Nobody Knows—

Author: Rin

Chapter: 2/?

Disclaimer: All casts is belong to themselves.

Rated: T

Pair: WonKyu (Siwon – Kyuhyun), slight KiWook, YeHae.

Genre: Romance, a bit (failed) humor. Lol. ._.

.

Warning: AU, Shonen-ai/BL, OOC, Crack Pair, fluff gagal karena saya biasanya nulis yang nyerempet(?) angst atau minimal hurt/comfort -,-v, dll.

.

For: KyuKi Yanagishita and All WonKyu Shipper.

.

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

Kyuhyun berguling-guling di atas ranjangnya dengan perasaan tidak tenang. Berkali-kali ia bahkan hampir jatuh dari ranjangnya kalau saja ia tidak punya refleks yang bagus dan malah berakhir dengan, entah bagian tubuhnya yang mana, yang akan mencium lantai. Kejadian tadi masih terngiang dalam otaknya. Jelas saja, memangnya siapa di dunia ini yang tidak galau kalau orang yang disukai—ah tidak, dicintainya—bisa ia lihat dari jarak sedekat itu padahal hal itu adalah satu dari sekian banyaknya hal mustahil yang akan menimpa dirinya di dunia ini.

Ia hanya sendiri di rumah ini—kecuali kalau para pelayan di rumah ini juga dihitung. Dua Kim bersaudara yang menumpang tinggal di rumahnya sedang ada urusan di rumah kedua orang tuanya. Dan ia benar-benar mensyukuri keadaan ini.

Bayangkan saja kalau Kim Kibum ada di rumah ini, ia pasti akan habis disindir olehnya. Dan itu malah akan membuat rahasia dirinya ini diketahui oleh Yesung. Kalau ini sampai benar-benar terjadi, ia akan benar-benar mengutuk Kim Kibum dan mencoretnya dari daftar sepupu yang patut disayangi.

Kyuhyun memilih mengabaikan bayangan seorang Kim Kibum dan kembali mengingat kejadian tadi siang. Setidaknya itu jauh lebih baik—dan jauh lebih menyenangkan.

Wajahnya yang tampan dan mempesona ditambah dengan suaranya yang agak berat terus terbayang dalam pikirannya, membuatnya tidak bisa mencegah rona merah menjalari pipi pucatnya. Aigoo, ternyata kalau dilihat dari jarak sedekat itu, orang itu benar-benar… apa ya… kata mempesona itu terlalu biasa untuk menggambarkannya.

"Eottokhae?" gumam Kyuhyun—pelan. Kali ini harus ia akui kalau ia benar-benar sudah terjerat dengan pesona orang itu hanya dengan sekali menatap kedua matanya.

Kyuhyun kembali berguling. Rasanya saat ini ia jadi seperti seorang yeoja yang baru pertama kalinya merasakan perasaan cinta. Benar-benar memalukan…

Bosan berguling-guling tidak jelas begitu, ia mendudukkan dirinya sambil memeluk salah satu bantal yang berada di dekatnya. Terlintas dalam pikirannya untuk meminta bantuan Kibum mendekati sang ketua OSIS. Toh mereka teman sekelas dan sama-sama anggota OSIS. Tapi pikiran itu segera disingkirkannya ketika wajah Kibum yang menyeringai penuh KONSPIRASI padanya terbayang dalam sedetik setelah ia mendapat ide itu. Tidak, tidak. Ia tidak mau kena resiko harus selalu digoda oleh namja kurang kerjaan itu padahal orang itu sudah punya pacar—yang sangat manis menurutnya.

"Aish, sudahlah…"

Kyuhyun menarik selimutnya hingga menutupi tubuhnya sebatas leher. Kelihatannya tidur adalah pilihan yang sangat tepat—dan bagus—baginya saat ini.

.

.

Kyuhyun berjalan dengan langkah yang amat perlahan menyusuri koridor lantai satu menuju kelasnya. Sesekali ia menguap pelan. Tadi malam ia memang berniat untuk tidur dan memilih untuk melupakan masalah kemarin, tapi nyatanya ia tidak tidur hingga pagi gara-gara otaknya yang tumben-tumbenannya kena sindrom bernama galau.

