—Nobody Knows—
Author: Rin
Chapter: 3/?
Disclaimer: All casts is belong to themselves.
Rated: T
Pair: WonKyu (Siwon – Kyuhyun), slight KiWook, YeHae.
Genre: Romance, a bit (failed) humor. Lol. ._.
.
Warning: AU, Shonen-ai/BL, OOC, Crack Pair, fluff gagal karena saya biasanya nulis yang nyerempet(?) angst atau minimal hurt/comfort -,-v, dll.
.
For: KyuKi Yanagishita and All WonKyu Shipper.
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
Cklek.
"Mwo?"
Yesung terperangah, agak kaget melihat adik sepupu kesayangannya ada di depan pintu rumahnya. Apalagi dengan posisinya yang masih digendong oleh Siwon, membuat Yesung bahkan hanya bisa diam membatu beberapa saat di tempatnya dengan posisi tangan kanan yang masih memegang kenop pintu.
"A-annyeong, hyung..." Kyuhyun mengeluarkan senyum lebarnya—yang justru terlihat aneh, berharap semoga sepupu tertuanya itu tidak bertanya apapun dan segera pergi dari tempat itu saat ini juga. Kalau dilihat dari penampilannya ditambah ketika ia turun dari mobil Siwon ia melihat Lee Donghae, kekasih hyung tercintanya itu, duduk di mobil milik namja bersuara emas itu, sudah jelas orang ini pasti akan pergi kuliah. Keduanya kuliah di tempat yang sama, hanya berbeda jurusan.
Yesung mengerutkan alisnya, masih belum berniat beranjak dari tempatnya berdiri—di depan pintu, dan tanpa mengubah posisinya sedikit pun, membuat Kyuhyun menggigit bibirnya. Ia tahu, dengan ekspresi yang ditunjukkannya ini, kelihatannya hyungnya ini pasti akan bertanya sesuatu.
"Kau tidak apa-apa kan, Kyu?"
Benar kan?
"Gwaenchana, hyung. Bisa kau sedikit bergeser dari tempatmu itu? Aku tidak mau merepotkan Siwon-hyung lebih lama lagi karena menggendongku terus sejak dari sekolah dan sekarang kau malah menghalangi jalan?"
Yesung segera bergeser, memberi akses lebih luas untuk Siwon menggendong Kyuhyun. Ia baru akan melangkahkan kakinya keluar ketika disadarinya sesuatu.
Tunggu. Siwon-hyung? Sejak kapan mereka akrab? Bukannya mereka...
Namja berambut hitam itu membalikkan badannya. "Siwon-ah…"
Siwon—yang baru saja menurunkan Kyuhyun di atas salah satu sofa di ruang depan—menoleh. Ia tidak mengeluarkan suara sedikit pun sejak tadi. Bukan karena canggung atau bagaimana, tapi lebih karena kelelahan. Tak disangkanya, menggendong namja seringan ini dalam jangka waktu yang cukup lama cukup untuk membuatnya agak kehabisan nafas.
"Nde?"
Yesung agak ragu untuk mengucapkan kalimat selanjutnya yang ingin ia ucapkan, namun rasa penasarannya justru lebih besar hingga akhirnya ia pun memberanikan dirinya. "Bisa kita bicara sebentar… di luar?"
Siwon agak ragu sebenarnya, namun melihat Yesung yang terlihat serius dan penasaran di saat yang bersamaan, membuatnya menganggukkan kepalanya dan berjalan mengikuti Yesung yang lebih dulu melangkahkan kakinya ke luar rumah.
Kyuhyun?
Ia hanya menatap kepergian mereka dengan tatapan bingung dan penasaran, tapi berhubung kakinya sedang tidak bisa diajak bekerja sama untuk menuruti keinginannya menguping pembicaraan mereka, ia pun memilih untuk tetap diam di tempatnya—sambil dalam hati sedikit merutuki kesialan hari ini serta mensyukuri buah dari kesialannya itu. Kapan lagi ia bisa berada dalam jarak yang sangat dekat seperti itu dengan orang yang sangat disukainya?
.
.
