan." Kata Alfred sambil memberikan baju berwarna hitam. "Apa itu, baju untuk ku?" tanya Sieghart yang sedikit penasaran karena melihat baju hitam itu. "Tentu saja ini untuk mu, baju gladiator."
"Wahh! Keren! Aku suka !" kata Sieghart dengan gembira, sambil menarik langsung baju itu dari tangan Luke dan membawanya ke ruang ganti. "Tuan Sieghart sangat bersemangat sekali." Kata Alfred. Luke hanya tersenyum melihat bocah kecil yang adalah adiknya itu bahagia.
Sieghart POV's
Sementara itu, aku sedang mengenakan baju yang diberikan oleh kakak ku tadi, dan ternyata masih sedikit kebesaran. Lalu aku mengenakan jubah nya yang satu lagi, "aahh… gerah. Lebih baik tidak usah sampe lengkap deh." Kata ku dan akhirnya hanya mengenakan jubah hitam, tanpa memasukan lengannya ke dalam.
"Gladiator ya? Hmm… aku penasaran gladiator itu seperti apa." Gumam ku. Lalu aku berjalan keluar dari kamar ganti dan melihat kakak ku, Luke menunggu di depan kamar ku.
"Bagaimana Sieghart? Apakah baju dan jubah itu cocok untuk mu?" tanya Luke pada ku. "Ya kak! Pas sekali, sesuai selera ku." Kata ku dengan girang. "Ayo kita ke halaman." Ajak kakak ku. Aku pun mengikutinya.
.
.
Akhirnya aku dan kakak ku pun sampai di halaman rumah ku. Cukup luas dan tanaman-tanaman serta rumput-rumput ini pun terawat dengan baik. Rumput yang halus tanpa kasar sekali pun membuat ku ingin sekali santai dan berbaring di sini ketimbang ki kasur ku yang super empuk itu.
Tiba-tiba sebuah pedang melayang ke arah ku, dan aku respon dan menangkapnya. "Bagus juga tangkapan mu, Sieghart." Kata kakak ku. Aku memegang pedang yang terbuat dari bambu ini, kusentuh pedang itu dan ternyata sangat halus sekali.
Di polish dengan rata dan… gagang pedang nya juga enak untuk dipegang, serasa aku ingin memegangnya terus menerus tanpa henti, maupun itu hanya pedang bambu. "Ayo Sieghart, jangan melamun dengan pedang bambu mu itu. Cepat kita latihan." Kata kakak ku yang tidak sabar.
Aku teringat sesuatu, aku belum pernah latihan bertarung sekalipun, apalagi menggunakan pedang. Bagaimana cara ku untuk melawan kakak? Lalu aku melihat ke arah kakak, dia memasang kuda-kudanya dengan santai dan relax tanpa sedikit pun gegabah.
Aku hanya bisa was-was, untuk mencegah serangan kakak. Saat itu juga aku berlari dengan membawa pedang ku dan mengayunkan nya ke arah kakak. Ku kira akan mengenainya, tapi tak kusangka kakak menghindari nya dengan mudah.
Tanpa kusadari, tiba-tiba kaki kiri kakak menendang ku. Aku pun terdorong kebelakang dengan tenaga yang cukup tinggi, membuat ku terdorong sampai ke pohon besar itu. Aku sedikit kesakitan karena menerima hantaman yang besar.
"Kau lengah Sieghart." Kata kakak ku dengan tatapan datar. Aku hanya mengembungkan pipi ku dan berkata, "kak! Aku kan masih belajar, belum tahu cara bertarung menggunakan pedang."
"Tak apa, yang penting sekarang kau harus bisa memukulku menggunakan pedang bambu itu." Kata Luke sembari menodongkan pedang bambu miliknya ke arah ku, maupun dengan jarak jauh.
Aku menggigit bibirku, dengan penuh perasaan kesal sekaligus… ahh bukan, aku masih kecil belum remaja. Tapi pikiran ku sudah sangat jauh sekali, rasanya aku ingin menyelesaikannya dengan cepat tanpa basa-basi.