Dan efek dari semua itu, ia yang datang terlalu pagi seperti ini (daripada ia malah semakin tidak jelas kalau diam di rumah dalam waktu yang lama) harus menahan kedua kelopak matanya yang—sangat disesalinya—kenapa harus terasa berat TEPAT ketika ia sudah berada di sekolah? Kalau saja keadaannya ini dirasakan ketika masih berada di rumah, ia sudah pasti akan bolos dengan senang hati. Sementara ini? Aish, jinjja, ini benar-benar menyebalkan…

Kelihatannya bolos dari semua pelajaran dan tidur di suatu tempat akan lebih baik daripada ia berada di dalam kelas dan malah tidak fokus. Toh ia tidak perlu berusaha terlalu keras untuk mengejar materi pelajarannya kalau hanya sekali tidak masuk kelas.

BRUUKKK!

"Aww… appo…"

Kyuhyun meringis kesakitan, ketika tanpa sadar ia menabrak—atau ditabrak mungkin—seseorang, menyebabkannya terjatuh ke lantai. Ia sedang pusing karena rasa kantuk luar biasa yang menyerangnya, hingga tidak fokus dengan jalannya.

Ia mendongakkan kepalanya, berniat untuk sekedar memberikan deathglare pada siapapun yang sudah menabraknya.

"Ng… gwaenchana?"

Kyuhyun membulatkan kedua matanya, mengurungkan niat awalnya yang ingin memarahi si penabrak—atau korban yang ia tabrak. Ini de javu atau pengulangan kejadian kemarin? Ya Tuhan, apa salahnya—atau kebaikan apa yang sudah dilakukannya—hingga ia harus mengalami ini dua kali dalam dua hari berturut-turut? Apa Tuhan sedang berbaik hati padanya?

"N-nde?" Kyuhyun hanya menjawab seadanya. Entah terlalu shock atau mungkin terlalu girang hingga ia bahkan tidak dapat mengeluarkan reaksi yang… sedikit lebih baik.

"Gwaenchana?" Namja itu mengulangi pertanyaannya—sedikit khawatir.

Kyuhyun menganggukkan kepalanya—ragu atau mungkin tidak fokus. Ya Tuhan, yakinkan ia kalau ini mimpi? Ini bahkan terlalu mustahil untuk disebut kebetulan kalau terjadi di waktu yang berurutan seperti ini. Kenapa dalam dua hari ini ia harus bertabrakan dengan seorang Choi Siwon?

Namja bertubuh tegap yang menabrak Kyuhyun itu mengerutkan alisnya. Ia berjongkok hingga posisinya kini sejajar dengan Kyuhyun yang masih terduduk. "Aku serius. Kau baik-baik saja atau tidak?"

Ia mengulurkan tangannya, bermaksud untuk membantu Kyuhyun berdiri, walau ia sedikit mengantisipasi kemungkinan anak itu akan mengabaikan uluran tangannya seperti kemarin.

Dengan ragu, Kyuhyun menerima uluran tangan itu. Ia menggigit bibirnya, sementara kedua matanya berusaha untuk tidak menatap ke namja di hadapannya, terlalu malu.

Siwon menarik tangan Kyuhyun hingga namja yang sedikit lebih pendek darinya itu berdiri.

"Ng… gomawo…" ucap Kyuhyun, pelan—amat pelan kalau boleh ditambahkan, karena ia mengucapkannya hampir tidak membuka mulutnya ditambah dengan kepalanya yang terus tertunduk membuat suaranya agak terhalang.

Siwon tersenyum—inginnya sih lebar kalau saja ia tidak ingat dengan keharusannya menjaga image sebagai seorang ketua OSIS—mendengar suara namja yang merupakan sepupu dari salah seorang anggota OSIS, Kim Kibum—yang juga merupakan namja yang merupakan salah satu siswa yang paling ingin ia hindari sebenarnya. Alasannya? Jelas karena ada kalanya orang itu—ketika menemukan sesuatu yang menarik baginya—bisa menjadi orang yang sangat menakutkan, sekaligus juga menyebalkan dalam beberapa hal.

Kyuhyun baru akan melangkahkan kakinya—segera pergi dari situ secepatnya atau kalau tidak ia tidak akan bisa menahan rona merah di wajahnya. Ini terlalu dekat, bahkan lebih dekat dari biasanya dan itu merepotkan—sekaligus juga menyenangkan sih. Namun…

"Akh!" Brukk!