Yesung menatap Siwon dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang melakukan penyelidikan atas orang di hadapannya. Sesekali ia memegang dagunya sambil menunjukkan ekspresi sedang memikirkan sesuatu, membuat Siwon agak jengah karena diperhatikan seintens itu.
"Yesung-hyung, sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan denganku?"
"Kau menyukai Kyuhyun, kan?"
"Mwo?" Siwon melotot kaget. Bagaimana mungkin orang ini bisa menebak bagaimana perasaannya sementara ia sendiri sebenarnya masih belum yakin akan perasaannya sendiri? Entah itu memang pantas untuk dikatakan suka atau hanya sebatas tertarik saja karena melihat Kyuhyun yang—menurutnnya—terlihat manis, tapi malah berusaha menyembunyikannya dari orang lain hingga anak itu terlihat tidak menarik di hadapan orang lain. "Kenapa kau menyimpulkan begitu? Apa Kibummie yang mengatakannya padamu?"
"Aniyo, adikku tidak bilang apa-apa padaku. Kau tahu sendiri kan dia itu bagaimana. Kalau ada sesuatu yang membuatnya sangat tertarik, jarang sekali dia akan memberitahukannya padaku. Lagipula…" Yesung diam selama beberapa saat, mencoba mengingat sesuatu. Kalau tidak salah anak itu pernah membahasnya berdua dengan Kyuhyun, hanya aku saja yang tidak terlalu menangkap isi obrolan mereka.
"Lagipula apa, hyung?" Siwon mengerutkan alisnya melihat sang tertua dari Kim bersaudara itu kini diam.
Yesung menggelengkan kepalanya. Ia kembali menatap Siwon. "Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak masalah kalau kau mau menyukainya atau bagaimana, tapi kalau kau sampai menyakitinya hingga ia menangis, saat itu juga akan kupastikan kalau kau hanya tinggal nama saja di dunia ini."
Siwon mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, namun sebelum ia sempat mengeluarkan suaranya, Yesung telah lebih dulu pergi dari tempat itu. Meninggalkan Siwon yang masih membatu di tempatnya. Satu hal yang terlintas dalam otaknya. Ia pikir orang tergila yang pernah dikenalnya hanya seorang Kim Kibum saja. Ternyata... kakaknya pun tidak berbeda jauh dengannya.
.
.
Yesung membuka pintu mobilnya. Ia pun duduk di kursi pengemudi. Kedua alisnya bertautan heran ketika dilihatnya sang kekasih kini tengah menahan tawanya—entah karena apa.
"Apa ada yang lucu di luar sana hingga kau terlihat sulit sekali menahan tawamu, Hae-ya?"
"Hmph... Aniyo, hyung. Aku hanya penasaran, apa yang kau katakan padanya hingga ia bahkan membatu di tempatnya begitu. Apa kau mengancamnya juga? Seperti yang kau lakukan pada Zhou Mi dan Changmin dulu..."
Yesung mendengus perlahan. "Aku kan hanya tidak mau kalau Kyuhyun dekat dengan orang yang pada akhirnya hanya akan menyakitinya saja. Dan bukan salahku kan kalau dua orang itu akhirnya malah mundur bahkan sebelum mereka benar-benar dekat dengannya."
"Haha... arraseo, hyung. Kau protektif sekali, eoh? Aku sampai agak cemburu, kau tahu?"
Yesung menarik Donghae yang tadinya hanya bersandar pada kaca jendela mobil hingga jarak di antara keduanya hanya tinggal beberapa senti saja. Donghae mengerjapkan kedua matanya, sedikit kaget dengan pergerakan yang terbilang cukup tiba-tiba itu. Seketika wajahnya agak memerah menyadari kalau wajah mereka begitu dekat. Melihat itu, Yesung hanya menyeringai tipis. Ia mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibir plum sang kekasih dengan lembut dan singkat.
"Kau tahu, aku justru senang kalau kau cemburu begitu~"
Donghae menutup wajahnya yang diyakininya pasti sudah semerah tomat. Menyesal juga ia mengucapkan kalimat itu. Aish, ia bahkan melupakan bagaimana perangai kekasihnya yang lebih tua dua tahun darinya ini.