Aku pun menggenggam pedang bambu ku erat-erat, dan berdiri. Aku menyiapkan kuda-kuda untuk menyerang, tanpa pikir panjang aku berlari sekuat tenaga ke arah kakak. Kakak hanya terdiam dan tersenyum, dan mengeluarkan kata-kata dari mulutnya "kau lengah Sieghart."
Aku sedikit shock mendengar ucapan kakak, tapi tak kupedulikan dan tetap berlari, mengayunkan pedang ku ke kanan dan ke kiri terus menerus. Satu serangan sekalipun tidak ada yang mengenainya, kakak menghindarinya dengan mulus dan mudah.
PLAKKK!
Aku kesakitan karena terkena pukulan dari pedang bambu kakak. Aku pun menyerah, karena sudah kelelahan. "Hahaha… kau ternyata lumayan juga, Sieghart." Puji Luke pada ku. "Huh… kakak mengejekku ya?" gerutu ku.
Kakak hanya tertawa mendengar ucapan ku, tiba-tiba Alfred datang dan memberikan minuman dingin ke aku dan kakak. Aku meneguk minuman itu dengan cepat, karena merasa kelelahan.
Kakak yang melihat tindakan ku hanya bisa cengo, tapi aku tak pedulikan karena aku memang benar-benar haus. "Baik sekarang kita bisa istirahat." Kata kakak. Aku pun akhirnya bisa lega dan bisa santai kembali.
End POV's
Jam 4.00 P.M waktu Sieghart untuk mandi. Ia pun masuk ke dalam kamarnya, ia tidak mau mandi karena ia suka dengan baju yang ia kenakan sekarang. Tiba-tiba ada suara ketukan dari pintu Sieghart, "iya silahkan masuk." Kata Sieghart. Lalu pintu itu pun terbuka.
Ternyata maid rumah ini. "Ada apa?" tanya Sieghart. "A…anu maaf tuan, Sieghart. Saat aku hendak megumpulkan baju-baju lama anda untuk di cuci, saya tak sengaja menemukan ini." Kata maid itu, sambil menunjukkan sebuah buku kecil.
Sieghart hanya terdiam dan mengambil buku kecil itu. "Terima kasih ya, umm… siapa nama mu?" tanya Sieghart. "Mary Jane, tuan Sieghart." Kata maid itu yang bernama Mary Jane.
Sieghart hanya tersenyum, Mary Jane sudah mengetahui maksud nya. Ia langsung membungkukkan badan dan pergi keluar dari kamar Sieghart. Dia pun menatap buku kecil itu, yang ternyata adalah isi beberapa foto yang pastinya berukuran kecil juga.
Tanpa respon ia melempar nya jauh-jauh, karena tak ingin mengingatnya lagi. Pengalaman-pengalaman menyakitkan saat dia masih di Panti. "Sieghart! Cepat mandi!" teriak Luke di depan pintu Sieghart.
"Iya kak! Aku akan mandi!" balas Sieghart. Lalu ia melepas baju Gladiatornya beserta jubah jas nya itu. Ia pun melilitkan handuk di pinggangnya dan masuk ke kamar mandi.
.
.
"Huaahhh! Segarnya setelah mandi." Kata Sieghart, ia melihat baju tidur yang sudah di siapkan. Dan warnanya pun juga hitam serta putih di fariasikan dengan warna ungu."Whoaa! Keren!" kagum Sieghart, sambil mengambil baju itu dan mengenakannya.
Setelah Sieghart selesai mengenakan baju tidur, ia langsung berlari keluar dan melihat-melihat seluruh isi rumahnya. Saat Luke hendak keluar dari kamarnya, ia melihat Sieghart berlari-lari.
"Apa yang sedang dilakukan oleh Sieghart?" tanya Luke dengan bingungnya. "Hosh…hosh… uhh capeknya. Ternyata rumah ini besar juga, aku belum sempat melihat seluruhnya." Keluh Sieghart.
Lalu ia merasakan sesuatu, dia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari asalnya. Dia melihat sebuah pintu hitam dengan berbagai macam rantai dan cast magic. Sieghart yang terlalu penasaran mendekati pintu itu, sebelum dia menyentuh gagang pintu tiba-tiba Mary Jane menghalangi Sieghart.