Kyuhyun terjatuh kembali. Kali ini bukan karena menabrak, melainkan sebelah kakinya yang… terasa agak sakit ketika ia menggerakkannya. Kyuhyun melotot tidak percaya. Masa sih? Padahal ia kan hanya menabrak seseorang—itu pun tidak keras, kenapa kaki kanannya malah terasa sangat sakit? Apa posisi jatuhnya tadi terlalu memberi tekanan pada kakinya?

Siwon yang melihat hal itu kembali berjongkok—khawatir. "H-hei, kau serius tidak apa-apa?"

Kyuhyun menelan ludahnya. Ekor matanya melirik ke arah kanan dan kiri bergantian—yang pastinya jangan sampai menatap ke depan. Ia ragu mengatakannya walau sebenarnya ia membutuhkan bantuan untuk menolongnya berdiri—sekalian berjalan kalau bisa. "Itu… kelihatannya kakiku… agak terkilir…"

Namja jangkung di hadapannya tertegun. Sadar kalau sebenarnya Kyuhyun itu bukan orang yang hobi berkomunikasi dengan orang lain (dan kelihatannya interaksi dengannya adalah yang terlama yang pernah dilakukannya selain dengan kedua sepupunya)—makanya ia terlihat ragu mengatakannya.

"Hup..."

Kyuhyun membulatkan kedua matanya. Maksudnya ia adalah ia ingin dibantu berdiri atau sekalian saja dipapah sampai ruang kesehatan, toh sekolah masih sepi jadi tidak ada orang yang melihatnya. Tapi namja itu malah menggendongnya—err... atau mungkin lebih tepatnya mengangkutnya di pundak layaknya ia ini sebuah karung beras. Ini memalukan, menggelikan—sekaligus juga mengesalkan. Memangnya ia ini barang, apa?

"Y-yaa! Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!"

Siwon mengerjap beberapa kali. "Bukannya tadi kau bilang kakimu sakit? Makanya kubantu kau ke ruang kesehatan."

Kyuhyun menepuk dahinya. "Tapi bukan begini."

Siwon hanya tersenyum lebar—menampilkan dimplenya. "Sudahlah, anggap saja ini permintaan maafku karena menabrakmu tadi—biarpun aku tidak tahu siapa yang menabrak duluan. Dan satu lagi... kalau aku memapahmu berjalan, itu akan sangat lama, jadi... jangan protes, arra?"

Kyuhyun mengangguk pasrah. Mereka bahkan belum pernah berkenalan—walau ia sudah mengetahui siapa Siwon sebenarnya, tapi kenapa orang ini malah seenaknya? Rasanya ini jadi mengingatkannya pada Kim Jongwoon, sepupunya yang kadang—atau mungkin sering—berbuat seenaknya pada dirinya.

Sementara Siwon...

Sebuah seringai tipis terlihat di wajahnya. Posisinya menggendong Kyuhyun membuat wajahnya tidak terlihat oleh namja berambut coklat itu—dan itu sangat menguntungkan baginya. Setidaknya anak itu tidak akan melihat wajahnya ini.

Kelihatannya ada bagusnya juga aku mengikuti kata-kata Kibummie untuk datang lebih pagi hari ini...

.

.

Kyuhyun duduk diam di pinggiran tempat tidur. Begitu pun dengan Siwon yang kini tengah sibuk mencari sesuatu—atau mungkin beberapa benda—yang dibutuhkannya. Guru kesehatan belum datang, hal yang wajar karena ini masih terlalu pagi untuk penghuni sekolah ini datang—kecuali mungkin untuk para anggota klub-klub olahraga yang biasanya memiliki jadwal latihan pagi atau penjaga sekolah yang memang tinggal di sekitar lingkungan sekolah.

Setelah menemukan apa yang dibutuhkannya—yang berada dalam satu tempat yaitu kotak P3K—ia berjalan mendekati Kyuhyun lalu berjongkok di depannya. Kyuhyun hanya diam melihatnya—err... atau mungkin sebenarnya ia bingung harus bicara atau melakukan apa.