"Yaa, hyung! Hilangkan kepervertanmu ini!"
.
.
Siwon melangkahkan kakinya masuk kembali ke rumah Kyuhyun. Dilihatnya Kyuhyun masih duduk di tempatnya semula, menandakan kalau ia tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya itu.
Kyuhyun memandang Siwon dengan tatapan agak khawatir. Bukan apa-apa, hanya saja ia sedikit memikirkan apa yang sepupu tertuanya itu bicarakan dengan sang sunbae. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, kelihatannya ia harus sedikit berhati-hati ketika Yesung mengajak bicara orang-orang yang—mulai—dekat dengannya, pengecualian untuk Henry Lau, sahabat dekatnya yang kini berada di China sana karena hanya dalam waktu sekian detik, Yesung langsung memeluknya—kalau tidak mau disebut mencekiknya.
"Anou, Siwon-hyung..."
"Nde?"
"Yesung-hyung tidak mengatakan hal yang aneh padamu kan?"
"Mwo? Maksudmu?"
Kyuhyun menghela nafasnya. "Aku serius, hyung."
Siwon diam. Harusnya ini bukan pertanyaan yang sulit untuk dijawab, namun bayangan akan wajah Yesung yang agak mengancamnya—walau sebenarnya itu tidak terkesan menakutkan sih—membuatnya harus berpikir berulang kali untuk menceritakan apa yang diucapkan Yesung padanya. "Aa... Yesung-hyung tidak mengatakan apapun—tidak begitu penting."
Kyuhyun memutar bola matanya. Jelas itu bohong, bahkan anak kecil sekalipun bisa dengan mudah menebaknya. "Kau yakin?"
Siwon menganggukkan kepalanya, tidak ingin ada lagi pertanyaan.
"Ya sudahlah..."
Merasa percuma menanyakannya—yang pastinya tidak akan menghasilkan jawaban apa-apa, Kyuhyun pun memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut. Toh ia bisa menanyakannya pada Yesung nanti, ketika hyungnya itu pulang kuliah—itu pun kalau orang itu pulang kemari dan tidak menginap di rumah kekasih childishnya itu.
Tersentak, Kyuhyun baru menyadari kalau ia melupakan swesuatu. Ia kembali mendongakkan kepalanya, menatap Siwon yang kini tengah mengamati interior rumahnya—terlihat sedikit gugup sebenarnya, dan kalau saja yang di hadapannya ini bukan Choi Siwon—orang yang disukainya—sudah pasti ia akan dengan senang hati menertawakan orang itu, seperti apa yang terjadi pada Ryeowook dan Donghae dulu. Ditambah kalau saja ia juga tidak dalam posisi yang sama dengan Siwon—sama-sama gugup. Ayolah, di dunia ini mana ada yang tidak akan gugup kalau hanya berdua saja dengan orang yang disukainya? Dan parahnya, ia baru menyadari itu sekarang, tepat ketika Yesung sudah menghilang.
Aigoo, untung saja ia sering bersama dengan Kibum, jadinya ia bisa sedikit meniru wajah stoic sepupu kurang kerjaannya itu—walau Kibum sendiri bersikeras, dibandingkan wajah stoic, wajah Kyuhyun malah terlihat seperti wajah seorang anak kecil yang masih polos.
"Anou, hyung..."
"Nde?" Siwon mendongakkan kepalanya. Jujur saja, hanya berduaan begini justru membuatnya agak—atau mungkin sangat—gugup. Penyebabnya? Entahlah, mungkin hanya Tuhan saja yang tahu.
"Gomawo..."
Siwon tersenyum. "Cheonma..."
Melihat Siwon yang tersenyum, Kyuhyun mengerjapkan kedua matanya beberapa kali hingga tanpa disadarinya, rona merah sedikit menjalari kedua pipi agak chubbynya. Aigoo, ternyata kalau dilihat dari dekat, orang ini benar-benar terlihat tampan.
Kyeopta... Batin Siwon, refleks. Eh? Siwon menggelengkan kepalanya perlahan. Rasanya pikirannya jadi agak ngaco kalau terus bersama Kyuhyun lebih lama dari ini.