"Ma…mary Jane?! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sieghart. "Tuan Sieghart, anda dilarang untuk mendekati ruangan ini, bahkan menyentuh pintunya saja itu sudah sangat dilarang." Kata Mary Jane.
"Boleh aku tahu kenapa aku tidak boleh masuk ke sini, apalagi menyentuh gagang pintunya?" tanya Sieghart. Mary Jane hanya menggeleng-gelengkan kepala. Sieghart hanya terdiam menerima respon Mary Jane dan pergi.
"Ahh tuan Sieghart, kebetulan sekali. Makan malam sudah siap." Kata Afred yang tidak sengaja bertemu dengan Sieghart. "Baik, terima kasih Alfred." Jawab Sieghart dan langsung pergi.
Alfred sedikit bingung melihat tingkah Sieghart, lalu ia melihat Mary Jane sedang berdiri di depan pintu itu. Afred pun berjalan menghampirinya dan bertanya pada maid itu, "apa yang kau lakukan di sini Mary Jane?"
"Menjaga ruangan ini. Baru saja, tuan Sieghart hampir mendekati ruangan ini." Jawab Mary Jane, dan mata nya pun menyipit. Alfred sedikit shock mendengar perkataan Mary Jane, "apa kau yakin?! Gawat, kita harus beritahu hal ini pada tuan Luke."
Mary Jane pun mengangguk setuju. Lalu Alfrred dan Mary Jane pun berjalan pergi meninggalkan ruangan itu.
.
Saat itu juga di ruang makan, Luke sudah mulai memakan hidangan yang disediakan tetapi Sieghart masih terdiam. Luke melihat Sieghart terdiam tidak memakan makanannya, lalu ia bertanya pada Sieghart, "kenapa kau tidak memakan makanan mu, Sieghart? Apa kau sakit?"
"Umm… tidak apa-apa kok, kak. Aku hanya sedang tidak ingin makan." Jawab Sieghart lesu. Luke pun khawatir mendengar kata-kata Sieghart yang lesu itu, dia pun berdiri dari kursi yang ia duduki lalu menghampiri Sieghart.
Ia pun mengulurkan tangannya yang sedang menggenggam sebuah roti selai, dan susu kotak ukuran kecil kepada Sieghart. Sieghart bingung pada kakaknya. "Ambilah Sieghart. Jika kamu tidak bisa makan, makanan yang ada terimalah ini setidaknya kau makan. Kakak tidak mau kau sakit." Kata Luke.
Sieghart sedikit kaget mendengar perkataan kakaknya, mengingatkan akan dirinya pernah dipedulikan oleh salah seorang kakak dari panti itu, kakak Claire.
main sama kakak Claire saja ya, Sieghart
kakak, tidak tega melihat kamu sedih terus menerus.
Hei! Hei! Jangan tertawakan Sieghart!
kenapa kamu sedih, Sieghart?
Sieg… kenapa kamu tidak duduk di kursi?
Sieghart pun sedikit tersenyum dan mengambil makanan yang dipegang oleh kakaknya tadi, lalu membawa nya ke kamar.
Luke pun ikut tersenyum melihat adiknya Sieghart terlihat bahagia. Lalu datanglah maid dan butler menghadap ke Luke. "Ada apa Alfred, Mary Jane?" tanya Luke. "Tuan… kami hanya ingin memberitahu bahwa, tuan Sieghart hampir mendekati ruangan 'itu'." Kata Mary Jane.
Luke kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Mary Jane, "gawat… cepat suruh beberapa penjaga untuk menjaga ruangan itu." Perintah Luke. Alfred dan Mary Jane pun mengerti dan segera memberitahu pada beberapa penjaga.
.
.
Sementara di kamar Sieghart….
"Nah… selesai juga makan. Dan sekarang…" kata Sieghart sambil melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan tepat pukul sepuluh malam. Sieghart pun bergegas ke kamar mandi, menyikat gigi, mencuci muka.
Ia pun langsung berbaring di atas kasur nya, sambil meregangkan tubuhnya yang sedikit pegal. Lalu ia pun mengingat kejadian barusan, tentang ruangan misterius yang tidak boleh didekati.
"Aku penasaran, kenapa tidak boleh masuk ke ruangan itu ya?" tanya Sieghart batinnya. Lalu ia pun mulai tidur.