Siwon membuka sepatu Kyuhyun, memperlihatkan kaki kanannya yang—menurut Kyuhyun—sakit, lalu ia mulai melakukan pekerjaannya. Setidaknya, walau ia agak buta dalam masalah pertolongan pertama, ia cukup tahu mengenai dasar-dasar yang harus ia lakukan.

Sesekali Kyuhyun meringis—sakit, ketika jari-jari—yang menurutnya kurang terampil itu—menyentuh beberapa titik yang dirasanya sakit, membuat Siwon—sesekali pula—menghentikan pekerjaannya membalut kakinya yang terkilir dan melemparkan tatapan minta maaf.

"Nah, selesai..." Siwon memperhatikan hasil kerjanya—tidak terlalu rapi tapi masih masuk kategori lumayan. Setidaknya jika dibandingkan dengan Kyuhyun, balutan perbannya masih tergolong rapi.

"Ng... gomawo, sunbae..."

"Hyung..."

"Mwo?" Kyuhyun melongo—tidak mengerti.

"Panggil aku 'hyung' saja. 'Sunbae' itu rasanya terlalu formal, menurutku…"

Kyuhyun ragu. Ini sebenarnya kesempatan bagus untuknya agar bisa... yah, setidaknya dekat dengannya, walau mungkin kelihatannya tidak mungkin memintanya untuk menjadi kekasihnya. Pertama, karena mereka baru kenal dan mungkin mustahil baginya untuk dekat dalam artian lain selain hanya sebagai hoobae atau lebih dekatnya lagi sebagai dongsaeng. Kedua, kemungkinan kalau orang ini adalah straight—walau ia ragu akan perkiraannya yang ini mengingat ia bahkan tidak pernah mendengar kalau seorang Choi Siwon pernah menjalin hubungan dengan seorang yeoja manapun—berdasarkan pengamatannya selama di sekolah ini.

"Ng, Siwon-hyung?" Yah, setidaknya dicoba seperti sekarang tidak masalah.

"Eh? Kau tahu namaku?" Siwon mendongakkan kepalanya, menatap Kyuhyun bingung.

Kyuhyun merutuki ucapannya barusan. Mana mungkin kan ia mengatakan kalau ia ini… yah… semacam stalkernya?

"Err… hyung kan terkenal di sekolah ini. Wajar saja kan kalau aku bisa tahu... ng... namamu..."

Dan di saat seperti ini pula, Kyuhyun benar-benar memuji kemampuan otaknya untuk berpikir cepat mengarang alasan—yang tidak sepenuhnya salah juga. Hei, yang barusan itu ia memang bicara kenyataan kan?

Siwon hanya menganggukkan kepalanya tanpa ada niat untuk bicara lebih lanjut, karena ia sendiri bingung apa yang sebenarnya harus dikatakannya. Ia memang dikenal bisa beradaptasi dengan baik di hadapan orang asing sekalipun, tapi ini... di hadapan namja yang sebenarnya menarik perhatiannya ini ditambah orang ini juga bukan tipe orang yang banyak bicara—cenderung terkesan bisu malah—ia jadi bingung sendiri. Ini memang kesempatan bagus untuk setidaknya mengenal Cho Kyuhyun, tapi keadaan ini... rasanya terlalu awkward untuk sekedar memulai satu pembicaraan yang sangat ringan sekalipun.

"Kyuhyun-ah?"

Kyuhyun mendongakkan kepalanya dengan kedua alis yang agak berkerut. Heran darimana orang ini mengetahui namanya. Seingatnya ia belum satu kalipun menyebut namanya dan name tagnya sendiri juga tertinggal di kamarnya, jadi... dari mana orang ini mengetahui namanya? Kyuhyun menepis pikiran itu. Choi Siwon itu sama-sama pengurus OSIS seperti Kibum dan mereka juga sekelas, jadi mungkin saja sepupunya itu pernah menyebut namanya—sama seperti namja stoic tapi menyebalkan itu selalu menyebut nama Choi Siwon (dengan tujuan untuk menganggunya, sebenarnya). Tidak berharap kalau orang ini memang menaruh perhatian pada dirinya.

"Nde?"

"Err... mau kuantar pulang?" tanya Siwon—ragu.

Kyuhyun mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. "Mwo?"