Siwon baru akan membuka mulutnya, ketika dering ponsel miliknya telah mendahuluinya untuk mengeluarkan suara, membuat Kyuhyun mau tidak mau menaruh sedikit atensinya pada bunyi agak nyaring itu. Merutuki siapapun yang sudah mwengganggu momen menatap-Cho-Kyuhyun—yang sangat mustahil kalau mereka ada di sekolah, Siwon merogoh sakunya, mengambil benda persegi yang membuatnya harus menahan hasratnya untuk mengutuk orang yang sudah mengganggunya ini.
Eh? Kibum?
[[From: Kibum
Hyung, bisa kau segera ke sekolah sekarang? Ada sedikit 'masalah' di sini. Kalau kau tidak segera di sini dalam waktu 30 menit, aku pastikan sebuah pesan akan sampai ke ponsel sepupuku itu. Annyeong… ^^
P.S. Jangan terlalu berharap dengan apa yang akan kukirim pada Kyuhyun, yang pasti itu akan jadi masalah besar buatmu, Tuan Choi…]]
Dasar iblis. Batin Siwon—facepalm. Rasanya… ketika dirasanya ia akan baik-baik saja hanya untuk bisa sedikit lebih dekat dengan namja Cho di hadapannya ini, dua bersaudara Kim tidak waras yang merupakan sepupu Kyuhyun ini malah dengan senang hati jadi tembok penghalangnya. Dasar brother-complex.
"Siwon-hyung, gwaenchana?" Kyuhyun yang sedikit khawatir melihat Siwon yang mendadak diam dan malah terlihat seperti berpikir keras, memutuskan untuk bertanya—yang sayangnya malah direspon dengan diam oleh namja bertubuh jangkung di hadapannya ini.
"Siwon-hyung!" Sedikit lebih keras, Kyuhyun berusaha untuk memanggilnya kembali. Apa pesan singkat yang baru diterimanya itu benar-benar menarik hingga ia sedikit mengabaikan sekitarnya?
"N-ne?" Siwon agak terperanjat. Wajar saja, saat ini ia lebih fokus pada pesan singkat pembawa sial yang masuk ke ponselnya dibandingkan dengan apapun yang ada di sekitarnya.
"Gwaenchana? Kau terlihat seperti tertekan, hyung? Apa ada masalah?"
Siwon kembali teringat akan pesan singkat dari Kibum. Ini sudah berjalan lima menit dari waktu yang disediakan Kibum dan ia malah diam. Aish, daripada terjadi hal yang tak diinginkan, lebih baik ia menuruti ucapan Kibum saat ini—seberapapun ia tidak ingin melakukannya.
"Gwaenchana… sepertinya."
"Eh?"
"Ah, tidak, bukan apa-apa…" Siwon mencoba untuk bersikap sewajarnya walau sebenarnya itu sangat sulit. "Mian, Kyuhyun-ah, aku harus kembali ke sekolah sekarang."
"Eh? Kau tidak mau tinggal lebih lama di sini?" Kyuhyun langsung mengatupkan bibirnya tepat ketika kalimat itu selesai keluar dari mulutnya. Mwo? Ada apa dengan lidahnya? Kenapa malah terlihat seperti ingin menahan kepergian Siwon? Yah, memang itu keinginannya sih, tapi kalau terlalu spontan juga bisa jadi masalah. Bisa-bisa perasaannya malah jadi lebih mudah diketahui.
Siwon hanya tersenyum, sambil memasang raut agak bersalah. "Mianhae, Kibum-ah barusan menghubungiku dan ia bilang ada sedikit masalah di sana. Jadi aku harus kembali ke sekolah." Dan masalahnya itu, aku yakin berhubungan denganmu Kyuhyun-ah…
Mendengar ucapan Siwon, Kyuhyun mengerutkan alisnya. Kibum? Rasanya bukan pertanda baik kalau nama sepupunya itu yang disebutkan.