"Y-yah, kurasa dengan kakimu yang begitu kau akan sulit untuk berkonsentrasi—"

lagipula kapan lagi aku punya kesempatan untuk bisa sedekat ini dengannya?

Kyuhyun terdiam beberapa saat, ragu sebenarnya walau ia tahu kalau apa yang dikatakan oleh sunbaenya ini memang ada benarnya. Lagipula setelah ini ia memang ada niat untuk tidak masuk kelas dan menghabiskan waktunya entah dimana. Dengan kaki yang terasa berdenyut-denyut seperti ini—walau ia tahu sebenarnya ini hanya luka ringan yang dalam waktu dua atau tiga hari akan kembali baik-baik saja—ia tidak akan bisa memfokuskan pikirannya pada pelajaran di kelas. Lagipulu bolos satu atau dua hari juga tidak akan berpengaruh padanya, toh hanya dengan membaca materi hari ini dan sekalian bertanya pada Kibum (opsi ini adalah yang akan terakhir ia pilih kalau ia memang tidak punya pilihan lain di kala otaknya sudah buntu) ia akan baik-baik saja untuk ujian di akhir semester nanti.

"Kurasa... hyung ada benarnya juga sih..."

Siwon tersenyum—walau dalam hati sebenarnya ia agak menyeringai—setidaknya ia akan bersama dengan namja di hadapannya ini sedikit lebih lama. Yah, ia tahu kalau Kyuhyun datang lebih pagi karena informasi dari Kim Kibum—yang membuatnya heran kenapa orang itu mau repot-repot melakukannya. Bukannya namja stoic itu sedang berada di rumah orang tuanya, bukan di rumah Kyuhyun? Jadi darimana ia tahu kalau Kyuhyun akan datang sepagi ini?

Siwon menepis pikirannya itu. Tidak ada gunanya ia memikirkannya karena ia memang tidak pernah bisa menebak bagaimana jalan pikiran namja itu. Ia bahkan adakalanya dibuat bingung dengan beberapa tindakannya, seperti sekarang ini. Terkesan seperti memang ingin membantu tapi juga di sisi lain terkesan seperti sedang merencanakan sesuatu. Yah, apapun itu, kelihatannya sedikit mengikuti permainan orang itu tidak ada salahnya—walau ia bingung dengan tujuannya.

"Kalau begitu… kajja…" Siwon membalikkan badannya dan mendekatkan punggungnya pada Kyuhyun.

"Mwo?" Kyuhyun bingung. Entahlah, terlalu lama berada di dekat namja ini rasanya ia seperti jadi orang yang benar-benar bodoh—walau pada kenyataannya bukan.

"Kugendong."

Dan mendengar jawaban singkat, padat tapi mencengangkan itu, Kyuhyun pun membulatkan kedua matanya. "MWO?"

Orang ini gila apa? Ayolah, jam segini sekolah memang masih termasuk dalam keadaan sepi dan kemungkinan akan ada yang melihatnya itu adalah nol koma sekian persen, tapi tetap saja hal itu memalukan. Ia bukan anak kecil—bahkan kemungkinan kalau ia anak kecil, ia akan tetap malu melakukannya, dan orang ini malah menyuruhnya untuk itu? Yang benar saja...

"Dengan kakimu yang begitu, kurasa jalan pun akan terasa sulit. Bukannya kau tidak mau kalau ada orang yang melihatmu begini?"

"Ng... yah... memang benar sih..."

Kyuhyun masih ragu, namun sedetik kemudian, perlahan ia pun memposisikan tubuhnya tepat di belakang Siwon lalu memeluk lehernya—dengan dada yang berdebar sejujurnya. Dan Siwon pun dengan senang hati menopang berat badan Kyuhyun yang memang terasa ringan—jauh lebih ringan daripada dugaannya. Yah, berpikir terlalu lama juga agak buruk sih. Bisa-bisa kemungkinan orang melihatnya digendong oleh Siwon yang asalnya nol koma sekian persen malah menjadi naik melebihi satu persen.

Dan detik itu juga, Kyuhyun benar-benar berharap semoga saja jantungnya untuk sementara ini bisa sedikit bekerja sama dengan otaknya agar tidak berdetak terlalu berlebihan—dimana itu ternyata sulit sekali.

.

.

Kim Kibum menyeringai tipis. Tak ada salahnya ia mengikuti Kyuhyun—dan juga Siwon tentunya—untuk datang di jam yang sepagi ini. Setidaknya ia jadi bisa melihat pemandangan bagus—sekalian juga merekamnya.

Ia tahu kalau Kyuhyun datang ke sekolah sepagi ini berkat salah seorang maid di rumah keluarga Cho, yang sebenarnya sudah ia mintai tolong untuk melaporkan apa saja yang dilakukan oleh Kyuhyun selama ia tidak ada di rumah itu. Tidak sulit melakukan itu, dengan sedikit senyum darinya cukup mudah untuk meminta maid itu memenuhi permintaannya ini.

"Yah, kurasa bantuan dariku kemungkinan tidak ada gunanya. Tapi… sedikit gangguan dariku mungkin akan menjadikan hubungan mereka lebih menarik~"

.

To Be Continued—

.

A/n Yah, saya membatalkan niat saya untuk bikini ni jadi ThreeShots, karena setelah dipikir lagi kalau konflik lebih banyak kayaknya lebih seru. xD #dihajarReaders.

Mian, saya baru update sekarang. Saya lupa nyimpen file chapter ini di folder mana. =.= -efek ngesave sembarangan.

Setelah ini saya bakalan hiatus sampai akhir bulan. Selain karena bentar lagi SMTOWN INA, saya juga mesti fokus sama ujikom informatika kalau mau dapet sertifikat kelulusan. ;-; Doakan saya ya, chingudeul~

Oke, mari kita ke review~ Sebelumnya, saya mau minta maaf ya, buat reviewers di postingan yang pertama sebelum ff ini didelete karena gak bisa saya bales. Saya lupa lagi siapa aja yang ngerevies di sana, jadi saya cuma bales review dari postingan yang baru aja. Sekali lagi, maaf. ;-; T.T

Ifa Cho-i - Gomawo, buat dukungannya, chingu. Ini udah diupdate. :)

Guest - iya, ini republish. :)

alcici349 - Gomawo, udah dilanjut. :)

mrs. ChoKyu - iya, ini udah dilanjut. Mian kalau kelamaan ne. :)

HaeUKE - Iya, chingu. WPku tinggal dilihat aja di profil, tapi aku tetep bakal update di sini juga kok. Gomawo, buat reviewnya. :)

rachma99 - gomawo, ini udah diupdate, chingu. :)

MhiaKyu - Gomawo, chingu. Ini udah dilanjut. :)

Dongdonghae - Iya ya, padahal ini WonKyu pertama yang saya bikin. u.u Hehe, ini udah dilanjut chingu. :)

cloud3024 - Kyunya udah panik duluan disangka bakalan incest. -.- #plak. Rencana Kibum kemungkinan adalah untuk mengganggu WonKyu. xD #duagh.

KiKyuWook - Eh, kan seru bikin kata TBC di tengah adegan yang seru. xD #digeplak. Kemungkinan ada kok, soalnya saya mau bikin chapternya lebih banyak lagi. :)

gaemwon407 - gomawo, udah dilanjut, chingu. :)

ecca . augest - gak tau tuh, chingu. Hehe, udah diupdate nih. :)

lovinkyu - gak males update kok, cuma waktu yang gak memungkinkan. :)

rikha-chan - mian ya, ini udah diupdate. :)

Wookiesomnia - Haha, malah jadi dua minggu. .a gomawo reviewnya~ :)

violin diaz - hehe, nanti bakalan ada kok. Soalnya saya perpanjang lagi jumlah chapternya entah jadi berapa. :)

IrmaWK - Haha, iya nih. =.= gak tau tuh, padahal udah cape-cape bikinnya.

dealovia choi - gomawo reviewnya, chingu. :)

hime . kyu - Ini udah dilanjut, chingu. :)

Nadia-veela - Lah? Emang di sini Siwon kenapa? O.o Ini udah lanjut chingu. :)

dew'yellow - Gomawo. :) YeHae-nya cuma sekilas doang sih, tapi ada kemungkinan dimasukin agak banyak. :)

.

.

Oke, sekian dari saya, see you on the next chapter~ :) RnR?

.

~Praise youth and it will prosper~

.

Best Regards

RIN—

.