"Kyuhyun-ah, tidak masalah kan kalau kau kutinggal? Kurasa kau tidak akan kenapa-kenapa kalau sudah kutinggal di rumahmu sendiri…"
Kyuhyun mengulas senyum, membuat Siwon agak terpana. Manis. Heran, kenapa Kyuhyun lebih sering memasang wajah datar selama ia ada di sekolah kalau ia punya wajah terlampau manis seperti ini?
"Nan gwaenchana, hyung… aku tidak apa-apa. Aku akan minta tolong Shindong-ahjussi untuk merawat kakiku, kau jangan khawatir. Gomawo, sudah mengantarku…"
"Kalau begitu, aku pergi sekarang… annyeong…"
Detik berikutnya, Siwon langsung pergi meninggalkan Kyuhyun yang mempoutkan bibirnya. Kesal.
Kim Kibum, kalau bertemu nanti, akan kubunuh kau...
.
.
Kibum menahan tawanya. Iris gelapnya menatap ponselnya. Yah, ia memang tidak tahu bagaimana ekspresi Siwon ketika menerima pesannya barusan, tapi sedikitnya ia bisa menebaknya—ah, dan jangan lupakan bagaimana ekspresi wajah Kyuhyun. Pasti kesal dan itu akan sangat manis kalau dilihat.
Sepupunya itu pasti sudah bisa menebak apa yang sudah dikatakannya hingga Siwon harus pergi meninggalkannya, padahal—menurutnya—Kyuhyun pasti sudah sangat mengharapkan momen dimana ia bisa hanya berdua saja dengan namja jangkung tersebut, walau ia tidak yakin Kyuhyun akan bisa setidaknya mengungkapkan sesuatu.
Grek.
Suara pintu ruang OSIS yang dibuka. Kibum menoleh. Ia tahu itu bukan Siwon, karena butuh waktu sekitar dua puluh menit dari rumah Kyuhyun menuju sekolahnya ini.
"Kibum-ssi, apa kau lihat Siwon-oppa?"
Seorang yeoja, siswi kelas dua juga sama seperti dirinya dan teman sekelasnya. Yeoja yang manis, hanya saja menurutnya Ryeowook jauh lebih manis lagi, terutama jika ia kesal karena godaannya. Yeoja yang dulu pernah menyukai Siwon tapi ketika mengetahui bahwa sang ketua OSIS tidak pernah tertarik dengan wanita—dan lebih tertarik pada laki-laki sama seperti dirinya—yeoja ini malah dengan gamblangnya langsung mendukung Siwon. Fujoshi, eoh?
Im Yoona.
"Aniyo, tapi kurasa ia akan datang sebentar lagi." Pasti datang, dia tidak akan mengambil resiko karena tidak menuruti ucapanku tadi.
"Ah, begitu ya..."
Terlihat raut kecewa dari wajahnya. Sepertinya apapun itu, Choi Siwon benar-benar dibutuhkan oleh gadis ini.
Kibum tersentak. Seolah teringat sesuatu atau tersadar akan sesuatu. Ini akan jadi menarik, setidaknya untuk lebih mengetahui seberapa jauh rasa cinta yang dimiliki Kyuhyun maupun Siwon—walau jelas-jelas namja itu tidak mau mengakuinya. Yah, ini diperlukan, karena... walau ia—dan Yesung—selalu mengganggu Kyuhyun, ia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada sepupu manisnya itu. Sama seperti alasan kenapa Ywesung bisa begitu protektif terhadap Kyuhyun dari namja yang berusaha untuk mendekatinya, ia juga melakukan hal yang sama—dengan caranya sendiri.
Ia menyeringai. Ini akan menarik. Walau ia khawatir pada Kyuhyun, sedikit bermain-main tidak masalah kan?
"Yoona-ssi, boleh aku minta tolong sesuatu?"
.
—To Be Continued—
.
a/n ini kelamaan, saya tau kok. mian ya, kena WB dadakan.
Saya gak akan banyak omong deh. -.- males ngetik #plak
Dan… mian, untuk saat ini gak bisa bales review. Tapi pasti saya baca kok.
Oke, sekian dari saya.
RnR? :D
.
Best Regards
—RIN—
.
